Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Maret 2024

Keterampilan Membaca (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan Membaca Permulaan 

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi murid sekolah dasar kelas awla (kelas I dan kelas II). Ada beberapa pendapat yang mendefinisikan membaca permulaan, di antaranya menurut Jamaris (2015) Membaca permulaan secara umum dimulai pada kelas awal sekolah dasar, akan tetapi ada anak yang sudah melakukannya di taman kanak- kanak dan paling lambat pada waktu anak duduk di kelas II sekolah dasar. Pada masa ini, anak mulai mempelajari kosa kata dan dalam waktu yang bersamaan ia belajar membaca dan menuliskan kosa kata tersebut. Menurut Rahmawati (2017) bahwa tujuan pembelajaran membaca di Sekolah Dasar adalah “agar siswa dapat mengenal dan menguasai sistem tulisan sehingga mereka dapat membaca dengan menggunakan sistem tersebut”. Jadi tujuan membaca permulaan peserta didik dapat merubah dan melafalkan huruf-huruf menjadi bunyi yang bermakna, dan menangkap isi bacaan dengan baik dan benar. Dalam membaca juga ikut terjadi kegiatan kognitif bagi peserta didik. 

 2. Tujuan Membaca Permulaan 

Menurut Meta tujuan membaca permulaan:

a. Untuk memperkenalkan huruf dengan bunyi. 

b. Untuk mengajarkan membaca kata-kata dan kalimat sederhana. 

c. Untuk menemukan ide pokok dan kata kunci 

d. Untuk menceritakan kembali isi bacaan pendek 

3. Metode membaca permulaan 

a) Metode abjad 

b) Metode eja 

c) Metode suku kata 

d) Metode kata 

e) Metode kalimat/global 

f) Metode SAS 

4. Keterampilan Membaca Lanjutan 

Keterampilan membaca lanjutan merupakan pembelajaran membaca yang lebih menekankan kepada pemahaman membaca siswa. Beda dengan membaca permulaan, siswa hanya dituntut untuk menyuarakan isi bacaannya. Membaca lanjutan merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan, membaca lanjutan sudah menekankan pemahaman peserta didik dalam membaca walaupun terbatas. Tingkatan membaca lanjutan ini disebut dengan membaca untuk belajar (reading to learn). Membaca lanjutan merupakan tahapan membaca setelah membaca permulaan, jadi seorang anak yang sudah mencapai pada tahapan membaca lanjutan tidak hanya sekedar membaca saja, tetapi dituntut untuk memahami isi bacaan yang terkandung dalam buku. 

5. Tujuan Membaca Lanjutan 

a. Mampu membaca dengan lancer dan dapat menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri. 

b. Mampu membaca dengan lancer dan memahami isinya. 

c. Mampu mencari kata-kata yang sukar dengan menggunakan kamus atau sumber lainnya. 

d. Mampu memahami dan menyerap cerita, puisi dan drama yang berkesan serta memberi tanggapan. 

e. Mampu membaca teks bacaan dan menyimpulkan isinya dengan kata-kata sendiri. 

f. Mampu membaca teks bacaan secara cepat dan dapat mencatat gagasan-gagasan utama. 

g. Mampu membaca teks bacaan serta dapat mengutarakan pendapat dan tanggapan mengenai isinya 

h. Mampu membaca sekaligus suatu teks bacaan dan menemukan garis besar isinya 

6. Jenis-Jenis Membaca Lanjutan 

a. Membaca pemahaman 

b. Membaca memindai 

c. Membaca sekilas 

d. Membaca intensif 

e. Membaca nyaring 

f. Membaca dalam hati

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Schoolar        Research Gate      Doi

Selasa, 05 September 2023

Asesmen Pembelajaran Literasi Anak SD

Asesmen pembelajaran literasi di sini ada dua model. Secara umum, asemen literasi mengacu AKM yang bentuknya variasi, yaitu meliputi: 1. Pilihan ganda, 2. Pilihan ganda kompleks, 3. Menjodohkan, 4. Isian, 5. Esai atau uraian Asesmen.  Pembelajaran literasi anak SD dalam buku ini merupakan asesmen pembelajaran pada setiap pembelajaran yang berdirisendiri dalam satu pembelajaran literasi. Asesmen pembelajaran literasi di luar AKM yang dimaksud di buku ini tidak sekadar mengukur hasil belajar siswa, namun juga menjadi umpan balik pada mutu, proses pembelajaran dengan pelibatan pendidikan dan peserta didik dalam rangka merefleksikan proses pembelajaran. Maka asesmen pembelajaran literasi dibutuhkan di awal pembelajaran berbentuk asesmen diagnosis dengan kontinyu dalam proses belajar. Dalam hal ini, asesmen formatif harus ditekankan daripada asesmen sumatif. Asesmen formatif dapat berbentuk kompilasi karya peserta didik dalam proses pembelajaran, catatan pengamatan, dan lainnya. Maka asesmen formatif dan sumatif sama-sama dibutuhkan dalam pembelajaran literasi anak SD di dan juga di semua lintas mata pelajaran. Selengkapnya.....

Minggu, 03 September 2023

Modul Ajar Literasi Sekolah Dasar

Dalam Kurikulum Merdeka, rencana pembelajaran atau modul ajar yang dikembangkan harus memenuhi kriteria sebagaimana yang telah dikembangkan di Sekolah Penggerak atau Program Organisasi Penggerak. Pertama adalah esensial, yaitu berasal dari desain tiap mapel lewat pengalaman belajar yang empirik dan multidisiplin. Kedua, menarik, bermakna dan menantang, artinya modul ajar harus menumbuhkembangkan minat siswa untuk giat belajar dan aktif dalam pembelajaran. Ketiga, kompatibel dan kontekstual, artinya modul ajar yang didesain harus memiliki relevansi dengan pengetahuan dan pengalaman siswa sebelumnya, dan tidak terbatasruang dan waktu siswa berada. Keempat, berkelanjutan, yaitu modul ajar harus saling terkait alur pembelajaran relevan dengan fase belajar siswa (Kemdikbud, 2020b; Kemdikbud, 2021c). Di dalam Kurikulum Merdeka khususnya yang telah diterapkan di Sekolah Penggerak dan POP telah umum disebut modul ajar bukan rencana pembelajaran.

Secara umum, komponen modul ajar minimal terdiri atas tiga aspek, yaitu informasi umum, kompetensi inti, dan lampiran. Jika dijabarkan secara rinci sebagai berikut:

A. Informasi Umum ; 1. Identitas Penulis 2. Kompetensi Awal 3. Profil Pelajar Pancasila 4. Prasarana dan Sarana 5. Target Peserta Didik 6. Model Pembelajaran yang Diterapkan 

B. Kompetensi Inti ; 1. Tujuan Pembelajaran 2. Asesmen 3. Pemahaman Bermakna 4. Pertanyaan Pemantik 5. Kegiatan Pembelajaran 6. Refleksi Peserta didik dan Pendidik 

C. Lampiran; 1. Lembar kerja peserta didik 2. Pengayaan dan remedial 3. Bahan bacaan pendidik dan peserta didik 4. Glosarium 5. Daftar Pustaka

Sedangkan tahap-tahap atau alur penyusunan modul ajar dapat dilakukan dengan tahapan yaitu; 1. Analisis kondisi dan kebutuhan siswa, pendidikan, dan SD. 2. Asesmen diagnostik pada kondisi dan kebutuhan siswa. 3. Identifikasi dan penentuan dimensi Profil Pelajar Pancasila yang hendak dicapai. 4. Pemilihan tujuan pembelajaran dari Alur Tahap Pembelajaran (ATP) sesuai Capaian Pembelajaran yang dikembangkan untuk dijadikan modul ajar. 5. Perencanaan jenis, teknik, dan instrumen asesmen. 6. Penyusunan modul ajar sesuai komponen-komponen yang telah disepakati. 7. Guru menentukan komponen esensial berdasarkan kebutuhan pembelajaran. 8. Elaborasi kegiatan pembelajaran berdasarkan komponen esensial. 9. Modul siap diterapkan. 10. Evaluasi dan pengembangan modul. Selengkapnya.....

