Tampilkan postingan dengan label Problematika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Problematika. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Juni 2023

Problematika Keterampilan Berbahasa

Selama ini pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah sudah mengenalkan dengan empat keterampilan berbahasa yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemudian pada kurikulum Merdeka Belajar ada dua tambahan yakni mempresentasikan dan memirsa.

1. Permasalahan Keterampilan Menyimak 

Keterampilan menyimak merupakan keterampilan berbahasa pertama yang dikuasai anak. Dalam pembelajarannya, keterampilan menyimak memiliki permasalahan tersendiri. Iskandarwassid dan (Iskandarwassid & Sunendar, 2011) menyampaikan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, penggunaan strategi pembelajaran menyimak masih berkutat dengan pola lama, yaitu siswa mendengar dan berupaya menjawab pertanyaan seputar bahan simakan.

a. Permasalahan tes kompetensi menyimak 

Pelaksanaan pembelajaran dan tes menyimak tampaknya kurang mendapat perhatian layaknya keterampilan berbahasa yang lain. Belum tentu semua guru mengajarkan dan menguji keterampilan menyimak secara khusus. Walaupun sebenarnya keterampilan menyimak sangat dibutuhkan untuk mengikuti pembelajaran berbagai muatan pembelajaran. Hal itu kemungkinan disebabkan oleh anggapan guru bahwa siswa telah memiliki kemampuan yang baik dalam memahami bahasa lisan. Bisa juga disebabkan karena pengembangan tes kompetensi menyimak tidak semudah tes keterampilan berbahasa yang lain (Nurgiyantoro, 2010). 

b. Siswa merasa kesulitan mengidentifikasi isi bahan simakan 

Pembelajaran menyimak di sekolah dasar difokuskan pada kemampuan mengidentifikasi isi atau simpulan bahan simakan. Kemudian untuk materi dongeng, siswa diharapkan mampu mengidentifikasi isi, amanat, tokoh, dan simpulan dari dogeng yang disimak. Permasalahan yang ada selama ini, siswa masih mengalami kesulitan dalam mengidentifikasinya. Hal tersebut ditunjukkan ketika guru memberikan evaluasi keterampilan menyimak, hanya sebagian kecil siswa yang mampu mencapai capaian pembelajaran yang telah ditetapkan (Hakim, 2018); (Rahmawati, 2019). 

c. Siswa kurang memiliki sikap serius dalam mengikuti pembelajaran menyimak

Sikap siswa ketika menyimak juga turut mengambilsumbangsih dalam problematika pembelajaran menyimak di sekolah dasar. Ketidakseriusan siswa disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya variasi dalam pembelajaran, siswa merasa bosan, kurang konsentrasi, dan kurang motivasi dalam menyimak. d. Strategi dan media yang digunakan dalam pembelajaran menyimak masih kurang bervariasi dan bervariasisehingga siswa kurang fokus Di bagian awal telah dibahas pentingnya penggunaan strategi dan media pembelajaran. Jika di dalam kelas, kurang adanya penerapan strategi dan media yang tepat akan membuat siswa lebih tertarik terhadap pembelajaran termasuk pembelajaran menyimak. Di sekolah, guru masih kurang mengeksplorasi penggunaan strategi dan media pembelajaran menyimak. Hal ini berdampak pada keberhasilan pembelajaran menyimak, jika penggunaan strategi dan media kurang maksimal akan menyebabkan capaian pembelajaran yang tidak maksimal (Aprilian, 2017).

2. Permasalahan Keterampilan Berbicara

a. Siswa kurang terampil menyampaikan ide dan gagasannya melalui komunikasi lisan dalam situasi formal. Artinya masih banyak siswa yang belum mencapai ketuntasan dalam keterampilan berbicara. Hal ini dikarenakan siswa merasa kurang percaya diri dalam berbicara sehingga dalam proses pembelajaran siswa menjadi pasif. 

