Tampilkan postingan dengan label Fase A. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fase A. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 September 2023

Hakikat Bahasa dan Pembelajaran Bahasa: Pengertian Bahasa

Dunia mempunyai banyak ragam bahasa. Setiap bahasa dengan khas tersendiri yang membedakan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya. Bahasa adalah alat komunikasi utama dan selalu terjadi dalam konteks sosial (Kuiper & Allan, 2017). Bahasa secara ekslusif hanya dimiliki manusia terdapat perbedaan yang jelas dari sesi lingustik dan non-lingustik serta memiliki makna (Burridge & Stebbins, 2019). Richards and Webber, menyebutkan bahasa adalah sistem komunikasi manusia yang dinyatakan melalui suara atau ungkapan tulis yang terstruktur untuk membentuk satuan yang lebih besar seperti morfem, kata dan kalimat. 

Sedangkan menurut Sapir, bahasa sebagai suatu naluriah yang dimiliki manusia untuk mengkomunikasikan ide-ide, emosi dan keinginan yang menggunakan simbol yang dibuat untuk tujuan tertentu (Wiratno & Santosa, 2014). Bahasa adalah alat komunikasi, bersifat arbitrer, konvensional dan merupakan lambang bunyi (Suhandra, 2019). Bahasa adalah alat komunikasi yang bermakna (Noermanzah, 2019). Bahasa dalam pengertian kamus besar Bahasa Indonesia adalah sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran (Sugono, D., 2008). 

Berdasarkan pendapat yang telah dikemukan diatas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan pengertian bahasa yaitu sikap alamiah manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya dengan menggunakan simbol, bunyi dan melibatkan panca indra dalam memberikan stimulus dan respon terhadap lawan berkomunikasi, sehingga maksud dan tujuan simbol, bunyi dan lambang dapat dipahami dan dimengerti. Selengkapnya.....

Jumat, 01 September 2023

Keterampilan dalam Pembelajaran Literasi Anak

Keterampilan dalam pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka memiliki karakteristik dengan keterampilan berbahasa yang diterapkan selama ini di dalam pembelajaran. Sebelumnya, dalam pembelajaran literasi penekanannya fokus pada caturtunggal keterampilan berbahasa, yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis (Ibda, 2019:v). Aspek reseptif pada keterampilan membaca dan menyimak, dan aspek ekspresif pada keterampilan berbicara dan menulis (Hariyanti, 2019:106).

Keterampilan literasi anak SD terbagi atau dua cakupan atau aspek. Pertama, keterampilan berbahasa reseptif (menyimak, membaca dan memirsa). Kedua, keterampilan berbahasa produktif (berbicara dan mempresentasikan, serta menulis). Kedua keterampilan ini dapat diimplementasikan di dalam pembelajaran dengan model literasi integrasi berbasis pada tiga cakupan literasi, yaitu literasi fungsional, literasi informasional, dan literasi etikal. Ketiga cakupan literasi tersebut mengarah kepada pembiasaan pola pikir siswa yang komprehensif dan menyiapkan siswa memiliki kemampuan menghadapi masalah di era digital saat ini.

Selain Capaian Pembelajaran di dalam Kurikulum Merdeka, keterampilan literasi dikembangkan dari Profil Pelajar Pancasila yang secara konseptual diwajibkan diterapkan di dalam pembelajaran termasuk pembelajaran literasi. Ada enam karakter utama di dalam Profil Pelajar Pancasila. Keenam karakter itu meliputi 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) berkebhinekaan global, 3) bergotong-royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif. Keenam karakter tersebut bermuara bahwa Profil Pelajar Pancasila tidak sekadar pada ranah kognitif belajar, akan tetapi fokus juga pada perilaku dan sikap berdasarkan jati diri bangsa Indonesia dan warga dunia (Anggraena, 2020:5).

Literasi fungsional memiliki tujuan untuk peningkatan kualitas masyarakat dan kemampuan diri pada individu. Dalam konteksini, literasi fungsional terdiri atas keterampilan membaca, menulis, mendengarkan atau menyimak dan menonton (Nurgiyantoro et. al., 2020:194). Sementara itu, literasi informasi juga dikuatkan di dalam pembelajaran literasi anak SD. Literasi informasional terdiri atas keterampilan mengomunikasikan, mengekspresikan (menciptakan), menafsirkan, menggunakan, memahami, memproses, memperhitungkan, mempertanyakan, dan mengakses, mengeksplorasi, mengidentifikasi (Siti, 2014; Wiyatasari, 2018:41; Kemdikbud, 2020).

Pembelajaran literasi anak SD dengan merujuk Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila, keterampilan berpikir era digital (HOTS), komponen literasi abad-21, literasi fungsional dan literasi informasional menjadisatu kesatuan yang holistik untuk diterapkan dalam pembelajaran literasi anak SD. Dengan demikian, pembelajaran literasi anak SD tidak parsial di dalam pembelajaran berbasis mata pelajaran atau di luar mata pelajaran. Selengkapnya..... 

Kamis, 31 Agustus 2023

Konsep Pembelajaran Literasi Anak SD

Pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka menjadi penting untuk menjawab tantangan era digital saat ini. Selain penguatan numerasi dan sains, pemerintah melalui Kemendikbud Ristek fokus juga terhadap literasi. Artinya literasi menjadi penting dihadirkan tidak sekadar di dalam sebuah gerakan namun juga di dalam kurikulum dan pembelajaran, baik yang integral dengan mata pelajaran tertentu maupun yang berdiri sendiri untuk penguatan literasi anak SD.

Dalam konteks pedagogi, pembelajaran literasi merupakan pembelajaran keaksaraan pada anak (Wray, 1999:53). Dalam perkembangannya, pembelajaran literasi tidak hanya mengajarkan anak dalam aspek kognitif (belajar membaca) dan motorik (belajar menulis dengan pensil), namun dikuatkan pada keterampilan mencari, mengolah, dan memanfaatkan informasi dari internet, teknologi digital, dan kemampuan mengoperasikan dengan bijak Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) (Grönlund & Genlott, 2013). Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran literasi merupakan proses belajar yang holistik dari peranti manual menuju piranti digital yang dikenalkan pada anak. Seiring berkembangnya zaman, literasi di dalamnya mencakup tahapan-tahapan di dalam pembelajaran yang menjadikan peserta didik menumbuhkembangkan potensi dan pengetahuannya. Literasi di era Revolusi Industri 4.0 tidak sekadar literasi baca-tulis-berhitung yang biasa disebut literasi lama. Namun di dalam pembelajaran, anak-anak SD harus dikuatkan dalam aspek literasi baru yaitu literasi data-teknologi-manusia (Apriani, 2016:59; Stegman, 2014:31). 

