Pembelajaran bahasa dan sastra anak telah banyak muncul di
lakukan penyelidikan dua dekade terakhir. Seperti yang dijelaskan oleh
Harris dan Grenfell, strategi pembelajaran adalah keterampilan, taktik,
dan pendekatan yang diambil dari pembelajaran bahasa (Harris, V., &
Grenfell, 2014).
Pengajaran bahasa dan sastra di jenjang sekolah dasar diwajibkan ini
terjadi disebagian besar negara uni Eropa (European Commission, 2008);
(European Commission, 2008). Bahasa dasar wajib dengan kurikulum
nasional pada sekolah dasar (QCDA, n.d.), tetapi langkah ini baru-baru
diterapkan oleh pemerintah. Hasil dari penelitian pembelajaran bahasa
dasar menyebutkan bahwa dapat meningkatkan harga diri dari anakanak tersebut, meningkatkan motivasi dan antusias para pelajar untuk
mengikuti pembelajaran bahasa dan berkontribusi pada perkembangan
sikap yang positif terhadap kebudayaan lain (Blondin, C., M. Candelier,
P. Edelenbos, R. Johnstone, A. Kubanek-German & Taeschner, 1998);
(Kubanek-German, 1998); (Naysmith, 1999); (Pufahl, I., N. Rhodes, 2000).
Para peneliti yang mendalami tentang bilingualisme sudah
menyebutkan bahwa peningkatan kesadaran metalinguistik dan
metakognitif sebagai keuntungan tambahan (Baker, 2006); (Cummins,
1976); (Hamers, J.F., 1989). Kesadaran atas metakognitif mendorong
pengembangan strategi pembelajaran bahasa dan sastra, pada akhirnya
potensi untuk meningkatkan kemampuan, pengaturan diri dan
pembelajaran secara mandiri. Meskipun strategi pembelajaran memainkan
peran yang sangat penting dalam pembelajaran, instruksi dari strategi
sendiri bukan merupakan fitur yang umum dari pengajaran di kelas
(Beckman, 2002). Lebih lanjut kurikulum mengusulkan strategi sebagai
salah satu bagiannya.
Banyak instruksi strategi untuk pelajar muda dan dewasa. Banyak
peneliti yang menjelaskan bahwasanya strategi pada anak-anak yang
lebih muda dimulai dari aktivitas yang bersifat spesifik seperti tugas yang
nantinya berkembang menjadi keterampilan yang lebih kompleks dan fleksibel dan dapat digeneralisasikan (Brown, A.L., J.D. Bransford, R.A.
Ferrara, 1983).
Praktik dan Strategi
Untuk mengukur output siswa, guru menggunakan suatu pendekatan
dalam pengajaran bahasa dan sastra. Selain hal itu, mulai keterkaitan
program, guru akan menyampaikan pengajaran secara pragmatis kepada
siswa yang mengarah pada output yang lebih produktif.
Program pengajaran yang dapat digunakan untuk menggabungkan
penggunaan pengajaran bahasa dan sastra yaitu program pengajaran
bilingual dan multibahasa yang digunakan di ruang kelas (Adrian
Abarquez, 2021). Penggunaan bilingual dan multilingualisme dalam
pengajaran bahasa dan sastra, yang mana bilingual fokus pada bahasa
pertama dan kedua yang telah peserta didik pelajari di ruang kelas.
Sedangkan multilingualisme, satu bahasa tambahan disebutkan,
termasuk bahasa ibu. Pendekatan semacam ini dapat digunakan untuk
menghilangkan stres para siswa atas pemerolehan bahasa target.
OBE (Outcomes-Based Education) merupakan program dari
Departemen Pendidikan, dimana program ini memungkinkan para
siswa untuk menggali hasil yang lebih realistis berdasarkan pengetahuan
tentang topik yang diajarkan oleh guru. Keefektifan pelaksanaan OBE
sangat bergantung pada pendidik. Dikarenakan kesadaran kompetitif dan
pengetahuan OBE sangat penting. Menurut Kilen, OBE dapat memberikan
kontribusi pada prestasi belajarsiswa dikarenakan memotivasi instruktur
untuk dapat mempersiapkan dirisecara maksimal (Killen, 2000). Menurut
Ramoroko, karakteristik dari guru yang menggunakan OBE dengan cara
yang memungkinkan mereka untuk menunjukkan kontrol atas proses
dan pendekatan tersebut (Ramoroka, 2017). Pendekatan tersebut berusaha untuk menciptakan aktivitasinteraktif
antara seorang guru dan siswa melalui alat atau media yang dipilih
oleh instruktur. Seorang guru dapat melakukan kegiatan pembelajaran
dengan memanfaatkan berbagai kegiatan dan materi yang telah
dihasilkannya. Selanjutnya salah satu metode pelaksanaan pembelajaran
komunikatif adalah melalui penggunaan media. Menurut Lynch, media
dapat memaksimalkan jumlah partisipasi dalam pendidikan. Artinya,
penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar dapat sangat
membantu seorang guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar
yang komunikatif dan efektif (Lynch, 2008). Menurut Furnhan dkk,siswa merasa lebih terlibat dan berhasil secara akademis menggunakan media.
Penggunaan media di dalam kelas diperkirakan akan memudahkan
seorang guru dalam menyampaikan perintah dan informasi pembelajaran
kepada siswanya (Furnham, A., & Chamorro-Premuzic, 2005).
Verner menyebutkan dalam mengajar sastra, selalu saja dimulai
dari mana siswa berasal. Memicu minat siswa yang melibatkan mereka.
