Tampilkan postingan dengan label Model Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Model Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Desember 2023

Model Pembelajaran Bahasa

Model pembelajaran tentu sudah tidak asing dalam kegiatan belajar dan mengajar. Model pelajaran sebagai cara yang dipilih guru untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Model pelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi, misalnya; kategori mata pelajaran, cakupan materi, usia, level sekolah lingkungan sekitar dan lain-lain. Namun, jika salah memilih model pembelajaran akan menjadi tidak oftimal atau tidak berfungsi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan dan budaya (Kemendikbud, 2014).

Model pembelajaran berperan untuk membentuk pola pembelajaran berpusat pada siswa. Model pembelajaran merupakan prosedur sistematis dalam mengelola kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap pembelajaran akan menggunaka model pembelajaran yang sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan siswa. Bahasa Indonesia sebagai bidang ilmu yang dipelajari di semua level pendidikan Indonesia mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Empat keterampilan berbahasa yakni membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Model pembelajaran membaca dapat dilakukan dengan pendekatan proses menggunakan strategi anticipation guide, strategi DRTA (directed, reading, thinking activity), strategi KWLA (know, want, learned, affect), strategi directed inquiry activity, strategi OH RATS (overview, headings, read, answer, test-study), strategi SQ3R (survey, question, read, recite, and review), strategi ECOLA (extending, concept, throught, language, activity).

Sementara model menulis dengan pendekatan proses dapat dilakukan dengan strategi sentence collection, sedangkan pembelajaran sastra menggunakan model strata, induktif, analisis, sinektik, bermain peran, sosiodrama dan simulasi (Syamsi, 2010). Pada kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka ada tiga model pembelajaran yang ditekankan untuk digunakan dalam proses pembelajaran yakni; 1) Problem based learning/PBL, 2) Project based learning/PjBL, dan 3) Discovery learning/DL. Model-model pembelajaran selalu berkembang menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Para ahli dan akademisi selalu berusaha untuk mengembangkan model pembelajaran. 

Pengembangan model pembelajaran untuk menciptakan kondisi belajar yang bermakna dan siswa dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan nyata. Adapun model-model pembelajaran yang popular dalam kondisi wabah diantaranya; 1) model ASIIK, 2) model SOLE, 3) model Flipped Classroom, 4) model Blended Learning, 5) Model Descovery-Inquiry, 6) Model Game. Selengkapnya dapat diakses dengan link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate     DOI

Minggu, 15 Oktober 2023

Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa yang digunakan diwilayah Republik Indonesia adalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan. Landasan dasar Bahasa Indonesia tertuang dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. Secara spesifik fungsi Bahasa Indonesia termuat dalam bab III tentang bahasa negara pasal 25 ayat 2 yang berbunyi, “Bahasa Indonesia berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggaan nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana komunikasi antar daerah dan antar budaya daerah” (Undang-Undang, 2009). 

Bahasa Indonesia diera globalisasi menghadapi berbagai tantang seperti teknologi canggih, kurangnya rasa bangga untuk menggunakan Bahasa Indonesia serta derasnya arus bahasa asing. Kedisiplinan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar akan mempertahankan eksistensi Bahasa Indonesia. Diperlukan sebuah kesadaran dari masyarakat Indonesia, terutama masyarakat sebagai pengguna Bahasa Indonesia dalam menggunakan Bahasa Indonesia (Murti, 2015). Selain faktor kesadaran yang disiplin untuk menggunakan Bahasa Indonesia. Pola pembiasaan menggunakan Bahasa Indonesia diperlukan dalam kehidupan sehari-hari (Nimas Permata Putri, 2017). 

Bahasa Indonesia adalah jati diri bangsa Indonesia sebagaimana semangat sumpah pemuda 1928 dalam mengakui Bahasa Indonesia. Masyarakat Indonesia benar-benar harus memahami bahwa Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu. Fungsi Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa sangatlah penting (Inda Puspita Sari, 2015). Untuk mempertahankan Bahasa Indonesia sebagai pemersatu terkhusus ditingkat perguruan tinggi maka dosen bahasa dan sastra dapat mengambil peran di era globalisasi sekarang, seperti; 1) menjadi model Bahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan, 2) menciptakan pembalajaran yang kreatif dan berpikir kritis, 3) memberikan kesempatan pengembangan industri dibidang kebahasaan dan kesastraan, 4) menjadi fasilitator komunitas ilmiah bahasa dan kesastraan, 5) memberikan peluang publikasi ilmiah dan pertukaran mahasiswa (Noermanzah, 2015). 