Pembelajaran literasi dalam konteks ini harus menyesuaikan dari penguatan literasi lama menuju penguatan literasi baru pada anak. Pembelajaran literasi merupakan pengembangan keterampilan literasi individu di sekolah formal meliputi membaca, menulis, dan teknologi (Deshler et. al., 2012). Pembelajaran literasi SD adalah kegiatan untuk mengembangkan kemampuan membaca pada siswa SD (Aziz et. al, 2021:243). Pembelajaran literasi di SD merupakan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa dengan berbagai macam teks. Maka dibutuhkan model, strategi dan metode pembelajaran yang relevan untuk membelajarkan literasi pada anak SD termasuk berbasis multiliterasi, integrasi, dan berdiferensiasi (Abidin, 2017:156). Konsep ini menegaskan bahwa pembelajaran literasi tidak sekadar pada aspek membaca dan menulis namun juga penguatan kemampuan literasi digital yang sesuai dengan perkembangan zaman. 

Untuk meningkatkan kemampuan adaptasi anak di era disrupsi, literasi digital harus diintegrasikan di dalam pembelajaran melalui pemanfaatan media digital, gambar, pembelajaran kontekstual, untuk meningkatkan kompetensi anak dalam penguasaan informasi, berpikir komputasi, melek media digital, dan penguasaan kompetensi TIK (Rusydiyah & Purwati, 2020:305). Pembelajaran literasi berbasis media digital membentuk budaya baru yang mengubah cara pandang, sistem sosial, konsep, dan nilai yang ada di dalam pendidikan (Rivoltella, 2008:ix). Oleh karena itu, dibutuhkan pembelajaran literasi yang menyesuaikan zaman namun tidak mencerabut sistem nilai dan karakter yang ada di dalam pendidikan. 

Literasi tidak selamanya berkorelasi dengan satu rumpun mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, namun hakikatnya literasi integral pada semua mata pelajaran karena sesuai konsep UNESCO di atas, literasi sangat berkaitan dengan proses belajar dari lintas disiplin ilmu. Pembelajaran literasi lintas mata pelajaran merupakan proses pembelajaran yang dilaksanakan pendidik dengan tujuan menumbuhkembangkan pengetahuan anak. Prosesnya dimulai dari tahap persiapan, merancang pembelajaran, pelaksanaan dan evaluasi proyek literasi sesuai perkembangan dan usia anak (Dewayani et. al., 2021:21). Hakikat pembelajaran literasi berdasarkan konsep ini tidak hanya di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia namun juga integral di dalam berbagai lintas disiplin ilmu. 

Merujuk Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 008/H/KR/2022, disebutkan bahwa pembelajaran literasi untuk penguatan kemampuan literasi bersumber dari fondasi keterampilan anak dalam bidang bahasa, sastra, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Secara konseptual, model dalam pembelajaran literasi dalam Kurikulum Merdeka mengacu model “pedagogi genre” dengan empat tahapan, yaitu penjelasan dalam membangun konteks, pemodelan, pembimbingan, dan pemandirian. 

Dari kajian di atas, secara substansial dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran literasi anak SD merupakan pembelajaran yang direncanakan pendidik dalam aspek membaca, menulis, berhitung, dan teknologi media digital atau dalam konteksliterasi lama dan literasi baru. Pembelajaran literasi anak SD dapat diterapkan di dalam pembelajaran yang integral pada mata pelajaran tertentu seperti Bahasa Indonesia dan berdiri sendiri sebagai satu kesatuan di dalam program pembelajaran di kelas. 

Pembelajaran literasi anak SD secara teknis dilaksanakan dengan mengarusutamakan kemampuan akses, eksplor, identifikasi, proses, berhitung, menanyakan, memahani, menerapkan, intrepretasi, ekspresi, mengomunikasikan, dan menciptakan melalui multiinformasi, multimedia, multimodal termasuk buku teks, buku nonteks, dan sumber digital yang lain. Pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka bukan menambahkan materi baru, namun pembelajaran literasi yang menyasar pada dimensi bahasa, sastra, sains, TIK, budaya, kewarganegaraan, teknologi, dan rekayas menjadi tujuan Kurikulum Merdeka. Hal ini menunjukkan bahwa setiap mata pelajaran di SD dapat diintegrasikan untuk berorientasi kepada kemampuan literasi anak sesuai kontennya masing-masing. Selengkapnya.....

Selasa, 11 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Menulis

Menulis adalah keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Menulis diartikan sebagai keterampilan dalam mewujudkan gagasan, ide dan perasaan dalam wujud bahasa tulis sehingga pembaca dapat memahami tulisan dengan baik (Rambe & Widiyarti, 2018). Dalam menulis, seseorang dituntut untuk menghasilkan sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh orang yang pembaca. Menulis yakni komunikasi secara tidak langsung berwujud pemindahan gagasan melalui grafologi, struktur bahasa dan kosakata dengan simbol-simbol sehingga dapat dibaca (Syarif et al., 2009). Menulis dimaknai juga sebagai kegiatan mengemukakan pikiran dan perasaan melalui lambang berupa tulisan (Siddik, 2016). 

Tulisan yang ditulis mengandung pesan atau informasi yang ingin disampaikan. Beberapa pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa menulis adalah keterampilan dalam mengemukakan gagasan, pikiran dan perasaan melalui sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh pembaca. Dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas dibutuhkan keterampilan menulis. Menulis dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kerja sama dan percaya diri siswa (Yarmi, 2017). Melalui menulis siswa dapat menuliskan apa yang ada di pikirannya yang mungkin dapat bermanfaat untuk pembaca.

Siswa juga dapat meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas. Tanpa menulis proses pembelajaran tidak dapat berjalan dengan baik, karena semua mata pelajaran membutuhkan keterampilan menulis. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk membimbing siswanya agar dapat menulis dengan baik. Proses keterampilan menulis di sekolah dasar dibagi menjadi dua tahap yaitu menulis permulaan dan menulis lanjut. Menulis permulaan mencakup kegiatan persiapan menulis dengan mengajarkan siswa cara memegang pensil, menulis huruf dan menggabungkan menjadisuku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat (Rambe & Widiyarti, 2018). 

Menulis permulaan ditujukan pada kelas rendah. Sehingga tahap ini lebih difokuskan pada keterampilan dasar menulis. Siswa yang sudah mahir dalam menulis permulaan dapat melanjutkannya pada menulis lanjut. Menulislanjut mencakup: 1) kegiatan mengembangkan paragraf; 2) menulislaporan dan surat; 3) mengembangkan karangan; dan 4) menulis naskah drama dan puisi. Tahap lanjut ini siswa didorong untuk dapat menuangkan ide pikirannya dalam tulisan. Faktor yang mempengaruhi kegiatan menulis yakni faktor internal dan eksternal (Syarif et al., 2009). 

