Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Sastra Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Sastra Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Desember 2023

Apresiasi Karya Sastra Anak

Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Sehingga apresiasi karya sastra anak dapat diartikan sebagai sikap menghargai karya sastra yang telah dihasilkan anak. Apresiasi sastra terbagi menjadi dua jenis, yaitu apresiasi sastra reseptif dan apresiasi sastra ekspresif. Apresiasi sastra anak secara reseptif yaitu penghargaan, penilaian, dan penghayatan terhadap karya sastra anak-anak, baik yang berbentuk puisi, prosa, maupun drama yang dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengarkan, dan menyaksikan pementasan drama. 

Pada tahap apresiasi ini, kemampuan pembaca karya sastra berada pada tahap membaca karya sastra, menyerap, dan menggali makna yang disampaikan pada karya sastra. Umunya, siswa pada tahap apresiasi sastra secara reseptif belum dapat menghasilkan produk dalam kegiatan apresiasi kecuali ungkapan rasa menghargai dan takjub melalui kata-kata. Apresiasi sastra ekspresif/produktif merupakan kegiatan mengapresiasi karya sastra yang menekankan pada proses kreatif dan penciptaan. Apresiasi sastra secara ekspresif/produktif tidak mungkin terwujud tanpa diberikan pengajaran menulis, khususnya menulis kreatif di sekolah dasar (Isova dan Hartati, 2016). 

Dalam kegiatan bersastra secara ekspresif/produktif, metode yang sesuai untuk digunakan dalam mengapresiasi sastra adalah metode produktif. Metode ini diarahkan pada aktivitas berbicara dan menulis. Siswa harus banyak berbicara atau menulis untuk menuangkan gagasan-gagasannya. Kegiatan apresiasi sastra yang diterapkan guru akan membentuk kompetensi apresiasi karya sastra pada diri anak. Kompetensi yang dimaksud yaitu: kemampuan anak menikmati dan menghargai karya sastra yang dihasilkannya sendiri maupun dihasilkan oleh orang lain. Dalam hal ini, siswa diajak untuk melakukan literasi berupa membaca, memahami, menganalisis, dan menikmati karya sastra secara langsung. Siswa tidak harus menghafal sastra dari judul, sinopsis dan ataupun menghafal kalimat demi kalimat dari sastra, akan tetapi siswa diminta untuk langsung berhadapan dengan karya sastranya. (Siswanto, 2008) 

Kegiatan apresiasi karya sastra akan membentuk pengalaman pada diri anak terkait karya sastra, dan aka menimbulkan perubahan serta penguatan tingkah laku akan pentingnya saling menghargai dan indahnya karya sastra. 23 Hal tersebut disebabkan oleh ketika anak mengapresiasi karya sastra maka ia akan melakukan berbagai kegiatan seperti: memaknai, memperhatikan, meminati, bersikap, membiasakan diri, dan menerampilkan diri berkenaan dengan sastra sehingga bukan hanya kognitif anak yang terkonstruksi tetapi juga keterampilan dan sikap mereka. 

Susanti (2015) mengklasifikasikan kegiatan apresiasi sastra berdasarkan tujuan apresiasi ke dalam tiga bagian berikut: (1) ketepatan apresiasi, yaitu menimbulkan kepekaan psikis, mendengarkan, membaca sendiri, membaca bersama, intpretasi auditif-musikal dan visual, memantaskan, mengundang pelaku seni, memahami serta melatih ketrampilan mempergunakan pengertian teknis; (2) kedalaman apresiasi, yaitu dalam hal ini guru berupaya agar siswa mengalami proses kegiatan intelektual, emosional, dan imajinatif yang seimbang dengan proses yang pernah dialami oleh pengarang (sastrawan) dalam menciptakan karyanya; dan (3) keluasan apresiasi; guru mendorong dan mengarahkan perhatian pada hubungan antara sastra dengan kehidupan dengan segala masalahnya. Para siswa juga harus menggunkan pengetahuan lain. Dari kegiatan ini diharapkan siswa akan peka terhadap nilai ekstrinsik dan menyadari kedudukan sastra di dalam lembaga masyarakat. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Senin, 25 Desember 2023

