Tampilkan postingan dengan label Metode Pembelajaran Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Pembelajaran Bahasa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2024

Keterampilan Menulis (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan menulis permulaan 

Keterampilan menulis permulaan adalah suatu kegiatan melukis atau menyalin gambar atau lambang-lambang bunyi bahasa ke dalam wujud lambang-lambang tertulis yang dapat dikenali secara konkrit sesuai dengan tata cara menulis yang baik dalam proses belajar menulis bagi peserta didik sekolah di kelas awal. 

2. Tujuan Menulis Permulaan 

Setiap penulis pasti ada tujuan untuk menuangkan ide, pikiran dan gagasan serta perasaan melalui bahasa tulis, bai bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Adapun tujuan menulis permulaan adalah: a. Dapat memproduksikan tulisan eja seperti e,d,f,k,j b. Dapat berupa suku kata seperti su-ka kedalam suatu bentuk kalimat. c. Agar dapat memahami cara menulis permulaan dengan ejaan yang benar dan mengkomunikasikan ide/pesan secara tertulis.

3. Tahap-Tahap Menulis Permulaan 

Menulis permulaan dimulai dengan pengenalan terhadap cara memegang pensil yang benar. Tingkat permulaan, kegiatan menulis lebih didominasi oleh hal-hal yang bersifat mekanis. Kegiatan mekanis yang dimaksud dapat berupa: a. Sikap duduk yang baik dalam menulis. b. Cara memegang pensil/alat tulis. c. Cara memegang buku. d. Melemaskan tangan dengan cara menulis di udara. Pengenalan huruf dengan menulis di kelas rendah dapat dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan perkembangan siswa, yaitu: a. Menulis permulaan dengan huruf kecil b. Menulis tegak bersambung c. Menulis permulaan dengan huruf capital pada huruf awal kata permulaan kalimat. 

4. Metode keterampilan menulis permulaan 

a. Metode eja 

Metode eja pada dasarnya menggunakan pendekatan harfiah, artinya belajar membaca dan menulis dimulai dari huruf-huruf yang dirangkai menjadi suku kata. 

b. Metode kata lembaga 

Metode kata lembaga di mulai dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Memperkenalkan kata 2) Menggabungkan kata antar suku kata 3) Menguraikan suku kata atas huruf-hurufnya 4) Menggabungkan huruf menjadi kata 

 c. Metode global 

Metode global mengembangkan kalimat dengan kata-kata dan mengembangkan kata-kata menjadi suku kata. 

d. Metode sas 

Metode SAS merupakan metode yang dimulai dengan pendeekatan bercerita yang disertai dengan gambar yang di dalamnya menggandung dialog.

5. Keterampilan Menulis Lanjutan 

Keterampilan menulis lanjutan adalah menulis merupakan pemindahan pikiran atau perasaan dengan menggunakan tulisan, struktur bahasa, dan kosakata dengan menggunakan simbol-simbol sehingga dapat dibaca. Untuk mencapai tujuan dalam keterampilan menulis di sekolah dasar harus dimulai dari tahap yang paling sederhana, lalu dilanjutkan pada hal yang sederhana menuju hal yang biasa, hingga pada hal yang paling sukar. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang menulis. 

6. Metode Keterampilan Menulis Lanjutan 

 a. Metode Langsung 

Metode langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar peserta didik tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan  deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang penting: fase persiapan dan motivasi, fase demonstrasi, fase pembimbingan, fase pengecekan, dan fase pelatihan lanjutan. Sebagai contoh: guru menunjukkan gambar banjir yang melanda suatu sebuah desa atau melihat langsung peristiwa banjir di sebuah desa. Dari gambar tersebut, peserta didik dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.

b. Metode Komunikatif 

Desain yang bermuatan metode komunkatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikasikan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebagai contoh: metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Peserta didik menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah akivitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan ataupun kelompok. 

