Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2024

Pendekatan Komunikatif

a. Pengertian pendekatan komunikatif

Pendekatan komunikatif yaitu pendekatan saat pengimplementasiannya membutuhkan tahap-tahap supaya cara penyampaiannya bisa berlangsung seadanya (Nurhaliza and Anwar, 2019). Pendekatan komunikatif ialah kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa yang berlandaskan kepada pemikiran(Djuanda, 2008). Pendekatan merupakan komunikatif Pendekatan yang mengutamakan interaksi peserta didik dengan peserta didik dan memposisikan diri sebagai pokok pembicaraan, juga setiap peserta didik diwajibkan untuk berpartisipasi (Wahyuningsi, 2019). 

 b. Komponen-Komponen Pendekatan Komunikatif 

Ada empat komponen Pendekatan Komunikatif (Wahyuningsi, 2019): 1) Kemampuan gramatikal merupakan bagian kemampuan komunikatif meliputi pengetahuan tentang aspek leksikal dan aturan fonologi, semantik kalimat tata bahasa, sintaksis, dan morfologi. 2) Kemampuan wacana merupakan penyempurnaan dari kemampuan gramatikal. Kompetensi wacana yaitu kompetensi menghubungkan suatu kalimat dalam wacana dan kompetensi memahami suatu wacana. Jika kemampuan gramatikal meliputi tata bahasa pada suatu kalimat, maka kemampuan wacana meliputi hubungan antar kalimat 3) Kemampuan sosiolinguistik merupakan ilmu mengenai aturan sosial budaya wacana dan bahasa. Kemampuan ini memfokuskan mengenai konteks bermasyarakat meliputi informasi yang dibicarakan, fungsi interaksi, peran para partisipan. 4) Kemampuan strategis, suatu ilmu yang paling kompleks. Kemampuan strategis sebagai strategi komunikasi lisan dan tertulis yang bisa digunakan untuk menyepadankan komunikasi karena kemampuan tidak sesuai. 

c. Langkah-langkah pendekatan komunikatif 

Langkah-langkah pendekatan komunikatif menurut (Nurhaliza and Anwar, 2019) yaitu: (1)Menetapkan tujuan yang efektif; (2) pembuatan materi sesuai dengan peraturan yang dipakai (3) latihan berbahasa atau practice (4) alih pengetahuan atau transfer. d. Ciri-ciri pendekatan komunikatif Ciri-ciri pendekatan komunikatif menurut (Wahyuningsi, 2019) adalah sebagai berikut: 1) Realitas akan mendorong peserta didik untuk peserta didik atau aktivitas yang menunjukkan komunikasi sebenarnya 2) melaksanakan tugas-tugas yang bermakna akan membuat peserta didik untuk belajar merupakan tujuan aktivitas berbahasa 3) Mempersiapkan materi silabus komunikasi sesuai dengan analisis kebutuhan. 4) Kegiatan di kelas berpusat kepada peserta didik. 5) Guru berperan secara holistik, menganalisis kebutuhan peserta didik, dan mengatur kelompok. 6) Kegunaan alat mengajar adalah untuk membangkitkan komunikasi peserta didik yang intens.

e. Kelebihan Pendekatan Komunikatif 

Pendekatan komunikatif memiliki kelebihan yaitu: (Nurhaliza and Anwar, 2019) 1) Peserta didik lebih semangat belajar karena hari pertama belajar, langsung menggunakan bahasa asing/ disesuaikan dengan bahasa asing yang dipakai disekolah tersebut. 2) Peserta didik pasih berinteraksi, maksudnya memahami kemampuan gramatikal, strategis, sosiologi dan wacana. 3) Kondisi kelas menyenangkan dengan kegiatan interaksi antar peserta didik dengan bermacam model komunikasi dan gaya bahasa yang lumayan tinggi, menjadi sangat menyenangkan.

f. Prinsip-prinsip Pendekatan Komunikatif Menurut (Yunita and Rafael, 2022) ada tiga prinsip pendekatan komunikatif antara lain:  1) Materi ajar berpedoman pada bahasa sebagai alat berinteraksi atau berkomunikasi. 2) Konstruksi materi ajar terfokuskan pada proses pembelajaran bukan topik yang diajarkan 3) Matari pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk berinteraksi serta berkomunikasi secara natural.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google scholar        Research gate         Doi

Selasa, 23 April 2024

Pendekatan Whole language

Pendekatan whole language adalah teknik yang bertujuan dalam menyamakan persepsi mengenai pembelajaran bahasa, kemudian juga mengenai manusia yang ikut serta lingkungan tersebut (Hidayah, 2014). Pendekatan whole language merupakan pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, hal tersebut tentu didukung dengan pembelajaran yang holistik dan padat dalam mengajarkan keempat aspek pada kemampuan bahasa, yang terdiri dari menyimak, membaca, berbicara, dan menulis secara bersamaan (Sari, Kristanti and Nurjannah, 2020). Whole Language merupakan pendekatan yang cocok untuk pembelajaran bahasa yang mengajarkan secara komplet dan menyeluruh yang berhubungan dengan keterampilan bahasa (Yunita, 2017). 

Adapun komponen-komponen pendekatan Whole Language yang dijelaskan (Hidayah, 2014) yaitu: 

a. Reading aloud adalah guru dan peserta didik melakukan aktivitas membaca. Guru dituntut untuk membaca dengan lantang dan jelas dengan artikulasi dan indonasi yang baik sehingga peserta didik dapat mendengar dan memahami bacaan guru. Manfaat Reading aloud yaitu membimbing peserta didik dalam keterampilan menyimak, memperbanyak kosakata, membangkitkan minat dan pemahaman peserta didik. Tujuan reading aloud yaitu untuk membawa peserta didik belajar dalam waktu sekitar sepuluh menit. 

b. Jurnal writing atau menulis jurnal adalah teknik yang cocok untuk menulis sesuai dengan apa yang ada dalam hati dan pikiran menceritakan apa saja yang sudah dilalui, lingkungan sekitar, dan hal-hal lainnya dalam penerapan bahasa dalam bentuk tulisan. Kegunaan menulis jurnal yaitu dapat meningkatkan (1) keterampilan menulis; (2) keterampilan membaca; (3) keberanian mengambil atau menghadapi resiko; (4) keinginan peserta didik untuk refleksi; (5) merasakan perasaan dan pengalaman pribadi; (6) tempat yang nyaman untuk menulis difasilitasi; (7) keterampilan berpikir; (8) kesadaraan akan peraturan menulis; (9) mempermudadah dan pengevaluasian (10) tercatat sebagai dokumen tertulis 

 c. Sustained Silent Reading, adalah peserta didik melakukan aktivitas membaca dalam hati. Buku bacaan atau materi dapat dipilih sendiri oleh peserta didik. Pesan ya g didapat dari kegiatan ini yaitu (1) membaca bisa menjadi aktivitas yang disenangi (2) siapapun bisa melakukan aktivitas membaca (3) terjadinya kumunikasi dengan penulis buku atau teks yang dibaca dengan cara membaca (4) peserta didik dapat berkonsentrasi dalam membaca cukup lama pada bacaan. (5) guru percaya akan pemahaman peserta didik dalam membaca teks. 6) Setelah Sustained Silent Reading berakhir peserta didik dapat berbagi pengetahuan. d. Shared Reading, merupakan guru dan peserta didik mempunyai buku yang dibaca, kemudian melakukan aktivitas membaca bersama. Kegiatan ini dapat dilakukan di sekolah dasar sampai saat belajar diperkuliahan. Tujuan aktivitas ini yaitu (1) peserta didik memperhatikan guru membaca sebagai model sambil melihat tulisan peserta didik; (2) peserta didik diberikan kesempat dalam menyampaikan apa yang sudah dibacanya (3) Guru berperan sebagai model dapat memberikan contoh cara membaca yang benar kepada peserta didiknya. 