Faktor internal meliputi faktor psikologis dan teknis. Faktor psikologis berkaitan dengan kebiasaan dan pengalaman yang dimilikisiswa. Intensitas kegiatan menulissiswa akan berpengaruh terhadap kualitastulisannya. Faktor teknis berkaitan dengan penguasaan siswa dalam menggunakan teknik menulis. Siswa dapat memahami cara menulis yang baik dan bahan tulisan yang akan ditulis. Faktor eksternal yakni fasilitas pendukung yang ada disekitarsiswa. Sarana dan prasarana sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam menulis. Guru harus mampu memberikan lingkungan yang nyaman dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Capaian pembelajaran menulis dibagi menjadi fase A, fase B, dan fase C. 

Fase A (kelas 1–2) meliputi: 1) siswa dapat menguasai keterampilan menulis permulaan; 2) siswa dapat mengembangkan tulisan tangan dengan baik; dan 3)siswa dapat menuliskan teks deskripsi menggunakan beberapa kalimat sederhana, menulis pengalaman diri, menulis teks fiksi yang dibaca atau didengar, menulisteks prosedur dan teks eksposisi. Fase B (kelas 3–4) mencakup: 1)siswa dapat menulisteks narasi, deskripsi, rekon, prosedur dan eksposisi; dan 2) siswa dapat menulis tegak bersambung. Fase C (kelas 5–6) yakni: 1) siswa dapat menulis teks eksplanasi, laporan dan eksposisi, hasil pengamatan; 2) siswa dapat menggunakan kaidah kebahasaan dan kesastraan dalam menulis teks, menggunakan kosakata baru yang mempunyai makan kiasan, denotatif,dan konotatif; dan 3) siswa dapat mengutarakan perasaan berdasarkan fakta dan imajinasi dalam wujud prosa dan puisi. 

Capaian pembelajaran fase A lebih fokus pada menulis permulaan, sedangkan fase B dan C lebih ditujukan pada menulis lanjut. Metode menulis dapat digunakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Selain metode, media juga penting digunakan dalam pembelajaran menulis. Media akan memudahkan siswa dalam menerima materi pembelajaran. Media yang digunakan sebaiknya bersifat kontekstual dan sesuai dengan karakteristik siswa. Selengkapnya.....

Minggu, 09 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Membaca dan Memirsa

Membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Membaca dimaknai sebagai proses yang dilaksanakan oleh seorang pembaca dengan tujuan mendapatkan informasi dari bacaan dan mampu memahami pola bahasa yang ditulis (Rambe & Widiyarti, 2018). Membaca sebagai kegiatan mengucapkan bunyi bahasa darisuatu tulisan yang memiliki makna tertentu. Fatmasari & Fitriyah (2018) menjelaskan bahwa membaca yakni memahami makna isi bahan bacaan yang tersirat maupun tersurat. Dalam hal ini, kegiatan membaca membutuhkan pemahaman agar apa yang disampaikan penulis dapat dipahami oleh pembaca.

Membaca juga didefinisikan sebagai kemampuan melek huruf dalam mengenali pola bunyi bahasa dan dapat mengucapkannya dengan benar (Yarni & Kaban, 2015). Siswa tidak hanya mampu membaca tulisan saja, namun dapat mengucapkannya dengan benar. Beberapa pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa membaca adalah kemampuan seseorang dalam mengenali dan mengucapkan pola bunyi tulisan bahan bacaan serta memahami makna tulisan tersebut. Memirsa adalah keterampilan yang baru muncul pada capaian pembelajaran di kurikulum merdeka. Keterampilan memirsa dapat terjadi dikarenakan perubahan teknologi yang pesat sehingga siswa harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Huri et al. (2021) menjelaskan bahwa memirsa adalah proses kegiatan menonton dan memaknai media visualseperti film, televisi, video dsb. Keterampilan ini tidak hanya sekedar melihat atau menonton akan tetapi juga mampu memaknai isi media yang ditayangkan tersebut.

Keterampilan memirsa diartikan sebagai keterampilan yang menggabungkan literasi visual dan memirsa kritis (Mulyadi & Wikanengsih, 2022). Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memaknai isi tayangan. Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disintesiskan bahwa memirsa adalah kompetensi literasi visual siswa yang mencakup kegiatan memperhatikan dan memahami media visual yang diberikan oleh guru pada siswa. Keterampilan membaca wajib dikuasai setiap siswa dalam proses pembelajaran. Melalui membaca pengetahuan siswa akan bertambah dan dapat meningkatkan kualitas siswa. Hal ini dikarenakan melalui membaca siswa mendapatkan informasi dari materi pembelajaran yang diajarkan guru dan dapat meningkatkan hasil belajar. Jika siswa bisa membaca dengan baik akan mendorong motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Selain itu, setiap faktor kehidupan siswa juga mengintegrasikan kegiatan membaca. Sehingga membaca akan mempermudah siswa dalam menjalani kegiatan sehari-hari dan memberikan banyak manfaat kepadanya. Sedangkan pentingnya keterampilan memirsa bagi siswa adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memahami isi media visual (Huri et al., 2021).

Pada saat ini komunikasi tidak hanya mendengarkan saja akan tetapi disertai aspek visual, melalui keterampilan memirsa ini maka siswa dapat memperoleh berbagai informasi baru dan belajar menganalisis teks visual dan multimedia. Membaca tidak hanya mengenali bentuk dan pola huruf, akan tetapi juga memahami maknanya. Proses membaca siswa sekolah dasar mencakup dua tahap yakni membaca permulaan dan membaca pemahaman. Membaca permulaan dipahami sebagai tahap awal dalam kegiatan membaca di sekolah dasar (Muammar, 2020). Tahap membaca ini diperuntukkan untuk siswa kelas rendah dengan merujuk pada kemampuan siswa dalam mengubah dan mengucapkan tulisan mejadi bunyi yang memiliki makna. Membaca permulaan difokuskan pada pengenalan huruf, merangkai huruf menjadi sebuah kata, ketepatan mengucapkan huruf, kejelasan dan kelancaran suara dalam membaca tulisan. Membaca pemahaman diartikan sebagai serangkaian kegiatan dengan tujuan memahami konteks bacaan (Khazanah & Cahyani, 2016). Proses membaca tahap ini melibatkan aspek mental dan kognitif siswa dalam memaknai dan menganalisis bahan bacaan. Kedua tahapan membaca ini penting dikuasai siswa karena siswa sekolah dasar tidak langsung bisa membaca secara lancar akan tetapi ada proses tahapannya dari yang mudah hingga sulit. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka ia dapat meningkatkan kemampuan membaca pada level pemahaman.