 b. Pengaruh bahasa ibu memberikan permasalahan tersendiri bagi keterampilan berbicara. Penggunaan bahasa ibu dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar memang diperbolehkan terutama di kelas rendah(Ibda, 2017). Hal ini disebabkan karena sebagian besarsiswa di Indonesia menggunakan bahasa ibu yang berupa bahasa daerah di lingkungan keluarga. Akhirnya membuat mereka membawanya ke dalam kegiatan belajar mengajar di kelas (Jazadi et al., 2021). Dalam rangka memperlancar komunikasi dalam pembelajaran, penggunaan bahasa ibu ini tidaklah menjadi masalah serius. Namun akan menjadi permasalahan serius dan berkepanjangan ketika bahasa ibu masih digunakan dalam pembelajaran di kelas atas. Akibatnya siswa menjadi kesulitan dalam menguasai bahasa Indonesia termasuk penguasaan kosakata yang akan berimbas pada rendahnya keterampilan berbicara. 

c. Siswa merasa kurang percaya diri dan gugup saat berbicara di depan forum. Salah satu pembeda kurikulum Merdeka Belajar dengan kurikulum yang lain yakni dimasukkannya keterampilan mempresentasikan ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Keterampilan mempresentasikan muncul karena dilatarbelakangi rendahnya keterampilan berbicara siswa di depan umum. Harapannya ketika keterampilan mempresentasikan diajarkan sejak dini, maka kepercayaan dirisiswa ketika berbicara di depan umum akan baik dan terus meningkat sampai ke jenjang yang lebih tinggi

3. Permasalahan Keterampilan Membaca 

Keterampilan membaca merupakan keterampilan yang dikuasai anak. Jika dua keterampilan lain yakni menyimak dan berbicara, dipelajarisejak anak belum memasuki bangku sekolah dasar. Berbeda dengan keterampilan membaca, biasanya anak akan mempelajari keterampilan membaca ketika sudah memasuki bangku sekolah dasar. Dalam kurikulum Merdeka Belajar juga telah diatur mengenai pembelajaran membaca permulaan tersebut yakni ketika kelas 1 sekolah dasar. Lalu pada kelas 2 sampai kelas 6, siswa akan belajar membaca lanjut. Keterampilan membaca di sekolah dasar juga memiliki beragam problematika, antara lain: 

a. Kesulitan memahami makna, merefleksi, dan mengevaluasi isi bacaan. Pada kelas awal atau fase A (kelas 1 dan 2), siswa diharapkan mampu memahami makna bacaan tersurat kemudian dilanjutkan memahami makna bacaan tersirat ketika mereka memasuki fase B (kelas 3 dan 4). Namun kenyataan di sekolah, masih banyak siswa yang belum mampu memahami makna tersirat. Lebih lanjut pada siswa kelas 5 dan 6 ditemui permasalahan bahwa masih banyak siswa yang belum mampu merefleksi dan mengevaluasi bacaan. Hal ini dirasakan siswa ketika mereka latihan dan mengerjakan soal AKM 2021. Soal-soal yang disajikan dalam AKM literasi merupakan soal yang diadaptasi dari instrumen yang digunakan oleh PISA. Sebagian besar soal-soal tersebut mengukur kemampuan mengintepretasi informasi dari bacaan. 

 b. Rendahnya minat dan motivasi membaca siswa Rendahnya hasil survei yang dilakukan oleh PIRLS dan PISA mampu menunjukkan kondisi keterampilan membaca siswa Indonesia. Suatu hal yang menjadi penyebabnya adalah minat baca dan budaya literasi yang rendah. Salah satu budaya literasi yang sedikit dimiliki oleh siswa adalah budaya membaca (D.M. Andikayana et al., 2021). Apalagi di era digital saat ini, gempuran teknologi bisa memberikan efek negatif seperti halnya gawai. Jika tidak digunakan secara bijak, gawai ternyata memberikan pengaruh negatif pada siswa. Siswa akan kecanduan bermain gawai, baik itu mengakses game, media sosial, atau hal-hal yang lain. Akhirnya mereka menjadi kurang memiliki minat dalam membaca buku. Namun jika gawai digunakan secara bijak, misalnya untuk membaca buku cerita digital yang saat ini banyak tersedia maka tidak mustahil penggunaan gawai akan meningkatkan budaya baca siswa Indonesia. 

