Tampilkan postingan dengan label Bahasa dan Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa dan Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2024

Pendekatan Whole language

Pendekatan whole language adalah teknik yang bertujuan dalam menyamakan persepsi mengenai pembelajaran bahasa, kemudian juga mengenai manusia yang ikut serta lingkungan tersebut (Hidayah, 2014). Pendekatan whole language merupakan pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, hal tersebut tentu didukung dengan pembelajaran yang holistik dan padat dalam mengajarkan keempat aspek pada kemampuan bahasa, yang terdiri dari menyimak, membaca, berbicara, dan menulis secara bersamaan (Sari, Kristanti and Nurjannah, 2020). Whole Language merupakan pendekatan yang cocok untuk pembelajaran bahasa yang mengajarkan secara komplet dan menyeluruh yang berhubungan dengan keterampilan bahasa (Yunita, 2017). 

Adapun komponen-komponen pendekatan Whole Language yang dijelaskan (Hidayah, 2014) yaitu: 

a. Reading aloud adalah guru dan peserta didik melakukan aktivitas membaca. Guru dituntut untuk membaca dengan lantang dan jelas dengan artikulasi dan indonasi yang baik sehingga peserta didik dapat mendengar dan memahami bacaan guru. Manfaat Reading aloud yaitu membimbing peserta didik dalam keterampilan menyimak, memperbanyak kosakata, membangkitkan minat dan pemahaman peserta didik. Tujuan reading aloud yaitu untuk membawa peserta didik belajar dalam waktu sekitar sepuluh menit. 

b. Jurnal writing atau menulis jurnal adalah teknik yang cocok untuk menulis sesuai dengan apa yang ada dalam hati dan pikiran menceritakan apa saja yang sudah dilalui, lingkungan sekitar, dan hal-hal lainnya dalam penerapan bahasa dalam bentuk tulisan. Kegunaan menulis jurnal yaitu dapat meningkatkan (1) keterampilan menulis; (2) keterampilan membaca; (3) keberanian mengambil atau menghadapi resiko; (4) keinginan peserta didik untuk refleksi; (5) merasakan perasaan dan pengalaman pribadi; (6) tempat yang nyaman untuk menulis difasilitasi; (7) keterampilan berpikir; (8) kesadaraan akan peraturan menulis; (9) mempermudadah dan pengevaluasian (10) tercatat sebagai dokumen tertulis 

 c. Sustained Silent Reading, adalah peserta didik melakukan aktivitas membaca dalam hati. Buku bacaan atau materi dapat dipilih sendiri oleh peserta didik. Pesan ya g didapat dari kegiatan ini yaitu (1) membaca bisa menjadi aktivitas yang disenangi (2) siapapun bisa melakukan aktivitas membaca (3) terjadinya kumunikasi dengan penulis buku atau teks yang dibaca dengan cara membaca (4) peserta didik dapat berkonsentrasi dalam membaca cukup lama pada bacaan. (5) guru percaya akan pemahaman peserta didik dalam membaca teks. 6) Setelah Sustained Silent Reading berakhir peserta didik dapat berbagi pengetahuan. d. Shared Reading, merupakan guru dan peserta didik mempunyai buku yang dibaca, kemudian melakukan aktivitas membaca bersama. Kegiatan ini dapat dilakukan di sekolah dasar sampai saat belajar diperkuliahan. Tujuan aktivitas ini yaitu (1) peserta didik memperhatikan guru membaca sebagai model sambil melihat tulisan peserta didik; (2) peserta didik diberikan kesempat dalam menyampaikan apa yang sudah dibacanya (3) Guru berperan sebagai model dapat memberikan contoh cara membaca yang benar kepada peserta didiknya. 

Pendekatan Whole Language memiliki beberapa ciri-ciri menurut (Hidayah, 2014) yaitu: a. Kelas yang mengimplementasikan whole language dipenuhi dengan hasil karya berupa barang. Hasil karya tersebut dapat dipajang di dinding kelas, pintu kelas dan lain-lain. b. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik belajar melalui guru. Pendidik sebagai model yang ideal dalam berbahasa, contoh saat aktivitas berbicara, menulis, serta membaca. c. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik baraktivitas dan mempelajari materi sesuai dengan daya tangkap peserta didik. d. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik dapat membagi tugas dalam pembelajaran. e. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik ikut berperan sehingga pembelajaran menjadi bermakna. f. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik mampu terjun langsung berperan dan bebas mencoba hal-hal baru. g. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik memperoleh umpan balik yang positif dari pendidik serta dari peserta didik lainnya.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut;

Beli Buku        Google Scholar           Research gate        DOI

Rabu, 17 April 2024

Keterkaitan Antar Aspek Keterampilan Berbahasa

 1. Hubungan Berbicara dengan Menyimak 

Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan yang berbeda namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbia. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, bertelepon, tanya-jawab, interviu, dan sebagainya. Contohnya, anak kecil akan meniru atau berbicara menggunakan bahasa yang didengarnya. Untuk itu orang tua ataupun guru diharuskan menjadi model berbahasa yang baik, supaya anak-anak tidak menirukan pembicaraan yang salah atau tidak baik didengar. Berbicara dan menyimak merupakan keterampilan yang saling melengkapi, keduanya saling bergantung. Keduanya fungsional bagi komunikasi dan tidak dapat dipisahkan. Ibarat mata uang, sisi depan ditempati kegiatan berbicara dan sisi belakang ditempati kegiatan menyimak. Mata uang tidak akan laku bila salah satu sisinya tidak terisi. Maka komunikasi lisan pun tidak dapat berjalan bila kedua kegiatan tidak berlansung saling melengkapi. 

2. Hubungan Menyimak dengan Membaca 

Menyimak dan membaca sama-sama merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Menyimak berkaitan dengan penggunaan bahasa ragam lisan, sedangkan membaca merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Pada saat menyimak fokus perhatian berupa suara (bunyi-bunyi), sedangkan pada saat membaca fokus perhatian adalah lambang tulisan. Kemudian, baik penyimak maupun pembaca melakukan aktivitas pengidentifikasian terhadap unsur-unsur bahasa yang berupa suara (dalam menyimak) maupun berupa tulisan (dalam membaca), yang selanjutnya diikuti dengan proses decoding (proses menafsirkan suatu pesan dalam bahasa/proses pengubahan suatu kode menjadi makna) guna memperoleh pesan yang berupa konsep, ide atau informasi sebagaimana yang dimaksudkan oleh si penyampainya. Aktivitas membaca dapat membantu seseorang memperoleh kosakata yang berguna bagi pengembangan kemampuan menyimak pada tahap berikutnya. 

3. Hubungan Berbicara dengan Membaca 

Berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana, dan fungsi. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi. Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.

 4. Hubungan Berbicara dengan Menulis 

Berbicara dan menulis bersifat produktif-ekspresif. Keduanya berfungsi sebagai penyampai informasi. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis. Informasi yang digunakan dalam berbicara dan menulis diperoleh melalui kegiatan menyimak ataupun membaca. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan dalam kegiatan berbicara menunjang keterampilan menulis. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan menunjang keterampilan berbicara Kemampuan berbicara tidak hanya mempunyai hubungan timbal balik dengan kemampuan mendengarkan, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan menulis dan membaca. Seorang pembicara yang baik, umumnya mempunyai persiapan tertulis. Sebaliknya pendengar yang baik juga merasa perlu membuat catatan-catatan tertentu, terutama kalau dia ingin mengemukakan tanggapan terhadap pokok pembicaraan tersebut.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut ini:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        DOI

Selasa, 16 April 2024

Keterampilan Menulis (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan menulis permulaan 

Keterampilan menulis permulaan adalah suatu kegiatan melukis atau menyalin gambar atau lambang-lambang bunyi bahasa ke dalam wujud lambang-lambang tertulis yang dapat dikenali secara konkrit sesuai dengan tata cara menulis yang baik dalam proses belajar menulis bagi peserta didik sekolah di kelas awal. 

2. Tujuan Menulis Permulaan 

Setiap penulis pasti ada tujuan untuk menuangkan ide, pikiran dan gagasan serta perasaan melalui bahasa tulis, bai bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Adapun tujuan menulis permulaan adalah: a. Dapat memproduksikan tulisan eja seperti e,d,f,k,j b. Dapat berupa suku kata seperti su-ka kedalam suatu bentuk kalimat. c. Agar dapat memahami cara menulis permulaan dengan ejaan yang benar dan mengkomunikasikan ide/pesan secara tertulis.

3. Tahap-Tahap Menulis Permulaan 

Menulis permulaan dimulai dengan pengenalan terhadap cara memegang pensil yang benar. Tingkat permulaan, kegiatan menulis lebih didominasi oleh hal-hal yang bersifat mekanis. Kegiatan mekanis yang dimaksud dapat berupa: a. Sikap duduk yang baik dalam menulis. b. Cara memegang pensil/alat tulis. c. Cara memegang buku. d. Melemaskan tangan dengan cara menulis di udara. Pengenalan huruf dengan menulis di kelas rendah dapat dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan perkembangan siswa, yaitu: a. Menulis permulaan dengan huruf kecil b. Menulis tegak bersambung c. Menulis permulaan dengan huruf capital pada huruf awal kata permulaan kalimat. 

4. Metode keterampilan menulis permulaan 

a. Metode eja 

Metode eja pada dasarnya menggunakan pendekatan harfiah, artinya belajar membaca dan menulis dimulai dari huruf-huruf yang dirangkai menjadi suku kata. 

b. Metode kata lembaga 

Metode kata lembaga di mulai dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Memperkenalkan kata 2) Menggabungkan kata antar suku kata 3) Menguraikan suku kata atas huruf-hurufnya 4) Menggabungkan huruf menjadi kata 

 c. Metode global 

Metode global mengembangkan kalimat dengan kata-kata dan mengembangkan kata-kata menjadi suku kata. 

d. Metode sas 

Metode SAS merupakan metode yang dimulai dengan pendeekatan bercerita yang disertai dengan gambar yang di dalamnya menggandung dialog.

