Tampilkan postingan dengan label bunyi bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bunyi bahasa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2024

Keterampilan Menulis (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan menulis permulaan 

Keterampilan menulis permulaan adalah suatu kegiatan melukis atau menyalin gambar atau lambang-lambang bunyi bahasa ke dalam wujud lambang-lambang tertulis yang dapat dikenali secara konkrit sesuai dengan tata cara menulis yang baik dalam proses belajar menulis bagi peserta didik sekolah di kelas awal. 

2. Tujuan Menulis Permulaan 

Setiap penulis pasti ada tujuan untuk menuangkan ide, pikiran dan gagasan serta perasaan melalui bahasa tulis, bai bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Adapun tujuan menulis permulaan adalah: a. Dapat memproduksikan tulisan eja seperti e,d,f,k,j b. Dapat berupa suku kata seperti su-ka kedalam suatu bentuk kalimat. c. Agar dapat memahami cara menulis permulaan dengan ejaan yang benar dan mengkomunikasikan ide/pesan secara tertulis.

3. Tahap-Tahap Menulis Permulaan 

Menulis permulaan dimulai dengan pengenalan terhadap cara memegang pensil yang benar. Tingkat permulaan, kegiatan menulis lebih didominasi oleh hal-hal yang bersifat mekanis. Kegiatan mekanis yang dimaksud dapat berupa: a. Sikap duduk yang baik dalam menulis. b. Cara memegang pensil/alat tulis. c. Cara memegang buku. d. Melemaskan tangan dengan cara menulis di udara. Pengenalan huruf dengan menulis di kelas rendah dapat dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan perkembangan siswa, yaitu: a. Menulis permulaan dengan huruf kecil b. Menulis tegak bersambung c. Menulis permulaan dengan huruf capital pada huruf awal kata permulaan kalimat. 

4. Metode keterampilan menulis permulaan 

a. Metode eja 

Metode eja pada dasarnya menggunakan pendekatan harfiah, artinya belajar membaca dan menulis dimulai dari huruf-huruf yang dirangkai menjadi suku kata. 

b. Metode kata lembaga 

Metode kata lembaga di mulai dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Memperkenalkan kata 2) Menggabungkan kata antar suku kata 3) Menguraikan suku kata atas huruf-hurufnya 4) Menggabungkan huruf menjadi kata 

 c. Metode global 

Metode global mengembangkan kalimat dengan kata-kata dan mengembangkan kata-kata menjadi suku kata. 

d. Metode sas 

Metode SAS merupakan metode yang dimulai dengan pendeekatan bercerita yang disertai dengan gambar yang di dalamnya menggandung dialog.

5. Keterampilan Menulis Lanjutan 

Keterampilan menulis lanjutan adalah menulis merupakan pemindahan pikiran atau perasaan dengan menggunakan tulisan, struktur bahasa, dan kosakata dengan menggunakan simbol-simbol sehingga dapat dibaca. Untuk mencapai tujuan dalam keterampilan menulis di sekolah dasar harus dimulai dari tahap yang paling sederhana, lalu dilanjutkan pada hal yang sederhana menuju hal yang biasa, hingga pada hal yang paling sukar. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang menulis. 

6. Metode Keterampilan Menulis Lanjutan 

 a. Metode Langsung 

Metode langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar peserta didik tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan  deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang penting: fase persiapan dan motivasi, fase demonstrasi, fase pembimbingan, fase pengecekan, dan fase pelatihan lanjutan. Sebagai contoh: guru menunjukkan gambar banjir yang melanda suatu sebuah desa atau melihat langsung peristiwa banjir di sebuah desa. Dari gambar tersebut, peserta didik dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.

b. Metode Komunikatif 

Desain yang bermuatan metode komunkatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikasikan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebagai contoh: metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Peserta didik menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah akivitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan ataupun kelompok. 

c. Metode Integratif 

Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Integrtif terbagi menjadi dua bagian: interbidang studi dan antar bidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Sebagai contoh: menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Adapun antarbidang studi artinya pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Sebagai contoh: antara bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lain. 

d. Metode Tematik 

Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan peserta didik. 

e. Metode Konstruktivistik 

Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstruktivistik dimulai dari masalah yang sering muncul dari peserta didik sendiri dan selanjutnya membantu peserta didik menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. 

f. Metode Kontekstual 

Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis, yakni konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dengan kehidupan pembelajaran yang memotivasi peserta didik agar menghubungkan pengetahuan dan penerapannya dengan kehidupan sehari-hari.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

DOI        Research gate        Google scholar        Beli Buku

Sabtu, 09 Desember 2023

Belajar Bahasa Indonesia

Berbahasa tidak datang tiba-tiba, selalu ada proses didalamnya apapun bahasanya. Ada proses mendengarkan, menirukan, melafalkan, pengulangan dan lain sebagainya. Berbahasa terbagi menjadi dua aspek besar yakni kompetensi berbahasa dan praktis berbahasa. Belajar berbahasa dalam rangka melakukan kegiatan berbahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa tertentu. Komunikasi terkategori dalam tataran praktis berbahasa.