Bahasa Indonesia hendaknya selalu dilakukan monitoring yang berkelanjutan dari berbahasa dasar sampai berbahasa tingkat lanjutan. Kegiatan membina bahasa Indonesia harus dilakukan secara berkelanjutan agar Bahasa Indonesia tetap menjadi prioritas utama dalam pemakaian Bahasa Indonesia dan menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia (Aziz, 2016). Selengkapnya.....

Kamis, 31 Agustus 2023

Konsep Pembelajaran Literasi Anak SD

Pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka menjadi penting untuk menjawab tantangan era digital saat ini. Selain penguatan numerasi dan sains, pemerintah melalui Kemendikbud Ristek fokus juga terhadap literasi. Artinya literasi menjadi penting dihadirkan tidak sekadar di dalam sebuah gerakan namun juga di dalam kurikulum dan pembelajaran, baik yang integral dengan mata pelajaran tertentu maupun yang berdiri sendiri untuk penguatan literasi anak SD.

Dalam konteks pedagogi, pembelajaran literasi merupakan pembelajaran keaksaraan pada anak (Wray, 1999:53). Dalam perkembangannya, pembelajaran literasi tidak hanya mengajarkan anak dalam aspek kognitif (belajar membaca) dan motorik (belajar menulis dengan pensil), namun dikuatkan pada keterampilan mencari, mengolah, dan memanfaatkan informasi dari internet, teknologi digital, dan kemampuan mengoperasikan dengan bijak Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) (Grönlund & Genlott, 2013). Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran literasi merupakan proses belajar yang holistik dari peranti manual menuju piranti digital yang dikenalkan pada anak. Seiring berkembangnya zaman, literasi di dalamnya mencakup tahapan-tahapan di dalam pembelajaran yang menjadikan peserta didik menumbuhkembangkan potensi dan pengetahuannya. Literasi di era Revolusi Industri 4.0 tidak sekadar literasi baca-tulis-berhitung yang biasa disebut literasi lama. Namun di dalam pembelajaran, anak-anak SD harus dikuatkan dalam aspek literasi baru yaitu literasi data-teknologi-manusia (Apriani, 2016:59; Stegman, 2014:31). 

Pembelajaran literasi dalam konteks ini harus menyesuaikan dari penguatan literasi lama menuju penguatan literasi baru pada anak. Pembelajaran literasi merupakan pengembangan keterampilan literasi individu di sekolah formal meliputi membaca, menulis, dan teknologi (Deshler et. al., 2012). Pembelajaran literasi SD adalah kegiatan untuk mengembangkan kemampuan membaca pada siswa SD (Aziz et. al, 2021:243). Pembelajaran literasi di SD merupakan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa dengan berbagai macam teks. Maka dibutuhkan model, strategi dan metode pembelajaran yang relevan untuk membelajarkan literasi pada anak SD termasuk berbasis multiliterasi, integrasi, dan berdiferensiasi (Abidin, 2017:156). Konsep ini menegaskan bahwa pembelajaran literasi tidak sekadar pada aspek membaca dan menulis namun juga penguatan kemampuan literasi digital yang sesuai dengan perkembangan zaman. 

Untuk meningkatkan kemampuan adaptasi anak di era disrupsi, literasi digital harus diintegrasikan di dalam pembelajaran melalui pemanfaatan media digital, gambar, pembelajaran kontekstual, untuk meningkatkan kompetensi anak dalam penguasaan informasi, berpikir komputasi, melek media digital, dan penguasaan kompetensi TIK (Rusydiyah & Purwati, 2020:305). Pembelajaran literasi berbasis media digital membentuk budaya baru yang mengubah cara pandang, sistem sosial, konsep, dan nilai yang ada di dalam pendidikan (Rivoltella, 2008:ix). Oleh karena itu, dibutuhkan pembelajaran literasi yang menyesuaikan zaman namun tidak mencerabut sistem nilai dan karakter yang ada di dalam pendidikan. 

