Tampilkan postingan dengan label Flash media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash media. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juli 2023

Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berbasis TIK dalam Kurikulum Merdeka

Model pembelajaran yang diuraikan selama ini berbasis pada keterampilan berbahasa yang mempunyai beberapa komponen dan dapat dikaitkan dengan media pembelajaran berbasis TIK tingkat SD. Ada empat model pembelajaran dalam model pembelajaran menyimak yang dapat dihubungkan dengan TIK diantaranya mengidentifikasi kata kunci, melakukan model retelling story, menyelesaikan cerita dan memperluas kalimat. Model pembelajaran menceritakan kembali (retelling story) adalah model yang digunakan oleh guru untuk menerapkan pembelajaran. 

Retelling story memiliki banyak manfaat untuk peserta didik salah satunya dapat mengembangan daya ingat, menambah kosakata Bahasa secara lisan dan pengembangan sifat ekspresif. Berikut adalah langkah-langkah untuk menerapkan kisah ritel berbasisICT: pertama, adalah Guru menggunakan podcast untuk merekam cerita dan memutarnya menggunakan CD atau melalui youtube misalnya. Kedua, pemutaran audio tersebut. Ketiga, siswa mendengarkan dengan saksama. Keempat, siswa diminta untuk berbicara kembali dengan bahasanya sendiri. Langkah keempat adalah menentukan hubungan antara keterampilan berpiir kritis dengan keterampilan membaca. Selanjutnya dapat pula menggunakan model diskriminatif kata kunci apabila ingin menceritakan ulang. Dalam prosesnya, siswa dianjurkan untuk fokus pada suara yang terdengar dari setiap kalimat yang diucapkan dalam suara maupun podcast, selanjutnya mereka dianjurkan untuk menentukan kata kunci dari tiap kalimat. Secara umum pembelajaran identifikasi kata kunci dapat digunakan di kelas tinggi sekolah dasar. 

Model pembelajaran yang dapat memperluas kalimat adalah model pembelajaran yang saling berhubungan satu sama lain. Berikut cara menerapkan pembelajaran memanjangkan kalimat: 1) Guru memutarkan dengan media internet atau CD kemudian menyebutkan kalimat-kalimatnya. 2) siswa melakukan perulangan kalimat yang diucapkan. 3) Saat siswa mengulangi kalimat, media internet dimatikan. 4) pemutaran kembali media oleh guru dan melakukan perulangan kalimat kembali. 5) guru mengucapkan kalimat/kata lain secara lisan. 6) Siswa selanjutnya langsung melengkapi kalimat sesuai dengan apa yang disebutkan oleh guru dan hasilnya diperluas dengan kalimat. 

Model pembelajaran melengkapi cerita merupakan model lanjutan dari kalimat yang diperluas sebelumnya, model ini juga dapat menggunakan media yang sama. Teks yang telah disampaikan oleh guru melalui audiovisual dapat dirangkum dalam sebuah cerita. Kelemahan dari model pembelajaran ini adalah memakan waktu, tetapi dapat diterapkan untuk kelas bawah. Di kelas bawah, kosakata masih terus diproduksi. Menulis kalimat adalah tugas yang membosankan menerapkan model pembelajaran di atas untuk membuat kalimat menyenangkan dan untuk meningkatkan pemikiran dan imajinasi siswa untuk membuat cerita. Sama halnya dengan model pembelajaran yang telah dijelaskan selama ini, keterampilan berbicara dan menyimak merupakan kegiatan reseptif, sehingga model pembelajaran ini juga berkaitan dengan keterampilan berbicara. 

