Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Desember 2023

Pembelajaran Bahasa Indonesia Terpadu di SD

Pengalaman siswa sebelum memasuki bangku sekolah jenjang SD, memandang dan mempelajari segala peristiwa yang di alami dan terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai suatu kesatuan yang utuh (holistik). Alasan inilah yang menjadi salah satu dari penyebab pembelajaran di jenjang SD harus dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan karakteristik siswa sebagai pembelajar yang akan menghayati pengalaman belajar sebagai satu kesatuan yang utuh. 

Pengemasan pembelajaran terpadu harus di susun secara tepat, karena akan berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman belajar siswa, yang menunjukkann kaitan unsur-unsur konseptual dalam mata pelajaran dan antar mata pelajaran bagi terjadinya pembelajaran lebih bermakna. Pembelajaran yang dilaksanakan secara terpadu merupakan suatu pendekatan dalam belajar dan cara berpikir, yang memandang beragam mata pelajaran sebagai suatu kesatuan. 

Khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia dipandang sebagai bagian integral dalam belajar mata pelajaran lainnya. Mata pelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD tidak dipelajari sebagai mata pelajaran yang terpisah, melainkan dipelajari secara terpadu dalam mempelajari mata pelajaran lainnya. Aspek-aspek keterampilan berbahasa dikembangkan secara langsung atau dipadukan melalui kegiatan belajar semua mata pelajaran lainnya. Agar terjadi keterpaduan antara mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lainnya, maka digunakanlah pendekatan pembelajaran terpadu, untuk memberikan makna belajar bagi siswa. 

Pembelajaran terpadu merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, berorientasi pada praktik pembelajaran sesuai dengan kebutuhan anak untuk membangun konsep yang saling berkaitan. Sehingga pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami berbagai permasalahan di lingkungannya secara utuh, dengan kemampuannya dalam mengidentifikasi, mengumpulkan, menilai, dan menggunakan informasi di sekitarnya secara bermakna. 

Pengetahuan diperoleh siswa tidak hanya melalui pemberian pengetahuan baru oleh guru, tetapi pengetahuan bisa juga diperoleh siswa melalui kesempatan memantapkan dan menerapkan pengetahuan lama dalam berbagai situasi baru yang beragam. Ada dua keterpaduan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu: 1. Keterpaduan intra mata pelajaran, yaitu keterpaduan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia sendiri. Keterpaduan ini dilaksanakan dengan mengembangkan aspek keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak dalam satu tema. 2. Keterpaduan antar mata pelajaran, yaitu keterpaduan mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lain. 

Siswa menggunakan aspek keterampilan bahasa untuk memberikan informasi, memberi tanggapan, memecahkan masalah, dan untuk mencapai kemampuan lainnya. Pembelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD harus dilaksanakan secara terpadu antara ke empat aspek keterampilan berbahasa (aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), dan aspek kebahasaan/sastra. 

Contohnya pembelajaran struktur kalimat dipadukan dengan wacana, yang dilakukan dengan mengarahkan siswa untuk memahami struktur kalimat bahasa Indonesia dengan menemukan sendiri dalam wacana yang ditentukan oleh guru. Dalam melatih keterampilan berbahasa, guru dapat memilih untuk memfokuskan salah satu dari empat aspek keterampilan bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa Indonesia juga dapat dipadukan dengan mata pelajaran lainnya yang berkaitan dengan kehidupan dan kebutuhan nyata siswa, sehingga pembelajaran menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Jumat, 23 Juni 2023

Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra dalam Praktik Kelas, Desain Kurikulum, dan Pendidikan Guru