Literasi tidak selamanya berkorelasi dengan satu rumpun mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, namun hakikatnya literasi integral pada semua mata pelajaran karena sesuai konsep UNESCO di atas, literasi sangat berkaitan dengan proses belajar dari lintas disiplin ilmu. Pembelajaran literasi lintas mata pelajaran merupakan proses pembelajaran yang dilaksanakan pendidik dengan tujuan menumbuhkembangkan pengetahuan anak. Prosesnya dimulai dari tahap persiapan, merancang pembelajaran, pelaksanaan dan evaluasi proyek literasi sesuai perkembangan dan usia anak (Dewayani et. al., 2021:21). Hakikat pembelajaran literasi berdasarkan konsep ini tidak hanya di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia namun juga integral di dalam berbagai lintas disiplin ilmu. 

Merujuk Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 008/H/KR/2022, disebutkan bahwa pembelajaran literasi untuk penguatan kemampuan literasi bersumber dari fondasi keterampilan anak dalam bidang bahasa, sastra, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Secara konseptual, model dalam pembelajaran literasi dalam Kurikulum Merdeka mengacu model “pedagogi genre” dengan empat tahapan, yaitu penjelasan dalam membangun konteks, pemodelan, pembimbingan, dan pemandirian. 

Dari kajian di atas, secara substansial dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran literasi anak SD merupakan pembelajaran yang direncanakan pendidik dalam aspek membaca, menulis, berhitung, dan teknologi media digital atau dalam konteksliterasi lama dan literasi baru. Pembelajaran literasi anak SD dapat diterapkan di dalam pembelajaran yang integral pada mata pelajaran tertentu seperti Bahasa Indonesia dan berdiri sendiri sebagai satu kesatuan di dalam program pembelajaran di kelas. 

Pembelajaran literasi anak SD secara teknis dilaksanakan dengan mengarusutamakan kemampuan akses, eksplor, identifikasi, proses, berhitung, menanyakan, memahani, menerapkan, intrepretasi, ekspresi, mengomunikasikan, dan menciptakan melalui multiinformasi, multimedia, multimodal termasuk buku teks, buku nonteks, dan sumber digital yang lain. Pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka bukan menambahkan materi baru, namun pembelajaran literasi yang menyasar pada dimensi bahasa, sastra, sains, TIK, budaya, kewarganegaraan, teknologi, dan rekayas menjadi tujuan Kurikulum Merdeka. Hal ini menunjukkan bahwa setiap mata pelajaran di SD dapat diintegrasikan untuk berorientasi kepada kemampuan literasi anak sesuai kontennya masing-masing. Selengkapnya.....

Sabtu, 15 Juli 2023

Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berbasis TIK dalam Kurikulum Merdeka

Model pembelajaran yang diuraikan selama ini berbasis pada keterampilan berbahasa yang mempunyai beberapa komponen dan dapat dikaitkan dengan media pembelajaran berbasis TIK tingkat SD. Ada empat model pembelajaran dalam model pembelajaran menyimak yang dapat dihubungkan dengan TIK diantaranya mengidentifikasi kata kunci, melakukan model retelling story, menyelesaikan cerita dan memperluas kalimat. Model pembelajaran menceritakan kembali (retelling story) adalah model yang digunakan oleh guru untuk menerapkan pembelajaran. 

Retelling story memiliki banyak manfaat untuk peserta didik salah satunya dapat mengembangan daya ingat, menambah kosakata Bahasa secara lisan dan pengembangan sifat ekspresif. Berikut adalah langkah-langkah untuk menerapkan kisah ritel berbasisICT: pertama, adalah Guru menggunakan podcast untuk merekam cerita dan memutarnya menggunakan CD atau melalui youtube misalnya. Kedua, pemutaran audio tersebut. Ketiga, siswa mendengarkan dengan saksama. Keempat, siswa diminta untuk berbicara kembali dengan bahasanya sendiri. Langkah keempat adalah menentukan hubungan antara keterampilan berpiir kritis dengan keterampilan membaca. Selanjutnya dapat pula menggunakan model diskriminatif kata kunci apabila ingin menceritakan ulang. Dalam prosesnya, siswa dianjurkan untuk fokus pada suara yang terdengar dari setiap kalimat yang diucapkan dalam suara maupun podcast, selanjutnya mereka dianjurkan untuk menentukan kata kunci dari tiap kalimat. Secara umum pembelajaran identifikasi kata kunci dapat digunakan di kelas tinggi sekolah dasar. 

