Asesmen pembelajaran literasi di sini ada dua model. Secara umum, asemen literasi mengacu AKM yang bentuknya variasi, yaitu meliputi: 1. Pilihan ganda, 2. Pilihan ganda kompleks, 3. Menjodohkan, 4. Isian, 5. Esai atau uraian Asesmen. Pembelajaran literasi anak SD dalam buku ini merupakan asesmen pembelajaran pada setiap pembelajaran yang berdirisendiri dalam satu pembelajaran literasi. Asesmen pembelajaran literasi di luar AKM yang dimaksud di buku ini tidak sekadar mengukur hasil belajar siswa, namun juga menjadi umpan balik pada mutu, proses pembelajaran dengan pelibatan pendidikan dan peserta didik dalam rangka merefleksikan proses pembelajaran. Maka asesmen pembelajaran literasi dibutuhkan di awal pembelajaran berbentuk asesmen diagnosis dengan kontinyu dalam proses belajar. Dalam hal ini, asesmen formatif harus ditekankan daripada asesmen sumatif. Asesmen formatif dapat berbentuk kompilasi karya peserta didik dalam proses pembelajaran, catatan pengamatan, dan lainnya. Maka asesmen formatif dan sumatif sama-sama dibutuhkan dalam pembelajaran literasi anak SD di dan juga di semua lintas mata pelajaran. Selengkapnya.....
Selasa, 05 September 2023
Sabtu, 02 September 2023
Pengembangan Materi Literasi SD berbasis AKM
Pengembangan materi literasi SD pada Kurikulum Merdeka harus diintegrasi dengan Asesmen Kompetensi Minimun (AKM). Sebelum membahas AKM, dalam modul ini dijelaskan dulu skema penjenjangan membaca/literasi pada anak. Penjenjangan ini senada dengan taksonomi Barrett yang memetakan pemahaman membaca dalam lima jenjang, yaitu pemahaman literal, reorganisasi, pemahaman inferensial, evaluasi, dan apresiasi.
Merujuk dengan Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka dan konsep pembelajaran literasi di atas, cakupan materi literasi anak SD dalam konteks ini terbagi atas dua aspek, yaitu di dalam pembelajaran mata pelajaran di luar pembelajaran lintas mata pelajaran. Pengembangan cakupan materi literasi SD ini merujuk kepada Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). AKM dalam Kurikulum Merdeka memiliki tujuan mengukur kompetensi mendasar peserta didik agar mereka dapat mengembangkan kompetensi diri dan berpartisipasi potifi di masyarakat (Wijaya et.al, 2021:ii). Cakupan AKM pada kemampuan menerapkan bahasa atau kemampuan literasi anak fokus pada tiga aspek, yaitu: 1. Keterampilan berpikir logis-sistematis. 2. Keterampilan bernalar dengan menerapkan konsep dan pengetahuan. 3. Keterampilan memilah dan memilih serta mengolah informasi yang didapat.
Dalam konteks literasi, anak-anak diajak untuk mengenal konten teks yaitu ada teksfiksi dan teksinformasi. Sedangkan konteksteks yaitu konteks personal,sosial-budaya,saintifik, menemukan informasi, menafsirkan dan mengintegrasikan informasi, mengevaluasi dan merefleksi (Wijaya et. al., 2021:12–22). Dalam konteks ini, pengembangan materi literasi harus selaras dengan AKM karena orientasi dari pembelajaran literasi adalah penguatan kemampuan anak yang distandardisasikan untuk menjawab soal-soal AKM sebagai pengganti UN.
Literasi dalam mata pelajaran fokus pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan merujuk pada Capaian Pembelajaran. Melalui Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka, pendidik dapat mengembangkan materi dan mendesain modul ajar yang relevan dengan gaya belajarsiswa, pengalaman belajar siswa, dan perkembangan zaman. Sedangkan materi integral lintas mata pelajaran dapat dikembangan oleh pendidikan di semua mata pelajaran dengan penguatan komponen literasi yang ada dan dikembangkan secara holistik sesuai Capaian Pembelajaran pada mata pelajaran tertentu. Selengkapnya.....
Kamis, 31 Agustus 2023
Konsep Pembelajaran Literasi Anak SD
Pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka menjadi penting untuk menjawab tantangan era digital saat ini. Selain penguatan numerasi dan sains, pemerintah melalui Kemendikbud Ristek fokus juga terhadap literasi. Artinya literasi menjadi penting dihadirkan tidak sekadar di dalam sebuah gerakan namun juga di dalam kurikulum dan pembelajaran, baik yang integral dengan mata pelajaran tertentu maupun yang berdiri sendiri untuk penguatan literasi anak SD.
Dalam konteks pedagogi, pembelajaran literasi merupakan pembelajaran keaksaraan pada anak (Wray, 1999:53). Dalam perkembangannya, pembelajaran literasi tidak hanya mengajarkan anak dalam aspek kognitif (belajar membaca) dan motorik (belajar menulis dengan pensil), namun dikuatkan pada keterampilan mencari, mengolah, dan memanfaatkan informasi dari internet, teknologi digital, dan kemampuan mengoperasikan dengan bijak Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) (Grönlund & Genlott, 2013). Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran literasi merupakan proses belajar yang holistik dari peranti manual menuju piranti digital yang dikenalkan pada anak. Seiring berkembangnya zaman, literasi di dalamnya mencakup tahapan-tahapan di dalam pembelajaran yang menjadikan peserta didik menumbuhkembangkan potensi dan pengetahuannya. Literasi di era Revolusi Industri 4.0 tidak sekadar literasi baca-tulis-berhitung yang biasa disebut literasi lama. Namun di dalam pembelajaran, anak-anak SD harus dikuatkan dalam aspek literasi baru yaitu literasi data-teknologi-manusia (Apriani, 2016:59; Stegman, 2014:31).