Guru memberikan bahan bacaan kepada murid-muridnya untuk dapat
mempersiapkan kegiatan di kelas berikutnya, yang artinya guru mengajar
pembelajaran misalkan dongeng, lagu, buku komik, dan materi yang
menarik lainnya untuk dibaca siswa (Verner, 2008). Guru juga dapat
menggunakan majalah, surat, buku harian, dan jurnal yang terbaru di
kelas membaca. Setelah peserta didik merasa nyaman dengan materi
yang diberikan oleh guru, mereka dapat melanjutkan ke tugas menulis
proses ini tidak perlu terlalu cepat. Disarankan kepada siswa untuk dapat
megerjakan tugas secara perlahan sampai mereka mengembangkan
semangat dan kepercayaan diri untuk berpartisipasi secara aktif. Verner
juga percaya bahwa guru juga harus menjelaskan tujuan dari pembelajaran
dengan pemilihan dan materi yang disertakan (Verner, 2008).
Tidak semua siswa akan menghargai atau memahami mengapa
pembelajaran sastra diajarkan di kelas. Namun, orang yang berbeda
memiliki alasan subjektif mereka sendiri untuk mempelajari atau
membaca sastra. Beberapa pembaca menggunakannya sebagai alat untuk
komunikasi. Beberapa mungkin membaca untuk mendapatkan informasi,
sementara yang lain membaca untuk hiburan. Ini karena penulis percaya
bahwa orang beragam dalam banyak aspek Widdowson menjelaskan bahwa teks sastra bersifat unik karena
dalam karya sastra apa dan bagaimana suatu tekstidak dapat dipisahkan.
Orang-orang mengomunikasikan pikiran, perasaan, dan aspirasi mereka
melalui apa yang mereka tulis dan baca (Widdowson, 1975). Pembaca
dapat berkomunikasi (dengan cara) dengan pemikiran penulis melalui
proses membaca. Dia lebih jauh menggarisbawahi bahwa memahami
bagaimana sastra berkomunikasi melibatkan pemahaman tentang apa dan
bagaimana. Hal ini menunjukkan bahwa teks sastra tidak dapat dengan
mudah diparafrasekan dan tidak ada interpretasi tunggal terhadap isinya.
Widdowson berpendapat bahwa dalam mengajar sastra, sangat penting
bagi siswa untuk memahami bagaimana pilihan mengomunikasikan
pikiran atau pesan dan harus mencoba untuk berhubungan dengan konten
(Widdowson, 1975). Apresiasi sastra dapat terjadi ketika peserta didik memahami teks yang dibacanya. Rosenblatt sebagaimana dikutip dalam
Celce-Murcia, 2014) mendefinisikan teks sastra melalui pembaca yang
berinteraksi dan menafsirkannya. Dia berpendapat bahwa cara umum
untuk membedakan karya sastra adalah melalui pemeriksaan teks(Celce-Murcia, M., Brinton, D. M., & Snow, 2014).
Kramsch di sisi lain, menunjukkan bahwa bentuk gramatikal
memainkan peran penting dalam bagaimana pembaca memahami dan
berinteraksi dengan teks sastra (Kramsch, 2014). Ia menambahkan,
seorang pembaca memiliki beragam pilihan untuk menyampaikan
sebuah pesan. Pilihan bentuk gramatikal memungkinkan penulis dan
audiens untuk mendefinisikan informasi lama dan baru berdasarkan
konteks dan situasi yang mereka rasakan. Demikian pula, Carter percaya
bahwa pendekatan berbasis bahasa untuk mengajar sastra berpusat pada
peserta didik, berbasis aktivitas, dan berorientasi pada proses (Carter,
1996). Dia menyatakan bahwa tugas-tugas kelas sangat berharga dan
membantu mereka dapat merangsang pelajar untuk menafsirkan teks
dengan melibatkan mereka dalam proses pembuatan makna. CelceMurcia menghubungkan dan menggarisbawahi pentingnya penokohan
dalam pengajaran teks sastra dengan mendefinisikannya sebagai proses
menilai karakter berdasarkan apa yang mereka katakan dan lakukan
(Celce-Murcia, M., Brinton, D. M., & Snow, 2014). Hal ini juga melibatkan
bagaimana penulis teks menggambarkan karakter. Mempertimbangkan
hal ini, untuk memicu partisipasi siswa, guru dapat memulai dengan
meminta mereka untuk menggambarkan karakter menggunakan kata
sifat. Mereka juga dapat mengumpulkan gambar yang menggambarkan
tindakan dan gambar karakter.
Desain Kurikulum dan Pendidikan Guru
Pengembangan kurikulum berkaitan erat dengan pendidikan guru
dan penggunaan sumber daya. Beberapa penelitian telah menyoroti
kekurangan kurikulum sekolah dasar, karena fakta bahwa mereka
terlalu menekankan pentingnya menghapal dan meniru (Murphy, V. A.
&Evangelou, 2016). Tren tantangan lain yang khas Asia, adalah kenyataan
bahwa beberapa kurikulum dipandu oleh pasar, sementara yang lain
tidak terkait erat dengan kebijakan pendidikan (Shing, 2016). Kurikulum
hendaknya menyediakan waktu yang cukup untuk kegiatan dan tugas
yang berbeda, tidak menyerahkan alokasi waktu hanya kepada guru
(Evangelou, M., Sylva, K., Kyrlacou, M., Wild, M. & Glenny, 2009). Selain itu, kurikulum PAUD-SD harus membantu anak-anak membuat hubungan
antara pembelajaran bahasa dan dunia anak-anak prasekolah sampai di
bangku sekolah dasaritu sendiri untuk meningkatkan efektivitas program. Selengkapnya.....