Pendekatan Whole Language memiliki beberapa ciri-ciri menurut (Hidayah, 2014) yaitu: a. Kelas yang mengimplementasikan whole language dipenuhi dengan hasil karya berupa barang. Hasil karya tersebut dapat dipajang di dinding kelas, pintu kelas dan lain-lain. b. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik belajar melalui guru. Pendidik sebagai model yang ideal dalam berbahasa, contoh saat aktivitas berbicara, menulis, serta membaca. c. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik baraktivitas dan mempelajari materi sesuai dengan daya tangkap peserta didik. d. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik dapat membagi tugas dalam pembelajaran. e. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik ikut berperan sehingga pembelajaran menjadi bermakna. f. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik mampu terjun langsung berperan dan bebas mencoba hal-hal baru. g. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik memperoleh umpan balik yang positif dari pendidik serta dari peserta didik lainnya.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut;

Beli Buku        Google Scholar           Research gate        DOI

Rabu, 17 April 2024

Keterkaitan Antar Aspek Keterampilan Berbahasa

 1. Hubungan Berbicara dengan Menyimak 

Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan yang berbeda namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbia. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, bertelepon, tanya-jawab, interviu, dan sebagainya. Contohnya, anak kecil akan meniru atau berbicara menggunakan bahasa yang didengarnya. Untuk itu orang tua ataupun guru diharuskan menjadi model berbahasa yang baik, supaya anak-anak tidak menirukan pembicaraan yang salah atau tidak baik didengar. Berbicara dan menyimak merupakan keterampilan yang saling melengkapi, keduanya saling bergantung. Keduanya fungsional bagi komunikasi dan tidak dapat dipisahkan. Ibarat mata uang, sisi depan ditempati kegiatan berbicara dan sisi belakang ditempati kegiatan menyimak. Mata uang tidak akan laku bila salah satu sisinya tidak terisi. Maka komunikasi lisan pun tidak dapat berjalan bila kedua kegiatan tidak berlansung saling melengkapi. 

2. Hubungan Menyimak dengan Membaca 

Menyimak dan membaca sama-sama merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Menyimak berkaitan dengan penggunaan bahasa ragam lisan, sedangkan membaca merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Pada saat menyimak fokus perhatian berupa suara (bunyi-bunyi), sedangkan pada saat membaca fokus perhatian adalah lambang tulisan. Kemudian, baik penyimak maupun pembaca melakukan aktivitas pengidentifikasian terhadap unsur-unsur bahasa yang berupa suara (dalam menyimak) maupun berupa tulisan (dalam membaca), yang selanjutnya diikuti dengan proses decoding (proses menafsirkan suatu pesan dalam bahasa/proses pengubahan suatu kode menjadi makna) guna memperoleh pesan yang berupa konsep, ide atau informasi sebagaimana yang dimaksudkan oleh si penyampainya. Aktivitas membaca dapat membantu seseorang memperoleh kosakata yang berguna bagi pengembangan kemampuan menyimak pada tahap berikutnya. 

3. Hubungan Berbicara dengan Membaca 

Berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana, dan fungsi. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi. Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.

 4. Hubungan Berbicara dengan Menulis 

Berbicara dan menulis bersifat produktif-ekspresif. Keduanya berfungsi sebagai penyampai informasi. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis. Informasi yang digunakan dalam berbicara dan menulis diperoleh melalui kegiatan menyimak ataupun membaca. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan dalam kegiatan berbicara menunjang keterampilan menulis. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan menunjang keterampilan berbicara Kemampuan berbicara tidak hanya mempunyai hubungan timbal balik dengan kemampuan mendengarkan, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan menulis dan membaca. Seorang pembicara yang baik, umumnya mempunyai persiapan tertulis. Sebaliknya pendengar yang baik juga merasa perlu membuat catatan-catatan tertentu, terutama kalau dia ingin mengemukakan tanggapan terhadap pokok pembicaraan tersebut.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut ini:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        DOI

Selasa, 16 April 2024

Keterampilan Menulis (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan menulis permulaan 

Keterampilan menulis permulaan adalah suatu kegiatan melukis atau menyalin gambar atau lambang-lambang bunyi bahasa ke dalam wujud lambang-lambang tertulis yang dapat dikenali secara konkrit sesuai dengan tata cara menulis yang baik dalam proses belajar menulis bagi peserta didik sekolah di kelas awal. 

2. Tujuan Menulis Permulaan 

Setiap penulis pasti ada tujuan untuk menuangkan ide, pikiran dan gagasan serta perasaan melalui bahasa tulis, bai bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Adapun tujuan menulis permulaan adalah: a. Dapat memproduksikan tulisan eja seperti e,d,f,k,j b. Dapat berupa suku kata seperti su-ka kedalam suatu bentuk kalimat. c. Agar dapat memahami cara menulis permulaan dengan ejaan yang benar dan mengkomunikasikan ide/pesan secara tertulis.

3. Tahap-Tahap Menulis Permulaan 

Menulis permulaan dimulai dengan pengenalan terhadap cara memegang pensil yang benar. Tingkat permulaan, kegiatan menulis lebih didominasi oleh hal-hal yang bersifat mekanis. Kegiatan mekanis yang dimaksud dapat berupa: a. Sikap duduk yang baik dalam menulis. b. Cara memegang pensil/alat tulis. c. Cara memegang buku. d. Melemaskan tangan dengan cara menulis di udara. Pengenalan huruf dengan menulis di kelas rendah dapat dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan perkembangan siswa, yaitu: a. Menulis permulaan dengan huruf kecil b. Menulis tegak bersambung c. Menulis permulaan dengan huruf capital pada huruf awal kata permulaan kalimat. 

4. Metode keterampilan menulis permulaan 

a. Metode eja 

Metode eja pada dasarnya menggunakan pendekatan harfiah, artinya belajar membaca dan menulis dimulai dari huruf-huruf yang dirangkai menjadi suku kata. 

b. Metode kata lembaga 

Metode kata lembaga di mulai dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Memperkenalkan kata 2) Menggabungkan kata antar suku kata 3) Menguraikan suku kata atas huruf-hurufnya 4) Menggabungkan huruf menjadi kata 

 c. Metode global 

Metode global mengembangkan kalimat dengan kata-kata dan mengembangkan kata-kata menjadi suku kata. 

d. Metode sas 

Metode SAS merupakan metode yang dimulai dengan pendeekatan bercerita yang disertai dengan gambar yang di dalamnya menggandung dialog.

5. Keterampilan Menulis Lanjutan 

Keterampilan menulis lanjutan adalah menulis merupakan pemindahan pikiran atau perasaan dengan menggunakan tulisan, struktur bahasa, dan kosakata dengan menggunakan simbol-simbol sehingga dapat dibaca. Untuk mencapai tujuan dalam keterampilan menulis di sekolah dasar harus dimulai dari tahap yang paling sederhana, lalu dilanjutkan pada hal yang sederhana menuju hal yang biasa, hingga pada hal yang paling sukar. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang menulis. 

6. Metode Keterampilan Menulis Lanjutan 

 a. Metode Langsung 

Metode langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar peserta didik tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan  deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang penting: fase persiapan dan motivasi, fase demonstrasi, fase pembimbingan, fase pengecekan, dan fase pelatihan lanjutan. Sebagai contoh: guru menunjukkan gambar banjir yang melanda suatu sebuah desa atau melihat langsung peristiwa banjir di sebuah desa. Dari gambar tersebut, peserta didik dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.

b. Metode Komunikatif 

Desain yang bermuatan metode komunkatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikasikan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebagai contoh: metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Peserta didik menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah akivitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan ataupun kelompok. 

c. Metode Integratif 

Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Integrtif terbagi menjadi dua bagian: interbidang studi dan antar bidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Sebagai contoh: menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Adapun antarbidang studi artinya pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Sebagai contoh: antara bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lain. 

d. Metode Tematik 

Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan peserta didik. 

e. Metode Konstruktivistik 

Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstruktivistik dimulai dari masalah yang sering muncul dari peserta didik sendiri dan selanjutnya membantu peserta didik menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. 

f. Metode Kontekstual 

Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis, yakni konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dengan kehidupan pembelajaran yang memotivasi peserta didik agar menghubungkan pengetahuan dan penerapannya dengan kehidupan sehari-hari.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

