Tampilkan postingan dengan label Bahasa Melayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Melayu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2024

Pendekatan Whole language

Pendekatan whole language adalah teknik yang bertujuan dalam menyamakan persepsi mengenai pembelajaran bahasa, kemudian juga mengenai manusia yang ikut serta lingkungan tersebut (Hidayah, 2014). Pendekatan whole language merupakan pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, hal tersebut tentu didukung dengan pembelajaran yang holistik dan padat dalam mengajarkan keempat aspek pada kemampuan bahasa, yang terdiri dari menyimak, membaca, berbicara, dan menulis secara bersamaan (Sari, Kristanti and Nurjannah, 2020). Whole Language merupakan pendekatan yang cocok untuk pembelajaran bahasa yang mengajarkan secara komplet dan menyeluruh yang berhubungan dengan keterampilan bahasa (Yunita, 2017). 

Adapun komponen-komponen pendekatan Whole Language yang dijelaskan (Hidayah, 2014) yaitu: 

a. Reading aloud adalah guru dan peserta didik melakukan aktivitas membaca. Guru dituntut untuk membaca dengan lantang dan jelas dengan artikulasi dan indonasi yang baik sehingga peserta didik dapat mendengar dan memahami bacaan guru. Manfaat Reading aloud yaitu membimbing peserta didik dalam keterampilan menyimak, memperbanyak kosakata, membangkitkan minat dan pemahaman peserta didik. Tujuan reading aloud yaitu untuk membawa peserta didik belajar dalam waktu sekitar sepuluh menit. 

b. Jurnal writing atau menulis jurnal adalah teknik yang cocok untuk menulis sesuai dengan apa yang ada dalam hati dan pikiran menceritakan apa saja yang sudah dilalui, lingkungan sekitar, dan hal-hal lainnya dalam penerapan bahasa dalam bentuk tulisan. Kegunaan menulis jurnal yaitu dapat meningkatkan (1) keterampilan menulis; (2) keterampilan membaca; (3) keberanian mengambil atau menghadapi resiko; (4) keinginan peserta didik untuk refleksi; (5) merasakan perasaan dan pengalaman pribadi; (6) tempat yang nyaman untuk menulis difasilitasi; (7) keterampilan berpikir; (8) kesadaraan akan peraturan menulis; (9) mempermudadah dan pengevaluasian (10) tercatat sebagai dokumen tertulis 

 c. Sustained Silent Reading, adalah peserta didik melakukan aktivitas membaca dalam hati. Buku bacaan atau materi dapat dipilih sendiri oleh peserta didik. Pesan ya g didapat dari kegiatan ini yaitu (1) membaca bisa menjadi aktivitas yang disenangi (2) siapapun bisa melakukan aktivitas membaca (3) terjadinya kumunikasi dengan penulis buku atau teks yang dibaca dengan cara membaca (4) peserta didik dapat berkonsentrasi dalam membaca cukup lama pada bacaan. (5) guru percaya akan pemahaman peserta didik dalam membaca teks. 6) Setelah Sustained Silent Reading berakhir peserta didik dapat berbagi pengetahuan. d. Shared Reading, merupakan guru dan peserta didik mempunyai buku yang dibaca, kemudian melakukan aktivitas membaca bersama. Kegiatan ini dapat dilakukan di sekolah dasar sampai saat belajar diperkuliahan. Tujuan aktivitas ini yaitu (1) peserta didik memperhatikan guru membaca sebagai model sambil melihat tulisan peserta didik; (2) peserta didik diberikan kesempat dalam menyampaikan apa yang sudah dibacanya (3) Guru berperan sebagai model dapat memberikan contoh cara membaca yang benar kepada peserta didiknya. 

Pendekatan Whole Language memiliki beberapa ciri-ciri menurut (Hidayah, 2014) yaitu: a. Kelas yang mengimplementasikan whole language dipenuhi dengan hasil karya berupa barang. Hasil karya tersebut dapat dipajang di dinding kelas, pintu kelas dan lain-lain. b. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik belajar melalui guru. Pendidik sebagai model yang ideal dalam berbahasa, contoh saat aktivitas berbicara, menulis, serta membaca. c. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik baraktivitas dan mempelajari materi sesuai dengan daya tangkap peserta didik. d. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik dapat membagi tugas dalam pembelajaran. e. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik ikut berperan sehingga pembelajaran menjadi bermakna. f. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik mampu terjun langsung berperan dan bebas mencoba hal-hal baru. g. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik memperoleh umpan balik yang positif dari pendidik serta dari peserta didik lainnya.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut;

Beli Buku        Google Scholar           Research gate        DOI

Sabtu, 16 Desember 2023

Model Pembelajaran Bahasa

Model pembelajaran tentu sudah tidak asing dalam kegiatan belajar dan mengajar. Model pelajaran sebagai cara yang dipilih guru untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Model pelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi, misalnya; kategori mata pelajaran, cakupan materi, usia, level sekolah lingkungan sekitar dan lain-lain. Namun, jika salah memilih model pembelajaran akan menjadi tidak oftimal atau tidak berfungsi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan dan budaya (Kemendikbud, 2014).

