Tampilkan postingan dengan label Menyimak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menyimak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Desember 2023

Keterampilan Menyimak (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan Menyimak Permulaan 

Keterampilan Menyimak Permulaan adalah proses mendengarkan dengan penuh pemahaman, apresiasi dan evaluasi. Dalam proses menyimak, diawali dengan kegiatan mendengarkan bahan simakan oleh penyimak, selanjutnya bahan simakan dipahami berdasarkan tingkat pemahaman peserta didik yang dimaksud, kemudian dalam proses pemahaman tersebut terjadi proses evaluasi menghubungkan antara topik yang disimak dengan pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki peserta didik.

2. Metode Keterampilan Menyimak permulaan

a. Metode Simak terka b. Metode simak cerita c. Metode Bisik berantai 

3. Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Keterampilan Menyimak Lanjutan adalah suatu bentuk keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif dan melibatkan pemahaman pesan atau lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (Meta:2020) 

4. Jenis-Jenis Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Keterampilan menyimak lanjutan dapat di golongkan ke dalam 3 jenis menyimak yaitu sebagai berikut: 

a. Menyimak kritis 

Menyimak kritis adalah kegitan menyimak yang dilakukan dengan sunguh-sunguh untuk memberikan penilaian secara objektif, menentukan keaslian, kebeneran, dan kelebihan, serta kekurangan-kekurangan bahan simakan 

b. Menyimak kreatif 

Menyimak kreatif yaitu kegiatan menyimak yang bertujuan mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas peserta didik. Kreativitas menyimak dapat dilakukan dengan cara meniru bunyi bahasa asing atau bahasa daerah. 

c. Menyimak eksploratif 

Menyimak eksploratif adalah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan informasi baru. Seorang penyimak eksploratif akan menemukan gagasan baru, informasi baru dan informasi tambahan dari bidang tertentu, serta menentkan unsur-unsur berbahasa yang bersifat baru.

5. Metode Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Berikut ini metode-metode yang tepat digunakan dalam keterampilan menyimak: a. Metode Simak Tulis b. Metode Identifikasi kata kunci c. Metode Identifikasi kalimat topic d. Metode Merangkum e. Metode parafrase f. Metode menjawab pertayaan 

6. Fungsi Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Fungsi menyimak lanjutan yaitu: a. Menentukan tujuan penutur sebagai informasi untuk bisa mengingatnya b. Menyaring suatu sebagai pendeteksi c. Mendengarkan penutur atau pembaca sebagai suatu kesenangan 

7. Tujuan Menyimak permulaan 

Tujuan utama menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan. Dengan demikian tujuan menyimak dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Menyimak memperoleh fakta atau mendapatkan fakta b. Untuk menganalisis fakta c. Untuk mengevaluasi fakta d. Untuk mendapatkan inspirasi e. Untuk mendapatkan hiburan atau menghibur diri.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Rabu, 27 Desember 2023

Pembelajaran Bahasa Indonesia Terpadu di SD

Pengalaman siswa sebelum memasuki bangku sekolah jenjang SD, memandang dan mempelajari segala peristiwa yang di alami dan terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai suatu kesatuan yang utuh (holistik). Alasan inilah yang menjadi salah satu dari penyebab pembelajaran di jenjang SD harus dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan karakteristik siswa sebagai pembelajar yang akan menghayati pengalaman belajar sebagai satu kesatuan yang utuh. 

Pengemasan pembelajaran terpadu harus di susun secara tepat, karena akan berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman belajar siswa, yang menunjukkann kaitan unsur-unsur konseptual dalam mata pelajaran dan antar mata pelajaran bagi terjadinya pembelajaran lebih bermakna. Pembelajaran yang dilaksanakan secara terpadu merupakan suatu pendekatan dalam belajar dan cara berpikir, yang memandang beragam mata pelajaran sebagai suatu kesatuan. 

Khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia dipandang sebagai bagian integral dalam belajar mata pelajaran lainnya. Mata pelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD tidak dipelajari sebagai mata pelajaran yang terpisah, melainkan dipelajari secara terpadu dalam mempelajari mata pelajaran lainnya. Aspek-aspek keterampilan berbahasa dikembangkan secara langsung atau dipadukan melalui kegiatan belajar semua mata pelajaran lainnya. Agar terjadi keterpaduan antara mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lainnya, maka digunakanlah pendekatan pembelajaran terpadu, untuk memberikan makna belajar bagi siswa. 