DOI        Research gate        Google scholar        Beli Buku

Selasa, 05 Maret 2024

Keterampilan Membaca (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan Membaca Permulaan 

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi murid sekolah dasar kelas awla (kelas I dan kelas II). Ada beberapa pendapat yang mendefinisikan membaca permulaan, di antaranya menurut Jamaris (2015) Membaca permulaan secara umum dimulai pada kelas awal sekolah dasar, akan tetapi ada anak yang sudah melakukannya di taman kanak- kanak dan paling lambat pada waktu anak duduk di kelas II sekolah dasar. Pada masa ini, anak mulai mempelajari kosa kata dan dalam waktu yang bersamaan ia belajar membaca dan menuliskan kosa kata tersebut. Menurut Rahmawati (2017) bahwa tujuan pembelajaran membaca di Sekolah Dasar adalah “agar siswa dapat mengenal dan menguasai sistem tulisan sehingga mereka dapat membaca dengan menggunakan sistem tersebut”. Jadi tujuan membaca permulaan peserta didik dapat merubah dan melafalkan huruf-huruf menjadi bunyi yang bermakna, dan menangkap isi bacaan dengan baik dan benar. Dalam membaca juga ikut terjadi kegiatan kognitif bagi peserta didik. 

 2. Tujuan Membaca Permulaan 

Menurut Meta tujuan membaca permulaan:

a. Untuk memperkenalkan huruf dengan bunyi. 

b. Untuk mengajarkan membaca kata-kata dan kalimat sederhana. 

c. Untuk menemukan ide pokok dan kata kunci 

d. Untuk menceritakan kembali isi bacaan pendek 

3. Metode membaca permulaan 

a) Metode abjad 

b) Metode eja 

c) Metode suku kata 

d) Metode kata 

e) Metode kalimat/global 

f) Metode SAS 

4. Keterampilan Membaca Lanjutan 

Keterampilan membaca lanjutan merupakan pembelajaran membaca yang lebih menekankan kepada pemahaman membaca siswa. Beda dengan membaca permulaan, siswa hanya dituntut untuk menyuarakan isi bacaannya. Membaca lanjutan merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan, membaca lanjutan sudah menekankan pemahaman peserta didik dalam membaca walaupun terbatas. Tingkatan membaca lanjutan ini disebut dengan membaca untuk belajar (reading to learn). Membaca lanjutan merupakan tahapan membaca setelah membaca permulaan, jadi seorang anak yang sudah mencapai pada tahapan membaca lanjutan tidak hanya sekedar membaca saja, tetapi dituntut untuk memahami isi bacaan yang terkandung dalam buku. 

5. Tujuan Membaca Lanjutan 

a. Mampu membaca dengan lancer dan dapat menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri. 

b. Mampu membaca dengan lancer dan memahami isinya. 

c. Mampu mencari kata-kata yang sukar dengan menggunakan kamus atau sumber lainnya. 

d. Mampu memahami dan menyerap cerita, puisi dan drama yang berkesan serta memberi tanggapan. 

e. Mampu membaca teks bacaan dan menyimpulkan isinya dengan kata-kata sendiri. 

f. Mampu membaca teks bacaan secara cepat dan dapat mencatat gagasan-gagasan utama. 

g. Mampu membaca teks bacaan serta dapat mengutarakan pendapat dan tanggapan mengenai isinya 

h. Mampu membaca sekaligus suatu teks bacaan dan menemukan garis besar isinya 

6. Jenis-Jenis Membaca Lanjutan 

a. Membaca pemahaman 

b. Membaca memindai 

c. Membaca sekilas 

d. Membaca intensif 

e. Membaca nyaring 

f. Membaca dalam hati

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Schoolar        Research Gate      Doi

Kamis, 18 Januari 2024

Keterampilan Berbicara (Permulaan dan Lanjutan)

1. Keterampilan Berbicara Permulaan 

Keterampilan berbicara permulaan adalah salah satu keterampilan berbahasa sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik lisan berhadapan ataupun dengan jarak jauh (Abbas:2006). 

2. Jenis-jenis Keterampilan Berbicara Permulaan

 a. Berdialog b. Menyampaikan pengumuman c. Menyampaikan argumentasi d. Bercerita 

3. Metode Keterampilan Berbicara Permulaan 

a. Metode ulang ucap 

Kegiatan ini dapat dimulai dari kegiatan sederhana terutama untuk kelas awal SD yaitu dengan menugaskan peserta didik mengulang kata yang diucapkan oleh guru. 

b. Metode Lihat Ucap 

Peserta didik ditugaskan untuk mengucapkan sesuatu kata atau kalimat yang berhubungan dengan benda yang diperlihatkan oleh guru.

c. Metode Memberikan Deskripsi

Peserta didik diberikan tugas untuk mendeskripsikan suatu benda yang diperlihatkan oleh guru. Keterampilan yang dilatih selain kemampuan pokok yaitu mengungkapkan pendapat adalah megamati benda, memilih dan mencocokkan sehingga sangat cocok diterapkan pada siswa kelas awal sampai menengah di Sekolah Dasar. 

d. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini sudah sangat umum sehingga dapat diterapkan pada kondisi dan jenis sembarang bahan ajar. Pertanyaan dapat dikondisikan sedemkian rupa oleh guru untuk merangsang kreatifitas berfikir dan menyampaikan tanggapan terhadap suatu masalah yang diajukan. 

e. Metode Bertanya 

Metode bertanya juga sangat layak digunakan pada sembarang bahan ajar. Dengan menyajikan bahan ajar telebih dahulu kemudian peserta didik ditugaskan untuk membuat pertanyaan tentang sesuatu yang tidak dipahami oleh peserta dididk atau bahkan dalam tataran menguji materi ajar itu sendiri. Dengan bertanya mereka akan mendapat jawaban dan tanggapan tersebut. 

f. Metode Pertanyaan Menggali 

Metode ini sangat baik digunakan jika kondisi siswa yang stagnan dan dengan rata-rata tingkat pemahaman bahkan IQ biasa-biasa saja. Karna untuk mengantarkan mereka kepada suatu pemahaman yang menjadi tujuan pembelajaran diperlukan langkah langkah yang menggiring siswa sehingga sampai pada suatu keadaan paham kepada tema atau permasalahan yang ingin kita sampaikan. Terkadang usaha ini agak sulit dan membuat kita jengkel karna harus berputar-putar mencari pengandaian dan logika lain, akan tetapi disinilah letak seni kita sebagai guru. Akhirnya siswa akan dapat berbicara untuk menyampaikan gagasan, ide dan pendapat mereka. 

g. Metode Melanjutkan 

Pada kegiatan ini siswa secara bergilir ditugaskan untuk membuat ide cerita dan siswa yang lainnya melanjutkan cerita tersebut. Dalam keadaan tertentu dapat dikondisikan suatu bentuk permainan dalam kegiatan ini.

4. Keterampilan Berbicara Lanjutan Keterampilan berbicara lanjutan adalah kemampuan seseorang dalam menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan. (Unsa: 2022).