Faktor psikologis berkaitan dengan jenis kelamin dan kesehatan fisik siswa. Aspek fisik seperti pendengaran, penglihatan dan kemampuan berbicara. Siswa yang memiliki kekurangan atau kelainan dalam aspek fisik tersebut maka akan berpengaruh terhadap keterampilan membaca. Faktor intelektual berhubungan dengan tingkat intelegensi yang dimiliki siswa. Kemampuan berpikir siswa lebih berpengaruh terhadap membaca pemahaman. Karena membaca pemahaman membutuhkan kemampuan berpikir. Faktor lingkungan yakni lingkungan sekolah dan rumah. Lingkungan yang mendukung akan mendorong keterampilan membaca siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama guru dan orang tua agar keterampilan membaca dapat dicapai dengan baik. Faktor psikologis berhubungan dengan motivasi dan minat siswa dalam membaca. Siswa yang memiliki motivasi tinggi akan menunjukkan minat baca yang tinggi. Tanpa perintah dan paksaan dari orang tua dan guru siswa akan aktif membaca secara mandiri. 

Capaian pembelajaran keterampilan membaca dan memirsa pada kurikulum merdeka dibagi menjadi fase A, fase B, dan fase C. Capaian pembelajaran membaca fase A (kelas 1-2) yakni 1) siswa memiliki minat membaca atau memirsa; 2) siswa dapat membaca kata dengan fasih; 3) siswa dapat memahami informasi bacaan dan tayangan; dan 4) siswa dapat memahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan. Fase B (kelas 3-4) mencakup capaian pembelajaran meliputi: 1) siswa dapat memahami makna pesan dan informasi pada media cetak atau elektronik; 2) siswa dapat membaca kata-kata baru dengan fasih; 3) siswa mampu memahami ide pokok dan pendukung pada teks informatif; 4) siswa mampu memaparkan tokoh cerita pada teks narasi; dan 5) siswa dapat dapat mamahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan sesuai dengan topik. Fase C (kelas 5-6) memiliki capaian pembelajaran membaca yakni: 1)siswa dapat membaca kata-kata yang memiliki berbagai pola kombinasi huruf secara fasih; 2) siswa dapat memahami kosakata baru dari makna denotatif, konotatif, literal, dan kiasan; dan 3)siswa dapat menemukan ide pokok suatu teks deskripsi, eksposisi dan narasiserta nilai yang terkandung dalam suatu prosa, pantun dan puisi. Masing-masing fase memiliki tingkat kognitif yang berbeda. Berdasarkan capaian pembelajaran tersebut, maka dapat dianalisis bahwa pada fase A lebih fokus pada kefasihan siswa dalam membaca dan pemahaman siswa mengenai kosakata baru pada bacaan dan tayangan. Hal ini berkaitan dengan membaca permulaan yang fokus pada kelancaran siswa dalam membaca. Fase B dan fase C siswa sudah difokuskan dalam membaca kosakata baru dengan fasih dan memahami isi bacaan secara keseluruhan. Pada keterampilan memirsa siswa lebih difokuskan pada kemampuan memahami kosakata baru dari tayangan yang ditonton. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka tahapan selanjutnya adalah membaca pemahaman. Rambe & Widiyarti (2018) menjelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman yakni tahap prabaca, membaca dan pasca baca. Pertama, tahap prabaca untuk memotivasisiswa dalam membaca. Tahap ini penting dilakukan agar siswa terarah dan dapat menggali kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan dengan baik. Kegiatan ini meliputi: 1) memberikan gambaran awal bacaan; 2) memberikan petunjuk; 3) memberikan peta konsep terkait kosakata dalam bacaan; 4) sebelum membaca, siswa menulis pengalaman yang berkaitan dengan topik bacaan; dan 5) siswa diberikan gambaran situasi dalam cerita. Kedua, tahap membaca dapat dilakukan dengan berbagai metode membaca meliputi: 1) menentukan ide pokok; 2) identifikasi kata kunci; 3) mencuplik bacaan; 4) menjaring data; 5) mengisi bacaan yang rumpang; 6) memberi tanggapan pada bacaan; 7) menggambar peta konsep bacaan; 8) diskusi terkait topik bacaan; 9) mencari kata-kata sulit dan sebagainya. Ketiga, tahap pasca baca yakni untuk mengetahui ukuran kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan. Siswa dapat diberi tugas mengembangkan materi bacaan, memberikan beberapa pertanyaan atau menceritakan kembali isi bacaan.

Keterampilan memirsa adalah keterampilan berbahasa tambahan yang berkaitan dengan teknologi. Guru dituntut untuk melek teknologi dalam rangka memenuhi capaian pembelajaran memirsa. Pemilihan tayangan media visual yang diberikan kepada siswa menentukan tingkat keberhasilannya. Oleh karena itu, dalam memilih media visual guru harus memahami kebutuhan dan karakteristik siswa. Tayangan yang diberikan disesuaikan dengan tingkat usia dan kognitifnya. Guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran harus memahami posisinya. Berbagai hambatan dalam kegiatan membaca sering terjadi yang mengakibatkan rendahnya keterampilan membaca siswa. Antisipasi yang dapat dilakukan guru yakni meliputi: 1) mendalami fungsinya dalam kegiatan pembelajaran membaca; 2) mengerti prinsip membaca; 3) mengetahui tahapan membaca; 4) mengetahui strategi membaca; 5) dapat mengimplementasikan tahapan dan strategi membaca dengan baik; 6) mengetahui konsep penilaian membaca; dan 7) mengukur kemampuan membaca siswa secara periodik (Rambe & Widiyarti, 2018). Sebelum mengajarkan pembelajaran membaca, guru harus memahami dahulu seluruh konsep membaca permulaan dan pemahaman. Selengkapnya.....

Sabtu, 08 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Menyimak

Menyimak sebagai keterampilan berbahasa yang memiliki kontribusi penting dalam kehidupan siswa sehari-hari maupun disekolah. Siswa tidak dapat membaca, menulis dan berbicara tanpa menguasai keterampilan menyimak. Menyimak adalah keterampilan berbahasa pertama yang diterima seseorang sejak kecil di lingkungan keluarga dan sekitarnya. Menyimak diartikan sebagai proses mendengarkan melaluisimbol-simbol lisan dengan saksama untuk mendapatkan informasi, dalam menerima dan memahami dari komunikasi yang sudah disampaikan pembicara melalui ucapan (Daeng et al., 2010). Sudiati (2019) menjelaskan bahwa menyimak yakni proses mendengarkan bunyi bahasa secara intens untuk memahami ucapan yang dimaksud pembicara. Menyimak dimaknai sebagai aktivitas mendengarkan secara kreatif dan aktif dengan tujuan mendapatkan informasi dan memahami isi terhadap ucapan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Beberapa penjelasan tersebut, dapat disintesiskan bahwa menyimak adalah kegiatan mendengarkan simbol-simbol lisan secara intens, kreatif, dan aktif untuk dapat menerima, memahami, dan mengimplementasikan informasi yang disampaikan pembicara.

