Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran bahasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Desember 2023

Pembelajaran Bahasa Indonesia Terpadu di SD

Pengalaman siswa sebelum memasuki bangku sekolah jenjang SD, memandang dan mempelajari segala peristiwa yang di alami dan terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai suatu kesatuan yang utuh (holistik). Alasan inilah yang menjadi salah satu dari penyebab pembelajaran di jenjang SD harus dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan karakteristik siswa sebagai pembelajar yang akan menghayati pengalaman belajar sebagai satu kesatuan yang utuh. 

Pengemasan pembelajaran terpadu harus di susun secara tepat, karena akan berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman belajar siswa, yang menunjukkann kaitan unsur-unsur konseptual dalam mata pelajaran dan antar mata pelajaran bagi terjadinya pembelajaran lebih bermakna. Pembelajaran yang dilaksanakan secara terpadu merupakan suatu pendekatan dalam belajar dan cara berpikir, yang memandang beragam mata pelajaran sebagai suatu kesatuan. 

Khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia dipandang sebagai bagian integral dalam belajar mata pelajaran lainnya. Mata pelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD tidak dipelajari sebagai mata pelajaran yang terpisah, melainkan dipelajari secara terpadu dalam mempelajari mata pelajaran lainnya. Aspek-aspek keterampilan berbahasa dikembangkan secara langsung atau dipadukan melalui kegiatan belajar semua mata pelajaran lainnya. Agar terjadi keterpaduan antara mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lainnya, maka digunakanlah pendekatan pembelajaran terpadu, untuk memberikan makna belajar bagi siswa. 

Pembelajaran terpadu merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, berorientasi pada praktik pembelajaran sesuai dengan kebutuhan anak untuk membangun konsep yang saling berkaitan. Sehingga pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami berbagai permasalahan di lingkungannya secara utuh, dengan kemampuannya dalam mengidentifikasi, mengumpulkan, menilai, dan menggunakan informasi di sekitarnya secara bermakna. 

Pengetahuan diperoleh siswa tidak hanya melalui pemberian pengetahuan baru oleh guru, tetapi pengetahuan bisa juga diperoleh siswa melalui kesempatan memantapkan dan menerapkan pengetahuan lama dalam berbagai situasi baru yang beragam. Ada dua keterpaduan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu: 1. Keterpaduan intra mata pelajaran, yaitu keterpaduan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia sendiri. Keterpaduan ini dilaksanakan dengan mengembangkan aspek keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak dalam satu tema. 2. Keterpaduan antar mata pelajaran, yaitu keterpaduan mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lain. 

Siswa menggunakan aspek keterampilan bahasa untuk memberikan informasi, memberi tanggapan, memecahkan masalah, dan untuk mencapai kemampuan lainnya. Pembelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD harus dilaksanakan secara terpadu antara ke empat aspek keterampilan berbahasa (aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), dan aspek kebahasaan/sastra. 

Contohnya pembelajaran struktur kalimat dipadukan dengan wacana, yang dilakukan dengan mengarahkan siswa untuk memahami struktur kalimat bahasa Indonesia dengan menemukan sendiri dalam wacana yang ditentukan oleh guru. Dalam melatih keterampilan berbahasa, guru dapat memilih untuk memfokuskan salah satu dari empat aspek keterampilan bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa Indonesia juga dapat dipadukan dengan mata pelajaran lainnya yang berkaitan dengan kehidupan dan kebutuhan nyata siswa, sehingga pembelajaran menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Sabtu, 16 Desember 2023

Model Pembelajaran Bahasa

Model pembelajaran tentu sudah tidak asing dalam kegiatan belajar dan mengajar. Model pelajaran sebagai cara yang dipilih guru untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Model pelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi, misalnya; kategori mata pelajaran, cakupan materi, usia, level sekolah lingkungan sekitar dan lain-lain. Namun, jika salah memilih model pembelajaran akan menjadi tidak oftimal atau tidak berfungsi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan dan budaya (Kemendikbud, 2014).