Pembelajaran literasi dalam konteks ini harus menyesuaikan dari penguatan literasi lama menuju penguatan literasi baru pada anak. Pembelajaran literasi merupakan pengembangan keterampilan literasi individu di sekolah formal meliputi membaca, menulis, dan teknologi (Deshler et. al., 2012). Pembelajaran literasi SD adalah kegiatan untuk mengembangkan kemampuan membaca pada siswa SD (Aziz et. al, 2021:243). Pembelajaran literasi di SD merupakan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa dengan berbagai macam teks. Maka dibutuhkan model, strategi dan metode pembelajaran yang relevan untuk membelajarkan literasi pada anak SD termasuk berbasis multiliterasi, integrasi, dan berdiferensiasi (Abidin, 2017:156). Konsep ini menegaskan bahwa pembelajaran literasi tidak sekadar pada aspek membaca dan menulis namun juga penguatan kemampuan literasi digital yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Untuk meningkatkan kemampuan adaptasi anak di era disrupsi, literasi digital harus diintegrasikan di dalam pembelajaran melalui pemanfaatan media digital, gambar, pembelajaran kontekstual, untuk meningkatkan kompetensi anak dalam penguasaan informasi, berpikir komputasi, melek media digital, dan penguasaan kompetensi TIK (Rusydiyah & Purwati, 2020:305). Pembelajaran literasi berbasis media digital membentuk budaya baru yang mengubah cara pandang, sistem sosial, konsep, dan nilai yang ada di dalam pendidikan (Rivoltella, 2008:ix). Oleh karena itu, dibutuhkan pembelajaran literasi yang menyesuaikan zaman namun tidak mencerabut sistem nilai dan karakter yang ada di dalam pendidikan.
Literasi tidak selamanya berkorelasi dengan satu rumpun mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, namun hakikatnya literasi integral pada semua mata pelajaran karena sesuai konsep UNESCO di atas, literasi sangat berkaitan dengan proses belajar dari lintas disiplin ilmu. Pembelajaran literasi lintas mata pelajaran merupakan proses pembelajaran yang dilaksanakan pendidik dengan tujuan menumbuhkembangkan pengetahuan anak. Prosesnya dimulai dari tahap persiapan, merancang pembelajaran, pelaksanaan dan evaluasi proyek literasi sesuai perkembangan dan usia anak (Dewayani et. al., 2021:21). Hakikat pembelajaran literasi berdasarkan konsep ini tidak hanya di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia namun juga integral di dalam berbagai lintas disiplin ilmu.
Merujuk Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 008/H/KR/2022, disebutkan bahwa pembelajaran literasi untuk penguatan kemampuan literasi bersumber dari fondasi keterampilan anak dalam bidang bahasa, sastra, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Secara konseptual, model dalam pembelajaran literasi dalam Kurikulum Merdeka mengacu model “pedagogi genre” dengan empat tahapan, yaitu penjelasan dalam membangun konteks, pemodelan, pembimbingan, dan pemandirian.
Dari kajian di atas, secara substansial dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran literasi anak SD merupakan pembelajaran yang direncanakan pendidik dalam aspek membaca, menulis, berhitung, dan teknologi media digital atau dalam konteksliterasi lama dan literasi baru. Pembelajaran literasi anak SD dapat diterapkan di dalam pembelajaran yang integral pada mata pelajaran tertentu seperti Bahasa Indonesia dan berdiri sendiri sebagai satu kesatuan di dalam program pembelajaran di kelas.
Pembelajaran literasi anak SD secara teknis dilaksanakan dengan mengarusutamakan kemampuan akses, eksplor, identifikasi, proses, berhitung, menanyakan, memahani, menerapkan, intrepretasi, ekspresi, mengomunikasikan, dan menciptakan melalui multiinformasi, multimedia, multimodal termasuk buku teks, buku nonteks, dan sumber digital yang lain. Pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka bukan menambahkan materi baru, namun pembelajaran literasi yang menyasar pada dimensi bahasa, sastra, sains, TIK, budaya, kewarganegaraan, teknologi, dan rekayas menjadi tujuan Kurikulum Merdeka. Hal ini menunjukkan bahwa setiap mata pelajaran di SD dapat diintegrasikan untuk berorientasi kepada kemampuan literasi anak sesuai kontennya masing-masing. Selengkapnya.....
Selasa, 29 Agustus 2023
Pembelajaran Literasi Anak Sekolah Dasar
Pembelajaran literasi anak Sekolah Dasar (SD) menjadi bagian penting dalam rangka memajukan mutu dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pembelajaran literasi SD kelas dasar (1, 2, 3) dan kelas tinggi (4, 5, 6) memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Oleh karena itu, pembelajaran literasi SD harus dikuatkan karena menentukan keberlanjutan kemampuan literasi anak di jenjang SMP, dan SMA bahkan perguruan tinggi.
Dari riset-riset yang ada membuktikan kemampuan literasi di Indonesia masih rendah. Di era Revolusi Industri 4.0 literasi menjadi keterampilan pokok dalam menghadapi segala bentuk tantangan kehidupan. Ketika keterampilan literasi anak rendah maka berdampak pada rendahnya skills, keterampilan kerja, berpikir tingkat tinggi, produktivitas, dan rendahnya daya saing. Hal inilah yang mengharuskan pendidikan mengambil peran untuk menguatkan literasi di dalam pembelajaran. Sejumlah riset menemukan rendahnya kemampuan literasi anak dipengaruhi oleh berbagai aspek, terutama karena tidak menjadi fokus utama dalam pendidikan meskipun belakangan muncul berbagai kebijakan dari pemerintah.
Riset pada 2017 oleh Central Connecticut State University, United States menyebut Indonesia berada pada nomor 60 dari 61 negara yang disurvei dalam bidang keterampilan literasi (Ratri, 2015:24; Khalifatussalam, 2021:4; Saraswati, 2020:125). Studi pada 15 artikel kurun 2018-2020 menemukan bahwa kemampuan literasi dan budaya baca pada siswa di Indonesia rendah. Hal ini dipengaruhi oleh kurang maksimalnya pembelajaran literasi, perpustakaan, dan pemanfaatan teknologi dengan benar (Pitoyo, 2020, p. 83). Jika kita melihat data yang dirillis Programme for International Student Assessment (PISA)sebagai indikator global dalam bidang literasi dari kurun 2000-2018 menempatkan Indonesia pada urutan yang kurang memuaskan.