c. Kurangnya dukungan keluarga dan masyarakat Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan guru, namun pendidikan anak juga menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat. Selama ini dukungan dari keluarga dan masyarakat mengenai budaya membaca masih kurang. Walaupun di sekolah siswa sudah dibiasakan membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah dan pembelajaran di kelas, namun ketika mereka kembali ke rumah dan tidak menerima dukungan positif dari lingkungan sekitar. Maka mustahil budaya membaca itu akan dimiliki anak. Apalagi jika di lingkungan keluarga lebih menikmati fitur dalam gawai dan tayangan televisi maka anak juga akan lebih tertarik pada suguhan tersebut. Berbeda jika di keluarga juga dibiasakan penumbuhan budaya membaca melalui buku-buku koleksi pribadi maka anak juga akan terbawa pada kebiasaan yang ada.

4. Permasalahan Keterampilan Menulis 

Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang paling sulit dan paling akhir dikuasai oleh seorang pembelajar bahasa. Tak heran jika banyak persoalan muncul dari keterampilan menulis ini. Beberapa permasalahan dalam keterampilan menulis yang dihadapi siswa sekolah dasar antara lain:

 a. Pada keterampilan menulis permulaan tulisan siswa masih kurang rapi Pada awal belajar menulissiswa akan diajari bagaimana menulis huruf lepas dengan benar dan rapi. Kemudian di kelas 2 mereka akan diajari bagaimana menulis huruf tegak bersambung. Walaupun terkesan mudah namun keterampilan menulis permulaan memiliki berberapa problematika seperi tulisan yang tidak terbaca, tulisan kurang rapi, dan hilangnya beberapa huruf. Kondisi seperti ini membutuhkan penanganan yang ekstra dari guru kelas. Guru harus senantiasa memberikan pendampingan kepada siswa dalam melakukan kegiatan menulis permulaan terutama siswa yang mengalami kendala. Pemberian umpan balik sangatlah diperlukan dalam rangka mengatasi masalah tersebut.

 b. Sulitnya menuangkan dan mengembangkan ide Setelah siswa lancar menulis permulaan maka pembelajaran selanjutnya adalah menulis lanjut. Jika merujuk pada kurikulum Merdeka Belajar yang berbasis teks, siswa sekolah dasar dikenalkan dengan berbagai teks seperti narasi, deskripsi, eksplanasi, dan lain-lain. Beragamnya jenis teks ini memaksa siswa untuk terampil menulis teks-teks tersebut. Permasalahan yang ada adalah siswa cenderung mengalami kesulitan dalam menuangkan ide dan gagasan yang ada di kepala mereka. Jika sudah mampu dituangkan biasanya akan mengalami kendala dalam melakukan pengembangan ide. Misalnya kalimat tidak efektif, paragraf yang kurang koheren, dan tulisan yang memiliki banyak ide pokok. 

5. Permasalahan Keterampilan Memirsa 

Pada Abad ke-21 ini keterampilan berbahasa tidak lagi hanya terdiri atas empat komponen yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis saja tetapi bertambah menjadi enam keterampilan. Slaah satunya adalah keterampilan memirsa (Donaghy, 2019; Gador, 2016; Chan, 2020) dalam (Huri et al., 2021). Sejalan dengan itu, pada kurikulum Merdeka Belajar memasukkan keterampilan memirsa untuk melengkapi empat keterampilan berbahasa yang sudah ada sebelumnya. Permasalahan yang sering dihadapi siswa dalam pembelajaran keterampilan memirsa, antara lain: 

1. Masih kesulitan dalam mengintegrasikan berbagai strategi dalam memahami, menafsirkan, dan mengenali isi dan tujuan teks multimodal. Karakteristik keterampilan memirsa adalah melibatkan teks multimodal. Multimodal merupakan (Chen, 2010) proses memahamisimbol verbal dan visual yang digunakan secara bersamaan untuk menimbulkan keterlibatan dialogis dalam sebuah teks. Siswa biasanya masih mengalami kendala dalam memahami maksud teks multimoda yang disajikan dalam kegiatan memirsa tersebut. 