5. Keterampilan Menulis Lanjutan 

Keterampilan menulis lanjutan adalah menulis merupakan pemindahan pikiran atau perasaan dengan menggunakan tulisan, struktur bahasa, dan kosakata dengan menggunakan simbol-simbol sehingga dapat dibaca. Untuk mencapai tujuan dalam keterampilan menulis di sekolah dasar harus dimulai dari tahap yang paling sederhana, lalu dilanjutkan pada hal yang sederhana menuju hal yang biasa, hingga pada hal yang paling sukar. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang menulis. 

6. Metode Keterampilan Menulis Lanjutan 

 a. Metode Langsung 

Metode langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar peserta didik tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan  deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang penting: fase persiapan dan motivasi, fase demonstrasi, fase pembimbingan, fase pengecekan, dan fase pelatihan lanjutan. Sebagai contoh: guru menunjukkan gambar banjir yang melanda suatu sebuah desa atau melihat langsung peristiwa banjir di sebuah desa. Dari gambar tersebut, peserta didik dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.

b. Metode Komunikatif 

Desain yang bermuatan metode komunkatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikasikan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebagai contoh: metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Peserta didik menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah akivitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan ataupun kelompok. 

c. Metode Integratif 

Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Integrtif terbagi menjadi dua bagian: interbidang studi dan antar bidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Sebagai contoh: menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Adapun antarbidang studi artinya pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Sebagai contoh: antara bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lain. 

d. Metode Tematik 

Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan peserta didik. 

e. Metode Konstruktivistik 

Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstruktivistik dimulai dari masalah yang sering muncul dari peserta didik sendiri dan selanjutnya membantu peserta didik menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. 

f. Metode Kontekstual 

Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis, yakni konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dengan kehidupan pembelajaran yang memotivasi peserta didik agar menghubungkan pengetahuan dan penerapannya dengan kehidupan sehari-hari.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

DOI        Research gate        Google scholar        Beli Buku

Kamis, 18 Januari 2024

Keterampilan Berbicara (Permulaan dan Lanjutan)

1. Keterampilan Berbicara Permulaan 

Keterampilan berbicara permulaan adalah salah satu keterampilan berbahasa sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik lisan berhadapan ataupun dengan jarak jauh (Abbas:2006). 

2. Jenis-jenis Keterampilan Berbicara Permulaan

 a. Berdialog b. Menyampaikan pengumuman c. Menyampaikan argumentasi d. Bercerita 

3. Metode Keterampilan Berbicara Permulaan 

a. Metode ulang ucap 

Kegiatan ini dapat dimulai dari kegiatan sederhana terutama untuk kelas awal SD yaitu dengan menugaskan peserta didik mengulang kata yang diucapkan oleh guru. 

b. Metode Lihat Ucap 

Peserta didik ditugaskan untuk mengucapkan sesuatu kata atau kalimat yang berhubungan dengan benda yang diperlihatkan oleh guru.

c. Metode Memberikan Deskripsi

Peserta didik diberikan tugas untuk mendeskripsikan suatu benda yang diperlihatkan oleh guru. Keterampilan yang dilatih selain kemampuan pokok yaitu mengungkapkan pendapat adalah megamati benda, memilih dan mencocokkan sehingga sangat cocok diterapkan pada siswa kelas awal sampai menengah di Sekolah Dasar. 

d. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini sudah sangat umum sehingga dapat diterapkan pada kondisi dan jenis sembarang bahan ajar. Pertanyaan dapat dikondisikan sedemkian rupa oleh guru untuk merangsang kreatifitas berfikir dan menyampaikan tanggapan terhadap suatu masalah yang diajukan. 

e. Metode Bertanya 

Metode bertanya juga sangat layak digunakan pada sembarang bahan ajar. Dengan menyajikan bahan ajar telebih dahulu kemudian peserta didik ditugaskan untuk membuat pertanyaan tentang sesuatu yang tidak dipahami oleh peserta dididk atau bahkan dalam tataran menguji materi ajar itu sendiri. Dengan bertanya mereka akan mendapat jawaban dan tanggapan tersebut. 

f. Metode Pertanyaan Menggali 

Metode ini sangat baik digunakan jika kondisi siswa yang stagnan dan dengan rata-rata tingkat pemahaman bahkan IQ biasa-biasa saja. Karna untuk mengantarkan mereka kepada suatu pemahaman yang menjadi tujuan pembelajaran diperlukan langkah langkah yang menggiring siswa sehingga sampai pada suatu keadaan paham kepada tema atau permasalahan yang ingin kita sampaikan. Terkadang usaha ini agak sulit dan membuat kita jengkel karna harus berputar-putar mencari pengandaian dan logika lain, akan tetapi disinilah letak seni kita sebagai guru. Akhirnya siswa akan dapat berbicara untuk menyampaikan gagasan, ide dan pendapat mereka. 

g. Metode Melanjutkan 

Pada kegiatan ini siswa secara bergilir ditugaskan untuk membuat ide cerita dan siswa yang lainnya melanjutkan cerita tersebut. Dalam keadaan tertentu dapat dikondisikan suatu bentuk permainan dalam kegiatan ini.

4. Keterampilan Berbicara Lanjutan Keterampilan berbicara lanjutan adalah kemampuan seseorang dalam menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan. (Unsa: 2022).

5. Jenis-jenis Keterampilan Berbicara lanjutan

a. Musyawarah b. Diskusi c. Pidato d. Ceramah

6. Metode keterampilan berbicara di kelas lanjutan 

a. Menceritakan kembali 

Kegiatan ini sudah sangat umum dilaksanakan terutama dalam pembelajaran yang menggunakan bahan ajar cerita baik fiksi maupun non fiksi. Di mana siswa ditugaskan untuk membaca atau mendengar cerita untuk kemudian menceritakan kembali isi cerita tersebut secara lisan di depan teman-teman mereka yang berperan sebagai audien. Dengan kegiatan ini maka siswa akan tertantang untuk berlomba memahami cerita yang sudah pernah mereka dengar atau basa. 

b. Metode Percakapan atau Bermain Peran

Kegiatan ini sangat baik dilaksanakan untuk pemahaman tingkat lanjut tentang suatu cerita di mana dengan memerankan siswa akan lebih  memahami bukan hanya kepada alur cerita akan tetapi akan lebih kepada penjiwaan karakter masing-masing tokoh. Dalam keadaan ini pemahaman siswa terhadap cerita akan utuh karna dengan berbicara mengucapkan naskah cerita atau drama, mereka akan sangat menghayati setiap adegan dan untaian kata percakapan yang diucapkan. 

c. Metode Parafrase

Metode ini dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar menggunakan bahan ajar puisi yang selanjutnya diubah menjadi prossa yang kemudian siswa ditugaskan menceritakan secara lisan hasil paraprase tersebut. 

d. Metode Reka Cerita Gambar

Metode ini sangat kreatif dan layak untuk dicoba karna dengan menyajikan gambar acak siswa akan mereka kembali dengan susunan yang benar urutan gambar tersebut. Dalam kegiatan tersebut dengan sudah sangat pasti mereka akan berbicara setelah guru bertanya, 

e. Metode Memberi Petunjuk 

Metode ini layak juga untuk dicoba terutama untuk mempelajari bahan ajar tentang denah, petunjuk penggunaan obat dan alat tertentu. Dengan penugasan untuk menyampaikan hal tersebut siswa akan tertantang untuk berbicara dan menyampaikan penjelasan berdasarkan ide dan pendapat masing-masing melalui bahasa sederhana dan sesederhanapun penyampaian layak mendapat penghargaan. 

f. Metode Pelaporan

Melalui pengamatan terhadap obyek pada kegiatan tertentu siswa kemudian melaporkan hasil pengamatan dengan penyampaian lisan yang didahului oleh konsep tulisan. Dalam hal ini terjadi proses mirip dengan proses pada metode identifikasi akan tetapi memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Sehingga sesederhana apapun penyampaian siswa layak dihargai karna sebagai awal mula yang baik untuk proses penelitian dan pelaporan 

g. Metode Wawancara

Kegiatan ini adalah kegiatan tingkat tinggi dari bertanya hingga menganalisa jawaban audiens kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya yang diikuti oleh proses pelaporan layaknya seorang wartawan. Proses berbicara dari kegiatan ini adalah awal dari membentuk pribadi yang kritis dan santun 

h. Metode Diskusi 

Kegiatan ini adalah proses interaksi tingkat tertinggi yang merangsang daya fikir, logika, kritis dan santun. Dalam kegiatan ini sejelek apapun pendapat, sanggahan dan klarifikasi siswa adalah hal yang maha baik dalam memulai suatu sikap peka terhadap lingkungan dan isu-isu tertentu dalam mencari jalan keluar. Dimana sudah barang tentu merupakan kreatifitas yang sangat layak mendapat penghargaan. 

i. Metode Bertelpon 

Seiring dengan teknologi informasi yang kian maju maka keterampilan bertelpon sangat penting dalam membentuk sikap cepat, efektif dan sopan dalam berkomunikasi. Karna berbicara melalaui telpon tanpa hadirnya lawan bicara secara langsung memerlukan tingkat kepekaan yang tinggi dalam tata cara pergaulan sehari-hari dalam kegiatan bertelpon 

j. Metode Dramatisasi 

Metode ini adalah kelanjutan dari kegiatan bermain peran yang dilengkapi dengan tema, seting, perwatakan, seting dan naskah drama yang ditampilkan secara utuh. Kegiatan ini penuh dengan kegiatan berbicara sesuai dengan tuntunan naskah yang runtut.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Sabtu, 30 Desember 2023

Keterampilan Menyimak (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan Menyimak Permulaan 

Keterampilan Menyimak Permulaan adalah proses mendengarkan dengan penuh pemahaman, apresiasi dan evaluasi. Dalam proses menyimak, diawali dengan kegiatan mendengarkan bahan simakan oleh penyimak, selanjutnya bahan simakan dipahami berdasarkan tingkat pemahaman peserta didik yang dimaksud, kemudian dalam proses pemahaman tersebut terjadi proses evaluasi menghubungkan antara topik yang disimak dengan pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki peserta didik.

