Tampilkan postingan dengan label Muhammad Asip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhammad Asip. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juli 2023

Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berbasis TIK dalam Kurikulum Merdeka

Model pembelajaran yang diuraikan selama ini berbasis pada keterampilan berbahasa yang mempunyai beberapa komponen dan dapat dikaitkan dengan media pembelajaran berbasis TIK tingkat SD. Ada empat model pembelajaran dalam model pembelajaran menyimak yang dapat dihubungkan dengan TIK diantaranya mengidentifikasi kata kunci, melakukan model retelling story, menyelesaikan cerita dan memperluas kalimat. Model pembelajaran menceritakan kembali (retelling story) adalah model yang digunakan oleh guru untuk menerapkan pembelajaran. 

Retelling story memiliki banyak manfaat untuk peserta didik salah satunya dapat mengembangan daya ingat, menambah kosakata Bahasa secara lisan dan pengembangan sifat ekspresif. Berikut adalah langkah-langkah untuk menerapkan kisah ritel berbasisICT: pertama, adalah Guru menggunakan podcast untuk merekam cerita dan memutarnya menggunakan CD atau melalui youtube misalnya. Kedua, pemutaran audio tersebut. Ketiga, siswa mendengarkan dengan saksama. Keempat, siswa diminta untuk berbicara kembali dengan bahasanya sendiri. Langkah keempat adalah menentukan hubungan antara keterampilan berpiir kritis dengan keterampilan membaca. Selanjutnya dapat pula menggunakan model diskriminatif kata kunci apabila ingin menceritakan ulang. Dalam prosesnya, siswa dianjurkan untuk fokus pada suara yang terdengar dari setiap kalimat yang diucapkan dalam suara maupun podcast, selanjutnya mereka dianjurkan untuk menentukan kata kunci dari tiap kalimat. Secara umum pembelajaran identifikasi kata kunci dapat digunakan di kelas tinggi sekolah dasar. 

Model pembelajaran yang dapat memperluas kalimat adalah model pembelajaran yang saling berhubungan satu sama lain. Berikut cara menerapkan pembelajaran memanjangkan kalimat: 1) Guru memutarkan dengan media internet atau CD kemudian menyebutkan kalimat-kalimatnya. 2) siswa melakukan perulangan kalimat yang diucapkan. 3) Saat siswa mengulangi kalimat, media internet dimatikan. 4) pemutaran kembali media oleh guru dan melakukan perulangan kalimat kembali. 5) guru mengucapkan kalimat/kata lain secara lisan. 6) Siswa selanjutnya langsung melengkapi kalimat sesuai dengan apa yang disebutkan oleh guru dan hasilnya diperluas dengan kalimat. 

Model pembelajaran melengkapi cerita merupakan model lanjutan dari kalimat yang diperluas sebelumnya, model ini juga dapat menggunakan media yang sama. Teks yang telah disampaikan oleh guru melalui audiovisual dapat dirangkum dalam sebuah cerita. Kelemahan dari model pembelajaran ini adalah memakan waktu, tetapi dapat diterapkan untuk kelas bawah. Di kelas bawah, kosakata masih terus diproduksi. Menulis kalimat adalah tugas yang membosankan menerapkan model pembelajaran di atas untuk membuat kalimat menyenangkan dan untuk meningkatkan pemikiran dan imajinasi siswa untuk membuat cerita. Sama halnya dengan model pembelajaran yang telah dijelaskan selama ini, keterampilan berbicara dan menyimak merupakan kegiatan reseptif, sehingga model pembelajaran ini juga berkaitan dengan keterampilan berbicara. 

Pembelajaran selanjutnya menunjukkan hanya satu model pembelajaran berbicara yang dapat diintegrasikan dengan media TIK, karena penggunaan media secara langsung dapat sepenuhnya menyampaikan tujuan pembelajaran berbicara. Tapi siapa yang saya modelkan? Jika TIK dapat digunakan sebagai media, maka jenis media yang dapat digunakan adalah media komputer dengan subtipe visual. Langkah-langkah untuk menerapkan model pembelajaran ini adalah sebagai berikut: pertama,Guru menggunakan materi tentang tokoh, peristiwa, atau profesi untuk membuat dua media flash/PowerPoint jenis kuis ya/tidak. Konsep kuisnya adalah memilih angka dari 1 hingga 9. Artinya, ada pilihan setelah nomor materi. Kedua, Guru dibagi menjadi dua atau tiga kelompok besar. Ketiga, Siswa akan diminta untuk memilih nomor Flash Media/PowerPoint dalam kelompoknya. Keempat,Guru akan memfokuskan dan memperlihatkannya sehingga siswa dapat melihatnya. Kelima,siswa yang telah memenangkan bagian akan memainkan peran sesuai nomor yang dipilih. Keenam, kelompok penonton harus menjawab karakter yang diperankan oleh kelompok lain. Ketujuh, group hanya bisa menjawab “ya” atau “tidak”. Kedelapan, jika penampil menemukan identitas, permainan berakhir dan berputar ke grup berikutnya. Model pembelajaran ini membuat siswa SD menjadi senang dengan menggunakan modelseperti permainan atau ice breaking. Kelebihan model pembelajaran dengan menggunakan TIK sebagai media pembelajaran terasa lebih hidup karena siswa tidak hanya fokus pada aktor, tetapi juga pada tampilan jawaban dari aktor. Selain menyenangkan, siswa dapat melatih keterampilan berbicara mereka. Dalam keadaan ini, guru dapat mengklasifikasikan jenis-jenis berbicara yang dipelajari oleh siswa. 

Model pembelajaran ini dapat diterapkan di tingkat SD dan SMA. Ada 2 model yang dapat digunakan dalam TIK, yaitu model K-W-L dan pelatihan yang dibaca dari model ECOLA. Model K-W-L merupakan model pembelajaran yang pada hakikatnya menuntut siswa untuk memahami apa yang dibacanya. K-W-L dapat dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama. K (Apa yang saya tahu?) Pada tahap ini, guru perlu menggunakan media PowerPoint atau flash untuk membuat materi. Saat ini aplikasi untuk membuat buku bergambar masih terus dibuat, hasilnya ditampilkan oleh guru, dipelajari, buku untuk dibaca bersama, dan gambaran umum dari buku tersebut. Tahap 2; W (Apa yang ingin dipelajari?) Pada tahap ini, guru mengomunikasikan tujuan pembelajaran dan memberikan pemahaman pembelajaran yang menarik. Pada tahap ini, fokus siswa adalah membaca dengan menggunakan media komputer subtipe visual. Siswa mencatat beberapa informasi penting dari hasil membaca. Pada tahap ini juga dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa terhadap informasi yang ditampilkan dalam cerita, yang ditampilkan dalam bentuk slide. Tahap ketiga; L (apa yang saya pelajari). Siswa belajar dari slide yang ditampilkan melalui fokus, siswa perlu mengetahui informasi penting terkait hasil membaca. Beberapa siswa tidak memahami kata atau kalimat. Kegiatan terakhir adalah siswa diminta untuk merangkum hasil bacaannya. 

Model pembelajaran selanjutnya yakni Extending Consept Trought Language Activities atau lebih dikenal dengan ECOLA. Model pembelajaran digunakan guru dalam mengintegrasikan keterampilan berbahasa yang memiliki tujuan untuk mengembangkan keterampilan pembaca, menerjemahkan dan kemudian menegaskan pemahamannya. (Susanto, 2014). Media yang tersedia dalam model pembelajaran ini adalah internet. 

Indikator ketercapaian model pembelajaran ini adalah siswa diharapkan suka membaca dan menemukan ide, konsep, dan gagasan. Untuk menerapkan model ECOLA dapat dilakukan dengan cara : 1) Pilihlah bacaan yang berbeda tidak dari buku tradisional atau dongeng, namun carilah ebook dan mendownload melalui Internet. 2) Guru meluangkan waktunya bagisiswa untuk membaca bacaan yang dipilih siswa itu sendiri. 3) Siswa membaca sekaligus belajar untuk mengkritisi. 4) Hasil bacaan siswa kemudian dirangkum dan di berikan pada guru. Model pembelajaran ini memiliki keterkaitan dengan model pembelajaran menulis. 

Model pembelajaran berbasis keterampilan menulis memiliki dua model yang dapat digunakan dan diintegrasikan dengan TIK pertama adalah Brown dan kedua adalah sugesti. Dasar model Brown ini mengatakan media pembelajaran adalah bagian yang memiliki keterkaitan dalam memfasilitasi pembelajaran, karena terdapat berbagai macam media dan media tersebut memiliki sifat yang interaktif. Media pembelajaran Brown contohnya seperti audio, proyek, gerak, visual, dll. (Krissandi, dkk., 2018: 36). 

Langkah-langkah pembelajaran model setelah tujuan pembelajaran tercapai adalah: a. penyiapan puzzle secara virtual yang dibuat oleh guru; b. pembuatan grup skala kecil; c. pembagian puzzle pada setiap group kecil; d. setiap group melakukan diskusi dan kerjasama dalam mengurutkan seri puzzle; e. apabila telah selesai, perwakilan anggota kelompok memaparkan hasilnya. f. setelahnya, guru masuk pada poin penjelasan materi dari hasil paparan siswa; g. siswa dalam kelompok ditugaskan untuk menulis kalimat berdasarkan susunan gambar dalam kelompok serta mengembangkan imajinasi mereka; h. memperbaiki tulisan yang kurang tepat dilakukan oleh tiap kelompok; i. proses refleksi pembelajaran; j. mengumpulkan hasil kerja kelompok dan dilakukan evaluasi pembelajaran yang dilakukan. 

Model sugesti dilakukan dengan proses yang tidak sebentar dan membutuhkan inspirasi untuk menghasilkan ide-ide menarik yang akan dituangkan pada tulisan. Stimulus yang digunakan dalam kegiatan ini sangat bervariasi. Umumnya pada tingkat SD dilakukan dengan film yang dibuat dengan menggunakan lagu, puisi, teater, atau teknologi. Media yang digunakan bisa dalam format multimedia dan internet. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut: a. Pemilahan lagu atau puisi yang berhubungan dengan pembelajaran yang ingin diajarkan oleh guru. b. Siswa bersiap untuk menyimak serta siswa menyiapkan alat tulisnya untuk merangkum hasil yang mereka simak. c. Siswa menuliskan hasil yang mereka amati dan simak disesuaikan imajinasi mereka. d. Melakukan proses koreksi dengan cara saling bertukarjawaban antara siswa. e. Siswa mendapat hasil koreksi dan melakukan perbaikan kembali pada tulisannya. f. Penilaian akhir oleh guru. Selengkapnya.....