 2. Kesulitan dalam mengeksplorasi informasi Kendala lainnya adalah siswa masih mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan berbagaistrategi untuk memahami dan menafsirkan berbagai teks. Biasanya siswa melakukan kegiatan memirsa tanpa menggunakan strategi yang sebenarnya akan memudahkan mereka. Kendala lain adalah eksplorasi yang dilakukan siswa masih sangat sederhana sehingga mereka sulit untuk sampai pada tahap memirsa kritis. 

 6. Permasalahan Keterampilan Mempresentasikan 

Jika pada bagian sebelumnya dibahas mengenai keterampilan memirsa dan permasalahannya. Kali ini akan dibahas keterampilan mempresentasikan yang juga merupakan pengembangan dari keterampilan berbicara. Mempresentasikan adalah kemampuan menyampaikan gagasan atau tanggapan dengan fasih, akurat, bertanggung jawab. Dalam keterampilan memirsa juga menuntut keterampilan mengajukan serta menanggapi pertanyaan dari penyimak. Namun dalam hal ini masih terdapat beberapa permasalahan yakni siswa masih enggan mengajukan pertanyaan yang tergolong kritis. Dalam menanggapi pun kadang kala jawaban yang diberikan kurang sesuai dengan pertanyaan penyimak. Selengkapnya....

Rabu, 14 Juni 2023

Problematika Bahan Ajar


Komponen pembelajaran yang tak kalah penting dan masih menjadi salah satu problematika adalah bahan ajar. Bahan ajar merupakan atau materi ajar (instructional materials) terdiri atas aspek kognitif, psikomotor, dan afektif yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar capaian pembelajaran yang telah ditentukan. Jenis-jenis materi pembelajaran bahasa Indonesia terdiri atas pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, serta nilai dan sikap (Aisyah, 2020). Problematika pengembangan bahan ajar di sekolah yakni:

Selama ini pemerintah telah menyiapkan beragam bahan ajar untuk siswa dan guru (sebagai pegangan). Bahan ajar yang disiapkan pun beragam, baik itu cetak maupun digital. Namun apa yang disediakan pemerintah tersebut merupakan bahan ajar yang paling sederhana. Harapannya guru mampu mengembangkan sendiri bahan ajar yang disesuaikan dengan lingkungan dan karakteristik siswa. Permasalahannya beberapa sekolah dan guru masih menggunakan satu bahan ajar yakni buku guru dan buku siswa dari pemerintah. Tentu saja hal ini akan berdampak pada penguasaan materi. Materi yang dikuasaisiswa menjadi terlalu sederhana karena tidak ada pengembangan ilmu yang mereka dapatkan melalui bahan ajar. Adanya kurikulum Merdeka Belajar yang mulai diterapkan di beberapa sekolah, memberikan keleluasaan bagi guru untuk mengembangkan bahan ajarnya.