Berkomunikasi yang baik dengan orang lain atau lingkungan masyarakat sudah pasti butuh belajar agar tidak ada miskomunikasi atau kesalahan memahami stimulus yang diberikan. Dalam belajar bahasa menggunakan pendekatan komunikatif menekankan pada tujuan pembelajaran yang mengutamakan penggunaan bahasa secara baik dan benar oleh peserta didik di lingkungan pendidikan ataupun lingkungan sosial (Mulyaningsih, 2017).

Belajar bahasa dapat dikaji dengan mendalam menggunakan teori Noam Chomsky. “Chomsky’s UG is a significant theory in the field of linguistics” (Md. Enamul, 2020). Berbahasa untuk berkomunikasi yang bermakna. Perkembangan bahasa seseorang melalui proses yang dipengaruhi berbagai hal, misalnya perkembangan usia, lingkungan sekitar dan lain sebagainya. Perkembangan bahasa terus berlangsung sepanjang hayat dan dipengaruhi berbagai faktor seperti biologis, kognitif dan sosial-emosional (Arnianti, 2019).

Belajar bahasa bukan hanya sekedar struktur berbahasa. Namun, belajar berbahasa terkait dengan moral, norma, nilai dan budaya. Bahasa sebagai sarana penghubung dengan lingkungan yang lebih luas, maka muncul istilah bahasa nasional dan bahasa internasional. Semakin banyak bahasa yang dikuasai sesorang akan memudahkan untuk berkomunikasi dan sarana pergaulan yang luas. Manusia tidak dapat dipisahkan dengan bahasa, maka belajar bahasa sepanjang usia menjadi suatu kebutuhan. Buku lengkapnya dapat diakses dibeberapa link berikut:

Beli Cetak/ Non-cetak      Google Scholar      Research Gate            DOI

Minggu, 15 Oktober 2023

Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa yang digunakan diwilayah Republik Indonesia adalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan. Landasan dasar Bahasa Indonesia tertuang dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. Secara spesifik fungsi Bahasa Indonesia termuat dalam bab III tentang bahasa negara pasal 25 ayat 2 yang berbunyi, “Bahasa Indonesia berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggaan nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana komunikasi antar daerah dan antar budaya daerah” (Undang-Undang, 2009). 

Bahasa Indonesia diera globalisasi menghadapi berbagai tantang seperti teknologi canggih, kurangnya rasa bangga untuk menggunakan Bahasa Indonesia serta derasnya arus bahasa asing. Kedisiplinan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar akan mempertahankan eksistensi Bahasa Indonesia. Diperlukan sebuah kesadaran dari masyarakat Indonesia, terutama masyarakat sebagai pengguna Bahasa Indonesia dalam menggunakan Bahasa Indonesia (Murti, 2015). Selain faktor kesadaran yang disiplin untuk menggunakan Bahasa Indonesia. Pola pembiasaan menggunakan Bahasa Indonesia diperlukan dalam kehidupan sehari-hari (Nimas Permata Putri, 2017). 

Bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa Indonesia sebagaimana semangat sumpah pemuda 1928 dalam mengakui Bahasa Indonesia. Masyarakat Indonesia benar-benar harus memahami bahwa Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu. Fungsi Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa sangatlah penting (Inda Puspita Sari, 2015). Untuk mempertahankan Bahasa Indonesia sebagai pemersatu terkhusus ditingkat perguruan tinggi maka dosen bahasa dan sastra dapat mengambil peran di era globalisasi sekarang, seperti; 1) menjadi model Bahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan, 2) menciptakan pembalajaran yang kreatif dan berpikir kritis, 3) memberikan kesempatan pengembangan industri dibidang kebahasaan dan kesastraan, 4) menjadi fasilitator komunitas ilmiah bahasa dan kesastraan, 5) memberikan peluang publikasi ilmiah dan pertukaran mahasiswa (Noermanzah, 2015). 

