Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2024

Pendekatan Komunikatif

a. Pengertian pendekatan komunikatif

Pendekatan komunikatif yaitu pendekatan saat pengimplementasiannya membutuhkan tahap-tahap supaya cara penyampaiannya bisa berlangsung seadanya (Nurhaliza and Anwar, 2019). Pendekatan komunikatif ialah kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa yang berlandaskan kepada pemikiran(Djuanda, 2008). Pendekatan merupakan komunikatif Pendekatan yang mengutamakan interaksi peserta didik dengan peserta didik dan memposisikan diri sebagai pokok pembicaraan, juga setiap peserta didik diwajibkan untuk berpartisipasi (Wahyuningsi, 2019). 

 b. Komponen-Komponen Pendekatan Komunikatif 

Ada empat komponen Pendekatan Komunikatif (Wahyuningsi, 2019): 1) Kemampuan gramatikal merupakan bagian kemampuan komunikatif meliputi pengetahuan tentang aspek leksikal dan aturan fonologi, semantik kalimat tata bahasa, sintaksis, dan morfologi. 2) Kemampuan wacana merupakan penyempurnaan dari kemampuan gramatikal. Kompetensi wacana yaitu kompetensi menghubungkan suatu kalimat dalam wacana dan kompetensi memahami suatu wacana. Jika kemampuan gramatikal meliputi tata bahasa pada suatu kalimat, maka kemampuan wacana meliputi hubungan antar kalimat 3) Kemampuan sosiolinguistik merupakan ilmu mengenai aturan sosial budaya wacana dan bahasa. Kemampuan ini memfokuskan mengenai konteks bermasyarakat meliputi informasi yang dibicarakan, fungsi interaksi, peran para partisipan. 4) Kemampuan strategis, suatu ilmu yang paling kompleks. Kemampuan strategis sebagai strategi komunikasi lisan dan tertulis yang bisa digunakan untuk menyepadankan komunikasi karena kemampuan tidak sesuai. 

c. Langkah-langkah pendekatan komunikatif 

Langkah-langkah pendekatan komunikatif menurut (Nurhaliza and Anwar, 2019) yaitu: (1)Menetapkan tujuan yang efektif; (2) pembuatan materi sesuai dengan peraturan yang dipakai (3) latihan berbahasa atau practice (4) alih pengetahuan atau transfer. d. Ciri-ciri pendekatan komunikatif Ciri-ciri pendekatan komunikatif menurut (Wahyuningsi, 2019) adalah sebagai berikut: 1) Realitas akan mendorong peserta didik untuk peserta didik atau aktivitas yang menunjukkan komunikasi sebenarnya 2) melaksanakan tugas-tugas yang bermakna akan membuat peserta didik untuk belajar merupakan tujuan aktivitas berbahasa 3) Mempersiapkan materi silabus komunikasi sesuai dengan analisis kebutuhan. 4) Kegiatan di kelas berpusat kepada peserta didik. 5) Guru berperan secara holistik, menganalisis kebutuhan peserta didik, dan mengatur kelompok. 6) Kegunaan alat mengajar adalah untuk membangkitkan komunikasi peserta didik yang intens.

e. Kelebihan Pendekatan Komunikatif 

Pendekatan komunikatif memiliki kelebihan yaitu: (Nurhaliza and Anwar, 2019) 1) Peserta didik lebih semangat belajar karena hari pertama belajar, langsung menggunakan bahasa asing/ disesuaikan dengan bahasa asing yang dipakai disekolah tersebut. 2) Peserta didik pasih berinteraksi, maksudnya memahami kemampuan gramatikal, strategis, sosiologi dan wacana. 3) Kondisi kelas menyenangkan dengan kegiatan interaksi antar peserta didik dengan bermacam model komunikasi dan gaya bahasa yang lumayan tinggi, menjadi sangat menyenangkan.

f. Prinsip-prinsip Pendekatan Komunikatif Menurut (Yunita and Rafael, 2022) ada tiga prinsip pendekatan komunikatif antara lain:  1) Materi ajar berpedoman pada bahasa sebagai alat berinteraksi atau berkomunikasi. 2) Konstruksi materi ajar terfokuskan pada proses pembelajaran bukan topik yang diajarkan 3) Matari pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk berinteraksi serta berkomunikasi secara natural.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google scholar        Research gate         Doi

Kamis, 14 September 2023

Perkembangan Bahasa Indonesia

Awal mula terbentuknya Bahasa Indonesia merupakan Bahasa Melayu. Ketersebaran Bahasa Melayu dikawasan Asia Tenggara menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa perantara (lingua franca) atau bahasa pergaulan (Sujinah et al., 2018). Bahasa Melayu terbagi menjadi dua jenis yaitu Bahasa Melayu Tinggi dan Bahasa Melayu Pasar. Bahasa Melayu Tinggi bersifat sulit, halus, penuh sindiran dan kurang ekspresif, sedangkan Bahasa Melayu Pasar bersifat sangat lentur, mudah dimengerti, dan ekspresif. Bahasa Melayu Pasar inilah yang akan menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang (Waraulia, A.M., 2018). 

Ada banyak bukti sejarah yang mengungkapkan bagaimana ketersebaran Bahasa Melayu, salah satunya dari peninggalan kerajaan Sriwijaya abad ke-7 masehi bahwa Bahasa Melayu Kuno digunakan sebagai bahasa kenegaraan. Bukti penggunaan Bahasa Melayu Kuno terdapat dalam empat prasasti yang ditemukan di Pulau Sumatera yaitu; 1) prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), 2) prasasti Talang Tuo berangka tahun 684 M (Palembang), 3) prasasti Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), 4) prasasti Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi), (Putrayasa, 2018). Semua prasasti bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna dengan campuran Bahasa Sanskerta. Sedangkan di Pulau Jawa ditemukannya prasasti di Jawa Tengah berangka abad ke-9 M dan prasasti Bogor berangka abad ke-10 M. Bukti lainnya penemuan keping tembaga Laguna di dekat Manila (Pulau Luzon) tahun 900 M yang merupakan milik kerajaan Sriwijaya.

Ejaan resmi Bahasa Melayu pertama kali disusun Ch. A. Van Ophuijsen dengan bantuan Moehammad Taib Soetan Ibrahim dan Nawawi Soetan Ma’moer dalam kitab Logat Melayu tahun 1801 (Putrayasa, 2018). Sebelum tahun 1928 telah melakukan pergerakan-pergerakan kebangsaan yang dikenal dengan sebutan Indonesia. Seiring berjalannya waktu maka tanggal 28 Oktober 1928 terjadi peristiwa yang melibat putra dan putri Indonesia atau lebih dikenal dengan sebutan “sumpah pemuda”, secara resmi dan diakui bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan Indonesia.

Beberapa alasan yang menguatkan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia yaitu; 1) Bahasa Melayu merupakan lingua franca, 2) penyebaran Bahasa Melayu lebih luas dibandingkan Bahasa Jawa, Sunda, Madura dan lainnya, 3) Bahasa Melayu berkrabat dengan bahasa-bahasa di nusantara, 4) Bahasa melayu memiliki sistem sederhana sehingga mudah dipelajari, 5) Adanya kerelaan dan keinsafan secara sadar dari selain Bahasa Melayu dan menerima Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, dan 6) Bahasa Melayu dapat dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti luas (Sujinah et al., 2018). Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...