    a. Kesulitan menuangkan ide untuk mengembangkan bahan ajar bahasa Indonesia. Di lapangan masih beberapa guru masih mengalami kendala dalam menuangkan ide yang akan mereka tuliskan di bahan ajar. Bahan ajar seperti apa yang akan dikembangkan masih menjadi kendala termasuk isi yang akan dituangkan di bahan ajar tersebut. Bahan ajar yang dikembangkan masih terlalu sederhana atau terlalu luas. Sebenarnya pengembangan bahan ajar bisa merujuk pada capaian pembelajaran sehingga materi yang dituangkan tidak terlalu sempit ataupun luas.
    b. Kurang memperhatikan karakteristik, potensi, dan perkembangan siswa, serta relevansinya dengan kebutuhan siswa. Bahan ajar yang baik juga perlu memeperhatikan kebutuhan dan karakter siswa. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, pengembangan bahan ajar yang memperhatikan perkembangan siswa salah satunya diwujudkan dalam variasi teks bacaan. Teks bacaan yang diberikan pada siswa kelas awal berbeda dengan teks bacaan untuk kelas lanjut. 
    c. Keterbatasan sumber bahan ajar. Di era Abad 21 ini, Permasalahan tersebutseharusnya bukanlah menjadi kendala dalam pengembangan bahan ajar. Saat ini perkembangan informasi dan pengetahuan sangat berkembang dengan pesat dan terbuka. Pengetahuan dan informasi tidak hanya didapatkan dari sumber cetak, justru sumber elektronik dan digital lebih mendominasi dalam perkembangan saat ini. Namun hal sumber bahan ajar masih saja menjadi salah satu kendala saat ini. Hal ini dibuktikan dengan masih dijadikannya buku ajar dari pemerintah sebagai satu-satunya bahan ajar di kelas. Kondisi ini sangatlah disayangkan, karena jika ilmu yang dipelajari siswa hanya buku tersebut maka pengalaman mereka tidak akan berkembang maksimal.
  d. Pendekatan tematik integratif yang digunakan pada kurikulum terdahulu juga memberikan permasalahan tersendiri pada pengembangan bahan ajar. Adanya integratif ini membuat bahan ajar per muatan menjadi kurang seimbang. Sebut saja ketika muatan bahasa Indonesia bergandengan dengan muatan IPA. Biasanya bahan ajar yang cenderung disajikan adalah bahan ajar IPA kemudian agak mengesampingkan muatan bahasa Indonesia. Misalnya pada muatan IPA mengajarkan mengenai hewan ruminansia kemudian bahasa Indonesia mengusung materi iklan. Di sini kadang kala dijumpai penekanan bahan ajar hanya berfokus pada materi IPA yang dianggap lebih kompleks. Selengkapnya.....

 

Senin, 12 Juni 2023

Problematika Media Pembelajaran



Media pembelajaran juga tidak kalah penting dalam memberikan sumbangsih untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Apalagi untuk siswa sekolah dasar yang masih pada tahap operasional konkrit, media sangat bermanfaat bagi mereka untuk menerjemahkan hal abstrak menjadi hal lebih konkrit. Media pembelajaran memiliki berfungsi sebagai alat bantu mengajar yang ikut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru (Azhar, 2010). Adanya media pembelajaran diharapkan mampu membangkitkan rangsangan pada semua indera. Rangsangan yang diterima oleh alat indra akan memberikan pengaruh untuk ingatan seseorang. Semakin banyak alat indera yang terlibat atau berinteraksi dengan media pembelajaran makan kemampuan otak untuk mengingat dan mengolah informasi akan lebih maksimal. Penggunaan media pada pembelajaran diharapkan akan mempermudah siswa dalam menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah sasar. Akan tetapi selama ini penyediaan media pembelajaran masih menjadi problematika. Media pembelajaran merupakan sarana yang dipergunakan atau dimanfaatkan agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, memperlancar dan mempermudah penyampaian informasi ke arah tujuan yang telah direncanakan. Sebelum guru memanfaatkan media pembelajaran di kelas,sebaiknya guru harus membekali diri dulu dengan dengan pengetahun tentang media pembelajaran. Pengetahuan ini dibutuhkan karena banyak guru yang tidak memahami ikhwal media pembelajaran baik teori, pemanfaatan, pemilihan, maupun pengembangannya. Manfaat dari setiap media pembelajaran bergantung pada kemampuan guru dan siswa untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan pesan-pesan yang terkandung dalam media pembelajaran yang didayagunakan. Sudah banyak studi yang mengungkapkan bahwa pemanfaatan media pembelajaran berdampak pada terwujudnya iklim positif dalam pembelajaran (Marisa, 2010). 

Penggunaan media pembelajaran mampu memberikan gambaran kongkrit pada siswa. Bagi siswa, seringkali materi yang bersifat terlalu abstrak membuat mereka bingung. Disinilah peran media pembelajaran mampu digunakan untuk mengubah konsep abstrak menjadi kongrit. Jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia SD pada materi ide pokok dan kalimat utama, guru bisa menghadirkan media berupa peta pikiran atau multimedia interaktif. Kehadiran media di tengah-tengah pembelajaran akan memotivasi siswa dan ikut terlibat dalam pembelajaran. Akibatnya mereka akan lebih mudah dalam menguasai materi. Ironisnya, penggunaan media ke dalam pembelajaran kurang mendapatkan perhatian dari guru. Guru merasa admistrasi pembelajaran sangat membebani mereka. Begitu juga ketika harus mengembangkan media pembelajaran yang harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Apalagi jika mereka harus membuat media pembelajaran yang sesuai dan mendukung pembelajaran. Kondisi tersebut memberikan beberapa indikasi adanya kurang kreatifnya guru-guru di sekolah dalam mempersiapkan media pembelajaran. 