Jumat, 14 Juli 2023

TIK dalam Pembelajaran Kurikulum Merdeka

TIK dalam ranah pembelajaran merupakan sebuah inovasi terbarukan dalam pengembangan teknologi (Damanik, 2019: 805). Kehadiran TIK dalam lingkup pendidikan akan otomatis meningkatkan model pembelajaran yang dilakukan guru kepada siswa selama proses pembelajaran. Menurut Wrigley dalam Rahim (2011: 129) Ketika fase informasi datang, banyak peran guru tradisional akan dibenamkan dengan akselerasi digital sebagai sumber pengetahuan. Dengan perkembangan digital yang merambah dunia pendidikan, para guru perlu memanfaatkan digital sebagai media pembelajaran untuk mengembangkan model pembelajaran yang menyenangkan bagisiswanya. Pada dasarnya, TIK memiliki dua elemen: teknologi dan informasi. Teknologi informasi terlibat dalam pemrosesan informasi, penggunaan, pengoperasian, dan pengelolaan alat komunikasi. Contohnya seperti proses yang berkaitan dengan pengiriman data dari satu perangkat ke perangkat lainnya.

Ada tiga jenis pengembangan TIK dalam pembelajaran: pertama lewat internet, kedua lewat komputer, ketiga lewat multimedia (Zainiyati, 2017: 63). Ada tiga jenis perkembangan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran tingkat SD, sebagaimana fenomena yang terjadi pada siswa tingkat SD yang sebenarnya dikenal dengan istilah alpha atau milenial. Penggunaan komputer dalam pembelajaran tingkat pemula sebagai alat untuk menulis, memutar video, memutar lagu, dan lainnya. Selain komputer, internet sudah menjadi hobi siswa untuk mencari sesuatu. Guru dapat mencari perhatian lain kepada siswa dengan jalan melakukan pembelajaran melalui pemanfaatan media video call, zoom, atau Youtube sebagai sarana penunjang pembelajaran. Di sisi lain, guru menjalankan beberapa media secara bersamaan, seperti audio visual.

Pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan berbagai model dan dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran lain. Hal ini karena pembelajaran yang dilakukan didasarkan 4 keterampilan berbahasa,yakni menyimak, berbicara, menulis, serta membaca. Semua kategori memiliki beberapa submodel yang dapat dinikmati dengan menggunakan media TIK. Salah satu modelnya adalah memanfaatkan TIK sebagai media dalam proses pembelajaran adalah sub model menyimak yang terbagi dalam beberapa aspek seperti mengidentifikasi kata kunci, melakukan perluasan kalimat, penyelesaian cerita dan menceritakan kembali. Pembelajaran berbicara memiliki satu aspek yang dapat diintegrasikan dengan TIK. Terdapat 2 model dalam pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indoensia yang dapat dipadukan dengan TIK pertama ECOLA dan kedua K-W-L. selanjutnya pembelajaran dengan menulis memiliki 2 model komponen dan dapat diintegrasikan dengan TIK pertama sugesti dan kedua brown. Semua komponen pembelajaran Bahasa Indonesia yang dapat diintegrasikan dengan media TIK, meskipun TIK memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Selengkapnya.....  

Kamis, 13 Juli 2023

Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Strategi pembelajaran dan model pembelajaran tidak dapat dipisahkan. Kedua komponen tersebut harus bekerja sama dan saling berhubungan. Memang betul,strategi dipercaya banyak kalangan sebagai trik dalam mendukung kegiatan belajar yang harus digunakan guru untuk membuat pembelajaran di kelas menjadi menyenangkan dan mencapai tujuan belajar yang efektif. Strategi pembelajaran dapat digambarkan sebagai seperangkat materi dan tata krama belajar yang terintegrasi dan digunakan secara bersamaan untuk menciptakan indikator keberhasilan belajar yang diinginkan guru dari siswanya. Selain itu, diperlukan suatu metode yang dapat diterapkan untuk mengartikulasikan strategi belajar yang diterapkan. 

Model pembelajaran dibuat oleh guru untuk menunjang kegiatan belajar di kelas. Secara umum, beberapa model pembelajaran telah diterapkan oleh guru salah satunya adalah demonstrasi, diskusi maupun ceramah. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan secara otomatis model pembelajaran akan mengalami peningkatan. Di bawah ini adalah contoh model pembelajaran bahasa Indonesia untuk siswa tingkat dasar berdasarkan empat keterampilan berbahasa menurut Krissandi, dkk, (2018: 32) pertama pembelajaran dengan model berbicara, kedua pembelajaran dengan model menyimak, ketiga pembelajaran dengan model membaca dan keempat pembelajaran dengan model menulis. 

Model pembelajaran menyimak terbagi menjadi beberapa perspektif yaitu Menceritakan kembali (retelling) cerita, membisikkan rantai, mendengarkan langsung (listening direct), membaca kata kunci, melengkapi cerita. Model pembelajaran berbicara dapat dibagi menjadi beberapa aspek, seperti tim pendengar, model berita, dan model orang dan subjek. Selain itu, model pembelajaran membaca mencakup beberapa model seperti model aktivitas berpikir membaca terarah, model K-W-L, model PORPE, dan model ECOLA. Model pembelajaran menulis mengandung beberapa komponen, antara lain model brainstorming, brainstorming, model konferensi meja bundar, model brown, dan model sugestif. Beberapa model pembelajaran bahasa Indonesia berbasis keterampilan berbahasa dapat dikaitkan dengan media pembelajaran berbasis TIK yang diterapkan di tingkat sekolah dasar. Selengkapnya.....

Rabu, 12 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Sastra Anak

Pembelajaran sastra termasuk dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam implementasinya pembelajaran ini terintegrasi dengan empat keterampilan berbahasa. Sastra anak diartikan sebagai suatu karya seni imajinatif yang disampaikan melalui bahasa yang dapat dipahami oleh anak 6–13 tahun (Yarni & Kaban, 2015). Sastra anak didefinisikan sebagai karya sastra yang berisi terkait dunia yang akrab dengan anak-anak (Rambe & Widiyarti, 2018). Karya sastra ini berisikan nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai pedoman tingkah laku siswa. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka pembelajaran sastra anak dimaknai sebagai kegiatan pembelajaran berupa karya seni imajinatif tentang dunia akrab anak yang disampaikan melalui bahasa pada anak usia 6-13 tahun.

Sastra sangat penting sekali diajarkan pada siswa di sekolah. Hal ini dikarenakan pada sastra mengandung nilai pendidikan yang dapat mendukung pembentukan karakter siswa, mengajarkan berbagai keterampilan berbahasa, mengembangkan pengetahuan budaya; dan meningkatkan cipta dan rasa (Susanti, 2015). Banyak sekali manfaat yang didapat dari pembelajaran sastra sehingga guru perlu mengajarkannya agar siswa tertarik dengan sastra. Rambe &Widiyarti (2018) menambahkan sastra juga meningkatkan kreativitas dan imajinasi serta menghibursiswa. 

Sastra dapat membuat siswa merasa bahagia, tertarik membaca, senang menyimak cerita dan memperoleh kepuasan batin yang dapat mendorong kecerdasan emosinya. Pembelajaran sastra dapat diajarkan melalui beberapa bentuk sastra seperti puisi, prosa, dan drama. Guru dapat mengajarkan berbagai bentuk sastra sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan karakteristik siswa. Keberhasilan pembelajaran sastra dipengaruhi oleh pemilihan bahan materi yang akan dijarkan guru meliputi tingkat keterbacaan dan kesesuaian (Yarni & Kaban, 2015). 

Guru hendaknya memilih materi sastra yang mudah dibaca, dipahami, dan dinikmati siswa. Tingkat kesesuaian berkaitan dengan kesesuaian dengan usia siswa dan lingkungan sekitar siswa hidup. Selain itu, guru harus mempertimbangkan nilai pendidikan yang diajarkan pada sastra tersebut sehingga setelah membaca sastra diharapkan siswa dapat mengimplementasikan nilai pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Teknik yang dapat digunakan dalam mengimplementasikan pembelajaran prosa yakni mendengarkan cerita, membaca cerita, membuat ringkasan cerita, bertukar pengalaman, dan menganalisis cerita. Selengkapnya.....

Selasa, 11 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Menulis

Menulis adalah keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Menulis diartikan sebagai keterampilan dalam mewujudkan gagasan, ide dan perasaan dalam wujud bahasa tulis sehingga pembaca dapat memahami tulisan dengan baik (Rambe & Widiyarti, 2018). Dalam menulis, seseorang dituntut untuk menghasilkan sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh orang yang pembaca. Menulis yakni komunikasi secara tidak langsung berwujud pemindahan gagasan melalui grafologi, struktur bahasa dan kosakata dengan simbol-simbol sehingga dapat dibaca (Syarif et al., 2009). Menulis dimaknai juga sebagai kegiatan mengemukakan pikiran dan perasaan melalui lambang berupa tulisan (Siddik, 2016). 

Tulisan yang ditulis mengandung pesan atau informasi yang ingin disampaikan. Beberapa pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa menulis adalah keterampilan dalam mengemukakan gagasan, pikiran dan perasaan melalui sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh pembaca. Dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas dibutuhkan keterampilan menulis. Menulis dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kerja sama dan percaya diri siswa (Yarmi, 2017). Melalui menulis siswa dapat menuliskan apa yang ada di pikirannya yang mungkin dapat bermanfaat untuk pembaca.