5. Jenis-jenis Keterampilan Berbicara lanjutan

a. Musyawarah b. Diskusi c. Pidato d. Ceramah

6. Metode keterampilan berbicara di kelas lanjutan 

a. Menceritakan kembali 

Kegiatan ini sudah sangat umum dilaksanakan terutama dalam pembelajaran yang menggunakan bahan ajar cerita baik fiksi maupun non fiksi. Di mana siswa ditugaskan untuk membaca atau mendengar cerita untuk kemudian menceritakan kembali isi cerita tersebut secara lisan di depan teman-teman mereka yang berperan sebagai audien. Dengan kegiatan ini maka siswa akan tertantang untuk berlomba memahami cerita yang sudah pernah mereka dengar atau basa. 

b. Metode Percakapan atau Bermain Peran

Kegiatan ini sangat baik dilaksanakan untuk pemahaman tingkat lanjut tentang suatu cerita di mana dengan memerankan siswa akan lebih  memahami bukan hanya kepada alur cerita akan tetapi akan lebih kepada penjiwaan karakter masing-masing tokoh. Dalam keadaan ini pemahaman siswa terhadap cerita akan utuh karna dengan berbicara mengucapkan naskah cerita atau drama, mereka akan sangat menghayati setiap adegan dan untaian kata percakapan yang diucapkan. 

c. Metode Parafrase

Metode ini dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar menggunakan bahan ajar puisi yang selanjutnya diubah menjadi prossa yang kemudian siswa ditugaskan menceritakan secara lisan hasil paraprase tersebut. 

d. Metode Reka Cerita Gambar

Metode ini sangat kreatif dan layak untuk dicoba karna dengan menyajikan gambar acak siswa akan mereka kembali dengan susunan yang benar urutan gambar tersebut. Dalam kegiatan tersebut dengan sudah sangat pasti mereka akan berbicara setelah guru bertanya, 

e. Metode Memberi Petunjuk 

Metode ini layak juga untuk dicoba terutama untuk mempelajari bahan ajar tentang denah, petunjuk penggunaan obat dan alat tertentu. Dengan penugasan untuk menyampaikan hal tersebut siswa akan tertantang untuk berbicara dan menyampaikan penjelasan berdasarkan ide dan pendapat masing-masing melalui bahasa sederhana dan sesederhanapun penyampaian layak mendapat penghargaan. 

f. Metode Pelaporan

Melalui pengamatan terhadap obyek pada kegiatan tertentu siswa kemudian melaporkan hasil pengamatan dengan penyampaian lisan yang didahului oleh konsep tulisan. Dalam hal ini terjadi proses mirip dengan proses pada metode identifikasi akan tetapi memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Sehingga sesederhana apapun penyampaian siswa layak dihargai karna sebagai awal mula yang baik untuk proses penelitian dan pelaporan 

g. Metode Wawancara

Kegiatan ini adalah kegiatan tingkat tinggi dari bertanya hingga menganalisa jawaban audiens kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya yang diikuti oleh proses pelaporan layaknya seorang wartawan. Proses berbicara dari kegiatan ini adalah awal dari membentuk pribadi yang kritis dan santun 

h. Metode Diskusi 

Kegiatan ini adalah proses interaksi tingkat tertinggi yang merangsang daya fikir, logika, kritis dan santun. Dalam kegiatan ini sejelek apapun pendapat, sanggahan dan klarifikasi siswa adalah hal yang maha baik dalam memulai suatu sikap peka terhadap lingkungan dan isu-isu tertentu dalam mencari jalan keluar. Dimana sudah barang tentu merupakan kreatifitas yang sangat layak mendapat penghargaan. 

i. Metode Bertelpon 

Seiring dengan teknologi informasi yang kian maju maka keterampilan bertelpon sangat penting dalam membentuk sikap cepat, efektif dan sopan dalam berkomunikasi. Karna berbicara melalaui telpon tanpa hadirnya lawan bicara secara langsung memerlukan tingkat kepekaan yang tinggi dalam tata cara pergaulan sehari-hari dalam kegiatan bertelpon 

j. Metode Dramatisasi 

Metode ini adalah kelanjutan dari kegiatan bermain peran yang dilengkapi dengan tema, seting, perwatakan, seting dan naskah drama yang ditampilkan secara utuh. Kegiatan ini penuh dengan kegiatan berbicara sesuai dengan tuntunan naskah yang runtut.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Sabtu, 30 Desember 2023

Keterampilan Menyimak (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan Menyimak Permulaan 

Keterampilan Menyimak Permulaan adalah proses mendengarkan dengan penuh pemahaman, apresiasi dan evaluasi. Dalam proses menyimak, diawali dengan kegiatan mendengarkan bahan simakan oleh penyimak, selanjutnya bahan simakan dipahami berdasarkan tingkat pemahaman peserta didik yang dimaksud, kemudian dalam proses pemahaman tersebut terjadi proses evaluasi menghubungkan antara topik yang disimak dengan pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki peserta didik.

2. Metode Keterampilan Menyimak permulaan

a. Metode Simak terka b. Metode simak cerita c. Metode Bisik berantai 

3. Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Keterampilan Menyimak Lanjutan adalah suatu bentuk keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif dan melibatkan pemahaman pesan atau lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (Meta:2020) 

4. Jenis-Jenis Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Keterampilan menyimak lanjutan dapat di golongkan ke dalam 3 jenis menyimak yaitu sebagai berikut: 

a. Menyimak kritis 

Menyimak kritis adalah kegitan menyimak yang dilakukan dengan sunguh-sunguh untuk memberikan penilaian secara objektif, menentukan keaslian, kebeneran, dan kelebihan, serta kekurangan-kekurangan bahan simakan 

b. Menyimak kreatif 

Menyimak kreatif yaitu kegiatan menyimak yang bertujuan mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas peserta didik. Kreativitas menyimak dapat dilakukan dengan cara meniru bunyi bahasa asing atau bahasa daerah. 

c. Menyimak eksploratif 

Menyimak eksploratif adalah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan informasi baru. Seorang penyimak eksploratif akan menemukan gagasan baru, informasi baru dan informasi tambahan dari bidang tertentu, serta menentkan unsur-unsur berbahasa yang bersifat baru.

5. Metode Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Berikut ini metode-metode yang tepat digunakan dalam keterampilan menyimak: a. Metode Simak Tulis b. Metode Identifikasi kata kunci c. Metode Identifikasi kalimat topic d. Metode Merangkum e. Metode parafrase f. Metode menjawab pertayaan 

6. Fungsi Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Fungsi menyimak lanjutan yaitu: a. Menentukan tujuan penutur sebagai informasi untuk bisa mengingatnya b. Menyaring suatu sebagai pendeteksi c. Mendengarkan penutur atau pembaca sebagai suatu kesenangan 

7. Tujuan Menyimak permulaan 

Tujuan utama menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan. Dengan demikian tujuan menyimak dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Menyimak memperoleh fakta atau mendapatkan fakta b. Untuk menganalisis fakta c. Untuk mengevaluasi fakta d. Untuk mendapatkan inspirasi e. Untuk mendapatkan hiburan atau menghibur diri.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Jumat, 29 Desember 2023

Pengertian dan Manfaat Keterampilan Berbahasa

 1. Pengertian Keterampilan Berbahasa 

Keterampilan berbahasa ialah suatu kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi baik itu menyimak, berbicara, membaca maupun menulis. Penerima pesan aktif memilih pesan lalu memformulasikannya dalam bentuk lambang yang berupa bunyi atau tulisan dengan kata lain di sebut encoding. Kemudian lambang tersebut disampaikan kepada yang menerima pesan dan penerima pesan mengartikan lambang tersebut menjadi suatu makna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara utuh atau disebut dengan decoding. 

 2. Manfaat Keterampilan Berbahasa 

Adapun manfaat keterampilan berbahasa yaitu;

  • a. Dapat mengungkapkan isi pikiran 
  • b. Dapat mengekspresikan isi perasaan 
  • c. Dapat menyatakan suatu kehendak 
  • d. Dapat melakukan suatu interaksi dalam berkomuniksi
Keterampilan berbahasa terdiri atas 4 aspek, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, keterampilan menulis. Keterampilan berbahasa juga bersifat reseptif dan bersifat produktif. Bagian yang termasuk dari reseptif adalah keterampilan mendengarkan dan keterampilan membaca, sedangkan bagian yang termasuk produktif adalah keterampilan berbicara dan keterampilan menulis. Tarigan (2008:2) mengungkapkan bahwa keterampilan berbahasa dalam kurikulum sekolah biasanya mencakup empat aspek, diantaranya yaitu: a. Keterampilan Menyimak b. Keterampilan Berbicara c. Keterampilan Membaca d. Keterampilan Menulis 

Pada dasarnya keempat keterampilan tersebut erat sekali hubungannya dan tidak dapat di pisahkan satu dengan yang lainnya. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa biasanya dilalui dengan belajar menyimak, kemudian dilanjutkan dengan berbicara setelah itu belajar membaca dan menulis. Keterampilan menyimak dan berbicara sudah mulai kita pelajari sebelum duduk dibangku sekolah. Keempat keterampilan berbahasa pada dasarnya merupakan suatu keterampilan yang sangat erat hubungannya dengan proses berfikir yang mendasari bahasa. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Rabu, 27 Desember 2023

Pembelajaran Bahasa Indonesia Terpadu di SD

Pengalaman siswa sebelum memasuki bangku sekolah jenjang SD, memandang dan mempelajari segala peristiwa yang di alami dan terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai suatu kesatuan yang utuh (holistik). Alasan inilah yang menjadi salah satu dari penyebab pembelajaran di jenjang SD harus dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan karakteristik siswa sebagai pembelajar yang akan menghayati pengalaman belajar sebagai satu kesatuan yang utuh. 