Kamis, 31 Agustus 2023

Konsep Pembelajaran Literasi Anak SD

Pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka menjadi penting untuk menjawab tantangan era digital saat ini. Selain penguatan numerasi dan sains, pemerintah melalui Kemendikbud Ristek fokus juga terhadap literasi. Artinya literasi menjadi penting dihadirkan tidak sekadar di dalam sebuah gerakan namun juga di dalam kurikulum dan pembelajaran, baik yang integral dengan mata pelajaran tertentu maupun yang berdiri sendiri untuk penguatan literasi anak SD.

Dalam konteks pedagogi, pembelajaran literasi merupakan pembelajaran keaksaraan pada anak (Wray, 1999:53). Dalam perkembangannya, pembelajaran literasi tidak hanya mengajarkan anak dalam aspek kognitif (belajar membaca) dan motorik (belajar menulis dengan pensil), namun dikuatkan pada keterampilan mencari, mengolah, dan memanfaatkan informasi dari internet, teknologi digital, dan kemampuan mengoperasikan dengan bijak Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) (Grönlund & Genlott, 2013). Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran literasi merupakan proses belajar yang holistik dari peranti manual menuju piranti digital yang dikenalkan pada anak. Seiring berkembangnya zaman, literasi di dalamnya mencakup tahapan-tahapan di dalam pembelajaran yang menjadikan peserta didik menumbuhkembangkan potensi dan pengetahuannya. Literasi di era Revolusi Industri 4.0 tidak sekadar literasi baca-tulis-berhitung yang biasa disebut literasi lama. Namun di dalam pembelajaran, anak-anak SD harus dikuatkan dalam aspek literasi baru yaitu literasi data-teknologi-manusia (Apriani, 2016:59; Stegman, 2014:31). 

Pembelajaran literasi dalam konteks ini harus menyesuaikan dari penguatan literasi lama menuju penguatan literasi baru pada anak. Pembelajaran literasi merupakan pengembangan keterampilan literasi individu di sekolah formal meliputi membaca, menulis, dan teknologi (Deshler et. al., 2012). Pembelajaran literasi SD adalah kegiatan untuk mengembangkan kemampuan membaca pada siswa SD (Aziz et. al, 2021:243). Pembelajaran literasi di SD merupakan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa dengan berbagai macam teks. Maka dibutuhkan model, strategi dan metode pembelajaran yang relevan untuk membelajarkan literasi pada anak SD termasuk berbasis multiliterasi, integrasi, dan berdiferensiasi (Abidin, 2017:156). Konsep ini menegaskan bahwa pembelajaran literasi tidak sekadar pada aspek membaca dan menulis namun juga penguatan kemampuan literasi digital yang sesuai dengan perkembangan zaman. 

Untuk meningkatkan kemampuan adaptasi anak di era disrupsi, literasi digital harus diintegrasikan di dalam pembelajaran melalui pemanfaatan media digital, gambar, pembelajaran kontekstual, untuk meningkatkan kompetensi anak dalam penguasaan informasi, berpikir komputasi, melek media digital, dan penguasaan kompetensi TIK (Rusydiyah & Purwati, 2020:305). Pembelajaran literasi berbasis media digital membentuk budaya baru yang mengubah cara pandang, sistem sosial, konsep, dan nilai yang ada di dalam pendidikan (Rivoltella, 2008:ix). Oleh karena itu, dibutuhkan pembelajaran literasi yang menyesuaikan zaman namun tidak mencerabut sistem nilai dan karakter yang ada di dalam pendidikan. 

Literasi tidak selamanya berkorelasi dengan satu rumpun mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, namun hakikatnya literasi integral pada semua mata pelajaran karena sesuai konsep UNESCO di atas, literasi sangat berkaitan dengan proses belajar dari lintas disiplin ilmu. Pembelajaran literasi lintas mata pelajaran merupakan proses pembelajaran yang dilaksanakan pendidik dengan tujuan menumbuhkembangkan pengetahuan anak. Prosesnya dimulai dari tahap persiapan, merancang pembelajaran, pelaksanaan dan evaluasi proyek literasi sesuai perkembangan dan usia anak (Dewayani et. al., 2021:21). Hakikat pembelajaran literasi berdasarkan konsep ini tidak hanya di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia namun juga integral di dalam berbagai lintas disiplin ilmu. 

Merujuk Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 008/H/KR/2022, disebutkan bahwa pembelajaran literasi untuk penguatan kemampuan literasi bersumber dari fondasi keterampilan anak dalam bidang bahasa, sastra, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Secara konseptual, model dalam pembelajaran literasi dalam Kurikulum Merdeka mengacu model “pedagogi genre” dengan empat tahapan, yaitu penjelasan dalam membangun konteks, pemodelan, pembimbingan, dan pemandirian. 

Dari kajian di atas, secara substansial dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran literasi anak SD merupakan pembelajaran yang direncanakan pendidik dalam aspek membaca, menulis, berhitung, dan teknologi media digital atau dalam konteksliterasi lama dan literasi baru. Pembelajaran literasi anak SD dapat diterapkan di dalam pembelajaran yang integral pada mata pelajaran tertentu seperti Bahasa Indonesia dan berdiri sendiri sebagai satu kesatuan di dalam program pembelajaran di kelas. 

Pembelajaran literasi anak SD secara teknis dilaksanakan dengan mengarusutamakan kemampuan akses, eksplor, identifikasi, proses, berhitung, menanyakan, memahani, menerapkan, intrepretasi, ekspresi, mengomunikasikan, dan menciptakan melalui multiinformasi, multimedia, multimodal termasuk buku teks, buku nonteks, dan sumber digital yang lain. Pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka bukan menambahkan materi baru, namun pembelajaran literasi yang menyasar pada dimensi bahasa, sastra, sains, TIK, budaya, kewarganegaraan, teknologi, dan rekayas menjadi tujuan Kurikulum Merdeka. Hal ini menunjukkan bahwa setiap mata pelajaran di SD dapat diintegrasikan untuk berorientasi kepada kemampuan literasi anak sesuai kontennya masing-masing. Selengkapnya.....

Senin, 28 Agustus 2023

Platform Pembelajaran

Kurikulum merdeka menggunakan desain berbasis projek, selain itu kurikulum merdeka memanfaatkan perkembangan teknologi internet. Maka pengembangan platform-platform pembelajaran banyak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan belajarsiswa. Adapun secara rinci platform pembelajaran sebagai berikut:

1. Merdeka Mengajar

Platform merdeka mengajar hasil pengembangan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan. Platform merdeka mengajar dapat digunakan melalui website https://guru.kemdikbud.go.id/ dan berbasis aplikasi android dapat didownload melalui play store. Untuk mengakses website atau platform secara penuh harus menggunakan akun google dengan domain belajar.id (akun pembelajaran) atau madrasah.kemenag.go.id (akun madrasah). 