2. Metode Keterampilan Menyimak permulaan

a. Metode Simak terka b. Metode simak cerita c. Metode Bisik berantai 

3. Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Keterampilan Menyimak Lanjutan adalah suatu bentuk keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif dan melibatkan pemahaman pesan atau lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (Meta:2020) 

4. Jenis-Jenis Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Keterampilan menyimak lanjutan dapat di golongkan ke dalam 3 jenis menyimak yaitu sebagai berikut: 

a. Menyimak kritis 

Menyimak kritis adalah kegitan menyimak yang dilakukan dengan sunguh-sunguh untuk memberikan penilaian secara objektif, menentukan keaslian, kebeneran, dan kelebihan, serta kekurangan-kekurangan bahan simakan 

b. Menyimak kreatif 

Menyimak kreatif yaitu kegiatan menyimak yang bertujuan mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas peserta didik. Kreativitas menyimak dapat dilakukan dengan cara meniru bunyi bahasa asing atau bahasa daerah. 

c. Menyimak eksploratif 

Menyimak eksploratif adalah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan informasi baru. Seorang penyimak eksploratif akan menemukan gagasan baru, informasi baru dan informasi tambahan dari bidang tertentu, serta menentkan unsur-unsur berbahasa yang bersifat baru.

5. Metode Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Berikut ini metode-metode yang tepat digunakan dalam keterampilan menyimak: a. Metode Simak Tulis b. Metode Identifikasi kata kunci c. Metode Identifikasi kalimat topic d. Metode Merangkum e. Metode parafrase f. Metode menjawab pertayaan 

6. Fungsi Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Fungsi menyimak lanjutan yaitu: a. Menentukan tujuan penutur sebagai informasi untuk bisa mengingatnya b. Menyaring suatu sebagai pendeteksi c. Mendengarkan penutur atau pembaca sebagai suatu kesenangan 

7. Tujuan Menyimak permulaan 

Tujuan utama menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan. Dengan demikian tujuan menyimak dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Menyimak memperoleh fakta atau mendapatkan fakta b. Untuk menganalisis fakta c. Untuk mengevaluasi fakta d. Untuk mendapatkan inspirasi e. Untuk mendapatkan hiburan atau menghibur diri.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Selasa, 26 Desember 2023

Apresiasi Karya Sastra Anak

Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Sehingga apresiasi karya sastra anak dapat diartikan sebagai sikap menghargai karya sastra yang telah dihasilkan anak. Apresiasi sastra terbagi menjadi dua jenis, yaitu apresiasi sastra reseptif dan apresiasi sastra ekspresif. Apresiasi sastra anak secara reseptif yaitu penghargaan, penilaian, dan penghayatan terhadap karya sastra anak-anak, baik yang berbentuk puisi, prosa, maupun drama yang dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengarkan, dan menyaksikan pementasan drama. 

Pada tahap apresiasi ini, kemampuan pembaca karya sastra berada pada tahap membaca karya sastra, menyerap, dan menggali makna yang disampaikan pada karya sastra. Umunya, siswa pada tahap apresiasi sastra secara reseptif belum dapat menghasilkan produk dalam kegiatan apresiasi kecuali ungkapan rasa menghargai dan takjub melalui kata-kata. Apresiasi sastra ekspresif/produktif merupakan kegiatan mengapresiasi karya sastra yang menekankan pada proses kreatif dan penciptaan. Apresiasi sastra secara ekspresif/produktif tidak mungkin terwujud tanpa diberikan pengajaran menulis, khususnya menulis kreatif di sekolah dasar (Isova dan Hartati, 2016). 

Dalam kegiatan bersastra secara ekspresif/produktif, metode yang sesuai untuk digunakan dalam mengapresiasi sastra adalah metode produktif. Metode ini diarahkan pada aktivitas berbicara dan menulis. Siswa harus banyak berbicara atau menulis untuk menuangkan gagasan-gagasannya. Kegiatan apresiasi sastra yang diterapkan guru akan membentuk kompetensi apresiasi karya sastra pada diri anak. Kompetensi yang dimaksud yaitu: kemampuan anak menikmati dan menghargai karya sastra yang dihasilkannya sendiri maupun dihasilkan oleh orang lain. Dalam hal ini, siswa diajak untuk melakukan literasi berupa membaca, memahami, menganalisis, dan menikmati karya sastra secara langsung. Siswa tidak harus menghafal sastra dari judul, sinopsis dan ataupun menghafal kalimat demi kalimat dari sastra, akan tetapi siswa diminta untuk langsung berhadapan dengan karya sastranya. (Siswanto, 2008) 

Kegiatan apresiasi karya sastra akan membentuk pengalaman pada diri anak terkait karya sastra, dan aka menimbulkan perubahan serta penguatan tingkah laku akan pentingnya saling menghargai dan indahnya karya sastra. 23 Hal tersebut disebabkan oleh ketika anak mengapresiasi karya sastra maka ia akan melakukan berbagai kegiatan seperti: memaknai, memperhatikan, meminati, bersikap, membiasakan diri, dan menerampilkan diri berkenaan dengan sastra sehingga bukan hanya kognitif anak yang terkonstruksi tetapi juga keterampilan dan sikap mereka. 

Susanti (2015) mengklasifikasikan kegiatan apresiasi sastra berdasarkan tujuan apresiasi ke dalam tiga bagian berikut: (1) ketepatan apresiasi, yaitu menimbulkan kepekaan psikis, mendengarkan, membaca sendiri, membaca bersama, intpretasi auditif-musikal dan visual, memantaskan, mengundang pelaku seni, memahami serta melatih ketrampilan mempergunakan pengertian teknis; (2) kedalaman apresiasi, yaitu dalam hal ini guru berupaya agar siswa mengalami proses kegiatan intelektual, emosional, dan imajinatif yang seimbang dengan proses yang pernah dialami oleh pengarang (sastrawan) dalam menciptakan karyanya; dan (3) keluasan apresiasi; guru mendorong dan mengarahkan perhatian pada hubungan antara sastra dengan kehidupan dengan segala masalahnya. Para siswa juga harus menggunkan pengetahuan lain. Dari kegiatan ini diharapkan siswa akan peka terhadap nilai ekstrinsik dan menyadari kedudukan sastra di dalam lembaga masyarakat. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Senin, 25 Desember 2023

Pemilihan Sastra untuk Anak

Pada subab sebelumnya telah dibahas manfaat sastra pada diri anak. Manfaat tersebut dapat dicapai dengan maksimal jika guru merencanakan dan melakukan proses pembelajaran dengan optimal. Hal dasar yang perlu dilakukan guru ketika akan membelajaran sastra pada anak yaitu dengan memilih kriteria sastra yang sesuai dengan tahapan usia anak. Memaparkan bahwa terdapat lima kriteria pemilihan sastra anak, yakni:

1. Kata-kata (diksi) 

Di dalam karya sastra terdapat amanat atau pesan yang ingin disampaikan pada pembaca (anak). Anak usia sekolah dasar mempunyai kemampuan bahasa yang masih sederhana. Oleh karena iu, pemilihan kata-kata (diksi) harus dilakukan oleh guru agar amanat di dalam sastra akan mudah dipahami anak. Disarankan kepada guru untuk memilih kata yang sederhana, tidak memberikan makna ganda atau ambigu, serta memberikan cerita yang relate atau berkaitan dengan kehidupan anak. 

2. Susunan kalimat dan narasi 

Kalimat terdiri dari deretan beberapa kata yang terstrukur dan mempunyai makna. Paragraf terdiri dari beberapa kalimat yang saling berhubungan dan menciptakan sebuah makna. Kalimat sebaiknya disusun dengan baik agar dapat memberikan makna. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menyusun kalimat yang cenderung pendek, menggunakan kata yang mudah dipahami, dan antar kalimat saling berkesinambungan. Pada susunan kalimat diharapkan agar sastra tidak menggunakan kalimat yang panjang sehingga siswa akan kebingungan mengambil makna ataupun pesan penting di dalam sastra tersebut. Penyusunan kalimat berkaitan dengan penyusunan narasi di dalam karya sastra. Narasi adalah gaya penceritaan. Sama halnya dengan penyusunan kalimat, pada narasi juga sebaiknya menggunakan alur yang pendek sehingga mudah bagi siswa untuk memahami narasi yang disampaikan. 

3. Plot Plot adalah alur cerita.

Pada sastra anak sebaiknya diterapkan cerita beralur progresif, karena pola pikir anak usia sekolah dasar masih bersifat linear. Berpikir linear adalah berpikir dengan pusat pada satu fokus. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menentukan plot cerita satu arah dari kegiatan lampau menuju kegiatan terkini, dan tidak dianjurkan untuk menggunakan cerita beralur flashback. 

4. Penokohan

Penokohan merupakan sarana yang paling mudah untuk memasukan sebuah ideologi ke dalam cerita karena melalui tokoh akan disampaikan nilai penting yang harus dipahami anak. Dengan memanfaatkan karakter tokoh yang menarik dan sederhana akan berdampak positif terhadap minat dan daya tarik anak terhadap sastra. Penokohan juga harus memanfaatkan plot cerita yang menggunakan rangkaian peristiwa sederhana, sehingga akan terbentuk kesatuan narasi cerita. 

5. Penutupan cerita dan solusi yang disampaikan 

Solusi cerita hampir sama dengan pengakhiran cerita. Pengakhiran cerita menekankan pada kesimpulan cerita, sedangkan solusi cerita berkompeten pada nasihat-nasihat untuk menanggapi kesimpulan cerita. Nasihat cerita adalah nilai kehidupan yang disampaikan penulis secara tersirat di dalam cerita atau karya sastranya. Guru diharapkan dapat memilih karya sastra yang mempunyai penutupan cerita dan solusi yang baik, sehingga anak akan mudah untuk mengambil amanat atau pesan yang mau disampaikan. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Karya Sastra

Menghasilkan karya sastra merupakan salah satu kegiatan yang mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS diwujudkan melalui kegiatan wajib membaca 15 menit setiap hari. Kemudian siswa diminta untuk menceritakan isi dan makna dari bahan yang ia baca, baik secara lisan maupun tulisan. Sehingga siswa tidak hanya membaca tetapi melek huruf dan memaknai semua teks yang ia baca. Siswa sekolah dasar pada umumnya lebih menyukai buku bergambar (picture book).

Rothkei dan Mainbach (dalam Krissandi dkk, 2018) membedakan buku bergambar ke dalam lima jenis, yaitu: buku abjad, buku mainan, buku konsep, buku bergambar tanpa kata, dan buku cerita bergambar. Dari lima jenis buku bergambar, siswa lebih menyukai buku cerita bergambar karena di dalamnya memuat teks tertulis yang berbentuk cerita, terdapat ilustrasi yang menggambarkan makna teks tertulis. Sehingga pembaca dari buku cerita bergambar akan berimajinasi terkait cerita yang disampaikan, dan bahkan terdapat anak yang akan menebak alur dan bagian akhir dari cerita sebelum mereka membaca hingga selesai.

