Tampilkan postingan dengan label AKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AKM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 September 2023

Asesmen Pembelajaran Literasi Anak SD

Asesmen pembelajaran literasi di sini ada dua model. Secara umum, asemen literasi mengacu AKM yang bentuknya variasi, yaitu meliputi: 1. Pilihan ganda, 2. Pilihan ganda kompleks, 3. Menjodohkan, 4. Isian, 5. Esai atau uraian Asesmen.  Pembelajaran literasi anak SD dalam buku ini merupakan asesmen pembelajaran pada setiap pembelajaran yang berdirisendiri dalam satu pembelajaran literasi. Asesmen pembelajaran literasi di luar AKM yang dimaksud di buku ini tidak sekadar mengukur hasil belajar siswa, namun juga menjadi umpan balik pada mutu, proses pembelajaran dengan pelibatan pendidikan dan peserta didik dalam rangka merefleksikan proses pembelajaran. Maka asesmen pembelajaran literasi dibutuhkan di awal pembelajaran berbentuk asesmen diagnosis dengan kontinyu dalam proses belajar. Dalam hal ini, asesmen formatif harus ditekankan daripada asesmen sumatif. Asesmen formatif dapat berbentuk kompilasi karya peserta didik dalam proses pembelajaran, catatan pengamatan, dan lainnya. Maka asesmen formatif dan sumatif sama-sama dibutuhkan dalam pembelajaran literasi anak SD di dan juga di semua lintas mata pelajaran. Selengkapnya.....

Sabtu, 02 September 2023

Pengembangan Materi Literasi SD berbasis AKM

Pengembangan materi literasi SD pada Kurikulum Merdeka harus diintegrasi dengan Asesmen Kompetensi Minimun (AKM). Sebelum membahas AKM, dalam modul ini dijelaskan dulu skema penjenjangan membaca/literasi pada anak. Penjenjangan ini senada dengan taksonomi Barrett yang memetakan pemahaman membaca dalam lima jenjang, yaitu pemahaman literal, reorganisasi, pemahaman inferensial, evaluasi, dan apresiasi.

Merujuk dengan Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka dan konsep pembelajaran literasi di atas, cakupan materi literasi anak SD dalam konteks ini terbagi atas dua aspek, yaitu di dalam pembelajaran mata pelajaran di luar pembelajaran lintas mata pelajaran. Pengembangan cakupan materi literasi SD ini merujuk kepada Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). AKM dalam Kurikulum Merdeka memiliki tujuan mengukur kompetensi mendasar peserta didik agar mereka dapat mengembangkan kompetensi diri dan berpartisipasi potifi di masyarakat (Wijaya et.al, 2021:ii). Cakupan AKM pada kemampuan menerapkan bahasa atau kemampuan literasi anak fokus pada tiga aspek, yaitu: 1. Keterampilan berpikir logis-sistematis. 2. Keterampilan bernalar dengan menerapkan konsep dan pengetahuan. 3. Keterampilan memilah dan memilih serta mengolah informasi yang didapat.

Dalam konteks literasi, anak-anak diajak untuk mengenal konten teks yaitu ada teksfiksi dan teksinformasi. Sedangkan konteksteks yaitu konteks personal,sosial-budaya,saintifik, menemukan informasi, menafsirkan dan mengintegrasikan informasi, mengevaluasi dan merefleksi (Wijaya et. al., 2021:12–22). Dalam konteks ini, pengembangan materi literasi harus selaras dengan AKM karena orientasi dari pembelajaran literasi adalah penguatan kemampuan anak yang distandardisasikan untuk menjawab soal-soal AKM sebagai pengganti UN.

Literasi dalam mata pelajaran fokus pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan merujuk pada Capaian Pembelajaran. Melalui Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka, pendidik dapat mengembangkan materi dan mendesain modul ajar yang relevan dengan gaya belajarsiswa, pengalaman belajar siswa, dan perkembangan zaman. Sedangkan materi integral lintas mata pelajaran dapat dikembangan oleh pendidikan di semua mata pelajaran dengan penguatan komponen literasi yang ada dan dikembangkan secara holistik sesuai Capaian Pembelajaran pada mata pelajaran tertentu. Selengkapnya.....

