Tampilkan postingan dengan label SD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SD. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Oktober 2023

Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa yang digunakan diwilayah Republik Indonesia adalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan. Landasan dasar Bahasa Indonesia tertuang dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. Secara spesifik fungsi Bahasa Indonesia termuat dalam bab III tentang bahasa negara pasal 25 ayat 2 yang berbunyi, “Bahasa Indonesia berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggaan nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana komunikasi antar daerah dan antar budaya daerah” (Undang-Undang, 2009). 

Bahasa Indonesia diera globalisasi menghadapi berbagai tantang seperti teknologi canggih, kurangnya rasa bangga untuk menggunakan Bahasa Indonesia serta derasnya arus bahasa asing. Kedisiplinan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar akan mempertahankan eksistensi Bahasa Indonesia. Diperlukan sebuah kesadaran dari masyarakat Indonesia, terutama masyarakat sebagai pengguna Bahasa Indonesia dalam menggunakan Bahasa Indonesia (Murti, 2015). Selain faktor kesadaran yang disiplin untuk menggunakan Bahasa Indonesia. Pola pembiasaan menggunakan Bahasa Indonesia diperlukan dalam kehidupan sehari-hari (Nimas Permata Putri, 2017). 

Bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa Indonesia sebagaimana semangat sumpah pemuda 1928 dalam mengakui Bahasa Indonesia. Masyarakat Indonesia benar-benar harus memahami bahwa Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu. Fungsi Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa sangatlah penting (Inda Puspita Sari, 2015). Untuk mempertahankan Bahasa Indonesia sebagai pemersatu terkhusus ditingkat perguruan tinggi maka dosen bahasa dan sastra dapat mengambil peran di era globalisasi sekarang, seperti; 1) menjadi model Bahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan, 2) menciptakan pembalajaran yang kreatif dan berpikir kritis, 3) memberikan kesempatan pengembangan industri dibidang kebahasaan dan kesastraan, 4) menjadi fasilitator komunitas ilmiah bahasa dan kesastraan, 5) memberikan peluang publikasi ilmiah dan pertukaran mahasiswa (Noermanzah, 2015). 

Bahasa Indonesia hendaknya selalu dilakukan monitoring yang berkelanjutan dari berbahasa dasar sampai berbahasa tingkat lanjutan. Kegiatan membina bahasa Indonesia harus dilakukan secara berkelanjutan agar Bahasa Indonesia tetap menjadi prioritas utama dalam pemakaian Bahasa Indonesia dan menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia (Aziz, 2016). Selengkapnya.....

Kamis, 14 September 2023

Perkembangan Bahasa Indonesia

Awal mula terbentuknya Bahasa Indonesia merupakan Bahasa Melayu. Ketersebaran Bahasa Melayu dikawasan Asia Tenggara menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa perantara (lingua franca) atau bahasa pergaulan (Sujinah et al., 2018). Bahasa Melayu terbagi menjadi dua jenis yaitu Bahasa Melayu Tinggi dan Bahasa Melayu Pasar. Bahasa Melayu Tinggi bersifat sulit, halus, penuh sindiran dan kurang ekspresif, sedangkan Bahasa Melayu Pasar bersifat sangat lentur, mudah dimengerti, dan ekspresif. Bahasa Melayu Pasar inilah yang akan menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang (Waraulia, A.M., 2018). 

Ada banyak bukti sejarah yang mengungkapkan bagaimana ketersebaran Bahasa Melayu, salah satunya dari peninggalan kerajaan Sriwijaya abad ke-7 masehi bahwa Bahasa Melayu Kuno digunakan sebagai bahasa kenegaraan. Bukti penggunaan Bahasa Melayu Kuno terdapat dalam empat prasasti yang ditemukan di Pulau Sumatera yaitu; 1) prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), 2) prasasti Talang Tuo berangka tahun 684 M (Palembang), 3) prasasti Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), 4) prasasti Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi), (Putrayasa, 2018). Semua prasasti bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna dengan campuran Bahasa Sanskerta. Sedangkan di Pulau Jawa ditemukannya prasasti di Jawa Tengah berangka abad ke-9 M dan prasasti Bogor berangka abad ke-10 M. Bukti lainnya penemuan keping tembaga Laguna di dekat Manila (Pulau Luzon) tahun 900 M yang merupakan milik kerajaan Sriwijaya.

Ejaan resmi Bahasa Melayu pertama kali disusun Ch. A. Van Ophuijsen dengan bantuan Moehammad Taib Soetan Ibrahim dan Nawawi Soetan Ma’moer dalam kitab Logat Melayu tahun 1801 (Putrayasa, 2018). Sebelum tahun 1928 telah melakukan pergerakan-pergerakan kebangsaan yang dikenal dengan sebutan Indonesia. Seiring berjalannya waktu maka tanggal 28 Oktober 1928 terjadi peristiwa yang melibat putra dan putri Indonesia atau lebih dikenal dengan sebutan “sumpah pemuda”, secara resmi dan diakui bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan Indonesia.

Beberapa alasan yang menguatkan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia yaitu; 1) Bahasa Melayu merupakan lingua franca, 2) penyebaran Bahasa Melayu lebih luas dibandingkan Bahasa Jawa, Sunda, Madura dan lainnya, 3) Bahasa Melayu berkrabat dengan bahasa-bahasa di nusantara, 4) Bahasa melayu memiliki sistem sederhana sehingga mudah dipelajari, 5) Adanya kerelaan dan keinsafan secara sadar dari selain Bahasa Melayu dan menerima Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, dan 6) Bahasa Melayu dapat dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti luas (Sujinah et al., 2018). Selengkapnya.....

Selasa, 05 September 2023

Asesmen Pembelajaran Literasi Anak SD

Asesmen pembelajaran literasi di sini ada dua model. Secara umum, asemen literasi mengacu AKM yang bentuknya variasi, yaitu meliputi: 1. Pilihan ganda, 2. Pilihan ganda kompleks, 3. Menjodohkan, 4. Isian, 5. Esai atau uraian Asesmen.  Pembelajaran literasi anak SD dalam buku ini merupakan asesmen pembelajaran pada setiap pembelajaran yang berdirisendiri dalam satu pembelajaran literasi. Asesmen pembelajaran literasi di luar AKM yang dimaksud di buku ini tidak sekadar mengukur hasil belajar siswa, namun juga menjadi umpan balik pada mutu, proses pembelajaran dengan pelibatan pendidikan dan peserta didik dalam rangka merefleksikan proses pembelajaran. Maka asesmen pembelajaran literasi dibutuhkan di awal pembelajaran berbentuk asesmen diagnosis dengan kontinyu dalam proses belajar. Dalam hal ini, asesmen formatif harus ditekankan daripada asesmen sumatif. Asesmen formatif dapat berbentuk kompilasi karya peserta didik dalam proses pembelajaran, catatan pengamatan, dan lainnya. Maka asesmen formatif dan sumatif sama-sama dibutuhkan dalam pembelajaran literasi anak SD di dan juga di semua lintas mata pelajaran. Selengkapnya.....