Pemilihan Sastra untuk Anak

Pada subab sebelumnya telah dibahas manfaat sastra pada diri anak. Manfaat tersebut dapat dicapai dengan maksimal jika guru merencanakan dan melakukan proses pembelajaran dengan optimal. Hal dasar yang perlu dilakukan guru ketika akan membelajaran sastra pada anak yaitu dengan memilih kriteria sastra yang sesuai dengan tahapan usia anak. Memaparkan bahwa terdapat lima kriteria pemilihan sastra anak, yakni:

1. Kata-kata (diksi) 

Di dalam karya sastra terdapat amanat atau pesan yang ingin disampaikan pada pembaca (anak). Anak usia sekolah dasar mempunyai kemampuan bahasa yang masih sederhana. Oleh karena iu, pemilihan kata-kata (diksi) harus dilakukan oleh guru agar amanat di dalam sastra akan mudah dipahami anak. Disarankan kepada guru untuk memilih kata yang sederhana, tidak memberikan makna ganda atau ambigu, serta memberikan cerita yang relate atau berkaitan dengan kehidupan anak. 

2. Susunan kalimat dan narasi 

Kalimat terdiri dari deretan beberapa kata yang terstrukur dan mempunyai makna. Paragraf terdiri dari beberapa kalimat yang saling berhubungan dan menciptakan sebuah makna. Kalimat sebaiknya disusun dengan baik agar dapat memberikan makna. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menyusun kalimat yang cenderung pendek, menggunakan kata yang mudah dipahami, dan antar kalimat saling berkesinambungan. Pada susunan kalimat diharapkan agar sastra tidak menggunakan kalimat yang panjang sehingga siswa akan kebingungan mengambil makna ataupun pesan penting di dalam sastra tersebut. Penyusunan kalimat berkaitan dengan penyusunan narasi di dalam karya sastra. Narasi adalah gaya penceritaan. Sama halnya dengan penyusunan kalimat, pada narasi juga sebaiknya menggunakan alur yang pendek sehingga mudah bagi siswa untuk memahami narasi yang disampaikan. 

3. Plot Plot adalah alur cerita.

Pada sastra anak sebaiknya diterapkan cerita beralur progresif, karena pola pikir anak usia sekolah dasar masih bersifat linear. Berpikir linear adalah berpikir dengan pusat pada satu fokus. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menentukan plot cerita satu arah dari kegiatan lampau menuju kegiatan terkini, dan tidak dianjurkan untuk menggunakan cerita beralur flashback. 

4. Penokohan

Penokohan merupakan sarana yang paling mudah untuk memasukan sebuah ideologi ke dalam cerita karena melalui tokoh akan disampaikan nilai penting yang harus dipahami anak. Dengan memanfaatkan karakter tokoh yang menarik dan sederhana akan berdampak positif terhadap minat dan daya tarik anak terhadap sastra. Penokohan juga harus memanfaatkan plot cerita yang menggunakan rangkaian peristiwa sederhana, sehingga akan terbentuk kesatuan narasi cerita. 

5. Penutupan cerita dan solusi yang disampaikan 

Solusi cerita hampir sama dengan pengakhiran cerita. Pengakhiran cerita menekankan pada kesimpulan cerita, sedangkan solusi cerita berkompeten pada nasihat-nasihat untuk menanggapi kesimpulan cerita. Nasihat cerita adalah nilai kehidupan yang disampaikan penulis secara tersirat di dalam cerita atau karya sastranya. Guru diharapkan dapat memilih karya sastra yang mempunyai penutupan cerita dan solusi yang baik, sehingga anak akan mudah untuk mengambil amanat atau pesan yang mau disampaikan. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Karya Sastra

Menghasilkan karya sastra merupakan salah satu kegiatan yang mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS diwujudkan melalui kegiatan wajib membaca 15 menit setiap hari. Kemudian siswa diminta untuk menceritakan isi dan makna dari bahan yang ia baca, baik secara lisan maupun tulisan. Sehingga siswa tidak hanya membaca tetapi melek huruf dan memaknai semua teks yang ia baca. Siswa sekolah dasar pada umumnya lebih menyukai buku bergambar (picture book).