c. Metode Integratif 

Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Integrtif terbagi menjadi dua bagian: interbidang studi dan antar bidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Sebagai contoh: menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Adapun antarbidang studi artinya pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Sebagai contoh: antara bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lain. 

d. Metode Tematik 

Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan peserta didik. 

e. Metode Konstruktivistik 

Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstruktivistik dimulai dari masalah yang sering muncul dari peserta didik sendiri dan selanjutnya membantu peserta didik menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. 

f. Metode Kontekstual 

Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis, yakni konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dengan kehidupan pembelajaran yang memotivasi peserta didik agar menghubungkan pengetahuan dan penerapannya dengan kehidupan sehari-hari.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

DOI        Research gate        Google scholar        Beli Buku

Selasa, 05 Maret 2024

Keterampilan Membaca (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan Membaca Permulaan 

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi murid sekolah dasar kelas awla (kelas I dan kelas II). Ada beberapa pendapat yang mendefinisikan membaca permulaan, di antaranya menurut Jamaris (2015) Membaca permulaan secara umum dimulai pada kelas awal sekolah dasar, akan tetapi ada anak yang sudah melakukannya di taman kanak- kanak dan paling lambat pada waktu anak duduk di kelas II sekolah dasar. Pada masa ini, anak mulai mempelajari kosa kata dan dalam waktu yang bersamaan ia belajar membaca dan menuliskan kosa kata tersebut. Menurut Rahmawati (2017) bahwa tujuan pembelajaran membaca di Sekolah Dasar adalah “agar siswa dapat mengenal dan menguasai sistem tulisan sehingga mereka dapat membaca dengan menggunakan sistem tersebut”. Jadi tujuan membaca permulaan peserta didik dapat merubah dan melafalkan huruf-huruf menjadi bunyi yang bermakna, dan menangkap isi bacaan dengan baik dan benar. Dalam membaca juga ikut terjadi kegiatan kognitif bagi peserta didik. 

 2. Tujuan Membaca Permulaan 

Menurut Meta tujuan membaca permulaan:

a. Untuk memperkenalkan huruf dengan bunyi. 

b. Untuk mengajarkan membaca kata-kata dan kalimat sederhana. 

c. Untuk menemukan ide pokok dan kata kunci 

d. Untuk menceritakan kembali isi bacaan pendek 

3. Metode membaca permulaan 

a) Metode abjad 

b) Metode eja 

c) Metode suku kata 

d) Metode kata 

e) Metode kalimat/global 

f) Metode SAS 

4. Keterampilan Membaca Lanjutan 

Keterampilan membaca lanjutan merupakan pembelajaran membaca yang lebih menekankan kepada pemahaman membaca siswa. Beda dengan membaca permulaan, siswa hanya dituntut untuk menyuarakan isi bacaannya. Membaca lanjutan merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan, membaca lanjutan sudah menekankan pemahaman peserta didik dalam membaca walaupun terbatas. Tingkatan membaca lanjutan ini disebut dengan membaca untuk belajar (reading to learn). Membaca lanjutan merupakan tahapan membaca setelah membaca permulaan, jadi seorang anak yang sudah mencapai pada tahapan membaca lanjutan tidak hanya sekedar membaca saja, tetapi dituntut untuk memahami isi bacaan yang terkandung dalam buku. 

5. Tujuan Membaca Lanjutan 

a. Mampu membaca dengan lancer dan dapat menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri. 

b. Mampu membaca dengan lancer dan memahami isinya. 

c. Mampu mencari kata-kata yang sukar dengan menggunakan kamus atau sumber lainnya. 

d. Mampu memahami dan menyerap cerita, puisi dan drama yang berkesan serta memberi tanggapan. 

e. Mampu membaca teks bacaan dan menyimpulkan isinya dengan kata-kata sendiri. 

f. Mampu membaca teks bacaan secara cepat dan dapat mencatat gagasan-gagasan utama. 

