Tampilkan postingan dengan label belajar bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar bahasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2024

Pendekatan Komunikatif

a. Pengertian pendekatan komunikatif

Pendekatan komunikatif yaitu pendekatan saat pengimplementasiannya membutuhkan tahap-tahap supaya cara penyampaiannya bisa berlangsung seadanya (Nurhaliza and Anwar, 2019). Pendekatan komunikatif ialah kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa yang berlandaskan kepada pemikiran(Djuanda, 2008). Pendekatan merupakan komunikatif Pendekatan yang mengutamakan interaksi peserta didik dengan peserta didik dan memposisikan diri sebagai pokok pembicaraan, juga setiap peserta didik diwajibkan untuk berpartisipasi (Wahyuningsi, 2019). 

 b. Komponen-Komponen Pendekatan Komunikatif 

Ada empat komponen Pendekatan Komunikatif (Wahyuningsi, 2019): 1) Kemampuan gramatikal merupakan bagian kemampuan komunikatif meliputi pengetahuan tentang aspek leksikal dan aturan fonologi, semantik kalimat tata bahasa, sintaksis, dan morfologi. 2) Kemampuan wacana merupakan penyempurnaan dari kemampuan gramatikal. Kompetensi wacana yaitu kompetensi menghubungkan suatu kalimat dalam wacana dan kompetensi memahami suatu wacana. Jika kemampuan gramatikal meliputi tata bahasa pada suatu kalimat, maka kemampuan wacana meliputi hubungan antar kalimat 3) Kemampuan sosiolinguistik merupakan ilmu mengenai aturan sosial budaya wacana dan bahasa. Kemampuan ini memfokuskan mengenai konteks bermasyarakat meliputi informasi yang dibicarakan, fungsi interaksi, peran para partisipan. 4) Kemampuan strategis, suatu ilmu yang paling kompleks. Kemampuan strategis sebagai strategi komunikasi lisan dan tertulis yang bisa digunakan untuk menyepadankan komunikasi karena kemampuan tidak sesuai. 

c. Langkah-langkah pendekatan komunikatif 

Langkah-langkah pendekatan komunikatif menurut (Nurhaliza and Anwar, 2019) yaitu: (1)Menetapkan tujuan yang efektif; (2) pembuatan materi sesuai dengan peraturan yang dipakai (3) latihan berbahasa atau practice (4) alih pengetahuan atau transfer. d. Ciri-ciri pendekatan komunikatif Ciri-ciri pendekatan komunikatif menurut (Wahyuningsi, 2019) adalah sebagai berikut: 1) Realitas akan mendorong peserta didik untuk peserta didik atau aktivitas yang menunjukkan komunikasi sebenarnya 2) melaksanakan tugas-tugas yang bermakna akan membuat peserta didik untuk belajar merupakan tujuan aktivitas berbahasa 3) Mempersiapkan materi silabus komunikasi sesuai dengan analisis kebutuhan. 4) Kegiatan di kelas berpusat kepada peserta didik. 5) Guru berperan secara holistik, menganalisis kebutuhan peserta didik, dan mengatur kelompok. 6) Kegunaan alat mengajar adalah untuk membangkitkan komunikasi peserta didik yang intens.

e. Kelebihan Pendekatan Komunikatif 

Pendekatan komunikatif memiliki kelebihan yaitu: (Nurhaliza and Anwar, 2019) 1) Peserta didik lebih semangat belajar karena hari pertama belajar, langsung menggunakan bahasa asing/ disesuaikan dengan bahasa asing yang dipakai disekolah tersebut. 2) Peserta didik pasih berinteraksi, maksudnya memahami kemampuan gramatikal, strategis, sosiologi dan wacana. 3) Kondisi kelas menyenangkan dengan kegiatan interaksi antar peserta didik dengan bermacam model komunikasi dan gaya bahasa yang lumayan tinggi, menjadi sangat menyenangkan.

f. Prinsip-prinsip Pendekatan Komunikatif Menurut (Yunita and Rafael, 2022) ada tiga prinsip pendekatan komunikatif antara lain:  1) Materi ajar berpedoman pada bahasa sebagai alat berinteraksi atau berkomunikasi. 2) Konstruksi materi ajar terfokuskan pada proses pembelajaran bukan topik yang diajarkan 3) Matari pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk berinteraksi serta berkomunikasi secara natural.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google scholar        Research gate         Doi

Selasa, 23 April 2024

Pendekatan Whole language

Pendekatan whole language adalah teknik yang bertujuan dalam menyamakan persepsi mengenai pembelajaran bahasa, kemudian juga mengenai manusia yang ikut serta lingkungan tersebut (Hidayah, 2014). Pendekatan whole language merupakan pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, hal tersebut tentu didukung dengan pembelajaran yang holistik dan padat dalam mengajarkan keempat aspek pada kemampuan bahasa, yang terdiri dari menyimak, membaca, berbicara, dan menulis secara bersamaan (Sari, Kristanti and Nurjannah, 2020). Whole Language merupakan pendekatan yang cocok untuk pembelajaran bahasa yang mengajarkan secara komplet dan menyeluruh yang berhubungan dengan keterampilan bahasa (Yunita, 2017). 