Peranan menyimak bagi siswa sekolah dasar sebagai tahap awal dalam menguasai capaian pembelajaran yang akan dicapai. Keterampilan menyimak yang baik juga akan berpengaruh terhadap hasil belajarsiswa. Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran saat guru menjelaskan. Menyimak bagi siswa sekolah dasar memiliki kontribusi penting dikarenakan melalui menyimak siswa menerima, memahami dan mengimplementasikan materi pembelajaran dalam kehidupannya Selain itu, menyimak penting sekali dalam kegiatan sehari-hari dikarenakan melalui menyimak seseorang mendapatkan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan. Proses kegiatan menyimak melibatkan faktor fisik dan mental. Aspek mental berkaitan dengan proses menyimak yang berkaitan dengan proses kognitif meliputi perhatian, pemahaman dan ingatan. Pemahaman informasi yang diterima dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya sehingga akan memunculkan interpretasi baru. Proses menyimak yang tidak hanya mengandalkan fisik saja karena hal ini berkaitan dengan pemahaman yang tepat dan masuk ke tahap penyimpanan memori jangka lama.

Kegiatan menyimak dapat dilakukan melalui beberapa tahap yakni: 1) mendengar yaitu siswa mendengarsegala sesuatu yang dibicarakan oleh pembicara; 2) memahami yaknisiswa mengerti isi pesan yang disampaikan pembicara; 3) menginterpretasi yaitu siswa mengartikan setiap aspek yang disampaikan pembicara; 4) mengevaluasi yaitu menyampaikan pendapat siswa terkait dengan isi pesan yang disampaikan pembicara baik itu kekurangan dan kelebihan; dan 5) menanggapi yakni siswa memberikan tanggapan terhadap isi pesan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Keberhasilan kegiatan menyimak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang ada dalam kegiatan berkomunikasi. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam kegiatan menyimak yakni adanya pembicara, penyimak, pesan yang disampaikan, media yang digunakan dan keadaan lingkungan sekitar (Sudiati, 2019). Penyimak memiliki tanggung jawab besar dalam keberhasilan kegiatan menyimak tersebut. Selain itu, juga perlu memperhatikan berbagai faktor eksternal yang dapat mengganggu dalam proses menyimak.

Capaian pembelajaran keterampilan menyimak pada kurikulum merdeka dibagi menjadi 3 fase yakni fase A (kelas 1–2), fase B (kelas 3– 4) dan fase C (kelas 5–6). Keterampilan menyimak pada fase A mendorong siswa dapat yakni: 1) menjadi penyimak yang penuh perhatian; 2) memiliki ketertarikan dalam kegiatan menyimak; dan 3) mampu memahami pesan dan informasi yang disampaikan melalui audio, teks aural yang berhubungan dengan komunikasi dan instruksi lisan. Sedangkan keterampilan menyimak fase B yang harus dikuasai siswa meliputi: 1) dapat memahami gagasan utama suatu pesan lisan dan informasi melalui audio, teks aural dan instruksi lisan yang berhubungan dengan komunikasi; dan 2) dapat memahami teks narasi yang dibacakan dari audio. Pada Fase C tingkat keterampilan menyimak siswa lebih tinggi dari capaian pembelajaran sebelumnya yang meliputi: 1) dapat menganalisisinformasi dalam bentuk fakta, prosedur yang mencakup ciri objek dan urutan kejadian; dan 2) menganalisis nilai-nilai dari beberapa jenis teks informatif dan fiksi yang diberikan dalam bentuk lisan, teks aural, dan audio.

Beberapa capaian pembelajaran keterampilan menyimak yang ada di kurikulum merdeka tersebut, dapat diimplementasikan melalui berbagai strategi agar siswa dapat menguasai dengan baik. Rambe & Widiyarti (2018) memaparkan metode yang dapat digunakan pada pembelajaran menyimak yakni sebagai berikut.

1. Metode Simak-Ulang Ucap 

Metode ini dapat diterapkan dengan mengenalkan bunyi bahasa dan cara mengucapkannya. Metode ini menyatukan keterampilan berbicara dan menyimak. Metode ini cocok digunakan di kelas rendah. Tahapan yang dapat dilakukan guru dalam membelajarkan siswa menggunakan simak-ulang ucap meliputi: 1) guru membacakan atau memutar audio seperti fonem, puisi pendek dsb; dan 2) Siswa menirukan ucapan guru yang dapat dilaksanakan secara mandiri dan kelompok. 

 2. Metode Simak Kerjakan 

Metode ini melibatkan keterampilan menulis dalam implementasinya. Setelah siswa menyimak, maka ia menulisjawaban soal yang diberikan guru sesuai dengan pesan yang disampaikan. Biasanya guru memberikan bahan simakan cerita, lalu siswa menjawab soal terkait unsur instrinsik dalam cerita tersebut. Oleh karena itu, metode ini membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi. 

3. Metode Simak Terka 

Metode ini sudah tidak asing lagi bagi siswa. Siswa disuruh menyimak apa yang diucapkan guru, lalu ia menebak maksud pesan yang disampaikan. Seperti contoh, guru mendeskripsikan ciri-ciri suatu benda tanpa menyebut namanya, kemudian siswa menebak nama benda tersebut. Dalam hal ini,siswa tidak hanya membutuhkan konsentrasi tetapi juga harus bisa berpikir dengan cepat. 

4. Metode Simak Tulis 

Metode simak tulis adalah metode yang banyak diterapkan oleh guru Indonesia. Implementasinya sangat mudah yakni guru mempersiapkan materi pembelajaran yang akan didiktekan pada siswa. Kemudian siswa menulis apa yang diucapkan guru. Metode ini juga membutuhan keterampilan menulis. Siswa harus menyimak dengan saksama agar hasil tulisannya sesuai dengan pesan yang diucapkan guru. 

5. Metode Memperluas Kalimat 

Metode ini mengintegrasikan keterampilan berbicara. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru mengucapkan kalimat sederhana yang terdiri atas beberapa kata, lalu siswa menirukan apa yang diucapkan guru. Kegiatan tersebut dilakukan sebanyak dua kali. Siswa menghubungkan dua kalimat sederhana menjadi kalimat panjang. Siswa harus berkonsentrasi penuh,sehingga dapat merangkai kalimat dengan benar. 

 6. Metode Bisik Berantai 

Metode ini dapat diterapkan di kelas rendah dan kelas tinggi. Kegiatan pembelajaran menyimak menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru membisikkan kalimat pada salah satu siswa. Lalu siswa tersebut membisikkan kalimat tersebut kepada siswa lainnya, hal itu berulang secara terus menerus sampai siswa terakhir. Lalu siswa terakhir mengucapkan kalimat tersebut pada guru. Selain mengasyikkan, metode ini juga melatih kefokusan setiap siswa. 

7. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini selalu digunakan oleh setiap guru. Metode ini dapat diterapkan guru dengan memberikan pertanyaan, lalu siswa menjawab. Pertanyaan yang diberikan disesuaikan dengan tema pembelajaran. Kefokusan siswa dalam menyimak dapat dilihat dari jawaban yang diberikan apakah sesuai atau tidak dengan pertanyaan yang diberikan guru. 