Platform medeka mengajar menyediakan dua klasifikasi produk yaitu produk pengembangan guru dan kegiatan belajar mengajar. Produk pengembangan guru terdiri atas video inspirasi, pelatihan mandiri dan bukti karya saya. Sedangkan produk kegiatan belajar mengajar terdiri atas assesmen murid dan perangkat ajar. Platform merdeka mengajar adalah langkah menstransformasi pendidikan berbasis digital (Kemdikbud, 2022). 

Jadi satu aplikasi dengan multifungsi untuk membantu guru bertumbuh kembang dan memajukan pendidikan Indonesia. Platform merdeka mengajar bersifat gratis dan dapat digunakan guru seluruh Indonesia. Platform merdeka membantu guru mendapatkan inspirasi dan referensi untuk mengaplikasikan kurikulum merdeka (Kemendikbudristek, 2022)

2. Quizizz

Platform quizizz merupakan sarana pendidikan yang pertama kali dikembangkan di India tepatnya berpusat di Bengaluru. Aplikasi berbasis gamefikasi untuk kegiatan pembelajaran yang dapat didesain sendiri guru untuk menyampaikan materi pada siswa. Guru dapat membuat kuis-kuis yang akan menarik perhatian siswa untuk belajar. Kuis yang didesain akan secara otomatis memberikan nilai dan peringkat berdasarkan jumlah peserta kuis.

Platform quizizz yang digunakan untuk membantu kerja guru dalam mengajar masih mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kekurangan quizizz yaitu bergantung dengan jaringan internet (kuat-lemahnya sinyal), tidak bisa merevisi jawaban, dan bergantung perangkat hanphone dan komputer yang digunakan. Sedangkan kelebihannya adalah belajar menjadi menyenangkan dan efektif (Suharsono & Budiarto, 2018). 

Tren menggunakan quizizz dalam kegiatan pembelajaran menjadi pertanyaan, seberapa efektif dalam membantu guru dalam mengajar? Quizizz efektif untuk digunakan dalam belajar dengan indikator perhatian, kemandirian, keaktifan, ketelitian dan ketenangan siswa dalam mengerjakan kuis (Salsabila et al., 2020). Jika keefektifan quizizz ditinjau dari perkembangan kognitif siswa maka quizizz dapat dikatakan efektif untuk digunakan belajar (Hidayati & Aslam, 2021).

3. Kahoots

Platform kahoots merupakan aplikasi untuk belajarsambil bermain. Kahoots hadir sejak 2012 hasil proyek bersama Norwegian university of science and technology. Kahoots dapat gunakan untuk kuis dan survei. Platform kahoots membantu untuk proses belajar dan mengajar. Memudahkan memahami materi yang dipelajari. Platform kahoots dapat menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan (Nada, 2020). Selain itu Kahoot dapat meningkatkan motivasi untuk belajar (Muzayanati, A., Maemonah, M., & Puspitasari, 2022).

4.  Google form

Google suite mempunyai beberapa bagian salah satunya google form. Platform ini selama pandemi Covid-19 banyak digunakan guru sekolahan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Setiap pengguna domain gmail secara otomatis dapat menggunakan google form secara gratis. Adapun langkah-langkah membuat google form sebagai berikut: a) Aktifkan email google; pilih Sembilan titik-titik sebelah profil. b) Pilih menu Drive; pilih tombol new. c) Pilih more; pilih google form; pilih blank form. d) Google form tampil; isi judul form dan isikan pertanyaan untuk siswa. e) Bagikan link google form pada siswa Google form digunakan dalam pembelajaran untuk melakukan evaluasi pelajaran pada siswa. Google form efektif digunakan sebagai sarana untuk evaluasi pelajaran (Nyoman & Aryanti, 2021). Selengkapnya.....

Minggu, 23 Juli 2023

Model Pembelajaran Kurikulum Merdeka

Model pembelajaran ada banyak pilihan bergantung kreativitas dan keterampilan guru dalam mengaplikasikannya di sekolah dasar. Kurikulum merdeka lebih menekankan model pelajaran yang berbasis projek. Adapun model-model pelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran menggunakan kurikulum merdeka seperti; model pedagogi genre, problem-based learning (PBL), project-based learning (PjBL), teaching at the right level (TaRL), dan tematik integrative. 

Model pembelajaran berbasis projek bersifat student center atau kegiatan belajar yang menuntut siswa yang banyak belajar dan aktif. Belajar yang menuntut siswa memecahkan permasalahan dengan ilmiah. Ada beberapa pinsip yang menjadi pedoman dalam melaksanakan pembelajaran berbasis projek yakni; 1) Holistik, 2) kontekstual, 3) berpusat pada siswa, 4) eksploratif (Kemendikbudristek, 2021b). Selengkapnya.....


Selasa, 18 Juli 2023

Modul Ajar Kurikulum Merdeka

Kurikulum merdeka atau kurikulum 2022 memunculkan istilah-istilah yang baru dalam pembelajaran. Namun, sebenarnya konteks isi merupakan penyempurnaan dari kurikulum-kurikulum sebelumnya. Modul ajar atau rencana pelaksanaan pembelajaran plus adalah rangkaian yang butuh dipersiapkan guru untuk mengajar. Setidaknya modul ajar memuat tujuan pembelajaran, metode pembelajaran dan metode penilaian pembelajaran (Kemendikbud, 2022). Format modul ajar beraneka ragam. 

Modul ajar merupakan kreativitas guru namun pengembangan model modul ajar berpatokan pada kurikulum yang berlaku. Secara sederhana komponen utama terdiri atas judul materi pelajaran, waktu pelaksanaan, cara melaksanakan pelajaran, evaluasi kegiatan pelajaran. Modul ajar tidak ada format baku hal yang terpenting adalah modul ajar harus efektif, efisien dan berorientasi belajar siswa (Kemendikbud, 2022). Modul ajar yang gunakan untuk mengajar adalah modul ajar yang memudahkan untuk mengajar dan mencapai tujuan pembelajaran. Selengkapnya.....


 

Senin, 17 Juli 2023

Perencanaan Pembelajaran Kurikulum Merdeka

Kegiatan belajar dan mengajar membutuhkan proses dan tahapantahapan yang dilakukan secara terencana. Perencanaan pembelajaran menjadi panduan dalam melaksanakan kegiatan mengajar. Seorang guru profesional akan mengajar dengan mempertimbangkan persiapan mengajar, proses mengajar dan hasil yang akan dicapai dalam belajar. Perencanaan pembelajaran diperlukan karena setiap pembelajaran diperlukan perbaikan (Afandi, 2011).

Perencanaan pembelajaran bukan sekedar rencana biasa namun membutuhkan realisasi nyata untuk memenuhi sistem belajar yang terstandar. Perencanaan pembelajaran akan memandu proses berlangsungnya pelajaran di dalam kelas dan di luar kelas. Ada empat unsur utama yang harus ada dalam perencanaan pembelajaran yaitu; 1) tujuan yang akan dicapai, 2) strategi yang digunakan dalam mencapai tujuan, 3) dukungan sumber daya, dan 4) realisasi setiap keputusan (Ananda, 2019). 