Media pembelajaran bahasa Indonesia yang digunakan selama ini masih terbilang sederhana yakni gambar, foto, video yang diambil dari YouTube. Kondisi ini memperlihatkan kurang kreatifnya guru sekolah dasar. Sebenarnya jika guru memiliki jiwa inovatif dan kreatif bisa mengembangkan media pembelajaran sendiri. Pada era Abad 21 ini, sumberinformasi mengenai pengembangan media tidak hanya didapatkan dari satu sumber. Guru sebenarnya bisa melakukan pengembangan diri melalui pelatihan-pelatihan yang diinisiasi pemerintah, perguruan tinggi atau bahkan mereka bisa belajar dari YouTube yang menyediakan berbagai video cara mengembangkan media dari mulai media sederhana maupun media yang berbasis digital. Permasalahan yang lain, kadang kala guru sudah membuat media pembelajaran bermuatan bahasa Indonesia akan tetapi kurang sesuai dengan materi pembelajaran. Padahal pemanfaatan media pembelajaran seharusnya memperhatikan materi yang akan diajarkan serta karakteristik siswa. Selain itu, guru juga perlu memiliki keterampilan memilih dan menggunakan media tersebut dengan baik tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang media saja (Hamalik, 2011).

Keterampilan memilih media pembelajaran penting dilakukan karena kelas yang dimiliki guru adalah kelas yang beragam. Beragam karakteristik, gaya belajar, minat, kemampuan kognitif, dll. Tentu sebagai guru yang bijaksana dan profesional harus mampu memfasilitasi mereka dengan baik. Salah satu pertimbangan guru dalam memilih media pembelajaran yang akan digunakan adalah keberagaman yag dimiliki siswa. Tujuannya agar semua karakteristik guru bisa terfasilitasi dengan baik. Begitu juga jika guru ingin menciptakan pembelajaran aktif, kreatif agar efektif serta menyenangkan, guru tidak dapat melepaskan diri dari media pembelajaran. Baik dalam pembelajaran yang sederhana maupun pembelajaran yang menggunakan digital. Jika dalam pembelajaran terjadi kesalahan dalam pemilihan media pembelajaran akan menyebabkan terganggunya pencapaian tujuan pembelajaran. Saat ini media yang dapat digunakan pun tidak terbatas pada media-media sederhana. Pada Abad 21, perkembangan teknologi juga merambah pada dunia pembelajaran. Namun problematika yang selama ini terjadi adalah beberapa guru kurang mampu menggunakan teknologi. Akibatnya pemanfaatan media berbasis digital ke dalam kelas kurang maksimal. Kejadian ini sangat dirasakan saat pembelajaran daring karena adanya pandemi Covid-19 beberapa waktu yang lalu. Kekurangterampilan guru dalam pemanfaatan teknologi memberikan dampak pada kurang maksimalnya pembelajaran daring (Ariesca et al., 2021). Selengkapnya.....
 

Minggu, 11 Juni 2023

Problematika Strategi Pembelajaran



Fenomena pembelajaran Bahasa Indonesia yang terjadi saat ini masih sama dengan apa yang terjadi pada Abad ke-20 seperti yang disampaikan (Freire, 1968) dengan pendidikan ala bank. Di mana peran guru sangat mendominasi. Di era Abad 21 ini pun masih menunjukkan hal yang sama bahwa sebagian besar guru masih cenderung bergaya dogmatis, otoriter, dan hanya memperlakukan siswa sebagai penerima informasi tanpa adanya dialog dan interaksi. Hal ini akan membuat pembelajaran menjadi teacher centre. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang menggunakan pendekatan teacher centre akan cenderung mematikan daya kreatif siswa. Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia untuk membekali siswa keterampilan berkomunikasi menjadi sulit tercapai. Selengkapnya

 

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...