Pengemasan pembelajaran terpadu harus di susun secara tepat, karena akan berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman belajar siswa, yang menunjukkann kaitan unsur-unsur konseptual dalam mata pelajaran dan antar mata pelajaran bagi terjadinya pembelajaran lebih bermakna. Pembelajaran yang dilaksanakan secara terpadu merupakan suatu pendekatan dalam belajar dan cara berpikir, yang memandang beragam mata pelajaran sebagai suatu kesatuan. 

Khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia dipandang sebagai bagian integral dalam belajar mata pelajaran lainnya. Mata pelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD tidak dipelajari sebagai mata pelajaran yang terpisah, melainkan dipelajari secara terpadu dalam mempelajari mata pelajaran lainnya. Aspek-aspek keterampilan berbahasa dikembangkan secara langsung atau dipadukan melalui kegiatan belajar semua mata pelajaran lainnya. Agar terjadi keterpaduan antara mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lainnya, maka digunakanlah pendekatan pembelajaran terpadu, untuk memberikan makna belajar bagi siswa. 

Pembelajaran terpadu merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, berorientasi pada praktik pembelajaran sesuai dengan kebutuhan anak untuk membangun konsep yang saling berkaitan. Sehingga pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami berbagai permasalahan di lingkungannya secara utuh, dengan kemampuannya dalam mengidentifikasi, mengumpulkan, menilai, dan menggunakan informasi di sekitarnya secara bermakna. 

Pengetahuan diperoleh siswa tidak hanya melalui pemberian pengetahuan baru oleh guru, tetapi pengetahuan bisa juga diperoleh siswa melalui kesempatan memantapkan dan menerapkan pengetahuan lama dalam berbagai situasi baru yang beragam. Ada dua keterpaduan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu: 1. Keterpaduan intra mata pelajaran, yaitu keterpaduan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia sendiri. Keterpaduan ini dilaksanakan dengan mengembangkan aspek keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak dalam satu tema. 2. Keterpaduan antar mata pelajaran, yaitu keterpaduan mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lain. 

Siswa menggunakan aspek keterampilan bahasa untuk memberikan informasi, memberi tanggapan, memecahkan masalah, dan untuk mencapai kemampuan lainnya. Pembelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD harus dilaksanakan secara terpadu antara ke empat aspek keterampilan berbahasa (aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), dan aspek kebahasaan/sastra. 

Contohnya pembelajaran struktur kalimat dipadukan dengan wacana, yang dilakukan dengan mengarahkan siswa untuk memahami struktur kalimat bahasa Indonesia dengan menemukan sendiri dalam wacana yang ditentukan oleh guru. Dalam melatih keterampilan berbahasa, guru dapat memilih untuk memfokuskan salah satu dari empat aspek keterampilan bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa Indonesia juga dapat dipadukan dengan mata pelajaran lainnya yang berkaitan dengan kehidupan dan kebutuhan nyata siswa, sehingga pembelajaran menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Selasa, 26 Desember 2023

Apresiasi Karya Sastra Anak

Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Sehingga apresiasi karya sastra anak dapat diartikan sebagai sikap menghargai karya sastra yang telah dihasilkan anak. Apresiasi sastra terbagi menjadi dua jenis, yaitu apresiasi sastra reseptif dan apresiasi sastra ekspresif. Apresiasi sastra anak secara reseptif yaitu penghargaan, penilaian, dan penghayatan terhadap karya sastra anak-anak, baik yang berbentuk puisi, prosa, maupun drama yang dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengarkan, dan menyaksikan pementasan drama. 

Pada tahap apresiasi ini, kemampuan pembaca karya sastra berada pada tahap membaca karya sastra, menyerap, dan menggali makna yang disampaikan pada karya sastra. Umunya, siswa pada tahap apresiasi sastra secara reseptif belum dapat menghasilkan produk dalam kegiatan apresiasi kecuali ungkapan rasa menghargai dan takjub melalui kata-kata. Apresiasi sastra ekspresif/produktif merupakan kegiatan mengapresiasi karya sastra yang menekankan pada proses kreatif dan penciptaan. Apresiasi sastra secara ekspresif/produktif tidak mungkin terwujud tanpa diberikan pengajaran menulis, khususnya menulis kreatif di sekolah dasar (Isova dan Hartati, 2016). 

Dalam kegiatan bersastra secara ekspresif/produktif, metode yang sesuai untuk digunakan dalam mengapresiasi sastra adalah metode produktif. Metode ini diarahkan pada aktivitas berbicara dan menulis. Siswa harus banyak berbicara atau menulis untuk menuangkan gagasan-gagasannya. Kegiatan apresiasi sastra yang diterapkan guru akan membentuk kompetensi apresiasi karya sastra pada diri anak. Kompetensi yang dimaksud yaitu: kemampuan anak menikmati dan menghargai karya sastra yang dihasilkannya sendiri maupun dihasilkan oleh orang lain. Dalam hal ini, siswa diajak untuk melakukan literasi berupa membaca, memahami, menganalisis, dan menikmati karya sastra secara langsung. Siswa tidak harus menghafal sastra dari judul, sinopsis dan ataupun menghafal kalimat demi kalimat dari sastra, akan tetapi siswa diminta untuk langsung berhadapan dengan karya sastranya. (Siswanto, 2008) 

Kegiatan apresiasi karya sastra akan membentuk pengalaman pada diri anak terkait karya sastra, dan aka menimbulkan perubahan serta penguatan tingkah laku akan pentingnya saling menghargai dan indahnya karya sastra. 23 Hal tersebut disebabkan oleh ketika anak mengapresiasi karya sastra maka ia akan melakukan berbagai kegiatan seperti: memaknai, memperhatikan, meminati, bersikap, membiasakan diri, dan menerampilkan diri berkenaan dengan sastra sehingga bukan hanya kognitif anak yang terkonstruksi tetapi juga keterampilan dan sikap mereka. 

Susanti (2015) mengklasifikasikan kegiatan apresiasi sastra berdasarkan tujuan apresiasi ke dalam tiga bagian berikut: (1) ketepatan apresiasi, yaitu menimbulkan kepekaan psikis, mendengarkan, membaca sendiri, membaca bersama, intpretasi auditif-musikal dan visual, memantaskan, mengundang pelaku seni, memahami serta melatih ketrampilan mempergunakan pengertian teknis; (2) kedalaman apresiasi, yaitu dalam hal ini guru berupaya agar siswa mengalami proses kegiatan intelektual, emosional, dan imajinatif yang seimbang dengan proses yang pernah dialami oleh pengarang (sastrawan) dalam menciptakan karyanya; dan (3) keluasan apresiasi; guru mendorong dan mengarahkan perhatian pada hubungan antara sastra dengan kehidupan dengan segala masalahnya. Para siswa juga harus menggunkan pengetahuan lain. Dari kegiatan ini diharapkan siswa akan peka terhadap nilai ekstrinsik dan menyadari kedudukan sastra di dalam lembaga masyarakat. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Senin, 25 Desember 2023

Karya Sastra

Menghasilkan karya sastra merupakan salah satu kegiatan yang mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS diwujudkan melalui kegiatan wajib membaca 15 menit setiap hari. Kemudian siswa diminta untuk menceritakan isi dan makna dari bahan yang ia baca, baik secara lisan maupun tulisan. Sehingga siswa tidak hanya membaca tetapi melek huruf dan memaknai semua teks yang ia baca. Siswa sekolah dasar pada umumnya lebih menyukai buku bergambar (picture book).