Pembelajaran terpadu merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, berorientasi pada praktik pembelajaran sesuai dengan kebutuhan anak untuk membangun konsep yang saling berkaitan. Sehingga pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami berbagai permasalahan di lingkungannya secara utuh, dengan kemampuannya dalam mengidentifikasi, mengumpulkan, menilai, dan menggunakan informasi di sekitarnya secara bermakna. 

Pengetahuan diperoleh siswa tidak hanya melalui pemberian pengetahuan baru oleh guru, tetapi pengetahuan bisa juga diperoleh siswa melalui kesempatan memantapkan dan menerapkan pengetahuan lama dalam berbagai situasi baru yang beragam. Ada dua keterpaduan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu: 1. Keterpaduan intra mata pelajaran, yaitu keterpaduan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia sendiri. Keterpaduan ini dilaksanakan dengan mengembangkan aspek keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak dalam satu tema. 2. Keterpaduan antar mata pelajaran, yaitu keterpaduan mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lain. 

Siswa menggunakan aspek keterampilan bahasa untuk memberikan informasi, memberi tanggapan, memecahkan masalah, dan untuk mencapai kemampuan lainnya. Pembelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD harus dilaksanakan secara terpadu antara ke empat aspek keterampilan berbahasa (aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), dan aspek kebahasaan/sastra. 

Contohnya pembelajaran struktur kalimat dipadukan dengan wacana, yang dilakukan dengan mengarahkan siswa untuk memahami struktur kalimat bahasa Indonesia dengan menemukan sendiri dalam wacana yang ditentukan oleh guru. Dalam melatih keterampilan berbahasa, guru dapat memilih untuk memfokuskan salah satu dari empat aspek keterampilan bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa Indonesia juga dapat dipadukan dengan mata pelajaran lainnya yang berkaitan dengan kehidupan dan kebutuhan nyata siswa, sehingga pembelajaran menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Aspek-Aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia SD

Depdiknas No. 22 Tahun 2006 menyebutkan ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup komponen berbahasa dan kemampuan bersastra, yang meliputi aspek-aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Ke empat kompetensi tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan satu sama lainnya, dan digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kemampuan berbahasa dapat dilakukan dengan mendengar cerita, membaca petunjuk atau perintah, berdialog atau melakukan percakapan, yang disertai dengan adanya respon secara tepat. Sedangkan kemampuan bersastra seperti mengapresiasikan dongeng, membaca puisi, menonton drama, dan kegiatan lainnya yang memerlukan penghayatan dalam melakukannya.

1. Mendengarkan atau menyimak 

Mendengarkan merupakan keterampilan untuk memahami bahasa lisan yang bersifat reseptif, karena merupakan keterampilan untuk menangkap makna dari bahasa yang disampaikan. Keterampilan mendengarkan berbeda dengan kegiatan mendengar, meskipun ke duanya menggunakan alat indra pendengaran. Pada kegiatan mendengar tidak ada unsur kesengajaan, konsentrasi, dan tidak membutuhkan pemahaman terhadap apa yang di dengar. Sementara pada keterampilan mendengarkan membutuhkan kesengajaan untuk fokus dan konsentrasi agar memperoleh pemahaman dari bahasa yang didengarkan. Mendengarkan sering disebut juga menyimak. 

Menyimak adalah suatu proses kegiatan yang dimulai dari mendengarkan sampai dengan memahami informasi atau pesan yang terkandung dalam bahasa lisan. Menyimak bukan hanya kegiatan mendengar, tetapi juga mencakup kegiatan memahami isi pembicaraan yang disampaikan. Menyimak juga memerlukan proses selektif sesuatu yang paling cocok dngan maksud dan tujuan kita terhadap sekian banyak rangsangan di sekitar kita. Proses selektif ini termasuk juga menerima sebagian atau seperangkat rangsangan tertentu yang diberikan ke pusat persepsi penyimak. Penyimak biasanya memusatkan perhatian pada beberapa rangsangan karena sifatnya yang menarik perhatian, atau memiliki perbedaan cara penyampaian.

Mendengarkan/menyimak memegang peranan penting dalam pemerolehan bahasa siswa, karena melalui proses mendengarkanlah siswa dapat mengenal konsep segala informasi baik berupa ilmu pengetahuan maupun hal-hal lain yang belum dikenalnya sebelumnya.