Pembelajaran bahasa dan sastra anak telah banyak muncul di lakukan penyelidikan dua dekade terakhir. Seperti yang dijelaskan oleh Harris dan Grenfell, strategi pembelajaran adalah keterampilan, taktik, dan pendekatan yang diambil dari pembelajaran bahasa (Harris, V., & Grenfell, 2014). Pengajaran bahasa dan sastra di jenjang sekolah dasar diwajibkan ini terjadi disebagian besar negara uni Eropa (European Commission, 2008); (European Commission, 2008). Bahasa dasar wajib dengan kurikulum nasional pada sekolah dasar (QCDA, n.d.), tetapi langkah ini baru-baru diterapkan oleh pemerintah. Hasil dari penelitian pembelajaran bahasa dasar menyebutkan bahwa dapat meningkatkan harga diri dari anakanak tersebut, meningkatkan motivasi dan antusias para pelajar untuk mengikuti pembelajaran bahasa dan berkontribusi pada perkembangan sikap yang positif terhadap kebudayaan lain (Blondin, C., M. Candelier, P. Edelenbos, R. Johnstone, A. Kubanek-German & Taeschner, 1998); (Kubanek-German, 1998); (Naysmith, 1999); (Pufahl, I., N. Rhodes, 2000). Para peneliti yang mendalami tentang bilingualisme sudah menyebutkan bahwa peningkatan kesadaran metalinguistik dan metakognitif sebagai keuntungan tambahan (Baker, 2006); (Cummins, 1976); (Hamers, J.F., 1989). Kesadaran atas metakognitif mendorong pengembangan strategi pembelajaran bahasa dan sastra, pada akhirnya potensi untuk meningkatkan kemampuan, pengaturan diri dan pembelajaran secara mandiri. Meskipun strategi pembelajaran memainkan peran yang sangat penting dalam pembelajaran, instruksi dari strategi sendiri bukan merupakan fitur yang umum dari pengajaran di kelas (Beckman, 2002). Lebih lanjut kurikulum mengusulkan strategi sebagai salah satu bagiannya. Banyak instruksi strategi untuk pelajar muda dan dewasa. Banyak peneliti yang menjelaskan bahwasanya strategi pada anak-anak yang lebih muda dimulai dari aktivitas yang bersifat spesifik seperti tugas yang nantinya berkembang menjadi keterampilan yang lebih kompleks dan fleksibel dan dapat digeneralisasikan (Brown, A.L., J.D. Bransford, R.A. Ferrara, 1983).