Model pembelajaran berperan untuk membentuk pola pembelajaran berpusat pada siswa. Model pembelajaran merupakan prosedur sistematis dalam mengelola kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap pembelajaran akan menggunaka model pembelajaran yang sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan siswa. Bahasa Indonesia sebagai bidang ilmu yang dipelajari di semua level pendidikan Indonesia mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Empat keterampilan berbahasa yakni membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Model pembelajaran membaca dapat dilakukan dengan pendekatan proses menggunakan strategi anticipation guide, strategi DRTA (directed, reading, thinking activity), strategi KWLA (know, want, learned, affect), strategi directed inquiry activity, strategi OH RATS (overview, headings, read, answer, test-study), strategi SQ3R (survey, question, read, recite, and review), strategi ECOLA (extending, concept, throught, language, activity).

Sementara model menulis dengan pendekatan proses dapat dilakukan dengan strategi sentence collection, sedangkan pembelajaran sastra menggunakan model strata, induktif, analisis, sinektik, bermain peran, sosiodrama dan simulasi (Syamsi, 2010). Pada kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka ada tiga model pembelajaran yang ditekankan untuk digunakan dalam proses pembelajaran yakni; 1) Problem based learning/PBL, 2) Project based learning/PjBL, dan 3) Discovery learning/DL. Model-model pembelajaran selalu berkembang menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Para ahli dan akademisi selalu berusaha untuk mengembangkan model pembelajaran. 

Pengembangan model pembelajaran untuk menciptakan kondisi belajar yang bermakna dan siswa dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan nyata. Adapun model-model pembelajaran yang popular dalam kondisi wabah diantaranya; 1) model ASIIK, 2) model SOLE, 3) model Flipped Classroom, 4) model Blended Learning, 5) Model Descovery-Inquiry, 6) Model Game. Selengkapnya dapat diakses dengan link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate     DOI

Selasa, 05 September 2023

Asesmen Pembelajaran Literasi Anak SD

Asesmen pembelajaran literasi di sini ada dua model. Secara umum, asemen literasi mengacu AKM yang bentuknya variasi, yaitu meliputi: 1. Pilihan ganda, 2. Pilihan ganda kompleks, 3. Menjodohkan, 4. Isian, 5. Esai atau uraian Asesmen.  Pembelajaran literasi anak SD dalam buku ini merupakan asesmen pembelajaran pada setiap pembelajaran yang berdirisendiri dalam satu pembelajaran literasi. Asesmen pembelajaran literasi di luar AKM yang dimaksud di buku ini tidak sekadar mengukur hasil belajar siswa, namun juga menjadi umpan balik pada mutu, proses pembelajaran dengan pelibatan pendidikan dan peserta didik dalam rangka merefleksikan proses pembelajaran. Maka asesmen pembelajaran literasi dibutuhkan di awal pembelajaran berbentuk asesmen diagnosis dengan kontinyu dalam proses belajar. Dalam hal ini, asesmen formatif harus ditekankan daripada asesmen sumatif. Asesmen formatif dapat berbentuk kompilasi karya peserta didik dalam proses pembelajaran, catatan pengamatan, dan lainnya. Maka asesmen formatif dan sumatif sama-sama dibutuhkan dalam pembelajaran literasi anak SD di dan juga di semua lintas mata pelajaran. Selengkapnya.....

Jumat, 14 Juli 2023

TIK dalam Pembelajaran Kurikulum Merdeka

TIK dalam ranah pembelajaran merupakan sebuah inovasi terbarukan dalam pengembangan teknologi (Damanik, 2019: 805). Kehadiran TIK dalam lingkup pendidikan akan otomatis meningkatkan model pembelajaran yang dilakukan guru kepada siswa selama proses pembelajaran. Menurut Wrigley dalam Rahim (2011: 129) Ketika fase informasi datang, banyak peran guru tradisional akan dibenamkan dengan akselerasi digital sebagai sumber pengetahuan. Dengan perkembangan digital yang merambah dunia pendidikan, para guru perlu memanfaatkan digital sebagai media pembelajaran untuk mengembangkan model pembelajaran yang menyenangkan bagisiswanya. Pada dasarnya, TIK memiliki dua elemen: teknologi dan informasi. Teknologi informasi terlibat dalam pemrosesan informasi, penggunaan, pengoperasian, dan pengelolaan alat komunikasi. Contohnya seperti proses yang berkaitan dengan pengiriman data dari satu perangkat ke perangkat lainnya.