Realisasi belajar dan mengajar dilaksanakan secara prosedural, realistis dan sistematis. Pertimbangan dan keputusan memberikan perlakuan terhadap siswa dalam prosesnya dan orientasi hasil belajar. Belajar dan mengajar yang direncanakan jauh lebih baik dibandingkan dengan belajar dan mengajar yang dilakukan spontanitas. Pada akhirnya perencanaan pembelajaran dapat disebut sebagai sebuah pendekatan sistematis untuk memperbaiki pembelajaran (Nur, 2017). Dalam rangka memperbaiki kualitas pendidikan maka perencanaan pembelajaran selalu dilakukan perbaikan dan pengembangan. Perencanaan pembelajaran disesuaikan berdasarkan kurikulum yang sedang berlangsung sesuai masanya.

Pada kurikulum 2013 atau (K13) juga dilakukan perbaikan untuk penyempurnaan sehingga muncul K13 edisi revisi di tahun 2014 dan 2018. Kurikulum 2013 kemudian dikembangkan lagi menjadi kurikulum merdeka tahun 2022. Perbaikan-perbaikan kurikulum sebagai dasar utama perbaikan perencanaan pembelajaran. Perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia mempunyai karakteristik dan fokus tersendiri dari setiap kurikulum yang disetujui menteri pendidikan. Fokus setiap kurikulum adalah tujuan yang akan dicapai dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Kesan ganti menteri maka ganti kebijakan dan akan mengganti kurikulum. Hal ini sebetulnya bukan menjadi poin penting dalam perbaikan kurikulum. Namun, isi dan konten kurikulum adalah hal yang paling penting untuk terus dilakukan pengembangan dan pengkajian sehingga tren serta kebutuhan pendidikan masyarakat Indonesia dapat di akomodir semuanya. Lingkungan pendidikan adalah lingkungan pembelajar, bertumbuh dan berkembang untuk menyelesaikan permasalahan serta memberi solusi bagi negeri. Apapun nama kurikulumnya bukan persoalan yang penting isinya. Masa depan generasi Indonesia salah satu penentunya adalah kurikulum pendidikan. Kurikulum merupakan peta jalannya pendidikan, seperti apa tujuan yang akan dicapai, bagaimana cara menjalankannya dan untuk siapa kurikulum dibuat. Semua harus bergerak mensukseskan pendidikan. Selengkapnya.....

 

Minggu, 16 Juli 2023

PERANGKAT PEMBELAJARAN INOVATIF BAHASA DAN SASTRA SD KURIKULUM MERDEKA

Perangkat pembelajaran merupakan alat yang digunakan untuk mengoptimalkan ketercapaian pembelajaran. Perangkat pembelajaran disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan proses belajar dan mengajar. Tuntutan zaman yang semakin canggih dan melesat maju dengan perkembangan teknologi mengharuskan dilakukan inovasiinovasi perangkat pembelajaran. Inovasi dilakukan merupakan upaya peningkatan pemikiran, pengembangan pembelajaran, dan pelaksanaan kurikulum (Yunani, 2009). 

Inovasi berkembang disemua aspek kegiatan belajar. Pembelajaran yang semula hanya mayoritas dilakukan dengan cara pertemuan langsung (luring) berkembang menjadi pembelajaran tatap muka dengan menggunakan media internet berbasis aplikasi atau lebih lebih dikenal dengan istilah pembelajaran daring. Adapun aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran seperti zoom, microsoft teams, google meet, dan sebagainya. Selain aplikasi yang digunakan inovasi pembelajaran juga dilakukan pada sumber belajar, cara belajar dan cara mengajar. Sumber belajar tersedia sangat banyak misalnya dari google, youtube, voa learning, buddytalk, dan lain-lain. Cara belajar dapat disesuaikan dengan tipe orang yang belajar dengan cara visual, audio serta audio visual. 

Sementara untuk cara mengajar sudah sangat bervariatif. Mengajar menggunakan video, channel youtube, live streaming facebook dan instagram, serta podcast. Inovasi perangkat pembelajaran menggunakan podcast menjadi solusi untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ), biaya murah dan mudah digunakan guru (Laila, 2020). Pembelajaran luring berinovasi menjadi daring kemudian berkembang lagi menjadi pembelajaran gabungan keduanya (blended learning). Sistem belajar yang menggabungkan teknologi dengan belajar tatap muka langsung memacu siswa untuk terus berkembang dan memberikan kemudahan dalam memahami dan menelaah materi-materi pelajaran. Blended learning berdampak efektif dalam hasil pembelajaran online dan offline (Abdullah, 2018). Selengkapnya.....

Minggu, 09 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Membaca dan Memirsa

Membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Membaca dimaknai sebagai proses yang dilaksanakan oleh seorang pembaca dengan tujuan mendapatkan informasi dari bacaan dan mampu memahami pola bahasa yang ditulis (Rambe & Widiyarti, 2018). Membaca sebagai kegiatan mengucapkan bunyi bahasa darisuatu tulisan yang memiliki makna tertentu. Fatmasari & Fitriyah (2018) menjelaskan bahwa membaca yakni memahami makna isi bahan bacaan yang tersirat maupun tersurat. Dalam hal ini, kegiatan membaca membutuhkan pemahaman agar apa yang disampaikan penulis dapat dipahami oleh pembaca.

Membaca juga didefinisikan sebagai kemampuan melek huruf dalam mengenali pola bunyi bahasa dan dapat mengucapkannya dengan benar (Yarni & Kaban, 2015). Siswa tidak hanya mampu membaca tulisan saja, namun dapat mengucapkannya dengan benar. Beberapa pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa membaca adalah kemampuan seseorang dalam mengenali dan mengucapkan pola bunyi tulisan bahan bacaan serta memahami makna tulisan tersebut. Memirsa adalah keterampilan yang baru muncul pada capaian pembelajaran di kurikulum merdeka. Keterampilan memirsa dapat terjadi dikarenakan perubahan teknologi yang pesat sehingga siswa harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Huri et al. (2021) menjelaskan bahwa memirsa adalah proses kegiatan menonton dan memaknai media visualseperti film, televisi, video dsb. Keterampilan ini tidak hanya sekedar melihat atau menonton akan tetapi juga mampu memaknai isi media yang ditayangkan tersebut.

Keterampilan memirsa diartikan sebagai keterampilan yang menggabungkan literasi visual dan memirsa kritis (Mulyadi & Wikanengsih, 2022). Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memaknai isi tayangan. Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disintesiskan bahwa memirsa adalah kompetensi literasi visual siswa yang mencakup kegiatan memperhatikan dan memahami media visual yang diberikan oleh guru pada siswa. Keterampilan membaca wajib dikuasai setiap siswa dalam proses pembelajaran. Melalui membaca pengetahuan siswa akan bertambah dan dapat meningkatkan kualitas siswa. Hal ini dikarenakan melalui membaca siswa mendapatkan informasi dari materi pembelajaran yang diajarkan guru dan dapat meningkatkan hasil belajar. Jika siswa bisa membaca dengan baik akan mendorong motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Selain itu, setiap faktor kehidupan siswa juga mengintegrasikan kegiatan membaca. Sehingga membaca akan mempermudah siswa dalam menjalani kegiatan sehari-hari dan memberikan banyak manfaat kepadanya. Sedangkan pentingnya keterampilan memirsa bagi siswa adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memahami isi media visual (Huri et al., 2021).