Model pembelajaran berperan untuk membentuk pola pembelajaran berpusat pada siswa. Model pembelajaran merupakan prosedur sistematis dalam mengelola kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap pembelajaran akan menggunaka model pembelajaran yang sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan siswa. Bahasa Indonesia sebagai bidang ilmu yang dipelajari di semua level pendidikan Indonesia mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Empat keterampilan berbahasa yakni membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Model pembelajaran membaca dapat dilakukan dengan pendekatan proses menggunakan strategi anticipation guide, strategi DRTA (directed, reading, thinking activity), strategi KWLA (know, want, learned, affect), strategi directed inquiry activity, strategi OH RATS (overview, headings, read, answer, test-study), strategi SQ3R (survey, question, read, recite, and review), strategi ECOLA (extending, concept, throught, language, activity).

Sementara model menulis dengan pendekatan proses dapat dilakukan dengan strategi sentence collection, sedangkan pembelajaran sastra menggunakan model strata, induktif, analisis, sinektik, bermain peran, sosiodrama dan simulasi (Syamsi, 2010). Pada kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka ada tiga model pembelajaran yang ditekankan untuk digunakan dalam proses pembelajaran yakni; 1) Problem based learning/PBL, 2) Project based learning/PjBL, dan 3) Discovery learning/DL. Model-model pembelajaran selalu berkembang menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Para ahli dan akademisi selalu berusaha untuk mengembangkan model pembelajaran. 

Pengembangan model pembelajaran untuk menciptakan kondisi belajar yang bermakna dan siswa dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan nyata. Adapun model-model pembelajaran yang popular dalam kondisi wabah diantaranya; 1) model ASIIK, 2) model SOLE, 3) model Flipped Classroom, 4) model Blended Learning, 5) Model Descovery-Inquiry, 6) Model Game. Selengkapnya dapat diakses dengan link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate     DOI

Sabtu, 09 Desember 2023

Belajar Bahasa Indonesia

Berbahasa tidak datang tiba-tiba, selalu ada proses didalamnya apapun bahasanya. Ada proses mendengarkan, menirukan, melafalkan, pengulangan dan lain sebagainya. Berbahasa terbagi menjadi dua aspek besar yakni kompetensi berbahasa dan praktis berbahasa. Belajar berbahasa dalam rangka melakukan kegiatan berbahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa tertentu. Komunikasi terkategori dalam tataran praktis berbahasa.

Berkomunikasi yang baik dengan orang lain atau lingkungan masyarakat sudah pasti butuh belajar agar tidak ada miskomunikasi atau kesalahan memahami stimulus yang diberikan. Dalam belajar bahasa menggunakan pendekatan komunikatif menekankan pada tujuan pembelajaran yang mengutamakan penggunaan bahasa secara baik dan benar oleh peserta didik di lingkungan pendidikan ataupun lingkungan sosial (Mulyaningsih, 2017).

Belajar bahasa dapat dikaji dengan mendalam menggunakan teori Noam Chomsky. “Chomsky’s UG is a significant theory in the field of linguistics” (Md. Enamul, 2020). Berbahasa untuk berkomunikasi yang bermakna. Perkembangan bahasa seseorang melalui proses yang dipengaruhi berbagai hal, misalnya perkembangan usia, lingkungan sekitar dan lain sebagainya. Perkembangan bahasa terus berlangsung sepanjang hayat dan dipengaruhi berbagai faktor seperti biologis, kognitif dan sosial-emosional (Arnianti, 2019).