Jumat, 01 September 2023

Keterampilan dalam Pembelajaran Literasi Anak

Keterampilan dalam pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka memiliki karakteristik dengan keterampilan berbahasa yang diterapkan selama ini di dalam pembelajaran. Sebelumnya, dalam pembelajaran literasi penekanannya fokus pada caturtunggal keterampilan berbahasa, yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis (Ibda, 2019:v). Aspek reseptif pada keterampilan membaca dan menyimak, dan aspek ekspresif pada keterampilan berbicara dan menulis (Hariyanti, 2019:106).

Keterampilan literasi anak SD terbagi atau dua cakupan atau aspek. Pertama, keterampilan berbahasa reseptif (menyimak, membaca dan memirsa). Kedua, keterampilan berbahasa produktif (berbicara dan mempresentasikan, serta menulis). Kedua keterampilan ini dapat diimplementasikan di dalam pembelajaran dengan model literasi integrasi berbasis pada tiga cakupan literasi, yaitu literasi fungsional, literasi informasional, dan literasi etikal. Ketiga cakupan literasi tersebut mengarah kepada pembiasaan pola pikir siswa yang komprehensif dan menyiapkan siswa memiliki kemampuan menghadapi masalah di era digital saat ini.

Selain Capaian Pembelajaran di dalam Kurikulum Merdeka, keterampilan literasi dikembangkan dari Profil Pelajar Pancasila yang secara konseptual diwajibkan diterapkan di dalam pembelajaran termasuk pembelajaran literasi. Ada enam karakter utama di dalam Profil Pelajar Pancasila. Keenam karakter itu meliputi 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) berkebhinekaan global, 3) bergotong-royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif. Keenam karakter tersebut bermuara bahwa Profil Pelajar Pancasila tidak sekadar pada ranah kognitif belajar, akan tetapi fokus juga pada perilaku dan sikap berdasarkan jati diri bangsa Indonesia dan warga dunia (Anggraena, 2020:5).

Literasi fungsional memiliki tujuan untuk peningkatan kualitas masyarakat dan kemampuan diri pada individu. Dalam konteksini, literasi fungsional terdiri atas keterampilan membaca, menulis, mendengarkan atau menyimak dan menonton (Nurgiyantoro et. al., 2020:194). Sementara itu, literasi informasi juga dikuatkan di dalam pembelajaran literasi anak SD. Literasi informasional terdiri atas keterampilan mengomunikasikan, mengekspresikan (menciptakan), menafsirkan, menggunakan, memahami, memproses, memperhitungkan, mempertanyakan, dan mengakses, mengeksplorasi, mengidentifikasi (Siti, 2014; Wiyatasari, 2018:41; Kemdikbud, 2020).

Pembelajaran literasi anak SD dengan merujuk Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila, keterampilan berpikir era digital (HOTS), komponen literasi abad-21, literasi fungsional dan literasi informasional menjadisatu kesatuan yang holistik untuk diterapkan dalam pembelajaran literasi anak SD. Dengan demikian, pembelajaran literasi anak SD tidak parsial di dalam pembelajaran berbasis mata pelajaran atau di luar mata pelajaran. Selengkapnya..... 

Senin, 28 Agustus 2023

Platform Pembelajaran

Kurikulum merdeka menggunakan desain berbasis projek, selain itu kurikulum merdeka memanfaatkan perkembangan teknologi internet. Maka pengembangan platform-platform pembelajaran banyak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan belajarsiswa. Adapun secara rinci platform pembelajaran sebagai berikut:

1. Merdeka Mengajar

Platform merdeka mengajar hasil pengembangan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan. Platform merdeka mengajar dapat digunakan melalui website https://guru.kemdikbud.go.id/ dan berbasis aplikasi android dapat didownload melalui play store. Untuk mengakses website atau platform secara penuh harus menggunakan akun google dengan domain belajar.id (akun pembelajaran) atau madrasah.kemenag.go.id (akun madrasah). 

Platform medeka mengajar menyediakan dua klasifikasi produk yaitu produk pengembangan guru dan kegiatan belajar mengajar. Produk pengembangan guru terdiri atas video inspirasi, pelatihan mandiri dan bukti karya saya. Sedangkan produk kegiatan belajar mengajar terdiri atas assesmen murid dan perangkat ajar. Platform merdeka mengajar adalah langkah menstransformasi pendidikan berbasis digital (Kemdikbud, 2022). 

Jadi satu aplikasi dengan multifungsi untuk membantu guru bertumbuh kembang dan memajukan pendidikan Indonesia. Platform merdeka mengajar bersifat gratis dan dapat digunakan guru seluruh Indonesia. Platform merdeka membantu guru mendapatkan inspirasi dan referensi untuk mengaplikasikan kurikulum merdeka (Kemendikbudristek, 2022)

2. Quizizz

Platform quizizz merupakan sarana pendidikan yang pertama kali dikembangkan di India tepatnya berpusat di Bengaluru. Aplikasi berbasis gamefikasi untuk kegiatan pembelajaran yang dapat didesain sendiri guru untuk menyampaikan materi pada siswa. Guru dapat membuat kuis-kuis yang akan menarik perhatian siswa untuk belajar. Kuis yang didesain akan secara otomatis memberikan nilai dan peringkat berdasarkan jumlah peserta kuis.

Platform quizizz yang digunakan untuk membantu kerja guru dalam mengajar masih mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kekurangan quizizz yaitu bergantung dengan jaringan internet (kuat-lemahnya sinyal), tidak bisa merevisi jawaban, dan bergantung perangkat hanphone dan komputer yang digunakan. Sedangkan kelebihannya adalah belajar menjadi menyenangkan dan efektif (Suharsono & Budiarto, 2018). 

Tren menggunakan quizizz dalam kegiatan pembelajaran menjadi pertanyaan, seberapa efektif dalam membantu guru dalam mengajar? Quizizz efektif untuk digunakan dalam belajar dengan indikator perhatian, kemandirian, keaktifan, ketelitian dan ketenangan siswa dalam mengerjakan kuis (Salsabila et al., 2020). Jika keefektifan quizizz ditinjau dari perkembangan kognitif siswa maka quizizz dapat dikatakan efektif untuk digunakan belajar (Hidayati & Aslam, 2021).

3. Kahoots

Platform kahoots merupakan aplikasi untuk belajarsambil bermain. Kahoots hadir sejak 2012 hasil proyek bersama Norwegian university of science and technology. Kahoots dapat gunakan untuk kuis dan survei. Platform kahoots membantu untuk proses belajar dan mengajar. Memudahkan memahami materi yang dipelajari. Platform kahoots dapat menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan (Nada, 2020). Selain itu Kahoot dapat meningkatkan motivasi untuk belajar (Muzayanati, A., Maemonah, M., & Puspitasari, 2022).