Ada tiga jenis pengembangan TIK dalam pembelajaran: pertama lewat internet, kedua lewat komputer, ketiga lewat multimedia (Zainiyati, 2017: 63). Ada tiga jenis perkembangan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran tingkat SD, sebagaimana fenomena yang terjadi pada siswa tingkat SD yang sebenarnya dikenal dengan istilah alpha atau milenial. Penggunaan komputer dalam pembelajaran tingkat pemula sebagai alat untuk menulis, memutar video, memutar lagu, dan lainnya. Selain komputer, internet sudah menjadi hobi siswa untuk mencari sesuatu. Guru dapat mencari perhatian lain kepada siswa dengan jalan melakukan pembelajaran melalui pemanfaatan media video call, zoom, atau Youtube sebagai sarana penunjang pembelajaran. Di sisi lain, guru menjalankan beberapa media secara bersamaan, seperti audio visual.

Pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan berbagai model dan dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran lain. Hal ini karena pembelajaran yang dilakukan didasarkan 4 keterampilan berbahasa,yakni menyimak, berbicara, menulis, serta membaca. Semua kategori memiliki beberapa submodel yang dapat dinikmati dengan menggunakan media TIK. Salah satu modelnya adalah memanfaatkan TIK sebagai media dalam proses pembelajaran adalah sub model menyimak yang terbagi dalam beberapa aspek seperti mengidentifikasi kata kunci, melakukan perluasan kalimat, penyelesaian cerita dan menceritakan kembali. Pembelajaran berbicara memiliki satu aspek yang dapat diintegrasikan dengan TIK. Terdapat 2 model dalam pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indoensia yang dapat dipadukan dengan TIK pertama ECOLA dan kedua K-W-L. selanjutnya pembelajaran dengan menulis memiliki 2 model komponen dan dapat diintegrasikan dengan TIK pertama sugesti dan kedua brown. Semua komponen pembelajaran Bahasa Indonesia yang dapat diintegrasikan dengan media TIK, meskipun TIK memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Selengkapnya.....  

Jumat, 07 Juli 2023

Cara mengembangkan KD dan Indikator

Dari capaian pembelajaran yang ditetapkan dari pemerintah ini diharapkan masing-masing guru dapat menurunkan ke dalam KD dan indikator. Satu CP dapat diturunkan menjadi beberapa KD dan Indikator. Bagaimana caranya menurunkan CP menjadi KD dan indikator? Yang pertama guru harus membaca dengan jeli capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. Kedua, guru harus memahami Kata Kerja Operasional (KKO) Taksonomi Bloom, mulai C1 – C6 disemua ranah (afektif, kognitif dan psikomotorik). Ketiga, guru harus dapat memformulasi kedalaman dan keluasan materi dari KKO yang ditetapkan tersebut menjadi KD dan indikato di 3 ranah (afektif, kognitif, psikomotik). Keempat, guru harus dapat menghadirkan materi yang relevan dengan KD dan indikator yang dia turunkan dari CP. Munsenmaier dan Rubin (2013) dalam (Ching & Da Silva, 2017) menyarankan pertanyaan model untuk diperkenalkan di bawah setiap tingkat taksonomi Bloom, dengan mempertimbangkan bahwa itu adalah sebagai alat untuk belajar. (Ching & Da Silva, 2017) kemudian mengadaptasi pertanyaan untuk setiap tingkatan taksonomi.