Selasa, 29 Agustus 2023

Pembelajaran Literasi Anak Sekolah Dasar

Pembelajaran literasi anak Sekolah Dasar (SD) menjadi bagian penting dalam rangka memajukan mutu dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pembelajaran literasi SD kelas dasar (1, 2, 3) dan kelas tinggi (4, 5, 6) memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Oleh karena itu, pembelajaran literasi SD harus dikuatkan karena menentukan keberlanjutan kemampuan literasi anak di jenjang SMP, dan SMA bahkan perguruan tinggi.

Dari riset-riset yang ada membuktikan kemampuan literasi di Indonesia masih rendah. Di era Revolusi Industri 4.0 literasi menjadi keterampilan pokok dalam menghadapi segala bentuk tantangan kehidupan. Ketika keterampilan literasi anak rendah maka berdampak pada rendahnya skills, keterampilan kerja, berpikir tingkat tinggi, produktivitas, dan rendahnya daya saing. Hal inilah yang mengharuskan pendidikan mengambil peran untuk menguatkan literasi di dalam pembelajaran. Sejumlah riset menemukan rendahnya kemampuan literasi anak dipengaruhi oleh berbagai aspek, terutama karena tidak menjadi fokus utama dalam pendidikan meskipun belakangan muncul berbagai kebijakan dari pemerintah. 

Riset pada 2017 oleh Central Connecticut State University, United States menyebut Indonesia berada pada nomor 60 dari 61 negara yang disurvei dalam bidang keterampilan literasi (Ratri, 2015:24; Khalifatussalam, 2021:4; Saraswati, 2020:125). Studi pada 15 artikel kurun 2018-2020 menemukan bahwa kemampuan literasi dan budaya baca pada siswa di Indonesia rendah. Hal ini dipengaruhi oleh kurang maksimalnya pembelajaran literasi, perpustakaan, dan pemanfaatan teknologi dengan benar (Pitoyo, 2020, p. 83). Jika kita melihat data yang dirillis Programme for International Student Assessment (PISA)sebagai indikator global dalam bidang literasi dari kurun 2000-2018 menempatkan Indonesia pada urutan yang kurang memuaskan.

Dalam konteks Kurikulum Merdeka sangat berbeda dengan Kurikulum 2013. Kurikulum Merdeka memiliki tiga karakteristik yang menonjol dibandingkan dengan Kurikulum 2013 termasuk di dalam pembelajaran literasi. Pertama, Kurikulum Merdeka mengarah kepada projek siswa di dalam pembelajaran dengn tujuan penguatan keterampilan lunak dan penguatan karakter mengacu Profil Pelajar Pancasila. Kedua, penguatan literasi yang dijadikan sebagai materi esensial. Ketiga, keluwesan pendidik dalam menyesuaikan materi sesuai konteks dan kearifan lokal (Kemdikbud, 2021b). Berangkat dari karakteristik di atas dan data kemampuan literasi yang masih rendah tiap tahunnya, maka ketika kemampuan literasi anak yang buruk dibiarkan akan berdampak tidak baik bagi kehidupannya mendatang. 

Literasi yang rendah berdampak pada hasil belajar anak, profesinya, bahkan kesejahteraan ekonomi ketika mereka dewasa (Dugdale, G., Clark, 2008). Hal ini diperkuat kondisi kemampuan literasi anak di Indonesia dari aspek membaca khususnya masih jauh dari harapan ideal. Dalam konteks Indonesia, literasi menjadi aspek pokok dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) sebagai pengganti Ujian Nasional. Pembelajaran literasi anak SD harus dikuatkan karena menjadi kemampuan bernalar dalam aspek bahasa dan sastra yang berorientasi pada karakter mengacu Profil Pelajar Pancasila yang selaras dengan aspek AKM. Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...