Model pembelajaran yang dapat memperluas kalimat adalah model pembelajaran yang saling berhubungan satu sama lain. Berikut cara menerapkan pembelajaran memanjangkan kalimat: 1) Guru memutarkan dengan media internet atau CD kemudian menyebutkan kalimat-kalimatnya. 2) siswa melakukan perulangan kalimat yang diucapkan. 3) Saat siswa mengulangi kalimat, media internet dimatikan. 4) pemutaran kembali media oleh guru dan melakukan perulangan kalimat kembali. 5) guru mengucapkan kalimat/kata lain secara lisan. 6) Siswa selanjutnya langsung melengkapi kalimat sesuai dengan apa yang disebutkan oleh guru dan hasilnya diperluas dengan kalimat. 

Model pembelajaran melengkapi cerita merupakan model lanjutan dari kalimat yang diperluas sebelumnya, model ini juga dapat menggunakan media yang sama. Teks yang telah disampaikan oleh guru melalui audiovisual dapat dirangkum dalam sebuah cerita. Kelemahan dari model pembelajaran ini adalah memakan waktu, tetapi dapat diterapkan untuk kelas bawah. Di kelas bawah, kosakata masih terus diproduksi. Menulis kalimat adalah tugas yang membosankan menerapkan model pembelajaran di atas untuk membuat kalimat menyenangkan dan untuk meningkatkan pemikiran dan imajinasi siswa untuk membuat cerita. Sama halnya dengan model pembelajaran yang telah dijelaskan selama ini, keterampilan berbicara dan menyimak merupakan kegiatan reseptif, sehingga model pembelajaran ini juga berkaitan dengan keterampilan berbicara. 

Pembelajaran selanjutnya menunjukkan hanya satu model pembelajaran berbicara yang dapat diintegrasikan dengan media TIK, karena penggunaan media secara langsung dapat sepenuhnya menyampaikan tujuan pembelajaran berbicara. Tapi siapa yang saya modelkan? Jika TIK dapat digunakan sebagai media, maka jenis media yang dapat digunakan adalah media komputer dengan subtipe visual. Langkah-langkah untuk menerapkan model pembelajaran ini adalah sebagai berikut: pertama,Guru menggunakan materi tentang tokoh, peristiwa, atau profesi untuk membuat dua media flash/PowerPoint jenis kuis ya/tidak. Konsep kuisnya adalah memilih angka dari 1 hingga 9. Artinya, ada pilihan setelah nomor materi. Kedua, Guru dibagi menjadi dua atau tiga kelompok besar. Ketiga, Siswa akan diminta untuk memilih nomor Flash Media/PowerPoint dalam kelompoknya. Keempat,Guru akan memfokuskan dan memperlihatkannya sehingga siswa dapat melihatnya. Kelima,siswa yang telah memenangkan bagian akan memainkan peran sesuai nomor yang dipilih. Keenam, kelompok penonton harus menjawab karakter yang diperankan oleh kelompok lain. Ketujuh, group hanya bisa menjawab “ya” atau “tidak”. Kedelapan, jika penampil menemukan identitas, permainan berakhir dan berputar ke grup berikutnya. Model pembelajaran ini membuat siswa SD menjadi senang dengan menggunakan modelseperti permainan atau ice breaking. Kelebihan model pembelajaran dengan menggunakan TIK sebagai media pembelajaran terasa lebih hidup karena siswa tidak hanya fokus pada aktor, tetapi juga pada tampilan jawaban dari aktor. Selain menyenangkan, siswa dapat melatih keterampilan berbicara mereka. Dalam keadaan ini, guru dapat mengklasifikasikan jenis-jenis berbicara yang dipelajari oleh siswa. 

Model pembelajaran ini dapat diterapkan di tingkat SD dan SMA. Ada 2 model yang dapat digunakan dalam TIK, yaitu model K-W-L dan pelatihan yang dibaca dari model ECOLA. Model K-W-L merupakan model pembelajaran yang pada hakikatnya menuntut siswa untuk memahami apa yang dibacanya. K-W-L dapat dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama. K (Apa yang saya tahu?) Pada tahap ini, guru perlu menggunakan media PowerPoint atau flash untuk membuat materi. Saat ini aplikasi untuk membuat buku bergambar masih terus dibuat, hasilnya ditampilkan oleh guru, dipelajari, buku untuk dibaca bersama, dan gambaran umum dari buku tersebut. Tahap 2; W (Apa yang ingin dipelajari?) Pada tahap ini, guru mengomunikasikan tujuan pembelajaran dan memberikan pemahaman pembelajaran yang menarik. Pada tahap ini, fokus siswa adalah membaca dengan menggunakan media komputer subtipe visual. Siswa mencatat beberapa informasi penting dari hasil membaca. Pada tahap ini juga dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa terhadap informasi yang ditampilkan dalam cerita, yang ditampilkan dalam bentuk slide. Tahap ketiga; L (apa yang saya pelajari). Siswa belajar dari slide yang ditampilkan melalui fokus, siswa perlu mengetahui informasi penting terkait hasil membaca. Beberapa siswa tidak memahami kata atau kalimat. Kegiatan terakhir adalah siswa diminta untuk merangkum hasil bacaannya. 