  1. Mengingat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mendefinisikan istilah, mengidentifikasi fakta dan menemukan informasi atau konten tentang subjek, dan juga kriteria yang membantu siswa: Mendefinisikan informasi? Sebutkan fakta? Baca informasi? Buat daftar fakta atau detail? Menemukan fakta atau ide? Ambil informasi? Jelaskan informasi? Mengenali fakta atau ide dalam konteks?
  2. Memahami tujuan untuk membantu siswa menghubungkan pembelajaran baru dengan pembelajaran sebelumnya pengetahuan; kriteria untuk membantu siswa: Ringkasan fakta dan ide? Nyatakan kembali metode atau prosedur? Menafsirkan hubungan? Parafrase informasi? Memprediksi konsekuensi? Berikan contoh? Menceritakan kembali peristiwa? Menceritakan kembali informasi dengan kata-kata sendiri? Nyatakan masalah dengan kata-kata sendiri? Jelaskan ide atau konsep? Tentukan pentingnya?
  3. Menerapkan bertujuan untuk memberikan kesempatan untuk menerapkan prosedur yang dipelajari dan metode; kriteria untuk membantu siswa: Mendemonstrasikan metode dan Prosedur? Melaksanakan prosedur? Gunakan ide atau pengetahuan? Temukan tujuan baru untuk kompetensi atau pengetahuan? Gunakan pengetahuan dalam situasi baru? Bereksperimen dengan konsep dalam pengaturan yang berbeda? Menyesuaikan pengetahuan untuk digunakan dalam konteks yang berbeda? Terapkan prosedur untuk unik situasi?
  4. Analisis bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa membedakan antara apa yang relevan dan/atau tidak relevan, menentukan hubungan, dan mengenali organisasi konten dengan analisis elemen, hubungan dan prinsip-prinsip organisasi; kriteria untuk membantu siswa: Membedakan fakta dari hipotesis? Kenali niat? Bedakan relevan dari yang tidak relevan? Perhatikan strukturnya? Pilih yang penting elemen? Dekonstruksi konten? Mengatur konten? Garis besar konten? Memahami hubungan?
  5. Evaluasi bertujuan untuk membantu siswa membuat penilaian menggunakan bukti internal dan solusi eksternal; kriteria untuk membantu siswa: Periksa keakuratannya? Deteksi inkonsistensi? Memantau efektivitas? Evaluasi prosedur? Mengkritik solusi? Teknik hakim? Performa kontras? Memeriksa kemungkinan hasil?
  6. Mencipta bertujuan untuk memberikan peluang untuk menghasilkan ide, merancang rencana dan menghasilkan produk; kriteria untuk membantu siswa: Membangun desain? Menghasilkan kemungkinan? Tulis ide? Usulkan hipotesis? Menghasilkan solusi? Produk desain? Merakit rencana? Mengatur ulang operasi? Bayangkan kemungkinan? Selengkapnya.....

Rabu, 28 Juni 2023

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SD

Dalam kurikulum 2013 pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah berbasis teks atau lebih difokuskan pada teks. Melalui teks-teks tersebut selain diajarkan ilmu kebahasaan juga diintegrasikan pendidikan karakter. Dalam kurikulum merdeka pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah difokuskan pada keterampilan menyimak, membaca dan memirsa, berbicara dan mempresentasikan serta menulis untuk berbagai tujuan berbasis genre yang terkait dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan.

Pembinaan dan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia akan membentuk pribadi Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berpikir kritis, mandiri, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global (Kurikulum Merdeka, 2022) Melalui membaca teks peserta didik mampu memperbaiki sikap untuk lebih berkarakter. Terlebih melalui pendekatan saintifik atau ilmiah pembentukan karakter akan mudah terealisasikan.

Dalam pendekatan saintifik, siswa diminta unntuk mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan dengan integrasi pembentukan sikap, misalnya mengamati dengan tanggung jawab, menanya dengan santun, mencoba dengan jujur, dan mengasosiasi dan mengomunikasikan dengan proaktif. Sikap baik tersebut akan terus ditanamkan dalam setiap pembelajaran sehingga ketika peserta didik sudah terbiasa dengan sikap baik, maka kebiasaan itu akan tetap sikap baik.