Dalam konteks Kurikulum Merdeka sangat berbeda dengan Kurikulum 2013. Kurikulum Merdeka memiliki tiga karakteristik yang menonjol dibandingkan dengan Kurikulum 2013 termasuk di dalam pembelajaran literasi. Pertama, Kurikulum Merdeka mengarah kepada projek siswa di dalam pembelajaran dengn tujuan penguatan keterampilan lunak dan penguatan karakter mengacu Profil Pelajar Pancasila. Kedua, penguatan literasi yang dijadikan sebagai materi esensial. Ketiga, keluwesan pendidik dalam menyesuaikan materi sesuai konteks dan kearifan lokal (Kemdikbud, 2021b). Berangkat dari karakteristik di atas dan data kemampuan literasi yang masih rendah tiap tahunnya, maka ketika kemampuan literasi anak yang buruk dibiarkan akan berdampak tidak baik bagi kehidupannya mendatang.
Literasi yang rendah berdampak pada hasil belajar anak, profesinya, bahkan kesejahteraan ekonomi ketika mereka dewasa (Dugdale, G., Clark, 2008). Hal ini diperkuat kondisi kemampuan literasi anak di Indonesia dari aspek membaca khususnya masih jauh dari harapan ideal. Dalam konteks Indonesia, literasi menjadi aspek pokok dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) sebagai pengganti Ujian Nasional. Pembelajaran literasi anak SD harus dikuatkan karena menjadi kemampuan bernalar dalam aspek bahasa dan sastra yang berorientasi pada karakter mengacu Profil Pelajar Pancasila yang selaras dengan aspek AKM. Selengkapnya.....
Rabu, 28 Juni 2023
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SD
Dalam kurikulum 2013 pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah berbasis teks atau lebih difokuskan pada teks. Melalui teks-teks tersebut selain diajarkan ilmu kebahasaan juga diintegrasikan pendidikan karakter. Dalam kurikulum merdeka pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah difokuskan pada keterampilan menyimak, membaca dan memirsa, berbicara dan mempresentasikan serta menulis untuk berbagai tujuan berbasis genre yang terkait dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan.
Pembinaan dan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia akan membentuk pribadi Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berpikir kritis, mandiri, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global (Kurikulum Merdeka, 2022) Melalui membaca teks peserta didik mampu memperbaiki sikap untuk lebih berkarakter. Terlebih melalui pendekatan saintifik atau ilmiah pembentukan karakter akan mudah terealisasikan.
Dalam pendekatan saintifik, siswa diminta unntuk mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan dengan integrasi pembentukan sikap, misalnya mengamati dengan tanggung jawab, menanya dengan santun, mencoba dengan jujur, dan mengasosiasi dan mengomunikasikan dengan proaktif. Sikap baik tersebut akan terus ditanamkan dalam setiap pembelajaran sehingga ketika peserta didik sudah terbiasa dengan sikap baik, maka kebiasaan itu akan tetap sikap baik.
Ketika peserta didik yang menjadi generasi penerus sudah menjadi pribadi yang baik tentu saja akan mengembalikan identitas bangsa menjadi bangsa yang bermartabat. Pembelajaran berbasis teks merupakan pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan siswa untuk menyusun teks. Metode pembelajaran ini mendasarkan pada pemodelan teks dan analisis terhadap fitur-fitur secara eksplisit serta fokus pada hubungan antara teks dan konteks penggunaannya. Dalam proses pembelajaran ini mengarah pada peserta didik agar mampu memahami dan memproduksi teks baik secara lisan maupun secara tulisan dalam berbagai konteks. Selengkapnya.....
Selasa, 27 Juni 2023
Fungsi Bahasa Indonesia berdasarkan Penggunaannya
Bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi yang digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk saling berinteraksi satu sama lain dalam segala hal. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan bahasa resmi di Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia tidak mengikat pemakainya untuk sesuai dengan kaidah dasar. Bahasa Indonesia digunakan secara nonresmi, santai, dan bebas. Bahasa (Indonesia), mengandung fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan pemakainya, yakni (1) sebagai sarana ekspresi diri, (2) sebagai sarana untuk berkomunikasi, (3) sebagai sarana untuk integrasi dan beradaptasi sosial, dan (4) sebagai kontrol sosial (Cahyani, 2013).
a. Alat ekspresi diri
Secara umum manusia menggunakan bahasa sebagai sarana dalam mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya kepada orang lain. Dalam mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya kepada orang lain seseorang menggunakan bahasa lisan dan bahasa tertulis.
b. Alat komunikasi
Bahasa merupakan satu-satunya sebagai sarana yang kita gunakan dalam menyampaikan maksud dan tujuan kita kepada orang lain. Dalam menyampaikan maksud dan tujuan kita menggunakan bahasa sebagai sarananya. Dalam menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, harapan, perasaan, kita juga menggunakan bahasa sebagai sarananya. Kita menggunakan bahasa sebagai sarananya, ketika kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita.
c. Alat integrasi dan adaptasi sosial
Sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa persatuan (nasional). Dari beragam seni, tradisi, religi, budaya, bahasa, dan adat-istiadat yang tersebar di seluruh wilayah nusantara terikat oleh bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sebagai alat integrasi bangsa, ada beberapa sifat potensial yang dimiliki bahasa Indonesia: (1) bahasa Indonesia telah terbukti dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang multikultural, (2) bahasa Indonesia bersifat demokratis, (3) bahasa Indonesia bersifat terbuka/transparan, dan (4) bahasa Indonesia sudah mulai mengglobal. Dalam hal adaptasi sosial, bahasa menjadi modal bagi seorang manusia untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang ada pada lingkungannya.
d. Alat kontrol sosial Sebagai alat kontrol sosial, bahasa Indonesia sangat efektif.
Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat pemakainya. Berbagai penerangan, informasi, atau pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran di sekolah sampai universitas, buku-buku instruksi, perundangundangan serta peraturan pemerintah lainnya adalah salah satu contoh penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Ceramah agama, dakwah, dan wujud pembinaan rohani lainnya merupakan contoh bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Selengkapnya.....
Senin, 26 Juni 2023
Tujuan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan untuk membantu peserta didik mengembangkan:
1. akhlak mulia dengan menggunakan bahasa Indonesia secara santun;
2. sikap pengutamaan dan penghargaan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara Republik Indonesia;
3. kemampuan berbahasa dengan berbagai teks multimodal (lisan, tulis, visual, audio, audiovisual) untuk berbagai tujuan (genre) dan konteks;
4. kemampuan literasi (berbahasa, bersastra, dan bernalar kritis kreatif) dalam belajar dan bekerja;
5. kepercayaan diri untuk berekspresi sebagai individu yang cakap, mandiri, bergotong royong, dan bertanggung jawab;
6. kepedulian terhadap budaya lokal dan lingkungan sekitarnya; dan
7. kepedulian untuk berkontribusi sebagai warga Indonesia dan dunia yang demokratis dan berkeadilan.
Minggu, 25 Juni 2023
KONSEP BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SD PADA KURIKULUM MERDEKA
Salah satu hal baru dalam pendidikan di Indonesia adalah kurikulum merdeka. Pada kurikulum tersebut dilakukan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal supaya peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Pembelajaran merupakan suatu proses belajar yang di dalamnya terdapat interaksi antara pendidik dan peserta didik. Menurut (Fatimah, 2018), pembelajaran adalah sebuah peningkatan pengetahuan, proses mengingat, dan proses mendapatkan fakta-fakta atau keterampilan yang dapat dikuasaiserta digunakan sesuai kebutuhan. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di jenjang SD sampai jenjang perguruan tinggi menekankan penggunaan bahasa Indonesia secara benar. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah memiliki tujuan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa pada peserta didik, baik secara lisan maupun tulisan. Peserta didik diharapkan mempunyai keterampilan berbahasa karena bahasa memegang peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi, sehingga bahasa dan sastra Indonesia merupakan salah satu aspek yang penting untuk diajarkan pada peserta didik. Oleh karena itu, mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia sudah diberikan kepada peserta didik sejak jenjang SD. Harapannya, peserta didik mampu menguasai, memahami, dan mengimplementasikan keterampilan berbahasa dan sastra Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Menurut (Ali, 2020), keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat aspek, yaitu (1) listening skills, (2) speaking skills, (3) reading skills, dan (4) writing skills. Keterampilan membaca, menyimak, menulis, dan berbicara memiliki peranan yang sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Keterampilan tersebut mampu menunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang keilmuan. Selain keterampilanketerampilan tersebut, pemahaman peserta didik terkait tata linguistik (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) dalam bahasa dan sastra Indonesia di SD juga memiliki peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep bahasa dan sastra Indonesia di SD diharapkan dapat membantu peserta didik dalam mengenal dirisendiri dan budayanya,serta mengenal orang lain dan budayanya. Dengan mempelajari bahasa dan sastra Indonesia diharapkan pembelajar dapat mengemukakan gagasan dan perasaannya, berpartisipasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, menemukan dan menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang terdapat pada diri sendiri. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal tersebut dilakukan secara lisan dan tulisan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra masyarakat dalam dan luar Indonesia. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia merupakan pembelajaran yang mendasar dan sudah diajarkan sejak usia dini. Bahasa dan sastra Indonesia mempunyai peranan yang penting dalam pembelajaran sehingga kurikulum bahasa dan sastra Indonesia di SD memiliki beberapa karakteristik pokok, yaitu menggunakan pendekatan komunikatif, keterampilan proses, tematik yang terintegratif, dan lintas kurikulum.
Selain itu, bahasa dan sastra Indonesia mengutamakan variasi, kealamian, kebermaknaan, dan fleksibilitas. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia menggunakan metode pembelajaran yang inovatif dan memberikan peluang kepada pendidik dan peserta didik untuk menggunakan berbagai referensi atau sumber belajar. Pada Kurikulum Merdeka sesuai dengan Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, danAsesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 008/H/Kr/2022, dengan memberikan penjelasan mengenai kemampuan berbahasa, bersastra, dan berpikir merupakan fondasi dari kemampuan literasi. Semua bidang kajian, bidang kehidupan, dan tujuan-tujuan sosial menggunakan kemampuan literasi. Literasi menjadi kemampuan sangat penting yang digunakan untuk bekerja dan belajarsepanjang hayat. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia merupakan pembelajaran literasi untuk berbagai tujuan berkomunikasi dalam konteks sosial budaya Indonesia.
Kemampuan literasi dikembangkan ke dalam pembelajaran menyimak, membaca dan memirsa, menulis, berbicara, dan mempresentasikan untuk berbagai tujuan berbasis genre yang terkait dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan. Setiap genre memiliki tipe teks yang didasarkan pada alur pikir—struktur—khas teks tertentu. Tipe teks merupakan alur pikir yang dapat mengoptimalkan penggunaan bahasa untuk bekerja dan belajar sepanjang hayat. Model utama yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah pedagogi genre. Model ini memiliki empat tahapan, yaitu: penjelasan untuk membangun konteks (explaining, building the context), pemodelan (modelling), pembimbingan (joint construction), dan pemandirian (independent construction). Di samping pedagogi genre, pembelajaran bahasa Indonesia dapat dikembangkan dengan modelmodel lain sesuai dengan pencapaian pembelajaran tertentu. Pembinaan dan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia akan membentuk pribadi Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berpikir kritis, mandiri, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global. Selengkapnya.....