Siswa juga dapat meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas. Tanpa menulis proses pembelajaran tidak dapat berjalan dengan baik, karena semua mata pelajaran membutuhkan keterampilan menulis. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk membimbing siswanya agar dapat menulis dengan baik. Proses keterampilan menulis di sekolah dasar dibagi menjadi dua tahap yaitu menulis permulaan dan menulis lanjut. Menulis permulaan mencakup kegiatan persiapan menulis dengan mengajarkan siswa cara memegang pensil, menulis huruf dan menggabungkan menjadisuku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat (Rambe & Widiyarti, 2018). 

Menulis permulaan ditujukan pada kelas rendah. Sehingga tahap ini lebih difokuskan pada keterampilan dasar menulis. Siswa yang sudah mahir dalam menulis permulaan dapat melanjutkannya pada menulis lanjut. Menulislanjut mencakup: 1) kegiatan mengembangkan paragraf; 2) menulislaporan dan surat; 3) mengembangkan karangan; dan 4) menulis naskah drama dan puisi. Tahap lanjut ini siswa didorong untuk dapat menuangkan ide pikirannya dalam tulisan. Faktor yang mempengaruhi kegiatan menulis yakni faktor internal dan eksternal (Syarif et al., 2009). 

Faktor internal meliputi faktor psikologis dan teknis. Faktor psikologis berkaitan dengan kebiasaan dan pengalaman yang dimilikisiswa. Intensitas kegiatan menulissiswa akan berpengaruh terhadap kualitastulisannya. Faktor teknis berkaitan dengan penguasaan siswa dalam menggunakan teknik menulis. Siswa dapat memahami cara menulis yang baik dan bahan tulisan yang akan ditulis. Faktor eksternal yakni fasilitas pendukung yang ada disekitarsiswa. Sarana dan prasarana sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam menulis. Guru harus mampu memberikan lingkungan yang nyaman dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Capaian pembelajaran menulis dibagi menjadi fase A, fase B, dan fase C. 

Fase A (kelas 1–2) meliputi: 1) siswa dapat menguasai keterampilan menulis permulaan; 2) siswa dapat mengembangkan tulisan tangan dengan baik; dan 3)siswa dapat menuliskan teks deskripsi menggunakan beberapa kalimat sederhana, menulis pengalaman diri, menulis teks fiksi yang dibaca atau didengar, menulisteks prosedur dan teks eksposisi. Fase B (kelas 3–4) mencakup: 1)siswa dapat menulisteks narasi, deskripsi, rekon, prosedur dan eksposisi; dan 2) siswa dapat menulis tegak bersambung. Fase C (kelas 5–6) yakni: 1) siswa dapat menulis teks eksplanasi, laporan dan eksposisi, hasil pengamatan; 2) siswa dapat menggunakan kaidah kebahasaan dan kesastraan dalam menulis teks, menggunakan kosakata baru yang mempunyai makan kiasan, denotatif,dan konotatif; dan 3) siswa dapat mengutarakan perasaan berdasarkan fakta dan imajinasi dalam wujud prosa dan puisi. 

Capaian pembelajaran fase A lebih fokus pada menulis permulaan, sedangkan fase B dan C lebih ditujukan pada menulis lanjut. Metode menulis dapat digunakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Selain metode, media juga penting digunakan dalam pembelajaran menulis. Media akan memudahkan siswa dalam menerima materi pembelajaran. Media yang digunakan sebaiknya bersifat kontekstual dan sesuai dengan karakteristik siswa. Selengkapnya.....

Senin, 10 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Berbicara dan Mempresentasikan

Keterampilan berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa yang diajarkan pada siswa sekolah dasar. Berbicara diartikan sebagai keterampilan dalam mengucapkan bunyi artikulasi untuk mengutarakan gagasan, pikiran dan perasaan (Rambe & Widiyarti, 2018). Berbicara tidak hanya merujuk pada pengucapan kata-kata saja akan tetapi juga menyampaikan tujuan gagasan yang ditata dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan penyimak. Hanum & Fakhrur juga menjelaskan bahwa berbicara sebagai kemampuan dalam melisankan bunyi artikulasi untuk menggambarkan, menyatakan dan menjelaskan informasi atau pesan. Pembicara memiliki maksud tertentu dalam menyampaikan pesan tersebut. Berbicara merupakan kemampuan dalam melafalkan kata untuk mendeskripsikan, menyatakan dan menjelaskan isi pikiran, gagasan dan perasaan (Yarni & Kaban, 2015). Beberapa definisi tersebut dapat disintesiskan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang dalam melisankan bunyi artikulasi berupa kata-kata untuk menggambarkan, menyatakan dan menjelaskan pikiran, gagasan dan perasaan. 

Mempresentasikan adalah keterampilan tambahan yang ada pada kurikulum merdeka. Mempresentasikan merupakan kemampuan menjelaskan pokok pikiran dan tanggapan secara jelas, teliti dan bertanggung jawab dengan komunikatif melalui berbagai jenis media. Jadi siswa dilatih untuk mampu berbicara di depan banyak orang terkait dengan materi yang sedang diajarkan oleh guru. Salah satu siswa presentasi dan siswa lainnya mendengarkan dan menanggapi. Berbicara sebagai keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap siswa sekolah dasar. Melalui berbicara, maka siswa dapat berkomunikasi dengan guru, teman dan orang lainnya. 

Berbicara juga membantu siswa dalam mengutarakan isi pikiran (Sukma & Saifudin, 2021). Dalam proses pembelajaran diperlukan komunikasi yang lancar antara siswa dan guru sehingga dapat mendorong keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berbicara dapat menjadikan siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran. Tanpa adanya keterampilan berbicara maka proses pembelajaran akan terhambat dan materi pembelajaran tidak dapat tersampaikan dengan baik. Hal ini dikarenakan melalui keterampilan berbicara siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir, menyimak, membaca dan menulis (Aufa et al., 2020). Sedangkan keterampilan mempresentasikan juga penting dikuasai untuk melatih kemampuan siswa berbicara di hadapan orang banyak dan meningkatkan kepercayaan diri siswa. Keterampilan ini harus dibiasakan agar keterampilannya berkembang yang akan berguna bagi dirinya dan orang sekitar. Proses berbicara memerlukan paling sedikit dua orang, satu sebagai pembicara dan satunya lagi sebagai penyimak. 

Pembicara juga harus memperhatikan beberapa hal meliputi: 1) memilih kata yang tepat; 2) isi pesan dapat dinalar dan tersusun sistematis; 3) struktur kalimat yang digunakan jelas dan sesuai SPOK; dan 4) suara yang diucapkan mudah didengar dan dipahami (Yarni & Kaban, 2015). Beberapa aspek tersebut dapat dilakukan agar kegiatan berbicara dapat terlaksana dengan efektif, pembicara dapat menyampaikan isi pesan dan pendengar dapat menerima dan memahami apa yang disampaikan. Proses keterampilan memirsa juga tidak jauh dari keterampilan berbicara. Dua keterampilan itu berkaitan dengan kegiatan komunikasi. Kehidupan sehari-hari siswa tidak terlepas dari keterampilan berbicara. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan berbicara yakni faktor keluarga dan sekolah (Magdalena et al., 2021). Faktor keluarga berkaitan dengan intensitas orang tua dalam melatih siswa berbicara. Hal ini berkaitan dengan proses komunikasi orang tua pada siswa di kehidupan sehari-hari. Faktor sekolah berhubungan dengan pembiasaan yang diberikan guru untuk bicara dengan orang lain. Guru memiliki tanggung jawab untuk melatih siswa dalam berbicara. Keberhasilan keterampilan berbicara yang dicapaisiswa harus mendapatkan dukungan dari kedua faktor tersebut. Capaian pembelajaran berbicara dan mempresentasikan dibagi menjadi beberapa fase. 

Capaian pembelajaran pada fase A (kelas 1-2) meliputi: 1) siswa dapat berbicara dengan santun, volume dan intonasi yang tepat; 2)siswa dapat bertanya, menjawab dan memberikan komentar dengan baik; 3)siswa mampu menyampaikan pokok pikirantanpa bantuan gambar; dan 4) siswa dapat menceritakan kembali suatu informasi dan teks cerita. Fase B (kelas 3-4) yakni: 1) siswa dapat berbicara dengan santun, intonasi dan volume tepat; 2)siswa dapat menyampaikan gagasan melalui percakapan dan diskusi; dan 3) siswa dapat menceritakan kembali informasi yang didapat dari bacaan dan hasil simakan. Fase C (kelas 4-6) yakni: 1) siswa dapat menjelaskan informasisecara lian untuk menghibur dan meyakinkan pendengar; 2) siswa dapat mengutarakan perasaan berdasarkan imajinasi dan fakta dalam bentuk puisi dan prosa; dan 3) siswa dapat mempresentasikan ide pokok, hasil pengamatan dan pengalaman dengan logis, runtut, efektif, kreatif dan kritis.

Capaian pembelajaran tersebut dapat diimplementasikan melalui berbagai metode berbicara. Guru harus memilih metode pembelajaran yang akan digunakan sehingga pembelajaran berbicara dapat dilaksnakan secara maksimal. Dalam pemilihan metode yang baik, guru harus menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan kebutuhan siswa. Metode yang dipilih harus mampu mendorong siswa untuk aktif berbicara dan meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu, lingkungan belajar juga harus dikondisikan untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Siswa perlu diberikan motivasi yang tinggi dengan pemberian pujian, hadiah, nilai dan sebagainya agar siswa tertarik untuk mau berbicara dan mempresentasikan. Selengkapnya.....

Sabtu, 08 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Menyimak

Menyimak sebagai keterampilan berbahasa yang memiliki kontribusi penting dalam kehidupan siswa sehari-hari maupun disekolah. Siswa tidak dapat membaca, menulis dan berbicara tanpa menguasai keterampilan menyimak. Menyimak adalah keterampilan berbahasa pertama yang diterima seseorang sejak kecil di lingkungan keluarga dan sekitarnya. Menyimak diartikan sebagai proses mendengarkan melaluisimbol-simbol lisan dengan saksama untuk mendapatkan informasi, dalam menerima dan memahami dari komunikasi yang sudah disampaikan pembicara melalui ucapan (Daeng et al., 2010). Sudiati (2019) menjelaskan bahwa menyimak yakni proses mendengarkan bunyi bahasa secara intens untuk memahami ucapan yang dimaksud pembicara. Menyimak dimaknai sebagai aktivitas mendengarkan secara kreatif dan aktif dengan tujuan mendapatkan informasi dan memahami isi terhadap ucapan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Beberapa penjelasan tersebut, dapat disintesiskan bahwa menyimak adalah kegiatan mendengarkan simbol-simbol lisan secara intens, kreatif, dan aktif untuk dapat menerima, memahami, dan mengimplementasikan informasi yang disampaikan pembicara.