Ketika peserta didik yang menjadi generasi penerus sudah menjadi pribadi yang baik tentu saja akan mengembalikan identitas bangsa menjadi bangsa yang bermartabat. Pembelajaran berbasis teks merupakan pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan siswa untuk menyusun teks. Metode pembelajaran ini mendasarkan pada pemodelan teks dan analisis terhadap fitur-fitur secara eksplisit serta fokus pada hubungan antara teks dan konteks penggunaannya. Dalam proses pembelajaran ini mengarah pada peserta didik agar mampu memahami dan memproduksi teks baik secara lisan maupun secara tulisan dalam berbagai konteks. Selengkapnya.....

Senin, 19 Juni 2023

Pengenalan dan Pembelajaran Bahasa Abad ke-21

Kesulitan yang signifikan untuk pembelajaran bahasa dan sastra, misalnya saja permasalahan yang banyak dijumpai oleh para pendidik di belahan dunia yaitu tentang strategi pembelajaran bahasa dan sastra anak. Banyak pendidik baik pendidik yang tradisional maupun modern kurang mampu memahami bagaimana pembelajaran bahasa dan sastra untuk anak yang ujungnya pada hasil yang sukses yang dicapai oleh peserta didik. Integrasi dan perkembangan teknologi serta tumbuhnya kesadaran akan keberagama kebudayaan dan globalisasi telah mengubah konsep pembelajaran yang dulunya konservatif menjadi pembelajaran abad 21 (Borsheim, C., Merritt, K., & Reed, 2008).

Ide yang dicetuskan tersebut berfokus pada peserta didik untuk dapat memperoleh atau mengambil informasi, mengatur dan mengelola informasi, menilai relevansi, kualitas, dan kegunaan informasi,serta menciptakan informasisecara benar dengan menggunakan sumber daya yang ada (Educational Testing Service, 2007). Kemampuan seperti inilah yang harus dimiliki pembelajar modern untuk dapat bertahan di pasar yang semakin mengglobal (Pacific Policy Research Center (PPRC), 2010). salah satu fokus dari program abad 21 adalah bahasa, yaitu komunukasi yang efektif. Kemampuan yang dibutuhkan dalam budaya saat ini adalah “komunukasi yang efektif”,seperti kerjasama, keterampilan interpersonal, akuntabilitas pribadi, tugassosial dan sipil, dan komunikasi yang interaktif. Untuk mengenali konteks multibahasa dan multikultural yang baru untuk pembelajaran bahasa, dipahami potensi sastra untuk komunikasi dan mediasi antarbudaya (Kramsch, 2014); (Council of Europe, 2018).

Dokumen kurikulum terbaru secara global meminta para pendidik bahasa untuk dapat mempromosikan secara luas dan komplek, yang mana ini semua bertujuan terhadap penguasaan bahasa sederhana, kekritisan, komunikasi dan empati antarbudaya, kreasi dan inovasi, kemandirian, kerja tim, etika dan kecerdasan emosional, dan keterampilan abad ke-21 lainnya yang dapat kita terapkan (Naji, H., Subramaniam, G., & White, 2019). Kramsc meminta kita semua untuk berpikir kembali tentang pembelajaran bahasa sebagai mata pelajaran multibahasa (Kramsch, 2009); (Kramsch, 2014). Ada batasan-batasan antara bahasa, budaya, dan negara yang mana ini semua teriritasi dengan adanya migrasi dan mobilitas yang semakin menjadi sebuah norma bagi kebanyakan orang, bersama dengan interkoneksi yang meluas oleh internet.