Belajar bahasa bukan hanya sekedar struktur berbahasa. Namun, belajar berbahasa terkait dengan moral, norma, nilai dan budaya. Bahasa sebagai sarana penghubung dengan lingkungan yang lebih luas, maka muncul istilah bahasa nasional dan bahasa internasional. Semakin banyak bahasa yang dikuasai sesorang akan memudahkan untuk berkomunikasi dan sarana pergaulan yang luas. Manusia tidak dapat dipisahkan dengan bahasa, maka belajar bahasa sepanjang usia menjadi suatu kebutuhan. Buku lengkapnya dapat diakses dibeberapa link berikut:

Beli Cetak/ Non-cetak      Google Scholar      Research Gate            DOI

Minggu, 15 Oktober 2023

Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa yang digunakan diwilayah Republik Indonesia adalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan. Landasan dasar Bahasa Indonesia tertuang dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. Secara spesifik fungsi Bahasa Indonesia termuat dalam bab III tentang bahasa negara pasal 25 ayat 2 yang berbunyi, “Bahasa Indonesia berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggaan nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana komunikasi antar daerah dan antar budaya daerah” (Undang-Undang, 2009). 

Bahasa Indonesia diera globalisasi menghadapi berbagai tantang seperti teknologi canggih, kurangnya rasa bangga untuk menggunakan Bahasa Indonesia serta derasnya arus bahasa asing. Kedisiplinan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar akan mempertahankan eksistensi Bahasa Indonesia. Diperlukan sebuah kesadaran dari masyarakat Indonesia, terutama masyarakat sebagai pengguna Bahasa Indonesia dalam menggunakan Bahasa Indonesia (Murti, 2015). Selain faktor kesadaran yang disiplin untuk menggunakan Bahasa Indonesia. Pola pembiasaan menggunakan Bahasa Indonesia diperlukan dalam kehidupan sehari-hari (Nimas Permata Putri, 2017). 

Bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa Indonesia sebagaimana semangat sumpah pemuda 1928 dalam mengakui Bahasa Indonesia. Masyarakat Indonesia benar-benar harus memahami bahwa Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu. Fungsi Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa sangatlah penting (Inda Puspita Sari, 2015). Untuk mempertahankan Bahasa Indonesia sebagai pemersatu terkhusus ditingkat perguruan tinggi maka dosen bahasa dan sastra dapat mengambil peran di era globalisasi sekarang, seperti; 1) menjadi model Bahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan, 2) menciptakan pembalajaran yang kreatif dan berpikir kritis, 3) memberikan kesempatan pengembangan industri dibidang kebahasaan dan kesastraan, 4) menjadi fasilitator komunitas ilmiah bahasa dan kesastraan, 5) memberikan peluang publikasi ilmiah dan pertukaran mahasiswa (Noermanzah, 2015). 

Bahasa Indonesia hendaknya selalu dilakukan monitoring yang berkelanjutan dari berbahasa dasar sampai berbahasa tingkat lanjutan. Kegiatan membina bahasa Indonesia harus dilakukan secara berkelanjutan agar Bahasa Indonesia tetap menjadi prioritas utama dalam pemakaian Bahasa Indonesia dan menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia (Aziz, 2016). Selengkapnya.....

Kamis, 21 September 2023

Makna dan Bentuk Bahasa Indonesia

Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa untuk memberikan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pada lawan berkomunikasi. Berbahasa yang baik adalah berbahasa yang mempunyai makna. Sebenarnya makna itu sendiri apa? Jika diberikan pertanyaan seperti ini tentu akan dijawab dengan penjelasan yang berupa kata-kata dan kalimat. Makna adalah sistem lambang atau sistem tanda yang diwujudkan dalam satuan-satuan bahasa seperti leksem, frasa, kalimat dan lain sebagainya (Chaer & Muliastuti, 2014). Jika dikaji lebih jauh terkait makna bahasa akan memberikan ulasan arti makna berbahasa. Makna bahasa mengacu pada yang kita artikan atau apa yang kita maksudkan (Amelia, F., Anggraeni, 2017). Berkomunikasi menjadi bermakna jika yang dimaksudkan tersampaikan dan direspon lawan komunikasi.

Makna yang disampaikan dalam bentuk pesan sering terjadi salah pengertian atau terjadi tangkapan informasi yang keliru. Kesalahan dalam memahami bahasa dapat diminimalisir dengan mempelajari semantik atau ilmu yang mengkaji makna bahasa (Amelia, F., Anggraeni, 2017). Pemaknaan kata-kata yang dipahami seseorang disebabkan lingkungan sekitar individu itu sendiri. Pengaruh bahan bacaan, intraksi sosial, gambar, video, suara dan lain sebagainya. Beberapa alasan yang menyebabkan makna sesuatu mengalami perbedan seperti melihat dan mendengar dari media masa, mendengar dari masyarakat, kebiasaan sehari-hari dan melihat makna (kata) dalam kamus besar Bahasa Indonesia atau KBBI (Ramadan & Mulyati, 2020).