Praktik dan Strategi 

Untuk mengukur output siswa, guru menggunakan suatu pendekatan dalam pengajaran bahasa dan sastra. Selain hal itu, mulai keterkaitan program, guru akan menyampaikan pengajaran secara pragmatis kepada siswa yang mengarah pada output yang lebih produktif. Program pengajaran yang dapat digunakan untuk menggabungkan penggunaan pengajaran bahasa dan sastra yaitu program pengajaran bilingual dan multibahasa yang digunakan di ruang kelas (Adrian Abarquez, 2021). Penggunaan bilingual dan multilingualisme dalam pengajaran bahasa dan sastra, yang mana bilingual fokus pada bahasa pertama dan kedua yang telah peserta didik pelajari di ruang kelas. Sedangkan multilingualisme, satu bahasa tambahan disebutkan, termasuk bahasa ibu. Pendekatan semacam ini dapat digunakan untuk menghilangkan stres para siswa atas pemerolehan bahasa target. OBE (Outcomes-Based Education) merupakan program dari Departemen Pendidikan, dimana program ini memungkinkan para siswa untuk menggali hasil yang lebih realistis berdasarkan pengetahuan tentang topik yang diajarkan oleh guru. Keefektifan pelaksanaan OBE sangat bergantung pada pendidik. Dikarenakan kesadaran kompetitif dan pengetahuan OBE sangat penting. Menurut Kilen, OBE dapat memberikan kontribusi pada prestasi belajarsiswa dikarenakan memotivasi instruktur untuk dapat mempersiapkan dirisecara maksimal (Killen, 2000). Menurut Ramoroko, karakteristik dari guru yang menggunakan OBE dengan cara yang memungkinkan mereka untuk menunjukkan kontrol atas proses dan pendekatan tersebut (Ramoroka, 2017). Pendekatan tersebut berusaha untuk menciptakan aktivitasinteraktif antara seorang guru dan siswa melalui alat atau media yang dipilih oleh instruktur. Seorang guru dapat melakukan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai kegiatan dan materi yang telah dihasilkannya. Selanjutnya salah satu metode pelaksanaan pembelajaran komunikatif adalah melalui penggunaan media. Menurut Lynch, media dapat memaksimalkan jumlah partisipasi dalam pendidikan. Artinya, penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar dapat sangat membantu seorang guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang komunikatif dan efektif (Lynch, 2008). Menurut Furnhan dkk,siswa merasa lebih terlibat dan berhasil secara akademis menggunakan media. Penggunaan media di dalam kelas diperkirakan akan memudahkan seorang guru dalam menyampaikan perintah dan informasi pembelajaran kepada siswanya (Furnham, A., & Chamorro-Premuzic, 2005). Verner menyebutkan dalam mengajar sastra, selalu saja dimulai dari mana siswa berasal. Memicu minat siswa yang melibatkan mereka. Guru memberikan bahan bacaan kepada murid-muridnya untuk dapat mempersiapkan kegiatan di kelas berikutnya, yang artinya guru mengajar pembelajaran misalkan dongeng, lagu, buku komik, dan materi yang menarik lainnya untuk dibaca siswa (Verner, 2008). Guru juga dapat menggunakan majalah, surat, buku harian, dan jurnal yang terbaru di kelas membaca. Setelah peserta didik merasa nyaman dengan materi yang diberikan oleh guru, mereka dapat melanjutkan ke tugas menulis proses ini tidak perlu terlalu cepat. Disarankan kepada siswa untuk dapat megerjakan tugas secara perlahan sampai mereka mengembangkan semangat dan kepercayaan diri untuk berpartisipasi secara aktif. Verner juga percaya bahwa guru juga harus menjelaskan tujuan dari pembelajaran dengan pemilihan dan materi yang disertakan (Verner, 2008). Tidak semua siswa akan menghargai atau memahami mengapa pembelajaran sastra diajarkan di kelas. Namun, orang yang berbeda memiliki alasan subjektif mereka sendiri untuk mempelajari atau membaca sastra. Beberapa pembaca menggunakannya sebagai alat untuk komunikasi. Beberapa mungkin membaca untuk mendapatkan informasi, sementara yang lain membaca untuk hiburan. Ini karena penulis percaya bahwa orang beragam dalam banyak aspek Widdowson menjelaskan bahwa teks sastra bersifat unik karena dalam karya sastra apa dan bagaimana suatu tekstidak dapat dipisahkan. Orang-orang mengomunikasikan pikiran, perasaan, dan aspirasi mereka melalui apa yang mereka tulis dan baca (Widdowson, 1975). Pembaca dapat berkomunikasi (dengan cara) dengan pemikiran penulis melalui proses membaca. Dia lebih jauh menggarisbawahi bahwa memahami bagaimana sastra berkomunikasi melibatkan pemahaman tentang apa dan bagaimana. Hal ini menunjukkan bahwa teks sastra tidak dapat dengan mudah diparafrasekan dan tidak ada interpretasi tunggal terhadap isinya. Widdowson berpendapat bahwa dalam mengajar sastra, sangat penting bagi siswa untuk memahami bagaimana pilihan mengomunikasikan pikiran atau pesan dan harus mencoba untuk berhubungan dengan konten (Widdowson, 1975). Apresiasi sastra dapat terjadi ketika peserta didik memahami teks yang dibacanya. Rosenblatt sebagaimana dikutip dalam Celce-Murcia, 2014) mendefinisikan teks sastra melalui pembaca yang berinteraksi dan menafsirkannya. Dia berpendapat bahwa cara umum untuk membedakan karya sastra adalah melalui pemeriksaan teks(Celce-Murcia, M., Brinton, D. M., & Snow, 2014). Kramsch di sisi lain, menunjukkan bahwa bentuk gramatikal memainkan peran penting dalam bagaimana pembaca memahami dan berinteraksi dengan teks sastra (Kramsch, 2014). Ia menambahkan, seorang pembaca memiliki beragam pilihan untuk menyampaikan sebuah pesan. Pilihan bentuk gramatikal memungkinkan penulis dan audiens untuk mendefinisikan informasi lama dan baru berdasarkan konteks dan situasi yang mereka rasakan. Demikian pula, Carter percaya bahwa pendekatan berbasis bahasa untuk mengajar sastra berpusat pada peserta didik, berbasis aktivitas, dan berorientasi pada proses (Carter, 1996). Dia menyatakan bahwa tugas-tugas kelas sangat berharga dan membantu mereka dapat merangsang pelajar untuk menafsirkan teks dengan melibatkan mereka dalam proses pembuatan makna. CelceMurcia menghubungkan dan menggarisbawahi pentingnya penokohan dalam pengajaran teks sastra dengan mendefinisikannya sebagai proses menilai karakter berdasarkan apa yang mereka katakan dan lakukan (Celce-Murcia, M., Brinton, D. M., & Snow, 2014). Hal ini juga melibatkan bagaimana penulis teks menggambarkan karakter. Mempertimbangkan hal ini, untuk memicu partisipasi siswa, guru dapat memulai dengan meminta mereka untuk menggambarkan karakter menggunakan kata sifat. Mereka juga dapat mengumpulkan gambar yang menggambarkan tindakan dan gambar karakter.