Rothkei dan Mainbach (dalam Krissandi dkk, 2018) membedakan buku bergambar ke dalam lima jenis, yaitu: buku abjad, buku mainan, buku konsep, buku bergambar tanpa kata, dan buku cerita bergambar. Dari lima jenis buku bergambar, siswa lebih menyukai buku cerita bergambar karena di dalamnya memuat teks tertulis yang berbentuk cerita, terdapat ilustrasi yang menggambarkan makna teks tertulis. Sehingga pembaca dari buku cerita bergambar akan berimajinasi terkait cerita yang disampaikan, dan bahkan terdapat anak yang akan menebak alur dan bagian akhir dari cerita sebelum mereka membaca hingga selesai.

Penggunaan buku cerita bergambar mendukung kegiatan apresiasi sastra pada diri anak, dan mengembangkan berbagai kompetensi bahasa seperti komunikasi lisan, proses berpikir kognitif, ungkapan perasaan melalui kata-kata dan ilustrasi cerita, serta meningkatkan kepekaan seni dan sastra pada diri anak. Setiap karya sastra mempunyai unsur atau struktur pembangun setiap jenis sastra. Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005) mengemukakan bahwa struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, seluruh bahan dan bagian yang menjadi komponen pembentuk sebuah keutuhan yang indah. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Senin, 18 Desember 2023

Konsep Sastra

Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yaitu shaastra, yang mempunyai arti teks mengandung instruksi atau pedoman. Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak melalui pandangan anak-anak. Saxby (1991:4) berpendapat bahwa sastra adalah citra kehidupan dan gambaran kehidupan (image of life). Sehingga pada sastra anak perlu digambarkan konteks anak-anak sesuai tahap perkembangannya. Pemahaman tentang tahap perkembangan anak sangat penting untuk memilih karya sastra yang sesuai.

Pilihan bacaan anak untuk usia sekolah dasar sangatlah melimpah. Sastra terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu: puisi, drama dan prosa. Sedangkan karya sastra anak terbagi menjadi tujuh jenis, yaitu: buku bergambar, fiksi realistik, fiksi sejarah, fiksi ilmu, cerita fantasi, biografi, dan puisi. Sastra termasuk ke dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Fokus tujuan dari mata pelajaran tersebut yaitu: kompetensi siswa dalam berbahasa (lisan maupun tertulis), dan sikap mengapresiasi sastra. Dengan demikian, pembelajaran sastra dan pembelajaran bahasa Indonesia dilakukan secara terintegrasi dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar.

Namun tujuan pengajaran sastra pada tingkat sekolah dasar yaitu: meningkatkan kemampuan siswa dalam menikmati, menghayati, memahami, dan menghargai karya sastra. Sehingga sastra yang dibahas hanya konsep umum atau sekadar pengetahuan pendukung kegiatan apresiasi sastra. Sastra memberikan banyak manfaat dalam kehidupan anak. Tarigan (2011) mengemukakan enam manfaat sastra, yaitu: 1. Memberikan kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan kepada anak-anak. 2. Mengembangkan imajinasi anak-anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan memikirkan alam, insan, pengalaman, atau gagasan dengan berbagai cara. 3. Memberikan pengalaman-pengalaman aneh yang seolah-olah dialami sendiri oleh para anak. 4. Mengembangkan wawasan para anak menjadi perilaku insani. 5. Menyajikan serta memperkenalkan kesemestaan pengalaman kepada para anak. 6. Merupakan sumber utama bagi penerusan warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dengan demikian, pembelajaran sastra tidak hanya membahas materi dan kompetensi di dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, tetapi memberikan pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan kehidupan anak. Dari enam manfaat membelajarkan sastra pada diri anak sekolah dasar akan membudayakan anak untuk membaca, mendukung literasi, meningkatkan perkembangan intelektual, memperhatikan psikologis anak sesuai usia tumbuh kembang anak, meningkatkan daya imajinasi anak, dapat mengenalkan budaya, dan bahkan dapat membina karakter pada diri anak. Selengkapnya dapat diakses dengan link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate     DOI