Model pembelajaran selanjutnya yakni Extending Consept Trought Language Activities atau lebih dikenal dengan ECOLA. Model pembelajaran digunakan guru dalam mengintegrasikan keterampilan berbahasa yang memiliki tujuan untuk mengembangkan keterampilan pembaca, menerjemahkan dan kemudian menegaskan pemahamannya. (Susanto, 2014). Media yang tersedia dalam model pembelajaran ini adalah internet. 

Indikator ketercapaian model pembelajaran ini adalah siswa diharapkan suka membaca dan menemukan ide, konsep, dan gagasan. Untuk menerapkan model ECOLA dapat dilakukan dengan cara : 1) Pilihlah bacaan yang berbeda tidak dari buku tradisional atau dongeng, namun carilah ebook dan mendownload melalui Internet. 2) Guru meluangkan waktunya bagisiswa untuk membaca bacaan yang dipilih siswa itu sendiri. 3) Siswa membaca sekaligus belajar untuk mengkritisi. 4) Hasil bacaan siswa kemudian dirangkum dan di berikan pada guru. Model pembelajaran ini memiliki keterkaitan dengan model pembelajaran menulis. 

Model pembelajaran berbasis keterampilan menulis memiliki dua model yang dapat digunakan dan diintegrasikan dengan TIK pertama adalah Brown dan kedua adalah sugesti. Dasar model Brown ini mengatakan media pembelajaran adalah bagian yang memiliki keterkaitan dalam memfasilitasi pembelajaran, karena terdapat berbagai macam media dan media tersebut memiliki sifat yang interaktif. Media pembelajaran Brown contohnya seperti audio, proyek, gerak, visual, dll. (Krissandi, dkk., 2018: 36). 

Langkah-langkah pembelajaran model setelah tujuan pembelajaran tercapai adalah: a. penyiapan puzzle secara virtual yang dibuat oleh guru; b. pembuatan grup skala kecil; c. pembagian puzzle pada setiap group kecil; d. setiap group melakukan diskusi dan kerjasama dalam mengurutkan seri puzzle; e. apabila telah selesai, perwakilan anggota kelompok memaparkan hasilnya. f. setelahnya, guru masuk pada poin penjelasan materi dari hasil paparan siswa; g. siswa dalam kelompok ditugaskan untuk menulis kalimat berdasarkan susunan gambar dalam kelompok serta mengembangkan imajinasi mereka; h. memperbaiki tulisan yang kurang tepat dilakukan oleh tiap kelompok; i. proses refleksi pembelajaran; j. mengumpulkan hasil kerja kelompok dan dilakukan evaluasi pembelajaran yang dilakukan. 

Model sugesti dilakukan dengan proses yang tidak sebentar dan membutuhkan inspirasi untuk menghasilkan ide-ide menarik yang akan dituangkan pada tulisan. Stimulus yang digunakan dalam kegiatan ini sangat bervariasi. Umumnya pada tingkat SD dilakukan dengan film yang dibuat dengan menggunakan lagu, puisi, teater, atau teknologi. Media yang digunakan bisa dalam format multimedia dan internet. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut: a. Pemilahan lagu atau puisi yang berhubungan dengan pembelajaran yang ingin diajarkan oleh guru. b. Siswa bersiap untuk menyimak serta siswa menyiapkan alat tulisnya untuk merangkum hasil yang mereka simak. c. Siswa menuliskan hasil yang mereka amati dan simak disesuaikan imajinasi mereka. d. Melakukan proses koreksi dengan cara saling bertukarjawaban antara siswa. e. Siswa mendapat hasil koreksi dan melakukan perbaikan kembali pada tulisannya. f. Penilaian akhir oleh guru. Selengkapnya.....