Pada saat ini komunikasi tidak hanya mendengarkan saja akan tetapi disertai aspek visual, melalui keterampilan memirsa ini maka siswa dapat memperoleh berbagai informasi baru dan belajar menganalisis teks visual dan multimedia. Membaca tidak hanya mengenali bentuk dan pola huruf, akan tetapi juga memahami maknanya. Proses membaca siswa sekolah dasar mencakup dua tahap yakni membaca permulaan dan membaca pemahaman. Membaca permulaan dipahami sebagai tahap awal dalam kegiatan membaca di sekolah dasar (Muammar, 2020). Tahap membaca ini diperuntukkan untuk siswa kelas rendah dengan merujuk pada kemampuan siswa dalam mengubah dan mengucapkan tulisan mejadi bunyi yang memiliki makna. Membaca permulaan difokuskan pada pengenalan huruf, merangkai huruf menjadi sebuah kata, ketepatan mengucapkan huruf, kejelasan dan kelancaran suara dalam membaca tulisan. Membaca pemahaman diartikan sebagai serangkaian kegiatan dengan tujuan memahami konteks bacaan (Khazanah & Cahyani, 2016). Proses membaca tahap ini melibatkan aspek mental dan kognitif siswa dalam memaknai dan menganalisis bahan bacaan. Kedua tahapan membaca ini penting dikuasai siswa karena siswa sekolah dasar tidak langsung bisa membaca secara lancar akan tetapi ada proses tahapannya dari yang mudah hingga sulit. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka ia dapat meningkatkan kemampuan membaca pada level pemahaman.

Faktor psikologis berkaitan dengan jenis kelamin dan kesehatan fisik siswa. Aspek fisik seperti pendengaran, penglihatan dan kemampuan berbicara. Siswa yang memiliki kekurangan atau kelainan dalam aspek fisik tersebut maka akan berpengaruh terhadap keterampilan membaca. Faktor intelektual berhubungan dengan tingkat intelegensi yang dimiliki siswa. Kemampuan berpikir siswa lebih berpengaruh terhadap membaca pemahaman. Karena membaca pemahaman membutuhkan kemampuan berpikir. Faktor lingkungan yakni lingkungan sekolah dan rumah. Lingkungan yang mendukung akan mendorong keterampilan membaca siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama guru dan orang tua agar keterampilan membaca dapat dicapai dengan baik. Faktor psikologis berhubungan dengan motivasi dan minat siswa dalam membaca. Siswa yang memiliki motivasi tinggi akan menunjukkan minat baca yang tinggi. Tanpa perintah dan paksaan dari orang tua dan guru siswa akan aktif membaca secara mandiri. 

Capaian pembelajaran keterampilan membaca dan memirsa pada kurikulum merdeka dibagi menjadi fase A, fase B, dan fase C. Capaian pembelajaran membaca fase A (kelas 1-2) yakni 1) siswa memiliki minat membaca atau memirsa; 2) siswa dapat membaca kata dengan fasih; 3) siswa dapat memahami informasi bacaan dan tayangan; dan 4) siswa dapat memahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan. Fase B (kelas 3-4) mencakup capaian pembelajaran meliputi: 1) siswa dapat memahami makna pesan dan informasi pada media cetak atau elektronik; 2) siswa dapat membaca kata-kata baru dengan fasih; 3) siswa mampu memahami ide pokok dan pendukung pada teks informatif; 4) siswa mampu memaparkan tokoh cerita pada teks narasi; dan 5) siswa dapat dapat mamahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan sesuai dengan topik. Fase C (kelas 5-6) memiliki capaian pembelajaran membaca yakni: 1)siswa dapat membaca kata-kata yang memiliki berbagai pola kombinasi huruf secara fasih; 2) siswa dapat memahami kosakata baru dari makna denotatif, konotatif, literal, dan kiasan; dan 3)siswa dapat menemukan ide pokok suatu teks deskripsi, eksposisi dan narasiserta nilai yang terkandung dalam suatu prosa, pantun dan puisi. Masing-masing fase memiliki tingkat kognitif yang berbeda. Berdasarkan capaian pembelajaran tersebut, maka dapat dianalisis bahwa pada fase A lebih fokus pada kefasihan siswa dalam membaca dan pemahaman siswa mengenai kosakata baru pada bacaan dan tayangan. Hal ini berkaitan dengan membaca permulaan yang fokus pada kelancaran siswa dalam membaca. Fase B dan fase C siswa sudah difokuskan dalam membaca kosakata baru dengan fasih dan memahami isi bacaan secara keseluruhan. Pada keterampilan memirsa siswa lebih difokuskan pada kemampuan memahami kosakata baru dari tayangan yang ditonton. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka tahapan selanjutnya adalah membaca pemahaman. Rambe & Widiyarti (2018) menjelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman yakni tahap prabaca, membaca dan pasca baca. Pertama, tahap prabaca untuk memotivasisiswa dalam membaca. Tahap ini penting dilakukan agar siswa terarah dan dapat menggali kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan dengan baik. Kegiatan ini meliputi: 1) memberikan gambaran awal bacaan; 2) memberikan petunjuk; 3) memberikan peta konsep terkait kosakata dalam bacaan; 4) sebelum membaca, siswa menulis pengalaman yang berkaitan dengan topik bacaan; dan 5) siswa diberikan gambaran situasi dalam cerita. Kedua, tahap membaca dapat dilakukan dengan berbagai metode membaca meliputi: 1) menentukan ide pokok; 2) identifikasi kata kunci; 3) mencuplik bacaan; 4) menjaring data; 5) mengisi bacaan yang rumpang; 6) memberi tanggapan pada bacaan; 7) menggambar peta konsep bacaan; 8) diskusi terkait topik bacaan; 9) mencari kata-kata sulit dan sebagainya. Ketiga, tahap pasca baca yakni untuk mengetahui ukuran kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan. Siswa dapat diberi tugas mengembangkan materi bacaan, memberikan beberapa pertanyaan atau menceritakan kembali isi bacaan.

Keterampilan memirsa adalah keterampilan berbahasa tambahan yang berkaitan dengan teknologi. Guru dituntut untuk melek teknologi dalam rangka memenuhi capaian pembelajaran memirsa. Pemilihan tayangan media visual yang diberikan kepada siswa menentukan tingkat keberhasilannya. Oleh karena itu, dalam memilih media visual guru harus memahami kebutuhan dan karakteristik siswa. Tayangan yang diberikan disesuaikan dengan tingkat usia dan kognitifnya. Guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran harus memahami posisinya. Berbagai hambatan dalam kegiatan membaca sering terjadi yang mengakibatkan rendahnya keterampilan membaca siswa. Antisipasi yang dapat dilakukan guru yakni meliputi: 1) mendalami fungsinya dalam kegiatan pembelajaran membaca; 2) mengerti prinsip membaca; 3) mengetahui tahapan membaca; 4) mengetahui strategi membaca; 5) dapat mengimplementasikan tahapan dan strategi membaca dengan baik; 6) mengetahui konsep penilaian membaca; dan 7) mengukur kemampuan membaca siswa secara periodik (Rambe & Widiyarti, 2018). Sebelum mengajarkan pembelajaran membaca, guru harus memahami dahulu seluruh konsep membaca permulaan dan pemahaman. Selengkapnya.....