2. Berbicara 

Berbicara merupakan keterampilan menyampaikan ide, gagasan, dan perasaan secara lisan sebagai proses komunikasi dengan cara yang menarik kepada orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang akan mengalami proses berpikir untuk mengungkapkan ide, gagasan, dan perasaannya secara luas. Proses berbicara ini sangat berkaitan dengan faktor pengembangan berpikir berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari membaca, menyimak, atau pengamatan lingkungan sekitar. Berbicara juga merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi atau mengekspresikan kata-kata untuk menyampikan gagasan, pikiran, maupun perasaan berbentuk pesan yang disampaikan secara lisan kepada orang lain. Adapun materi berbicara yang diajarkan di jenjang SD adalah berbentuk kegiatan berbicara, bukan tentang teori-teori berbicara. Menurut Saddhono dan Slamet (2012) materi untuk pembelajaran berbicara yang tertera dalam kurikulum berupa kegiatan (1) berceramah, (2) berdebat, (3) bercakap-cakap, (4) berkhotbah, (5) bertelepon, (6) bercerita, (7) berpidato, (8) bertukar pikiran, (9) bertanya, (10) bermain peran, (11) berwawancara, (12) berdiskusi, (13) berkampanye, (14) menyampaikan sambutan, selamat, pesan, (15) melaporkan, (16) menanggapi, (17) menyanggah pendapat, (18) menolak permintaan, tawaran, ajakan, (19) menjawab pertanyaan, (20) menyatakan sikap, (21) menginformasikan, (22) membahasa, (23) melisankan isi drama, (24) menguraikan cara membuat sesuatu, (25) menawarkan sesuatu, (26) meminta maaf, (27) member petunjuk, (28) memperkenalkan diri, (29) menyapa, (30) mengajak, (31) mengundang, (32) memperingatkan, (33) mengoreksi, dan (34) tanya-jawab. Materi untuk kegiatan tersebut dapat diajarkan di kelas rendah dengan menggunakan beberapa metode, yaitu metode ulang ucap, metode lihat ucap, metode memerincikan, metode menjawab pertanyaan, metode bertanya, metode pertanyaan menggali, dan metode melanjutkan. Sedangkan untuk kelas tinggi menggunakan metode menceritakan kembali, metode percakapan atau bermain peran, metode parafrase, merode reka cerita gambar, metode memberi petunjuk, metode pelaporan, metode wawancara, metode diskusi, metode bertelepon, dan metode dramatisasi.

3. Membaca 

Membaca merupakan usaha yang dilakukan untuk menemukan informasi dari suatu teks, yang kemudian dikombinasikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki menjadi satu bentuk pengetahuan baru. Sementara keterampilan membaca merupakan keterampilan dalam memahami bacaan yang ada pada setiap kata, kalimat, dan paragraf yang ada pada bacaan. Menurut Farida (2007) ada tiga istilah dari komponen dasar dari proses membaca, yaitu recording, decoding, dan meaning. Recording merujuk pada kata-kata dan kalimat, yang kemudian diasosiasikan denga bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. Decoding merujuk pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam kata-kata. Meaning merujuk pada proses memahami makna yang berlangsung dari tingkat pemahaman. Recording, dan decoding berlangsung pada kelas rendah, yang ditekankan pada proses perseptual (pengenalan korespondensi rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi bahasa), sementara meaning berlangsung di kelas tinggi.

Membaca di kelas rendah dapat menggunakan beberapa metode. Menurut Mulyati (2014) ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam mengajarkan membaca di kelas rendah atau membaca permulaan, yaitu:

a. Metode Eja/Abjad 

Metode eja/abjad merupakan metode yang menekankan pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan dan menyebutkan bunyi huruf, yang di mulai dari mengeja huruf demi huruf. Metode ini mengenalkan siswa lambang-lambang huruf terlebih dahulu, yang dimulai dari huruf A sampai dengan huruf Z. selanjutknya mengenalkan bunyi huruf atau fonem, dengan melafalkan bunyi huruf vocal dan bunyi huruf konsonan. Kemudian dikenalkan bunyi hurufhuruf yang dirangkai menjadi suku kata, dan menjadi kata. Selanjutnya siswa dilatih untuk membaca berbagai kombinasi suku kata dan kata tersebut menjadi kalimat-kalimat yang telah disusun dari kata-kata sebelumnya. Contoh : /b/, /a/, /t/, /a/, dieja /be-a/ /ba/, /te-a//ta/, dibaca /ba-ta/.

b. Metode bunyi

Metode bunyi merupakan pengenalan huruf dengan menyuarakan huruf konsonan dengan bantuan bunyi vocal tengah atau vocal depan sedang yang dilambangkan dengan huruf e. pengenalan huruf dengan metode bunyi ini di mulai dengan mengenalkan bunyi huruf A sampai dengan bunyi huruf Z. selanjutnya mengenalkan suku kata, yang dirangkai menjadi kata, dan selanjutkan kata-kata tersebut dirangkai menjadi kalimat. Contoh : /b/, /a/, /k/, /u/ dieja be.a dibaca ba, ka.u dibaca ku, jadi /b/ /a/ /k/ /u/ dibaca baku. 

