Tampilkan postingan dengan label Komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Desember 2023

Belajar Bahasa Indonesia

Berbahasa tidak datang tiba-tiba, selalu ada proses didalamnya apapun bahasanya. Ada proses mendengarkan, menirukan, melafalkan, pengulangan dan lain sebagainya. Berbahasa terbagi menjadi dua aspek besar yakni kompetensi berbahasa dan praktis berbahasa. Belajar berbahasa dalam rangka melakukan kegiatan berbahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa tertentu. Komunikasi terkategori dalam tataran praktis berbahasa.

Berkomunikasi yang baik dengan orang lain atau lingkungan masyarakat sudah pasti butuh belajar agar tidak ada miskomunikasi atau kesalahan memahami stimulus yang diberikan. Dalam belajar bahasa menggunakan pendekatan komunikatif menekankan pada tujuan pembelajaran yang mengutamakan penggunaan bahasa secara baik dan benar oleh peserta didik di lingkungan pendidikan ataupun lingkungan sosial (Mulyaningsih, 2017).

Belajar bahasa dapat dikaji dengan mendalam menggunakan teori Noam Chomsky. “Chomsky’s UG is a significant theory in the field of linguistics” (Md. Enamul, 2020). Berbahasa untuk berkomunikasi yang bermakna. Perkembangan bahasa seseorang melalui proses yang dipengaruhi berbagai hal, misalnya perkembangan usia, lingkungan sekitar dan lain sebagainya. Perkembangan bahasa terus berlangsung sepanjang hayat dan dipengaruhi berbagai faktor seperti biologis, kognitif dan sosial-emosional (Arnianti, 2019).

Belajar bahasa bukan hanya sekedar struktur berbahasa. Namun, belajar berbahasa terkait dengan moral, norma, nilai dan budaya. Bahasa sebagai sarana penghubung dengan lingkungan yang lebih luas, maka muncul istilah bahasa nasional dan bahasa internasional. Semakin banyak bahasa yang dikuasai sesorang akan memudahkan untuk berkomunikasi dan sarana pergaulan yang luas. Manusia tidak dapat dipisahkan dengan bahasa, maka belajar bahasa sepanjang usia menjadi suatu kebutuhan. Buku lengkapnya dapat diakses dibeberapa link berikut:

Beli Cetak/ Non-cetak      Google Scholar      Research Gate            DOI

Minggu, 09 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Membaca dan Memirsa

Membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Membaca dimaknai sebagai proses yang dilaksanakan oleh seorang pembaca dengan tujuan mendapatkan informasi dari bacaan dan mampu memahami pola bahasa yang ditulis (Rambe & Widiyarti, 2018). Membaca sebagai kegiatan mengucapkan bunyi bahasa darisuatu tulisan yang memiliki makna tertentu. Fatmasari & Fitriyah (2018) menjelaskan bahwa membaca yakni memahami makna isi bahan bacaan yang tersirat maupun tersurat. Dalam hal ini, kegiatan membaca membutuhkan pemahaman agar apa yang disampaikan penulis dapat dipahami oleh pembaca.

Membaca juga didefinisikan sebagai kemampuan melek huruf dalam mengenali pola bunyi bahasa dan dapat mengucapkannya dengan benar (Yarni & Kaban, 2015). Siswa tidak hanya mampu membaca tulisan saja, namun dapat mengucapkannya dengan benar. Beberapa pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa membaca adalah kemampuan seseorang dalam mengenali dan mengucapkan pola bunyi tulisan bahan bacaan serta memahami makna tulisan tersebut. Memirsa adalah keterampilan yang baru muncul pada capaian pembelajaran di kurikulum merdeka. Keterampilan memirsa dapat terjadi dikarenakan perubahan teknologi yang pesat sehingga siswa harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Huri et al. (2021) menjelaskan bahwa memirsa adalah proses kegiatan menonton dan memaknai media visualseperti film, televisi, video dsb. Keterampilan ini tidak hanya sekedar melihat atau menonton akan tetapi juga mampu memaknai isi media yang ditayangkan tersebut.