Penggunaan buku cerita bergambar mendukung kegiatan apresiasi sastra pada diri anak, dan mengembangkan berbagai kompetensi bahasa seperti komunikasi lisan, proses berpikir kognitif, ungkapan perasaan melalui kata-kata dan ilustrasi cerita, serta meningkatkan kepekaan seni dan sastra pada diri anak. Setiap karya sastra mempunyai unsur atau struktur pembangun setiap jenis sastra. Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005) mengemukakan bahwa struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, seluruh bahan dan bagian yang menjadi komponen pembentuk sebuah keutuhan yang indah. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Senin, 18 Desember 2023

Konsep Sastra

Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yaitu shaastra, yang mempunyai arti teks mengandung instruksi atau pedoman. Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak melalui pandangan anak-anak. Saxby (1991:4) berpendapat bahwa sastra adalah citra kehidupan dan gambaran kehidupan (image of life). Sehingga pada sastra anak perlu digambarkan konteks anak-anak sesuai tahap perkembangannya. Pemahaman tentang tahap perkembangan anak sangat penting untuk memilih karya sastra yang sesuai.

Pilihan bacaan anak untuk usia sekolah dasar sangatlah melimpah. Sastra terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu: puisi, drama dan prosa. Sedangkan karya sastra anak terbagi menjadi tujuh jenis, yaitu: buku bergambar, fiksi realistik, fiksi sejarah, fiksi ilmu, cerita fantasi, biografi, dan puisi. Sastra termasuk ke dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Fokus tujuan dari mata pelajaran tersebut yaitu: kompetensi siswa dalam berbahasa (lisan maupun tertulis), dan sikap mengapresiasi sastra. Dengan demikian, pembelajaran sastra dan pembelajaran bahasa Indonesia dilakukan secara terintegrasi dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar.

Namun tujuan pengajaran sastra pada tingkat sekolah dasar yaitu: meningkatkan kemampuan siswa dalam menikmati, menghayati, memahami, dan menghargai karya sastra. Sehingga sastra yang dibahas hanya konsep umum atau sekadar pengetahuan pendukung kegiatan apresiasi sastra. Sastra memberikan banyak manfaat dalam kehidupan anak. Tarigan (2011) mengemukakan enam manfaat sastra, yaitu: 1. Memberikan kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan kepada anak-anak. 2. Mengembangkan imajinasi anak-anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan memikirkan alam, insan, pengalaman, atau gagasan dengan berbagai cara. 3. Memberikan pengalaman-pengalaman aneh yang seolah-olah dialami sendiri oleh para anak. 4. Mengembangkan wawasan para anak menjadi perilaku insani. 5. Menyajikan serta memperkenalkan kesemestaan pengalaman kepada para anak. 6. Merupakan sumber utama bagi penerusan warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dengan demikian, pembelajaran sastra tidak hanya membahas materi dan kompetensi di dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, tetapi memberikan pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan kehidupan anak. Dari enam manfaat membelajarkan sastra pada diri anak sekolah dasar akan membudayakan anak untuk membaca, mendukung literasi, meningkatkan perkembangan intelektual, memperhatikan psikologis anak sesuai usia tumbuh kembang anak, meningkatkan daya imajinasi anak, dapat mengenalkan budaya, dan bahkan dapat membina karakter pada diri anak. Selengkapnya dapat diakses dengan link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate     DOI

Sabtu, 16 Desember 2023

Model Pembelajaran Bahasa

Model pembelajaran tentu sudah tidak asing dalam kegiatan belajar dan mengajar. Model pelajaran sebagai cara yang dipilih guru untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Model pelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi, misalnya; kategori mata pelajaran, cakupan materi, usia, level sekolah lingkungan sekitar dan lain-lain. Namun, jika salah memilih model pembelajaran akan menjadi tidak oftimal atau tidak berfungsi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan dan budaya (Kemendikbud, 2014).

Model pembelajaran berperan untuk membentuk pola pembelajaran berpusat pada siswa. Model pembelajaran merupakan prosedur sistematis dalam mengelola kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap pembelajaran akan menggunaka model pembelajaran yang sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan siswa. Bahasa Indonesia sebagai bidang ilmu yang dipelajari di semua level pendidikan Indonesia mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Empat keterampilan berbahasa yakni membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Model pembelajaran membaca dapat dilakukan dengan pendekatan proses menggunakan strategi anticipation guide, strategi DRTA (directed, reading, thinking activity), strategi KWLA (know, want, learned, affect), strategi directed inquiry activity, strategi OH RATS (overview, headings, read, answer, test-study), strategi SQ3R (survey, question, read, recite, and review), strategi ECOLA (extending, concept, throught, language, activity).

Sementara model menulis dengan pendekatan proses dapat dilakukan dengan strategi sentence collection, sedangkan pembelajaran sastra menggunakan model strata, induktif, analisis, sinektik, bermain peran, sosiodrama dan simulasi (Syamsi, 2010). Pada kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka ada tiga model pembelajaran yang ditekankan untuk digunakan dalam proses pembelajaran yakni; 1) Problem based learning/PBL, 2) Project based learning/PjBL, dan 3) Discovery learning/DL. Model-model pembelajaran selalu berkembang menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Para ahli dan akademisi selalu berusaha untuk mengembangkan model pembelajaran. 

Pengembangan model pembelajaran untuk menciptakan kondisi belajar yang bermakna dan siswa dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan nyata. Adapun model-model pembelajaran yang popular dalam kondisi wabah diantaranya; 1) model ASIIK, 2) model SOLE, 3) model Flipped Classroom, 4) model Blended Learning, 5) Model Descovery-Inquiry, 6) Model Game. Selengkapnya dapat diakses dengan link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate     DOI

Senin, 11 Desember 2023

Keterampilan Berbahasa Indonesia

Kemampuan berbahasa yang dimiliki seseorang akan menentukan kualitas komunikasi orang itu sendiri. Kemampuan berbahasa melibatkan telinga, lidah, pemikiran dan mempraktikan dalam karya tulisan. Didunia ini mempunyai beragam bahasa, namun secara umum keterampilan berbahasa hanya empat saja. Keterampilan berbahasa terdiri dari menyimak, berbicara, membaca dan menulis (Husain, 2015). Namun, jika terkait keterampilan Bahasa Indonesia berdasarkan kurkikulum merdeka terdiri dari menyimak, membaca dan memirsa, berbicara dan mempresentasikan, serta menulis. Keterampilan berbahasa saling terikat dan tidak bisa berdiri sendiri. 

Keterampilan berbahasa ada yang bersifat pasif dan ada yang sifat aktif. Menyimak dan membaca terkategori keterampilan berbahasa pasif, sedangakan menulis dan berbicara berkategori keterampilan berbahasa aktif. Berbicara dan menulis adalah keterampilan produktif karena saat menggunakan keterampilan ini pelajar tidak hanya aktif tetapi juga menghasilkan suara dalam berbicara dan simbol dalam menulis, sedangkan mendengarkan dan membaca adalah keterampilan reseptif karena pelajar umumnya pasif baik melalui mendengarkan maupun membaca (Husain, 2015). 

Jika keterampilan berbahasa dihubungkan dengan kegiatan belajar dan mengajar maka akan menuntut kemampuan siswa dan guru dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam belajar. Keterampilan bertanya yang dilakukan siswa merupakan wujud nyata keterampilan berbahasa. Semakin beragam keterampilan bahasa yang dikuasai siswa, maka semakin lengkap keterampilan berbahasa yang dimiliki siswa (Santosa et al., 2019). Untuk mencapai keberhasilan dalam mengasah keterampilan berbahasa perlu menggunakan materi atau mata pelajaran lain sebagai pendukung keterampilan belajar berbahasa. Perkambangan dalam pengajaran empat keterampilan berbahasa hanya dapat dicapai di dalam kelas melalui pemusatan perhatian pada aspek pembelajaran lain (Paran, 2012). Selengkapnya dapat diakses dalam beberapa link berikut ini:

Beli Buku Cetak or PDF   Google Scholar   Research Gate   DOI

Sabtu, 09 Desember 2023

Belajar Bahasa Indonesia

Berbahasa tidak datang tiba-tiba, selalu ada proses didalamnya apapun bahasanya. Ada proses mendengarkan, menirukan, melafalkan, pengulangan dan lain sebagainya. Berbahasa terbagi menjadi dua aspek besar yakni kompetensi berbahasa dan praktis berbahasa. Belajar berbahasa dalam rangka melakukan kegiatan berbahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa tertentu. Komunikasi terkategori dalam tataran praktis berbahasa.

Berkomunikasi yang baik dengan orang lain atau lingkungan masyarakat sudah pasti butuh belajar agar tidak ada miskomunikasi atau kesalahan memahami stimulus yang diberikan. Dalam belajar bahasa menggunakan pendekatan komunikatif menekankan pada tujuan pembelajaran yang mengutamakan penggunaan bahasa secara baik dan benar oleh peserta didik di lingkungan pendidikan ataupun lingkungan sosial (Mulyaningsih, 2017).

Belajar bahasa dapat dikaji dengan mendalam menggunakan teori Noam Chomsky. “Chomsky’s UG is a significant theory in the field of linguistics” (Md. Enamul, 2020). Berbahasa untuk berkomunikasi yang bermakna. Perkembangan bahasa seseorang melalui proses yang dipengaruhi berbagai hal, misalnya perkembangan usia, lingkungan sekitar dan lain sebagainya. Perkembangan bahasa terus berlangsung sepanjang hayat dan dipengaruhi berbagai faktor seperti biologis, kognitif dan sosial-emosional (Arnianti, 2019).