Pembelajaran selanjutnya menunjukkan hanya satu model pembelajaran berbicara yang dapat diintegrasikan dengan media TIK, karena penggunaan media secara langsung dapat sepenuhnya menyampaikan tujuan pembelajaran berbicara. Tapi siapa yang saya modelkan? Jika TIK dapat digunakan sebagai media, maka jenis media yang dapat digunakan adalah media komputer dengan subtipe visual. Langkah-langkah untuk menerapkan model pembelajaran ini adalah sebagai berikut: pertama,Guru menggunakan materi tentang tokoh, peristiwa, atau profesi untuk membuat dua media flash/PowerPoint jenis kuis ya/tidak. Konsep kuisnya adalah memilih angka dari 1 hingga 9. Artinya, ada pilihan setelah nomor materi. Kedua, Guru dibagi menjadi dua atau tiga kelompok besar. Ketiga, Siswa akan diminta untuk memilih nomor Flash Media/PowerPoint dalam kelompoknya. Keempat,Guru akan memfokuskan dan memperlihatkannya sehingga siswa dapat melihatnya. Kelima,siswa yang telah memenangkan bagian akan memainkan peran sesuai nomor yang dipilih. Keenam, kelompok penonton harus menjawab karakter yang diperankan oleh kelompok lain. Ketujuh, group hanya bisa menjawab “ya” atau “tidak”. Kedelapan, jika penampil menemukan identitas, permainan berakhir dan berputar ke grup berikutnya. Model pembelajaran ini membuat siswa SD menjadi senang dengan menggunakan modelseperti permainan atau ice breaking. Kelebihan model pembelajaran dengan menggunakan TIK sebagai media pembelajaran terasa lebih hidup karena siswa tidak hanya fokus pada aktor, tetapi juga pada tampilan jawaban dari aktor. Selain menyenangkan, siswa dapat melatih keterampilan berbicara mereka. Dalam keadaan ini, guru dapat mengklasifikasikan jenis-jenis berbicara yang dipelajari oleh siswa. 

Model pembelajaran ini dapat diterapkan di tingkat SD dan SMA. Ada 2 model yang dapat digunakan dalam TIK, yaitu model K-W-L dan pelatihan yang dibaca dari model ECOLA. Model K-W-L merupakan model pembelajaran yang pada hakikatnya menuntut siswa untuk memahami apa yang dibacanya. K-W-L dapat dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama. K (Apa yang saya tahu?) Pada tahap ini, guru perlu menggunakan media PowerPoint atau flash untuk membuat materi. Saat ini aplikasi untuk membuat buku bergambar masih terus dibuat, hasilnya ditampilkan oleh guru, dipelajari, buku untuk dibaca bersama, dan gambaran umum dari buku tersebut. Tahap 2; W (Apa yang ingin dipelajari?) Pada tahap ini, guru mengomunikasikan tujuan pembelajaran dan memberikan pemahaman pembelajaran yang menarik. Pada tahap ini, fokus siswa adalah membaca dengan menggunakan media komputer subtipe visual. Siswa mencatat beberapa informasi penting dari hasil membaca. Pada tahap ini juga dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa terhadap informasi yang ditampilkan dalam cerita, yang ditampilkan dalam bentuk slide. Tahap ketiga; L (apa yang saya pelajari). Siswa belajar dari slide yang ditampilkan melalui fokus, siswa perlu mengetahui informasi penting terkait hasil membaca. Beberapa siswa tidak memahami kata atau kalimat. Kegiatan terakhir adalah siswa diminta untuk merangkum hasil bacaannya. 

Model pembelajaran selanjutnya yakni Extending Consept Trought Language Activities atau lebih dikenal dengan ECOLA. Model pembelajaran digunakan guru dalam mengintegrasikan keterampilan berbahasa yang memiliki tujuan untuk mengembangkan keterampilan pembaca, menerjemahkan dan kemudian menegaskan pemahamannya. (Susanto, 2014). Media yang tersedia dalam model pembelajaran ini adalah internet. 

Indikator ketercapaian model pembelajaran ini adalah siswa diharapkan suka membaca dan menemukan ide, konsep, dan gagasan. Untuk menerapkan model ECOLA dapat dilakukan dengan cara : 1) Pilihlah bacaan yang berbeda tidak dari buku tradisional atau dongeng, namun carilah ebook dan mendownload melalui Internet. 2) Guru meluangkan waktunya bagisiswa untuk membaca bacaan yang dipilih siswa itu sendiri. 3) Siswa membaca sekaligus belajar untuk mengkritisi. 4) Hasil bacaan siswa kemudian dirangkum dan di berikan pada guru. Model pembelajaran ini memiliki keterkaitan dengan model pembelajaran menulis. 