8. Metode Identifikasi Tema, Ide Pokok, dan Kata Kunci

Langkah ini dapat dilakukan dengan guru bercerita sedikit dan siswa menyimak secara intens. Di tengah bercerita guru berhenti, lalu dilanjutkan bercerita oleh siswa. Hal ini berulang terus hingga cerita dirasa cukup. Metode ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan dapat mendorong kreativitas siswa dalam membuat kalimat. Selain itu juga mengajar siswa untuk percaya diri dan saling menghargai terhadap berbagai karya yang dihasilkan sejelek apapun. 

 9. Metode Parafrase 

Metode ini merupakan mengungkap kembali sesuatu menggunakan bahasa sendiri. Dalam tahapan implementasinya, guru dapat membacakan sebuah puisi di depan siswa. Siswa menceritakan isi puisi tersebut menggunakan bahasa sendiri. Metode ini membutuhkan konsentrasi untuk dapat memahami isi dengan baik sehingga dapat memparafrasekan sebuah pesan dengan baik. 

10. Metode Merangkum 

Metode ini cocok diimplementasikan pada kelas tinggi. Hal ini dikarenakan metode ini membutuhkan pemahaman dan konsentrasi yang tinggi. Setelah siswa menyimak apa yang disampaikan guru, siswa merangkum informasi atau pesan secara runtut. Merangkum dapat dilakukan dengan merangkai kata menggunakan bahasa sendiri.

Pembelajaran menyimak juga dapat diajarkan melalui berbagai media yang bervariasi. Media memiliki beberapa fungsi yaitu memberikan kemudahan guru dalam menyampaikan materi dan menarik minat belajar siswa (Yarni & Kaban, 2015). Siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, sehingga keberadaan media dalam proses pembelajaran sangat diperlukan. Jenis media yang digunakan guru berpengaruh terhadap hasil keterampilan menyimak siswa. Media yang dapat digunakan dalam menyimak yakni: 1) media visual meliputi gambar, foto, kartun, poster, grafik, dsb; 2) media audio meliputi MP3, radio, kaset audio dsb; 3) media audio visual meliputi: video, sound slide, film bersuara, dan televisi; 4) multimedia yang berisi animasi, foto, video, musik, gambard dan teks; dan 5) media realita yakni media yang ada di sekitar lingkungan siswa (Sukma & Saifudin, 2021). 

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kurikulum merdeka memberikan kebebasan pada guru untuk memilih metode dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Berbagai metode dan media yang sudah dijelaskan tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi guru dalam mengajarkan keterampilan menyimak siswa pada kurikulum merdeka. Pemilihan metode dan media harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Guru tidak boleh memilih hanya berdasarkan kemudahan yang diperoleh guru saja. Capaian pembelajaran menyimak fase A, fase B dan fase C memiliki tingkatan kognitif yang berbeda. Sehingga tingkat kognitif siswa juga menjadi pertimbangan penting bagi guru dalam pemilihan metode dan media. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam menyukseskan pembelajaran menyimak yaitu pertama, memilih metode pembelajaran yang berkaitan dengan materi dan bervariasi (Sukma & Saifudin, 2021). 

Guru harus memahami kondisi siswanya, sehingga bisa menentukan metode dan media yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Kedua, materi yang digunakan dalam pembelajaran menyimak harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Materi pembelajaran yang diberikan pada siswa tidak terlalu sulit dan tidak terlalu gampang. Tingkat kesukaran materi harus disesuaikan juga dengan kognitif siswa sekolah dasar. Ketiga, mengimplementasikan media pembelajaran yang beragam. Pembelajaran menyimak akan lebih menarik siswa jika guru dapat mengintegrasikan teknologi dengan materi pembelajaranmenyimak. Dalam hal ini, guru dituntut untuk melek teknologi. Keempat, mengatur lingkungan belajarsiswa. Pengelolaan lingkungan belajar yang baik akan berdampak pada kenyamanan siswa dalam belajar. Ruang belajar yang nyaman dapat meningkatkan motivasi belajar menyimak. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang baik dengan menyesuaikan dengan karakteristik siswanya. Kelima, melaksanakan evaluasi dengan baik. Guru memberikan penilaian kepada siswa sebagai bentuk penghargaan yang sudah siswa berikan dalam usaha belajar. Selengkapnya.....

Jumat, 07 Juli 2023

Cara mengembangkan KD dan Indikator

Dari capaian pembelajaran yang ditetapkan dari pemerintah ini diharapkan masing-masing guru dapat menurunkan ke dalam KD dan indikator. Satu CP dapat diturunkan menjadi beberapa KD dan Indikator. Bagaimana caranya menurunkan CP menjadi KD dan indikator? Yang pertama guru harus membaca dengan jeli capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. Kedua, guru harus memahami Kata Kerja Operasional (KKO) Taksonomi Bloom, mulai C1 – C6 disemua ranah (afektif, kognitif dan psikomotorik). Ketiga, guru harus dapat memformulasi kedalaman dan keluasan materi dari KKO yang ditetapkan tersebut menjadi KD dan indikato di 3 ranah (afektif, kognitif, psikomotik). Keempat, guru harus dapat menghadirkan materi yang relevan dengan KD dan indikator yang dia turunkan dari CP. Munsenmaier dan Rubin (2013) dalam (Ching & Da Silva, 2017) menyarankan pertanyaan model untuk diperkenalkan di bawah setiap tingkat taksonomi Bloom, dengan mempertimbangkan bahwa itu adalah sebagai alat untuk belajar. (Ching & Da Silva, 2017) kemudian mengadaptasi pertanyaan untuk setiap tingkatan taksonomi.