Sabtu, 24 Juni 2023
Eksplor Bahasa dan Teks Sastra untuk Mengembangkan Kemampuan Siswa
Teks sastra dianggap sebagai “input terkontrol” yang mampu menawarkan tingkat kesesuaian untuk pelajar (Jouini, 2008). Sama hal nya dengan surat kabar dan majalah, teks sastra adalah dokumen yang bersifat otentif, karena meskipun tidak dirancang untuk tujuan pengajaran bahasa, teks sastra memungkinkan suatu proses komunikasi interaktif antara penulis, siswa, dan guru sebagai mediator. Namun, karya sastra fiksi cenderung melampaui surat kabar dan majalah dalam hal menggabungkan bahasa lisan dan tulisan. Kombinasi wacana ini menjadikan sastra sebagai sumber yang ideal di mana siswa dapat membayangkan dan menciptakan situasi di mana mereka dapat bertindak secara otentik. Artinya, di satu sisi, ketika menciptakan situasi, siswa akan bermanuver dalam lingkungan komunikatif di mana mereka akan dapat berbagi ide, emosi, dan informasi. Di sisi lain, dengan bertindak secara otentik, proses komunikasi verbal mereka untuk pemecahan masalah, negosiasi makna dan pertukaran reaksi akan merespon tujuan tertentu dan akan mengikuti mekanisme komunikasi normal (Fernández, 2001). Selain itu, panjang relatif novel memberisiswa waktu yang diperlukan untuk menjadi akrab dengan cerita, karakter, dan pengembangan plot teks, yang akan diperlukan untuk pengembangan keterampilan kreatif siswa.
Penggunaan Sastra dalam Pembelajaran Bahasa: Mengembangkan Cerita
Untuk mengeksploitasisastra dengan tujuan kreatif, mengeksploitasi dengan cara yang terbaik dengan tujuan membantu siswa mengembangkan konteksfiksi dan menciptakan kembalisituasi. Realitasfiksi dalam sastra sangat bergantung pada imajinasi pembaca. Ritlyova mengatakan bahwa membaca teks tanpa tugas tambahan dapat dikatakan kreatif karena dengan demikian pembaca mengembangkan fantasinya (Ritlyová, 2014). Namun, tidak semua siswa memiliki tingkat imajinasi yang sama, tetapi mendorong empatisiswa terhadap karakter adalah cara yang efektif untuk membuka dan memupuk imajinasi mereka. Siswa masuk ke sepatu karakter dan hidup melalui petualangan mereka; dengan melakukan ini, mereka menjadi kreatif dan membangun konteks yang bermakna dan dapat dibayangkan (MartĂn de LeĂłn, C., & GarcĂa Hermoso, 2020). Konteks yang dibuat oleh siswa ini akan membantu mereka memprediksi kemungkinan reaksi karakter fiksi terhadap narasi yang diberikan, mendorong siswa tidak hanya untuk membangun dan meningkatkan keterampilan membaca (Jouini, 2008) tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan menulis kreatif. Selengkapnya.....
Rabu, 21 Juni 2023
Mediasi Bahasa Indonesia
Membaca sastra menghubungkan dengan teks, dan melalui teks semacam komunikasi antarbudaya, dan mediasi yang sekarang secara luas ditetapkan sebagai pendidikan bahasa. Cook, Gracia dan Wei berpendapat bahwa untuk dapat meningkatkan penggunaan terjemahan di semua tahapan pembelajaran bahasa, untuk pendidikan tinggi pembelajaran bahasa harus bersifat aditif daripada subtraktif, komprehensif daripada eksklusif (Cook, 2010); (Garcia, O., & Wei, 2014). Banyak tekssastra yang bersifat multibahasa dan multikultural, ini semua mengacu pada tujuan utama dari pembelajaran bahasa sebagai persiapan untuk peran mediasi.
Kita harus mencatat potensi untuk pelajar bahasa dari ide-ide yang terbaru dari sebuah teks kreatif dan kreativitas sebagai versi, melalui internet, multimodally, adaptasi, intervensi, partisipasi, situs web penggemar (misalnya Harry Potter), parodi, dan lainnya. Pelajar menghadapi dunia yang terus berubah-ubah serta interpretasi dengan respon yang diperebutkan yang membutuhkan mediasi, hal ini juga di tawarkan oleh sastra paradikmatik. Pembelajar hari ini harus lebih dari sebelumnya yang mana harus berani tampil dalam perbedaan, keragaman, dan variasi yang sebelumnya tidak berpengaruh dan untuk mengklarifikasi sikap sebagai tanggapan. Sastra tidak boleh dianggap sebagai teks klasik, tetapi sebagai tulisan yang kreatif melibatkan imajinasi dan bahkan hasrat, dan dapat diakses di berbagai tingkatan, hingga analisis yang lebih intelektual. Selengkapnya.....
Senin, 19 Juni 2023
Pengenalan dan Pembelajaran Bahasa Abad ke-21
Kesulitan yang signifikan untuk pembelajaran bahasa dan sastra, misalnya saja permasalahan yang banyak dijumpai oleh para pendidik di belahan dunia yaitu tentang strategi pembelajaran bahasa dan sastra anak. Banyak pendidik baik pendidik yang tradisional maupun modern kurang mampu memahami bagaimana pembelajaran bahasa dan sastra untuk anak yang ujungnya pada hasil yang sukses yang dicapai oleh peserta didik. Integrasi dan perkembangan teknologi serta tumbuhnya kesadaran akan keberagama kebudayaan dan globalisasi telah mengubah konsep pembelajaran yang dulunya konservatif menjadi pembelajaran abad 21 (Borsheim, C., Merritt, K., & Reed, 2008).