Peranan menyimak bagi siswa sekolah dasar sebagai tahap awal dalam menguasai capaian pembelajaran yang akan dicapai. Keterampilan menyimak yang baik juga akan berpengaruh terhadap hasil belajarsiswa. Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran saat guru menjelaskan. Menyimak bagi siswa sekolah dasar memiliki kontribusi penting dikarenakan melalui menyimak siswa menerima, memahami dan mengimplementasikan materi pembelajaran dalam kehidupannya Selain itu, menyimak penting sekali dalam kegiatan sehari-hari dikarenakan melalui menyimak seseorang mendapatkan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan. Proses kegiatan menyimak melibatkan faktor fisik dan mental. Aspek mental berkaitan dengan proses menyimak yang berkaitan dengan proses kognitif meliputi perhatian, pemahaman dan ingatan. Pemahaman informasi yang diterima dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya sehingga akan memunculkan interpretasi baru. Proses menyimak yang tidak hanya mengandalkan fisik saja karena hal ini berkaitan dengan pemahaman yang tepat dan masuk ke tahap penyimpanan memori jangka lama.

Kegiatan menyimak dapat dilakukan melalui beberapa tahap yakni: 1) mendengar yaitu siswa mendengarsegala sesuatu yang dibicarakan oleh pembicara; 2) memahami yaknisiswa mengerti isi pesan yang disampaikan pembicara; 3) menginterpretasi yaitu siswa mengartikan setiap aspek yang disampaikan pembicara; 4) mengevaluasi yaitu menyampaikan pendapat siswa terkait dengan isi pesan yang disampaikan pembicara baik itu kekurangan dan kelebihan; dan 5) menanggapi yakni siswa memberikan tanggapan terhadap isi pesan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Keberhasilan kegiatan menyimak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang ada dalam kegiatan berkomunikasi. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam kegiatan menyimak yakni adanya pembicara, penyimak, pesan yang disampaikan, media yang digunakan dan keadaan lingkungan sekitar (Sudiati, 2019). Penyimak memiliki tanggung jawab besar dalam keberhasilan kegiatan menyimak tersebut. Selain itu, juga perlu memperhatikan berbagai faktor eksternal yang dapat mengganggu dalam proses menyimak.

Capaian pembelajaran keterampilan menyimak pada kurikulum merdeka dibagi menjadi 3 fase yakni fase A (kelas 1–2), fase B (kelas 3– 4) dan fase C (kelas 5–6). Keterampilan menyimak pada fase A mendorong siswa dapat yakni: 1) menjadi penyimak yang penuh perhatian; 2) memiliki ketertarikan dalam kegiatan menyimak; dan 3) mampu memahami pesan dan informasi yang disampaikan melalui audio, teks aural yang berhubungan dengan komunikasi dan instruksi lisan. Sedangkan keterampilan menyimak fase B yang harus dikuasai siswa meliputi: 1) dapat memahami gagasan utama suatu pesan lisan dan informasi melalui audio, teks aural dan instruksi lisan yang berhubungan dengan komunikasi; dan 2) dapat memahami teks narasi yang dibacakan dari audio. Pada Fase C tingkat keterampilan menyimak siswa lebih tinggi dari capaian pembelajaran sebelumnya yang meliputi: 1) dapat menganalisisinformasi dalam bentuk fakta, prosedur yang mencakup ciri objek dan urutan kejadian; dan 2) menganalisis nilai-nilai dari beberapa jenis teks informatif dan fiksi yang diberikan dalam bentuk lisan, teks aural, dan audio.

Beberapa capaian pembelajaran keterampilan menyimak yang ada di kurikulum merdeka tersebut, dapat diimplementasikan melalui berbagai strategi agar siswa dapat menguasai dengan baik. Rambe & Widiyarti (2018) memaparkan metode yang dapat digunakan pada pembelajaran menyimak yakni sebagai berikut.

1. Metode Simak-Ulang Ucap 

Metode ini dapat diterapkan dengan mengenalkan bunyi bahasa dan cara mengucapkannya. Metode ini menyatukan keterampilan berbicara dan menyimak. Metode ini cocok digunakan di kelas rendah. Tahapan yang dapat dilakukan guru dalam membelajarkan siswa menggunakan simak-ulang ucap meliputi: 1) guru membacakan atau memutar audio seperti fonem, puisi pendek dsb; dan 2) Siswa menirukan ucapan guru yang dapat dilaksanakan secara mandiri dan kelompok. 

 2. Metode Simak Kerjakan 

Metode ini melibatkan keterampilan menulis dalam implementasinya. Setelah siswa menyimak, maka ia menulisjawaban soal yang diberikan guru sesuai dengan pesan yang disampaikan. Biasanya guru memberikan bahan simakan cerita, lalu siswa menjawab soal terkait unsur instrinsik dalam cerita tersebut. Oleh karena itu, metode ini membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi. 

3. Metode Simak Terka 

Metode ini sudah tidak asing lagi bagi siswa. Siswa disuruh menyimak apa yang diucapkan guru, lalu ia menebak maksud pesan yang disampaikan. Seperti contoh, guru mendeskripsikan ciri-ciri suatu benda tanpa menyebut namanya, kemudian siswa menebak nama benda tersebut. Dalam hal ini,siswa tidak hanya membutuhkan konsentrasi tetapi juga harus bisa berpikir dengan cepat. 

4. Metode Simak Tulis 

Metode simak tulis adalah metode yang banyak diterapkan oleh guru Indonesia. Implementasinya sangat mudah yakni guru mempersiapkan materi pembelajaran yang akan didiktekan pada siswa. Kemudian siswa menulis apa yang diucapkan guru. Metode ini juga membutuhan keterampilan menulis. Siswa harus menyimak dengan saksama agar hasil tulisannya sesuai dengan pesan yang diucapkan guru. 

5. Metode Memperluas Kalimat 

Metode ini mengintegrasikan keterampilan berbicara. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru mengucapkan kalimat sederhana yang terdiri atas beberapa kata, lalu siswa menirukan apa yang diucapkan guru. Kegiatan tersebut dilakukan sebanyak dua kali. Siswa menghubungkan dua kalimat sederhana menjadi kalimat panjang. Siswa harus berkonsentrasi penuh,sehingga dapat merangkai kalimat dengan benar. 

 6. Metode Bisik Berantai 

Metode ini dapat diterapkan di kelas rendah dan kelas tinggi. Kegiatan pembelajaran menyimak menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru membisikkan kalimat pada salah satu siswa. Lalu siswa tersebut membisikkan kalimat tersebut kepada siswa lainnya, hal itu berulang secara terus menerus sampai siswa terakhir. Lalu siswa terakhir mengucapkan kalimat tersebut pada guru. Selain mengasyikkan, metode ini juga melatih kefokusan setiap siswa. 

7. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini selalu digunakan oleh setiap guru. Metode ini dapat diterapkan guru dengan memberikan pertanyaan, lalu siswa menjawab. Pertanyaan yang diberikan disesuaikan dengan tema pembelajaran. Kefokusan siswa dalam menyimak dapat dilihat dari jawaban yang diberikan apakah sesuai atau tidak dengan pertanyaan yang diberikan guru. 

8. Metode Identifikasi Tema, Ide Pokok, dan Kata Kunci

Langkah ini dapat dilakukan dengan guru bercerita sedikit dan siswa menyimak secara intens. Di tengah bercerita guru berhenti, lalu dilanjutkan bercerita oleh siswa. Hal ini berulang terus hingga cerita dirasa cukup. Metode ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan dapat mendorong kreativitas siswa dalam membuat kalimat. Selain itu juga mengajar siswa untuk percaya diri dan saling menghargai terhadap berbagai karya yang dihasilkan sejelek apapun. 

 9. Metode Parafrase 

Metode ini merupakan mengungkap kembali sesuatu menggunakan bahasa sendiri. Dalam tahapan implementasinya, guru dapat membacakan sebuah puisi di depan siswa. Siswa menceritakan isi puisi tersebut menggunakan bahasa sendiri. Metode ini membutuhkan konsentrasi untuk dapat memahami isi dengan baik sehingga dapat memparafrasekan sebuah pesan dengan baik. 

10. Metode Merangkum 

Metode ini cocok diimplementasikan pada kelas tinggi. Hal ini dikarenakan metode ini membutuhkan pemahaman dan konsentrasi yang tinggi. Setelah siswa menyimak apa yang disampaikan guru, siswa merangkum informasi atau pesan secara runtut. Merangkum dapat dilakukan dengan merangkai kata menggunakan bahasa sendiri.

Pembelajaran menyimak juga dapat diajarkan melalui berbagai media yang bervariasi. Media memiliki beberapa fungsi yaitu memberikan kemudahan guru dalam menyampaikan materi dan menarik minat belajar siswa (Yarni & Kaban, 2015). Siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, sehingga keberadaan media dalam proses pembelajaran sangat diperlukan. Jenis media yang digunakan guru berpengaruh terhadap hasil keterampilan menyimak siswa. Media yang dapat digunakan dalam menyimak yakni: 1) media visual meliputi gambar, foto, kartun, poster, grafik, dsb; 2) media audio meliputi MP3, radio, kaset audio dsb; 3) media audio visual meliputi: video, sound slide, film bersuara, dan televisi; 4) multimedia yang berisi animasi, foto, video, musik, gambard dan teks; dan 5) media realita yakni media yang ada di sekitar lingkungan siswa (Sukma & Saifudin, 2021). 