Model pembelajaran berbasis keterampilan menulis memiliki dua model yang dapat digunakan dan diintegrasikan dengan TIK pertama adalah Brown dan kedua adalah sugesti. Dasar model Brown ini mengatakan media pembelajaran adalah bagian yang memiliki keterkaitan dalam memfasilitasi pembelajaran, karena terdapat berbagai macam media dan media tersebut memiliki sifat yang interaktif. Media pembelajaran Brown contohnya seperti audio, proyek, gerak, visual, dll. (Krissandi, dkk., 2018: 36). 

Langkah-langkah pembelajaran model setelah tujuan pembelajaran tercapai adalah: a. penyiapan puzzle secara virtual yang dibuat oleh guru; b. pembuatan grup skala kecil; c. pembagian puzzle pada setiap group kecil; d. setiap group melakukan diskusi dan kerjasama dalam mengurutkan seri puzzle; e. apabila telah selesai, perwakilan anggota kelompok memaparkan hasilnya. f. setelahnya, guru masuk pada poin penjelasan materi dari hasil paparan siswa; g. siswa dalam kelompok ditugaskan untuk menulis kalimat berdasarkan susunan gambar dalam kelompok serta mengembangkan imajinasi mereka; h. memperbaiki tulisan yang kurang tepat dilakukan oleh tiap kelompok; i. proses refleksi pembelajaran; j. mengumpulkan hasil kerja kelompok dan dilakukan evaluasi pembelajaran yang dilakukan. 

Model sugesti dilakukan dengan proses yang tidak sebentar dan membutuhkan inspirasi untuk menghasilkan ide-ide menarik yang akan dituangkan pada tulisan. Stimulus yang digunakan dalam kegiatan ini sangat bervariasi. Umumnya pada tingkat SD dilakukan dengan film yang dibuat dengan menggunakan lagu, puisi, teater, atau teknologi. Media yang digunakan bisa dalam format multimedia dan internet. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut: a. Pemilahan lagu atau puisi yang berhubungan dengan pembelajaran yang ingin diajarkan oleh guru. b. Siswa bersiap untuk menyimak serta siswa menyiapkan alat tulisnya untuk merangkum hasil yang mereka simak. c. Siswa menuliskan hasil yang mereka amati dan simak disesuaikan imajinasi mereka. d. Melakukan proses koreksi dengan cara saling bertukarjawaban antara siswa. e. Siswa mendapat hasil koreksi dan melakukan perbaikan kembali pada tulisannya. f. Penilaian akhir oleh guru. Selengkapnya.....

Sabtu, 08 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Menyimak

Menyimak sebagai keterampilan berbahasa yang memiliki kontribusi penting dalam kehidupan siswa sehari-hari maupun disekolah. Siswa tidak dapat membaca, menulis dan berbicara tanpa menguasai keterampilan menyimak. Menyimak adalah keterampilan berbahasa pertama yang diterima seseorang sejak kecil di lingkungan keluarga dan sekitarnya. Menyimak diartikan sebagai proses mendengarkan melaluisimbol-simbol lisan dengan saksama untuk mendapatkan informasi, dalam menerima dan memahami dari komunikasi yang sudah disampaikan pembicara melalui ucapan (Daeng et al., 2010). Sudiati (2019) menjelaskan bahwa menyimak yakni proses mendengarkan bunyi bahasa secara intens untuk memahami ucapan yang dimaksud pembicara. Menyimak dimaknai sebagai aktivitas mendengarkan secara kreatif dan aktif dengan tujuan mendapatkan informasi dan memahami isi terhadap ucapan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Beberapa penjelasan tersebut, dapat disintesiskan bahwa menyimak adalah kegiatan mendengarkan simbol-simbol lisan secara intens, kreatif, dan aktif untuk dapat menerima, memahami, dan mengimplementasikan informasi yang disampaikan pembicara.

Peranan menyimak bagi siswa sekolah dasar sebagai tahap awal dalam menguasai capaian pembelajaran yang akan dicapai. Keterampilan menyimak yang baik juga akan berpengaruh terhadap hasil belajarsiswa. Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran saat guru menjelaskan. Menyimak bagi siswa sekolah dasar memiliki kontribusi penting dikarenakan melalui menyimak siswa menerima, memahami dan mengimplementasikan materi pembelajaran dalam kehidupannya Selain itu, menyimak penting sekali dalam kegiatan sehari-hari dikarenakan melalui menyimak seseorang mendapatkan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan. Proses kegiatan menyimak melibatkan faktor fisik dan mental. Aspek mental berkaitan dengan proses menyimak yang berkaitan dengan proses kognitif meliputi perhatian, pemahaman dan ingatan. Pemahaman informasi yang diterima dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya sehingga akan memunculkan interpretasi baru. Proses menyimak yang tidak hanya mengandalkan fisik saja karena hal ini berkaitan dengan pemahaman yang tepat dan masuk ke tahap penyimpanan memori jangka lama.