Desain Kurikulum dan Pendidikan Guru 

Pengembangan kurikulum berkaitan erat dengan pendidikan guru dan penggunaan sumber daya. Beberapa penelitian telah menyoroti kekurangan kurikulum sekolah dasar, karena fakta bahwa mereka terlalu menekankan pentingnya menghapal dan meniru (Murphy, V. A. &Evangelou, 2016). Tren tantangan lain yang khas Asia, adalah kenyataan bahwa beberapa kurikulum dipandu oleh pasar, sementara yang lain tidak terkait erat dengan kebijakan pendidikan (Shing, 2016). Kurikulum hendaknya menyediakan waktu yang cukup untuk kegiatan dan tugas yang berbeda, tidak menyerahkan alokasi waktu hanya kepada guru (Evangelou, M., Sylva, K., Kyrlacou, M., Wild, M. & Glenny, 2009). Selain itu, kurikulum PAUD-SD harus membantu anak-anak membuat hubungan antara pembelajaran bahasa dan dunia anak-anak prasekolah sampai di bangku sekolah dasaritu sendiri untuk meningkatkan efektivitas program. Selengkapnya.....

Jumat, 09 Juni 2023

Problematika Guru



Guru sebagai seseorang yang memegang kunci dalam keberhasilan dalam pembelajaran. Peran guru yang sangat penting ini tidak terlepas dari berbagai problematika. Guru masih kurang memiliki sikap profesional dalam melakukan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.

Selanjutnya, problematika mengenai pengembangan diri juga menjadi salah satu permasalahan kualitas guru. Banyak guru di lapangan yang enggan mengembangkan diri mereka dan terlalu nyaman dengan sistem pembelajaran yang selama bertahun-tahun ini dilakukan. Walaupun siswa yang mereka hadapi berganti, tahunnya juga berganti namun guru masih nyaman dengan pembelajaran yang dilakukan selama berpuluh-puluh tahun. Pengetahuan terhadap materi bahasa Indonesia yang diajarkan masih jauh dari yang diharapkan. Hal ini mengakibatkan kurang tercapainya tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang difungsikan untuk membekali siswa agar terampil berkomunikasi.

Kegiatan berburu informasi melalui jurnal, pelatihan, forum ilmiah jarang dilakukan oleh guru. Akibatnya, mereka mengalami ‘kemandegan’ dalam berinovasi. Tentu saja ini akan memberikan dampak bagi terciptanya pembelajaran Bahasa Indonesia yang menarik dan bermakna. Guru juga masih segan dalam kegiatan menulis. Entah menulis ilmiah atau artikel populer. Padahal pada pembelajaran Bahasa Indonesia ada keterampilan tentang menulis. Sebenarnya sebelum mengajarkan bagaimana menulis yang baik dan benar, guru bisa mempraktikkannya terlebih dahulu. Ketika guru bisa memberikan contoh pada siswanya, maka guru akan lebih mudah mengetahui kesulitan siswa. Karena guru mengalamisendiri bagaimana proses menulis, membaca, menyimak, atau berbicara sebagai sebuah keterampilan berbahasa.

Berkaitan dengan teknologi, di era Abad 21 ini, beberapa guru juga masih belum mengaplikasikan teknologi ke dalam pembelajaran. Alasannya adalah karena mereka merasa gagap dengan teknologi. Apalagi guru-guru senior yang lahir pada tahun 1970 ke atas, merasa sangat ketakutan dengan teknologi. Sebenarnya kehadiran teknologi akan memudahkan guru dalam memfasilitasi pembelajaran Bahasa Indonesia. Misalnya penggunaan multimedia, video dari youtube, gamifikasi tentu akan menambah motivasi dan antusias siswa dalam belajar. 

Problematika selanjutnya adalah permasalahan mengenai waktu. Kurangnya waktu dalam meningkatkan kapasitas ilmu juga menjadi sebuah kendala tersendiri (Puspidalia, 2012). Dalam keseharian, guru senantiasa melaksanakan rutinitasnya. Datang ke sekolah, menyampaikan materi, dan pulang. Guru-guru di lapangan mengaku bahwa selama mereka mengajar, banyak waktu yang digunakan untuk melakukan pembelajaran di kelas. Hal ini membuat mereka kehabisan waktu dalam meng-upgrade pengetahuan terkini. Selain itu, kurangnya waktu juga memberikan dampak pada penyusunan administrasi pembelajaran seperti RPP. Sebenarnya pemerintah sudah mengupayakan dalam meringankan beban administrasi guru, namun ternyata masih ada juga guru yang tidak pernah membuat RPP ketika akan mengajar. Selengkapnya...