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kurikulum merdeka memberikan kebebasan pada guru untuk memilih metode dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Berbagai metode dan media yang sudah dijelaskan tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi guru dalam mengajarkan keterampilan menyimak siswa pada kurikulum merdeka. Pemilihan metode dan media harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Guru tidak boleh memilih hanya berdasarkan kemudahan yang diperoleh guru saja. Capaian pembelajaran menyimak fase A, fase B dan fase C memiliki tingkatan kognitif yang berbeda. Sehingga tingkat kognitif siswa juga menjadi pertimbangan penting bagi guru dalam pemilihan metode dan media. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam menyukseskan pembelajaran menyimak yaitu pertama, memilih metode pembelajaran yang berkaitan dengan materi dan bervariasi (Sukma & Saifudin, 2021). 

Guru harus memahami kondisi siswanya, sehingga bisa menentukan metode dan media yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Kedua, materi yang digunakan dalam pembelajaran menyimak harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Materi pembelajaran yang diberikan pada siswa tidak terlalu sulit dan tidak terlalu gampang. Tingkat kesukaran materi harus disesuaikan juga dengan kognitif siswa sekolah dasar. Ketiga, mengimplementasikan media pembelajaran yang beragam. Pembelajaran menyimak akan lebih menarik siswa jika guru dapat mengintegrasikan teknologi dengan materi pembelajaranmenyimak. Dalam hal ini, guru dituntut untuk melek teknologi. Keempat, mengatur lingkungan belajarsiswa. Pengelolaan lingkungan belajar yang baik akan berdampak pada kenyamanan siswa dalam belajar. Ruang belajar yang nyaman dapat meningkatkan motivasi belajar menyimak. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang baik dengan menyesuaikan dengan karakteristik siswanya. Kelima, melaksanakan evaluasi dengan baik. Guru memberikan penilaian kepada siswa sebagai bentuk penghargaan yang sudah siswa berikan dalam usaha belajar. Selengkapnya.....

Jumat, 07 Juli 2023

Cara mengembangkan KD dan Indikator

Dari capaian pembelajaran yang ditetapkan dari pemerintah ini diharapkan masing-masing guru dapat menurunkan ke dalam KD dan indikator. Satu CP dapat diturunkan menjadi beberapa KD dan Indikator. Bagaimana caranya menurunkan CP menjadi KD dan indikator? Yang pertama guru harus membaca dengan jeli capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. Kedua, guru harus memahami Kata Kerja Operasional (KKO) Taksonomi Bloom, mulai C1 – C6 disemua ranah (afektif, kognitif dan psikomotorik). Ketiga, guru harus dapat memformulasi kedalaman dan keluasan materi dari KKO yang ditetapkan tersebut menjadi KD dan indikato di 3 ranah (afektif, kognitif, psikomotik). Keempat, guru harus dapat menghadirkan materi yang relevan dengan KD dan indikator yang dia turunkan dari CP. Munsenmaier dan Rubin (2013) dalam (Ching & Da Silva, 2017) menyarankan pertanyaan model untuk diperkenalkan di bawah setiap tingkat taksonomi Bloom, dengan mempertimbangkan bahwa itu adalah sebagai alat untuk belajar. (Ching & Da Silva, 2017) kemudian mengadaptasi pertanyaan untuk setiap tingkatan taksonomi.

  1. Mengingat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mendefinisikan istilah, mengidentifikasi fakta dan menemukan informasi atau konten tentang subjek, dan juga kriteria yang membantu siswa: Mendefinisikan informasi? Sebutkan fakta? Baca informasi? Buat daftar fakta atau detail? Menemukan fakta atau ide? Ambil informasi? Jelaskan informasi? Mengenali fakta atau ide dalam konteks?
  2. Memahami tujuan untuk membantu siswa menghubungkan pembelajaran baru dengan pembelajaran sebelumnya pengetahuan; kriteria untuk membantu siswa: Ringkasan fakta dan ide? Nyatakan kembali metode atau prosedur? Menafsirkan hubungan? Parafrase informasi? Memprediksi konsekuensi? Berikan contoh? Menceritakan kembali peristiwa? Menceritakan kembali informasi dengan kata-kata sendiri? Nyatakan masalah dengan kata-kata sendiri? Jelaskan ide atau konsep? Tentukan pentingnya?
  3. Menerapkan bertujuan untuk memberikan kesempatan untuk menerapkan prosedur yang dipelajari dan metode; kriteria untuk membantu siswa: Mendemonstrasikan metode dan Prosedur? Melaksanakan prosedur? Gunakan ide atau pengetahuan? Temukan tujuan baru untuk kompetensi atau pengetahuan? Gunakan pengetahuan dalam situasi baru? Bereksperimen dengan konsep dalam pengaturan yang berbeda? Menyesuaikan pengetahuan untuk digunakan dalam konteks yang berbeda? Terapkan prosedur untuk unik situasi?
  4. Analisis bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa membedakan antara apa yang relevan dan/atau tidak relevan, menentukan hubungan, dan mengenali organisasi konten dengan analisis elemen, hubungan dan prinsip-prinsip organisasi; kriteria untuk membantu siswa: Membedakan fakta dari hipotesis? Kenali niat? Bedakan relevan dari yang tidak relevan? Perhatikan strukturnya? Pilih yang penting elemen? Dekonstruksi konten? Mengatur konten? Garis besar konten? Memahami hubungan?
  5. Evaluasi bertujuan untuk membantu siswa membuat penilaian menggunakan bukti internal dan solusi eksternal; kriteria untuk membantu siswa: Periksa keakuratannya? Deteksi inkonsistensi? Memantau efektivitas? Evaluasi prosedur? Mengkritik solusi? Teknik hakim? Performa kontras? Memeriksa kemungkinan hasil?
  6. Mencipta bertujuan untuk memberikan peluang untuk menghasilkan ide, merancang rencana dan menghasilkan produk; kriteria untuk membantu siswa: Membangun desain? Menghasilkan kemungkinan? Tulis ide? Usulkan hipotesis? Menghasilkan solusi? Produk desain? Merakit rencana? Mengatur ulang operasi? Bayangkan kemungkinan? Selengkapnya.....

Jumat, 30 Juni 2023

Prinsip Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD

a. Prinsip Fungsional

Prinsip fungsional dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD pada hakikatnya sejalan dengan konsep pembelajaran yang interaktif Dalam implementasinya prinsip fungsional bertujuan untuk melatih peserta didik menggunakan bahasa yang efektif baik lisan maupun tulisan.

b. Prinsip Konstekstual

Prinsif kontekstual dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD pada hakikatnya kemampuan peserta didik menghubungkan materi yang diajarkan dengan dunia nyata. Prinsip ini terdiri atas enam komponen yaitu: konstruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian sebenarnya. 

c. Prinsip Apresiatif

Prinsip apresiatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD pada hakikatnya lebih fokus dalam pembelajaran sastra. Hal ini mengandung arti bahwa prinsip pembelajaran yang digunakan adalah menyenangkan.

d. Prinsip Humanisme, Rekontruksionalisme, dan Progresif. 

1) Manusia secara alami memiliki modal yang sama dalam upaya memahami sesuatu. Implikasi wawasan tersebut terhadap kegiatan pengajaran bahasa Indonesia adalah 1) Pendidik bukan merupakan satu-satunya pusat informasi, 2) Siswa harus dimaknai sebagai subjek belajar yang secara kreatif mampu menemukan pemahaman sendiri, 3) dalam proses belajar mengajar pendidik harus fokus sebagai sebagai model, teman, pendamping, pemotivasi, fasilitator, dan aktor yang bertindak sebagai pembelajar. 

2) Perilaku manusia didasari motif dan minat tertentu. Implikasi dari wawasan tersebut dalam kegiatan pengajaran bahasa Indonesia adalah 1) Isi pembelajaran harus mengandung manfaat bagi peserta didik secara aktual, 2) Dalam prosesnya peserta didik harus memahami manfaat penguasaan isi pembelajaran bagi kehidupannya, 3) Isi pembelajaran harus sesuai dengan tingkat perkembangan, pengalaman, dan pengetahuan pembelajaran.

3) Manusia selain memiliki kesamaan juga memilliki keunikan. Implikasi wawasan dalam kegiatan pengajaran bahasa Indonesia, 1) Layanan pembelajaran selain bersifat klasikal dan kelompok juga bersifat individual, 2) Pembelajaran selain ada yang dapat menguasai materi pembelajaran secara cepat juga ada yang lambat, dan 3) Pembelajaran perlu disikapi sebagai subjek yang unik, baik menyangkut proses merasa, berpikir dan karakteristik individual sebagai hasil bentukan lingkungan, keluarga, teman bermain, maupun lingkungan kehidupan sosial masyarakat. Selengkapnya.....

Rabu, 28 Juni 2023

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SD

Dalam kurikulum 2013 pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah berbasis teks atau lebih difokuskan pada teks. Melalui teks-teks tersebut selain diajarkan ilmu kebahasaan juga diintegrasikan pendidikan karakter. Dalam kurikulum merdeka pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah difokuskan pada keterampilan menyimak, membaca dan memirsa, berbicara dan mempresentasikan serta menulis untuk berbagai tujuan berbasis genre yang terkait dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan.

Pembinaan dan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia akan membentuk pribadi Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berpikir kritis, mandiri, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global (Kurikulum Merdeka, 2022) Melalui membaca teks peserta didik mampu memperbaiki sikap untuk lebih berkarakter. Terlebih melalui pendekatan saintifik atau ilmiah pembentukan karakter akan mudah terealisasikan.

Dalam pendekatan saintifik, siswa diminta unntuk mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan dengan integrasi pembentukan sikap, misalnya mengamati dengan tanggung jawab, menanya dengan santun, mencoba dengan jujur, dan mengasosiasi dan mengomunikasikan dengan proaktif. Sikap baik tersebut akan terus ditanamkan dalam setiap pembelajaran sehingga ketika peserta didik sudah terbiasa dengan sikap baik, maka kebiasaan itu akan tetap sikap baik.

Ketika peserta didik yang menjadi generasi penerus sudah menjadi pribadi yang baik tentu saja akan mengembalikan identitas bangsa menjadi bangsa yang bermartabat. Pembelajaran berbasis teks merupakan pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan siswa untuk menyusun teks. Metode pembelajaran ini mendasarkan pada pemodelan teks dan analisis terhadap fitur-fitur secara eksplisit serta fokus pada hubungan antara teks dan konteks penggunaannya. Dalam proses pembelajaran ini mengarah pada peserta didik agar mampu memahami dan memproduksi teks baik secara lisan maupun secara tulisan dalam berbagai konteks. Selengkapnya.....