Jumat, 23 Juni 2023

Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra dalam Praktik Kelas, Desain Kurikulum, dan Pendidikan Guru

Pembelajaran bahasa dan sastra anak telah banyak muncul di lakukan penyelidikan dua dekade terakhir. Seperti yang dijelaskan oleh Harris dan Grenfell, strategi pembelajaran adalah keterampilan, taktik, dan pendekatan yang diambil dari pembelajaran bahasa (Harris, V., & Grenfell, 2014). Pengajaran bahasa dan sastra di jenjang sekolah dasar diwajibkan ini terjadi disebagian besar negara uni Eropa (European Commission, 2008); (European Commission, 2008). Bahasa dasar wajib dengan kurikulum nasional pada sekolah dasar (QCDA, n.d.), tetapi langkah ini baru-baru diterapkan oleh pemerintah. Hasil dari penelitian pembelajaran bahasa dasar menyebutkan bahwa dapat meningkatkan harga diri dari anakanak tersebut, meningkatkan motivasi dan antusias para pelajar untuk mengikuti pembelajaran bahasa dan berkontribusi pada perkembangan sikap yang positif terhadap kebudayaan lain (Blondin, C., M. Candelier, P. Edelenbos, R. Johnstone, A. Kubanek-German & Taeschner, 1998); (Kubanek-German, 1998); (Naysmith, 1999); (Pufahl, I., N. Rhodes, 2000). Para peneliti yang mendalami tentang bilingualisme sudah menyebutkan bahwa peningkatan kesadaran metalinguistik dan metakognitif sebagai keuntungan tambahan (Baker, 2006); (Cummins, 1976); (Hamers, J.F., 1989). Kesadaran atas metakognitif mendorong pengembangan strategi pembelajaran bahasa dan sastra, pada akhirnya potensi untuk meningkatkan kemampuan, pengaturan diri dan pembelajaran secara mandiri. Meskipun strategi pembelajaran memainkan peran yang sangat penting dalam pembelajaran, instruksi dari strategi sendiri bukan merupakan fitur yang umum dari pengajaran di kelas (Beckman, 2002). Lebih lanjut kurikulum mengusulkan strategi sebagai salah satu bagiannya. Banyak instruksi strategi untuk pelajar muda dan dewasa. Banyak peneliti yang menjelaskan bahwasanya strategi pada anak-anak yang lebih muda dimulai dari aktivitas yang bersifat spesifik seperti tugas yang nantinya berkembang menjadi keterampilan yang lebih kompleks dan fleksibel dan dapat digeneralisasikan (Brown, A.L., J.D. Bransford, R.A. Ferrara, 1983).


Praktik dan Strategi 

Untuk mengukur output siswa, guru menggunakan suatu pendekatan dalam pengajaran bahasa dan sastra. Selain hal itu, mulai keterkaitan program, guru akan menyampaikan pengajaran secara pragmatis kepada siswa yang mengarah pada output yang lebih produktif. Program pengajaran yang dapat digunakan untuk menggabungkan penggunaan pengajaran bahasa dan sastra yaitu program pengajaran bilingual dan multibahasa yang digunakan di ruang kelas (Adrian Abarquez, 2021). Penggunaan bilingual dan multilingualisme dalam pengajaran bahasa dan sastra, yang mana bilingual fokus pada bahasa pertama dan kedua yang telah peserta didik pelajari di ruang kelas. Sedangkan multilingualisme, satu bahasa tambahan disebutkan, termasuk bahasa ibu. Pendekatan semacam ini dapat digunakan untuk menghilangkan stres para siswa atas pemerolehan bahasa target. OBE (Outcomes-Based Education) merupakan program dari Departemen Pendidikan, dimana program ini memungkinkan para siswa untuk menggali hasil yang lebih realistis berdasarkan pengetahuan tentang topik yang diajarkan oleh guru. Keefektifan pelaksanaan OBE sangat bergantung pada pendidik. Dikarenakan kesadaran kompetitif dan pengetahuan OBE sangat penting. Menurut Kilen, OBE dapat memberikan kontribusi pada prestasi belajarsiswa dikarenakan memotivasi instruktur untuk dapat mempersiapkan dirisecara maksimal (Killen, 2000). Menurut Ramoroko, karakteristik dari guru yang menggunakan OBE dengan cara yang memungkinkan mereka untuk menunjukkan kontrol atas proses dan pendekatan tersebut (Ramoroka, 2017). Pendekatan tersebut berusaha untuk menciptakan aktivitasinteraktif antara seorang guru dan siswa melalui alat atau media yang dipilih oleh instruktur. Seorang guru dapat melakukan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai kegiatan dan materi yang telah dihasilkannya. Selanjutnya salah satu metode pelaksanaan pembelajaran komunikatif adalah melalui penggunaan media. Menurut Lynch, media dapat memaksimalkan jumlah partisipasi dalam pendidikan. Artinya, penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar dapat sangat membantu seorang guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang komunikatif dan efektif (Lynch, 2008). Menurut Furnhan dkk,siswa merasa lebih terlibat dan berhasil secara akademis menggunakan media. Penggunaan media di dalam kelas diperkirakan akan memudahkan seorang guru dalam menyampaikan perintah dan informasi pembelajaran kepada siswanya (Furnham, A., & Chamorro-Premuzic, 2005). Verner menyebutkan dalam mengajar sastra, selalu saja dimulai dari mana siswa berasal. Memicu minat siswa yang melibatkan mereka. Guru memberikan bahan bacaan kepada murid-muridnya untuk dapat mempersiapkan kegiatan di kelas berikutnya, yang artinya guru mengajar pembelajaran misalkan dongeng, lagu, buku komik, dan materi yang menarik lainnya untuk dibaca siswa (Verner, 2008). Guru juga dapat menggunakan majalah, surat, buku harian, dan jurnal yang terbaru di kelas membaca. Setelah peserta didik merasa nyaman dengan materi yang diberikan oleh guru, mereka dapat melanjutkan ke tugas menulis proses ini tidak perlu terlalu cepat. Disarankan kepada siswa untuk dapat megerjakan tugas secara perlahan sampai mereka mengembangkan semangat dan kepercayaan diri untuk berpartisipasi secara aktif. Verner juga percaya bahwa guru juga harus menjelaskan tujuan dari pembelajaran dengan pemilihan dan materi yang disertakan (Verner, 2008). Tidak semua siswa akan menghargai atau memahami mengapa pembelajaran sastra diajarkan di kelas. Namun, orang yang berbeda memiliki alasan subjektif mereka sendiri untuk mempelajari atau membaca sastra. Beberapa pembaca menggunakannya sebagai alat untuk komunikasi. Beberapa mungkin membaca untuk mendapatkan informasi, sementara yang lain membaca untuk hiburan. Ini karena penulis percaya bahwa orang beragam dalam banyak aspek Widdowson menjelaskan bahwa teks sastra bersifat unik karena dalam karya sastra apa dan bagaimana suatu tekstidak dapat dipisahkan. Orang-orang mengomunikasikan pikiran, perasaan, dan aspirasi mereka melalui apa yang mereka tulis dan baca (Widdowson, 1975). Pembaca dapat berkomunikasi (dengan cara) dengan pemikiran penulis melalui proses membaca. Dia lebih jauh menggarisbawahi bahwa memahami bagaimana sastra berkomunikasi melibatkan pemahaman tentang apa dan bagaimana. Hal ini menunjukkan bahwa teks sastra tidak dapat dengan mudah diparafrasekan dan tidak ada interpretasi tunggal terhadap isinya. Widdowson berpendapat bahwa dalam mengajar sastra, sangat penting bagi siswa untuk memahami bagaimana pilihan mengomunikasikan pikiran atau pesan dan harus mencoba untuk berhubungan dengan konten (Widdowson, 1975). Apresiasi sastra dapat terjadi ketika peserta didik memahami teks yang dibacanya. Rosenblatt sebagaimana dikutip dalam Celce-Murcia, 2014) mendefinisikan teks sastra melalui pembaca yang berinteraksi dan menafsirkannya. Dia berpendapat bahwa cara umum untuk membedakan karya sastra adalah melalui pemeriksaan teks(Celce-Murcia, M., Brinton, D. M., & Snow, 2014). Kramsch di sisi lain, menunjukkan bahwa bentuk gramatikal memainkan peran penting dalam bagaimana pembaca memahami dan berinteraksi dengan teks sastra (Kramsch, 2014). Ia menambahkan, seorang pembaca memiliki beragam pilihan untuk menyampaikan sebuah pesan. Pilihan bentuk gramatikal memungkinkan penulis dan audiens untuk mendefinisikan informasi lama dan baru berdasarkan konteks dan situasi yang mereka rasakan. Demikian pula, Carter percaya bahwa pendekatan berbasis bahasa untuk mengajar sastra berpusat pada peserta didik, berbasis aktivitas, dan berorientasi pada proses (Carter, 1996). Dia menyatakan bahwa tugas-tugas kelas sangat berharga dan membantu mereka dapat merangsang pelajar untuk menafsirkan teks dengan melibatkan mereka dalam proses pembuatan makna. CelceMurcia menghubungkan dan menggarisbawahi pentingnya penokohan dalam pengajaran teks sastra dengan mendefinisikannya sebagai proses menilai karakter berdasarkan apa yang mereka katakan dan lakukan (Celce-Murcia, M., Brinton, D. M., & Snow, 2014). Hal ini juga melibatkan bagaimana penulis teks menggambarkan karakter. Mempertimbangkan hal ini, untuk memicu partisipasi siswa, guru dapat memulai dengan meminta mereka untuk menggambarkan karakter menggunakan kata sifat. Mereka juga dapat mengumpulkan gambar yang menggambarkan tindakan dan gambar karakter.