Keterampilan memirsa diartikan sebagai keterampilan yang menggabungkan literasi visual dan memirsa kritis (Mulyadi & Wikanengsih, 2022). Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memaknai isi tayangan. Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disintesiskan bahwa memirsa adalah kompetensi literasi visual siswa yang mencakup kegiatan memperhatikan dan memahami media visual yang diberikan oleh guru pada siswa. Keterampilan membaca wajib dikuasai setiap siswa dalam proses pembelajaran. Melalui membaca pengetahuan siswa akan bertambah dan dapat meningkatkan kualitas siswa. Hal ini dikarenakan melalui membaca siswa mendapatkan informasi dari materi pembelajaran yang diajarkan guru dan dapat meningkatkan hasil belajar. Jika siswa bisa membaca dengan baik akan mendorong motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Selain itu, setiap faktor kehidupan siswa juga mengintegrasikan kegiatan membaca. Sehingga membaca akan mempermudah siswa dalam menjalani kegiatan sehari-hari dan memberikan banyak manfaat kepadanya. Sedangkan pentingnya keterampilan memirsa bagi siswa adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memahami isi media visual (Huri et al., 2021).

Pada saat ini komunikasi tidak hanya mendengarkan saja akan tetapi disertai aspek visual, melalui keterampilan memirsa ini maka siswa dapat memperoleh berbagai informasi baru dan belajar menganalisis teks visual dan multimedia. Membaca tidak hanya mengenali bentuk dan pola huruf, akan tetapi juga memahami maknanya. Proses membaca siswa sekolah dasar mencakup dua tahap yakni membaca permulaan dan membaca pemahaman. Membaca permulaan dipahami sebagai tahap awal dalam kegiatan membaca di sekolah dasar (Muammar, 2020). Tahap membaca ini diperuntukkan untuk siswa kelas rendah dengan merujuk pada kemampuan siswa dalam mengubah dan mengucapkan tulisan mejadi bunyi yang memiliki makna. Membaca permulaan difokuskan pada pengenalan huruf, merangkai huruf menjadi sebuah kata, ketepatan mengucapkan huruf, kejelasan dan kelancaran suara dalam membaca tulisan. Membaca pemahaman diartikan sebagai serangkaian kegiatan dengan tujuan memahami konteks bacaan (Khazanah & Cahyani, 2016). Proses membaca tahap ini melibatkan aspek mental dan kognitif siswa dalam memaknai dan menganalisis bahan bacaan. Kedua tahapan membaca ini penting dikuasai siswa karena siswa sekolah dasar tidak langsung bisa membaca secara lancar akan tetapi ada proses tahapannya dari yang mudah hingga sulit. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka ia dapat meningkatkan kemampuan membaca pada level pemahaman.

Faktor psikologis berkaitan dengan jenis kelamin dan kesehatan fisik siswa. Aspek fisik seperti pendengaran, penglihatan dan kemampuan berbicara. Siswa yang memiliki kekurangan atau kelainan dalam aspek fisik tersebut maka akan berpengaruh terhadap keterampilan membaca. Faktor intelektual berhubungan dengan tingkat intelegensi yang dimiliki siswa. Kemampuan berpikir siswa lebih berpengaruh terhadap membaca pemahaman. Karena membaca pemahaman membutuhkan kemampuan berpikir. Faktor lingkungan yakni lingkungan sekolah dan rumah. Lingkungan yang mendukung akan mendorong keterampilan membaca siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama guru dan orang tua agar keterampilan membaca dapat dicapai dengan baik. Faktor psikologis berhubungan dengan motivasi dan minat siswa dalam membaca. Siswa yang memiliki motivasi tinggi akan menunjukkan minat baca yang tinggi. Tanpa perintah dan paksaan dari orang tua dan guru siswa akan aktif membaca secara mandiri. 