c. Metode suku kata atau kata lembaga 

Metode suku kata merupakan cara mengenalkan kata, dengan menguraikan kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf, kemudian huruf digabungkan menjadi suku kata, dan suku kata menjadi kata. Contoh : makan, menjadi ma-kan, menjadi m-a-k-a-n, dan selanjutnya menjadi ma-kan, dan terakhir menjadi m a k a n. 

d. Metode kata atau kupas rangkai suku kata 

Metode kata merupakan metode yang tidak menekankan pada bunyi yang dihasilkan. Siswa telebih dahulu dikenalkan suku kata, kemudian merangkai menjadi kata, yang dilanjutkan dirangkai menjadi kalimat sederhana. Dari kalimat sederhana siswa merangkai dan mengupas kembali kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata. Contoh : ba-ca, menjadi baca, kemudian b-a-c-a, selanjutnya ba-ca, dan menjadi baca. 

e. Metode global atau kalimat 

Metode global merupakan metode yang diawali dengna penyajian beberapa kalimat secara global, biasanya dibantu dengan gambar. Menggunakan metode ini, siswa terlebih dahulu dikenalkan beberapa kalimat untuk dibaca, kemudian setelah siswa dapat membaca kalimat tersebut, kalimat dipisahkan menjadi kata, suku kata, dan huruf-huruf. Dan terakhir setelah siswa dapat membaca huruf yang telah dipisahkan, kemudian huruf tersebut dirangkaikan kembali menjadi kalimat. 

f. Metode SAS 

Metode SAS merupakan metode yang diawali dengan penyajian kalimat utuh yang kemudian diurai menjadi kata, kata menjadi suku kata, dan suku kata menjadi huruf, kemudia digabungkan kembali huruf menjaadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat. Struktur kalimat yang digunakan merupakan hasil dari  pengalaman berbahasa siswa, contohnya menggunakan gambar, benda nyata, atau pengalaman siswa itu sendiri. SAS merupakan kepanjangan dari Struktural, Analitik, dan Sintetik. Struktural merupakan struktur bahasa yang terdiri dari kalimat, dan kalimat mempunyai bagian yang di sebut unsur bahasa, yaitu kata, suku kata, dan bunyi atau huruf. Analitik berarti memisahkan, menguraikan struktur kalimat dianalisis untuk dipisahkan dari strukturnya sehingga mudah dipelajari. Dan sintetik berarti menyatukan, menggabungkan. Pada tahap sistetik ini, siswa diarahkan untuk mengenal kembali bentuk struktur pada bagia structural dan analitik sebelumnya.

4. Menulis 

Menulis merupakan keterampilan yang bersifat aktif produktif, karena aktivitas menulis bukan hanya menyalin kata-kata dan kalimat, tetapi juga menuangkan dan mengembangkan pikiran, gagasan, atau ide dalam suatu struktur tulisan yang teratur, logis, sistematis, sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Menulis sebagai suatu bentuk komunikasi berbahasa yang menggunakan simbol-simbol tulis sebagai medianyaa. Menulis di kelas rendah identik dengan melukis gambar. Pada taha ini, penulis tidak menuangkan idea tau gagasan, melainkan hanya sekedar menyalin gambar atau lambing bunyi bahasa ke dalam wujud lambang tertulis. Sedangkan menulis di kelas tinggi merupakan kegiatan mencurahkan ide, gagasan yang dinyatakan secara tertulis melalui bahasa tulis. Kemampuan menulis tidak dapat diperoleh secara alamiah, tetapi harus melalui proses belajar. Siswa harus berlatih mulai dari cara memegang alat tulis, menggerakkan tangan dengan memperhatikan apa yang harus ditulis, siswa harus mengamati lambang bunyi dengan memahami setiap huruf sebagai lambang bunyi tertentu sampai dapat menuliskan secar benar. Menulis di kelas rendah lebih didominasi oleh hal-hal yang bersifat mekanis, seperti sikap duduk yang baik dalam menulis, cara memegang alat tulis, cara meletakkan dan memegang buku, cara menggerakkan tangan, dan cara melemaskan jari-jari melaui kegiatan menggambar. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Jumat, 01 September 2023

Keterampilan dalam Pembelajaran Literasi Anak

Keterampilan dalam pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka memiliki karakteristik dengan keterampilan berbahasa yang diterapkan selama ini di dalam pembelajaran. Sebelumnya, dalam pembelajaran literasi penekanannya fokus pada caturtunggal keterampilan berbahasa, yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis (Ibda, 2019:v). Aspek reseptif pada keterampilan membaca dan menyimak, dan aspek ekspresif pada keterampilan berbicara dan menulis (Hariyanti, 2019:106).