  1. Mengingat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mendefinisikan istilah, mengidentifikasi fakta dan menemukan informasi atau konten tentang subjek, dan juga kriteria yang membantu siswa: Mendefinisikan informasi? Sebutkan fakta? Baca informasi? Buat daftar fakta atau detail? Menemukan fakta atau ide? Ambil informasi? Jelaskan informasi? Mengenali fakta atau ide dalam konteks?
  2. Memahami tujuan untuk membantu siswa menghubungkan pembelajaran baru dengan pembelajaran sebelumnya pengetahuan; kriteria untuk membantu siswa: Ringkasan fakta dan ide? Nyatakan kembali metode atau prosedur? Menafsirkan hubungan? Parafrase informasi? Memprediksi konsekuensi? Berikan contoh? Menceritakan kembali peristiwa? Menceritakan kembali informasi dengan kata-kata sendiri? Nyatakan masalah dengan kata-kata sendiri? Jelaskan ide atau konsep? Tentukan pentingnya?
  3. Menerapkan bertujuan untuk memberikan kesempatan untuk menerapkan prosedur yang dipelajari dan metode; kriteria untuk membantu siswa: Mendemonstrasikan metode dan Prosedur? Melaksanakan prosedur? Gunakan ide atau pengetahuan? Temukan tujuan baru untuk kompetensi atau pengetahuan? Gunakan pengetahuan dalam situasi baru? Bereksperimen dengan konsep dalam pengaturan yang berbeda? Menyesuaikan pengetahuan untuk digunakan dalam konteks yang berbeda? Terapkan prosedur untuk unik situasi?
  4. Analisis bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa membedakan antara apa yang relevan dan/atau tidak relevan, menentukan hubungan, dan mengenali organisasi konten dengan analisis elemen, hubungan dan prinsip-prinsip organisasi; kriteria untuk membantu siswa: Membedakan fakta dari hipotesis? Kenali niat? Bedakan relevan dari yang tidak relevan? Perhatikan strukturnya? Pilih yang penting elemen? Dekonstruksi konten? Mengatur konten? Garis besar konten? Memahami hubungan?
  5. Evaluasi bertujuan untuk membantu siswa membuat penilaian menggunakan bukti internal dan solusi eksternal; kriteria untuk membantu siswa: Periksa keakuratannya? Deteksi inkonsistensi? Memantau efektivitas? Evaluasi prosedur? Mengkritik solusi? Teknik hakim? Performa kontras? Memeriksa kemungkinan hasil?
  6. Mencipta bertujuan untuk memberikan peluang untuk menghasilkan ide, merancang rencana dan menghasilkan produk; kriteria untuk membantu siswa: Membangun desain? Menghasilkan kemungkinan? Tulis ide? Usulkan hipotesis? Menghasilkan solusi? Produk desain? Merakit rencana? Mengatur ulang operasi? Bayangkan kemungkinan? Selengkapnya.....

Rabu, 05 Juli 2023

Keterampilan Membaca, Memirsa, dan Menulis

Membaca merupakan keterampilan peserta didik untuk memahami, memaknai, menginterpretasikan, dan merefleksi sebuah teks sesuai tujuan dan kepentingannya untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan potensinya. Menurut Hasanah & Lena (2021), membaca adalah salah satu keterampilan yang esensial dan perlu dikuasai oleh peserta didik, karena membaca memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, sehingga proses pembelajaran untuk melatihkan kemampuan membaca yang diperoleh pada pendidikan pertama harus mendapatkan perhatian khusus.

Keterampilan membaca adalah kesanggupan, kecakapan, dan kesiapan seorang individu untuk memahamisuatu gagasan dan lambang atau bunyi bahasa yang ada dalam sebuah teks bacaan yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan si pembaca, yaitu untuk memperoleh amanat atau informasi yang diinginkan. Proses membaca memerlukan pemahaman yang baik, karena pada proses tersebut diperlukan kemampuan untuk memahami sebuah teks bacaan serta memaknainya dengan benar. Kegiatan membaca merupakan sebuah komunikasi yang dilakukan secara tidak langsung, yaitu antara pembaca dan penulis melalui sebuah tulisan. Berdasarkan pengertian ini, dapat dinyatakan bahwa kemampuan membaca adalah kecakapan atau potensi seseorang untuk menguasai sebuah keahlian komunikasi tidak langsung melalui bahasa tulis.

Melalui kegiatan membaca, seorang pembaca dapat memperoleh sebuah pesan yang disampaikan oleh seorang penulis berdasarkan kata-kata dan kalimat yang ditulis. Memirsa merupakan keterampilan peserta didik untuk memahami, memaknai, menginterpretasi, dan merefleksisajian cetak, visual dan atau audiovisual sesuai tujuan dan kepentingannya untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan potensinya. Menurut Mulyadi & Wikanengsih (2022), keterampilan memirsa menuntut peserta didik untuk memaknai sebuah sajian visual dan atau audiovisual, menafsirkan beragam jenis teks multimodal, serta menganalisis secara kritis sesuai dengan konteksnya. 

Keterampilan memirsa dapat mengembangkan pengetahuan dalam menyerap informasi dan mengolah informasi tersebut berdasarkan latar belakang pengetahuan yang dimiliki, serta menyampaikan kembali informasi yang diperoleh secara kritis dan logis. Keterampilan memirsa di dalam kurikulum IB (International Bacalaurate) disebut dengan viewing skill, yaitu memperhatikan dan memahami media visual, seperti televisi, gambar iklan, film, diagram, simbol, foto, video, drama, gambar, patung, lukisan, dll. Saat ini, keterampilan memirsa menjadisebuah keterampilan yang penting untuk dilatihkan kepada peserta didik karena dalam keseharian peserta didik berurusan dengan teks multimodal,sehingga peserta didik harus mampu memahaminya secara efektif, aktif, dan kritissupaya dapat berpartisipasi penuh dalam masyarakat. Dalam hal ini, pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia memegang peranan yang sangat penting dan strategis. Keterampilan memirsa membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menganalisis dan mengevaluasi sebuah teks visual dan teks multimodal yang menggunakan visual. Keterampilan memirsa juga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh informasi dan menghargai ide dan pengalaman yang dikomunikasikan secara visual oleh orang lain. komponen-komponen yang dapat dikembangkan dalam membaca dan memirsa diantaranya adalah kepekaan terhadap fonem, huruf,sistem isyarat, kosakata,struktur bahasa (tata bahasa), makna, dan metakognisi.

Menulis adalah keterampilan menyampaikan gagasan, tanggapan, dan perasaan dalam bentuk tulisan secara fasih, akurat, bertanggung jawab, dan atau menyampaikan perasaan sesuai konteks. Dalam kegiatan menulis, seorang penulis harus terampil untuk memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata (Rojaki, 2012). Kemampuan untuk menulis tidak dapat dimiliki oleh seorang individu secara otomatis, tetap melalui sebuah latihan dan praktik yang banyak dan konsisten. Akan tetapi, hal tersebut masih harus ditingkatkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya peserta didik SD. Terdapat beberapa persyaratan yang seharusnya dimiliki oleh sesorang untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik dan benar, yaitu kemampuan untuk menemukan masalah yang akan ditulis, kepekaan terhadap kondisi pembaca, kemampuan menyusun rencana penulisan, kemampuan menggunakan bahasa, kemampuan memulai tulisan, dan kemampuan memeriksa tulisan. 

Menulis dapat diartikan menyampaikan pikiran, perasaan, atau pertimbangan melalui sebuah tulisan. Dalam hal ini, alat yang digunakan dalam menulis adalah bahasa, yaitu kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Pikiran yang disampaikan kepada orang lain melaluisebuah tulisan harus dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat yang dapat mendukung tersampaikannya sebuah makna secara tepat dan sesuai dengan apa yang ingin disampaikan. Kata-kata yang digunakan dalam menulis harus tersusun secara teratur menjadi sebuah klausa dan kalimat supaya pembaca tulisan dapat memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Semakin teratur bahasa yang digunakan oleh penulis, semakin mudah seorang pembaca untuk memahami pikiran penulis yang disalurkan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, keterampilan menulis sangat penting untuk dimiliki oleh peserta didik dan harus dilatihkan kepada peserta didik sedini mungkin. Komponenkomponen yang dapat dikembangkan dalam menulis antara lain adalah penggunaan ejaan, kosakata, kalimat, paragraf, struktur bahasa, makna, dan metakognisi dalam beragam jenis teks. Selengkapnya.....