Belajar bahasa bukan hanya sekedar struktur berbahasa. Namun, belajar berbahasa terkait dengan moral, norma, nilai dan budaya. Bahasa sebagai sarana penghubung dengan lingkungan yang lebih luas, maka muncul istilah bahasa nasional dan bahasa internasional. Semakin banyak bahasa yang dikuasai sesorang akan memudahkan untuk berkomunikasi dan sarana pergaulan yang luas. Manusia tidak dapat dipisahkan dengan bahasa, maka belajar bahasa sepanjang usia menjadi suatu kebutuhan. Buku lengkapnya dapat diakses dibeberapa link berikut:

Beli Cetak/ Non-cetak      Google Scholar      Research Gate            DOI

Sabtu, 02 Desember 2023

Konsep Belajar Bahasa Indonesia

Konsep merupakan abstraksi pemikiran yang merinci atau langkah-lakanh yang akan diambil saat melakukan aktivitas. Konsep adalah sesuatu yang dikandung dalam pikiran: prinsip, ide, pemikiran umum atau abstrak atau gagasan (Safdar et al., 2012). Belajar merupakan suatu keharusan yang mesti dilakukan insan agar tercipta perubahan yang lebih baik, bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar. Konsep belajar yang baik adalah belajar yang dilakukan dengan kesadaran, karena kebutuhan akan ilmu untuk memecahkan semua permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Belajar selayaknya terus dilakukan selagi masih bernafas dan jiwa masih bersama raga. Menjalani kehidupan tanpa ilmu akan mengalami banyak tantangan. Jika ingin memperoleh kebahagian dunia dan akhirat hendaklah berilmu, sejatinya ilmu didapatkan dengan proses belajar.

Belajar bukan lagi aktivitas internal individualistik untuk mencari solusi permanen (Behlol, 2010). Belajar dapat dilakukan dimana saja dan belajar juga bisa dilakukan bersama siapa saja. Belajar tidak selalu berada diruang kelas, menggunakan buku, pena dan komputer. Alam semesta baik benda mati dan makhluk hidup merupakan sumber belajar bagi semua orang. Kita tidak boleh menganggap belajar sebagai gagasan sederhana tentang intraksi sehari-hari antara guru dan siswa di sekolah (Outcomes & Terms, 2007). Belajar menjadikan perubahan sikap yang membawa pada perkembangan keterampilan yang belum pernah dimiliki sebelumnya. Belajar berprogres dalam kebaikan dan perubahan. Belajar adalah tentang perubahan; perubahan yang dibawah dengan mengembangkan keterampilan baru, memahami hukum ilmiah dan mengubah sikap (Sequeira, 2018). Buku lengkapnya dapat diakses dibeberapa link berikut:

Beli Buku Digital dan Cetak

Google Schoolar

DOI

Research Gate


Minggu, 15 Oktober 2023

Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa yang digunakan diwilayah Republik Indonesia adalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan. Landasan dasar Bahasa Indonesia tertuang dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. Secara spesifik fungsi Bahasa Indonesia termuat dalam bab III tentang bahasa negara pasal 25 ayat 2 yang berbunyi, “Bahasa Indonesia berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggaan nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana komunikasi antar daerah dan antar budaya daerah” (Undang-Undang, 2009). 

Bahasa Indonesia diera globalisasi menghadapi berbagai tantang seperti teknologi canggih, kurangnya rasa bangga untuk menggunakan Bahasa Indonesia serta derasnya arus bahasa asing. Kedisiplinan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar akan mempertahankan eksistensi Bahasa Indonesia. Diperlukan sebuah kesadaran dari masyarakat Indonesia, terutama masyarakat sebagai pengguna Bahasa Indonesia dalam menggunakan Bahasa Indonesia (Murti, 2015). Selain faktor kesadaran yang disiplin untuk menggunakan Bahasa Indonesia. Pola pembiasaan menggunakan Bahasa Indonesia diperlukan dalam kehidupan sehari-hari (Nimas Permata Putri, 2017). 

Bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa Indonesia sebagaimana semangat sumpah pemuda 1928 dalam mengakui Bahasa Indonesia. Masyarakat Indonesia benar-benar harus memahami bahwa Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu. Fungsi Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa sangatlah penting (Inda Puspita Sari, 2015). Untuk mempertahankan Bahasa Indonesia sebagai pemersatu terkhusus ditingkat perguruan tinggi maka dosen bahasa dan sastra dapat mengambil peran di era globalisasi sekarang, seperti; 1) menjadi model Bahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan, 2) menciptakan pembalajaran yang kreatif dan berpikir kritis, 3) memberikan kesempatan pengembangan industri dibidang kebahasaan dan kesastraan, 4) menjadi fasilitator komunitas ilmiah bahasa dan kesastraan, 5) memberikan peluang publikasi ilmiah dan pertukaran mahasiswa (Noermanzah, 2015). 

Bahasa Indonesia hendaknya selalu dilakukan monitoring yang berkelanjutan dari berbahasa dasar sampai berbahasa tingkat lanjutan. Kegiatan membina bahasa Indonesia harus dilakukan secara berkelanjutan agar Bahasa Indonesia tetap menjadi prioritas utama dalam pemakaian Bahasa Indonesia dan menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia (Aziz, 2016). Selengkapnya.....

Sabtu, 02 September 2023

Pengembangan Materi Literasi SD berbasis AKM

Pengembangan materi literasi SD pada Kurikulum Merdeka harus diintegrasi dengan Asesmen Kompetensi Minimun (AKM). Sebelum membahas AKM, dalam modul ini dijelaskan dulu skema penjenjangan membaca/literasi pada anak. Penjenjangan ini senada dengan taksonomi Barrett yang memetakan pemahaman membaca dalam lima jenjang, yaitu pemahaman literal, reorganisasi, pemahaman inferensial, evaluasi, dan apresiasi.

Merujuk dengan Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka dan konsep pembelajaran literasi di atas, cakupan materi literasi anak SD dalam konteks ini terbagi atas dua aspek, yaitu di dalam pembelajaran mata pelajaran di luar pembelajaran lintas mata pelajaran. Pengembangan cakupan materi literasi SD ini merujuk kepada Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). AKM dalam Kurikulum Merdeka memiliki tujuan mengukur kompetensi mendasar peserta didik agar mereka dapat mengembangkan kompetensi diri dan berpartisipasi potifi di masyarakat (Wijaya et.al, 2021:ii). Cakupan AKM pada kemampuan menerapkan bahasa atau kemampuan literasi anak fokus pada tiga aspek, yaitu: 1. Keterampilan berpikir logis-sistematis. 2. Keterampilan bernalar dengan menerapkan konsep dan pengetahuan. 3. Keterampilan memilah dan memilih serta mengolah informasi yang didapat.

Dalam konteks literasi, anak-anak diajak untuk mengenal konten teks yaitu ada teksfiksi dan teksinformasi. Sedangkan konteksteks yaitu konteks personal,sosial-budaya,saintifik, menemukan informasi, menafsirkan dan mengintegrasikan informasi, mengevaluasi dan merefleksi (Wijaya et. al., 2021:12–22). Dalam konteks ini, pengembangan materi literasi harus selaras dengan AKM karena orientasi dari pembelajaran literasi adalah penguatan kemampuan anak yang distandardisasikan untuk menjawab soal-soal AKM sebagai pengganti UN.

Literasi dalam mata pelajaran fokus pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan merujuk pada Capaian Pembelajaran. Melalui Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka, pendidik dapat mengembangkan materi dan mendesain modul ajar yang relevan dengan gaya belajarsiswa, pengalaman belajar siswa, dan perkembangan zaman. Sedangkan materi integral lintas mata pelajaran dapat dikembangan oleh pendidikan di semua mata pelajaran dengan penguatan komponen literasi yang ada dan dikembangkan secara holistik sesuai Capaian Pembelajaran pada mata pelajaran tertentu. Selengkapnya.....

Kamis, 31 Agustus 2023

Konsep Pembelajaran Literasi Anak SD

Pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka menjadi penting untuk menjawab tantangan era digital saat ini. Selain penguatan numerasi dan sains, pemerintah melalui Kemendikbud Ristek fokus juga terhadap literasi. Artinya literasi menjadi penting dihadirkan tidak sekadar di dalam sebuah gerakan namun juga di dalam kurikulum dan pembelajaran, baik yang integral dengan mata pelajaran tertentu maupun yang berdiri sendiri untuk penguatan literasi anak SD.

Dalam konteks pedagogi, pembelajaran literasi merupakan pembelajaran keaksaraan pada anak (Wray, 1999:53). Dalam perkembangannya, pembelajaran literasi tidak hanya mengajarkan anak dalam aspek kognitif (belajar membaca) dan motorik (belajar menulis dengan pensil), namun dikuatkan pada keterampilan mencari, mengolah, dan memanfaatkan informasi dari internet, teknologi digital, dan kemampuan mengoperasikan dengan bijak Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) (Grönlund & Genlott, 2013). Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran literasi merupakan proses belajar yang holistik dari peranti manual menuju piranti digital yang dikenalkan pada anak. Seiring berkembangnya zaman, literasi di dalamnya mencakup tahapan-tahapan di dalam pembelajaran yang menjadikan peserta didik menumbuhkembangkan potensi dan pengetahuannya. Literasi di era Revolusi Industri 4.0 tidak sekadar literasi baca-tulis-berhitung yang biasa disebut literasi lama. Namun di dalam pembelajaran, anak-anak SD harus dikuatkan dalam aspek literasi baru yaitu literasi data-teknologi-manusia (Apriani, 2016:59; Stegman, 2014:31). 

Pembelajaran literasi dalam konteks ini harus menyesuaikan dari penguatan literasi lama menuju penguatan literasi baru pada anak. Pembelajaran literasi merupakan pengembangan keterampilan literasi individu di sekolah formal meliputi membaca, menulis, dan teknologi (Deshler et. al., 2012). Pembelajaran literasi SD adalah kegiatan untuk mengembangkan kemampuan membaca pada siswa SD (Aziz et. al, 2021:243). Pembelajaran literasi di SD merupakan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa dengan berbagai macam teks. Maka dibutuhkan model, strategi dan metode pembelajaran yang relevan untuk membelajarkan literasi pada anak SD termasuk berbasis multiliterasi, integrasi, dan berdiferensiasi (Abidin, 2017:156). Konsep ini menegaskan bahwa pembelajaran literasi tidak sekadar pada aspek membaca dan menulis namun juga penguatan kemampuan literasi digital yang sesuai dengan perkembangan zaman. 

