Tampilkan postingan dengan label ATP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ATP. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 September 2023

Modul Ajar Literasi Sekolah Dasar

Dalam Kurikulum Merdeka, rencana pembelajaran atau modul ajar yang dikembangkan harus memenuhi kriteria sebagaimana yang telah dikembangkan di Sekolah Penggerak atau Program Organisasi Penggerak. Pertama adalah esensial, yaitu berasal dari desain tiap mapel lewat pengalaman belajar yang empirik dan multidisiplin. Kedua, menarik, bermakna dan menantang, artinya modul ajar harus menumbuhkembangkan minat siswa untuk giat belajar dan aktif dalam pembelajaran. Ketiga, kompatibel dan kontekstual, artinya modul ajar yang didesain harus memiliki relevansi dengan pengetahuan dan pengalaman siswa sebelumnya, dan tidak terbatasruang dan waktu siswa berada. Keempat, berkelanjutan, yaitu modul ajar harus saling terkait alur pembelajaran relevan dengan fase belajar siswa (Kemdikbud, 2020b; Kemdikbud, 2021c). Di dalam Kurikulum Merdeka khususnya yang telah diterapkan di Sekolah Penggerak dan POP telah umum disebut modul ajar bukan rencana pembelajaran.

Secara umum, komponen modul ajar minimal terdiri atas tiga aspek, yaitu informasi umum, kompetensi inti, dan lampiran. Jika dijabarkan secara rinci sebagai berikut:

A. Informasi Umum ; 1. Identitas Penulis 2. Kompetensi Awal 3. Profil Pelajar Pancasila 4. Prasarana dan Sarana 5. Target Peserta Didik 6. Model Pembelajaran yang Diterapkan 

B. Kompetensi Inti ; 1. Tujuan Pembelajaran 2. Asesmen 3. Pemahaman Bermakna 4. Pertanyaan Pemantik 5. Kegiatan Pembelajaran 6. Refleksi Peserta didik dan Pendidik 

C. Lampiran; 1. Lembar kerja peserta didik 2. Pengayaan dan remedial 3. Bahan bacaan pendidik dan peserta didik 4. Glosarium 5. Daftar Pustaka

Sedangkan tahap-tahap atau alur penyusunan modul ajar dapat dilakukan dengan tahapan yaitu; 1. Analisis kondisi dan kebutuhan siswa, pendidikan, dan SD. 2. Asesmen diagnostik pada kondisi dan kebutuhan siswa. 3. Identifikasi dan penentuan dimensi Profil Pelajar Pancasila yang hendak dicapai. 4. Pemilihan tujuan pembelajaran dari Alur Tahap Pembelajaran (ATP) sesuai Capaian Pembelajaran yang dikembangkan untuk dijadikan modul ajar. 5. Perencanaan jenis, teknik, dan instrumen asesmen. 6. Penyusunan modul ajar sesuai komponen-komponen yang telah disepakati. 7. Guru menentukan komponen esensial berdasarkan kebutuhan pembelajaran. 8. Elaborasi kegiatan pembelajaran berdasarkan komponen esensial. 9. Modul siap diterapkan. 10. Evaluasi dan pengembangan modul. Selengkapnya.....

Selasa, 29 Agustus 2023

Pembelajaran Literasi Anak Sekolah Dasar

Pembelajaran literasi anak Sekolah Dasar (SD) menjadi bagian penting dalam rangka memajukan mutu dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pembelajaran literasi SD kelas dasar (1, 2, 3) dan kelas tinggi (4, 5, 6) memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Oleh karena itu, pembelajaran literasi SD harus dikuatkan karena menentukan keberlanjutan kemampuan literasi anak di jenjang SMP, dan SMA bahkan perguruan tinggi.

Dari riset-riset yang ada membuktikan kemampuan literasi di Indonesia masih rendah. Di era Revolusi Industri 4.0 literasi menjadi keterampilan pokok dalam menghadapi segala bentuk tantangan kehidupan. Ketika keterampilan literasi anak rendah maka berdampak pada rendahnya skills, keterampilan kerja, berpikir tingkat tinggi, produktivitas, dan rendahnya daya saing. Hal inilah yang mengharuskan pendidikan mengambil peran untuk menguatkan literasi di dalam pembelajaran. Sejumlah riset menemukan rendahnya kemampuan literasi anak dipengaruhi oleh berbagai aspek, terutama karena tidak menjadi fokus utama dalam pendidikan meskipun belakangan muncul berbagai kebijakan dari pemerintah. 

Riset pada 2017 oleh Central Connecticut State University, United States menyebut Indonesia berada pada nomor 60 dari 61 negara yang disurvei dalam bidang keterampilan literasi (Ratri, 2015:24; Khalifatussalam, 2021:4; Saraswati, 2020:125). Studi pada 15 artikel kurun 2018-2020 menemukan bahwa kemampuan literasi dan budaya baca pada siswa di Indonesia rendah. Hal ini dipengaruhi oleh kurang maksimalnya pembelajaran literasi, perpustakaan, dan pemanfaatan teknologi dengan benar (Pitoyo, 2020, p. 83). Jika kita melihat data yang dirillis Programme for International Student Assessment (PISA)sebagai indikator global dalam bidang literasi dari kurun 2000-2018 menempatkan Indonesia pada urutan yang kurang memuaskan.