Desain Kurikulum dan Pendidikan Guru 

Pengembangan kurikulum berkaitan erat dengan pendidikan guru dan penggunaan sumber daya. Beberapa penelitian telah menyoroti kekurangan kurikulum sekolah dasar, karena fakta bahwa mereka terlalu menekankan pentingnya menghapal dan meniru (Murphy, V. A. &Evangelou, 2016). Tren tantangan lain yang khas Asia, adalah kenyataan bahwa beberapa kurikulum dipandu oleh pasar, sementara yang lain tidak terkait erat dengan kebijakan pendidikan (Shing, 2016). Kurikulum hendaknya menyediakan waktu yang cukup untuk kegiatan dan tugas yang berbeda, tidak menyerahkan alokasi waktu hanya kepada guru (Evangelou, M., Sylva, K., Kyrlacou, M., Wild, M. & Glenny, 2009). Selain itu, kurikulum PAUD-SD harus membantu anak-anak membuat hubungan antara pembelajaran bahasa dan dunia anak-anak prasekolah sampai di bangku sekolah dasaritu sendiri untuk meningkatkan efektivitas program. Selengkapnya.....

Senin, 19 Juni 2023

Pengenalan dan Pembelajaran Bahasa Abad ke-21

Kesulitan yang signifikan untuk pembelajaran bahasa dan sastra, misalnya saja permasalahan yang banyak dijumpai oleh para pendidik di belahan dunia yaitu tentang strategi pembelajaran bahasa dan sastra anak. Banyak pendidik baik pendidik yang tradisional maupun modern kurang mampu memahami bagaimana pembelajaran bahasa dan sastra untuk anak yang ujungnya pada hasil yang sukses yang dicapai oleh peserta didik. Integrasi dan perkembangan teknologi serta tumbuhnya kesadaran akan keberagama kebudayaan dan globalisasi telah mengubah konsep pembelajaran yang dulunya konservatif menjadi pembelajaran abad 21 (Borsheim, C., Merritt, K., & Reed, 2008).

Ide yang dicetuskan tersebut berfokus pada peserta didik untuk dapat memperoleh atau mengambil informasi, mengatur dan mengelola informasi, menilai relevansi, kualitas, dan kegunaan informasi,serta menciptakan informasisecara benar dengan menggunakan sumber daya yang ada (Educational Testing Service, 2007). Kemampuan seperti inilah yang harus dimiliki pembelajar modern untuk dapat bertahan di pasar yang semakin mengglobal (Pacific Policy Research Center (PPRC), 2010). salah satu fokus dari program abad 21 adalah bahasa, yaitu komunukasi yang efektif. Kemampuan yang dibutuhkan dalam budaya saat ini adalah “komunukasi yang efektif”,seperti kerjasama, keterampilan interpersonal, akuntabilitas pribadi, tugassosial dan sipil, dan komunikasi yang interaktif. Untuk mengenali konteks multibahasa dan multikultural yang baru untuk pembelajaran bahasa, dipahami potensi sastra untuk komunikasi dan mediasi antarbudaya (Kramsch, 2014); (Council of Europe, 2018).

Dokumen kurikulum terbaru secara global meminta para pendidik bahasa untuk dapat mempromosikan secara luas dan komplek, yang mana ini semua bertujuan terhadap penguasaan bahasa sederhana, kekritisan, komunikasi dan empati antarbudaya, kreasi dan inovasi, kemandirian, kerja tim, etika dan kecerdasan emosional, dan keterampilan abad ke-21 lainnya yang dapat kita terapkan (Naji, H., Subramaniam, G., & White, 2019). Kramsc meminta kita semua untuk berpikir kembali tentang pembelajaran bahasa sebagai mata pelajaran multibahasa (Kramsch, 2009); (Kramsch, 2014). Ada batasan-batasan antara bahasa, budaya, dan negara yang mana ini semua teriritasi dengan adanya migrasi dan mobilitas yang semakin menjadi sebuah norma bagi kebanyakan orang, bersama dengan interkoneksi yang meluas oleh internet.

Bahasa dan sastra sering tercampur dan mendorong perhatian pengguna pada sifat fiktif dari bahasa nasional yang dianggap paling benar. Pengakuan tentang pemahaman keragaman bahasa modern serta dasar untuk tekssastra, perlu dipelajari dan dinegosiasikan oleh pengguna bahasa. Sastra secara prototipikal berurusan dengan yang di namakan dengan “batas” tempat,situasisosial ekonomi, kelas, agama, jenis kelamin, bahasa, dan gaya. Membaca sastra kita perlu sebuah pemahaman apa dan siapa yang terpinggirkan dan mengapa, serta kita juga perlu masuk ke dunia imajinatif (Maginess, 2019). Sedangkan belajar bahasa, menurut Kramch memiliki hal yang istimewa dan ada tantangan tersendiri untuk menempati hubungan marginal dengan bahasa yang mereka pelajari (Kramsch, 2009).