Adapun komponen-komponen pendekatan Whole Language yang dijelaskan (Hidayah, 2014) yaitu: 

a. Reading aloud adalah guru dan peserta didik melakukan aktivitas membaca. Guru dituntut untuk membaca dengan lantang dan jelas dengan artikulasi dan indonasi yang baik sehingga peserta didik dapat mendengar dan memahami bacaan guru. Manfaat Reading aloud yaitu membimbing peserta didik dalam keterampilan menyimak, memperbanyak kosakata, membangkitkan minat dan pemahaman peserta didik. Tujuan reading aloud yaitu untuk membawa peserta didik belajar dalam waktu sekitar sepuluh menit. 

b. Jurnal writing atau menulis jurnal adalah teknik yang cocok untuk menulis sesuai dengan apa yang ada dalam hati dan pikiran menceritakan apa saja yang sudah dilalui, lingkungan sekitar, dan hal-hal lainnya dalam penerapan bahasa dalam bentuk tulisan. Kegunaan menulis jurnal yaitu dapat meningkatkan (1) keterampilan menulis; (2) keterampilan membaca; (3) keberanian mengambil atau menghadapi resiko; (4) keinginan peserta didik untuk refleksi; (5) merasakan perasaan dan pengalaman pribadi; (6) tempat yang nyaman untuk menulis difasilitasi; (7) keterampilan berpikir; (8) kesadaraan akan peraturan menulis; (9) mempermudadah dan pengevaluasian (10) tercatat sebagai dokumen tertulis 

 c. Sustained Silent Reading, adalah peserta didik melakukan aktivitas membaca dalam hati. Buku bacaan atau materi dapat dipilih sendiri oleh peserta didik. Pesan ya g didapat dari kegiatan ini yaitu (1) membaca bisa menjadi aktivitas yang disenangi (2) siapapun bisa melakukan aktivitas membaca (3) terjadinya kumunikasi dengan penulis buku atau teks yang dibaca dengan cara membaca (4) peserta didik dapat berkonsentrasi dalam membaca cukup lama pada bacaan. (5) guru percaya akan pemahaman peserta didik dalam membaca teks. 6) Setelah Sustained Silent Reading berakhir peserta didik dapat berbagi pengetahuan. d. Shared Reading, merupakan guru dan peserta didik mempunyai buku yang dibaca, kemudian melakukan aktivitas membaca bersama. Kegiatan ini dapat dilakukan di sekolah dasar sampai saat belajar diperkuliahan. Tujuan aktivitas ini yaitu (1) peserta didik memperhatikan guru membaca sebagai model sambil melihat tulisan peserta didik; (2) peserta didik diberikan kesempat dalam menyampaikan apa yang sudah dibacanya (3) Guru berperan sebagai model dapat memberikan contoh cara membaca yang benar kepada peserta didiknya. 

Pendekatan Whole Language memiliki beberapa ciri-ciri menurut (Hidayah, 2014) yaitu: a. Kelas yang mengimplementasikan whole language dipenuhi dengan hasil karya berupa barang. Hasil karya tersebut dapat dipajang di dinding kelas, pintu kelas dan lain-lain. b. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik belajar melalui guru. Pendidik sebagai model yang ideal dalam berbahasa, contoh saat aktivitas berbicara, menulis, serta membaca. c. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik baraktivitas dan mempelajari materi sesuai dengan daya tangkap peserta didik. d. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik dapat membagi tugas dalam pembelajaran. e. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik ikut berperan sehingga pembelajaran menjadi bermakna. f. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik mampu terjun langsung berperan dan bebas mencoba hal-hal baru. g. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik memperoleh umpan balik yang positif dari pendidik serta dari peserta didik lainnya.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut;

Beli Buku        Google Scholar           Research gate        DOI

Rabu, 17 April 2024

Keterkaitan Antar Aspek Keterampilan Berbahasa

 1. Hubungan Berbicara dengan Menyimak 

Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan yang berbeda namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbia. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, bertelepon, tanya-jawab, interviu, dan sebagainya. Contohnya, anak kecil akan meniru atau berbicara menggunakan bahasa yang didengarnya. Untuk itu orang tua ataupun guru diharuskan menjadi model berbahasa yang baik, supaya anak-anak tidak menirukan pembicaraan yang salah atau tidak baik didengar. Berbicara dan menyimak merupakan keterampilan yang saling melengkapi, keduanya saling bergantung. Keduanya fungsional bagi komunikasi dan tidak dapat dipisahkan. Ibarat mata uang, sisi depan ditempati kegiatan berbicara dan sisi belakang ditempati kegiatan menyimak. Mata uang tidak akan laku bila salah satu sisinya tidak terisi. Maka komunikasi lisan pun tidak dapat berjalan bila kedua kegiatan tidak berlansung saling melengkapi. 