Keterampilan literasi anak SD terbagi atau dua cakupan atau aspek. Pertama, keterampilan berbahasa reseptif (menyimak, membaca dan memirsa). Kedua, keterampilan berbahasa produktif (berbicara dan mempresentasikan, serta menulis). Kedua keterampilan ini dapat diimplementasikan di dalam pembelajaran dengan model literasi integrasi berbasis pada tiga cakupan literasi, yaitu literasi fungsional, literasi informasional, dan literasi etikal. Ketiga cakupan literasi tersebut mengarah kepada pembiasaan pola pikir siswa yang komprehensif dan menyiapkan siswa memiliki kemampuan menghadapi masalah di era digital saat ini.

Selain Capaian Pembelajaran di dalam Kurikulum Merdeka, keterampilan literasi dikembangkan dari Profil Pelajar Pancasila yang secara konseptual diwajibkan diterapkan di dalam pembelajaran termasuk pembelajaran literasi. Ada enam karakter utama di dalam Profil Pelajar Pancasila. Keenam karakter itu meliputi 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) berkebhinekaan global, 3) bergotong-royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif. Keenam karakter tersebut bermuara bahwa Profil Pelajar Pancasila tidak sekadar pada ranah kognitif belajar, akan tetapi fokus juga pada perilaku dan sikap berdasarkan jati diri bangsa Indonesia dan warga dunia (Anggraena, 2020:5).

Literasi fungsional memiliki tujuan untuk peningkatan kualitas masyarakat dan kemampuan diri pada individu. Dalam konteksini, literasi fungsional terdiri atas keterampilan membaca, menulis, mendengarkan atau menyimak dan menonton (Nurgiyantoro et. al., 2020:194). Sementara itu, literasi informasi juga dikuatkan di dalam pembelajaran literasi anak SD. Literasi informasional terdiri atas keterampilan mengomunikasikan, mengekspresikan (menciptakan), menafsirkan, menggunakan, memahami, memproses, memperhitungkan, mempertanyakan, dan mengakses, mengeksplorasi, mengidentifikasi (Siti, 2014; Wiyatasari, 2018:41; Kemdikbud, 2020).

Pembelajaran literasi anak SD dengan merujuk Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila, keterampilan berpikir era digital (HOTS), komponen literasi abad-21, literasi fungsional dan literasi informasional menjadisatu kesatuan yang holistik untuk diterapkan dalam pembelajaran literasi anak SD. Dengan demikian, pembelajaran literasi anak SD tidak parsial di dalam pembelajaran berbasis mata pelajaran atau di luar mata pelajaran. Selengkapnya..... 

Kamis, 13 Juli 2023

Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Strategi pembelajaran dan model pembelajaran tidak dapat dipisahkan. Kedua komponen tersebut harus bekerja sama dan saling berhubungan. Memang betul,strategi dipercaya banyak kalangan sebagai trik dalam mendukung kegiatan belajar yang harus digunakan guru untuk membuat pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan dan mencapai tujuan belajar yang efektif. Strategi pembelajaran dapat digambarkan sebagai seperangkat materi dan tata krama belajar yang terintegrasi dan digunakan secara bersamaan untuk menciptakan indikator keberhasilan belajar yang diinginkan guru dari siswanya. Selain itu, diperlukan suatu metode yang dapat diterapkan untuk mengartikulasikan strategi belajar yang diterapkan. 

Model pembelajaran dibuat oleh guru untuk menunjang kegiatan belajar di kelas. Secara umum, beberapa model pembelajaran telah diterapkan oleh guru salah satunya adalah demonstrasi, diskusi maupun ceramah. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan secara otomatis model pembelajaran akan mengalami peningkatan. Di bawah ini adalah contoh model pembelajaran bahasa Indonesia untuk siswa tingkat dasar berdasarkan empat keterampilan berbahasa menurut Krissandi, dkk, (2018: 32) pertama pembelajaran dengan model berbicara, kedua pembelajaran dengan model menyimak, ketiga pembelajaran dengan model membaca dan keempat pembelajaran dengan model menulis. 