Penelitian tentang pemerolehan bahasa kedua menunjukkan pentingnya fokus pada bentuk linguistik yang di pandang tepat untuk pembelajaran bahasa (Schmidt, 2010). Begitu pula dengan teks sastra, yang mana memiliki perhatian yang sama(Peplow, 2016). Baru-baru ini, keterlibatan emosional dan perasaan sangat disoroti sebagai bagian dari terpenting dan yang mengharukan dalam pembelajaran bahasa (Bigelow, 2019). Memiliki arti dan yang mengharukan ini semua diolah lebih dalam lagi melalui teks sastra yang disesuaikan dengan pembelajaran anak. Kritik terhadap materi komersional baik internasional dan nasional yang digunakan untuk mendukung pembelajaran bahasa menunjukkan peran yang sangat penting bagi sastra. Sastra berurusan tentang isu-isu “besar”, kematian, cinta, kehidupan, dan hubungan. Hal ini memiliki relevansi pribadi (Maley, A., & Kiss, 2018). Selengkapnya.....

Minggu, 04 Juni 2023

FILOSOFI, KONSEP, DAN TEORI - BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SD BERORIENTASI KURIKULUM MERDEKA




Filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu falsafaah,bahasa ini diadopsi dari bahasa Yunani yaitu philosophiha. Kaelan pada tahun 1998 menyatakan bahwa filsuf dunia memiliki perhatian besar terhadap bahasa, sebab banyak persoalan filsafat, konsep filosofi akan menjadi jelas saat dianalisis dengan bahasa (Sumanto, 2017; Warami, 2016). Tokoh-tokoh filsafat analitik bahasa hadir dengan analitik bahasanya untuk mengatasi kelemahan, kekaburan, dan kekacauan yang selama ini muncul dalam konsep filosofi. Salah satu tokoh filsuf di Perancis yaitu F. de Saussure juga melakukan perubahan radikal dengan meletakkan dasar-dasar filosofis terhadap linguistik. Filsafat bahasa dapat dikelompokkan atas dua pengertian. Pertama, bahasa sebagai alat untuk menganalisis, memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep filosof. Kedua bahasa sebagai objek materi dengan membahas, mencari hakikat bahasa, hingga paradigma bagi perkembangan teori-teori linguistik. Pada zaman Yunani kuno, bahasa menjadi salah satu bahan kajian para filsuf karena mereka mengembangkan dan mengemukakan gagasan tentang bahasa. Zainuddin (2009) mengatakan bahwa filsafat memiliki tiga cabang, yaitu: 1. Metafisika. secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘di luar fisik’ yang berarti bahwa sesuatu yang berada diluar apa yang bisa dilihat dan dirasakan secara empiris. 2. Epistemologi. menurut sumber yang sama, merupakan teori tentang ilmu pengetahuan, yaitu teori yang menaungi alat yang dipergunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, batasjarak ilmu pengetahuan kita, dan kriteria yang kita pergunakan untuk menilai salah atau benarnya ilmu pengetahuan kita. 3. Logika. Cabang filosofi yang merefleksikan hakikat cara berpikir sehingga mampu memberikan penalaran yang tepat, membedakan argumen yang baik dan yang buruk, dan metode-metode untuk mendeteksi kesalahan dalam penalaran. Kaelan (1998) mengatakan bahwa epistemologi juga pada sisi lain berkaitan dengan teori kebenaran, dimana di dalam epistemologi ini terdapat tiga jenis kebenaran. 1. Teori kebenaran koherensi, yaitu sebuah pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebenarnya. Sebagai contoh, pernyataan “hewan menyusui disebut mamalia” pernyataannya bahwa sapi adalah menyusui. 2. Teori kebenaran korespondensi, yaitu bahwa sebuah penyatann dianggap benar bilamana materi pengetahuan yang dikandung dalam pernyataan ini berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh pernyataan tersebut, contoh ‘kota Medan terdapat di Sumatra Utara’ adalah benar karena terdapat hubungan antara ide dengan fakta dimana hubungan itu terjadi melalui bahasa. 3. Teori kebenaran pragmatis, yaitu sebuah pernyataan yang dianggap benar apabila pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Ini berarti suatu pernyataan akan dianggap apabila memberikan manfaat praktis kepada manusia. Dengan demikian, pernyataan itudianggap benar berdasarkan konteks penggunaannya. Sauri (2006) mengemukakan bahwa bahasa memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut: a. Semantik yaitu bahasa mempunyai aturan atau pola antara lain sistem bunyi dan sistem makna. b. Arbiter(manasuka) artinya bahasa itu dipilih secara acak tanpa alasan atau manasuka, tidak ada hubungan logis dengan kata-kata sebagai simbol. c. Ucapan atau vokal, artinya bahasa itu ujaran, berarti media bahasa yang terpenting adalah dengan bunyi-bunyi. d. Simbol, bahwa bahasa itu simbol dari perasaan, keinginanan, dan harapan. e. Bahasa itu mengacu pada dirinya, artinya bahasa itu mampu digunakan untuk menganalisis bahasa itu sendiri. f. Manusiawi, artinya bahasa itu adalah kekayaan yang hanya dimiliki oleh manusia g. Komunikasi, artinya bahasa itu alat komunikasi dan interaksi antar manusia dan menjadi pelekat dalam menyatupadakan keluarga, masyarakat, dan berbagai kegiatan sosialisasi. Intinya bahwa bahasa adalah merupakan media wacana segala ilmu dan sekaligus metabudaya. Wicoyo (1997) mengatakan bahwa Devit menyebutkan adanya empat lingkaran makna dalam bahasa, yaitu: 1. Makna yang dibicarakan dibicarakan oleh isi muatan pikiran. 2. Isi itu dijelaskan oleh makna kalimat pikiran. 3. Makna itu dijelaskan oleh makna konvensional. 4. Makna konvensional dijelaskan oleh makna pembicara. Untuk menemukan makna, filsafat memberikan analisis sehingga makna tersebut dapat diterima secara logis, objektif, dan sistematis. Sedangkan peran filsafat sebagai bahasa adalah bahwa analisis filsafat merupakan salah satu metode yang digunakan dalam memecahkan problematika kebahasaan. Aliran-aliran dalam filsafat dapat mewarnai pandangan para ahli bahasa dalam mengembangkan teori-teorinya. Selengkapnya...

Jumat, 02 Juni 2023

Bahasa dan Sastra Indonesia SD Berorientasi Kurikulum Merdeka

 


Perkembangan zaman semakin cepat di era 5.0, maka pemerintah melakukan berbagai terobosan baru untuk memenuhi kebutuhan belajar dan mengajar. Bahasa Indonesia adalah Bahasa persatuan, jangan heran pelajaran Bahasa Indonesia dipelajari dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Setiap kegiatan belajar mengajar membutuhkan kurikulum. Kurikulum juga terus dilakukan pengembangan. Perubahan kurikulum hal biasa termasuk perubahan kurikulum 2013 menjadi kurikulum merdeka. Buku Bahasa dan sastra Indonesia SD berorientasi kurikulum merdeka, hadir untuk mendukung dan melengkapi kegiatan belajar mengajar. 

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...