4.  Google form

Google suite mempunyai beberapa bagian salah satunya google form. Platform ini selama pandemi Covid-19 banyak digunakan guru sekolahan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Setiap pengguna domain gmail secara otomatis dapat menggunakan google form secara gratis. Adapun langkah-langkah membuat google form sebagai berikut: a) Aktifkan email google; pilih Sembilan titik-titik sebelah profil. b) Pilih menu Drive; pilih tombol new. c) Pilih more; pilih google form; pilih blank form. d) Google form tampil; isi judul form dan isikan pertanyaan untuk siswa. e) Bagikan link google form pada siswa Google form digunakan dalam pembelajaran untuk melakukan evaluasi pelajaran pada siswa. Google form efektif digunakan sebagai sarana untuk evaluasi pelajaran (Nyoman & Aryanti, 2021). Selengkapnya.....

Minggu, 23 Juli 2023

Model Pembelajaran Kurikulum Merdeka

Model pembelajaran ada banyak pilihan bergantung kreativitas dan keterampilan guru dalam mengaplikasikannya di sekolah dasar. Kurikulum merdeka lebih menekankan model pelajaran yang berbasis projek. Adapun model-model pelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran menggunakan kurikulum merdeka seperti; model pedagogi genre, problem-based learning (PBL), project-based learning (PjBL), teaching at the right level (TaRL), dan tematik integrative. 

Model pembelajaran berbasis projek bersifat student center atau kegiatan belajar yang menuntut siswa yang banyak belajar dan aktif. Belajar yang menuntut siswa memecahkan permasalahan dengan ilmiah. Ada beberapa pinsip yang menjadi pedoman dalam melaksanakan pembelajaran berbasis projek yakni; 1) Holistik, 2) kontekstual, 3) berpusat pada siswa, 4) eksploratif (Kemendikbudristek, 2021b). Selengkapnya.....


Selasa, 18 Juli 2023

Modul Ajar Kurikulum Merdeka

Kurikulum merdeka atau kurikulum 2022 memunculkan istilah-istilah yang baru dalam pembelajaran. Namun, sebenarnya konteks isi merupakan penyempurnaan dari kurikulum-kurikulum sebelumnya. Modul ajar atau rencana pelaksanaan pembelajaran plus adalah rangkaian yang butuh dipersiapkan guru untuk mengajar. Setidaknya modul ajar memuat tujuan pembelajaran, metode pembelajaran dan metode penilaian pembelajaran (Kemendikbud, 2022). Format modul ajar beraneka ragam. 

Modul ajar merupakan kreativitas guru namun pengembangan model modul ajar berpatokan pada kurikulum yang berlaku. Secara sederhana komponen utama terdiri atas judul materi pelajaran, waktu pelaksanaan, cara melaksanakan pelajaran, evaluasi kegiatan pelajaran. Modul ajar tidak ada format baku hal yang terpenting adalah modul ajar harus efektif, efisien dan berorientasi belajar siswa (Kemendikbud, 2022). Modul ajar yang gunakan untuk mengajar adalah modul ajar yang memudahkan untuk mengajar dan mencapai tujuan pembelajaran. Selengkapnya.....


 

Senin, 17 Juli 2023

Perencanaan Pembelajaran Kurikulum Merdeka

Kegiatan belajar dan mengajar membutuhkan proses dan tahapantahapan yang dilakukan secara terencana. Perencanaan pembelajaran menjadi panduan dalam melaksanakan kegiatan mengajar. Seorang guru profesional akan mengajar dengan mempertimbangkan persiapan mengajar, proses mengajar dan hasil yang akan dicapai dalam belajar. Perencanaan pembelajaran diperlukan karena setiap pembelajaran diperlukan perbaikan (Afandi, 2011).

Perencanaan pembelajaran bukan sekedar rencana biasa namun membutuhkan realisasi nyata untuk memenuhi sistem belajar yang terstandar. Perencanaan pembelajaran akan memandu proses berlangsungnya pelajaran di dalam kelas dan di luar kelas. Ada empat unsur utama yang harus ada dalam perencanaan pembelajaran yaitu; 1) tujuan yang akan dicapai, 2) strategi yang digunakan dalam mencapai tujuan, 3) dukungan sumber daya, dan 4) realisasi setiap keputusan (Ananda, 2019). 

Realisasi belajar dan mengajar dilaksanakan secara prosedural, realistis dan sistematis. Pertimbangan dan keputusan memberikan perlakuan terhadap siswa dalam prosesnya dan orientasi hasil belajar. Belajar dan mengajar yang direncanakan jauh lebih baik dibandingkan dengan belajar dan mengajar yang dilakukan spontanitas. Pada akhirnya perencanaan pembelajaran dapat disebut sebagai sebuah pendekatan sistematis untuk memperbaiki pembelajaran (Nur, 2017). Dalam rangka memperbaiki kualitas pendidikan maka perencanaan pembelajaran selalu dilakukan perbaikan dan pengembangan. Perencanaan pembelajaran disesuaikan berdasarkan kurikulum yang sedang berlangsung sesuai masanya.

Pada kurikulum 2013 atau (K13) juga dilakukan perbaikan untuk penyempurnaan sehingga muncul K13 edisi revisi di tahun 2014 dan 2018. Kurikulum 2013 kemudian dikembangkan lagi menjadi kurikulum merdeka tahun 2022. Perbaikan-perbaikan kurikulum sebagai dasar utama perbaikan perencanaan pembelajaran. Perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia mempunyai karakteristik dan fokus tersendiri dari setiap kurikulum yang disetujui menteri pendidikan. Fokus setiap kurikulum adalah tujuan yang akan dicapai dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Kesan ganti menteri maka ganti kebijakan dan akan mengganti kurikulum. Hal ini sebetulnya bukan menjadi poin penting dalam perbaikan kurikulum. Namun, isi dan konten kurikulum adalah hal yang paling penting untuk terus dilakukan pengembangan dan pengkajian sehingga tren serta kebutuhan pendidikan masyarakat Indonesia dapat di akomodir semuanya. Lingkungan pendidikan adalah lingkungan pembelajar, bertumbuh dan berkembang untuk menyelesaikan permasalahan serta memberi solusi bagi negeri. Apapun nama kurikulumnya bukan persoalan yang penting isinya. Masa depan generasi Indonesia salah satu penentunya adalah kurikulum pendidikan. Kurikulum merupakan peta jalannya pendidikan, seperti apa tujuan yang akan dicapai, bagaimana cara menjalankannya dan untuk siapa kurikulum dibuat. Semua harus bergerak mensukseskan pendidikan. Selengkapnya.....

 

Minggu, 16 Juli 2023

PERANGKAT PEMBELAJARAN INOVATIF BAHASA DAN SASTRA SD KURIKULUM MERDEKA

Perangkat pembelajaran merupakan alat yang digunakan untuk mengoptimalkan ketercapaian pembelajaran. Perangkat pembelajaran disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan proses belajar dan mengajar. Tuntutan zaman yang semakin canggih dan melesat maju dengan perkembangan teknologi mengharuskan dilakukan inovasiinovasi perangkat pembelajaran. Inovasi dilakukan merupakan upaya peningkatan pemikiran, pengembangan pembelajaran, dan pelaksanaan kurikulum (Yunani, 2009). 