g. Mampu membaca teks bacaan serta dapat mengutarakan pendapat dan tanggapan mengenai isinya 

h. Mampu membaca sekaligus suatu teks bacaan dan menemukan garis besar isinya 

6. Jenis-Jenis Membaca Lanjutan 

a. Membaca pemahaman 

b. Membaca memindai 

c. Membaca sekilas 

d. Membaca intensif 

e. Membaca nyaring 

f. Membaca dalam hati

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Schoolar        Research Gate      Doi

Kamis, 18 Januari 2024

Keterampilan Berbicara (Permulaan dan Lanjutan)

1. Keterampilan Berbicara Permulaan 

Keterampilan berbicara permulaan adalah salah satu keterampilan berbahasa sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik lisan berhadapan ataupun dengan jarak jauh (Abbas:2006). 

2. Jenis-jenis Keterampilan Berbicara Permulaan

 a. Berdialog b. Menyampaikan pengumuman c. Menyampaikan argumentasi d. Bercerita 

3. Metode Keterampilan Berbicara Permulaan 

a. Metode ulang ucap 

Kegiatan ini dapat dimulai dari kegiatan sederhana terutama untuk kelas awal SD yaitu dengan menugaskan peserta didik mengulang kata yang diucapkan oleh guru. 

b. Metode Lihat Ucap 

Peserta didik ditugaskan untuk mengucapkan sesuatu kata atau kalimat yang berhubungan dengan benda yang diperlihatkan oleh guru.

c. Metode Memberikan Deskripsi

Peserta didik diberikan tugas untuk mendeskripsikan suatu benda yang diperlihatkan oleh guru. Keterampilan yang dilatih selain kemampuan pokok yaitu mengungkapkan pendapat adalah megamati benda, memilih dan mencocokkan sehingga sangat cocok diterapkan pada siswa kelas awal sampai menengah di Sekolah Dasar. 

d. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini sudah sangat umum sehingga dapat diterapkan pada kondisi dan jenis sembarang bahan ajar. Pertanyaan dapat dikondisikan sedemkian rupa oleh guru untuk merangsang kreatifitas berfikir dan menyampaikan tanggapan terhadap suatu masalah yang diajukan. 

e. Metode Bertanya 

Metode bertanya juga sangat layak digunakan pada sembarang bahan ajar. Dengan menyajikan bahan ajar telebih dahulu kemudian peserta didik ditugaskan untuk membuat pertanyaan tentang sesuatu yang tidak dipahami oleh peserta dididk atau bahkan dalam tataran menguji materi ajar itu sendiri. Dengan bertanya mereka akan mendapat jawaban dan tanggapan tersebut. 

f. Metode Pertanyaan Menggali 

Metode ini sangat baik digunakan jika kondisi siswa yang stagnan dan dengan rata-rata tingkat pemahaman bahkan IQ biasa-biasa saja. Karna untuk mengantarkan mereka kepada suatu pemahaman yang menjadi tujuan pembelajaran diperlukan langkah langkah yang menggiring siswa sehingga sampai pada suatu keadaan paham kepada tema atau permasalahan yang ingin kita sampaikan. Terkadang usaha ini agak sulit dan membuat kita jengkel karna harus berputar-putar mencari pengandaian dan logika lain, akan tetapi disinilah letak seni kita sebagai guru. Akhirnya siswa akan dapat berbicara untuk menyampaikan gagasan, ide dan pendapat mereka. 

g. Metode Melanjutkan 

Pada kegiatan ini siswa secara bergilir ditugaskan untuk membuat ide cerita dan siswa yang lainnya melanjutkan cerita tersebut. Dalam keadaan tertentu dapat dikondisikan suatu bentuk permainan dalam kegiatan ini.

4. Keterampilan Berbicara Lanjutan Keterampilan berbicara lanjutan adalah kemampuan seseorang dalam menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan. (Unsa: 2022).