Untuk meningkatkan kemampuan adaptasi anak di era disrupsi, literasi digital harus diintegrasikan di dalam pembelajaran melalui pemanfaatan media digital, gambar, pembelajaran kontekstual, untuk meningkatkan kompetensi anak dalam penguasaan informasi, berpikir komputasi, melek media digital, dan penguasaan kompetensi TIK (Rusydiyah & Purwati, 2020:305). Pembelajaran literasi berbasis media digital membentuk budaya baru yang mengubah cara pandang, sistem sosial, konsep, dan nilai yang ada di dalam pendidikan (Rivoltella, 2008:ix). Oleh karena itu, dibutuhkan pembelajaran literasi yang menyesuaikan zaman namun tidak mencerabut sistem nilai dan karakter yang ada di dalam pendidikan. 

Literasi tidak selamanya berkorelasi dengan satu rumpun mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, namun hakikatnya literasi integral pada semua mata pelajaran karena sesuai konsep UNESCO di atas, literasi sangat berkaitan dengan proses belajar dari lintas disiplin ilmu. Pembelajaran literasi lintas mata pelajaran merupakan proses pembelajaran yang dilaksanakan pendidik dengan tujuan menumbuhkembangkan pengetahuan anak. Prosesnya dimulai dari tahap persiapan, merancang pembelajaran, pelaksanaan dan evaluasi proyek literasi sesuai perkembangan dan usia anak (Dewayani et. al., 2021:21). Hakikat pembelajaran literasi berdasarkan konsep ini tidak hanya di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia namun juga integral di dalam berbagai lintas disiplin ilmu. 

Merujuk Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 008/H/KR/2022, disebutkan bahwa pembelajaran literasi untuk penguatan kemampuan literasi bersumber dari fondasi keterampilan anak dalam bidang bahasa, sastra, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Secara konseptual, model dalam pembelajaran literasi dalam Kurikulum Merdeka mengacu model “pedagogi genre” dengan empat tahapan, yaitu penjelasan dalam membangun konteks, pemodelan, pembimbingan, dan pemandirian. 

Dari kajian di atas, secara substansial dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran literasi anak SD merupakan pembelajaran yang direncanakan pendidik dalam aspek membaca, menulis, berhitung, dan teknologi media digital atau dalam konteksliterasi lama dan literasi baru. Pembelajaran literasi anak SD dapat diterapkan di dalam pembelajaran yang integral pada mata pelajaran tertentu seperti Bahasa Indonesia dan berdiri sendiri sebagai satu kesatuan di dalam program pembelajaran di kelas. 

Pembelajaran literasi anak SD secara teknis dilaksanakan dengan mengarusutamakan kemampuan akses, eksplor, identifikasi, proses, berhitung, menanyakan, memahani, menerapkan, intrepretasi, ekspresi, mengomunikasikan, dan menciptakan melalui multiinformasi, multimedia, multimodal termasuk buku teks, buku nonteks, dan sumber digital yang lain. Pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka bukan menambahkan materi baru, namun pembelajaran literasi yang menyasar pada dimensi bahasa, sastra, sains, TIK, budaya, kewarganegaraan, teknologi, dan rekayas menjadi tujuan Kurikulum Merdeka. Hal ini menunjukkan bahwa setiap mata pelajaran di SD dapat diintegrasikan untuk berorientasi kepada kemampuan literasi anak sesuai kontennya masing-masing. Selengkapnya.....

Sabtu, 15 Juli 2023

Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berbasis TIK dalam Kurikulum Merdeka

Model pembelajaran yang diuraikan selama ini berbasis pada keterampilan berbahasa yang mempunyai beberapa komponen dan dapat dikaitkan dengan media pembelajaran berbasis TIK tingkat SD. Ada empat model pembelajaran dalam model pembelajaran menyimak yang dapat dihubungkan dengan TIK diantaranya mengidentifikasi kata kunci, melakukan model retelling story, menyelesaikan cerita dan memperluas kalimat. Model pembelajaran menceritakan kembali (retelling story) adalah model yang digunakan oleh guru untuk menerapkan pembelajaran. 

Retelling story memiliki banyak manfaat untuk peserta didik salah satunya dapat mengembangan daya ingat, menambah kosakata Bahasa secara lisan dan pengembangan sifat ekspresif. Berikut adalah langkah-langkah untuk menerapkan kisah ritel berbasisICT: pertama, adalah Guru menggunakan podcast untuk merekam cerita dan memutarnya menggunakan CD atau melalui youtube misalnya. Kedua, pemutaran audio tersebut. Ketiga, siswa mendengarkan dengan saksama. Keempat, siswa diminta untuk berbicara kembali dengan bahasanya sendiri. Langkah keempat adalah menentukan hubungan antara keterampilan berpiir kritis dengan keterampilan membaca. Selanjutnya dapat pula menggunakan model diskriminatif kata kunci apabila ingin menceritakan ulang. Dalam prosesnya, siswa dianjurkan untuk fokus pada suara yang terdengar dari setiap kalimat yang diucapkan dalam suara maupun podcast, selanjutnya mereka dianjurkan untuk menentukan kata kunci dari tiap kalimat. Secara umum pembelajaran identifikasi kata kunci dapat digunakan di kelas tinggi sekolah dasar. 

Model pembelajaran yang dapat memperluas kalimat adalah model pembelajaran yang saling berhubungan satu sama lain. Berikut cara menerapkan pembelajaran memanjangkan kalimat: 1) Guru memutarkan dengan media internet atau CD kemudian menyebutkan kalimat-kalimatnya. 2) siswa melakukan perulangan kalimat yang diucapkan. 3) Saat siswa mengulangi kalimat, media internet dimatikan. 4) pemutaran kembali media oleh guru dan melakukan perulangan kalimat kembali. 5) guru mengucapkan kalimat/kata lain secara lisan. 6) Siswa selanjutnya langsung melengkapi kalimat sesuai dengan apa yang disebutkan oleh guru dan hasilnya diperluas dengan kalimat. 

Model pembelajaran melengkapi cerita merupakan model lanjutan dari kalimat yang diperluas sebelumnya, model ini juga dapat menggunakan media yang sama. Teks yang telah disampaikan oleh guru melalui audiovisual dapat dirangkum dalam sebuah cerita. Kelemahan dari model pembelajaran ini adalah memakan waktu, tetapi dapat diterapkan untuk kelas bawah. Di kelas bawah, kosakata masih terus diproduksi. Menulis kalimat adalah tugas yang membosankan menerapkan model pembelajaran di atas untuk membuat kalimat menyenangkan dan untuk meningkatkan pemikiran dan imajinasi siswa untuk membuat cerita. Sama halnya dengan model pembelajaran yang telah dijelaskan selama ini, keterampilan berbicara dan menyimak merupakan kegiatan reseptif, sehingga model pembelajaran ini juga berkaitan dengan keterampilan berbicara. 

Pembelajaran selanjutnya menunjukkan hanya satu model pembelajaran berbicara yang dapat diintegrasikan dengan media TIK, karena penggunaan media secara langsung dapat sepenuhnya menyampaikan tujuan pembelajaran berbicara. Tapi siapa yang saya modelkan? Jika TIK dapat digunakan sebagai media, maka jenis media yang dapat digunakan adalah media komputer dengan subtipe visual. Langkah-langkah untuk menerapkan model pembelajaran ini adalah sebagai berikut: pertama,Guru menggunakan materi tentang tokoh, peristiwa, atau profesi untuk membuat dua media flash/PowerPoint jenis kuis ya/tidak. Konsep kuisnya adalah memilih angka dari 1 hingga 9. Artinya, ada pilihan setelah nomor materi. Kedua, Guru dibagi menjadi dua atau tiga kelompok besar. Ketiga, Siswa akan diminta untuk memilih nomor Flash Media/PowerPoint dalam kelompoknya. Keempat,Guru akan memfokuskan dan memperlihatkannya sehingga siswa dapat melihatnya. Kelima,siswa yang telah memenangkan bagian akan memainkan peran sesuai nomor yang dipilih. Keenam, kelompok penonton harus menjawab karakter yang diperankan oleh kelompok lain. Ketujuh, group hanya bisa menjawab “ya” atau “tidak”. Kedelapan, jika penampil menemukan identitas, permainan berakhir dan berputar ke grup berikutnya. Model pembelajaran ini membuat siswa SD menjadi senang dengan menggunakan modelseperti permainan atau ice breaking. Kelebihan model pembelajaran dengan menggunakan TIK sebagai media pembelajaran terasa lebih hidup karena siswa tidak hanya fokus pada aktor, tetapi juga pada tampilan jawaban dari aktor. Selain menyenangkan, siswa dapat melatih keterampilan berbicara mereka. Dalam keadaan ini, guru dapat mengklasifikasikan jenis-jenis berbicara yang dipelajari oleh siswa. 

Model pembelajaran ini dapat diterapkan di tingkat SD dan SMA. Ada 2 model yang dapat digunakan dalam TIK, yaitu model K-W-L dan pelatihan yang dibaca dari model ECOLA. Model K-W-L merupakan model pembelajaran yang pada hakikatnya menuntut siswa untuk memahami apa yang dibacanya. K-W-L dapat dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama. K (Apa yang saya tahu?) Pada tahap ini, guru perlu menggunakan media PowerPoint atau flash untuk membuat materi. Saat ini aplikasi untuk membuat buku bergambar masih terus dibuat, hasilnya ditampilkan oleh guru, dipelajari, buku untuk dibaca bersama, dan gambaran umum dari buku tersebut. Tahap 2; W (Apa yang ingin dipelajari?) Pada tahap ini, guru mengomunikasikan tujuan pembelajaran dan memberikan pemahaman pembelajaran yang menarik. Pada tahap ini, fokus siswa adalah membaca dengan menggunakan media komputer subtipe visual. Siswa mencatat beberapa informasi penting dari hasil membaca. Pada tahap ini juga dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa terhadap informasi yang ditampilkan dalam cerita, yang ditampilkan dalam bentuk slide. Tahap ketiga; L (apa yang saya pelajari). Siswa belajar dari slide yang ditampilkan melalui fokus, siswa perlu mengetahui informasi penting terkait hasil membaca. Beberapa siswa tidak memahami kata atau kalimat. Kegiatan terakhir adalah siswa diminta untuk merangkum hasil bacaannya. 