Inovasi berkembang disemua aspek kegiatan belajar. Pembelajaran yang semula hanya mayoritas dilakukan dengan cara pertemuan langsung (luring) berkembang menjadi pembelajaran tatap muka dengan menggunakan media internet berbasis aplikasi atau lebih lebih dikenal dengan istilah pembelajaran daring. Adapun aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran seperti zoom, microsoft teams, google meet, dan sebagainya. Selain aplikasi yang digunakan inovasi pembelajaran juga dilakukan pada sumber belajar, cara belajar dan cara mengajar. Sumber belajar tersedia sangat banyak misalnya dari google, youtube, voa learning, buddytalk, dan lain-lain. Cara belajar dapat disesuaikan dengan tipe orang yang belajar dengan cara visual, audio serta audio visual. 

Sementara untuk cara mengajar sudah sangat bervariatif. Mengajar menggunakan video, channel youtube, live streaming facebook dan instagram, serta podcast. Inovasi perangkat pembelajaran menggunakan podcast menjadi solusi untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ), biaya murah dan mudah digunakan guru (Laila, 2020). Pembelajaran luring berinovasi menjadi daring kemudian berkembang lagi menjadi pembelajaran gabungan keduanya (blended learning). Sistem belajar yang menggabungkan teknologi dengan belajar tatap muka langsung memacu siswa untuk terus berkembang dan memberikan kemudahan dalam memahami dan menelaah materi-materi pelajaran. Blended learning berdampak efektif dalam hasil pembelajaran online dan offline (Abdullah, 2018). Selengkapnya.....

Sabtu, 15 Juli 2023

Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berbasis TIK dalam Kurikulum Merdeka

Model pembelajaran yang diuraikan selama ini berbasis pada keterampilan berbahasa yang mempunyai beberapa komponen dan dapat dikaitkan dengan media pembelajaran berbasis TIK tingkat SD. Ada empat model pembelajaran dalam model pembelajaran menyimak yang dapat dihubungkan dengan TIK diantaranya mengidentifikasi kata kunci, melakukan model retelling story, menyelesaikan cerita dan memperluas kalimat. Model pembelajaran menceritakan kembali (retelling story) adalah model yang digunakan oleh guru untuk menerapkan pembelajaran. 

Retelling story memiliki banyak manfaat untuk peserta didik salah satunya dapat mengembangan daya ingat, menambah kosakata Bahasa secara lisan dan pengembangan sifat ekspresif. Berikut adalah langkah-langkah untuk menerapkan kisah ritel berbasisICT: pertama, adalah Guru menggunakan podcast untuk merekam cerita dan memutarnya menggunakan CD atau melalui youtube misalnya. Kedua, pemutaran audio tersebut. Ketiga, siswa mendengarkan dengan saksama. Keempat, siswa diminta untuk berbicara kembali dengan bahasanya sendiri. Langkah keempat adalah menentukan hubungan antara keterampilan berpiir kritis dengan keterampilan membaca. Selanjutnya dapat pula menggunakan model diskriminatif kata kunci apabila ingin menceritakan ulang. Dalam prosesnya, siswa dianjurkan untuk fokus pada suara yang terdengar dari setiap kalimat yang diucapkan dalam suara maupun podcast, selanjutnya mereka dianjurkan untuk menentukan kata kunci dari tiap kalimat. Secara umum pembelajaran identifikasi kata kunci dapat digunakan di kelas tinggi sekolah dasar. 

Model pembelajaran yang dapat memperluas kalimat adalah model pembelajaran yang saling berhubungan satu sama lain. Berikut cara menerapkan pembelajaran memanjangkan kalimat: 1) Guru memutarkan dengan media internet atau CD kemudian menyebutkan kalimat-kalimatnya. 2) siswa melakukan perulangan kalimat yang diucapkan. 3) Saat siswa mengulangi kalimat, media internet dimatikan. 4) pemutaran kembali media oleh guru dan melakukan perulangan kalimat kembali. 5) guru mengucapkan kalimat/kata lain secara lisan. 6) Siswa selanjutnya langsung melengkapi kalimat sesuai dengan apa yang disebutkan oleh guru dan hasilnya diperluas dengan kalimat. 

Model pembelajaran melengkapi cerita merupakan model lanjutan dari kalimat yang diperluas sebelumnya, model ini juga dapat menggunakan media yang sama. Teks yang telah disampaikan oleh guru melalui audiovisual dapat dirangkum dalam sebuah cerita. Kelemahan dari model pembelajaran ini adalah memakan waktu, tetapi dapat diterapkan untuk kelas bawah. Di kelas bawah, kosakata masih terus diproduksi. Menulis kalimat adalah tugas yang membosankan menerapkan model pembelajaran di atas untuk membuat kalimat menyenangkan dan untuk meningkatkan pemikiran dan imajinasi siswa untuk membuat cerita. Sama halnya dengan model pembelajaran yang telah dijelaskan selama ini, keterampilan berbicara dan menyimak merupakan kegiatan reseptif, sehingga model pembelajaran ini juga berkaitan dengan keterampilan berbicara. 

Pembelajaran selanjutnya menunjukkan hanya satu model pembelajaran berbicara yang dapat diintegrasikan dengan media TIK, karena penggunaan media secara langsung dapat sepenuhnya menyampaikan tujuan pembelajaran berbicara. Tapi siapa yang saya modelkan? Jika TIK dapat digunakan sebagai media, maka jenis media yang dapat digunakan adalah media komputer dengan subtipe visual. Langkah-langkah untuk menerapkan model pembelajaran ini adalah sebagai berikut: pertama,Guru menggunakan materi tentang tokoh, peristiwa, atau profesi untuk membuat dua media flash/PowerPoint jenis kuis ya/tidak. Konsep kuisnya adalah memilih angka dari 1 hingga 9. Artinya, ada pilihan setelah nomor materi. Kedua, Guru dibagi menjadi dua atau tiga kelompok besar. Ketiga, Siswa akan diminta untuk memilih nomor Flash Media/PowerPoint dalam kelompoknya. Keempat,Guru akan memfokuskan dan memperlihatkannya sehingga siswa dapat melihatnya. Kelima,siswa yang telah memenangkan bagian akan memainkan peran sesuai nomor yang dipilih. Keenam, kelompok penonton harus menjawab karakter yang diperankan oleh kelompok lain. Ketujuh, group hanya bisa menjawab “ya” atau “tidak”. Kedelapan, jika penampil menemukan identitas, permainan berakhir dan berputar ke grup berikutnya. Model pembelajaran ini membuat siswa SD menjadi senang dengan menggunakan modelseperti permainan atau ice breaking. Kelebihan model pembelajaran dengan menggunakan TIK sebagai media pembelajaran terasa lebih hidup karena siswa tidak hanya fokus pada aktor, tetapi juga pada tampilan jawaban dari aktor. Selain menyenangkan, siswa dapat melatih keterampilan berbicara mereka. Dalam keadaan ini, guru dapat mengklasifikasikan jenis-jenis berbicara yang dipelajari oleh siswa. 