5. Jenis-jenis Keterampilan Berbicara lanjutan

a. Musyawarah b. Diskusi c. Pidato d. Ceramah

6. Metode keterampilan berbicara di kelas lanjutan 

a. Menceritakan kembali 

Kegiatan ini sudah sangat umum dilaksanakan terutama dalam pembelajaran yang menggunakan bahan ajar cerita baik fiksi maupun non fiksi. Di mana siswa ditugaskan untuk membaca atau mendengar cerita untuk kemudian menceritakan kembali isi cerita tersebut secara lisan di depan teman-teman mereka yang berperan sebagai audien. Dengan kegiatan ini maka siswa akan tertantang untuk berlomba memahami cerita yang sudah pernah mereka dengar atau basa. 

b. Metode Percakapan atau Bermain Peran

Kegiatan ini sangat baik dilaksanakan untuk pemahaman tingkat lanjut tentang suatu cerita di mana dengan memerankan siswa akan lebih  memahami bukan hanya kepada alur cerita akan tetapi akan lebih kepada penjiwaan karakter masing-masing tokoh. Dalam keadaan ini pemahaman siswa terhadap cerita akan utuh karna dengan berbicara mengucapkan naskah cerita atau drama, mereka akan sangat menghayati setiap adegan dan untaian kata percakapan yang diucapkan. 

c. Metode Parafrase

Metode ini dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar menggunakan bahan ajar puisi yang selanjutnya diubah menjadi prossa yang kemudian siswa ditugaskan menceritakan secara lisan hasil paraprase tersebut. 

d. Metode Reka Cerita Gambar

Metode ini sangat kreatif dan layak untuk dicoba karna dengan menyajikan gambar acak siswa akan mereka kembali dengan susunan yang benar urutan gambar tersebut. Dalam kegiatan tersebut dengan sudah sangat pasti mereka akan berbicara setelah guru bertanya, 

e. Metode Memberi Petunjuk 

Metode ini layak juga untuk dicoba terutama untuk mempelajari bahan ajar tentang denah, petunjuk penggunaan obat dan alat tertentu. Dengan penugasan untuk menyampaikan hal tersebut siswa akan tertantang untuk berbicara dan menyampaikan penjelasan berdasarkan ide dan pendapat masing-masing melalui bahasa sederhana dan sesederhanapun penyampaian layak mendapat penghargaan. 

f. Metode Pelaporan

Melalui pengamatan terhadap obyek pada kegiatan tertentu siswa kemudian melaporkan hasil pengamatan dengan penyampaian lisan yang didahului oleh konsep tulisan. Dalam hal ini terjadi proses mirip dengan proses pada metode identifikasi akan tetapi memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Sehingga sesederhana apapun penyampaian siswa layak dihargai karna sebagai awal mula yang baik untuk proses penelitian dan pelaporan 

g. Metode Wawancara

Kegiatan ini adalah kegiatan tingkat tinggi dari bertanya hingga menganalisa jawaban audiens kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya yang diikuti oleh proses pelaporan layaknya seorang wartawan. Proses berbicara dari kegiatan ini adalah awal dari membentuk pribadi yang kritis dan santun 

h. Metode Diskusi 

Kegiatan ini adalah proses interaksi tingkat tertinggi yang merangsang daya fikir, logika, kritis dan santun. Dalam kegiatan ini sejelek apapun pendapat, sanggahan dan klarifikasi siswa adalah hal yang maha baik dalam memulai suatu sikap peka terhadap lingkungan dan isu-isu tertentu dalam mencari jalan keluar. Dimana sudah barang tentu merupakan kreatifitas yang sangat layak mendapat penghargaan. 

i. Metode Bertelpon 

Seiring dengan teknologi informasi yang kian maju maka keterampilan bertelpon sangat penting dalam membentuk sikap cepat, efektif dan sopan dalam berkomunikasi. Karna berbicara melalaui telpon tanpa hadirnya lawan bicara secara langsung memerlukan tingkat kepekaan yang tinggi dalam tata cara pergaulan sehari-hari dalam kegiatan bertelpon 

j. Metode Dramatisasi 

Metode ini adalah kelanjutan dari kegiatan bermain peran yang dilengkapi dengan tema, seting, perwatakan, seting dan naskah drama yang ditampilkan secara utuh. Kegiatan ini penuh dengan kegiatan berbicara sesuai dengan tuntunan naskah yang runtut.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Sabtu, 30 Desember 2023