Senin, 19 Juni 2023

Pengenalan dan Pembelajaran Bahasa Abad ke-21

Kesulitan yang signifikan untuk pembelajaran bahasa dan sastra, misalnya saja permasalahan yang banyak dijumpai oleh para pendidik di belahan dunia yaitu tentang strategi pembelajaran bahasa dan sastra anak. Banyak pendidik baik pendidik yang tradisional maupun modern kurang mampu memahami bagaimana pembelajaran bahasa dan sastra untuk anak yang ujungnya pada hasil yang sukses yang dicapai oleh peserta didik. Integrasi dan perkembangan teknologi serta tumbuhnya kesadaran akan keberagama kebudayaan dan globalisasi telah mengubah konsep pembelajaran yang dulunya konservatif menjadi pembelajaran abad 21 (Borsheim, C., Merritt, K., & Reed, 2008).

Ide yang dicetuskan tersebut berfokus pada peserta didik untuk dapat memperoleh atau mengambil informasi, mengatur dan mengelola informasi, menilai relevansi, kualitas, dan kegunaan informasi,serta menciptakan informasisecara benar dengan menggunakan sumber daya yang ada (Educational Testing Service, 2007). Kemampuan seperti inilah yang harus dimiliki pembelajar modern untuk dapat bertahan di pasar yang semakin mengglobal (Pacific Policy Research Center (PPRC), 2010). salah satu fokus dari program abad 21 adalah bahasa, yaitu komunukasi yang efektif. Kemampuan yang dibutuhkan dalam budaya saat ini adalah “komunukasi yang efektif”,seperti kerjasama, keterampilan interpersonal, akuntabilitas pribadi, tugassosial dan sipil, dan komunikasi yang interaktif. Untuk mengenali konteks multibahasa dan multikultural yang baru untuk pembelajaran bahasa, dipahami potensi sastra untuk komunikasi dan mediasi antarbudaya (Kramsch, 2014); (Council of Europe, 2018).

Dokumen kurikulum terbaru secara global meminta para pendidik bahasa untuk dapat mempromosikan secara luas dan komplek, yang mana ini semua bertujuan terhadap penguasaan bahasa sederhana, kekritisan, komunikasi dan empati antarbudaya, kreasi dan inovasi, kemandirian, kerja tim, etika dan kecerdasan emosional, dan keterampilan abad ke-21 lainnya yang dapat kita terapkan (Naji, H., Subramaniam, G., & White, 2019). Kramsc meminta kita semua untuk berpikir kembali tentang pembelajaran bahasa sebagai mata pelajaran multibahasa (Kramsch, 2009); (Kramsch, 2014). Ada batasan-batasan antara bahasa, budaya, dan negara yang mana ini semua teriritasi dengan adanya migrasi dan mobilitas yang semakin menjadi sebuah norma bagi kebanyakan orang, bersama dengan interkoneksi yang meluas oleh internet.

Bahasa dan sastra sering tercampur dan mendorong perhatian pengguna pada sifat fiktif dari bahasa nasional yang dianggap paling benar. Pengakuan tentang pemahaman keragaman bahasa modern serta dasar untuk tekssastra, perlu dipelajari dan dinegosiasikan oleh pengguna bahasa. Sastra secara prototipikal berurusan dengan yang di namakan dengan “batas” tempat,situasisosial ekonomi, kelas, agama, jenis kelamin, bahasa, dan gaya. Membaca sastra kita perlu sebuah pemahaman apa dan siapa yang terpinggirkan dan mengapa, serta kita juga perlu masuk ke dunia imajinatif (Maginess, 2019). Sedangkan belajar bahasa, menurut Kramch memiliki hal yang istimewa dan ada tantangan tersendiri untuk menempati hubungan marginal dengan bahasa yang mereka pelajari (Kramsch, 2009).

Penelitian tentang pemerolehan bahasa kedua menunjukkan pentingnya fokus pada bentuk linguistik yang di pandang tepat untuk pembelajaran bahasa (Schmidt, 2010). Begitu pula dengan teks sastra, yang mana memiliki perhatian yang sama(Peplow, 2016). Baru-baru ini, keterlibatan emosional dan perasaan sangat disoroti sebagai bagian dari terpenting dan yang mengharukan dalam pembelajaran bahasa (Bigelow, 2019). Memiliki arti dan yang mengharukan ini semua diolah lebih dalam lagi melalui teks sastra yang disesuaikan dengan pembelajaran anak. Kritik terhadap materi komersional baik internasional dan nasional yang digunakan untuk mendukung pembelajaran bahasa menunjukkan peran yang sangat penting bagi sastra. Sastra berurusan tentang isu-isu “besar”, kematian, cinta, kehidupan, dan hubungan. Hal ini memiliki relevansi pribadi (Maley, A., & Kiss, 2018). Selengkapnya.....

Sabtu, 17 Juni 2023

Perkembangan Bahasa Anak

Penguasaan tentang bagaimana seorang anak akan belajar berbicara sangat unik dan membingungkan untuk dipahami oleh orang dewasa. Kemampuan mental juga tampak sangat berbeda dalam banyak hal, namun dia menguasai struktur bahasa ibunya sampai usia lima tahun. Jenis kata-kata yang digunakan anak tersebut dalam tahun pertama adalah mengenai objek, orang, dan tindakan (Merkel-Piccini, 2001). 

Anak-anak mungkin sering mengakatan “Ibu”, “Ayah”, “Minum”, “Makan” (ini kata-kata yang umum diucapkan). Anak-anak tidak hanya menirukan apa yang mereka dengar dan lihat yang ada disekitarnya. Ini semua menjadisebuah proses dari pembelajaran yang terlibat jauh dan banyak secara kompleks. 

Dimulai dari mereka pertama kali berbicara, anak-anak menyadari bahwa bahasa adalah sebuah aturan yang mendasari bahasa yang mereka gunakan. Alih-alih setiap tahapan memiliki tata bahasa dengan aturan pemikirannya sendiri-sendiri. Seseorang tidak dapat mempelajari keaktifan anak melalui tata bahasa sampai dia memasukkan dua kata bersama-sama untuk membuat kalimat aktif. Ini terjadi sekitar anak berusia delapan bulan. Beberapa peneliti Amerika bersepakat dengan tingkatan ini. Selengkapnya.....

Rabu, 14 Juni 2023

Problematika Bahan Ajar


Komponen pembelajaran yang tak kalah penting dan masih menjadi salah satu problematika adalah bahan ajar. Bahan ajar merupakan atau materi ajar (instructional materials) terdiri atas aspek kognitif, psikomotor, dan afektif yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar capaian pembelajaran yang telah ditentukan. Jenis-jenis materi pembelajaran bahasa Indonesia terdiri atas pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, serta nilai dan sikap (Aisyah, 2020). Problematika pengembangan bahan ajar di sekolah yakni:

Selama ini pemerintah telah menyiapkan beragam bahan ajar untuk siswa dan guru (sebagai pegangan). Bahan ajar yang disiapkan pun beragam, baik itu cetak maupun digital. Namun apa yang disediakan pemerintah tersebut merupakan bahan ajar yang paling sederhana. Harapannya guru mampu mengembangkan sendiri bahan ajar yang disesuaikan dengan lingkungan dan karakteristik siswa. Permasalahannya beberapa sekolah dan guru masih menggunakan satu bahan ajar yakni buku guru dan buku siswa dari pemerintah. Tentu saja hal ini akan berdampak pada penguasaan materi. Materi yang dikuasaisiswa menjadi terlalu sederhana karena tidak ada pengembangan ilmu yang mereka dapatkan melalui bahan ajar. Adanya kurikulum Merdeka Belajar yang mulai diterapkan di beberapa sekolah, memberikan keleluasaan bagi guru untuk mengembangkan bahan ajarnya.

    a. Kesulitan menuangkan ide untuk mengembangkan bahan ajar bahasa Indonesia. Di lapangan masih beberapa guru masih mengalami kendala dalam menuangkan ide yang akan mereka tuliskan di bahan ajar. Bahan ajar seperti apa yang akan dikembangkan masih menjadi kendala termasuk isi yang akan dituangkan di bahan ajar tersebut. Bahan ajar yang dikembangkan masih terlalu sederhana atau terlalu luas. Sebenarnya pengembangan bahan ajar bisa merujuk pada capaian pembelajaran sehingga materi yang dituangkan tidak terlalu sempit ataupun luas.
    b. Kurang memperhatikan karakteristik, potensi, dan perkembangan siswa, serta relevansinya dengan kebutuhan siswa. Bahan ajar yang baik juga perlu memeperhatikan kebutuhan dan karakter siswa. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, pengembangan bahan ajar yang memperhatikan perkembangan siswa salah satunya diwujudkan dalam variasi teks bacaan. Teks bacaan yang diberikan pada siswa kelas awal berbeda dengan teks bacaan untuk kelas lanjut. 
    c. Keterbatasan sumber bahan ajar. Di era Abad 21 ini, Permasalahan tersebutseharusnya bukanlah menjadi kendala dalam pengembangan bahan ajar. Saat ini perkembangan informasi dan pengetahuan sangat berkembang dengan pesat dan terbuka. Pengetahuan dan informasi tidak hanya didapatkan dari sumber cetak, justru sumber elektronik dan digital lebih mendominasi dalam perkembangan saat ini. Namun hal sumber bahan ajar masih saja menjadi salah satu kendala saat ini. Hal ini dibuktikan dengan masih dijadikannya buku ajar dari pemerintah sebagai satu-satunya bahan ajar di kelas. Kondisi ini sangatlah disayangkan, karena jika ilmu yang dipelajari siswa hanya buku tersebut maka pengalaman mereka tidak akan berkembang maksimal.
  d. Pendekatan tematik integratif yang digunakan pada kurikulum terdahulu juga memberikan permasalahan tersendiri pada pengembangan bahan ajar. Adanya integratif ini membuat bahan ajar per muatan menjadi kurang seimbang. Sebut saja ketika muatan bahasa Indonesia bergandengan dengan muatan IPA. Biasanya bahan ajar yang cenderung disajikan adalah bahan ajar IPA kemudian agak mengesampingkan muatan bahasa Indonesia. Misalnya pada muatan IPA mengajarkan mengenai hewan ruminansia kemudian bahasa Indonesia mengusung materi iklan. Di sini kadang kala dijumpai penekanan bahan ajar hanya berfokus pada materi IPA yang dianggap lebih kompleks. Selengkapnya.....