Kamis, 13 Juli 2023

Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Strategi pembelajaran dan model pembelajaran tidak dapat dipisahkan. Kedua komponen tersebut harus bekerja sama dan saling berhubungan. Memang betul,strategi dipercaya banyak kalangan sebagai trik dalam mendukung kegiatan belajar yang harus digunakan guru untuk membuat pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan dan mencapai tujuan belajar yang efektif. Strategi pembelajaran dapat digambarkan sebagai seperangkat materi dan tata krama belajar yang terintegrasi dan digunakan secara bersamaan untuk menciptakan indikator keberhasilan belajar yang diinginkan guru dari siswanya. Selain itu, diperlukan suatu metode yang dapat diterapkan untuk mengartikulasikan strategi belajar yang diterapkan. 

Model pembelajaran dibuat oleh guru untuk menunjang kegiatan belajar di kelas. Secara umum, beberapa model pembelajaran telah diterapkan oleh guru salah satunya adalah demonstrasi, diskusi maupun ceramah. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan secara otomatis model pembelajaran akan mengalami peningkatan. Di bawah ini adalah contoh model pembelajaran bahasa Indonesia untuk siswa tingkat dasar berdasarkan empat keterampilan berbahasa menurut Krissandi, dkk, (2018: 32) pertama pembelajaran dengan model berbicara, kedua pembelajaran dengan model menyimak, ketiga pembelajaran dengan model membaca dan keempat pembelajaran dengan model menulis. 

Model pembelajaran menyimak terbagi menjadi beberapa perspektif yaitu Menceritakan kembali (retelling) cerita, membisikkan rantai, mendengarkan langsung (listening direct), membaca kata kunci, melengkapi cerita. Model pembelajaran berbicara dapat dibagi menjadi beberapa aspek, seperti tim pendengar, model berita, dan model orang dan subjek. Selain itu, model pembelajaran membaca mencakup beberapa model seperti model aktivitas berpikir membaca terarah, model K-W-L, model PORPE, dan model ECOLA. Model pembelajaran menulis mengandung beberapa komponen, antara lain model brainstorming, brainstorming, model konferensi meja bundar, model brown, dan model sugestif. Beberapa model pembelajaran bahasa Indonesia berbasis keterampilan berbahasa dapat dikaitkan dengan media pembelajaran berbasis TIK yang diterapkan di tingkat sekolah dasar. Selengkapnya.....

Jumat, 23 Juni 2023

Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra dalam Praktik Kelas, Desain Kurikulum, dan Pendidikan Guru

Pembelajaran bahasa dan sastra anak telah banyak muncul di lakukan penyelidikan dua dekade terakhir. Seperti yang dijelaskan oleh Harris dan Grenfell, strategi pembelajaran adalah keterampilan, taktik, dan pendekatan yang diambil dari pembelajaran bahasa (Harris, V., & Grenfell, 2014). Pengajaran bahasa dan sastra di jenjang sekolah dasar diwajibkan ini terjadi disebagian besar negara uni Eropa (European Commission, 2008); (European Commission, 2008). Bahasa dasar wajib dengan kurikulum nasional pada sekolah dasar (QCDA, n.d.), tetapi langkah ini baru-baru diterapkan oleh pemerintah. Hasil dari penelitian pembelajaran bahasa dasar menyebutkan bahwa dapat meningkatkan harga diri dari anakanak tersebut, meningkatkan motivasi dan antusias para pelajar untuk mengikuti pembelajaran bahasa dan berkontribusi pada perkembangan sikap yang positif terhadap kebudayaan lain (Blondin, C., M. Candelier, P. Edelenbos, R. Johnstone, A. Kubanek-German & Taeschner, 1998); (Kubanek-German, 1998); (Naysmith, 1999); (Pufahl, I., N. Rhodes, 2000). Para peneliti yang mendalami tentang bilingualisme sudah menyebutkan bahwa peningkatan kesadaran metalinguistik dan metakognitif sebagai keuntungan tambahan (Baker, 2006); (Cummins, 1976); (Hamers, J.F., 1989). Kesadaran atas metakognitif mendorong pengembangan strategi pembelajaran bahasa dan sastra, pada akhirnya potensi untuk meningkatkan kemampuan, pengaturan diri dan pembelajaran secara mandiri. Meskipun strategi pembelajaran memainkan peran yang sangat penting dalam pembelajaran, instruksi dari strategi sendiri bukan merupakan fitur yang umum dari pengajaran di kelas (Beckman, 2002). Lebih lanjut kurikulum mengusulkan strategi sebagai salah satu bagiannya. Banyak instruksi strategi untuk pelajar muda dan dewasa. Banyak peneliti yang menjelaskan bahwasanya strategi pada anak-anak yang lebih muda dimulai dari aktivitas yang bersifat spesifik seperti tugas yang nantinya berkembang menjadi keterampilan yang lebih kompleks dan fleksibel dan dapat digeneralisasikan (Brown, A.L., J.D. Bransford, R.A. Ferrara, 1983).