2. Hubungan Menyimak dengan Membaca 

Menyimak dan membaca sama-sama merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Menyimak berkaitan dengan penggunaan bahasa ragam lisan, sedangkan membaca merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Pada saat menyimak fokus perhatian berupa suara (bunyi-bunyi), sedangkan pada saat membaca fokus perhatian adalah lambang tulisan. Kemudian, baik penyimak maupun pembaca melakukan aktivitas pengidentifikasian terhadap unsur-unsur bahasa yang berupa suara (dalam menyimak) maupun berupa tulisan (dalam membaca), yang selanjutnya diikuti dengan proses decoding (proses menafsirkan suatu pesan dalam bahasa/proses pengubahan suatu kode menjadi makna) guna memperoleh pesan yang berupa konsep, ide atau informasi sebagaimana yang dimaksudkan oleh si penyampainya. Aktivitas membaca dapat membantu seseorang memperoleh kosakata yang berguna bagi pengembangan kemampuan menyimak pada tahap berikutnya. 

3. Hubungan Berbicara dengan Membaca 

Berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana, dan fungsi. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi. Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.

 4. Hubungan Berbicara dengan Menulis 

Berbicara dan menulis bersifat produktif-ekspresif. Keduanya berfungsi sebagai penyampai informasi. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis. Informasi yang digunakan dalam berbicara dan menulis diperoleh melalui kegiatan menyimak ataupun membaca. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan dalam kegiatan berbicara menunjang keterampilan menulis. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan menunjang keterampilan berbicara Kemampuan berbicara tidak hanya mempunyai hubungan timbal balik dengan kemampuan mendengarkan, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan menulis dan membaca. Seorang pembicara yang baik, umumnya mempunyai persiapan tertulis. Sebaliknya pendengar yang baik juga merasa perlu membuat catatan-catatan tertentu, terutama kalau dia ingin mengemukakan tanggapan terhadap pokok pembicaraan tersebut.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut ini:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        DOI

Selasa, 16 April 2024

Keterampilan Menulis (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan menulis permulaan 

Keterampilan menulis permulaan adalah suatu kegiatan melukis atau menyalin gambar atau lambang-lambang bunyi bahasa ke dalam wujud lambang-lambang tertulis yang dapat dikenali secara konkrit sesuai dengan tata cara menulis yang baik dalam proses belajar menulis bagi peserta didik sekolah di kelas awal. 

2. Tujuan Menulis Permulaan 

Setiap penulis pasti ada tujuan untuk menuangkan ide, pikiran dan gagasan serta perasaan melalui bahasa tulis, bai bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Adapun tujuan menulis permulaan adalah: a. Dapat memproduksikan tulisan eja seperti e,d,f,k,j b. Dapat berupa suku kata seperti su-ka kedalam suatu bentuk kalimat. c. Agar dapat memahami cara menulis permulaan dengan ejaan yang benar dan mengkomunikasikan ide/pesan secara tertulis.

3. Tahap-Tahap Menulis Permulaan 

Menulis permulaan dimulai dengan pengenalan terhadap cara memegang pensil yang benar. Tingkat permulaan, kegiatan menulis lebih didominasi oleh hal-hal yang bersifat mekanis. Kegiatan mekanis yang dimaksud dapat berupa: a. Sikap duduk yang baik dalam menulis. b. Cara memegang pensil/alat tulis. c. Cara memegang buku. d. Melemaskan tangan dengan cara menulis di udara. Pengenalan huruf dengan menulis di kelas rendah dapat dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan perkembangan siswa, yaitu: a. Menulis permulaan dengan huruf kecil b. Menulis tegak bersambung c. Menulis permulaan dengan huruf capital pada huruf awal kata permulaan kalimat. 

4. Metode keterampilan menulis permulaan 

a. Metode eja 

Metode eja pada dasarnya menggunakan pendekatan harfiah, artinya belajar membaca dan menulis dimulai dari huruf-huruf yang dirangkai menjadi suku kata. 

b. Metode kata lembaga 

Metode kata lembaga di mulai dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Memperkenalkan kata 2) Menggabungkan kata antar suku kata 3) Menguraikan suku kata atas huruf-hurufnya 4) Menggabungkan huruf menjadi kata 

 c. Metode global 

Metode global mengembangkan kalimat dengan kata-kata dan mengembangkan kata-kata menjadi suku kata. 

d. Metode sas 

Metode SAS merupakan metode yang dimulai dengan pendeekatan bercerita yang disertai dengan gambar yang di dalamnya menggandung dialog.