 

Senin, 12 Juni 2023

Problematika Media Pembelajaran



Media pembelajaran juga tidak kalah penting dalam memberikan sumbangsih untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Apalagi untuk siswa sekolah dasar yang masih pada tahap operasional konkrit, media sangat bermanfaat bagi mereka untuk menerjemahkan hal abstrak menjadi hal lebih konkrit. Media pembelajaran memiliki berfungsi sebagai alat bantu mengajar yang ikut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru (Azhar, 2010). Adanya media pembelajaran diharapkan mampu membangkitkan rangsangan pada semua indera. Rangsangan yang diterima oleh alat indra akan memberikan pengaruh untuk ingatan seseorang. Semakin banyak alat indera yang terlibat atau berinteraksi dengan media pembelajaran makan kemampuan otak untuk mengingat dan mengolah informasi akan lebih maksimal. Penggunaan media pada pembelajaran diharapkan akan mempermudah siswa dalam menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah sasar. Akan tetapi selama ini penyediaan media pembelajaran masih menjadi problematika. Media pembelajaran merupakan sarana yang dipergunakan atau dimanfaatkan agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, memperlancar dan mempermudah penyampaian informasi ke arah tujuan yang telah direncanakan. Sebelum guru memanfaatkan media pembelajaran di kelas,sebaiknya guru harus membekali diri dulu dengan dengan pengetahun tentang media pembelajaran. Pengetahuan ini dibutuhkan karena banyak guru yang tidak memahami ikhwal media pembelajaran baik teori, pemanfaatan, pemilihan, maupun pengembangannya. Manfaat dari setiap media pembelajaran bergantung pada kemampuan guru dan siswa untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan pesan-pesan yang terkandung dalam media pembelajaran yang didayagunakan. Sudah banyak studi yang mengungkapkan bahwa pemanfaatan media pembelajaran berdampak pada terwujudnya iklim positif dalam pembelajaran (Marisa, 2010). 

Penggunaan media pembelajaran mampu memberikan gambaran kongkrit pada siswa. Bagi siswa, seringkali materi yang bersifat terlalu abstrak membuat mereka bingung. Disinilah peran media pembelajaran mampu digunakan untuk mengubah konsep abstrak menjadi kongrit. Jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia SD pada materi ide pokok dan kalimat utama, guru bisa menghadirkan media berupa peta pikiran atau multimedia interaktif. Kehadiran media di tengah-tengah pembelajaran akan memotivasi siswa dan ikut terlibat dalam pembelajaran. Akibatnya mereka akan lebih mudah dalam menguasai materi. Ironisnya, penggunaan media ke dalam pembelajaran kurang mendapatkan perhatian dari guru. Guru merasa admistrasi pembelajaran sangat membebani mereka. Begitu juga ketika harus mengembangkan media pembelajaran yang harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Apalagi jika mereka harus membuat media pembelajaran yang sesuai dan mendukung pembelajaran. Kondisi tersebut memberikan beberapa indikasi adanya kurang kreatifnya guru-guru di sekolah dalam mempersiapkan media pembelajaran. 

Media pembelajaran bahasa Indonesia yang digunakan selama ini masih terbilang sederhana yakni gambar, foto, video yang diambil dari YouTube. Kondisi ini memperlihatkan kurang kreatifnya guru sekolah dasar. Sebenarnya jika guru memiliki jiwa inovatif dan kreatif bisa mengembangkan media pembelajaran sendiri. Pada era Abad 21 ini, sumberinformasi mengenai pengembangan media tidak hanya didapatkan dari satu sumber. Guru sebenarnya bisa melakukan pengembangan diri melalui pelatihan-pelatihan yang diinisiasi pemerintah, perguruan tinggi atau bahkan mereka bisa belajar dari YouTube yang menyediakan berbagai video cara mengembangkan media dari mulai media sederhana maupun media yang berbasis digital. Permasalahan yang lain, kadang kala guru sudah membuat media pembelajaran bermuatan bahasa Indonesia akan tetapi kurang sesuai dengan materi pembelajaran. Padahal pemanfaatan media pembelajaran seharusnya memperhatikan materi yang akan diajarkan serta karakteristik siswa. Selain itu, guru juga perlu memiliki keterampilan memilih dan menggunakan media tersebut dengan baik tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang media saja (Hamalik, 2011).

Keterampilan memilih media pembelajaran penting dilakukan karena kelas yang dimiliki guru adalah kelas yang beragam. Beragam karakteristik, gaya belajar, minat, kemampuan kognitif, dll. Tentu sebagai guru yang bijaksana dan profesional harus mampu memfasilitasi mereka dengan baik. Salah satu pertimbangan guru dalam memilih media pembelajaran yang akan digunakan adalah keberagaman yag dimiliki siswa. Tujuannya agar semua karakteristik guru bisa terfasilitasi dengan baik. Begitu juga jika guru ingin menciptakan pembelajaran aktif, kreatif agar efektif serta menyenangkan, guru tidak dapat melepaskan diri dari media pembelajaran. Baik dalam pembelajaran yang sederhana maupun pembelajaran yang menggunakan digital. Jika dalam pembelajaran terjadi kesalahan dalam pemilihan media pembelajaran akan menyebabkan terganggunya pencapaian tujuan pembelajaran. Saat ini media yang dapat digunakan pun tidak terbatas pada media-media sederhana. Pada Abad 21, perkembangan teknologi juga merambah pada dunia pembelajaran. Namun problematika yang selama ini terjadi adalah beberapa guru kurang mampu menggunakan teknologi. Akibatnya pemanfaatan media berbasis digital ke dalam kelas kurang maksimal. Kejadian ini sangat dirasakan saat pembelajaran daring karena adanya pandemi Covid-19 beberapa waktu yang lalu. Kekurangterampilan guru dalam pemanfaatan teknologi memberikan dampak pada kurang maksimalnya pembelajaran daring (Ariesca et al., 2021). Selengkapnya.....
 

Minggu, 11 Juni 2023

Problematika Strategi Pembelajaran



Fenomena pembelajaran Bahasa Indonesia yang terjadi saat ini masih sama dengan apa yang terjadi pada Abad ke-20 seperti yang disampaikan (Freire, 1968) dengan pendidikan ala bank. Di mana peran guru sangat mendominasi. Di era Abad 21 ini pun masih menunjukkan hal yang sama bahwa sebagian besar guru masih cenderung bergaya dogmatis, otoriter, dan hanya memperlakukan siswa sebagai penerima informasi tanpa adanya dialog dan interaksi. Hal ini akan membuat pembelajaran menjadi teacher centre. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang menggunakan pendekatan teacher centre akan cenderung mematikan daya kreatif siswa. Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia untuk membekali siswa keterampilan berkomunikasi menjadi sulit tercapai. Selengkapnya

 

Kamis, 08 Juni 2023

Mutu pembelajaran bahasa Indonesia



standar mutu pembelajaran bahasa Indonesia yang baik maka perlu memperhatikan komponen berikut:

1. Guru 
Guru merupakan kunci utama dalam sebuah pembelajaran. Rancangan pembelajaran ditentukan oleh guru. Dari sini, guru lah yang akan menentukan desain pembelajaran hingga mencapai tujuan yang diharapkan. Apalagi di era globalisasi seperti saat ini, sangat diperlukan guru yang kreatif dan inovatif. Mau tidak mau guru harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Termasuk bagaimana guru mampu memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran sehingga sesuai dengan pembelajaran abad 21. Pemerintah sendiri telah menetapkan empat kompetensi yang harus dimiliki guru yakni: kompetensi profesional, pedagogis, sosial, dan kepribadian. Masing-masing guru berbeda mengalami pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan yang berbeda. Termasuk pengusaan empat kompetensi guru tersebut. Dalam rangka mencapai pembelajaran yang merdeka dan inovatif pemerintah memiliki program guru penggerak. Guru penggerak diharapkan mampu membawa perubahan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik (Satriawan et al., 2021). Harapannya para guru penggerak ini mampu memberikan pengaruh positif untuk rekan-rekannya di lapangan terutama dalam memberikan pembelajaran yang bermakna pada siswa (Sibagariang et al., 2021). Adanya program guru penggerak merupakan salah satu terobosan pemerintah dalam mewujudkan merdeka belajar. Selain kurikulum yang berubah, pemerintah berupaya mengubah kunci pembelajaran yakni guru melalui program tersebut. 

 2. Siswa 
Siswa adalah subjek yang akan menerima pembelajaran. Siswa yang ada di kelas dan akan dihadapi guru adalah siswa yang memiliki latar belakang dan kemampuan berbeda-beda. Dalam kurikulum merdeka belajar, kodrati manusia ini difasilitasi dengan pembelajaran berdiferensiasi. Sebelum pembelajaran, siswa akan melakukan tes diagnostik. Harapannya dengan adanya tes diagnostik, guru bisa memetakan kemampuan dan pengetahuan siswa. Keberagaman siswa juga perlu menjadi pertimbangan guru dalam menentukan media, bahan ajar, dan strategi pembelajaran. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, guru juga perlu memperhatikan perkembangan siswa. Baik itu dalam hal keberagaman yang dimiliki masing-masing individu yang memang tidak ada yang sama serta tingkat perkembangan siswa. Begitu juga dalam perkembangan bahasa dan perkembangan kognitif. Bagaimana siswa mengusai keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis juga tidak boleh luput dari pengamatan guru. Hal ini akan membantu guru dalam menentukan langkah pembelajaran selanjutnya. Pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki tujuan untuk memberikan bekal keterampilan komunikasi pada siswa sehingga guru perlu memperhatikan penguasaan dan perkembangan keterampilan berbahasa tersebut.