Ide yang dicetuskan tersebut berfokus pada peserta didik untuk dapat memperoleh atau mengambil informasi, mengatur dan mengelola informasi, menilai relevansi, kualitas, dan kegunaan informasi,serta menciptakan informasisecara benar dengan menggunakan sumber daya yang ada (Educational Testing Service, 2007). Kemampuan seperti inilah yang harus dimiliki pembelajar modern untuk dapat bertahan di pasar yang semakin mengglobal (Pacific Policy Research Center (PPRC), 2010). salah satu fokus dari program abad 21 adalah bahasa, yaitu komunukasi yang efektif. Kemampuan yang dibutuhkan dalam budaya saat ini adalah “komunukasi yang efektif”,seperti kerjasama, keterampilan interpersonal, akuntabilitas pribadi, tugassosial dan sipil, dan komunikasi yang interaktif. Untuk mengenali konteks multibahasa dan multikultural yang baru untuk pembelajaran bahasa, dipahami potensi sastra untuk komunikasi dan mediasi antarbudaya (Kramsch, 2014); (Council of Europe, 2018).
Dokumen kurikulum terbaru secara global meminta para pendidik bahasa untuk dapat mempromosikan secara luas dan komplek, yang mana ini semua bertujuan terhadap penguasaan bahasa sederhana, kekritisan, komunikasi dan empati antarbudaya, kreasi dan inovasi, kemandirian, kerja tim, etika dan kecerdasan emosional, dan keterampilan abad ke-21 lainnya yang dapat kita terapkan (Naji, H., Subramaniam, G., & White, 2019). Kramsc meminta kita semua untuk berpikir kembali tentang pembelajaran bahasa sebagai mata pelajaran multibahasa (Kramsch, 2009); (Kramsch, 2014). Ada batasan-batasan antara bahasa, budaya, dan negara yang mana ini semua teriritasi dengan adanya migrasi dan mobilitas yang semakin menjadi sebuah norma bagi kebanyakan orang, bersama dengan interkoneksi yang meluas oleh internet.
Bahasa dan sastra sering tercampur dan mendorong perhatian pengguna pada sifat fiktif dari bahasa nasional yang dianggap paling benar. Pengakuan tentang pemahaman keragaman bahasa modern serta dasar untuk tekssastra, perlu dipelajari dan dinegosiasikan oleh pengguna bahasa. Sastra secara prototipikal berurusan dengan yang di namakan dengan “batas” tempat,situasisosial ekonomi, kelas, agama, jenis kelamin, bahasa, dan gaya. Membaca sastra kita perlu sebuah pemahaman apa dan siapa yang terpinggirkan dan mengapa, serta kita juga perlu masuk ke dunia imajinatif (Maginess, 2019). Sedangkan belajar bahasa, menurut Kramch memiliki hal yang istimewa dan ada tantangan tersendiri untuk menempati hubungan marginal dengan bahasa yang mereka pelajari (Kramsch, 2009).
Penelitian tentang pemerolehan bahasa kedua menunjukkan pentingnya fokus pada bentuk linguistik yang di pandang tepat untuk pembelajaran bahasa (Schmidt, 2010). Begitu pula dengan teks sastra, yang mana memiliki perhatian yang sama(Peplow, 2016). Baru-baru ini, keterlibatan emosional dan perasaan sangat disoroti sebagai bagian dari terpenting dan yang mengharukan dalam pembelajaran bahasa (Bigelow, 2019). Memiliki arti dan yang mengharukan ini semua diolah lebih dalam lagi melalui teks sastra yang disesuaikan dengan pembelajaran anak. Kritik terhadap materi komersional baik internasional dan nasional yang digunakan untuk mendukung pembelajaran bahasa menunjukkan peran yang sangat penting bagi sastra. Sastra berurusan tentang isu-isu “besar”, kematian, cinta, kehidupan, dan hubungan. Hal ini memiliki relevansi pribadi (Maley, A., & Kiss, 2018). Selengkapnya.....
Minggu, 18 Juni 2023
Perkembangan Sastra Anak
Sastra sering menjadi landasan budaya yang dapat menyatukan masyarakat dan mengikat mereka bersama dalam berbangsa. Yang terbaik, ia dapat menawarkan jembatan antara populasi asing dan bekerja untuk mendorong pemahaman antara kelompok yang berbeda dan kelas sosial. Aspek-aspek ini terutama benar dalam kaitannya dengan sastra anak-anak internasional, mengingat kesederhanaan bahasa dan pesannya serta potensi pengaruhnya terhadap pembaca yang mudah dipengaruhi. Pada dasarnya, sastra anak digunakan sebagai sumber pendidikan, dimaksudkan untuk menginisiasi anak ke dalam aklimatisasi sosial normatif.
Namun, pada saat yang sama, dapat digunakan sebagai alat untuk mengindoktrinasi anak-anak ke dalam hegemoni budaya, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa filosofi yang disponsori negara yang telah menggunakan strategi ini di masa lalu. Dalam tinjauannya tentang sastra anak-anak, sarjana Sheila Ray telah menyarankan bahwa pengembangan sastra anak-anak dalam suatu masyarakatsering mengikuti pola standar kemajuan. Ketika suatu budaya mencapai kedewasaan tertentu, penciptaan teks tertulis muncul sebagai aspek alami dari evolusi masyarakat. Anak-anak dalam budaya ini secara mandiri tertarik pada karya-karya terpilih yang memiliki daya tarik inti untuk kebutuhan mereka yang berbeda dan kemudian menyesuaikan cerita-cerita ini untuk diri mereka sendiri. Biasanya, buku-buku berorientasi dewasa yang paling mungkin menarik minat mereka adalah bentuk-bentuk dongeng dan sajak yang lebih sederhana.
Sementara hari ini kita mengasosiasikan dongeng hampir secara eksklusif dengan pembaca anak-anak, pada awalnya, mereka diciptakan lebih sebagai refleksi dari mitologi daerah yang diteruskan melalui tradisi lisan. Namun, karena materi pelajaran mereka sering beralih ke magis dan fantastis, mereka cenderung menjadi pasangan yang cocok untuk pikiran muda. Akibatnya, buku dongeng seperti Kinderund Hausmärchen (1812; Cerita Populer Jerman) oleh Brothers Grimm termasuk di antara rilis populer pertama untuk anak-anak di pasar penerbitan mana pun. Ketika suatu budaya mencapai kedewasaan tertentu, penciptaan teks tertulis muncul sebagai aspek alami dari evolusi masyarakat. Dalam tinjauannya tentang sastra anak-anak, sarjana Sheila Ray telah menyarankan bahwa pengembangan sastra anak-anak dalam suatu masyarakatsering mengikuti pola standar kemajuan.