Rabu, 12 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Sastra Anak

Pembelajaran sastra termasuk dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam implementasinya pembelajaran ini terintegrasi dengan empat keterampilan berbahasa. Sastra anak diartikan sebagai suatu karya seni imajinatif yang disampaikan melalui bahasa yang dapat dipahami oleh anak 6–13 tahun (Yarni & Kaban, 2015). Sastra anak didefinisikan sebagai karya sastra yang berisi terkait dunia yang akrab dengan anak-anak (Rambe & Widiyarti, 2018). Karya sastra ini berisikan nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai pedoman tingkah laku siswa. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka pembelajaran sastra anak dimaknai sebagai kegiatan pembelajaran berupa karya seni imajinatif tentang dunia akrab anak yang disampaikan melalui bahasa pada anak usia 6-13 tahun.

Sastra sangat penting sekali diajarkan pada siswa di sekolah. Hal ini dikarenakan pada sastra mengandung nilai pendidikan yang dapat mendukung pembentukan karakter siswa, mengajarkan berbagai keterampilan berbahasa, mengembangkan pengetahuan budaya; dan meningkatkan cipta dan rasa (Susanti, 2015). Banyak sekali manfaat yang didapat dari pembelajaran sastra sehingga guru perlu mengajarkannya agar siswa tertarik dengan sastra. Rambe &Widiyarti (2018) menambahkan sastra juga meningkatkan kreativitas dan imajinasi serta menghibursiswa. 

Sastra dapat membuat siswa merasa bahagia, tertarik membaca, senang menyimak cerita dan memperoleh kepuasan batin yang dapat mendorong kecerdasan emosinya. Pembelajaran sastra dapat diajarkan melalui beberapa bentuk sastra seperti puisi, prosa, dan drama. Guru dapat mengajarkan berbagai bentuk sastra sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan karakteristik siswa. Keberhasilan pembelajaran sastra dipengaruhi oleh pemilihan bahan materi yang akan dijarkan guru meliputi tingkat keterbacaan dan kesesuaian (Yarni & Kaban, 2015). 

Guru hendaknya memilih materi sastra yang mudah dibaca, dipahami, dan dinikmati siswa. Tingkat kesesuaian berkaitan dengan kesesuaian dengan usia siswa dan lingkungan sekitar siswa hidup. Selain itu, guru harus mempertimbangkan nilai pendidikan yang diajarkan pada sastra tersebut sehingga setelah membaca sastra diharapkan siswa dapat mengimplementasikan nilai pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Teknik yang dapat digunakan dalam mengimplementasikan pembelajaran prosa yakni mendengarkan cerita, membaca cerita, membuat ringkasan cerita, bertukar pengalaman, dan menganalisis cerita. Selengkapnya.....

Minggu, 18 Juni 2023

Perkembangan Sastra Anak

Sastra sering menjadi landasan budaya yang dapat menyatukan masyarakat dan mengikat mereka bersama dalam berbangsa. Yang terbaik, ia dapat menawarkan jembatan antara populasi asing dan bekerja untuk mendorong pemahaman antara kelompok yang berbeda dan kelas sosial. Aspek-aspek ini terutama benar dalam kaitannya dengan sastra anak-anak internasional, mengingat kesederhanaan bahasa dan pesannya serta potensi pengaruhnya terhadap pembaca yang mudah dipengaruhi. Pada dasarnya, sastra anak digunakan sebagai sumber pendidikan, dimaksudkan untuk menginisiasi anak ke dalam aklimatisasi sosial normatif.