Keterampilan Menyimak (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan Menyimak Permulaan 

Keterampilan Menyimak Permulaan adalah proses mendengarkan dengan penuh pemahaman, apresiasi dan evaluasi. Dalam proses menyimak, diawali dengan kegiatan mendengarkan bahan simakan oleh penyimak, selanjutnya bahan simakan dipahami berdasarkan tingkat pemahaman peserta didik yang dimaksud, kemudian dalam proses pemahaman tersebut terjadi proses evaluasi menghubungkan antara topik yang disimak dengan pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki peserta didik.

2. Metode Keterampilan Menyimak permulaan

a. Metode Simak terka b. Metode simak cerita c. Metode Bisik berantai 

3. Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Keterampilan Menyimak Lanjutan adalah suatu bentuk keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif dan melibatkan pemahaman pesan atau lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (Meta:2020) 

4. Jenis-Jenis Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Keterampilan menyimak lanjutan dapat di golongkan ke dalam 3 jenis menyimak yaitu sebagai berikut: 

a. Menyimak kritis 

Menyimak kritis adalah kegitan menyimak yang dilakukan dengan sunguh-sunguh untuk memberikan penilaian secara objektif, menentukan keaslian, kebeneran, dan kelebihan, serta kekurangan-kekurangan bahan simakan 

b. Menyimak kreatif 

Menyimak kreatif yaitu kegiatan menyimak yang bertujuan mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas peserta didik. Kreativitas menyimak dapat dilakukan dengan cara meniru bunyi bahasa asing atau bahasa daerah. 

c. Menyimak eksploratif 

Menyimak eksploratif adalah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan informasi baru. Seorang penyimak eksploratif akan menemukan gagasan baru, informasi baru dan informasi tambahan dari bidang tertentu, serta menentkan unsur-unsur berbahasa yang bersifat baru.

5. Metode Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Berikut ini metode-metode yang tepat digunakan dalam keterampilan menyimak: a. Metode Simak Tulis b. Metode Identifikasi kata kunci c. Metode Identifikasi kalimat topic d. Metode Merangkum e. Metode parafrase f. Metode menjawab pertayaan 

6. Fungsi Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Fungsi menyimak lanjutan yaitu: a. Menentukan tujuan penutur sebagai informasi untuk bisa mengingatnya b. Menyaring suatu sebagai pendeteksi c. Mendengarkan penutur atau pembaca sebagai suatu kesenangan 

7. Tujuan Menyimak permulaan 

Tujuan utama menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan. Dengan demikian tujuan menyimak dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Menyimak memperoleh fakta atau mendapatkan fakta b. Untuk menganalisis fakta c. Untuk mengevaluasi fakta d. Untuk mendapatkan inspirasi e. Untuk mendapatkan hiburan atau menghibur diri.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Rabu, 27 Desember 2023

Pembelajaran Bahasa Indonesia Terpadu di SD

Pengalaman siswa sebelum memasuki bangku sekolah jenjang SD, memandang dan mempelajari segala peristiwa yang di alami dan terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai suatu kesatuan yang utuh (holistik). Alasan inilah yang menjadi salah satu dari penyebab pembelajaran di jenjang SD harus dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan karakteristik siswa sebagai pembelajar yang akan menghayati pengalaman belajar sebagai satu kesatuan yang utuh. 

Pengemasan pembelajaran terpadu harus di susun secara tepat, karena akan berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman belajar siswa, yang menunjukkann kaitan unsur-unsur konseptual dalam mata pelajaran dan antar mata pelajaran bagi terjadinya pembelajaran lebih bermakna. Pembelajaran yang dilaksanakan secara terpadu merupakan suatu pendekatan dalam belajar dan cara berpikir, yang memandang beragam mata pelajaran sebagai suatu kesatuan. 

Khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia dipandang sebagai bagian integral dalam belajar mata pelajaran lainnya. Mata pelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD tidak dipelajari sebagai mata pelajaran yang terpisah, melainkan dipelajari secara terpadu dalam mempelajari mata pelajaran lainnya. Aspek-aspek keterampilan berbahasa dikembangkan secara langsung atau dipadukan melalui kegiatan belajar semua mata pelajaran lainnya. Agar terjadi keterpaduan antara mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lainnya, maka digunakanlah pendekatan pembelajaran terpadu, untuk memberikan makna belajar bagi siswa. 

Pembelajaran terpadu merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, berorientasi pada praktik pembelajaran sesuai dengan kebutuhan anak untuk membangun konsep yang saling berkaitan. Sehingga pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami berbagai permasalahan di lingkungannya secara utuh, dengan kemampuannya dalam mengidentifikasi, mengumpulkan, menilai, dan menggunakan informasi di sekitarnya secara bermakna. 

Pengetahuan diperoleh siswa tidak hanya melalui pemberian pengetahuan baru oleh guru, tetapi pengetahuan bisa juga diperoleh siswa melalui kesempatan memantapkan dan menerapkan pengetahuan lama dalam berbagai situasi baru yang beragam. Ada dua keterpaduan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu: 1. Keterpaduan intra mata pelajaran, yaitu keterpaduan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia sendiri. Keterpaduan ini dilaksanakan dengan mengembangkan aspek keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak dalam satu tema. 2. Keterpaduan antar mata pelajaran, yaitu keterpaduan mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lain. 

Siswa menggunakan aspek keterampilan bahasa untuk memberikan informasi, memberi tanggapan, memecahkan masalah, dan untuk mencapai kemampuan lainnya. Pembelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD harus dilaksanakan secara terpadu antara ke empat aspek keterampilan berbahasa (aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), dan aspek kebahasaan/sastra. 

Contohnya pembelajaran struktur kalimat dipadukan dengan wacana, yang dilakukan dengan mengarahkan siswa untuk memahami struktur kalimat bahasa Indonesia dengan menemukan sendiri dalam wacana yang ditentukan oleh guru. Dalam melatih keterampilan berbahasa, guru dapat memilih untuk memfokuskan salah satu dari empat aspek keterampilan bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa Indonesia juga dapat dipadukan dengan mata pelajaran lainnya yang berkaitan dengan kehidupan dan kebutuhan nyata siswa, sehingga pembelajaran menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Selasa, 26 Desember 2023

Apresiasi Karya Sastra Anak

Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Sehingga apresiasi karya sastra anak dapat diartikan sebagai sikap menghargai karya sastra yang telah dihasilkan anak. Apresiasi sastra terbagi menjadi dua jenis, yaitu apresiasi sastra reseptif dan apresiasi sastra ekspresif. Apresiasi sastra anak secara reseptif yaitu penghargaan, penilaian, dan penghayatan terhadap karya sastra anak-anak, baik yang berbentuk puisi, prosa, maupun drama yang dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengarkan, dan menyaksikan pementasan drama. 

Pada tahap apresiasi ini, kemampuan pembaca karya sastra berada pada tahap membaca karya sastra, menyerap, dan menggali makna yang disampaikan pada karya sastra. Umunya, siswa pada tahap apresiasi sastra secara reseptif belum dapat menghasilkan produk dalam kegiatan apresiasi kecuali ungkapan rasa menghargai dan takjub melalui kata-kata. Apresiasi sastra ekspresif/produktif merupakan kegiatan mengapresiasi karya sastra yang menekankan pada proses kreatif dan penciptaan. Apresiasi sastra secara ekspresif/produktif tidak mungkin terwujud tanpa diberikan pengajaran menulis, khususnya menulis kreatif di sekolah dasar (Isova dan Hartati, 2016). 