3. Bahan Ajar/Materi Ajar
Bahan ajar adalah materi yang akan disampaikan kepada siswa. Pemilihan bahan ajar sangat menentukan pada keberhasilan pembelajaran. Saat ini bahan ajar tidak hanya berasal dari buku teks. Guru dapat mengembangkan bahan ajar sendiri disesuaikan dengan konteks, karakteristik, dan lingkungan siswa berasa. Pemberian bahan ajar yang kontekstual akan membantu siswa dalam menguasai materi yang mereka pelajari (Suryaman, 2015) acompetency to be developed is related to how to guide them so that theyare motivated to learn through the lesson book. A basic principle to be paidattention to is thatstudents are able to build up experiences in language and literaryactivities on the basis of their initial experience.The study indicates the following results. First, a lesson book is ahandbook for students at a level of formal education and used as an instructionalmedium related to a certain subject matter (such as Bahasa Indonesia. Misalnya saja bahan ajar mengenai cerita rakyat, pilihlah cerita rakyat yang memang berasal dari lingkungan siswa. Jika bahan ajar yang diberikan kurang sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa, biasanya akan memberikan dampak pada pencapaian tujuan pembelajaran

4. Strategi Pembelajaran
Di dalam teori pembelajaran, ada banyak pilihan mengenai strategi pembelajaran. Penggunaan strategi pembelajaran sangat diperlukan Ada berbagai strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Namun guru perlu jeli dalam memilih strategi pembelajaran yang akan digunakan. Kekurangtepatan dalam memilih strategi pembelajaran akan membuat tujuan pembelajan sulit tercapai. 

5. Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan salah satu alat bantu dalam menyampaikan informasi atau pesan kepada siswa. Peran media ini sangatlah penting karena dalam pembelajaran bahasa Indonesia, ada banyak materi yang tidak cukup disajikan secara langsung. Hadirnya media pembelajaran dalam sebuah kelas akan memberikan motivasi dan menambah antusiasme siswa dalam belajar. Selengkapnya...

 

Minggu, 04 Juni 2023

FILOSOFI, KONSEP, DAN TEORI - BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SD BERORIENTASI KURIKULUM MERDEKA




Filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu falsafaah,bahasa ini diadopsi dari bahasa Yunani yaitu philosophiha. Kaelan pada tahun 1998 menyatakan bahwa filsuf dunia memiliki perhatian besar terhadap bahasa, sebab banyak persoalan filsafat, konsep filosofi akan menjadi jelas saat dianalisis dengan bahasa (Sumanto, 2017; Warami, 2016). Tokoh-tokoh filsafat analitik bahasa hadir dengan analitik bahasanya untuk mengatasi kelemahan, kekaburan, dan kekacauan yang selama ini muncul dalam konsep filosofi. Salah satu tokoh filsuf di Perancis yaitu F. de Saussure juga melakukan perubahan radikal dengan meletakkan dasar-dasar filosofis terhadap linguistik. Filsafat bahasa dapat dikelompokkan atas dua pengertian. Pertama, bahasa sebagai alat untuk menganalisis, memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep filosof. Kedua bahasa sebagai objek materi dengan membahas, mencari hakikat bahasa, hingga paradigma bagi perkembangan teori-teori linguistik. Pada zaman Yunani kuno, bahasa menjadi salah satu bahan kajian para filsuf karena mereka mengembangkan dan mengemukakan gagasan tentang bahasa. Zainuddin (2009) mengatakan bahwa filsafat memiliki tiga cabang, yaitu: 1. Metafisika. secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘di luar fisik’ yang berarti bahwa sesuatu yang berada diluar apa yang bisa dilihat dan dirasakan secara empiris. 2. Epistemologi. menurut sumber yang sama, merupakan teori tentang ilmu pengetahuan, yaitu teori yang menaungi alat yang dipergunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, batasjarak ilmu pengetahuan kita, dan kriteria yang kita pergunakan untuk menilai salah atau benarnya ilmu pengetahuan kita. 3. Logika. Cabang filosofi yang merefleksikan hakikat cara berpikir sehingga mampu memberikan penalaran yang tepat, membedakan argumen yang baik dan yang buruk, dan metode-metode untuk mendeteksi kesalahan dalam penalaran. Kaelan (1998) mengatakan bahwa epistemologi juga pada sisi lain berkaitan dengan teori kebenaran, dimana di dalam epistemologi ini terdapat tiga jenis kebenaran. 1. Teori kebenaran koherensi, yaitu sebuah pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebenarnya. Sebagai contoh, pernyataan “hewan menyusui disebut mamalia” pernyataannya bahwa sapi adalah menyusui. 2. Teori kebenaran korespondensi, yaitu bahwa sebuah penyatann dianggap benar bilamana materi pengetahuan yang dikandung dalam pernyataan ini berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh pernyataan tersebut, contoh ‘kota Medan terdapat di Sumatra Utara’ adalah benar karena terdapat hubungan antara ide dengan fakta dimana hubungan itu terjadi melalui bahasa. 3. Teori kebenaran pragmatis, yaitu sebuah pernyataan yang dianggap benar apabila pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Ini berarti suatu pernyataan akan dianggap apabila memberikan manfaat praktis kepada manusia. Dengan demikian, pernyataan itudianggap benar berdasarkan konteks penggunaannya. Sauri (2006) mengemukakan bahwa bahasa memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut: a. Semantik yaitu bahasa mempunyai aturan atau pola antara lain sistem bunyi dan sistem makna. b. Arbiter(manasuka) artinya bahasa itu dipilih secara acak tanpa alasan atau manasuka, tidak ada hubungan logis dengan kata-kata sebagai simbol. c. Ucapan atau vokal, artinya bahasa itu ujaran, berarti media bahasa yang terpenting adalah dengan bunyi-bunyi. d. Simbol, bahwa bahasa itu simbol dari perasaan, keinginanan, dan harapan. e. Bahasa itu mengacu pada dirinya, artinya bahasa itu mampu digunakan untuk menganalisis bahasa itu sendiri. f. Manusiawi, artinya bahasa itu adalah kekayaan yang hanya dimiliki oleh manusia g. Komunikasi, artinya bahasa itu alat komunikasi dan interaksi antar manusia dan menjadi pelekat dalam menyatupadakan keluarga, masyarakat, dan berbagai kegiatan sosialisasi. Intinya bahwa bahasa adalah merupakan media wacana segala ilmu dan sekaligus metabudaya. Wicoyo (1997) mengatakan bahwa Devit menyebutkan adanya empat lingkaran makna dalam bahasa, yaitu: 1. Makna yang dibicarakan dibicarakan oleh isi muatan pikiran. 2. Isi itu dijelaskan oleh makna kalimat pikiran. 3. Makna itu dijelaskan oleh makna konvensional. 4. Makna konvensional dijelaskan oleh makna pembicara. Untuk menemukan makna, filsafat memberikan analisis sehingga makna tersebut dapat diterima secara logis, objektif, dan sistematis. Sedangkan peran filsafat sebagai bahasa adalah bahwa analisis filsafat merupakan salah satu metode yang digunakan dalam memecahkan problematika kebahasaan. Aliran-aliran dalam filsafat dapat mewarnai pandangan para ahli bahasa dalam mengembangkan teori-teorinya. Selengkapnya...

Jumat, 02 Juni 2023

Bahasa dan Sastra Indonesia SD Berorientasi Kurikulum Merdeka

 


Perkembangan zaman semakin cepat di era 5.0, maka pemerintah melakukan berbagai terobosan baru untuk memenuhi kebutuhan belajar dan mengajar. Bahasa Indonesia adalah Bahasa persatuan, jangan heran pelajaran Bahasa Indonesia dipelajari dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Setiap kegiatan belajar mengajar membutuhkan kurikulum. Kurikulum juga terus dilakukan pengembangan. Perubahan kurikulum hal biasa termasuk perubahan kurikulum 2013 menjadi kurikulum merdeka. Buku Bahasa dan sastra Indonesia SD berorientasi kurikulum merdeka, hadir untuk mendukung dan melengkapi kegiatan belajar mengajar. 

Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia Di SD - Hakikat Bahasa dan Pembelajaran Bahasa

 

Dunia mempunyai banyak ragam bahasa. Setiap bahasa dengan khas tersendiri yang membedakan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya. Bahasa adalah alat komunikasi utama dan selalu terjadi dalam konteks sosial (Kuiper & Allan, 2017). Bahasa secara ekslusif hanya dimiliki manusia terdapat perbedaan yang jelas dari sesi lingustik dan non-lingustik serta memiliki makna (Burridge & Stebbins, 2019). Richards and Webber, menyebutkan bahasa adalah sistem komunikasi manusia yang dinyatakan melalui suara atau ungkapan tulis yang terstruktur untuk membentuk satuan yang lebih besar seperti morfem, kata dan kalimat. Sedangkan menurut Sapir, bahasa sebagai suatu naluriah yang dimiliki manusia untuk mengkomunikasikan ide-ide, emosi dan keinginan yang menggunakan simbol yang dibuat untuk tujuan tertentu (Wiratno & Santosa, 2014). Bahasa adalah alat komunikasi, bersifat arbitrer, konvensional dan merupakan lambang bunyi (Suhandra, 2019). Bahasa adalah alat komunikasi yang bermakna (Noermanzah, 2019). Bahasa dalam pengertian kamus besar Bahasa Indonesia adalah sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran (Sugono, D., 2008).

Komunikasi Bisnis - Mengenal Komunikasi


Manusia sebagai makhluk hidup yang membutuhkan intraksi dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Manusia adalah makhluk yang lemah, tentu membutuhkan bantuan dari manusia lainnya. Sejak sebelum lahir manusia sebenarnya sudah melakukan kegiatan komunikasi. Misalnya seorang ibu hamil menghelus-helus perutnya sambil mengatakan, “jadi anak yang sholeh ya nak”. Padahal calon bayinya baru ada detak jantungnya saja. Contoh lainnya; seorang manusia membutuhkan tuhan dalam hidupnya sebagai sumber kekuatan dan memenuhi fitrahnya sebagai hamba yang membutuhkan sesembahan. Apakah itu komunikasi?
 

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...