Bahasa dan sastra sering tercampur dan mendorong perhatian pengguna pada sifat fiktif dari bahasa nasional yang dianggap paling benar. Pengakuan tentang pemahaman keragaman bahasa modern serta dasar untuk tekssastra, perlu dipelajari dan dinegosiasikan oleh pengguna bahasa. Sastra secara prototipikal berurusan dengan yang di namakan dengan “batas” tempat,situasisosial ekonomi, kelas, agama, jenis kelamin, bahasa, dan gaya. Membaca sastra kita perlu sebuah pemahaman apa dan siapa yang terpinggirkan dan mengapa, serta kita juga perlu masuk ke dunia imajinatif (Maginess, 2019). Sedangkan belajar bahasa, menurut Kramch memiliki hal yang istimewa dan ada tantangan tersendiri untuk menempati hubungan marginal dengan bahasa yang mereka pelajari (Kramsch, 2009).

Penelitian tentang pemerolehan bahasa kedua menunjukkan pentingnya fokus pada bentuk linguistik yang di pandang tepat untuk pembelajaran bahasa (Schmidt, 2010). Begitu pula dengan teks sastra, yang mana memiliki perhatian yang sama(Peplow, 2016). Baru-baru ini, keterlibatan emosional dan perasaan sangat disoroti sebagai bagian dari terpenting dan yang mengharukan dalam pembelajaran bahasa (Bigelow, 2019). Memiliki arti dan yang mengharukan ini semua diolah lebih dalam lagi melalui teks sastra yang disesuaikan dengan pembelajaran anak. Kritik terhadap materi komersional baik internasional dan nasional yang digunakan untuk mendukung pembelajaran bahasa menunjukkan peran yang sangat penting bagi sastra. Sastra berurusan tentang isu-isu “besar”, kematian, cinta, kehidupan, dan hubungan. Hal ini memiliki relevansi pribadi (Maley, A., & Kiss, 2018). Selengkapnya.....

Jumat, 16 Juni 2023

CURRENT ISSUES PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA ANAK

Dewasa ini, komunikasi adalah elemen sangat penting untuk mendukung kehidupan manusia. Komunikasi merupakan sebuah proses transisi informasi dari satu orang ke orang lain (Roel, B.D., Ross, 2011). Jika orang tidak dapat menguasai bahasa, penyebab yang akan di timbulkan adalah kegagalan untuk berkomunikasi dan konsekuensi serius bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebagai contoh dalam bidang pendidikan, yang mana guru gagal dalam berkomunikasi dengan muridnya, memiliki kemungkinan besar bahwasanya siswa tersebut tidak akan merasa percaya diri untuk tampil di acara sekolah. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penguasaan bahasa menjadi bagian yang sangat penting dalam hal berkomunikasi.

Akhir-akhir ini, telah terjadi pergeseran dalam bidang pembelajaran dan pengajaran bahasa dengan penekanan yang lebih besar pada belajar dan mengajar pada guru. Yang mana pergeseran fokus dari guru ke peserta didik telah menyebabkan para peneliti untuk melakukan studi yang berbeda tentang karakteristik peserta didik dan situasi belajar (Esim Gürsoy and Elif EkEn, 2018); (Bialystok, 1981). Dengan demikian, peserta didik dan perannya dalam hal proses pembelajaran telah menjadi perhatian utama di sebagian besar dari penelitian.

Sejalan dengan pergeseran minat baru ini, pertanyaan muncul tentang bagaimana pelajar memproses informasi yang baru yang mana telah menjadi penting dan ini semua akan mendorong peneliti untuk menyelediki strategi pembelajaran bahasa dari pelajar (Cohen, 1998); (O’Malley, J. M. and Chamot, 1990); (Oxford, 1990); (Wenden, A. and Rubin, 1987). Hal inisesuai pernyataan dari Nyikos dan Oxford bahwasanya belajar itu dimulai dari pelajar itu sendiri (Nyikos, M. and Oxford, 1993). Oleh sebab itu, belajar seharusnya dianggap sebagai kompetensi utama yang diharuskan untuk dilengkapi oleh peserta didik (Strakova, 2013).