Rothkei dan Mainbach (dalam Krissandi dkk, 2018) membedakan buku bergambar ke dalam lima jenis, yaitu: buku abjad, buku mainan, buku konsep, buku bergambar tanpa kata, dan buku cerita bergambar. Dari lima jenis buku bergambar, siswa lebih menyukai buku cerita bergambar karena di dalamnya memuat teks tertulis yang berbentuk cerita, terdapat ilustrasi yang menggambarkan makna teks tertulis. Sehingga pembaca dari buku cerita bergambar akan berimajinasi terkait cerita yang disampaikan, dan bahkan terdapat anak yang akan menebak alur dan bagian akhir dari cerita sebelum mereka membaca hingga selesai.

Penggunaan buku cerita bergambar mendukung kegiatan apresiasi sastra pada diri anak, dan mengembangkan berbagai kompetensi bahasa seperti komunikasi lisan, proses berpikir kognitif, ungkapan perasaan melalui kata-kata dan ilustrasi cerita, serta meningkatkan kepekaan seni dan sastra pada diri anak. Setiap karya sastra mempunyai unsur atau struktur pembangun setiap jenis sastra. Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005) mengemukakan bahwa struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, seluruh bahan dan bagian yang menjadi komponen pembentuk sebuah keutuhan yang indah. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Senin, 18 Desember 2023

Konsep Sastra

Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yaitu shaastra, yang mempunyai arti teks mengandung instruksi atau pedoman. Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak melalui pandangan anak-anak. Saxby (1991:4) berpendapat bahwa sastra adalah citra kehidupan dan gambaran kehidupan (image of life). Sehingga pada sastra anak perlu digambarkan konteks anak-anak sesuai tahap perkembangannya. Pemahaman tentang tahap perkembangan anak sangat penting untuk memilih karya sastra yang sesuai.

Pilihan bacaan anak untuk usia sekolah dasar sangatlah melimpah. Sastra terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu: puisi, drama dan prosa. Sedangkan karya sastra anak terbagi menjadi tujuh jenis, yaitu: buku bergambar, fiksi realistik, fiksi sejarah, fiksi ilmu, cerita fantasi, biografi, dan puisi. Sastra termasuk ke dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Fokus tujuan dari mata pelajaran tersebut yaitu: kompetensi siswa dalam berbahasa (lisan maupun tertulis), dan sikap mengapresiasi sastra. Dengan demikian, pembelajaran sastra dan pembelajaran bahasa Indonesia dilakukan secara terintegrasi dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar.

Namun tujuan pengajaran sastra pada tingkat sekolah dasar yaitu: meningkatkan kemampuan siswa dalam menikmati, menghayati, memahami, dan menghargai karya sastra. Sehingga sastra yang dibahas hanya konsep umum atau sekadar pengetahuan pendukung kegiatan apresiasi sastra. Sastra memberikan banyak manfaat dalam kehidupan anak. Tarigan (2011) mengemukakan enam manfaat sastra, yaitu: 1. Memberikan kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan kepada anak-anak. 2. Mengembangkan imajinasi anak-anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan memikirkan alam, insan, pengalaman, atau gagasan dengan berbagai cara. 3. Memberikan pengalaman-pengalaman aneh yang seolah-olah dialami sendiri oleh para anak. 4. Mengembangkan wawasan para anak menjadi perilaku insani. 5. Menyajikan serta memperkenalkan kesemestaan pengalaman kepada para anak. 6. Merupakan sumber utama bagi penerusan warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dengan demikian, pembelajaran sastra tidak hanya membahas materi dan kompetensi di dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, tetapi memberikan pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan kehidupan anak. Dari enam manfaat membelajarkan sastra pada diri anak sekolah dasar akan membudayakan anak untuk membaca, mendukung literasi, meningkatkan perkembangan intelektual, memperhatikan psikologis anak sesuai usia tumbuh kembang anak, meningkatkan daya imajinasi anak, dapat mengenalkan budaya, dan bahkan dapat membina karakter pada diri anak. Selengkapnya dapat diakses dengan link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate     DOI

Sabtu, 16 Desember 2023

Model Pembelajaran Bahasa

Model pembelajaran tentu sudah tidak asing dalam kegiatan belajar dan mengajar. Model pelajaran sebagai cara yang dipilih guru untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Model pelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi, misalnya; kategori mata pelajaran, cakupan materi, usia, level sekolah lingkungan sekitar dan lain-lain. Namun, jika salah memilih model pembelajaran akan menjadi tidak oftimal atau tidak berfungsi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan dan budaya (Kemendikbud, 2014).

Model pembelajaran berperan untuk membentuk pola pembelajaran berpusat pada siswa. Model pembelajaran merupakan prosedur sistematis dalam mengelola kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap pembelajaran akan menggunaka model pembelajaran yang sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan siswa. Bahasa Indonesia sebagai bidang ilmu yang dipelajari di semua level pendidikan Indonesia mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Empat keterampilan berbahasa yakni membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Model pembelajaran membaca dapat dilakukan dengan pendekatan proses menggunakan strategi anticipation guide, strategi DRTA (directed, reading, thinking activity), strategi KWLA (know, want, learned, affect), strategi directed inquiry activity, strategi OH RATS (overview, headings, read, answer, test-study), strategi SQ3R (survey, question, read, recite, and review), strategi ECOLA (extending, concept, throught, language, activity).

Sementara model menulis dengan pendekatan proses dapat dilakukan dengan strategi sentence collection, sedangkan pembelajaran sastra menggunakan model strata, induktif, analisis, sinektik, bermain peran, sosiodrama dan simulasi (Syamsi, 2010). Pada kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka ada tiga model pembelajaran yang ditekankan untuk digunakan dalam proses pembelajaran yakni; 1) Problem based learning/PBL, 2) Project based learning/PjBL, dan 3) Discovery learning/DL. Model-model pembelajaran selalu berkembang menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Para ahli dan akademisi selalu berusaha untuk mengembangkan model pembelajaran. 

Pengembangan model pembelajaran untuk menciptakan kondisi belajar yang bermakna dan siswa dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan nyata. Adapun model-model pembelajaran yang popular dalam kondisi wabah diantaranya; 1) model ASIIK, 2) model SOLE, 3) model Flipped Classroom, 4) model Blended Learning, 5) Model Descovery-Inquiry, 6) Model Game. Selengkapnya dapat diakses dengan link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate     DOI

Senin, 11 Desember 2023

Keterampilan Berbahasa Indonesia

Kemampuan berbahasa yang dimiliki seseorang akan menentukan kualitas komunikasi orang itu sendiri. Kemampuan berbahasa melibatkan telinga, lidah, pemikiran dan mempraktikan dalam karya tulisan. Didunia ini mempunyai beragam bahasa, namun secara umum keterampilan berbahasa hanya empat saja. Keterampilan berbahasa terdiri dari menyimak, berbicara, membaca dan menulis (Husain, 2015). Namun, jika terkait keterampilan Bahasa Indonesia berdasarkan kurkikulum merdeka terdiri dari menyimak, membaca dan memirsa, berbicara dan mempresentasikan, serta menulis. Keterampilan berbahasa saling terikat dan tidak bisa berdiri sendiri. 

Keterampilan berbahasa ada yang bersifat pasif dan ada yang sifat aktif. Menyimak dan membaca terkategori keterampilan berbahasa pasif, sedangakan menulis dan berbicara berkategori keterampilan berbahasa aktif. Berbicara dan menulis adalah keterampilan produktif karena saat menggunakan keterampilan ini pelajar tidak hanya aktif tetapi juga menghasilkan suara dalam berbicara dan simbol dalam menulis, sedangkan mendengarkan dan membaca adalah keterampilan reseptif karena pelajar umumnya pasif baik melalui mendengarkan maupun membaca (Husain, 2015). 