Model pembelajaran ini dapat diterapkan di tingkat SD dan SMA. Ada 2 model yang dapat digunakan dalam TIK, yaitu model K-W-L dan pelatihan yang dibaca dari model ECOLA. Model K-W-L merupakan model pembelajaran yang pada hakikatnya menuntut siswa untuk memahami apa yang dibacanya. K-W-L dapat dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama. K (Apa yang saya tahu?) Pada tahap ini, guru perlu menggunakan media PowerPoint atau flash untuk membuat materi. Saat ini aplikasi untuk membuat buku bergambar masih terus dibuat, hasilnya ditampilkan oleh guru, dipelajari, buku untuk dibaca bersama, dan gambaran umum dari buku tersebut. Tahap 2; W (Apa yang ingin dipelajari?) Pada tahap ini, guru mengomunikasikan tujuan pembelajaran dan memberikan pemahaman pembelajaran yang menarik. Pada tahap ini, fokus siswa adalah membaca dengan menggunakan media komputer subtipe visual. Siswa mencatat beberapa informasi penting dari hasil membaca. Pada tahap ini juga dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa terhadap informasi yang ditampilkan dalam cerita, yang ditampilkan dalam bentuk slide. Tahap ketiga; L (apa yang saya pelajari). Siswa belajar dari slide yang ditampilkan melalui fokus, siswa perlu mengetahui informasi penting terkait hasil membaca. Beberapa siswa tidak memahami kata atau kalimat. Kegiatan terakhir adalah siswa diminta untuk merangkum hasil bacaannya. 

Model pembelajaran selanjutnya yakni Extending Consept Trought Language Activities atau lebih dikenal dengan ECOLA. Model pembelajaran digunakan guru dalam mengintegrasikan keterampilan berbahasa yang memiliki tujuan untuk mengembangkan keterampilan pembaca, menerjemahkan dan kemudian menegaskan pemahamannya. (Susanto, 2014). Media yang tersedia dalam model pembelajaran ini adalah internet. 

Indikator ketercapaian model pembelajaran ini adalah siswa diharapkan suka membaca dan menemukan ide, konsep, dan gagasan. Untuk menerapkan model ECOLA dapat dilakukan dengan cara : 1) Pilihlah bacaan yang berbeda tidak dari buku tradisional atau dongeng, namun carilah ebook dan mendownload melalui Internet. 2) Guru meluangkan waktunya bagisiswa untuk membaca bacaan yang dipilih siswa itu sendiri. 3) Siswa membaca sekaligus belajar untuk mengkritisi. 4) Hasil bacaan siswa kemudian dirangkum dan di berikan pada guru. Model pembelajaran ini memiliki keterkaitan dengan model pembelajaran menulis. 

Model pembelajaran berbasis keterampilan menulis memiliki dua model yang dapat digunakan dan diintegrasikan dengan TIK pertama adalah Brown dan kedua adalah sugesti. Dasar model Brown ini mengatakan media pembelajaran adalah bagian yang memiliki keterkaitan dalam memfasilitasi pembelajaran, karena terdapat berbagai macam media dan media tersebut memiliki sifat yang interaktif. Media pembelajaran Brown contohnya seperti audio, proyek, gerak, visual, dll. (Krissandi, dkk., 2018: 36). 

Langkah-langkah pembelajaran model setelah tujuan pembelajaran tercapai adalah: a. penyiapan puzzle secara virtual yang dibuat oleh guru; b. pembuatan grup skala kecil; c. pembagian puzzle pada setiap group kecil; d. setiap group melakukan diskusi dan kerjasama dalam mengurutkan seri puzzle; e. apabila telah selesai, perwakilan anggota kelompok memaparkan hasilnya. f. setelahnya, guru masuk pada poin penjelasan materi dari hasil paparan siswa; g. siswa dalam kelompok ditugaskan untuk menulis kalimat berdasarkan susunan gambar dalam kelompok serta mengembangkan imajinasi mereka; h. memperbaiki tulisan yang kurang tepat dilakukan oleh tiap kelompok; i. proses refleksi pembelajaran; j. mengumpulkan hasil kerja kelompok dan dilakukan evaluasi pembelajaran yang dilakukan. 

Model sugesti dilakukan dengan proses yang tidak sebentar dan membutuhkan inspirasi untuk menghasilkan ide-ide menarik yang akan dituangkan pada tulisan. Stimulus yang digunakan dalam kegiatan ini sangat bervariasi. Umumnya pada tingkat SD dilakukan dengan film yang dibuat dengan menggunakan lagu, puisi, teater, atau teknologi. Media yang digunakan bisa dalam format multimedia dan internet. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut: a. Pemilahan lagu atau puisi yang berhubungan dengan pembelajaran yang ingin diajarkan oleh guru. b. Siswa bersiap untuk menyimak serta siswa menyiapkan alat tulisnya untuk merangkum hasil yang mereka simak. c. Siswa menuliskan hasil yang mereka amati dan simak disesuaikan imajinasi mereka. d. Melakukan proses koreksi dengan cara saling bertukarjawaban antara siswa. e. Siswa mendapat hasil koreksi dan melakukan perbaikan kembali pada tulisannya. f. Penilaian akhir oleh guru. Selengkapnya.....

Rabu, 05 Juli 2023

Keterampilan Membaca, Memirsa, dan Menulis

Membaca merupakan keterampilan peserta didik untuk memahami, memaknai, menginterpretasikan, dan merefleksi sebuah teks sesuai tujuan dan kepentingannya untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan potensinya. Menurut Hasanah & Lena (2021), membaca adalah salah satu keterampilan yang esensial dan perlu dikuasai oleh peserta didik, karena membaca memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, sehingga proses pembelajaran untuk melatihkan kemampuan membaca yang diperoleh pada pendidikan pertama harus mendapatkan perhatian khusus.

Keterampilan membaca adalah kesanggupan, kecakapan, dan kesiapan seorang individu untuk memahamisuatu gagasan dan lambang atau bunyi bahasa yang ada dalam sebuah teks bacaan yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan si pembaca, yaitu untuk memperoleh amanat atau informasi yang diinginkan. Proses membaca memerlukan pemahaman yang baik, karena pada proses tersebut diperlukan kemampuan untuk memahami sebuah teks bacaan serta memaknainya dengan benar. Kegiatan membaca merupakan sebuah komunikasi yang dilakukan secara tidak langsung, yaitu antara pembaca dan penulis melalui sebuah tulisan. Berdasarkan pengertian ini, dapat dinyatakan bahwa kemampuan membaca adalah kecakapan atau potensi seseorang untuk menguasai sebuah keahlian komunikasi tidak langsung melalui bahasa tulis.

