Membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat
reseptif. Membaca dimaknai sebagai proses yang dilaksanakan oleh
seorang pembaca dengan tujuan mendapatkan informasi dari bacaan dan
mampu memahami pola bahasa yang ditulis (Rambe & Widiyarti, 2018).
Membaca sebagai kegiatan mengucapkan bunyi bahasa darisuatu tulisan
yang memiliki makna tertentu. Fatmasari & Fitriyah (2018) menjelaskan
bahwa membaca yakni memahami makna isi bahan bacaan yang tersirat
maupun tersurat. Dalam hal ini, kegiatan membaca membutuhkan
pemahaman agar apa yang disampaikan penulis dapat dipahami oleh
pembaca.
Membaca juga didefinisikan sebagai kemampuan melek huruf
dalam mengenali pola bunyi bahasa dan dapat mengucapkannya dengan
benar (Yarni & Kaban, 2015). Siswa tidak hanya mampu membaca tulisan
saja, namun dapat mengucapkannya dengan benar. Beberapa pengertian
tersebut dapat disintesiskan bahwa membaca adalah kemampuan
seseorang dalam mengenali dan mengucapkan pola bunyi tulisan bahan
bacaan serta memahami makna tulisan tersebut.
Memirsa adalah keterampilan yang baru muncul pada capaian
pembelajaran di kurikulum merdeka. Keterampilan memirsa dapat terjadi dikarenakan perubahan teknologi yang pesat sehingga siswa
harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Huri et al.
(2021) menjelaskan bahwa memirsa adalah proses kegiatan menonton
dan memaknai media visualseperti film, televisi, video dsb. Keterampilan
ini tidak hanya sekedar melihat atau menonton akan tetapi juga mampu
memaknai isi media yang ditayangkan tersebut.
Keterampilan memirsa
diartikan sebagai keterampilan yang menggabungkan literasi visual dan
memirsa kritis (Mulyadi & Wikanengsih, 2022). Hal ini berkaitan dengan
kemampuan siswa dalam memaknai isi tayangan. Berdasarkan penjelasan
tersebut maka dapat disintesiskan bahwa memirsa adalah kompetensi
literasi visual siswa yang mencakup kegiatan memperhatikan dan
memahami media visual yang diberikan oleh guru pada siswa.
Keterampilan membaca wajib dikuasai setiap siswa dalam proses
pembelajaran. Melalui membaca pengetahuan siswa akan bertambah
dan dapat meningkatkan kualitas siswa. Hal ini dikarenakan melalui
membaca siswa mendapatkan informasi dari materi pembelajaran yang
diajarkan guru dan dapat meningkatkan hasil belajar. Jika siswa bisa
membaca dengan baik akan mendorong motivasi belajar siswa dalam
mengikuti pembelajaran di kelas. Selain itu, setiap faktor kehidupan
siswa juga mengintegrasikan kegiatan membaca. Sehingga membaca
akan mempermudah siswa dalam menjalani kegiatan sehari-hari
dan memberikan banyak manfaat kepadanya. Sedangkan pentingnya
keterampilan memirsa bagi siswa adalah untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memahami isi media visual
(Huri et al., 2021).
Pada saat ini komunikasi tidak hanya mendengarkan
saja akan tetapi disertai aspek visual, melalui keterampilan memirsa
ini maka siswa dapat memperoleh berbagai informasi baru dan belajar
menganalisis teks visual dan multimedia.
Membaca tidak hanya mengenali bentuk dan pola huruf, akan
tetapi juga memahami maknanya. Proses membaca siswa sekolah
dasar mencakup dua tahap yakni membaca permulaan dan membaca
pemahaman. Membaca permulaan dipahami sebagai tahap awal dalam
kegiatan membaca di sekolah dasar (Muammar, 2020). Tahap membaca
ini diperuntukkan untuk siswa kelas rendah dengan merujuk pada
kemampuan siswa dalam mengubah dan mengucapkan tulisan mejadi
bunyi yang memiliki makna. Membaca permulaan difokuskan pada
pengenalan huruf, merangkai huruf menjadi sebuah kata, ketepatan
mengucapkan huruf, kejelasan dan kelancaran suara dalam membaca tulisan. Membaca pemahaman diartikan sebagai serangkaian kegiatan
dengan tujuan memahami konteks bacaan (Khazanah & Cahyani, 2016).
Proses membaca tahap ini melibatkan aspek mental dan kognitif siswa
dalam memaknai dan menganalisis bahan bacaan. Kedua tahapan
membaca ini penting dikuasai siswa karena siswa sekolah dasar tidak
langsung bisa membaca secara lancar akan tetapi ada proses tahapannya
dari yang mudah hingga sulit. Jika siswa sudah mahir dalam membaca
permulaan, maka ia dapat meningkatkan kemampuan membaca pada
level pemahaman.
Faktor psikologis berkaitan dengan jenis kelamin dan kesehatan fisik
siswa. Aspek fisik seperti pendengaran, penglihatan dan kemampuan
berbicara. Siswa yang memiliki kekurangan atau kelainan dalam aspek
fisik tersebut maka akan berpengaruh terhadap keterampilan membaca.
Faktor intelektual berhubungan dengan tingkat intelegensi yang dimiliki siswa. Kemampuan berpikir siswa lebih berpengaruh terhadap membaca
pemahaman. Karena membaca pemahaman membutuhkan kemampuan
berpikir. Faktor lingkungan yakni lingkungan sekolah dan rumah.