Jika keterampilan berbahasa dihubungkan dengan kegiatan belajar dan mengajar maka akan menuntut kemampuan siswa dan guru dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam belajar. Keterampilan bertanya yang dilakukan siswa merupakan wujud nyata keterampilan berbahasa. Semakin beragam keterampilan bahasa yang dikuasai siswa, maka semakin lengkap keterampilan berbahasa yang dimiliki siswa (Santosa et al., 2019). Untuk mencapai keberhasilan dalam mengasah keterampilan berbahasa perlu menggunakan materi atau mata pelajaran lain sebagai pendukung keterampilan belajar berbahasa. Perkambangan dalam pengajaran empat keterampilan berbahasa hanya dapat dicapai di dalam kelas melalui pemusatan perhatian pada aspek pembelajaran lain (Paran, 2012). Selengkapnya dapat diakses dalam beberapa link berikut ini:

Beli Buku Cetak or PDF   Google Scholar   Research Gate   DOI

Sabtu, 09 Desember 2023

Belajar Bahasa Indonesia

Berbahasa tidak datang tiba-tiba, selalu ada proses didalamnya apapun bahasanya. Ada proses mendengarkan, menirukan, melafalkan, pengulangan dan lain sebagainya. Berbahasa terbagi menjadi dua aspek besar yakni kompetensi berbahasa dan praktis berbahasa. Belajar berbahasa dalam rangka melakukan kegiatan berbahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa tertentu. Komunikasi terkategori dalam tataran praktis berbahasa.

Berkomunikasi yang baik dengan orang lain atau lingkungan masyarakat sudah pasti butuh belajar agar tidak ada miskomunikasi atau kesalahan memahami stimulus yang diberikan. Dalam belajar bahasa menggunakan pendekatan komunikatif menekankan pada tujuan pembelajaran yang mengutamakan penggunaan bahasa secara baik dan benar oleh peserta didik di lingkungan pendidikan ataupun lingkungan sosial (Mulyaningsih, 2017).

Belajar bahasa dapat dikaji dengan mendalam menggunakan teori Noam Chomsky. “Chomsky’s UG is a significant theory in the field of linguistics” (Md. Enamul, 2020). Berbahasa untuk berkomunikasi yang bermakna. Perkembangan bahasa seseorang melalui proses yang dipengaruhi berbagai hal, misalnya perkembangan usia, lingkungan sekitar dan lain sebagainya. Perkembangan bahasa terus berlangsung sepanjang hayat dan dipengaruhi berbagai faktor seperti biologis, kognitif dan sosial-emosional (Arnianti, 2019).

Belajar bahasa bukan hanya sekedar struktur berbahasa. Namun, belajar berbahasa terkait dengan moral, norma, nilai dan budaya. Bahasa sebagai sarana penghubung dengan lingkungan yang lebih luas, maka muncul istilah bahasa nasional dan bahasa internasional. Semakin banyak bahasa yang dikuasai sesorang akan memudahkan untuk berkomunikasi dan sarana pergaulan yang luas. Manusia tidak dapat dipisahkan dengan bahasa, maka belajar bahasa sepanjang usia menjadi suatu kebutuhan. Buku lengkapnya dapat diakses dibeberapa link berikut:

Beli Cetak/ Non-cetak      Google Scholar      Research Gate            DOI

Sabtu, 02 Desember 2023

Konsep Belajar Bahasa Indonesia

Konsep merupakan abstraksi pemikiran yang merinci atau langkah-lakanh yang akan diambil saat melakukan aktivitas. Konsep adalah sesuatu yang dikandung dalam pikiran: prinsip, ide, pemikiran umum atau abstrak atau gagasan (Safdar et al., 2012). Belajar merupakan suatu keharusan yang mesti dilakukan insan agar tercipta perubahan yang lebih baik, bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar. Konsep belajar yang baik adalah belajar yang dilakukan dengan kesadaran, karena kebutuhan akan ilmu untuk memecahkan semua permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Belajar selayaknya terus dilakukan selagi masih bernafas dan jiwa masih bersama raga. Menjalani kehidupan tanpa ilmu akan mengalami banyak tantangan. Jika ingin memperoleh kebahagian dunia dan akhirat hendaklah berilmu, sejatinya ilmu didapatkan dengan proses belajar.

Belajar bukan lagi aktivitas internal individualistik untuk mencari solusi permanen (Behlol, 2010). Belajar dapat dilakukan dimana saja dan belajar juga bisa dilakukan bersama siapa saja. Belajar tidak selalu berada diruang kelas, menggunakan buku, pena dan komputer. Alam semesta baik benda mati dan makhluk hidup merupakan sumber belajar bagi semua orang. Kita tidak boleh menganggap belajar sebagai gagasan sederhana tentang intraksi sehari-hari antara guru dan siswa di sekolah (Outcomes & Terms, 2007). Belajar menjadikan perubahan sikap yang membawa pada perkembangan keterampilan yang belum pernah dimiliki sebelumnya. Belajar berprogres dalam kebaikan dan perubahan. Belajar adalah tentang perubahan; perubahan yang dibawah dengan mengembangkan keterampilan baru, memahami hukum ilmiah dan mengubah sikap (Sequeira, 2018). Buku lengkapnya dapat diakses dibeberapa link berikut:

Beli Buku Digital dan Cetak

Google Schoolar

DOI

Research Gate


Minggu, 15 Oktober 2023

Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa yang digunakan diwilayah Republik Indonesia adalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan. Landasan dasar Bahasa Indonesia tertuang dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. Secara spesifik fungsi Bahasa Indonesia termuat dalam bab III tentang bahasa negara pasal 25 ayat 2 yang berbunyi, “Bahasa Indonesia berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggaan nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana komunikasi antar daerah dan antar budaya daerah” (Undang-Undang, 2009). 

Bahasa Indonesia diera globalisasi menghadapi berbagai tantang seperti teknologi canggih, kurangnya rasa bangga untuk menggunakan Bahasa Indonesia serta derasnya arus bahasa asing. Kedisiplinan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar akan mempertahankan eksistensi Bahasa Indonesia. Diperlukan sebuah kesadaran dari masyarakat Indonesia, terutama masyarakat sebagai pengguna Bahasa Indonesia dalam menggunakan Bahasa Indonesia (Murti, 2015). Selain faktor kesadaran yang disiplin untuk menggunakan Bahasa Indonesia. Pola pembiasaan menggunakan Bahasa Indonesia diperlukan dalam kehidupan sehari-hari (Nimas Permata Putri, 2017). 

Bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa Indonesia sebagaimana semangat sumpah pemuda 1928 dalam mengakui Bahasa Indonesia. Masyarakat Indonesia benar-benar harus memahami bahwa Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu. Fungsi Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa sangatlah penting (Inda Puspita Sari, 2015). Untuk mempertahankan Bahasa Indonesia sebagai pemersatu terkhusus ditingkat perguruan tinggi maka dosen bahasa dan sastra dapat mengambil peran di era globalisasi sekarang, seperti; 1) menjadi model Bahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan, 2) menciptakan pembalajaran yang kreatif dan berpikir kritis, 3) memberikan kesempatan pengembangan industri dibidang kebahasaan dan kesastraan, 4) menjadi fasilitator komunitas ilmiah bahasa dan kesastraan, 5) memberikan peluang publikasi ilmiah dan pertukaran mahasiswa (Noermanzah, 2015). 

Bahasa Indonesia hendaknya selalu dilakukan monitoring yang berkelanjutan dari berbahasa dasar sampai berbahasa tingkat lanjutan. Kegiatan membina bahasa Indonesia harus dilakukan secara berkelanjutan agar Bahasa Indonesia tetap menjadi prioritas utama dalam pemakaian Bahasa Indonesia dan menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia (Aziz, 2016). Selengkapnya.....