Melalui kegiatan membaca, seorang pembaca dapat memperoleh sebuah pesan yang disampaikan oleh seorang penulis berdasarkan kata-kata dan kalimat yang ditulis. Memirsa merupakan keterampilan peserta didik untuk memahami, memaknai, menginterpretasi, dan merefleksisajian cetak, visual dan atau audiovisual sesuai tujuan dan kepentingannya untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan potensinya. Menurut Mulyadi & Wikanengsih (2022), keterampilan memirsa menuntut peserta didik untuk memaknai sebuah sajian visual dan atau audiovisual, menafsirkan beragam jenis teks multimodal, serta menganalisis secara kritis sesuai dengan konteksnya. 

Keterampilan memirsa dapat mengembangkan pengetahuan dalam menyerap informasi dan mengolah informasi tersebut berdasarkan latar belakang pengetahuan yang dimiliki, serta menyampaikan kembali informasi yang diperoleh secara kritis dan logis. Keterampilan memirsa di dalam kurikulum IB (International Bacalaurate) disebut dengan viewing skill, yaitu memperhatikan dan memahami media visual, seperti televisi, gambar iklan, film, diagram, simbol, foto, video, drama, gambar, patung, lukisan, dll. Saat ini, keterampilan memirsa menjadisebuah keterampilan yang penting untuk dilatihkan kepada peserta didik karena dalam keseharian peserta didik berurusan dengan teks multimodal,sehingga peserta didik harus mampu memahaminya secara efektif, aktif, dan kritissupaya dapat berpartisipasi penuh dalam masyarakat. Dalam hal ini, pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia memegang peranan yang sangat penting dan strategis. Keterampilan memirsa membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menganalisis dan mengevaluasi sebuah teks visual dan teks multimodal yang menggunakan visual. Keterampilan memirsa juga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh informasi dan menghargai ide dan pengalaman yang dikomunikasikan secara visual oleh orang lain. komponen-komponen yang dapat dikembangkan dalam membaca dan memirsa diantaranya adalah kepekaan terhadap fonem, huruf,sistem isyarat, kosakata,struktur bahasa (tata bahasa), makna, dan metakognisi.

Menulis adalah keterampilan menyampaikan gagasan, tanggapan, dan perasaan dalam bentuk tulisan secara fasih, akurat, bertanggung jawab, dan atau menyampaikan perasaan sesuai konteks. Dalam kegiatan menulis, seorang penulis harus terampil untuk memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata (Rojaki, 2012). Kemampuan untuk menulis tidak dapat dimiliki oleh seorang individu secara otomatis, tetap melalui sebuah latihan dan praktik yang banyak dan konsisten. Akan tetapi, hal tersebut masih harus ditingkatkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya peserta didik SD. Terdapat beberapa persyaratan yang seharusnya dimiliki oleh sesorang untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik dan benar, yaitu kemampuan untuk menemukan masalah yang akan ditulis, kepekaan terhadap kondisi pembaca, kemampuan menyusun rencana penulisan, kemampuan menggunakan bahasa, kemampuan memulai tulisan, dan kemampuan memeriksa tulisan. 

Menulis dapat diartikan menyampaikan pikiran, perasaan, atau pertimbangan melalui sebuah tulisan. Dalam hal ini, alat yang digunakan dalam menulis adalah bahasa, yaitu kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Pikiran yang disampaikan kepada orang lain melaluisebuah tulisan harus dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat yang dapat mendukung tersampaikannya sebuah makna secara tepat dan sesuai dengan apa yang ingin disampaikan. Kata-kata yang digunakan dalam menulis harus tersusun secara teratur menjadi sebuah klausa dan kalimat supaya pembaca tulisan dapat memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Semakin teratur bahasa yang digunakan oleh penulis, semakin mudah seorang pembaca untuk memahami pikiran penulis yang disalurkan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, keterampilan menulis sangat penting untuk dimiliki oleh peserta didik dan harus dilatihkan kepada peserta didik sedini mungkin. Komponenkomponen yang dapat dikembangkan dalam menulis antara lain adalah penggunaan ejaan, kosakata, kalimat, paragraf, struktur bahasa, makna, dan metakognisi dalam beragam jenis teks. Selengkapnya.....

Sabtu, 01 Juli 2023

Fonologi dan Morfologi dalam Bahasa dan Sastra Indonesia

 1. Fonologi 

a. Pengertian Fonologi

Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem) bahasa dan distribusinya. Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat ucap manusia. Bidang kajian fonologi adalah bunyi bahasa sebagai satuan terkecil dari ujaran dengan gabungan bunyi yang membentuk suku kata Asal kata fonologi, secara harfiah sederhana, terdiri atas gabungan kata fon (yang berarti bunyi) dan logi (yang berarti ilmu). Dalam bahasa Indonesia, istilah fonologi merupakan turunan kata dari bahasa Belanda, yaitu fonologie.

b. Kajian Fonetik 

1) Klasifikasi Bunyi 

  • a) Berdasarkan ada tidaknya rintangan terhadap arus udara dalam saluran suara. 

  1.  Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan. Pada pembentukan vokal tidak ada artikulasi. 
  2.  Konsonan adalah bunyi bahasa yang dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi.
  3. Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan, tetapi karena pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni.

  • b) Berdasarkan jalan keluarnya arus udara. 

  1. Bunyi nasal, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan menutup arus udara ke luar melalui rongga mulut dan membuka jalan agar arus udara dapat keluar melalui rongga hidung.
  2. Bunyi oral, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan jalan mengangkat ujung anak tekak mendekati langit-langit lunak untuk menutupi rongga hidung, sehingga arus udara keluar melalui mulut.
  • c) Berdasarkan ada tidaknya ketegangan arus udara saat bunyi diartikulasikan. 
 a. Bunyi keras (fortis), yaitu bunyi bahasa yang pada waktu diartikulasikan disertai ketegangan kuat arus. Bunyi lunak (lenis), yaitu bunyi yang pada waktu diartikulasikan tidak disertai ketegangan kuat arus. 
  • d) Berdasarkan lamanya bunyi pada waktu diucapkan atau diartikulasikan a. Bunyi panjang b. Bunyi pendek
  • e) Berdasarkan derajat kenyaringannya 
Bunyi dibedakan menjadi bunyi nyaring dan bunyi tak nyaring. Derajat kenyaringan ditentukan oleh luas atau besarnya ruang resonansi pada waktu bunyi diucapkan. Makin luasruang resonansisaluran bicara waktu membentuk bunti, makin tinggi derajat kenyaringannya. Begitu pula sebaliknya.

  •  f) Berdasarkan perwujudannya dalam suku kata
 a. Bunyi tunggal, yaitu bunyi yang berdiri sendiri dalam satu suku kata (semua bunyi vokal atau monoftong dan konsonan). b. Bunyi rangkap, yaitu dua bunyi atau lebih yang terdapat dalam satu suku kata. Bunyi rangkap terdiri atas c. Diftong (vocal rangkap) : [ai], [au] dan [oi]. d. Klaster (gugus konsonan) : [pr], [kr], [tr] dan [bl]. 