Kegiatan menyimak dapat dilakukan melalui beberapa tahap yakni: 1) mendengar yaitu siswa mendengarsegala sesuatu yang dibicarakan oleh pembicara; 2) memahami yaknisiswa mengerti isi pesan yang disampaikan pembicara; 3) menginterpretasi yaitu siswa mengartikan setiap aspek yang disampaikan pembicara; 4) mengevaluasi yaitu menyampaikan pendapat siswa terkait dengan isi pesan yang disampaikan pembicara baik itu kekurangan dan kelebihan; dan 5) menanggapi yakni siswa memberikan tanggapan terhadap isi pesan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Keberhasilan kegiatan menyimak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang ada dalam kegiatan berkomunikasi. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam kegiatan menyimak yakni adanya pembicara, penyimak, pesan yang disampaikan, media yang digunakan dan keadaan lingkungan sekitar (Sudiati, 2019). Penyimak memiliki tanggung jawab besar dalam keberhasilan kegiatan menyimak tersebut. Selain itu, juga perlu memperhatikan berbagai faktor eksternal yang dapat mengganggu dalam proses menyimak.

Capaian pembelajaran keterampilan menyimak pada kurikulum merdeka dibagi menjadi 3 fase yakni fase A (kelas 1–2), fase B (kelas 3– 4) dan fase C (kelas 5–6). Keterampilan menyimak pada fase A mendorong siswa dapat yakni: 1) menjadi penyimak yang penuh perhatian; 2) memiliki ketertarikan dalam kegiatan menyimak; dan 3) mampu memahami pesan dan informasi yang disampaikan melalui audio, teks aural yang berhubungan dengan komunikasi dan instruksi lisan. Sedangkan keterampilan menyimak fase B yang harus dikuasai siswa meliputi: 1) dapat memahami gagasan utama suatu pesan lisan dan informasi melalui audio, teks aural dan instruksi lisan yang berhubungan dengan komunikasi; dan 2) dapat memahami teks narasi yang dibacakan dari audio. Pada Fase C tingkat keterampilan menyimak siswa lebih tinggi dari capaian pembelajaran sebelumnya yang meliputi: 1) dapat menganalisisinformasi dalam bentuk fakta, prosedur yang mencakup ciri objek dan urutan kejadian; dan 2) menganalisis nilai-nilai dari beberapa jenis teks informatif dan fiksi yang diberikan dalam bentuk lisan, teks aural, dan audio.

Beberapa capaian pembelajaran keterampilan menyimak yang ada di kurikulum merdeka tersebut, dapat diimplementasikan melalui berbagai strategi agar siswa dapat menguasai dengan baik. Rambe & Widiyarti (2018) memaparkan metode yang dapat digunakan pada pembelajaran menyimak yakni sebagai berikut.

1. Metode Simak-Ulang Ucap 

Metode ini dapat diterapkan dengan mengenalkan bunyi bahasa dan cara mengucapkannya. Metode ini menyatukan keterampilan berbicara dan menyimak. Metode ini cocok digunakan di kelas rendah. Tahapan yang dapat dilakukan guru dalam membelajarkan siswa menggunakan simak-ulang ucap meliputi: 1) guru membacakan atau memutar audio seperti fonem, puisi pendek dsb; dan 2) Siswa menirukan ucapan guru yang dapat dilaksanakan secara mandiri dan kelompok. 

 2. Metode Simak Kerjakan 

Metode ini melibatkan keterampilan menulis dalam implementasinya. Setelah siswa menyimak, maka ia menulisjawaban soal yang diberikan guru sesuai dengan pesan yang disampaikan. Biasanya guru memberikan bahan simakan cerita, lalu siswa menjawab soal terkait unsur instrinsik dalam cerita tersebut. Oleh karena itu, metode ini membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi. 