Bahasa Indonesia hendaknya selalu dilakukan monitoring yang berkelanjutan dari berbahasa dasar sampai berbahasa tingkat lanjutan. Kegiatan membina bahasa Indonesia harus dilakukan secara berkelanjutan agar Bahasa Indonesia tetap menjadi prioritas utama dalam pemakaian Bahasa Indonesia dan menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia (Aziz, 2016). Selengkapnya.....

Kamis, 21 September 2023

Makna dan Bentuk Bahasa Indonesia

Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa untuk memberikan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pada lawan berkomunikasi. Berbahasa yang baik adalah berbahasa yang mempunyai makna. Sebenarnya makna itu sendiri apa? Jika diberikan pertanyaan seperti ini tentu akan dijawab dengan penjelasan yang berupa kata-kata dan kalimat. Makna adalah sistem lambang atau sistem tanda yang diwujudkan dalam satuan-satuan bahasa seperti leksem, frasa, kalimat dan lain sebagainya (Chaer & Muliastuti, 2014). Jika dikaji lebih jauh terkait makna bahasa akan memberikan ulasan arti makna berbahasa. Makna bahasa mengacu pada yang kita artikan atau apa yang kita maksudkan (Amelia, F., Anggraeni, 2017). Berkomunikasi menjadi bermakna jika yang dimaksudkan tersampaikan dan direspon lawan komunikasi.

Makna yang disampaikan dalam bentuk pesan sering terjadi salah pengertian atau terjadi tangkapan informasi yang keliru. Kesalahan dalam memahami bahasa dapat diminimalisir dengan mempelajari semantik atau ilmu yang mengkaji makna bahasa (Amelia, F., Anggraeni, 2017). Pemaknaan kata-kata yang dipahami seseorang disebabkan lingkungan sekitar individu itu sendiri. Pengaruh bahan bacaan, intraksi sosial, gambar, video, suara dan lain sebagainya. Beberapa alasan yang menyebabkan makna sesuatu mengalami perbedan seperti melihat dan mendengar dari media masa, mendengar dari masyarakat, kebiasaan sehari-hari dan melihat makna (kata) dalam kamus besar Bahasa Indonesia atau KBBI (Ramadan & Mulyati, 2020).

Pemaknaan didasari dengan penamaan sesuatu objek atau sesuatu yang lainnya. Ada faktor yang menyebabkan penamaan direspon secara berbeda oleh lawan komunikasi kita. Faktor penamaan bunyi, penyebutan sifat khas, penyebutan bagian, penemu atau pembuat pertama kali, tempat asal, bahan, keserupaan dan pemendekan (Amelia, F., Anggraeni, 2017). Selain makna bahasa juga memiliki tataran bentuk. Bentuk bahasa merujuk pada wujud audio atau wujud visual suatu bahasa, wujud audio dapat kita ketahui dari bunyi-bunyi yang kita dengarkan sedangkan wujud visual dapat diketahui dari lambang-lambang yang tampak jika dituliskan (Mustakim, 2014). 

Bentuk bahasa yang kita pahami terkait dengan bentuk kata, bentuk kalimat dan bentuk-bentuk lainnya. Secara morfologis bentuk kata dibedakan berdasarkan kelas kata. Adapun kelas kata terbagi menjadi kata kerja atau verba, kata sifat atau adjektiva, kata keterangan atau adverbial, kata benda atau nomina, kata ganti atau pronominal, kata bilangan atau numeralia, dan kata tugas (Pancabudi, 2018). Makna dan bentuk bahasa mempunyai hubungan yang erat. Relasi makna dan bentuk berkaitan dengan kesamaan makna atau sinonim, kebalikan makna atau antonim, perbedaan makna atau homonim, kegandaan makna atau polisemi, ketercakupan makna atau hiponim, dan kelebihan makna atau redudansi (Wahyudin, 2019). Selengkapnya.....

Selasa, 04 Juli 2023

Keterampilan Menyimak, Berbicara, dan Mempresentasikan

Menyimak merupakan keterampilan peserta didik untuk menerima, memahami, dan menggunakan informasi yang mereka dengan dengan sikap yang baik agar dapat menghadapi lawan bicara (mitra tutur). Menurut Pebriana, dkk. (2017), kegiatan menyimak merupakan tahap awal yang harus dimiliki dan kuasai pada keterampilan berbahasa, karena kegiatan menyimak adalah cara yang dilakukan untuk mendapatkan informasi yang disampaikan oleh orang lain,sehingga hasil yang diperoleh dari kegiatan menyimak dapat diimplementasikan pada kegiatan lainnya, yaitu berbicara, membaca, dan menulis. 