Namun, pada saat yang sama, dapat digunakan sebagai alat untuk mengindoktrinasi anak-anak ke dalam hegemoni budaya, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa filosofi yang disponsori negara yang telah menggunakan strategi ini di masa lalu. Dalam tinjauannya tentang sastra anak-anak, sarjana Sheila Ray telah menyarankan bahwa pengembangan sastra anak-anak dalam suatu masyarakatsering mengikuti pola standar kemajuan. Ketika suatu budaya mencapai kedewasaan tertentu, penciptaan teks tertulis muncul sebagai aspek alami dari evolusi masyarakat. Anak-anak dalam budaya ini secara mandiri tertarik pada karya-karya terpilih yang memiliki daya tarik inti untuk kebutuhan mereka yang berbeda dan kemudian menyesuaikan cerita-cerita ini untuk diri mereka sendiri. Biasanya, buku-buku berorientasi dewasa yang paling mungkin menarik minat mereka adalah bentuk-bentuk dongeng dan sajak yang lebih sederhana.

Sementara hari ini kita mengasosiasikan dongeng hampir secara eksklusif dengan pembaca anak-anak, pada awalnya, mereka diciptakan lebih sebagai refleksi dari mitologi daerah yang diteruskan melalui tradisi lisan. Namun, karena materi pelajaran mereka sering beralih ke magis dan fantastis, mereka cenderung menjadi pasangan yang cocok untuk pikiran muda. Akibatnya, buku dongeng seperti Kinderund Hausmärchen (1812; Cerita Populer Jerman) oleh Brothers Grimm termasuk di antara rilis populer pertama untuk anak-anak di pasar penerbitan mana pun. Ketika suatu budaya mencapai kedewasaan tertentu, penciptaan teks tertulis muncul sebagai aspek alami dari evolusi masyarakat. Dalam tinjauannya tentang sastra anak-anak, sarjana Sheila Ray telah menyarankan bahwa pengembangan sastra anak-anak dalam suatu masyarakatsering mengikuti pola standar kemajuan.

Saat ini, sastra anak sedang mengalami evolusi baru yang ditandai menuju globalisasi, di mana karya sastra dapat melewati perbatasan dengan lebih mudah, saling mempengaruhi, dan menciptakan warisan budaya penyerbukan silang yang, untuk pertama kalinya, secara sah dapat dianggap sebagai sastra anak-anak yang benar-benar internasional. Selain itu, sifat sastra anak-anak yang lebih sederhana dalam hal bahasa yang lebih mendasar dan plot konseptual yang lebih mudah telah, dalam banyak kasus, membuatnya lebih dapat diterjemahkan daripada rekan-rekan dewasa mereka, seperti yang ditunjukkan oleh karya-karya awal yang populersecara internasional dan sering diterjemahkan seperti karya remaja Daniel Defoe. kisah petualangan Robinson Crusoe (1719) atau Jonathan Swift’s Perjalanan Gulliver (1726). Namun, sementara narasi tertentu telah dianggap lebih universal secara internasional berkat tema dan karakternya yang luas, karya sastra anak-anak lainnya jauh lebih spesifik secara ideologis, karena atmosfer geopolitik negara asalnya.

Pada abad kedua puluh, tujuan ideologis telah mendorong evolusi banyak literatur periode dan budaya karya anak-anak yang mendukung apartheid, komunisme, dan totalitarianisme telah menjadi beberapa contoh gelap dari manipulasi halus semacam ini. Di Afrika Selatan, misalnya, perkembangan sastra anak berada di garis bidik campuran paksa dari beberapa budaya seperti Afrikaners, India, Zulus, Khoisan, dan kelompok etnis lainnya. Buku anak-anak Afrika Selatan awal sering mendokumentasikan mitologi penduduk asli, namun, beberapa kritikus menuduh kompilasi ini tidak menarik baik dalam metodologi maupun tujuannya. 