Model pembelajaran menyimak terbagi menjadi beberapa perspektif yaitu Menceritakan kembali (retelling) cerita, membisikkan rantai, mendengarkan langsung (listening direct), membaca kata kunci, melengkapi cerita. Model pembelajaran berbicara dapat dibagi menjadi beberapa aspek, seperti tim pendengar, model berita, dan model orang dan subjek. Selain itu, model pembelajaran membaca mencakup beberapa model seperti model aktivitas berpikir membaca terarah, model K-W-L, model PORPE, dan model ECOLA. Model pembelajaran menulis mengandung beberapa komponen, antara lain model brainstorming, brainstorming, model konferensi meja bundar, model brown, dan model sugestif. Beberapa model pembelajaran bahasa Indonesia berbasis keterampilan berbahasa dapat dikaitkan dengan media pembelajaran berbasis TIK yang diterapkan di tingkat sekolah dasar. Selengkapnya.....

Sabtu, 08 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Menyimak

Menyimak sebagai keterampilan berbahasa yang memiliki kontribusi penting dalam kehidupan siswa sehari-hari maupun disekolah. Siswa tidak dapat membaca, menulis dan berbicara tanpa menguasai keterampilan menyimak. Menyimak adalah keterampilan berbahasa pertama yang diterima seseorang sejak kecil di lingkungan keluarga dan sekitarnya. Menyimak diartikan sebagai proses mendengarkan melaluisimbol-simbol lisan dengan saksama untuk mendapatkan informasi, dalam menerima dan memahami dari komunikasi yang sudah disampaikan pembicara melalui ucapan (Daeng et al., 2010). Sudiati (2019) menjelaskan bahwa menyimak yakni proses mendengarkan bunyi bahasa secara intens untuk memahami ucapan yang dimaksud pembicara. Menyimak dimaknai sebagai aktivitas mendengarkan secara kreatif dan aktif dengan tujuan mendapatkan informasi dan memahami isi terhadap ucapan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Beberapa penjelasan tersebut, dapat disintesiskan bahwa menyimak adalah kegiatan mendengarkan simbol-simbol lisan secara intens, kreatif, dan aktif untuk dapat menerima, memahami, dan mengimplementasikan informasi yang disampaikan pembicara.

Peranan menyimak bagi siswa sekolah dasar sebagai tahap awal dalam menguasai capaian pembelajaran yang akan dicapai. Keterampilan menyimak yang baik juga akan berpengaruh terhadap hasil belajarsiswa. Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran saat guru menjelaskan. Menyimak bagi siswa sekolah dasar memiliki kontribusi penting dikarenakan melalui menyimak siswa menerima, memahami dan mengimplementasikan materi pembelajaran dalam kehidupannya Selain itu, menyimak penting sekali dalam kegiatan sehari-hari dikarenakan melalui menyimak seseorang mendapatkan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan. Proses kegiatan menyimak melibatkan faktor fisik dan mental. Aspek mental berkaitan dengan proses menyimak yang berkaitan dengan proses kognitif meliputi perhatian, pemahaman dan ingatan. Pemahaman informasi yang diterima dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya sehingga akan memunculkan interpretasi baru. Proses menyimak yang tidak hanya mengandalkan fisik saja karena hal ini berkaitan dengan pemahaman yang tepat dan masuk ke tahap penyimpanan memori jangka lama.

Kegiatan menyimak dapat dilakukan melalui beberapa tahap yakni: 1) mendengar yaitu siswa mendengarsegala sesuatu yang dibicarakan oleh pembicara; 2) memahami yaknisiswa mengerti isi pesan yang disampaikan pembicara; 3) menginterpretasi yaitu siswa mengartikan setiap aspek yang disampaikan pembicara; 4) mengevaluasi yaitu menyampaikan pendapat siswa terkait dengan isi pesan yang disampaikan pembicara baik itu kekurangan dan kelebihan; dan 5) menanggapi yakni siswa memberikan tanggapan terhadap isi pesan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Keberhasilan kegiatan menyimak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang ada dalam kegiatan berkomunikasi. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam kegiatan menyimak yakni adanya pembicara, penyimak, pesan yang disampaikan, media yang digunakan dan keadaan lingkungan sekitar (Sudiati, 2019). Penyimak memiliki tanggung jawab besar dalam keberhasilan kegiatan menyimak tersebut. Selain itu, juga perlu memperhatikan berbagai faktor eksternal yang dapat mengganggu dalam proses menyimak.