Praktik dan Strategi 

Untuk mengukur output siswa, guru menggunakan suatu pendekatan dalam pengajaran bahasa dan sastra. Selain hal itu, mulai keterkaitan program, guru akan menyampaikan pengajaran secara pragmatis kepada siswa yang mengarah pada output yang lebih produktif. Program pengajaran yang dapat digunakan untuk menggabungkan penggunaan pengajaran bahasa dan sastra yaitu program pengajaran bilingual dan multibahasa yang digunakan di ruang kelas (Adrian Abarquez, 2021). Penggunaan bilingual dan multilingualisme dalam pengajaran bahasa dan sastra, yang mana bilingual fokus pada bahasa pertama dan kedua yang telah peserta didik pelajari di ruang kelas. Sedangkan multilingualisme, satu bahasa tambahan disebutkan, termasuk bahasa ibu. Pendekatan semacam ini dapat digunakan untuk menghilangkan stres para siswa atas pemerolehan bahasa target. OBE (Outcomes-Based Education) merupakan program dari Departemen Pendidikan, dimana program ini memungkinkan para siswa untuk menggali hasil yang lebih realistis berdasarkan pengetahuan tentang topik yang diajarkan oleh guru. Keefektifan pelaksanaan OBE sangat bergantung pada pendidik. Dikarenakan kesadaran kompetitif dan pengetahuan OBE sangat penting. Menurut Kilen, OBE dapat memberikan kontribusi pada prestasi belajarsiswa dikarenakan memotivasi instruktur untuk dapat mempersiapkan dirisecara maksimal (Killen, 2000). Menurut Ramoroko, karakteristik dari guru yang menggunakan OBE dengan cara yang memungkinkan mereka untuk menunjukkan kontrol atas proses dan pendekatan tersebut (Ramoroka, 2017). Pendekatan tersebut berusaha untuk menciptakan aktivitasinteraktif antara seorang guru dan siswa melalui alat atau media yang dipilih oleh instruktur. Seorang guru dapat melakukan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai kegiatan dan materi yang telah dihasilkannya. Selanjutnya salah satu metode pelaksanaan pembelajaran komunikatif adalah melalui penggunaan media. Menurut Lynch, media dapat memaksimalkan jumlah partisipasi dalam pendidikan. Artinya, penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar dapat sangat membantu seorang guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang komunikatif dan efektif (Lynch, 2008). Menurut Furnhan dkk,siswa merasa lebih terlibat dan berhasil secara akademis menggunakan media. Penggunaan media di dalam kelas diperkirakan akan memudahkan seorang guru dalam menyampaikan perintah dan informasi pembelajaran kepada siswanya (Furnham, A., & Chamorro-Premuzic, 2005). Verner menyebutkan dalam mengajar sastra, selalu saja dimulai dari mana siswa berasal. Memicu minat siswa yang melibatkan mereka. Guru memberikan bahan bacaan kepada murid-muridnya untuk dapat mempersiapkan kegiatan di kelas berikutnya, yang artinya guru mengajar pembelajaran misalkan dongeng, lagu, buku komik, dan materi yang menarik lainnya untuk dibaca siswa (Verner, 2008). Guru juga dapat menggunakan majalah, surat, buku harian, dan jurnal yang terbaru di kelas membaca. Setelah peserta didik merasa nyaman dengan materi yang diberikan oleh guru, mereka dapat melanjutkan ke tugas menulis proses ini tidak perlu terlalu cepat. Disarankan kepada siswa untuk dapat megerjakan tugas secara perlahan sampai mereka mengembangkan semangat dan kepercayaan diri untuk berpartisipasi secara aktif. Verner juga percaya bahwa guru juga harus menjelaskan tujuan dari pembelajaran dengan pemilihan dan materi yang disertakan (Verner, 2008). Tidak semua siswa akan menghargai atau memahami mengapa pembelajaran sastra diajarkan di kelas. Namun, orang yang berbeda memiliki alasan subjektif mereka sendiri untuk mempelajari atau membaca sastra. Beberapa pembaca menggunakannya