Dalam kegiatan bersastra secara ekspresif/produktif, metode yang sesuai untuk digunakan dalam mengapresiasi sastra adalah metode produktif. Metode ini diarahkan pada aktivitas berbicara dan menulis. Siswa harus banyak berbicara atau menulis untuk menuangkan gagasan-gagasannya. Kegiatan apresiasi sastra yang diterapkan guru akan membentuk kompetensi apresiasi karya sastra pada diri anak. Kompetensi yang dimaksud yaitu: kemampuan anak menikmati dan menghargai karya sastra yang dihasilkannya sendiri maupun dihasilkan oleh orang lain. Dalam hal ini, siswa diajak untuk melakukan literasi berupa membaca, memahami, menganalisis, dan menikmati karya sastra secara langsung. Siswa tidak harus menghafal sastra dari judul, sinopsis dan ataupun menghafal kalimat demi kalimat dari sastra, akan tetapi siswa diminta untuk langsung berhadapan dengan karya sastranya. (Siswanto, 2008) 

Kegiatan apresiasi karya sastra akan membentuk pengalaman pada diri anak terkait karya sastra, dan aka menimbulkan perubahan serta penguatan tingkah laku akan pentingnya saling menghargai dan indahnya karya sastra. 23 Hal tersebut disebabkan oleh ketika anak mengapresiasi karya sastra maka ia akan melakukan berbagai kegiatan seperti: memaknai, memperhatikan, meminati, bersikap, membiasakan diri, dan menerampilkan diri berkenaan dengan sastra sehingga bukan hanya kognitif anak yang terkonstruksi tetapi juga keterampilan dan sikap mereka. 

Susanti (2015) mengklasifikasikan kegiatan apresiasi sastra berdasarkan tujuan apresiasi ke dalam tiga bagian berikut: (1) ketepatan apresiasi, yaitu menimbulkan kepekaan psikis, mendengarkan, membaca sendiri, membaca bersama, intpretasi auditif-musikal dan visual, memantaskan, mengundang pelaku seni, memahami serta melatih ketrampilan mempergunakan pengertian teknis; (2) kedalaman apresiasi, yaitu dalam hal ini guru berupaya agar siswa mengalami proses kegiatan intelektual, emosional, dan imajinatif yang seimbang dengan proses yang pernah dialami oleh pengarang (sastrawan) dalam menciptakan karyanya; dan (3) keluasan apresiasi; guru mendorong dan mengarahkan perhatian pada hubungan antara sastra dengan kehidupan dengan segala masalahnya. Para siswa juga harus menggunkan pengetahuan lain. Dari kegiatan ini diharapkan siswa akan peka terhadap nilai ekstrinsik dan menyadari kedudukan sastra di dalam lembaga masyarakat. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Jumat, 01 September 2023

Keterampilan dalam Pembelajaran Literasi Anak

Keterampilan dalam pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka memiliki karakteristik dengan keterampilan berbahasa yang diterapkan selama ini di dalam pembelajaran. Sebelumnya, dalam pembelajaran literasi penekanannya fokus pada caturtunggal keterampilan berbahasa, yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis (Ibda, 2019:v). Aspek reseptif pada keterampilan membaca dan menyimak, dan aspek ekspresif pada keterampilan berbicara dan menulis (Hariyanti, 2019:106).

Keterampilan literasi anak SD terbagi atau dua cakupan atau aspek. Pertama, keterampilan berbahasa reseptif (menyimak, membaca dan memirsa). Kedua, keterampilan berbahasa produktif (berbicara dan mempresentasikan, serta menulis). Kedua keterampilan ini dapat diimplementasikan di dalam pembelajaran dengan model literasi integrasi berbasis pada tiga cakupan literasi, yaitu literasi fungsional, literasi informasional, dan literasi etikal. Ketiga cakupan literasi tersebut mengarah kepada pembiasaan pola pikir siswa yang komprehensif dan menyiapkan siswa memiliki kemampuan menghadapi masalah di era digital saat ini.