Model pembelajaran selanjutnya yakni Extending Consept Trought Language Activities atau lebih dikenal dengan ECOLA. Model pembelajaran digunakan guru dalam mengintegrasikan keterampilan berbahasa yang memiliki tujuan untuk mengembangkan keterampilan pembaca, menerjemahkan dan kemudian menegaskan pemahamannya. (Susanto, 2014). Media yang tersedia dalam model pembelajaran ini adalah internet. 

Indikator ketercapaian model pembelajaran ini adalah siswa diharapkan suka membaca dan menemukan ide, konsep, dan gagasan. Untuk menerapkan model ECOLA dapat dilakukan dengan cara : 1) Pilihlah bacaan yang berbeda tidak dari buku tradisional atau dongeng, namun carilah ebook dan mendownload melalui Internet. 2) Guru meluangkan waktunya bagisiswa untuk membaca bacaan yang dipilih siswa itu sendiri. 3) Siswa membaca sekaligus belajar untuk mengkritisi. 4) Hasil bacaan siswa kemudian dirangkum dan di berikan pada guru. Model pembelajaran ini memiliki keterkaitan dengan model pembelajaran menulis. 

Model pembelajaran berbasis keterampilan menulis memiliki dua model yang dapat digunakan dan diintegrasikan dengan TIK pertama adalah Brown dan kedua adalah sugesti. Dasar model Brown ini mengatakan media pembelajaran adalah bagian yang memiliki keterkaitan dalam memfasilitasi pembelajaran, karena terdapat berbagai macam media dan media tersebut memiliki sifat yang interaktif. Media pembelajaran Brown contohnya seperti audio, proyek, gerak, visual, dll. (Krissandi, dkk., 2018: 36). 

Langkah-langkah pembelajaran model setelah tujuan pembelajaran tercapai adalah: a. penyiapan puzzle secara virtual yang dibuat oleh guru; b. pembuatan grup skala kecil; c. pembagian puzzle pada setiap group kecil; d. setiap group melakukan diskusi dan kerjasama dalam mengurutkan seri puzzle; e. apabila telah selesai, perwakilan anggota kelompok memaparkan hasilnya. f. setelahnya, guru masuk pada poin penjelasan materi dari hasil paparan siswa; g. siswa dalam kelompok ditugaskan untuk menulis kalimat berdasarkan susunan gambar dalam kelompok serta mengembangkan imajinasi mereka; h. memperbaiki tulisan yang kurang tepat dilakukan oleh tiap kelompok; i. proses refleksi pembelajaran; j. mengumpulkan hasil kerja kelompok dan dilakukan evaluasi pembelajaran yang dilakukan. 

Model sugesti dilakukan dengan proses yang tidak sebentar dan membutuhkan inspirasi untuk menghasilkan ide-ide menarik yang akan dituangkan pada tulisan. Stimulus yang digunakan dalam kegiatan ini sangat bervariasi. Umumnya pada tingkat SD dilakukan dengan film yang dibuat dengan menggunakan lagu, puisi, teater, atau teknologi. Media yang digunakan bisa dalam format multimedia dan internet. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut: a. Pemilahan lagu atau puisi yang berhubungan dengan pembelajaran yang ingin diajarkan oleh guru. b. Siswa bersiap untuk menyimak serta siswa menyiapkan alat tulisnya untuk merangkum hasil yang mereka simak. c. Siswa menuliskan hasil yang mereka amati dan simak disesuaikan imajinasi mereka. d. Melakukan proses koreksi dengan cara saling bertukarjawaban antara siswa. e. Siswa mendapat hasil koreksi dan melakukan perbaikan kembali pada tulisannya. f. Penilaian akhir oleh guru. Selengkapnya.....

Kamis, 13 Juli 2023

Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Strategi pembelajaran dan model pembelajaran tidak dapat dipisahkan. Kedua komponen tersebut harus bekerja sama dan saling berhubungan. Memang betul,strategi dipercaya banyak kalangan sebagai trik dalam mendukung kegiatan belajar yang harus digunakan guru untuk membuat pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan dan mencapai tujuan belajar yang efektif. Strategi pembelajaran dapat digambarkan sebagai seperangkat materi dan tata krama belajar yang terintegrasi dan digunakan secara bersamaan untuk menciptakan indikator keberhasilan belajar yang diinginkan guru dari siswanya. Selain itu, diperlukan suatu metode yang dapat diterapkan untuk mengartikulasikan strategi belajar yang diterapkan. 

Model pembelajaran dibuat oleh guru untuk menunjang kegiatan belajar di kelas. Secara umum, beberapa model pembelajaran telah diterapkan oleh guru salah satunya adalah demonstrasi, diskusi maupun ceramah. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan secara otomatis model pembelajaran akan mengalami peningkatan. Di bawah ini adalah contoh model pembelajaran bahasa Indonesia untuk siswa tingkat dasar berdasarkan empat keterampilan berbahasa menurut Krissandi, dkk, (2018: 32) pertama pembelajaran dengan model berbicara, kedua pembelajaran dengan model menyimak, ketiga pembelajaran dengan model membaca dan keempat pembelajaran dengan model menulis. 

Model pembelajaran menyimak terbagi menjadi beberapa perspektif yaitu Menceritakan kembali (retelling) cerita, membisikkan rantai, mendengarkan langsung (listening direct), membaca kata kunci, melengkapi cerita. Model pembelajaran berbicara dapat dibagi menjadi beberapa aspek, seperti tim pendengar, model berita, dan model orang dan subjek. Selain itu, model pembelajaran membaca mencakup beberapa model seperti model aktivitas berpikir membaca terarah, model K-W-L, model PORPE, dan model ECOLA. Model pembelajaran menulis mengandung beberapa komponen, antara lain model brainstorming, brainstorming, model konferensi meja bundar, model brown, dan model sugestif. Beberapa model pembelajaran bahasa Indonesia berbasis keterampilan berbahasa dapat dikaitkan dengan media pembelajaran berbasis TIK yang diterapkan di tingkat sekolah dasar. Selengkapnya.....

Rabu, 12 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Sastra Anak

Pembelajaran sastra termasuk dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam implementasinya pembelajaran ini terintegrasi dengan empat keterampilan berbahasa. Sastra anak diartikan sebagai suatu karya seni imajinatif yang disampaikan melalui bahasa yang dapat dipahami oleh anak 6–13 tahun (Yarni & Kaban, 2015). Sastra anak didefinisikan sebagai karya sastra yang berisi terkait dunia yang akrab dengan anak-anak (Rambe & Widiyarti, 2018). Karya sastra ini berisikan nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai pedoman tingkah laku siswa. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka pembelajaran sastra anak dimaknai sebagai kegiatan pembelajaran berupa karya seni imajinatif tentang dunia akrab anak yang disampaikan melalui bahasa pada anak usia 6-13 tahun.

Sastra sangat penting sekali diajarkan pada siswa di sekolah. Hal ini dikarenakan pada sastra mengandung nilai pendidikan yang dapat mendukung pembentukan karakter siswa, mengajarkan berbagai keterampilan berbahasa, mengembangkan pengetahuan budaya; dan meningkatkan cipta dan rasa (Susanti, 2015). Banyak sekali manfaat yang didapat dari pembelajaran sastra sehingga guru perlu mengajarkannya agar siswa tertarik dengan sastra. Rambe &Widiyarti (2018) menambahkan sastra juga meningkatkan kreativitas dan imajinasi serta menghibursiswa. 

Sastra dapat membuat siswa merasa bahagia, tertarik membaca, senang menyimak cerita dan memperoleh kepuasan batin yang dapat mendorong kecerdasan emosinya. Pembelajaran sastra dapat diajarkan melalui beberapa bentuk sastra seperti puisi, prosa, dan drama. Guru dapat mengajarkan berbagai bentuk sastra sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan karakteristik siswa. Keberhasilan pembelajaran sastra dipengaruhi oleh pemilihan bahan materi yang akan dijarkan guru meliputi tingkat keterbacaan dan kesesuaian (Yarni & Kaban, 2015). 

Guru hendaknya memilih materi sastra yang mudah dibaca, dipahami, dan dinikmati siswa. Tingkat kesesuaian berkaitan dengan kesesuaian dengan usia siswa dan lingkungan sekitar siswa hidup. Selain itu, guru harus mempertimbangkan nilai pendidikan yang diajarkan pada sastra tersebut sehingga setelah membaca sastra diharapkan siswa dapat mengimplementasikan nilai pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Teknik yang dapat digunakan dalam mengimplementasikan pembelajaran prosa yakni mendengarkan cerita, membaca cerita, membuat ringkasan cerita, bertukar pengalaman, dan menganalisis cerita. Selengkapnya.....

Minggu, 18 Juni 2023

Perkembangan Sastra Anak

Sastra sering menjadi landasan budaya yang dapat menyatukan masyarakat dan mengikat mereka bersama dalam berbangsa. Yang terbaik, ia dapat menawarkan jembatan antara populasi asing dan bekerja untuk mendorong pemahaman antara kelompok yang berbeda dan kelas sosial. Aspek-aspek ini terutama benar dalam kaitannya dengan sastra anak-anak internasional, mengingat kesederhanaan bahasa dan pesannya serta potensi pengaruhnya terhadap pembaca yang mudah dipengaruhi. Pada dasarnya, sastra anak digunakan sebagai sumber pendidikan, dimaksudkan untuk menginisiasi anak ke dalam aklimatisasi sosial normatif.

Namun, pada saat yang sama, dapat digunakan sebagai alat untuk mengindoktrinasi anak-anak ke dalam hegemoni budaya, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa filosofi yang disponsori negara yang telah menggunakan strategi ini di masa lalu. Dalam tinjauannya tentang sastra anak-anak, sarjana Sheila Ray telah menyarankan bahwa pengembangan sastra anak-anak dalam suatu masyarakatsering mengikuti pola standar kemajuan. Ketika suatu budaya mencapai kedewasaan tertentu, penciptaan teks tertulis muncul sebagai aspek alami dari evolusi masyarakat. Anak-anak dalam budaya ini secara mandiri tertarik pada karya-karya terpilih yang memiliki daya tarik inti untuk kebutuhan mereka yang berbeda dan kemudian menyesuaikan cerita-cerita ini untuk diri mereka sendiri. Biasanya, buku-buku berorientasi dewasa yang paling mungkin menarik minat mereka adalah bentuk-bentuk dongeng dan sajak yang lebih sederhana.