Capaian pembelajaran keterampilan membaca dan memirsa pada kurikulum merdeka dibagi menjadi fase A, fase B, dan fase C. Capaian pembelajaran membaca fase A (kelas 1-2) yakni 1) siswa memiliki minat membaca atau memirsa; 2) siswa dapat membaca kata dengan fasih; 3) siswa dapat memahami informasi bacaan dan tayangan; dan 4) siswa dapat memahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan. Fase B (kelas 3-4) mencakup capaian pembelajaran meliputi: 1) siswa dapat memahami makna pesan dan informasi pada media cetak atau elektronik; 2) siswa dapat membaca kata-kata baru dengan fasih; 3) siswa mampu memahami ide pokok dan pendukung pada teks informatif; 4) siswa mampu memaparkan tokoh cerita pada teks narasi; dan 5) siswa dapat dapat mamahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan sesuai dengan topik. Fase C (kelas 5-6) memiliki capaian pembelajaran membaca yakni: 1)siswa dapat membaca kata-kata yang memiliki berbagai pola kombinasi huruf secara fasih; 2) siswa dapat memahami kosakata baru dari makna denotatif, konotatif, literal, dan kiasan; dan 3)siswa dapat menemukan ide pokok suatu teks deskripsi, eksposisi dan narasiserta nilai yang terkandung dalam suatu prosa, pantun dan puisi. Masing-masing fase memiliki tingkat kognitif yang berbeda. Berdasarkan capaian pembelajaran tersebut, maka dapat dianalisis bahwa pada fase A lebih fokus pada kefasihan siswa dalam membaca dan pemahaman siswa mengenai kosakata baru pada bacaan dan tayangan. Hal ini berkaitan dengan membaca permulaan yang fokus pada kelancaran siswa dalam membaca. Fase B dan fase C siswa sudah difokuskan dalam membaca kosakata baru dengan fasih dan memahami isi bacaan secara keseluruhan. Pada keterampilan memirsa siswa lebih difokuskan pada kemampuan memahami kosakata baru dari tayangan yang ditonton. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka tahapan selanjutnya adalah membaca pemahaman. Rambe & Widiyarti (2018) menjelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman yakni tahap prabaca, membaca dan pasca baca. Pertama, tahap prabaca untuk memotivasisiswa dalam membaca. Tahap ini penting dilakukan agar siswa terarah dan dapat menggali kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan dengan baik. Kegiatan ini meliputi: 1) memberikan gambaran awal bacaan; 2) memberikan petunjuk; 3) memberikan peta konsep terkait kosakata dalam bacaan; 4) sebelum membaca, siswa menulis pengalaman yang berkaitan dengan topik bacaan; dan 5) siswa diberikan gambaran situasi dalam cerita. Kedua, tahap membaca dapat dilakukan dengan berbagai metode membaca meliputi: 1) menentukan ide pokok; 2) identifikasi kata kunci; 3) mencuplik bacaan; 4) menjaring data; 5) mengisi bacaan yang rumpang; 6) memberi tanggapan pada bacaan; 7) menggambar peta konsep bacaan; 8) diskusi terkait topik bacaan; 9) mencari kata-kata sulit dan sebagainya. Ketiga, tahap pasca baca yakni untuk mengetahui ukuran kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan. Siswa dapat diberi tugas mengembangkan materi bacaan, memberikan beberapa pertanyaan atau menceritakan kembali isi bacaan.

Keterampilan memirsa adalah keterampilan berbahasa tambahan yang berkaitan dengan teknologi. Guru dituntut untuk melek teknologi dalam rangka memenuhi capaian pembelajaran memirsa. Pemilihan tayangan media visual yang diberikan kepada siswa menentukan tingkat keberhasilannya. Oleh karena itu, dalam memilih media visual guru harus memahami kebutuhan dan karakteristik siswa. Tayangan yang diberikan disesuaikan dengan tingkat usia dan kognitifnya. Guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran harus memahami posisinya. Berbagai hambatan dalam kegiatan membaca sering terjadi yang mengakibatkan rendahnya keterampilan membaca siswa. Antisipasi yang dapat dilakukan guru yakni meliputi: 1) mendalami fungsinya dalam kegiatan pembelajaran membaca; 2) mengerti prinsip membaca; 3) mengetahui tahapan membaca; 4) mengetahui strategi membaca; 5) dapat mengimplementasikan tahapan dan strategi membaca dengan baik; 6) mengetahui konsep penilaian membaca; dan 7) mengukur kemampuan membaca siswa secara periodik (Rambe & Widiyarti, 2018). Sebelum mengajarkan pembelajaran membaca, guru harus memahami dahulu seluruh konsep membaca permulaan dan pemahaman. Selengkapnya.....