Lingkungan yang mendukung akan mendorong keterampilan membaca
siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama guru dan orang tua agar
keterampilan membaca dapat dicapai dengan baik. Faktor psikologis
berhubungan dengan motivasi dan minat siswa dalam membaca. Siswa
yang memiliki motivasi tinggi akan menunjukkan minat baca yang tinggi.
Tanpa perintah dan paksaan dari orang tua dan guru siswa akan aktif
membaca secara mandiri.
Capaian pembelajaran keterampilan membaca dan memirsa pada
kurikulum merdeka dibagi menjadi fase A, fase B, dan fase C. Capaian
pembelajaran membaca fase A (kelas 1-2) yakni 1) siswa memiliki
minat membaca atau memirsa; 2) siswa dapat membaca kata dengan
fasih; 3) siswa dapat memahami informasi bacaan dan tayangan; dan 4)
siswa dapat memahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan. Fase
B (kelas 3-4) mencakup capaian pembelajaran meliputi: 1) siswa dapat
memahami makna pesan dan informasi pada media cetak atau elektronik;
2) siswa dapat membaca kata-kata baru dengan fasih; 3) siswa mampu
memahami ide pokok dan pendukung pada teks informatif; 4) siswa
mampu memaparkan tokoh cerita pada teks narasi; dan 5) siswa dapat
dapat mamahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan sesuai dengan
topik. Fase C (kelas 5-6) memiliki capaian pembelajaran membaca yakni:
1)siswa dapat membaca kata-kata yang memiliki berbagai pola kombinasi
huruf secara fasih; 2) siswa dapat memahami kosakata baru dari makna
denotatif, konotatif, literal, dan kiasan; dan 3)siswa dapat menemukan ide
pokok suatu teks deskripsi, eksposisi dan narasiserta nilai yang terkandung
dalam suatu prosa, pantun dan puisi. Masing-masing fase memiliki tingkat
kognitif yang berbeda. Berdasarkan capaian pembelajaran tersebut, maka
dapat dianalisis bahwa pada fase A lebih fokus pada kefasihan siswa dalam
membaca dan pemahaman siswa mengenai kosakata baru pada bacaan
dan tayangan. Hal ini berkaitan dengan membaca permulaan yang fokus
pada kelancaran siswa dalam membaca. Fase B dan fase C siswa sudah
difokuskan dalam membaca kosakata baru dengan fasih dan memahami
isi bacaan secara keseluruhan. Pada keterampilan memirsa siswa lebih
difokuskan pada kemampuan memahami kosakata baru dari tayangan
yang ditonton. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka tahapan
selanjutnya adalah membaca pemahaman. Rambe & Widiyarti (2018)
menjelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk dapat
meningkatkan kemampuan membaca pemahaman yakni tahap prabaca,
membaca dan pasca baca. Pertama, tahap prabaca untuk memotivasisiswa
dalam membaca. Tahap ini penting dilakukan agar siswa terarah dan
dapat menggali kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan dengan
baik. Kegiatan ini meliputi: 1) memberikan gambaran awal bacaan; 2)
memberikan petunjuk; 3) memberikan peta konsep terkait kosakata
dalam bacaan; 4) sebelum membaca, siswa menulis pengalaman yang
berkaitan dengan topik bacaan; dan 5) siswa diberikan gambaran situasi
dalam cerita. Kedua, tahap membaca dapat dilakukan dengan berbagai
metode membaca meliputi: 1) menentukan ide pokok; 2) identifikasi
kata kunci; 3) mencuplik bacaan; 4) menjaring data; 5) mengisi bacaan
yang rumpang; 6) memberi tanggapan pada bacaan; 7) menggambar peta
konsep bacaan; 8) diskusi terkait topik bacaan; 9) mencari kata-kata sulit
dan sebagainya. Ketiga, tahap pasca baca yakni untuk mengetahui ukuran
kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan. Siswa dapat diberi tugas
mengembangkan materi bacaan, memberikan beberapa pertanyaan atau
menceritakan kembali isi bacaan.
Keterampilan memirsa adalah keterampilan berbahasa tambahan
yang berkaitan dengan teknologi. Guru dituntut untuk melek teknologi dalam rangka memenuhi capaian pembelajaran memirsa. Pemilihan
tayangan media visual yang diberikan kepada siswa menentukan tingkat
keberhasilannya. Oleh karena itu, dalam memilih media visual guru harus
memahami kebutuhan dan karakteristik siswa. Tayangan yang diberikan
disesuaikan dengan tingkat usia dan kognitifnya.
Guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran harus memahami
posisinya. Berbagai hambatan dalam kegiatan membaca sering terjadi
yang mengakibatkan rendahnya keterampilan membaca siswa. Antisipasi
yang dapat dilakukan guru yakni meliputi: 1) mendalami fungsinya
dalam kegiatan pembelajaran membaca; 2) mengerti prinsip membaca;
3) mengetahui tahapan membaca; 4) mengetahui strategi membaca; 5)
dapat mengimplementasikan tahapan dan strategi membaca dengan baik;
6) mengetahui konsep penilaian membaca; dan 7) mengukur kemampuan
membaca siswa secara periodik (Rambe & Widiyarti, 2018). Sebelum
mengajarkan pembelajaran membaca, guru harus memahami dahulu
seluruh konsep membaca permulaan dan pemahaman. Selengkapnya.....