Tampilkan postingan dengan label HOTS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HOTS. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Desember 2023

Pemilihan Sastra untuk Anak

Pada subab sebelumnya telah dibahas manfaat sastra pada diri anak. Manfaat tersebut dapat dicapai dengan maksimal jika guru merencanakan dan melakukan proses pembelajaran dengan optimal. Hal dasar yang perlu dilakukan guru ketika akan membelajaran sastra pada anak yaitu dengan memilih kriteria sastra yang sesuai dengan tahapan usia anak. Memaparkan bahwa terdapat lima kriteria pemilihan sastra anak, yakni:

1. Kata-kata (diksi) 

Di dalam karya sastra terdapat amanat atau pesan yang ingin disampaikan pada pembaca (anak). Anak usia sekolah dasar mempunyai kemampuan bahasa yang masih sederhana. Oleh karena iu, pemilihan kata-kata (diksi) harus dilakukan oleh guru agar amanat di dalam sastra akan mudah dipahami anak. Disarankan kepada guru untuk memilih kata yang sederhana, tidak memberikan makna ganda atau ambigu, serta memberikan cerita yang relate atau berkaitan dengan kehidupan anak. 

2. Susunan kalimat dan narasi 

Kalimat terdiri dari deretan beberapa kata yang terstrukur dan mempunyai makna. Paragraf terdiri dari beberapa kalimat yang saling berhubungan dan menciptakan sebuah makna. Kalimat sebaiknya disusun dengan baik agar dapat memberikan makna. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menyusun kalimat yang cenderung pendek, menggunakan kata yang mudah dipahami, dan antar kalimat saling berkesinambungan. Pada susunan kalimat diharapkan agar sastra tidak menggunakan kalimat yang panjang sehingga siswa akan kebingungan mengambil makna ataupun pesan penting di dalam sastra tersebut. Penyusunan kalimat berkaitan dengan penyusunan narasi di dalam karya sastra. Narasi adalah gaya penceritaan. Sama halnya dengan penyusunan kalimat, pada narasi juga sebaiknya menggunakan alur yang pendek sehingga mudah bagi siswa untuk memahami narasi yang disampaikan. 

3. Plot Plot adalah alur cerita.

Pada sastra anak sebaiknya diterapkan cerita beralur progresif, karena pola pikir anak usia sekolah dasar masih bersifat linear. Berpikir linear adalah berpikir dengan pusat pada satu fokus. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menentukan plot cerita satu arah dari kegiatan lampau menuju kegiatan terkini, dan tidak dianjurkan untuk menggunakan cerita beralur flashback. 

4. Penokohan

Penokohan merupakan sarana yang paling mudah untuk memasukan sebuah ideologi ke dalam cerita karena melalui tokoh akan disampaikan nilai penting yang harus dipahami anak. Dengan memanfaatkan karakter tokoh yang menarik dan sederhana akan berdampak positif terhadap minat dan daya tarik anak terhadap sastra. Penokohan juga harus memanfaatkan plot cerita yang menggunakan rangkaian peristiwa sederhana, sehingga akan terbentuk kesatuan narasi cerita. 

5. Penutupan cerita dan solusi yang disampaikan 

Solusi cerita hampir sama dengan pengakhiran cerita. Pengakhiran cerita menekankan pada kesimpulan cerita, sedangkan solusi cerita berkompeten pada nasihat-nasihat untuk menanggapi kesimpulan cerita. Nasihat cerita adalah nilai kehidupan yang disampaikan penulis secara tersirat di dalam cerita atau karya sastranya. Guru diharapkan dapat memilih karya sastra yang mempunyai penutupan cerita dan solusi yang baik, sehingga anak akan mudah untuk mengambil amanat atau pesan yang mau disampaikan. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Jumat, 01 September 2023

Keterampilan dalam Pembelajaran Literasi Anak

Keterampilan dalam pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka memiliki karakteristik dengan keterampilan berbahasa yang diterapkan selama ini di dalam pembelajaran. Sebelumnya, dalam pembelajaran literasi penekanannya fokus pada caturtunggal keterampilan berbahasa, yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis (Ibda, 2019:v). Aspek reseptif pada keterampilan membaca dan menyimak, dan aspek ekspresif pada keterampilan berbicara dan menulis (Hariyanti, 2019:106).

Keterampilan literasi anak SD terbagi atau dua cakupan atau aspek. Pertama, keterampilan berbahasa reseptif (menyimak, membaca dan memirsa). Kedua, keterampilan berbahasa produktif (berbicara dan mempresentasikan, serta menulis). Kedua keterampilan ini dapat diimplementasikan di dalam pembelajaran dengan model literasi integrasi berbasis pada tiga cakupan literasi, yaitu literasi fungsional, literasi informasional, dan literasi etikal. Ketiga cakupan literasi tersebut mengarah kepada pembiasaan pola pikir siswa yang komprehensif dan menyiapkan siswa memiliki kemampuan menghadapi masalah di era digital saat ini.

Selain Capaian Pembelajaran di dalam Kurikulum Merdeka, keterampilan literasi dikembangkan dari Profil Pelajar Pancasila yang secara konseptual diwajibkan diterapkan di dalam pembelajaran termasuk pembelajaran literasi. Ada enam karakter utama di dalam Profil Pelajar Pancasila. Keenam karakter itu meliputi 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) berkebhinekaan global, 3) bergotong-royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif. Keenam karakter tersebut bermuara bahwa Profil Pelajar Pancasila tidak sekadar pada ranah kognitif belajar, akan tetapi fokus juga pada perilaku dan sikap berdasarkan jati diri bangsa Indonesia dan warga dunia (Anggraena, 2020:5).

Literasi fungsional memiliki tujuan untuk peningkatan kualitas masyarakat dan kemampuan diri pada individu. Dalam konteksini, literasi fungsional terdiri atas keterampilan membaca, menulis, mendengarkan atau menyimak dan menonton (Nurgiyantoro et. al., 2020:194). Sementara itu, literasi informasi juga dikuatkan di dalam pembelajaran literasi anak SD. Literasi informasional terdiri atas keterampilan mengomunikasikan, mengekspresikan (menciptakan), menafsirkan, menggunakan, memahami, memproses, memperhitungkan, mempertanyakan, dan mengakses, mengeksplorasi, mengidentifikasi (Siti, 2014; Wiyatasari, 2018:41; Kemdikbud, 2020).

Pembelajaran literasi anak SD dengan merujuk Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila, keterampilan berpikir era digital (HOTS), komponen literasi abad-21, literasi fungsional dan literasi informasional menjadisatu kesatuan yang holistik untuk diterapkan dalam pembelajaran literasi anak SD. Dengan demikian, pembelajaran literasi anak SD tidak parsial di dalam pembelajaran berbasis mata pelajaran atau di luar mata pelajaran. Selengkapnya..... 

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...