  •  g) Berdasarkan arus udara
  1. Bunyi egresif, yaitu bunyi yang di bentuk dengan cara mengeluarkan arus udara dari dalam paru-paru. Bunyi egresif dibedakan menjadi • Bunyi egresif pulmonik: dibentuk dengan mengecilkan ruang paru-paru, otot perut dan rongga dada. • Bunyi egresif glotalik : terbentuk dengan cara merapatkan pita suara sehingga glottis dalam keadaan tertutup. 
  2.  Bunyi ingresif, yaitu bunyi yang dibentuk dengan cara menghisap udara ke dalam paru-paru. • Ingresif glotalik: pembentukannya sama dengan egresif glotalik tetapi berbeda pada arus udara. • Ingresif velarik: dibentuk dengan menaikkan pangkal lidah ditempatkan pada langit-langit lunak. Kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan bunyi egresif.
c. Kajian Fonemik 

Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem juga dapat dibatasi sebagai unit bunyi yang bersifat distingtif atau unit bunyi yang signifikan. Dalam hal ini perlu adanya fonemisasi yang ditujukan untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut. Dengan demikian fonemisasi itu bertujuan untuk 1. Menentukan struktur fonemis sebuah bahasa, dan 2. Membuat ortografi yang praktis atau ejaan sebuah bahasa. Untuk mengenal dan menentukan bunyi-bunyi bahasa yang bersifat fungsional atau fonem, biasanya dilakukan melalui “kontras pasangan minimal”. Dalam hal ini pasangan minimal ialah pasangan bentuk-bentuk bahasa yang terkecil dan bermakna dalam sebuah bahasa (biasanya berupa kata tunggal) yang secara ideal sama, kecuali satu bunyi berbeda. Sekurang-kurangnya ada empat premis untuk mengenali sebuah fonem, yakni (1) Bunyi bahasa dipengaruhi lingkungannya; (2) Bunyi bahasa itu simetris; (3) bunyi bahasa yang secara fonetis mirip, harus digolongkan ke dalam kelas fonem yang berbeda; (4) bunyi bahasa yang bersifat komplementer harus dimasukkan ke dalam kelas fonem yang sama.

2. Morfologi 

Pengertian Morfologi secara etimologis terdiri atas dua kata yaitu morf yang berarti bentuk dan logos yang berarti ilmu. Berdasarkan unsur pembentukannya maka morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari bentuk-bentuk kata,seluk-beluk pembentukannya dan serta proses perubahan-perubahan bentuk kata tersebut. Morfologi juga sering diartikan sebagai cabang linguistik yang mempelajari, atau membicarakan proses pembentukan kata. 
  • Pengertian Morfem Morfem adalah bentuk bahasa terkecil yang tidak dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Secara umum morfem terbagi atas dua bagian yaitu, morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri serta memiliki arti atau morfem berupa bentuk dasar yang tidak dapat dibagi menjadi bagian yang lebih kecil. Misalnya buku, meja dan kursi merupakan bentuk dasar yang tidak dapat bagi lagi menjadi bu dan ku, me dan ja, kur dan si. Apabila bentuk tersebut dibagi, maka bagian-bagian tersebut tidak disebut lagi morfem karena tidak memiliki makna. 
  • Ciri-ciri morfem yaitu 1) Mempunyai makna. 2) Tidak dapat dibagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil karena makna yang terkandung di dalamnya akan hilang. 
  • Klasifikasi Morfem Morfem dapat diklasifikasikan berdasarkan kebebasan, keutuhan, dan maknanya.
  1. ) Morfem Bebas dan Morfem Terikat Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri tanpa kehadiran morfem lainnya dalam pertuturan. Sedangkan morfem terikat adalah morfem yang harus melekat dengan morfem lain atau morfem yang tidak dapat berdiri sendiri. Dalam sebuah pertuturan minum adalah sebuah morfem dan -kan. Morfem minum merupakan morfem bebas karena dapat dipakaisecara langsung dalam pertuuturan tanpa bantuan morfem lain. Berbeda dengan morfem -kan, morfem ini tidak dapat dipakai secara langsung dalam pertuturan, morfem ini harus melekat dengan morfem lain. Contoh: (1) Ayu minum teh. (2) Ayu –kan teh Morfem minum dalam kalimat (1) dapat dipertuturkan secara langsung tanpa bantuan morfem lain sedangkan morfem -kan dalam kalimat (2) tidak dapat dipertuturkan secara langsung, harus melekat dengan morfem lain. Akan tetapi perlu dipahamibahwa tidak semua morfem yang dapat dipertuturkan dikatakan morfem bebas. Pertama, bentuk seperti juang, henti, gaul, dan baurtermasuk ke dalam morfem terikat, sebab meskipun bukan afiks, morfem tersebut tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi bentuk lazimnya disebut prakategorial. Contoh: Saya harus juang untuk mencapai cita-cita saya. Kalimat tersebut tidak jelas maknanya karena morfem juang ditambah dengan morfem -ber. Kedua, bentuk seperti baca, tulis, dan tendang termasuk ke dalam pangkal kata, morfem tersebut dapat dipertuturkan langsung dalam kalimat sehingga membutuhkan morfem lain.  Ketiga, klitika adalah bentuk singkat, biasanya satu silabel, kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat dengan bentuk lain seperti ku pada morfem kuambil, kemudian mu pada kata bukumu. 
  2. ) Mofem Utuh dan Morfem Terbagi Morfem utuh adalah mofem dasar, merupakan kesatuan utuh. Morfem terbagi adalah sebuah morfem terdiri atas dua bagian terpisah Pertama, semua imbuhan konfiks termasuk morfem terbagi. Kedua, ada imbuhan infiks yang disisipkan di tengah morfem dasar. 
  3. ) Morfem Segmental dan Morfem Suprasegmental Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem segmental. Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, dan tempo. 
  4. ) Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang secara inheren memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dengan morfem lain. Misalnya seperti morfem sapi, datang, hijau, dan lari adalah morfem bermakna leksikal. Sedangkan morfem tidak bermakna leksikal adalah morfem yang tidak mempunyai apa-apa, morfem ini baru memiliki makna apabila bergabung dengan morfem lain, misalnya morfem-morfem afiks seperti ber-, me-, dan ter-. Selengkapnya.....