3. Metode Simak Terka 

Metode ini sudah tidak asing lagi bagi siswa. Siswa disuruh menyimak apa yang diucapkan guru, lalu ia menebak maksud pesan yang disampaikan. Seperti contoh, guru mendeskripsikan ciri-ciri suatu benda tanpa menyebut namanya, kemudian siswa menebak nama benda tersebut. Dalam hal ini,siswa tidak hanya membutuhkan konsentrasi tetapi juga harus bisa berpikir dengan cepat. 

4. Metode Simak Tulis 

Metode simak tulis adalah metode yang banyak diterapkan oleh guru Indonesia. Implementasinya sangat mudah yakni guru mempersiapkan materi pembelajaran yang akan didiktekan pada siswa. Kemudian siswa menulis apa yang diucapkan guru. Metode ini juga membutuhan keterampilan menulis. Siswa harus menyimak dengan saksama agar hasil tulisannya sesuai dengan pesan yang diucapkan guru. 

5. Metode Memperluas Kalimat 

Metode ini mengintegrasikan keterampilan berbicara. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru mengucapkan kalimat sederhana yang terdiri atas beberapa kata, lalu siswa menirukan apa yang diucapkan guru. Kegiatan tersebut dilakukan sebanyak dua kali. Siswa menghubungkan dua kalimat sederhana menjadi kalimat panjang. Siswa harus berkonsentrasi penuh,sehingga dapat merangkai kalimat dengan benar. 

 6. Metode Bisik Berantai 

Metode ini dapat diterapkan di kelas rendah dan kelas tinggi. Kegiatan pembelajaran menyimak menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru membisikkan kalimat pada salah satu siswa. Lalu siswa tersebut membisikkan kalimat tersebut kepada siswa lainnya, hal itu berulang secara terus menerus sampai siswa terakhir. Lalu siswa terakhir mengucapkan kalimat tersebut pada guru. Selain mengasyikkan, metode ini juga melatih kefokusan setiap siswa. 

7. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini selalu digunakan oleh setiap guru. Metode ini dapat diterapkan guru dengan memberikan pertanyaan, lalu siswa menjawab. Pertanyaan yang diberikan disesuaikan dengan tema pembelajaran. Kefokusan siswa dalam menyimak dapat dilihat dari jawaban yang diberikan apakah sesuai atau tidak dengan pertanyaan yang diberikan guru. 

8. Metode Identifikasi Tema, Ide Pokok, dan Kata Kunci

Langkah ini dapat dilakukan dengan guru bercerita sedikit dan siswa menyimak secara intens. Di tengah bercerita guru berhenti, lalu dilanjutkan bercerita oleh siswa. Hal ini berulang terus hingga cerita dirasa cukup. Metode ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan dapat mendorong kreativitas siswa dalam membuat kalimat. Selain itu juga mengajar siswa untuk percaya diri dan saling menghargai terhadap berbagai karya yang dihasilkan sejelek apapun. 

 9. Metode Parafrase 

Metode ini merupakan mengungkap kembali sesuatu menggunakan bahasa sendiri. Dalam tahapan implementasinya, guru dapat membacakan sebuah puisi di depan siswa. Siswa menceritakan isi puisi tersebut menggunakan bahasa sendiri. Metode ini membutuhkan konsentrasi untuk dapat memahami isi dengan baik sehingga dapat memparafrasekan sebuah pesan dengan baik. 

10. Metode Merangkum 

Metode ini cocok diimplementasikan pada kelas tinggi. Hal ini dikarenakan metode ini membutuhkan pemahaman dan konsentrasi yang tinggi. Setelah siswa menyimak apa yang disampaikan guru, siswa merangkum informasi atau pesan secara runtut. Merangkum dapat dilakukan dengan merangkai kata menggunakan bahasa sendiri.