Saat ini, sastra anak sedang mengalami evolusi baru yang ditandai menuju globalisasi, di mana karya sastra dapat melewati perbatasan dengan lebih mudah, saling mempengaruhi, dan menciptakan warisan budaya penyerbukan silang yang, untuk pertama kalinya, secara sah dapat dianggap sebagai sastra anak-anak yang benar-benar internasional. Selain itu, sifat sastra anak-anak yang lebih sederhana dalam hal bahasa yang lebih mendasar dan plot konseptual yang lebih mudah telah, dalam banyak kasus, membuatnya lebih dapat diterjemahkan daripada rekan-rekan dewasa mereka, seperti yang ditunjukkan oleh karya-karya awal yang populersecara internasional dan sering diterjemahkan seperti karya remaja Daniel Defoe. kisah petualangan Robinson Crusoe (1719) atau Jonathan Swift’s Perjalanan Gulliver (1726). Namun, sementara narasi tertentu telah dianggap lebih universal secara internasional berkat tema dan karakternya yang luas, karya sastra anak-anak lainnya jauh lebih spesifik secara ideologis, karena atmosfer geopolitik negara asalnya.
Pada abad kedua puluh, tujuan ideologis telah mendorong evolusi banyak literatur periode dan budaya karya anak-anak yang mendukung apartheid, komunisme, dan totalitarianisme telah menjadi beberapa contoh gelap dari manipulasi halus semacam ini. Di Afrika Selatan, misalnya, perkembangan sastra anak berada di garis bidik campuran paksa dari beberapa budaya seperti Afrikaners, India, Zulus, Khoisan, dan kelompok etnis lainnya. Buku anak-anak Afrika Selatan awal sering mendokumentasikan mitologi penduduk asli, namun, beberapa kritikus menuduh kompilasi ini tidak menarik baik dalam metodologi maupun tujuannya.
Demikian pula, berbagai administrasi politik Cina komunis dan bekas Jerman Timur telah berusaha menggunakan sastra anak-anak sebagai sarana untuk memfasilitasi dan mengarahkan arahan propagandis. Pada tahun 1979 pemimpin partai China Deng Xiaoping mengeluarkan proklamasi bahwa semua sastra, termasuk sastra anak-anak, “harus menghidupkan kembali dan meneruskan tradisi revolusioner Partai dan rakyat kita, menumbuhkan moral dan kebiasaan yang baik, dan berkontribusi pada pembangunan peradaban sosialis dengan tingkat budaya dan ideologi yang tinggi. Era pembatasan ini ditandai dengan serangkaian buku yang menunjukkan anak-anak meninggalkan praktik “sesat” dari prakomunis Cina untuk merangkul ideologi yang lebih diterima yang dimaksudkan untuk memajukan nasionalisme dan singularitas pendapat. Dalam tiga puluh tahun terakhir, sastra anak-anak China telah mulai melihat beberapa pengaruh ideologisnya yang keras melunak karena kebijakan nasional yang dilonggarkan telah memungkinkan penerimaan yang lebih besar dari cerita masa lalu China. Dalam iklim yang lebih baru ini, buku-buku seperti 365 Ye Gushi (1986; Stories for 365 Nights) yang populer, yang diedit oleh Lu Bing, telah menjadi sangat populer, sebagaimana dibuktikan oleh perkiraan angka penjualannya sebesar 4,3 juta eksemplar. Sementara masih mempertahankan keyakinan bahwa standar kehidupan moral yang benar sangat penting untuk sastra anak-anak, intrik politik Cina yang nyata sebagian besar telah dihilangkan demi analog yang lebih abstrak. Secara khusus, Lu Bing, seorang ahli teori Marxis untuk pemerintah, menyatakan bahwa buku anak-anak “harus mendidik generasi baru untuk berkembang secara moral, intelektual dan fisik dan melatih kekuatan baru yang vital untuk empat modernisasi.
Pada periode baru ini, sastra anak-anak harus fokus pada Pendidikan ideologi dan moral komunis, pendidikan sains dan pendidikan demokrasi.” Namun, meskipun masih dikelola dengan hati-hati, sastra anak-anak pada periode pasca-Mao Tsedong sebenarnya menandai semacam kemajuan dari ideolog komunis sebelumnya yang sangat bergantung pada sensor terang-terangan serta kurangnya toleransi terhadap tujuan individualis dalam pengaruh mereka terhadap pikiran muda. Sastra normatif dalam era pembatasan ini ditandai dengan serangkaian buku yang menunjukkan anak-anak meninggalkan praktik “sesat” dari pra komunis Cina untuk merangkul ideologi yang lebih diterima yang dimaksudkan untuk memajukan nasionalisme dan singularitas pendapat. Dalam tiga puluh tahun terakhir,sastra anak-anak China telah mulai melihat beberapa pengaruh ideologisnya yang keras melunak karena kebijakan nasional yang dilonggarkan telah memungkinkan penerimaan yang lebih besar dari cerita masa lalu China. Dalam iklim yang lebih baru ini, buku-buku seperti 365 Ye Gushi (1986; Stories for 365 Nights) yang populer, yang diedit oleh Lu Bing, telah menjadi sangat populer, sebagaimana dibuktikan oleh perkiraan angka penjualannya sebesar 4,3 juta eksemplar. Sementara masih mempertahankan keyakinan bahwa standar kehidupan moral yang benarsangat penting untuk sastra anak-anak, intrik politik Cina yang nyata sebagian besar telah dihilangkan demi analog yang lebih abstrak. Secara khusus, Lu Bing, seorang ahli teori Marxis untuk pemerintah, menyatakan bahwa buku anak-anak “harus mendidik generasi baru untuk berkembang secara moral, intelektual dan fisik dan melatih kekuatan baru yang vital untuk empat modernisasi. Pada periode baru ini, sastra anak-anak harus fokus pada Pendidikan ideologi dan moral komunis, pendidikan sains dan pendidikan demokrasi.” Namun, meskipun masih dikelola dengan hati-hati, sastra anak-anak pada periode pasca-Mao Tsedong sebenarnya menandai semacam kemajuan dari ideolog komunis sebelumnya yang sangat bergantung pada sensor terang-terangan serta kurangnya toleransi terhadap tujuan individualis dalam pengaruh mereka terhadap pikiran muda.