Program sastra kontemporer anak-anak yang dilaksanakan oleh pusat pengembangan kurikulum bertujuan untuk mempromosikan membaca. Dalam sebuah penelitian oleh Kow, mengatakan bahwa negasi dalam sastra anak-anak memiliki ketegangan antara apa yang orang dewasa pahami sebagai sastra anak-anak dan apa yang dibayangkan oleh anak tersebut sebagai sastra (Kow, 2006). Maka pertanyaan akan muncul di benak kita bahwasanya apakah anak-anak seharusnya mendapatkan kesenangan dari apa yang mereka baca yaitu buku atau mereka belajar darinya?

Sebuah minat baru dalam sastra secara bertahap muncul di dalam kurikulum bahasa asing seperti yang ditunjukkan dalam studi terbaru (misalnya (Hall, 2015); (Matos, 2012); (Paran, 2010); (Sell, 2015) membuktikan relevansi yang berkembang dari pendekatan pedagogis untuk pengajaran dan pembelajaran bahasa asing. Hal ini juga memberikan praktik dimana siswa untuk mengembangkan keterampilan bahasa, karena literatur-literatur menghadapkan kepada siswa pada tema yang lebih kompleks dan penggunaan bahasa yang terkini (Lazar, 1993). Selain itu juga, siswa yang berasal dari luar daerah tempat mereka tinggal menuntut pendekatan yang berbeda dari dimensi budaya (Matos, 2012). Studisastra memberikan kontribusi di kelas bahasa yang memberikan para siswa ini keterampilan antarbudaya yang semakin diperlukan di dunia global kontemporer. Sebagai seorang pendidik, kita dapat menggunakan studi sastra untuk mempersiapkan siswa yang menghadapi kompleksitas dunia global. Selengkapnya.....

Jumat, 02 Juni 2023

Bahasa dan Sastra Indonesia SD Berorientasi Kurikulum Merdeka

 


Perkembangan zaman semakin cepat di era 5.0, maka pemerintah melakukan berbagai terobosan baru untuk memenuhi kebutuhan belajar dan mengajar. Bahasa Indonesia adalah Bahasa persatuan, jangan heran pelajaran Bahasa Indonesia dipelajari dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Setiap kegiatan belajar mengajar membutuhkan kurikulum. Kurikulum juga terus dilakukan pengembangan. Perubahan kurikulum hal biasa termasuk perubahan kurikulum 2013 menjadi kurikulum merdeka. Buku Bahasa dan sastra Indonesia SD berorientasi kurikulum merdeka, hadir untuk mendukung dan melengkapi kegiatan belajar mengajar. 

Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia Di SD - Hakikat Bahasa dan Pembelajaran Bahasa

 

Dunia mempunyai banyak ragam bahasa. Setiap bahasa dengan khas tersendiri yang membedakan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya. Bahasa adalah alat komunikasi utama dan selalu terjadi dalam konteks sosial (Kuiper & Allan, 2017). Bahasa secara ekslusif hanya dimiliki manusia terdapat perbedaan yang jelas dari sesi lingustik dan non-lingustik serta memiliki makna (Burridge & Stebbins, 2019). Richards and Webber, menyebutkan bahasa adalah sistem komunikasi manusia yang dinyatakan melalui suara atau ungkapan tulis yang terstruktur untuk membentuk satuan yang lebih besar seperti morfem, kata dan kalimat. Sedangkan menurut Sapir, bahasa sebagai suatu naluriah yang dimiliki manusia untuk mengkomunikasikan ide-ide, emosi dan keinginan yang menggunakan simbol yang dibuat untuk tujuan tertentu (Wiratno & Santosa, 2014). Bahasa adalah alat komunikasi, bersifat arbitrer, konvensional dan merupakan lambang bunyi (Suhandra, 2019). Bahasa adalah alat komunikasi yang bermakna (Noermanzah, 2019). Bahasa dalam pengertian kamus besar Bahasa Indonesia adalah sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran (Sugono, D., 2008).

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...