Pembelajaran menyimak juga dapat diajarkan melalui berbagai media yang bervariasi. Media memiliki beberapa fungsi yaitu memberikan kemudahan guru dalam menyampaikan materi dan menarik minat belajar siswa (Yarni & Kaban, 2015). Siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, sehingga keberadaan media dalam proses pembelajaran sangat diperlukan. Jenis media yang digunakan guru berpengaruh terhadap hasil keterampilan menyimak siswa. Media yang dapat digunakan dalam menyimak yakni: 1) media visual meliputi gambar, foto, kartun, poster, grafik, dsb; 2) media audio meliputi MP3, radio, kaset audio dsb; 3) media audio visual meliputi: video, sound slide, film bersuara, dan televisi; 4) multimedia yang berisi animasi, foto, video, musik, gambard dan teks; dan 5) media realita yakni media yang ada di sekitar lingkungan siswa (Sukma & Saifudin, 2021). 

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kurikulum merdeka memberikan kebebasan pada guru untuk memilih metode dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Berbagai metode dan media yang sudah dijelaskan tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi guru dalam mengajarkan keterampilan menyimak siswa pada kurikulum merdeka. Pemilihan metode dan media harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Guru tidak boleh memilih hanya berdasarkan kemudahan yang diperoleh guru saja. Capaian pembelajaran menyimak fase A, fase B dan fase C memiliki tingkatan kognitif yang berbeda. Sehingga tingkat kognitif siswa juga menjadi pertimbangan penting bagi guru dalam pemilihan metode dan media. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam menyukseskan pembelajaran menyimak yaitu pertama, memilih metode pembelajaran yang berkaitan dengan materi dan bervariasi (Sukma & Saifudin, 2021). 

Guru harus memahami kondisi siswanya, sehingga bisa menentukan metode dan media yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Kedua, materi yang digunakan dalam pembelajaran menyimak harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Materi pembelajaran yang diberikan pada siswa tidak terlalu sulit dan tidak terlalu gampang. Tingkat kesukaran materi harus disesuaikan juga dengan kognitif siswa sekolah dasar. Ketiga, mengimplementasikan media pembelajaran yang beragam. Pembelajaran menyimak akan lebih menarik siswa jika guru dapat mengintegrasikan teknologi dengan materi pembelajaranmenyimak. Dalam hal ini, guru dituntut untuk melek teknologi. Keempat, mengatur lingkungan belajarsiswa. Pengelolaan lingkungan belajar yang baik akan berdampak pada kenyamanan siswa dalam belajar. Ruang belajar yang nyaman dapat meningkatkan motivasi belajar menyimak. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang baik dengan menyesuaikan dengan karakteristik siswanya. Kelima, melaksanakan evaluasi dengan baik. Guru memberikan penilaian kepada siswa sebagai bentuk penghargaan yang sudah siswa berikan dalam usaha belajar. Selengkapnya.....

Senin, 12 Juni 2023

Problematika Media Pembelajaran



Media pembelajaran juga tidak kalah penting dalam memberikan sumbangsih untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Apalagi untuk siswa sekolah dasar yang masih pada tahap operasional konkrit, media sangat bermanfaat bagi mereka untuk menerjemahkan hal abstrak menjadi hal lebih konkrit. Media pembelajaran memiliki berfungsi sebagai alat bantu mengajar yang ikut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru (Azhar, 2010). Adanya media pembelajaran diharapkan mampu membangkitkan rangsangan pada semua indera. Rangsangan yang diterima oleh alat indra akan memberikan pengaruh untuk ingatan seseorang. Semakin banyak alat indera yang terlibat atau berinteraksi dengan media pembelajaran makan kemampuan otak untuk mengingat dan mengolah informasi akan lebih maksimal. Penggunaan media pada pembelajaran diharapkan akan mempermudah siswa dalam menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah sasar. Akan tetapi selama ini penyediaan media pembelajaran masih menjadi problematika. Media pembelajaran merupakan sarana yang dipergunakan atau dimanfaatkan agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, memperlancar dan mempermudah penyampaian informasi ke arah tujuan yang telah direncanakan. Sebelum guru memanfaatkan media pembelajaran di kelas,sebaiknya guru harus membekali diri dulu dengan dengan pengetahun tentang media pembelajaran. Pengetahuan ini dibutuhkan karena banyak guru yang tidak memahami ikhwal media pembelajaran baik teori, pemanfaatan, pemilihan, maupun pengembangannya. Manfaat dari setiap media pembelajaran bergantung pada kemampuan guru dan siswa untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan pesan-pesan yang terkandung dalam media pembelajaran yang didayagunakan. Sudah banyak studi yang mengungkapkan bahwa pemanfaatan media pembelajaran berdampak pada terwujudnya iklim positif dalam pembelajaran (Marisa, 2010). 