Sastra normatif dalam Perkembangan sastra anak-anak di wilayah geografislain telah menawarkan beberapa manfaatsosial tambahan yang mengejutkan. Misalnya, beberapa bahasa yang terancam punah di Inggris telah dilestarikan melalui rilis teks remaja unik yang diterbitkan hanya dalam bahasa yang memudar ini,seperti buku bergambar berbahasa Manx karya Brian Stowell, Gaelg Trooid Jallooghyn: Manx through Pictures (1968). Irlandia juga telah mendorong penerbitan lebih banyak buku anak-anak berbahasa Gaelik secara bersama-sama upaya untuk memperkenalkan kembali bahasa asli kepada generasi pembaca baru. Robert Dunbar telah menyarankan bahwa kebangkitan sastra anak-anak berbahasa Irlandia ini telah menyebabkan “perkembangan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, di mana ia telah dikaitkan dengan diskusi politik, pendidikan, dan ideologis yang lebih luas tentang tempat bahasa Irlandia di Irlandia saat ini.” Lebih jauh, setidaknya dalam satu kasus, sastra anak-anak bahkan telah membantu dalam penciptaan bahasa baru. Orang-orang Hmong nomaden hampir unik dalam masyarakat kontemporer karena kurangnya bahasa tertulis. Tergusur dari tanah air mereka di Asia Tenggara, mereka baru-baru ini mendapat manfaat dari program yang memanfaatkan buku anak-anak yang ditulis dalam sistem penulisan yang baru didirikan untuk mengajari anggotanya cara membaca bahasa ibu mereka.
Untuk pertama kalinya, sastra anak akan menjadi fondasi sastra budaya, bukan produk sampingan. Kritikus seperti Rosie Webb Joels juga berpendapat bahwa sastra anak-anak memiliki potensi untuk mendorong internasionalisme dan pemahaman global melalui terjemahan karya-karya lintas budaya, sehingga memaparkan pembaca muda pada peristiwa dan kebiasaan di seluruh dunia, bahkan mungkin mempromosikan toleransi. Secara khusus, dia mengutip The Boys of St. Petri (1991) oleh penulis Denmark Bjarne Reuter dan ikon Het Achterhuis (1947; Diary of a Young Girl) oleh korban Holocaust Belanda Anne Frank sebagai contoh buku yang secara dramatis dapat mengubah persepsi anak di dunia. Tapi mungkin, yang paling penting, buku anak-anak internasional bertindak sebagai pintu gerbang, menawarkan pembaca kesempatan untuk membenamkan diri dalam kata-kata tertulis dari bahasa mereka sendiri. Dalam kata-kata Sheila Ray, “pada akhir abad kedua puluh, ada kepercayaan bahwa literasi sangat penting. Bahkan di masyarakat di mana teknologi informasi maju, keterampilan membaca yang baik sangat penting untuk memanfaatkannya, dan umumnya dianggap bahwa cara terbaik untuk memperoleh kefasihan adalah melalui latihan membaca; buku anak-anak dengan demikian merupakan kebutuhan.” Selengkapnya.....
Sabtu, 17 Juni 2023
Perkembangan Bahasa Anak
Penguasaan tentang bagaimana seorang anak akan belajar berbicara sangat unik dan membingungkan untuk dipahami oleh orang dewasa. Kemampuan mental juga tampak sangat berbeda dalam banyak hal, namun dia menguasai struktur bahasa ibunya sampai usia lima tahun. Jenis kata-kata yang digunakan anak tersebut dalam tahun pertama adalah mengenai objek, orang, dan tindakan (Merkel-Piccini, 2001).
Anak-anak mungkin sering mengakatan “Ibu”, “Ayah”, “Minum”, “Makan” (ini kata-kata yang umum diucapkan). Anak-anak tidak hanya menirukan apa yang mereka dengar dan lihat yang ada disekitarnya. Ini semua menjadisebuah proses dari pembelajaran yang terlibat jauh dan banyak secara kompleks.
Dimulai dari mereka pertama kali berbicara, anak-anak menyadari bahwa bahasa adalah sebuah aturan yang mendasari bahasa yang mereka gunakan. Alih-alih setiap tahapan memiliki tata bahasa dengan aturan pemikirannya sendiri-sendiri. Seseorang tidak dapat mempelajari keaktifan anak melalui tata bahasa sampai dia memasukkan dua kata bersama-sama untuk membuat kalimat aktif. Ini terjadi sekitar anak berusia delapan bulan. Beberapa peneliti Amerika bersepakat dengan tingkatan ini. Selengkapnya.....
Minggu, 11 Juni 2023
Problematika Strategi Pembelajaran
Sabtu, 10 Juni 2023
Problematika Siswa
Kamis, 08 Juni 2023
Mutu pembelajaran bahasa Indonesia
Senin, 05 Juni 2023
Peranan Filsafat Bahasa dalam Mengembangkan Ilmu Bahasa
Pendekatan Kontekstual
a. Pengertian Pendekatan Kontekstual Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...
-
a. Prinsip Fungsional Prinsip fungsional dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD pada hakikatnya sejalan dengan konsep pembelajaran yang i...
-
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan untuk membantu peserta didik mengembangkan: 1. akhlak mulia dengan menggunakan bahasa Indonesia s...