Proses yang terjadi pada kegiatan menyimak mencakup beberapa kegiatan, yaitu mendengarkan, konsentrasi, mengidentifikasi, memahami pendapat, menginterpretasikan tuturan bahasa, dan memaknai informasi berdasarkan konteks yang menjadi latar belakang tuturan yang disampaikan. Komponen-komponen yang dapat dikembangkan dalam kegiatan menyimak diantaranya dalah kepekaan terhadap bunyi bahasa, sistem isyarat, kosakata, struktur bahasa atau tata bahasa, makna, dan metakognisi. Kegiatan menyimak memiliki peran yang sangat penting di dalam kehidupan sehari-hari, karena kegiatan ini dapat terjadi pada berbagai situasi, kondisi, dan setiap waktu. 

Manusia dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut keterampilan menyimak dan memahami peran dari menyimak, sehingga kualitas dari keterampilan menyimak menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang berpengaruh penting dalam kehidupan manusia. Selain memahami peranan dari kegiatan menyimak, manusia juga dituntut untuk dapat memahami tujuan dari kegiatan menyimak. Kegiatan menyimak adalah sebuah kegiatan yang disengaja dan direncanakan untuk mencapai suatu tujuan. Seseorang tidak akan melakukan kegiatan menyimak jika dia tidak mempunyai maksud dari kegiatan tersebut. Sebaliknya,seorang pembicara pun melakukan kegiatan bicara karena memiliki tujuan yang diharapkan dari penyimaknya. Kesadaran untuk mencapai tujuan dari kegiatan menyimak menimbulkan aktivitas berpikir dalam melakukan kegiatan menyimak. Kegiatan menyimak yang tidak tepat dapat menimbulkan tujuan dari kegiatan menyimak tidak tercapai. 

Berbicara merupakan keterampilan peserta didik untuk menyampaikan gagasan, tanggapan, dan perasaannya dalam bentuk lisan yang santun. Berbicara tidak sekedar suatu kegiatan untuk menyampaikan sebuah gagasan secara lisan, tetapi yang lebih penting dalam keterampilan berbicara adalah bagaimana gagasan yang ingin disampaikan oleh pembicara dapat dipahami oleh pendengar (Darmuki & Hariyadi, 2019). Keterampilan berbicara merupakan sebuah kemampuan berbahasa dalam mengucapkan suatu bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan ide, pikiran, pendapat, gagasan, perasaan kepada orang lain sebagai pendengar. Seorang pembicara harus memiliki kepercayaan diri, jujur, benar, dan bertanggung jawab ketika berbicara, sehingga masalah psikologi seperti malu, rendah diri, tegang, dll harus dimininalkan. Berbicara merupakan suatu proses untuk menyampaikan sebuah informasi, ide, atau gagasan dari pembicara kepada pendengar. Dalam penyampaian tersebut, yang dilakukan secara lisan, pembicara harus mampu menyampaikannya dengan baik dan benar,supaya informasi yang dingin disampaikan dapat diterima dengan benar oleh pendengar. Menjadi seorang pembicara yang baik harus mampu menangkap informasi secara kritis dan efektif, hal ini berkaitan dengan kemampuan menyimak. Apabila seorang pembicara merupakan seorang yang memiliki kemampuan menyimak dengan baik, maka dia mampu menangkap informasi yang disampaikan oleh pendengarnya.

Mempresentasikan merupakan kemampuan memaparkan sebuah gagasan atau tanggapan secara fasih, akurat, bertanggung jawab, mengajukan dan atau menanggapi pertanyaan atau pernyataan, dan atau menyampaikan perasaan secara lisan sesuai dengan konteks dan dengan cara yang komunikatif dan santun melalui beragam media, yaitu visual, digital, audio, dan audiovisual. Menurut Utami & Naryatmojo (2016), ciri-ciri presentasi yang dilakukan dengan baik dan benar adalah penyampaiannya dilakukan dengan penuh semangat dan siap mental, kejelasan berbicara di depan audiens, disajikan secara sistematis, memberi argumen yang dapat diterima, slide yang digunakan untuk presentasi terbaca dan menarik, kontak mata dengan audiens, melakukan gerak berbicara, menggunakan pakaian yang serasi, menyediakan sesi tanya jawab, dan penyampaian dilakukan secara tepat waktu. Berikut beberapa komponen yang dapat dikembangkan dalam berbicara dan mempresentasikan, yaitu bunyi bahasa, sistem isyarat, kosakata, struktur bahasa (tata bahasa), makna, dan metakognisi. Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...