Sementara hari ini kita mengasosiasikan dongeng hampir secara eksklusif dengan pembaca anak-anak, pada awalnya, mereka diciptakan lebih sebagai refleksi dari mitologi daerah yang diteruskan melalui tradisi lisan. Namun, karena materi pelajaran mereka sering beralih ke magis dan fantastis, mereka cenderung menjadi pasangan yang cocok untuk pikiran muda. Akibatnya, buku dongeng seperti Kinderund Hausmärchen (1812; Cerita Populer Jerman) oleh Brothers Grimm termasuk di antara rilis populer pertama untuk anak-anak di pasar penerbitan mana pun. Ketika suatu budaya mencapai kedewasaan tertentu, penciptaan teks tertulis muncul sebagai aspek alami dari evolusi masyarakat. Dalam tinjauannya tentang sastra anak-anak, sarjana Sheila Ray telah menyarankan bahwa pengembangan sastra anak-anak dalam suatu masyarakatsering mengikuti pola standar kemajuan.

Saat ini, sastra anak sedang mengalami evolusi baru yang ditandai menuju globalisasi, di mana karya sastra dapat melewati perbatasan dengan lebih mudah, saling mempengaruhi, dan menciptakan warisan budaya penyerbukan silang yang, untuk pertama kalinya, secara sah dapat dianggap sebagai sastra anak-anak yang benar-benar internasional. Selain itu, sifat sastra anak-anak yang lebih sederhana dalam hal bahasa yang lebih mendasar dan plot konseptual yang lebih mudah telah, dalam banyak kasus, membuatnya lebih dapat diterjemahkan daripada rekan-rekan dewasa mereka, seperti yang ditunjukkan oleh karya-karya awal yang populersecara internasional dan sering diterjemahkan seperti karya remaja Daniel Defoe. kisah petualangan Robinson Crusoe (1719) atau Jonathan Swift’s Perjalanan Gulliver (1726). Namun, sementara narasi tertentu telah dianggap lebih universal secara internasional berkat tema dan karakternya yang luas, karya sastra anak-anak lainnya jauh lebih spesifik secara ideologis, karena atmosfer geopolitik negara asalnya.

Pada abad kedua puluh, tujuan ideologis telah mendorong evolusi banyak literatur periode dan budaya karya anak-anak yang mendukung apartheid, komunisme, dan totalitarianisme telah menjadi beberapa contoh gelap dari manipulasi halus semacam ini. Di Afrika Selatan, misalnya, perkembangan sastra anak berada di garis bidik campuran paksa dari beberapa budaya seperti Afrikaners, India, Zulus, Khoisan, dan kelompok etnis lainnya. Buku anak-anak Afrika Selatan awal sering mendokumentasikan mitologi penduduk asli, namun, beberapa kritikus menuduh kompilasi ini tidak menarik baik dalam metodologi maupun tujuannya. 

Demikian pula, berbagai administrasi politik Cina komunis dan bekas Jerman Timur telah berusaha menggunakan sastra anak-anak sebagai sarana untuk memfasilitasi dan mengarahkan arahan propagandis. Pada tahun 1979 pemimpin partai China Deng Xiaoping mengeluarkan proklamasi bahwa semua sastra, termasuk sastra anak-anak, “harus menghidupkan kembali dan meneruskan tradisi revolusioner Partai dan rakyat kita, menumbuhkan moral dan kebiasaan yang baik, dan berkontribusi pada pembangunan peradaban sosialis dengan tingkat budaya dan ideologi yang tinggi. Era pembatasan ini ditandai dengan serangkaian buku yang menunjukkan anak-anak meninggalkan praktik “sesat” dari prakomunis Cina untuk merangkul ideologi yang lebih diterima yang dimaksudkan untuk memajukan nasionalisme dan singularitas pendapat. Dalam tiga puluh tahun terakhir, sastra anak-anak China telah mulai melihat beberapa pengaruh ideologisnya yang keras melunak karena kebijakan nasional yang dilonggarkan telah memungkinkan penerimaan yang lebih besar dari cerita masa lalu China. Dalam iklim yang lebih baru ini, buku-buku seperti 365 Ye Gushi (1986; Stories for 365 Nights) yang populer, yang diedit oleh Lu Bing, telah menjadi sangat populer, sebagaimana dibuktikan oleh perkiraan angka penjualannya sebesar 4,3 juta eksemplar. Sementara masih mempertahankan keyakinan bahwa standar kehidupan moral yang benar sangat penting untuk sastra anak-anak, intrik politik Cina yang nyata sebagian besar telah dihilangkan demi analog yang lebih abstrak. Secara khusus, Lu Bing, seorang ahli teori Marxis untuk pemerintah, menyatakan bahwa buku anak-anak “harus mendidik generasi baru untuk berkembang secara moral, intelektual dan fisik dan melatih kekuatan baru yang vital untuk empat modernisasi.

Pada periode baru ini, sastra anak-anak harus fokus pada Pendidikan ideologi dan moral komunis, pendidikan sains dan pendidikan demokrasi.” Namun, meskipun masih dikelola dengan hati-hati, sastra anak-anak pada periode pasca-Mao Tsedong sebenarnya menandai semacam kemajuan dari ideolog komunis sebelumnya yang sangat bergantung pada sensor terang-terangan serta kurangnya toleransi terhadap tujuan individualis dalam pengaruh mereka terhadap pikiran muda. Sastra normatif dalam era pembatasan ini ditandai dengan serangkaian buku yang menunjukkan anak-anak meninggalkan praktik “sesat” dari pra komunis Cina untuk merangkul ideologi yang lebih diterima yang dimaksudkan untuk memajukan nasionalisme dan singularitas pendapat. Dalam tiga puluh tahun terakhir,sastra anak-anak China telah mulai melihat beberapa pengaruh ideologisnya yang keras melunak karena kebijakan nasional yang dilonggarkan telah memungkinkan penerimaan yang lebih besar dari cerita masa lalu China. Dalam iklim yang lebih baru ini, buku-buku seperti 365 Ye Gushi (1986; Stories for 365 Nights) yang populer, yang diedit oleh Lu Bing, telah menjadi sangat populer, sebagaimana dibuktikan oleh perkiraan angka penjualannya sebesar 4,3 juta eksemplar. Sementara masih mempertahankan keyakinan bahwa standar kehidupan moral yang benarsangat penting untuk sastra anak-anak, intrik politik Cina yang nyata sebagian besar telah dihilangkan demi analog yang lebih abstrak. Secara khusus, Lu Bing, seorang ahli teori Marxis untuk pemerintah, menyatakan bahwa buku anak-anak “harus mendidik generasi baru untuk berkembang secara moral, intelektual dan fisik dan melatih kekuatan baru yang vital untuk empat modernisasi. Pada periode baru ini, sastra anak-anak harus fokus pada Pendidikan ideologi dan moral komunis, pendidikan sains dan pendidikan demokrasi.” Namun, meskipun masih dikelola dengan hati-hati, sastra anak-anak pada periode pasca-Mao Tsedong sebenarnya menandai semacam kemajuan dari ideolog komunis sebelumnya yang sangat bergantung pada sensor terang-terangan serta kurangnya toleransi terhadap tujuan individualis dalam pengaruh mereka terhadap pikiran muda.

Sastra normatif dalam Perkembangan sastra anak-anak di wilayah geografislain telah menawarkan beberapa manfaatsosial tambahan yang mengejutkan. Misalnya, beberapa bahasa yang terancam punah di Inggris telah dilestarikan melalui rilis teks remaja unik yang diterbitkan hanya dalam bahasa yang memudar ini,seperti buku bergambar berbahasa Manx karya Brian Stowell, Gaelg Trooid Jallooghyn: Manx through Pictures (1968). Irlandia juga telah mendorong penerbitan lebih banyak buku anak-anak berbahasa Gaelik secara bersama-sama upaya untuk memperkenalkan kembali bahasa asli kepada generasi pembaca baru. Robert Dunbar telah menyarankan bahwa kebangkitan sastra anak-anak berbahasa Irlandia ini telah menyebabkan “perkembangan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, di mana ia telah dikaitkan dengan diskusi politik, pendidikan, dan ideologis yang lebih luas tentang tempat bahasa Irlandia di Irlandia saat ini.” Lebih jauh, setidaknya dalam satu kasus, sastra anak-anak bahkan telah membantu dalam penciptaan bahasa baru. Orang-orang Hmong nomaden hampir unik dalam masyarakat kontemporer karena kurangnya bahasa tertulis. Tergusur dari tanah air mereka di Asia Tenggara, mereka baru-baru ini mendapat manfaat dari program yang memanfaatkan buku anak-anak yang ditulis dalam sistem penulisan yang baru didirikan untuk mengajari anggotanya cara membaca bahasa ibu mereka.

Untuk pertama kalinya, sastra anak akan menjadi fondasi sastra budaya, bukan produk sampingan. Kritikus seperti Rosie Webb Joels juga berpendapat bahwa sastra anak-anak memiliki potensi untuk mendorong internasionalisme dan pemahaman global melalui terjemahan karya-karya lintas budaya, sehingga memaparkan pembaca muda pada peristiwa dan kebiasaan di seluruh dunia, bahkan mungkin mempromosikan toleransi. Secara khusus, dia mengutip The Boys of St. Petri (1991) oleh penulis Denmark Bjarne Reuter dan ikon Het Achterhuis (1947; Diary of a Young Girl) oleh korban Holocaust Belanda Anne Frank sebagai contoh buku yang secara dramatis dapat mengubah persepsi anak di dunia. Tapi mungkin, yang paling penting, buku anak-anak internasional bertindak sebagai pintu gerbang, menawarkan pembaca kesempatan untuk membenamkan diri dalam kata-kata tertulis dari bahasa mereka sendiri. Dalam kata-kata Sheila Ray, “pada akhir abad kedua puluh, ada kepercayaan bahwa literasi sangat penting. Bahkan di masyarakat di mana teknologi informasi maju, keterampilan membaca yang baik sangat penting untuk memanfaatkannya, dan umumnya dianggap bahwa cara terbaik untuk memperoleh kefasihan adalah melalui latihan membaca; buku anak-anak dengan demikian merupakan kebutuhan.” Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...