Sabtu, 24 Juni 2023

Eksplor Bahasa dan Teks Sastra untuk Mengembangkan Kemampuan Siswa

Teks sastra dianggap sebagai “input terkontrol” yang mampu menawarkan tingkat kesesuaian untuk pelajar (Jouini, 2008). Sama hal nya dengan surat kabar dan majalah, teks sastra adalah dokumen yang bersifat otentif, karena meskipun tidak dirancang untuk tujuan pengajaran bahasa, teks sastra memungkinkan suatu proses komunikasi interaktif antara penulis, siswa, dan guru sebagai mediator. Namun, karya sastra fiksi cenderung melampaui surat kabar dan majalah dalam hal menggabungkan bahasa lisan dan tulisan. Kombinasi wacana ini menjadikan sastra sebagai sumber yang ideal di mana siswa dapat membayangkan dan menciptakan situasi di mana mereka dapat bertindak secara otentik. Artinya, di satu sisi, ketika menciptakan situasi, siswa akan bermanuver dalam lingkungan komunikatif di mana mereka akan dapat berbagi ide, emosi, dan informasi. Di sisi lain, dengan bertindak secara otentik, proses komunikasi verbal mereka untuk pemecahan masalah, negosiasi makna dan pertukaran reaksi akan merespon tujuan tertentu dan akan mengikuti mekanisme komunikasi normal (Fernández, 2001). Selain itu, panjang relatif novel memberisiswa waktu yang diperlukan untuk menjadi akrab dengan cerita, karakter, dan pengembangan plot teks, yang akan diperlukan untuk pengembangan keterampilan kreatif siswa.


Penggunaan Sastra dalam Pembelajaran Bahasa: Mengembangkan Cerita

Untuk mengeksploitasisastra dengan tujuan kreatif, mengeksploitasi dengan cara yang terbaik dengan tujuan membantu siswa mengembangkan konteksfiksi dan menciptakan kembalisituasi. Realitasfiksi dalam sastra sangat bergantung pada imajinasi pembaca. Ritlyova mengatakan bahwa membaca teks tanpa tugas tambahan dapat dikatakan kreatif karena dengan demikian pembaca mengembangkan fantasinya (Ritlyová, 2014). Namun, tidak semua siswa memiliki tingkat imajinasi yang sama, tetapi mendorong empatisiswa terhadap karakter adalah cara yang efektif untuk membuka dan memupuk imajinasi mereka. Siswa masuk ke sepatu karakter dan hidup melalui petualangan mereka; dengan melakukan ini, mereka menjadi kreatif dan membangun konteks yang bermakna dan dapat dibayangkan (Martín de León, C., & García Hermoso, 2020). Konteks yang dibuat oleh siswa ini akan membantu mereka memprediksi kemungkinan reaksi karakter fiksi terhadap narasi yang diberikan, mendorong siswa tidak hanya untuk membangun dan meningkatkan keterampilan membaca (Jouini, 2008) tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan menulis kreatif. Selengkapnya.....

Selasa, 06 Juni 2023

Konsep Bahasa



Istilah kompetensi bahasa (language competence) mengacu pada pengetahuan bawah sadar tentang tata bahasa yang memungkinkan seseorang menggunakannya untuk memahami masalah kebahasaan. Kompetensi bahasa berbeda dengan performansi bahasa yang justru lebih mengarah kepada aplikasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat beberapa komponen tata bahasa yang mesti dikuasai oleh pendidik dan calon pendidik agar dikatakan memiliki kompetensi dalam berbahasa. Komponen tersebut meliputi: (1) konsep dasar bahasa, (2) teori belajar dan pembelajaran bahasa, (3) pemerolehan dan perkembangan bahasa, (4) kompetensi gramatikal, (5) kompetensi wacana, (6) kompetensi sosiolinguistik, dan (7) kompetensi strategi yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa di kelas (Mustadi et al., 2021). Istilah penggunaan bahasa (language use) merupakan bentuk interaksisosial yang terjadi dalam situasi yang konkrit. Misalnya seseorang yang berada dalam masyarakat, maka ia tidak lagi dipandang sebagai individu yang terpisah dari yang lain. Pemakai bahasa merupakan anggota kelompok sosialnya. Oleh karena itu, bahasa dan penggunaan bahasa tidak diamati sebagai individu tetapi merupakan fenomena sosial. Komponen language use meliputi: (1) komunikasi, (2) interaksi, dan (3) literasi. Selengkapnya...

 

Jumat, 02 Juni 2023

Komunikasi Bisnis - Mengenal Komunikasi


Manusia sebagai makhluk hidup yang membutuhkan intraksi dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Manusia adalah makhluk yang lemah, tentu membutuhkan bantuan dari manusia lainnya. Sejak sebelum lahir manusia sebenarnya sudah melakukan kegiatan komunikasi. Misalnya seorang ibu hamil menghelus-helus perutnya sambil mengatakan, “jadi anak yang sholeh ya nak”. Padahal calon bayinya baru ada detak jantungnya saja. Contoh lainnya; seorang manusia membutuhkan tuhan dalam hidupnya sebagai sumber kekuatan dan memenuhi fitrahnya sebagai hamba yang membutuhkan sesembahan. Apakah itu komunikasi?
 

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...