Demikian pula, berbagai administrasi politik Cina komunis dan bekas Jerman Timur telah berusaha menggunakan sastra anak-anak sebagai sarana untuk memfasilitasi dan mengarahkan arahan propagandis. Pada tahun 1979 pemimpin partai China Deng Xiaoping mengeluarkan proklamasi bahwa semua sastra, termasuk sastra anak-anak, “harus menghidupkan kembali dan meneruskan tradisi revolusioner Partai dan rakyat kita, menumbuhkan moral dan kebiasaan yang baik, dan berkontribusi pada pembangunan peradaban sosialis dengan tingkat budaya dan ideologi yang tinggi. Era pembatasan ini ditandai dengan serangkaian buku yang menunjukkan anak-anak meninggalkan praktik “sesat” dari prakomunis Cina untuk merangkul ideologi yang lebih diterima yang dimaksudkan untuk memajukan nasionalisme dan singularitas pendapat. Dalam tiga puluh tahun terakhir, sastra anak-anak China telah mulai melihat beberapa pengaruh ideologisnya yang keras melunak karena kebijakan nasional yang dilonggarkan telah memungkinkan penerimaan yang lebih besar dari cerita masa lalu China. Dalam iklim yang lebih baru ini, buku-buku seperti 365 Ye Gushi (1986; Stories for 365 Nights) yang populer, yang diedit oleh Lu Bing, telah menjadi sangat populer, sebagaimana dibuktikan oleh perkiraan angka penjualannya sebesar 4,3 juta eksemplar. Sementara masih mempertahankan keyakinan bahwa standar kehidupan moral yang benar sangat penting untuk sastra anak-anak, intrik politik Cina yang nyata sebagian besar telah dihilangkan demi analog yang lebih abstrak. Secara khusus, Lu Bing, seorang ahli teori Marxis untuk pemerintah, menyatakan bahwa buku anak-anak “harus mendidik generasi baru untuk berkembang secara moral, intelektual dan fisik dan melatih kekuatan baru yang vital untuk empat modernisasi.

Pada periode baru ini, sastra anak-anak harus fokus pada Pendidikan ideologi dan moral komunis, pendidikan sains dan pendidikan demokrasi.” Namun, meskipun masih dikelola dengan hati-hati, sastra anak-anak pada periode pasca-Mao Tsedong sebenarnya menandai semacam kemajuan dari ideolog komunis sebelumnya yang sangat bergantung pada sensor terang-terangan serta kurangnya toleransi terhadap tujuan individualis dalam pengaruh mereka terhadap pikiran muda. Sastra normatif dalam era pembatasan ini ditandai dengan serangkaian buku yang menunjukkan anak-anak meninggalkan praktik “sesat” dari pra komunis Cina untuk merangkul ideologi yang lebih diterima yang dimaksudkan untuk memajukan nasionalisme dan singularitas pendapat. Dalam tiga puluh tahun terakhir,sastra anak-anak China telah mulai melihat beberapa pengaruh ideologisnya yang keras melunak karena kebijakan nasional yang dilonggarkan telah memungkinkan penerimaan yang lebih besar dari cerita masa lalu China. Dalam iklim yang lebih baru ini, buku-buku seperti 365 Ye Gushi (1986; Stories for 365 Nights) yang populer, yang diedit oleh Lu Bing, telah menjadi sangat populer, sebagaimana dibuktikan oleh perkiraan angka penjualannya sebesar 4,3 juta eksemplar. Sementara masih mempertahankan keyakinan bahwa standar kehidupan moral yang benarsangat penting untuk sastra anak-anak, intrik politik Cina yang nyata sebagian besar telah dihilangkan demi analog yang lebih abstrak. Secara khusus, Lu Bing, seorang ahli teori Marxis untuk pemerintah, menyatakan bahwa buku anak-anak “harus mendidik generasi baru untuk berkembang secara moral, intelektual dan fisik dan melatih kekuatan baru yang vital untuk empat modernisasi. Pada periode baru ini, sastra anak-anak harus fokus pada Pendidikan ideologi dan moral komunis, pendidikan sains dan pendidikan demokrasi.” Namun, meskipun masih dikelola dengan hati-hati, sastra anak-anak pada periode pasca-Mao Tsedong sebenarnya menandai semacam kemajuan dari ideolog komunis sebelumnya yang sangat bergantung pada sensor terang-terangan serta kurangnya toleransi terhadap tujuan individualis dalam pengaruh mereka terhadap pikiran muda.