Pemaknaan didasari dengan penamaan sesuatu objek atau sesuatu yang lainnya. Ada faktor yang menyebabkan penamaan direspon secara berbeda oleh lawan komunikasi kita. Faktor penamaan bunyi, penyebutan sifat khas, penyebutan bagian, penemu atau pembuat pertama kali, tempat asal, bahan, keserupaan dan pemendekan (Amelia, F., Anggraeni, 2017). Selain makna bahasa juga memiliki tataran bentuk. Bentuk bahasa merujuk pada wujud audio atau wujud visual suatu bahasa, wujud audio dapat kita ketahui dari bunyi-bunyi yang kita dengarkan sedangkan wujud visual dapat diketahui dari lambang-lambang yang tampak jika dituliskan (Mustakim, 2014). 

Bentuk bahasa yang kita pahami terkait dengan bentuk kata, bentuk kalimat dan bentuk-bentuk lainnya. Secara morfologis bentuk kata dibedakan berdasarkan kelas kata. Adapun kelas kata terbagi menjadi kata kerja atau verba, kata sifat atau adjektiva, kata keterangan atau adverbial, kata benda atau nomina, kata ganti atau pronominal, kata bilangan atau numeralia, dan kata tugas (Pancabudi, 2018). Makna dan bentuk bahasa mempunyai hubungan yang erat. Relasi makna dan bentuk berkaitan dengan kesamaan makna atau sinonim, kebalikan makna atau antonim, perbedaan makna atau homonim, kegandaan makna atau polisemi, ketercakupan makna atau hiponim, dan kelebihan makna atau redudansi (Wahyudin, 2019). Selengkapnya.....

Kamis, 14 September 2023

Perkembangan Bahasa Indonesia

Awal mula terbentuknya Bahasa Indonesia merupakan Bahasa Melayu. Ketersebaran Bahasa Melayu dikawasan Asia Tenggara menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa perantara (lingua franca) atau bahasa pergaulan (Sujinah et al., 2018). Bahasa Melayu terbagi menjadi dua jenis yaitu Bahasa Melayu Tinggi dan Bahasa Melayu Pasar. Bahasa Melayu Tinggi bersifat sulit, halus, penuh sindiran dan kurang ekspresif, sedangkan Bahasa Melayu Pasar bersifat sangat lentur, mudah dimengerti, dan ekspresif. Bahasa Melayu Pasar inilah yang akan menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang (Waraulia, A.M., 2018). 

Ada banyak bukti sejarah yang mengungkapkan bagaimana ketersebaran Bahasa Melayu, salah satunya dari peninggalan kerajaan Sriwijaya abad ke-7 masehi bahwa Bahasa Melayu Kuno digunakan sebagai bahasa kenegaraan. Bukti penggunaan Bahasa Melayu Kuno terdapat dalam empat prasasti yang ditemukan di Pulau Sumatera yaitu; 1) prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), 2) prasasti Talang Tuo berangka tahun 684 M (Palembang), 3) prasasti Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), 4) prasasti Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi), (Putrayasa, 2018). Semua prasasti bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna dengan campuran Bahasa Sanskerta. Sedangkan di Pulau Jawa ditemukannya prasasti di Jawa Tengah berangka abad ke-9 M dan prasasti Bogor berangka abad ke-10 M. Bukti lainnya penemuan keping tembaga Laguna di dekat Manila (Pulau Luzon) tahun 900 M yang merupakan milik kerajaan Sriwijaya.

Ejaan resmi Bahasa Melayu pertama kali disusun Ch. A. Van Ophuijsen dengan bantuan Moehammad Taib Soetan Ibrahim dan Nawawi Soetan Ma’moer dalam kitab Logat Melayu tahun 1801 (Putrayasa, 2018). Sebelum tahun 1928 telah melakukan pergerakan-pergerakan kebangsaan yang dikenal dengan sebutan Indonesia. Seiring berjalannya waktu maka tanggal 28 Oktober 1928 terjadi peristiwa yang melibat putra dan putri Indonesia atau lebih dikenal dengan sebutan “sumpah pemuda”, secara resmi dan diakui bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan Indonesia.

Beberapa alasan yang menguatkan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia yaitu; 1) Bahasa Melayu merupakan lingua franca, 2) penyebaran Bahasa Melayu lebih luas dibandingkan Bahasa Jawa, Sunda, Madura dan lainnya, 3) Bahasa Melayu berkrabat dengan bahasa-bahasa di nusantara, 4) Bahasa melayu memiliki sistem sederhana sehingga mudah dipelajari, 5) Adanya kerelaan dan keinsafan secara sadar dari selain Bahasa Melayu dan menerima Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, dan 6) Bahasa Melayu dapat dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti luas (Sujinah et al., 2018). Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...