Penggunaan media pembelajaran mampu memberikan gambaran kongkrit pada siswa. Bagi siswa, seringkali materi yang bersifat terlalu abstrak membuat mereka bingung. Disinilah peran media pembelajaran mampu digunakan untuk mengubah konsep abstrak menjadi kongrit. Jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia SD pada materi ide pokok dan kalimat utama, guru bisa menghadirkan media berupa peta pikiran atau multimedia interaktif. Kehadiran media di tengah-tengah pembelajaran akan memotivasi siswa dan ikut terlibat dalam pembelajaran. Akibatnya mereka akan lebih mudah dalam menguasai materi. Ironisnya, penggunaan media ke dalam pembelajaran kurang mendapatkan perhatian dari guru. Guru merasa admistrasi pembelajaran sangat membebani mereka. Begitu juga ketika harus mengembangkan media pembelajaran yang harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Apalagi jika mereka harus membuat media pembelajaran yang sesuai dan mendukung pembelajaran. Kondisi tersebut memberikan beberapa indikasi adanya kurang kreatifnya guru-guru di sekolah dalam mempersiapkan media pembelajaran. 

Media pembelajaran bahasa Indonesia yang digunakan selama ini masih terbilang sederhana yakni gambar, foto, video yang diambil dari YouTube. Kondisi ini memperlihatkan kurang kreatifnya guru sekolah dasar. Sebenarnya jika guru memiliki jiwa inovatif dan kreatif bisa mengembangkan media pembelajaran sendiri. Pada era Abad 21 ini, sumberinformasi mengenai pengembangan media tidak hanya didapatkan dari satu sumber. Guru sebenarnya bisa melakukan pengembangan diri melalui pelatihan-pelatihan yang diinisiasi pemerintah, perguruan tinggi atau bahkan mereka bisa belajar dari YouTube yang menyediakan berbagai video cara mengembangkan media dari mulai media sederhana maupun media yang berbasis digital. Permasalahan yang lain, kadang kala guru sudah membuat media pembelajaran bermuatan bahasa Indonesia akan tetapi kurang sesuai dengan materi pembelajaran. Padahal pemanfaatan media pembelajaran seharusnya memperhatikan materi yang akan diajarkan serta karakteristik siswa. Selain itu, guru juga perlu memiliki keterampilan memilih dan menggunakan media tersebut dengan baik tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang media saja (Hamalik, 2011).

Keterampilan memilih media pembelajaran penting dilakukan karena kelas yang dimiliki guru adalah kelas yang beragam. Beragam karakteristik, gaya belajar, minat, kemampuan kognitif, dll. Tentu sebagai guru yang bijaksana dan profesional harus mampu memfasilitasi mereka dengan baik. Salah satu pertimbangan guru dalam memilih media pembelajaran yang akan digunakan adalah keberagaman yag dimiliki siswa. Tujuannya agar semua karakteristik guru bisa terfasilitasi dengan baik. Begitu juga jika guru ingin menciptakan pembelajaran aktif, kreatif agar efektif serta menyenangkan, guru tidak dapat melepaskan diri dari media pembelajaran. Baik dalam pembelajaran yang sederhana maupun pembelajaran yang menggunakan digital. Jika dalam pembelajaran terjadi kesalahan dalam pemilihan media pembelajaran akan menyebabkan terganggunya pencapaian tujuan pembelajaran. Saat ini media yang dapat digunakan pun tidak terbatas pada media-media sederhana. Pada Abad 21, perkembangan teknologi juga merambah pada dunia pembelajaran. Namun problematika yang selama ini terjadi adalah beberapa guru kurang mampu menggunakan teknologi. Akibatnya pemanfaatan media berbasis digital ke dalam kelas kurang maksimal. Kejadian ini sangat dirasakan saat pembelajaran daring karena adanya pandemi Covid-19 beberapa waktu yang lalu. Kekurangterampilan guru dalam pemanfaatan teknologi memberikan dampak pada kurang maksimalnya pembelajaran daring (Ariesca et al., 2021). Selengkapnya.....
 

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...