Sastra normatif dalam Perkembangan sastra anak-anak di wilayah geografislain telah menawarkan beberapa manfaatsosial tambahan yang mengejutkan. Misalnya, beberapa bahasa yang terancam punah di Inggris telah dilestarikan melalui rilis teks remaja unik yang diterbitkan hanya dalam bahasa yang memudar ini,seperti buku bergambar berbahasa Manx karya Brian Stowell, Gaelg Trooid Jallooghyn: Manx through Pictures (1968). Irlandia juga telah mendorong penerbitan lebih banyak buku anak-anak berbahasa Gaelik secara bersama-sama upaya untuk memperkenalkan kembali bahasa asli kepada generasi pembaca baru. Robert Dunbar telah menyarankan bahwa kebangkitan sastra anak-anak berbahasa Irlandia ini telah menyebabkan “perkembangan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, di mana ia telah dikaitkan dengan diskusi politik, pendidikan, dan ideologis yang lebih luas tentang tempat bahasa Irlandia di Irlandia saat ini.” Lebih jauh, setidaknya dalam satu kasus, sastra anak-anak bahkan telah membantu dalam penciptaan bahasa baru. Orang-orang Hmong nomaden hampir unik dalam masyarakat kontemporer karena kurangnya bahasa tertulis. Tergusur dari tanah air mereka di Asia Tenggara, mereka baru-baru ini mendapat manfaat dari program yang memanfaatkan buku anak-anak yang ditulis dalam sistem penulisan yang baru didirikan untuk mengajari anggotanya cara membaca bahasa ibu mereka.

Untuk pertama kalinya, sastra anak akan menjadi fondasi sastra budaya, bukan produk sampingan. Kritikus seperti Rosie Webb Joels juga berpendapat bahwa sastra anak-anak memiliki potensi untuk mendorong internasionalisme dan pemahaman global melalui terjemahan karya-karya lintas budaya, sehingga memaparkan pembaca muda pada peristiwa dan kebiasaan di seluruh dunia, bahkan mungkin mempromosikan toleransi. Secara khusus, dia mengutip The Boys of St. Petri (1991) oleh penulis Denmark Bjarne Reuter dan ikon Het Achterhuis (1947; Diary of a Young Girl) oleh korban Holocaust Belanda Anne Frank sebagai contoh buku yang secara dramatis dapat mengubah persepsi anak di dunia. Tapi mungkin, yang paling penting, buku anak-anak internasional bertindak sebagai pintu gerbang, menawarkan pembaca kesempatan untuk membenamkan diri dalam kata-kata tertulis dari bahasa mereka sendiri. Dalam kata-kata Sheila Ray, “pada akhir abad kedua puluh, ada kepercayaan bahwa literasi sangat penting. Bahkan di masyarakat di mana teknologi informasi maju, keterampilan membaca yang baik sangat penting untuk memanfaatkannya, dan umumnya dianggap bahwa cara terbaik untuk memperoleh kefasihan adalah melalui latihan membaca; buku anak-anak dengan demikian merupakan kebutuhan.” Selengkapnya.....

Sabtu, 17 Juni 2023

Perkembangan Bahasa Anak

Penguasaan tentang bagaimana seorang anak akan belajar berbicara sangat unik dan membingungkan untuk dipahami oleh orang dewasa. Kemampuan mental juga tampak sangat berbeda dalam banyak hal, namun dia menguasai struktur bahasa ibunya sampai usia lima tahun. Jenis kata-kata yang digunakan anak tersebut dalam tahun pertama adalah mengenai objek, orang, dan tindakan (Merkel-Piccini, 2001). 

Anak-anak mungkin sering mengakatan “Ibu”, “Ayah”, “Minum”, “Makan” (ini kata-kata yang umum diucapkan). Anak-anak tidak hanya menirukan apa yang mereka dengar dan lihat yang ada disekitarnya. Ini semua menjadisebuah proses dari pembelajaran yang terlibat jauh dan banyak secara kompleks. 

Dimulai dari mereka pertama kali berbicara, anak-anak menyadari bahwa bahasa adalah sebuah aturan yang mendasari bahasa yang mereka gunakan. Alih-alih setiap tahapan memiliki tata bahasa dengan aturan pemikirannya sendiri-sendiri. Seseorang tidak dapat mempelajari keaktifan anak melalui tata bahasa sampai dia memasukkan dua kata bersama-sama untuk membuat kalimat aktif. Ini terjadi sekitar anak berusia delapan bulan. Beberapa peneliti Amerika bersepakat dengan tingkatan ini. Selengkapnya.....