 

Kamis, 08 Juni 2023

Mutu pembelajaran bahasa Indonesia



standar mutu pembelajaran bahasa Indonesia yang baik maka perlu memperhatikan komponen berikut:

1. Guru 
Guru merupakan kunci utama dalam sebuah pembelajaran. Rancangan pembelajaran ditentukan oleh guru. Dari sini, guru lah yang akan menentukan desain pembelajaran hingga mencapai tujuan yang diharapkan. Apalagi di era globalisasi seperti saat ini, sangat diperlukan guru yang kreatif dan inovatif. Mau tidak mau guru harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Termasuk bagaimana guru mampu memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran sehingga sesuai dengan pembelajaran abad 21. Pemerintah sendiri telah menetapkan empat kompetensi yang harus dimiliki guru yakni: kompetensi profesional, pedagogis, sosial, dan kepribadian. Masing-masing guru berbeda mengalami pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan yang berbeda. Termasuk pengusaan empat kompetensi guru tersebut. Dalam rangka mencapai pembelajaran yang merdeka dan inovatif pemerintah memiliki program guru penggerak. Guru penggerak diharapkan mampu membawa perubahan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik (Satriawan et al., 2021). Harapannya para guru penggerak ini mampu memberikan pengaruh positif untuk rekan-rekannya di lapangan terutama dalam memberikan pembelajaran yang bermakna pada siswa (Sibagariang et al., 2021). Adanya program guru penggerak merupakan salah satu terobosan pemerintah dalam mewujudkan merdeka belajar. Selain kurikulum yang berubah, pemerintah berupaya mengubah kunci pembelajaran yakni guru melalui program tersebut. 

 2. Siswa 
Siswa adalah subjek yang akan menerima pembelajaran. Siswa yang ada di kelas dan akan dihadapi guru adalah siswa yang memiliki latar belakang dan kemampuan berbeda-beda. Dalam kurikulum merdeka belajar, kodrati manusia ini difasilitasi dengan pembelajaran berdiferensiasi. Sebelum pembelajaran, siswa akan melakukan tes diagnostik. Harapannya dengan adanya tes diagnostik, guru bisa memetakan kemampuan dan pengetahuan siswa. Keberagaman siswa juga perlu menjadi pertimbangan guru dalam menentukan media, bahan ajar, dan strategi pembelajaran. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, guru juga perlu memperhatikan perkembangan siswa. Baik itu dalam hal keberagaman yang dimiliki masing-masing individu yang memang tidak ada yang sama serta tingkat perkembangan siswa. Begitu juga dalam perkembangan bahasa dan perkembangan kognitif. Bagaimana siswa mengusai keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis juga tidak boleh luput dari pengamatan guru. Hal ini akan membantu guru dalam menentukan langkah pembelajaran selanjutnya. Pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki tujuan untuk memberikan bekal keterampilan komunikasi pada siswa sehingga guru perlu memperhatikan penguasaan dan perkembangan keterampilan berbahasa tersebut.

3. Bahan Ajar/Materi Ajar
Bahan ajar adalah materi yang akan disampaikan kepada siswa. Pemilihan bahan ajar sangat menentukan pada keberhasilan pembelajaran. Saat ini bahan ajar tidak hanya berasal dari buku teks. Guru dapat mengembangkan bahan ajar sendiri disesuaikan dengan konteks, karakteristik, dan lingkungan siswa berasa. Pemberian bahan ajar yang kontekstual akan membantu siswa dalam menguasai materi yang mereka pelajari (Suryaman, 2015) acompetency to be developed is related to how to guide them so that theyare motivated to learn through the lesson book. A basic principle to be paidattention to is thatstudents are able to build up experiences in language and literaryactivities on the basis of their initial experience.The study indicates the following results. First, a lesson book is ahandbook for students at a level of formal education and used as an instructionalmedium related to a certain subject matter (such as Bahasa Indonesia. Misalnya saja bahan ajar mengenai cerita rakyat, pilihlah cerita rakyat yang memang berasal dari lingkungan siswa. Jika bahan ajar yang diberikan kurang sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa, biasanya akan memberikan dampak pada pencapaian tujuan pembelajaran

4. Strategi Pembelajaran
Di dalam teori pembelajaran, ada banyak pilihan mengenai strategi pembelajaran. Penggunaan strategi pembelajaran sangat diperlukan Ada berbagai strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Namun guru perlu jeli dalam memilih strategi pembelajaran yang akan digunakan. Kekurangtepatan dalam memilih strategi pembelajaran akan membuat tujuan pembelajan sulit tercapai. 

5. Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan salah satu alat bantu dalam menyampaikan informasi atau pesan kepada siswa. Peran media ini sangatlah penting karena dalam pembelajaran bahasa Indonesia, ada banyak materi yang tidak cukup disajikan secara langsung. Hadirnya media pembelajaran dalam sebuah kelas akan memberikan motivasi dan menambah antusiasme siswa dalam belajar. Selengkapnya...

 

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...