Selasa, 27 Juni 2023

Fungsi Bahasa Indonesia berdasarkan Penggunaannya

Bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi yang digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk saling berinteraksi satu sama lain dalam segala hal. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan bahasa resmi di Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia tidak mengikat pemakainya untuk sesuai dengan kaidah dasar. Bahasa Indonesia digunakan secara nonresmi, santai, dan bebas. Bahasa (Indonesia), mengandung fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan pemakainya, yakni (1) sebagai sarana ekspresi diri, (2) sebagai sarana untuk berkomunikasi, (3) sebagai sarana untuk integrasi dan beradaptasi sosial, dan (4) sebagai kontrol sosial (Cahyani, 2013).

a. Alat ekspresi diri 

Secara umum manusia menggunakan bahasa sebagai sarana dalam mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya kepada orang lain. Dalam mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya kepada orang lain seseorang menggunakan bahasa lisan dan bahasa tertulis. 

b. Alat komunikasi

Bahasa merupakan satu-satunya sebagai sarana yang kita gunakan dalam menyampaikan maksud dan tujuan kita kepada orang lain. Dalam menyampaikan maksud dan tujuan kita menggunakan bahasa sebagai sarananya. Dalam menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, harapan, perasaan, kita juga menggunakan bahasa sebagai sarananya. Kita menggunakan bahasa sebagai sarananya, ketika kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. 

c. Alat integrasi dan adaptasi sosial

Sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa persatuan (nasional). Dari beragam seni, tradisi, religi, budaya, bahasa, dan adat-istiadat yang tersebar di seluruh wilayah nusantara terikat oleh bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sebagai alat integrasi bangsa, ada beberapa sifat potensial yang dimiliki bahasa Indonesia: (1) bahasa Indonesia telah terbukti dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang multikultural, (2) bahasa Indonesia bersifat demokratis, (3) bahasa Indonesia bersifat terbuka/transparan, dan (4) bahasa Indonesia sudah mulai mengglobal. Dalam hal adaptasi sosial, bahasa menjadi modal bagi seorang manusia untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang ada pada lingkungannya.

d. Alat kontrol sosial Sebagai alat kontrol sosial, bahasa Indonesia sangat efektif.

Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat pemakainya. Berbagai penerangan, informasi, atau pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran di sekolah sampai universitas, buku-buku instruksi, perundangundangan serta peraturan pemerintah lainnya adalah salah satu contoh penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Ceramah agama, dakwah, dan wujud pembinaan rohani lainnya merupakan contoh bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Selengkapnya.....


Sabtu, 24 Juni 2023

Eksplor Bahasa dan Teks Sastra untuk Mengembangkan Kemampuan Siswa

Teks sastra dianggap sebagai “input terkontrol” yang mampu menawarkan tingkat kesesuaian untuk pelajar (Jouini, 2008). Sama hal nya dengan surat kabar dan majalah, teks sastra adalah dokumen yang bersifat otentif, karena meskipun tidak dirancang untuk tujuan pengajaran bahasa, teks sastra memungkinkan suatu proses komunikasi interaktif antara penulis, siswa, dan guru sebagai mediator. Namun, karya sastra fiksi cenderung melampaui surat kabar dan majalah dalam hal menggabungkan bahasa lisan dan tulisan. Kombinasi wacana ini menjadikan sastra sebagai sumber yang ideal di mana siswa dapat membayangkan dan menciptakan situasi di mana mereka dapat bertindak secara otentik. Artinya, di satu sisi, ketika menciptakan situasi, siswa akan bermanuver dalam lingkungan komunikatif di mana mereka akan dapat berbagi ide, emosi, dan informasi. Di sisi lain, dengan bertindak secara otentik, proses komunikasi verbal mereka untuk pemecahan masalah, negosiasi makna dan pertukaran reaksi akan merespon tujuan tertentu dan akan mengikuti mekanisme komunikasi normal (Fernández, 2001). Selain itu, panjang relatif novel memberisiswa waktu yang diperlukan untuk menjadi akrab dengan cerita, karakter, dan pengembangan plot teks, yang akan diperlukan untuk pengembangan keterampilan kreatif siswa.


Penggunaan Sastra dalam Pembelajaran Bahasa: Mengembangkan Cerita

Untuk mengeksploitasisastra dengan tujuan kreatif, mengeksploitasi dengan cara yang terbaik dengan tujuan membantu siswa mengembangkan konteksfiksi dan menciptakan kembalisituasi. Realitasfiksi dalam sastra sangat bergantung pada imajinasi pembaca. Ritlyova mengatakan bahwa membaca teks tanpa tugas tambahan dapat dikatakan kreatif karena dengan demikian pembaca mengembangkan fantasinya (Ritlyová, 2014). Namun, tidak semua siswa memiliki tingkat imajinasi yang sama, tetapi mendorong empatisiswa terhadap karakter adalah cara yang efektif untuk membuka dan memupuk imajinasi mereka. Siswa masuk ke sepatu karakter dan hidup melalui petualangan mereka; dengan melakukan ini, mereka menjadi kreatif dan membangun konteks yang bermakna dan dapat dibayangkan (Martín de León, C., & García Hermoso, 2020). Konteks yang dibuat oleh siswa ini akan membantu mereka memprediksi kemungkinan reaksi karakter fiksi terhadap narasi yang diberikan, mendorong siswa tidak hanya untuk membangun dan meningkatkan keterampilan membaca (Jouini, 2008) tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan menulis kreatif. Selengkapnya.....

Jumat, 02 Juni 2023

Bahasa dan Sastra Indonesia SD Berorientasi Kurikulum Merdeka

 


Perkembangan zaman semakin cepat di era 5.0, maka pemerintah melakukan berbagai terobosan baru untuk memenuhi kebutuhan belajar dan mengajar. Bahasa Indonesia adalah Bahasa persatuan, jangan heran pelajaran Bahasa Indonesia dipelajari dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Setiap kegiatan belajar mengajar membutuhkan kurikulum. Kurikulum juga terus dilakukan pengembangan. Perubahan kurikulum hal biasa termasuk perubahan kurikulum 2013 menjadi kurikulum merdeka. Buku Bahasa dan sastra Indonesia SD berorientasi kurikulum merdeka, hadir untuk mendukung dan melengkapi kegiatan belajar mengajar. 

Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia Di SD - Hakikat Bahasa dan Pembelajaran Bahasa

 

Dunia mempunyai banyak ragam bahasa. Setiap bahasa dengan khas tersendiri yang membedakan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya. Bahasa adalah alat komunikasi utama dan selalu terjadi dalam konteks sosial (Kuiper & Allan, 2017). Bahasa secara ekslusif hanya dimiliki manusia terdapat perbedaan yang jelas dari sesi lingustik dan non-lingustik serta memiliki makna (Burridge & Stebbins, 2019). Richards and Webber, menyebutkan bahasa adalah sistem komunikasi manusia yang dinyatakan melalui suara atau ungkapan tulis yang terstruktur untuk membentuk satuan yang lebih besar seperti morfem, kata dan kalimat. Sedangkan menurut Sapir, bahasa sebagai suatu naluriah yang dimiliki manusia untuk mengkomunikasikan ide-ide, emosi dan keinginan yang menggunakan simbol yang dibuat untuk tujuan tertentu (Wiratno & Santosa, 2014). Bahasa adalah alat komunikasi, bersifat arbitrer, konvensional dan merupakan lambang bunyi (Suhandra, 2019). Bahasa adalah alat komunikasi yang bermakna (Noermanzah, 2019). Bahasa dalam pengertian kamus besar Bahasa Indonesia adalah sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran (Sugono, D., 2008).

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...