Dalam konteks Kurikulum Merdeka sangat berbeda dengan Kurikulum 2013. Kurikulum Merdeka memiliki tiga karakteristik yang menonjol dibandingkan dengan Kurikulum 2013 termasuk di dalam pembelajaran literasi. Pertama, Kurikulum Merdeka mengarah kepada projek siswa di dalam pembelajaran dengn tujuan penguatan keterampilan lunak dan penguatan karakter mengacu Profil Pelajar Pancasila. Kedua, penguatan literasi yang dijadikan sebagai materi esensial. Ketiga, keluwesan pendidik dalam menyesuaikan materi sesuai konteks dan kearifan lokal (Kemdikbud, 2021b). Berangkat dari karakteristik di atas dan data kemampuan literasi yang masih rendah tiap tahunnya, maka ketika kemampuan literasi anak yang buruk dibiarkan akan berdampak tidak baik bagi kehidupannya mendatang. 

Literasi yang rendah berdampak pada hasil belajar anak, profesinya, bahkan kesejahteraan ekonomi ketika mereka dewasa (Dugdale, G., Clark, 2008). Hal ini diperkuat kondisi kemampuan literasi anak di Indonesia dari aspek membaca khususnya masih jauh dari harapan ideal. Dalam konteks Indonesia, literasi menjadi aspek pokok dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) sebagai pengganti Ujian Nasional. Pembelajaran literasi anak SD harus dikuatkan karena menjadi kemampuan bernalar dalam aspek bahasa dan sastra yang berorientasi pada karakter mengacu Profil Pelajar Pancasila yang selaras dengan aspek AKM. Selengkapnya.....

Jumat, 07 Juli 2023

Cara mengembangkan KD dan Indikator

Dari capaian pembelajaran yang ditetapkan dari pemerintah ini diharapkan masing-masing guru dapat menurunkan ke dalam KD dan indikator. Satu CP dapat diturunkan menjadi beberapa KD dan Indikator. Bagaimana caranya menurunkan CP menjadi KD dan indikator? Yang pertama guru harus membaca dengan jeli capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. Kedua, guru harus memahami Kata Kerja Operasional (KKO) Taksonomi Bloom, mulai C1 – C6 disemua ranah (afektif, kognitif dan psikomotorik). Ketiga, guru harus dapat memformulasi kedalaman dan keluasan materi dari KKO yang ditetapkan tersebut menjadi KD dan indikato di 3 ranah (afektif, kognitif, psikomotik). Keempat, guru harus dapat menghadirkan materi yang relevan dengan KD dan indikator yang dia turunkan dari CP. Munsenmaier dan Rubin (2013) dalam (Ching & Da Silva, 2017) menyarankan pertanyaan model untuk diperkenalkan di bawah setiap tingkat taksonomi Bloom, dengan mempertimbangkan bahwa itu adalah sebagai alat untuk belajar. (Ching & Da Silva, 2017) kemudian mengadaptasi pertanyaan untuk setiap tingkatan taksonomi.

  1. Mengingat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mendefinisikan istilah, mengidentifikasi fakta dan menemukan informasi atau konten tentang subjek, dan juga kriteria yang membantu siswa: Mendefinisikan informasi? Sebutkan fakta? Baca informasi? Buat daftar fakta atau detail? Menemukan fakta atau ide? Ambil informasi? Jelaskan informasi? Mengenali fakta atau ide dalam konteks?
  2. Memahami tujuan untuk membantu siswa menghubungkan pembelajaran baru dengan pembelajaran sebelumnya pengetahuan; kriteria untuk membantu siswa: Ringkasan fakta dan ide? Nyatakan kembali metode atau prosedur? Menafsirkan hubungan? Parafrase informasi? Memprediksi konsekuensi? Berikan contoh? Menceritakan kembali peristiwa? Menceritakan kembali informasi dengan kata-kata sendiri? Nyatakan masalah dengan kata-kata sendiri? Jelaskan ide atau konsep? Tentukan pentingnya?
  3. Menerapkan bertujuan untuk memberikan kesempatan untuk menerapkan prosedur yang dipelajari dan metode; kriteria untuk membantu siswa: Mendemonstrasikan metode dan Prosedur? Melaksanakan prosedur? Gunakan ide atau pengetahuan? Temukan tujuan baru untuk kompetensi atau pengetahuan? Gunakan pengetahuan dalam situasi baru? Bereksperimen dengan konsep dalam pengaturan yang berbeda? Menyesuaikan pengetahuan untuk digunakan dalam konteks yang berbeda? Terapkan prosedur untuk unik situasi?
  4. Analisis bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa membedakan antara apa yang relevan dan/atau tidak relevan, menentukan hubungan, dan mengenali organisasi konten dengan analisis elemen, hubungan dan prinsip-prinsip organisasi; kriteria untuk membantu siswa: Membedakan fakta dari hipotesis? Kenali niat? Bedakan relevan dari yang tidak relevan? Perhatikan strukturnya? Pilih yang penting elemen? Dekonstruksi konten? Mengatur konten? Garis besar konten? Memahami hubungan?
  5. Evaluasi bertujuan untuk membantu siswa membuat penilaian menggunakan bukti internal dan solusi eksternal; kriteria untuk membantu siswa: Periksa keakuratannya? Deteksi inkonsistensi? Memantau efektivitas? Evaluasi prosedur? Mengkritik solusi? Teknik hakim? Performa kontras? Memeriksa kemungkinan hasil?
  6. Mencipta bertujuan untuk memberikan peluang untuk menghasilkan ide, merancang rencana dan menghasilkan produk; kriteria untuk membantu siswa: Membangun desain? Menghasilkan kemungkinan? Tulis ide? Usulkan hipotesis? Menghasilkan solusi? Produk desain? Merakit rencana? Mengatur ulang operasi? Bayangkan kemungkinan? Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...