Selain Capaian Pembelajaran di dalam Kurikulum Merdeka, keterampilan literasi dikembangkan dari Profil Pelajar Pancasila yang secara konseptual diwajibkan diterapkan di dalam pembelajaran termasuk pembelajaran literasi. Ada enam karakter utama di dalam Profil Pelajar Pancasila. Keenam karakter itu meliputi 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) berkebhinekaan global, 3) bergotong-royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif. Keenam karakter tersebut bermuara bahwa Profil Pelajar Pancasila tidak sekadar pada ranah kognitif belajar, akan tetapi fokus juga pada perilaku dan sikap berdasarkan jati diri bangsa Indonesia dan warga dunia (Anggraena, 2020:5).

Literasi fungsional memiliki tujuan untuk peningkatan kualitas masyarakat dan kemampuan diri pada individu. Dalam konteksini, literasi fungsional terdiri atas keterampilan membaca, menulis, mendengarkan atau menyimak dan menonton (Nurgiyantoro et. al., 2020:194). Sementara itu, literasi informasi juga dikuatkan di dalam pembelajaran literasi anak SD. Literasi informasional terdiri atas keterampilan mengomunikasikan, mengekspresikan (menciptakan), menafsirkan, menggunakan, memahami, memproses, memperhitungkan, mempertanyakan, dan mengakses, mengeksplorasi, mengidentifikasi (Siti, 2014; Wiyatasari, 2018:41; Kemdikbud, 2020).

Pembelajaran literasi anak SD dengan merujuk Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila, keterampilan berpikir era digital (HOTS), komponen literasi abad-21, literasi fungsional dan literasi informasional menjadisatu kesatuan yang holistik untuk diterapkan dalam pembelajaran literasi anak SD. Dengan demikian, pembelajaran literasi anak SD tidak parsial di dalam pembelajaran berbasis mata pelajaran atau di luar mata pelajaran. Selengkapnya..... 

Rabu, 28 Juni 2023

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SD

Dalam kurikulum 2013 pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah berbasis teks atau lebih difokuskan pada teks. Melalui teks-teks tersebut selain diajarkan ilmu kebahasaan juga diintegrasikan pendidikan karakter. Dalam kurikulum merdeka pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah difokuskan pada keterampilan menyimak, membaca dan memirsa, berbicara dan mempresentasikan serta menulis untuk berbagai tujuan berbasis genre yang terkait dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan.

Pembinaan dan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia akan membentuk pribadi Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berpikir kritis, mandiri, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global (Kurikulum Merdeka, 2022) Melalui membaca teks peserta didik mampu memperbaiki sikap untuk lebih berkarakter. Terlebih melalui pendekatan saintifik atau ilmiah pembentukan karakter akan mudah terealisasikan.

Dalam pendekatan saintifik, siswa diminta unntuk mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan dengan integrasi pembentukan sikap, misalnya mengamati dengan tanggung jawab, menanya dengan santun, mencoba dengan jujur, dan mengasosiasi dan mengomunikasikan dengan proaktif. Sikap baik tersebut akan terus ditanamkan dalam setiap pembelajaran sehingga ketika peserta didik sudah terbiasa dengan sikap baik, maka kebiasaan itu akan tetap sikap baik.

Ketika peserta didik yang menjadi generasi penerus sudah menjadi pribadi yang baik tentu saja akan mengembalikan identitas bangsa menjadi bangsa yang bermartabat. Pembelajaran berbasis teks merupakan pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan siswa untuk menyusun teks. Metode pembelajaran ini mendasarkan pada pemodelan teks dan analisis terhadap fitur-fitur secara eksplisit serta fokus pada hubungan antara teks dan konteks penggunaannya. Dalam proses pembelajaran ini mengarah pada peserta didik agar mampu memahami dan memproduksi teks baik secara lisan maupun secara tulisan dalam berbagai konteks. Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...