Capaian pembelajaran keterampilan menyimak pada kurikulum merdeka dibagi menjadi 3 fase yakni fase A (kelas 1–2), fase B (kelas 3– 4) dan fase C (kelas 5–6). Keterampilan menyimak pada fase A mendorong siswa dapat yakni: 1) menjadi penyimak yang penuh perhatian; 2) memiliki ketertarikan dalam kegiatan menyimak; dan 3) mampu memahami pesan dan informasi yang disampaikan melalui audio, teks aural yang berhubungan dengan komunikasi dan instruksi lisan. Sedangkan keterampilan menyimak fase B yang harus dikuasai siswa meliputi: 1) dapat memahami gagasan utama suatu pesan lisan dan informasi melalui audio, teks aural dan instruksi lisan yang berhubungan dengan komunikasi; dan 2) dapat memahami teks narasi yang dibacakan dari audio. Pada Fase C tingkat keterampilan menyimak siswa lebih tinggi dari capaian pembelajaran sebelumnya yang meliputi: 1) dapat menganalisisinformasi dalam bentuk fakta, prosedur yang mencakup ciri objek dan urutan kejadian; dan 2) menganalisis nilai-nilai dari beberapa jenis teks informatif dan fiksi yang diberikan dalam bentuk lisan, teks aural, dan audio.

Beberapa capaian pembelajaran keterampilan menyimak yang ada di kurikulum merdeka tersebut, dapat diimplementasikan melalui berbagai strategi agar siswa dapat menguasai dengan baik. Rambe & Widiyarti (2018) memaparkan metode yang dapat digunakan pada pembelajaran menyimak yakni sebagai berikut.

1. Metode Simak-Ulang Ucap 

Metode ini dapat diterapkan dengan mengenalkan bunyi bahasa dan cara mengucapkannya. Metode ini menyatukan keterampilan berbicara dan menyimak. Metode ini cocok digunakan di kelas rendah. Tahapan yang dapat dilakukan guru dalam membelajarkan siswa menggunakan simak-ulang ucap meliputi: 1) guru membacakan atau memutar audio seperti fonem, puisi pendek dsb; dan 2) Siswa menirukan ucapan guru yang dapat dilaksanakan secara mandiri dan kelompok. 

 2. Metode Simak Kerjakan 

Metode ini melibatkan keterampilan menulis dalam implementasinya. Setelah siswa menyimak, maka ia menulisjawaban soal yang diberikan guru sesuai dengan pesan yang disampaikan. Biasanya guru memberikan bahan simakan cerita, lalu siswa menjawab soal terkait unsur instrinsik dalam cerita tersebut. Oleh karena itu, metode ini membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi. 

3. Metode Simak Terka 

Metode ini sudah tidak asing lagi bagi siswa. Siswa disuruh menyimak apa yang diucapkan guru, lalu ia menebak maksud pesan yang disampaikan. Seperti contoh, guru mendeskripsikan ciri-ciri suatu benda tanpa menyebut namanya, kemudian siswa menebak nama benda tersebut. Dalam hal ini,siswa tidak hanya membutuhkan konsentrasi tetapi juga harus bisa berpikir dengan cepat. 

4. Metode Simak Tulis 

Metode simak tulis adalah metode yang banyak diterapkan oleh guru Indonesia. Implementasinya sangat mudah yakni guru mempersiapkan materi pembelajaran yang akan didiktekan pada siswa. Kemudian siswa menulis apa yang diucapkan guru. Metode ini juga membutuhan keterampilan menulis. Siswa harus menyimak dengan saksama agar hasil tulisannya sesuai dengan pesan yang diucapkan guru. 

5. Metode Memperluas Kalimat 

Metode ini mengintegrasikan keterampilan berbicara. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru mengucapkan kalimat sederhana yang terdiri atas beberapa kata, lalu siswa menirukan apa yang diucapkan guru. Kegiatan tersebut dilakukan sebanyak dua kali. Siswa menghubungkan dua kalimat sederhana menjadi kalimat panjang. Siswa harus berkonsentrasi penuh,sehingga dapat merangkai kalimat dengan benar. 

 6. Metode Bisik Berantai 

Metode ini dapat diterapkan di kelas rendah dan kelas tinggi. Kegiatan pembelajaran menyimak menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru membisikkan kalimat pada salah satu siswa. Lalu siswa tersebut membisikkan kalimat tersebut kepada siswa lainnya, hal itu berulang secara terus menerus sampai siswa terakhir. Lalu siswa terakhir mengucapkan kalimat tersebut pada guru. Selain mengasyikkan, metode ini juga melatih kefokusan setiap siswa. 

7. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini selalu digunakan oleh setiap guru. Metode ini dapat diterapkan guru dengan memberikan pertanyaan, lalu siswa menjawab. Pertanyaan yang diberikan disesuaikan dengan tema pembelajaran. Kefokusan siswa dalam menyimak dapat dilihat dari jawaban yang diberikan apakah sesuai atau tidak dengan pertanyaan yang diberikan guru. 

8. Metode Identifikasi Tema, Ide Pokok, dan Kata Kunci

Langkah ini dapat dilakukan dengan guru bercerita sedikit dan siswa menyimak secara intens. Di tengah bercerita guru berhenti, lalu dilanjutkan bercerita oleh siswa. Hal ini berulang terus hingga cerita dirasa cukup. Metode ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan dapat mendorong kreativitas siswa dalam membuat kalimat. Selain itu juga mengajar siswa untuk percaya diri dan saling menghargai terhadap berbagai karya yang dihasilkan sejelek apapun. 

 9. Metode Parafrase 

Metode ini merupakan mengungkap kembali sesuatu menggunakan bahasa sendiri. Dalam tahapan implementasinya, guru dapat membacakan sebuah puisi di depan siswa. Siswa menceritakan isi puisi tersebut menggunakan bahasa sendiri. Metode ini membutuhkan konsentrasi untuk dapat memahami isi dengan baik sehingga dapat memparafrasekan sebuah pesan dengan baik. 

10. Metode Merangkum 

Metode ini cocok diimplementasikan pada kelas tinggi. Hal ini dikarenakan metode ini membutuhkan pemahaman dan konsentrasi yang tinggi. Setelah siswa menyimak apa yang disampaikan guru, siswa merangkum informasi atau pesan secara runtut. Merangkum dapat dilakukan dengan merangkai kata menggunakan bahasa sendiri.

Pembelajaran menyimak juga dapat diajarkan melalui berbagai media yang bervariasi. Media memiliki beberapa fungsi yaitu memberikan kemudahan guru dalam menyampaikan materi dan menarik minat belajar siswa (Yarni & Kaban, 2015). Siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, sehingga keberadaan media dalam proses pembelajaran sangat diperlukan. Jenis media yang digunakan guru berpengaruh terhadap hasil keterampilan menyimak siswa. Media yang dapat digunakan dalam menyimak yakni: 1) media visual meliputi gambar, foto, kartun, poster, grafik, dsb; 2) media audio meliputi MP3, radio, kaset audio dsb; 3) media audio visual meliputi: video, sound slide, film bersuara, dan televisi; 4) multimedia yang berisi animasi, foto, video, musik, gambard dan teks; dan 5) media realita yakni media yang ada di sekitar lingkungan siswa (Sukma & Saifudin, 2021). 

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kurikulum merdeka memberikan kebebasan pada guru untuk memilih metode dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Berbagai metode dan media yang sudah dijelaskan tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi guru dalam mengajarkan keterampilan menyimak siswa pada kurikulum merdeka. Pemilihan metode dan media harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Guru tidak boleh memilih hanya berdasarkan kemudahan yang diperoleh guru saja. Capaian pembelajaran menyimak fase A, fase B dan fase C memiliki tingkatan kognitif yang berbeda. Sehingga tingkat kognitif siswa juga menjadi pertimbangan penting bagi guru dalam pemilihan metode dan media. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam menyukseskan pembelajaran menyimak yaitu pertama, memilih metode pembelajaran yang berkaitan dengan materi dan bervariasi (Sukma & Saifudin, 2021). 

Guru harus memahami kondisi siswanya, sehingga bisa menentukan metode dan media yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Kedua, materi yang digunakan dalam pembelajaran menyimak harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Materi pembelajaran yang diberikan pada siswa tidak terlalu sulit dan tidak terlalu gampang. Tingkat kesukaran materi harus disesuaikan juga dengan kognitif siswa sekolah dasar. Ketiga, mengimplementasikan media pembelajaran yang beragam. Pembelajaran menyimak akan lebih menarik siswa jika guru dapat mengintegrasikan teknologi dengan materi pembelajaranmenyimak. Dalam hal ini, guru dituntut untuk melek teknologi. Keempat, mengatur lingkungan belajarsiswa. Pengelolaan lingkungan belajar yang baik akan berdampak pada kenyamanan siswa dalam belajar. Ruang belajar yang nyaman dapat meningkatkan motivasi belajar menyimak. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang baik dengan menyesuaikan dengan karakteristik siswanya. Kelima, melaksanakan evaluasi dengan baik. Guru memberikan penilaian kepada siswa sebagai bentuk penghargaan yang sudah siswa berikan dalam usaha belajar. Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...