sebagai alat untuk komunikasi. Beberapa mungkin membaca untuk mendapatkan informasi, sementara yang lain membaca untuk hiburan. Ini karena penulis percaya bahwa orang beragam dalam banyak aspek Widdowson menjelaskan bahwa teks sastra bersifat unik karena dalam karya sastra apa dan bagaimana suatu tekstidak dapat dipisahkan. Orang-orang mengomunikasikan pikiran, perasaan, dan aspirasi mereka melalui apa yang mereka tulis dan baca (Widdowson, 1975). Pembaca dapat berkomunikasi (dengan cara) dengan pemikiran penulis melalui proses membaca. Dia lebih jauh menggarisbawahi bahwa memahami bagaimana sastra berkomunikasi melibatkan pemahaman tentang apa dan bagaimana. Hal ini menunjukkan bahwa teks sastra tidak dapat dengan mudah diparafrasekan dan tidak ada interpretasi tunggal terhadap isinya. Widdowson berpendapat bahwa dalam mengajar sastra, sangat penting bagi siswa untuk memahami bagaimana pilihan mengomunikasikan pikiran atau pesan dan harus mencoba untuk berhubungan dengan konten (Widdowson, 1975). Apresiasi sastra dapat terjadi ketika peserta didik memahami teks yang dibacanya. Rosenblatt sebagaimana dikutip dalam Celce-Murcia, 2014) mendefinisikan teks sastra melalui pembaca yang berinteraksi dan menafsirkannya. Dia berpendapat bahwa cara umum untuk membedakan karya sastra adalah melalui pemeriksaan teks(Celce-Murcia, M., Brinton, D. M., & Snow, 2014). Kramsch di sisi lain, menunjukkan bahwa bentuk gramatikal memainkan peran penting dalam bagaimana pembaca memahami dan berinteraksi dengan teks sastra (Kramsch, 2014). Ia menambahkan, seorang pembaca memiliki beragam pilihan untuk menyampaikan sebuah pesan. Pilihan bentuk gramatikal memungkinkan penulis dan audiens untuk mendefinisikan informasi lama dan baru berdasarkan konteks dan situasi yang mereka rasakan. Demikian pula, Carter percaya bahwa pendekatan berbasis bahasa untuk mengajar sastra berpusat pada peserta didik, berbasis aktivitas, dan berorientasi pada proses (Carter, 1996). Dia menyatakan bahwa tugas-tugas kelas sangat berharga dan membantu mereka dapat merangsang pelajar untuk menafsirkan teks dengan melibatkan mereka dalam proses pembuatan makna. CelceMurcia menghubungkan dan menggarisbawahi pentingnya penokohan dalam pengajaran teks sastra dengan mendefinisikannya sebagai proses menilai karakter berdasarkan apa yang mereka katakan dan lakukan (Celce-Murcia, M., Brinton, D. M., & Snow, 2014). Hal ini juga melibatkan bagaimana penulis teks menggambarkan karakter. Mempertimbangkan hal ini, untuk memicu partisipasi siswa, guru dapat memulai dengan meminta mereka untuk menggambarkan karakter menggunakan kata sifat. Mereka juga dapat mengumpulkan gambar yang menggambarkan tindakan dan gambar karakter.


Desain Kurikulum dan Pendidikan Guru 

Pengembangan kurikulum berkaitan erat dengan pendidikan guru dan penggunaan sumber daya. Beberapa penelitian telah menyoroti kekurangan kurikulum sekolah dasar, karena fakta bahwa mereka terlalu menekankan pentingnya menghapal dan meniru (Murphy, V. A. &Evangelou, 2016). Tren tantangan lain yang khas Asia, adalah kenyataan bahwa beberapa kurikulum dipandu oleh pasar, sementara yang lain tidak terkait erat dengan kebijakan pendidikan (Shing, 2016). Kurikulum hendaknya menyediakan waktu yang cukup untuk kegiatan dan tugas yang berbeda, tidak menyerahkan alokasi waktu hanya kepada guru (Evangelou, M., Sylva, K., Kyrlacou, M., Wild, M. & Glenny, 2009). Selain itu, kurikulum PAUD-SD harus membantu anak-anak membuat hubungan antara pembelajaran bahasa dan dunia anak-anak prasekolah sampai di bangku sekolah dasaritu sendiri untuk meningkatkan efektivitas program. Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...