Senin, 12 Juni 2023

Problematika Media Pembelajaran



Media pembelajaran juga tidak kalah penting dalam memberikan sumbangsih untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Apalagi untuk siswa sekolah dasar yang masih pada tahap operasional konkrit, media sangat bermanfaat bagi mereka untuk menerjemahkan hal abstrak menjadi hal lebih konkrit. Media pembelajaran memiliki berfungsi sebagai alat bantu mengajar yang ikut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru (Azhar, 2010). Adanya media pembelajaran diharapkan mampu membangkitkan rangsangan pada semua indera. Rangsangan yang diterima oleh alat indra akan memberikan pengaruh untuk ingatan seseorang. Semakin banyak alat indera yang terlibat atau berinteraksi dengan media pembelajaran makan kemampuan otak untuk mengingat dan mengolah informasi akan lebih maksimal. Penggunaan media pada pembelajaran diharapkan akan mempermudah siswa dalam menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah sasar. Akan tetapi selama ini penyediaan media pembelajaran masih menjadi problematika. Media pembelajaran merupakan sarana yang dipergunakan atau dimanfaatkan agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, memperlancar dan mempermudah penyampaian informasi ke arah tujuan yang telah direncanakan. Sebelum guru memanfaatkan media pembelajaran di kelas,sebaiknya guru harus membekali diri dulu dengan dengan pengetahun tentang media pembelajaran. Pengetahuan ini dibutuhkan karena banyak guru yang tidak memahami ikhwal media pembelajaran baik teori, pemanfaatan, pemilihan, maupun pengembangannya. Manfaat dari setiap media pembelajaran bergantung pada kemampuan guru dan siswa untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan pesan-pesan yang terkandung dalam media pembelajaran yang didayagunakan. Sudah banyak studi yang mengungkapkan bahwa pemanfaatan media pembelajaran berdampak pada terwujudnya iklim positif dalam pembelajaran (Marisa, 2010). 

Penggunaan media pembelajaran mampu memberikan gambaran kongkrit pada siswa. Bagi siswa, seringkali materi yang bersifat terlalu abstrak membuat mereka bingung. Disinilah peran media pembelajaran mampu digunakan untuk mengubah konsep abstrak menjadi kongrit. Jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia SD pada materi ide pokok dan kalimat utama, guru bisa menghadirkan media berupa peta pikiran atau multimedia interaktif. Kehadiran media di tengah-tengah pembelajaran akan memotivasi siswa dan ikut terlibat dalam pembelajaran. Akibatnya mereka akan lebih mudah dalam menguasai materi. Ironisnya, penggunaan media ke dalam pembelajaran kurang mendapatkan perhatian dari guru. Guru merasa admistrasi pembelajaran sangat membebani mereka. Begitu juga ketika harus mengembangkan media pembelajaran yang harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Apalagi jika mereka harus membuat media pembelajaran yang sesuai dan mendukung pembelajaran. Kondisi tersebut memberikan beberapa indikasi adanya kurang kreatifnya guru-guru di sekolah dalam mempersiapkan media pembelajaran. 

Media pembelajaran bahasa Indonesia yang digunakan selama ini masih terbilang sederhana yakni gambar, foto, video yang diambil dari YouTube. Kondisi ini memperlihatkan kurang kreatifnya guru sekolah dasar. Sebenarnya jika guru memiliki jiwa inovatif dan kreatif bisa mengembangkan media pembelajaran sendiri. Pada era Abad 21 ini, sumberinformasi mengenai pengembangan media tidak hanya didapatkan dari satu sumber. Guru sebenarnya bisa melakukan pengembangan diri melalui pelatihan-pelatihan yang diinisiasi pemerintah, perguruan tinggi atau bahkan mereka bisa belajar dari YouTube yang menyediakan berbagai video cara mengembangkan media dari mulai media sederhana maupun media yang berbasis digital. Permasalahan yang lain, kadang kala guru sudah membuat media pembelajaran bermuatan bahasa Indonesia akan tetapi kurang sesuai dengan materi pembelajaran. Padahal pemanfaatan media pembelajaran seharusnya memperhatikan materi yang akan diajarkan serta karakteristik siswa. Selain itu, guru juga perlu memiliki keterampilan memilih dan menggunakan media tersebut dengan baik tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang media saja (Hamalik, 2011).

Keterampilan memilih media pembelajaran penting dilakukan karena kelas yang dimiliki guru adalah kelas yang beragam. Beragam karakteristik, gaya belajar, minat, kemampuan kognitif, dll. Tentu sebagai guru yang bijaksana dan profesional harus mampu memfasilitasi mereka dengan baik. Salah satu pertimbangan guru dalam memilih media pembelajaran yang akan digunakan adalah keberagaman yag dimiliki siswa. Tujuannya agar semua karakteristik guru bisa terfasilitasi dengan baik. Begitu juga jika guru ingin menciptakan pembelajaran aktif, kreatif agar efektif serta menyenangkan, guru tidak dapat melepaskan diri dari media pembelajaran. Baik dalam pembelajaran yang sederhana maupun pembelajaran yang menggunakan digital. Jika dalam pembelajaran terjadi kesalahan dalam pemilihan media pembelajaran akan menyebabkan terganggunya pencapaian tujuan pembelajaran. Saat ini media yang dapat digunakan pun tidak terbatas pada media-media sederhana. Pada Abad 21, perkembangan teknologi juga merambah pada dunia pembelajaran. Namun problematika yang selama ini terjadi adalah beberapa guru kurang mampu menggunakan teknologi. Akibatnya pemanfaatan media berbasis digital ke dalam kelas kurang maksimal. Kejadian ini sangat dirasakan saat pembelajaran daring karena adanya pandemi Covid-19 beberapa waktu yang lalu. Kekurangterampilan guru dalam pemanfaatan teknologi memberikan dampak pada kurang maksimalnya pembelajaran daring (Ariesca et al., 2021). Selengkapnya.....
 

Sabtu, 10 Juni 2023

Problematika Siswa



Beberapa permasalahan mengenai siswa saat sedang mempelajari bahasa Indonesia dibagi menjadi dua faktor yakni internal dan eksternal. Faktor tersebut adalah faktor internal yang berupa afektif, kognitif, dan psikomotor, bahasa pertama, dan kesehatan. Adapun faktor eksternal berupa lingkungan keluarga, sosial ekonomi, dan lingkungan fisik. Selengkapnya 

 

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...