Kamis, 21 September 2023

Makna dan Bentuk Bahasa Indonesia

Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa untuk memberikan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pada lawan berkomunikasi. Berbahasa yang baik adalah berbahasa yang mempunyai makna. Sebenarnya makna itu sendiri apa? Jika diberikan pertanyaan seperti ini tentu akan dijawab dengan penjelasan yang berupa kata-kata dan kalimat. Makna adalah sistem lambang atau sistem tanda yang diwujudkan dalam satuan-satuan bahasa seperti leksem, frasa, kalimat dan lain sebagainya (Chaer & Muliastuti, 2014). Jika dikaji lebih jauh terkait makna bahasa akan memberikan ulasan arti makna berbahasa. Makna bahasa mengacu pada yang kita artikan atau apa yang kita maksudkan (Amelia, F., Anggraeni, 2017). Berkomunikasi menjadi bermakna jika yang dimaksudkan tersampaikan dan direspon lawan komunikasi.

Makna yang disampaikan dalam bentuk pesan sering terjadi salah pengertian atau terjadi tangkapan informasi yang keliru. Kesalahan dalam memahami bahasa dapat diminimalisir dengan mempelajari semantik atau ilmu yang mengkaji makna bahasa (Amelia, F., Anggraeni, 2017). Pemaknaan kata-kata yang dipahami seseorang disebabkan lingkungan sekitar individu itu sendiri. Pengaruh bahan bacaan, intraksi sosial, gambar, video, suara dan lain sebagainya. Beberapa alasan yang menyebabkan makna sesuatu mengalami perbedan seperti melihat dan mendengar dari media masa, mendengar dari masyarakat, kebiasaan sehari-hari dan melihat makna (kata) dalam kamus besar Bahasa Indonesia atau KBBI (Ramadan & Mulyati, 2020).

Pemaknaan didasari dengan penamaan sesuatu objek atau sesuatu yang lainnya. Ada faktor yang menyebabkan penamaan direspon secara berbeda oleh lawan komunikasi kita. Faktor penamaan bunyi, penyebutan sifat khas, penyebutan bagian, penemu atau pembuat pertama kali, tempat asal, bahan, keserupaan dan pemendekan (Amelia, F., Anggraeni, 2017). Selain makna bahasa juga memiliki tataran bentuk. Bentuk bahasa merujuk pada wujud audio atau wujud visual suatu bahasa, wujud audio dapat kita ketahui dari bunyi-bunyi yang kita dengarkan sedangkan wujud visual dapat diketahui dari lambang-lambang yang tampak jika dituliskan (Mustakim, 2014). 

Bentuk bahasa yang kita pahami terkait dengan bentuk kata, bentuk kalimat dan bentuk-bentuk lainnya. Secara morfologis bentuk kata dibedakan berdasarkan kelas kata. Adapun kelas kata terbagi menjadi kata kerja atau verba, kata sifat atau adjektiva, kata keterangan atau adverbial, kata benda atau nomina, kata ganti atau pronominal, kata bilangan atau numeralia, dan kata tugas (Pancabudi, 2018). Makna dan bentuk bahasa mempunyai hubungan yang erat. Relasi makna dan bentuk berkaitan dengan kesamaan makna atau sinonim, kebalikan makna atau antonim, perbedaan makna atau homonim, kegandaan makna atau polisemi, ketercakupan makna atau hiponim, dan kelebihan makna atau redudansi (Wahyudin, 2019). Selengkapnya.....

Kamis, 14 September 2023

Perkembangan Bahasa Indonesia

Awal mula terbentuknya Bahasa Indonesia merupakan Bahasa Melayu. Ketersebaran Bahasa Melayu dikawasan Asia Tenggara menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa perantara (lingua franca) atau bahasa pergaulan (Sujinah et al., 2018). Bahasa Melayu terbagi menjadi dua jenis yaitu Bahasa Melayu Tinggi dan Bahasa Melayu Pasar. Bahasa Melayu Tinggi bersifat sulit, halus, penuh sindiran dan kurang ekspresif, sedangkan Bahasa Melayu Pasar bersifat sangat lentur, mudah dimengerti, dan ekspresif. Bahasa Melayu Pasar inilah yang akan menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang (Waraulia, A.M., 2018). 

Ada banyak bukti sejarah yang mengungkapkan bagaimana ketersebaran Bahasa Melayu, salah satunya dari peninggalan kerajaan Sriwijaya abad ke-7 masehi bahwa Bahasa Melayu Kuno digunakan sebagai bahasa kenegaraan. Bukti penggunaan Bahasa Melayu Kuno terdapat dalam empat prasasti yang ditemukan di Pulau Sumatera yaitu; 1) prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), 2) prasasti Talang Tuo berangka tahun 684 M (Palembang), 3) prasasti Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), 4) prasasti Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi), (Putrayasa, 2018). Semua prasasti bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna dengan campuran Bahasa Sanskerta. Sedangkan di Pulau Jawa ditemukannya prasasti di Jawa Tengah berangka abad ke-9 M dan prasasti Bogor berangka abad ke-10 M. Bukti lainnya penemuan keping tembaga Laguna di dekat Manila (Pulau Luzon) tahun 900 M yang merupakan milik kerajaan Sriwijaya.

Ejaan resmi Bahasa Melayu pertama kali disusun Ch. A. Van Ophuijsen dengan bantuan Moehammad Taib Soetan Ibrahim dan Nawawi Soetan Ma’moer dalam kitab Logat Melayu tahun 1801 (Putrayasa, 2018). Sebelum tahun 1928 telah melakukan pergerakan-pergerakan kebangsaan yang dikenal dengan sebutan Indonesia. Seiring berjalannya waktu maka tanggal 28 Oktober 1928 terjadi peristiwa yang melibat putra dan putri Indonesia atau lebih dikenal dengan sebutan “sumpah pemuda”, secara resmi dan diakui bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan Indonesia.

Beberapa alasan yang menguatkan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia yaitu; 1) Bahasa Melayu merupakan lingua franca, 2) penyebaran Bahasa Melayu lebih luas dibandingkan Bahasa Jawa, Sunda, Madura dan lainnya, 3) Bahasa Melayu berkrabat dengan bahasa-bahasa di nusantara, 4) Bahasa melayu memiliki sistem sederhana sehingga mudah dipelajari, 5) Adanya kerelaan dan keinsafan secara sadar dari selain Bahasa Melayu dan menerima Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, dan 6) Bahasa Melayu dapat dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti luas (Sujinah et al., 2018). Selengkapnya.....

Selasa, 12 September 2023

Hakikat Bahasa dan Pembelajaran Bahasa: Pengertian Bahasa

Dunia mempunyai banyak ragam bahasa. Setiap bahasa dengan khas tersendiri yang membedakan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya. Bahasa adalah alat komunikasi utama dan selalu terjadi dalam konteks sosial (Kuiper & Allan, 2017). Bahasa secara ekslusif hanya dimiliki manusia terdapat perbedaan yang jelas dari sesi lingustik dan non-lingustik serta memiliki makna (Burridge & Stebbins, 2019). Richards and Webber, menyebutkan bahasa adalah sistem komunikasi manusia yang dinyatakan melalui suara atau ungkapan tulis yang terstruktur untuk membentuk satuan yang lebih besar seperti morfem, kata dan kalimat. 

Sedangkan menurut Sapir, bahasa sebagai suatu naluriah yang dimiliki manusia untuk mengkomunikasikan ide-ide, emosi dan keinginan yang menggunakan simbol yang dibuat untuk tujuan tertentu (Wiratno & Santosa, 2014). Bahasa adalah alat komunikasi, bersifat arbitrer, konvensional dan merupakan lambang bunyi (Suhandra, 2019). Bahasa adalah alat komunikasi yang bermakna (Noermanzah, 2019). Bahasa dalam pengertian kamus besar Bahasa Indonesia adalah sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran (Sugono, D., 2008). 

Berdasarkan pendapat yang telah dikemukan diatas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan pengertian bahasa yaitu sikap alamiah manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya dengan menggunakan simbol, bunyi dan melibatkan panca indra dalam memberikan stimulus dan respon terhadap lawan berkomunikasi, sehingga maksud dan tujuan simbol, bunyi dan lambang dapat dipahami dan dimengerti. Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...