Jumat, 16 Juni 2023

CURRENT ISSUES PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA ANAK

Dewasa ini, komunikasi adalah elemen sangat penting untuk mendukung kehidupan manusia. Komunikasi merupakan sebuah proses transisi informasi dari satu orang ke orang lain (Roel, B.D., Ross, 2011). Jika orang tidak dapat menguasai bahasa, penyebab yang akan di timbulkan adalah kegagalan untuk berkomunikasi dan konsekuensi serius bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebagai contoh dalam bidang pendidikan, yang mana guru gagal dalam berkomunikasi dengan muridnya, memiliki kemungkinan besar bahwasanya siswa tersebut tidak akan merasa percaya diri untuk tampil di acara sekolah. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penguasaan bahasa menjadi bagian yang sangat penting dalam hal berkomunikasi.

Akhir-akhir ini, telah terjadi pergeseran dalam bidang pembelajaran dan pengajaran bahasa dengan penekanan yang lebih besar pada belajar dan mengajar pada guru. Yang mana pergeseran fokus dari guru ke peserta didik telah menyebabkan para peneliti untuk melakukan studi yang berbeda tentang karakteristik peserta didik dan situasi belajar (Esim Gürsoy and Elif EkEn, 2018); (Bialystok, 1981). Dengan demikian, peserta didik dan perannya dalam hal proses pembelajaran telah menjadi perhatian utama di sebagian besar dari penelitian.

Sejalan dengan pergeseran minat baru ini, pertanyaan muncul tentang bagaimana pelajar memproses informasi yang baru yang mana telah menjadi penting dan ini semua akan mendorong peneliti untuk menyelediki strategi pembelajaran bahasa dari pelajar (Cohen, 1998); (O’Malley, J. M. and Chamot, 1990); (Oxford, 1990); (Wenden, A. and Rubin, 1987). Hal inisesuai pernyataan dari Nyikos dan Oxford bahwasanya belajar itu dimulai dari pelajar itu sendiri (Nyikos, M. and Oxford, 1993). Oleh sebab itu, belajar seharusnya dianggap sebagai kompetensi utama yang diharuskan untuk dilengkapi oleh peserta didik (Strakova, 2013).

Program sastra kontemporer anak-anak yang dilaksanakan oleh pusat pengembangan kurikulum bertujuan untuk mempromosikan membaca. Dalam sebuah penelitian oleh Kow, mengatakan bahwa negasi dalam sastra anak-anak memiliki ketegangan antara apa yang orang dewasa pahami sebagai sastra anak-anak dan apa yang dibayangkan oleh anak tersebut sebagai sastra (Kow, 2006). Maka pertanyaan akan muncul di benak kita bahwasanya apakah anak-anak seharusnya mendapatkan kesenangan dari apa yang mereka baca yaitu buku atau mereka belajar darinya?

Sebuah minat baru dalam sastra secara bertahap muncul di dalam kurikulum bahasa asing seperti yang ditunjukkan dalam studi terbaru (misalnya (Hall, 2015); (Matos, 2012); (Paran, 2010); (Sell, 2015) membuktikan relevansi yang berkembang dari pendekatan pedagogis untuk pengajaran dan pembelajaran bahasa asing. Hal ini juga memberikan praktik dimana siswa untuk mengembangkan keterampilan bahasa, karena literatur-literatur menghadapkan kepada siswa pada tema yang lebih kompleks dan penggunaan bahasa yang terkini (Lazar, 1993). Selain itu juga, siswa yang berasal dari luar daerah tempat mereka tinggal menuntut pendekatan yang berbeda dari dimensi budaya (Matos, 2012). Studisastra memberikan kontribusi di kelas bahasa yang memberikan para siswa ini keterampilan antarbudaya yang semakin diperlukan di dunia global kontemporer. Sebagai seorang pendidik, kita dapat menggunakan studi sastra untuk mempersiapkan siswa yang menghadapi kompleksitas dunia global. Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...