5. Keterampilan Menulis Lanjutan 

Keterampilan menulis lanjutan adalah menulis merupakan pemindahan pikiran atau perasaan dengan menggunakan tulisan, struktur bahasa, dan kosakata dengan menggunakan simbol-simbol sehingga dapat dibaca. Untuk mencapai tujuan dalam keterampilan menulis di sekolah dasar harus dimulai dari tahap yang paling sederhana, lalu dilanjutkan pada hal yang sederhana menuju hal yang biasa, hingga pada hal yang paling sukar. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang menulis. 

6. Metode Keterampilan Menulis Lanjutan 

 a. Metode Langsung 

Metode langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar peserta didik tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan  deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang penting: fase persiapan dan motivasi, fase demonstrasi, fase pembimbingan, fase pengecekan, dan fase pelatihan lanjutan. Sebagai contoh: guru menunjukkan gambar banjir yang melanda suatu sebuah desa atau melihat langsung peristiwa banjir di sebuah desa. Dari gambar tersebut, peserta didik dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.

b. Metode Komunikatif 

Desain yang bermuatan metode komunkatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikasikan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebagai contoh: metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Peserta didik menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah akivitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan ataupun kelompok. 

c. Metode Integratif 

Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Integrtif terbagi menjadi dua bagian: interbidang studi dan antar bidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Sebagai contoh: menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Adapun antarbidang studi artinya pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Sebagai contoh: antara bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lain. 

d. Metode Tematik 

Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan peserta didik. 

e. Metode Konstruktivistik 

Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstruktivistik dimulai dari masalah yang sering muncul dari peserta didik sendiri dan selanjutnya membantu peserta didik menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. 

f. Metode Kontekstual 

Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis, yakni konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dengan kehidupan pembelajaran yang memotivasi peserta didik agar menghubungkan pengetahuan dan penerapannya dengan kehidupan sehari-hari.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

DOI        Research gate        Google scholar        Beli Buku

Sabtu, 16 Desember 2023

Model Pembelajaran Bahasa

Model pembelajaran tentu sudah tidak asing dalam kegiatan belajar dan mengajar. Model pelajaran sebagai cara yang dipilih guru untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Model pelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi, misalnya; kategori mata pelajaran, cakupan materi, usia, level sekolah lingkungan sekitar dan lain-lain. Namun, jika salah memilih model pembelajaran akan menjadi tidak oftimal atau tidak berfungsi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan dan budaya (Kemendikbud, 2014).

Model pembelajaran berperan untuk membentuk pola pembelajaran berpusat pada siswa. Model pembelajaran merupakan prosedur sistematis dalam mengelola kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap pembelajaran akan menggunaka model pembelajaran yang sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan siswa. Bahasa Indonesia sebagai bidang ilmu yang dipelajari di semua level pendidikan Indonesia mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Empat keterampilan berbahasa yakni membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Model pembelajaran membaca dapat dilakukan dengan pendekatan proses menggunakan strategi anticipation guide, strategi DRTA (directed, reading, thinking activity), strategi KWLA (know, want, learned, affect), strategi directed inquiry activity, strategi OH RATS (overview, headings, read, answer, test-study), strategi SQ3R (survey, question, read, recite, and review), strategi ECOLA (extending, concept, throught, language, activity).

Sementara model menulis dengan pendekatan proses dapat dilakukan dengan strategi sentence collection, sedangkan pembelajaran sastra menggunakan model strata, induktif, analisis, sinektik, bermain peran, sosiodrama dan simulasi (Syamsi, 2010). Pada kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka ada tiga model pembelajaran yang ditekankan untuk digunakan dalam proses pembelajaran yakni; 1) Problem based learning/PBL, 2) Project based learning/PjBL, dan 3) Discovery learning/DL. Model-model pembelajaran selalu berkembang menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Para ahli dan akademisi selalu berusaha untuk mengembangkan model pembelajaran. 

Pengembangan model pembelajaran untuk menciptakan kondisi belajar yang bermakna dan siswa dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan nyata. Adapun model-model pembelajaran yang popular dalam kondisi wabah diantaranya; 1) model ASIIK, 2) model SOLE, 3) model Flipped Classroom, 4) model Blended Learning, 5) Model Descovery-Inquiry, 6) Model Game. Selengkapnya dapat diakses dengan link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate     DOI

Sabtu, 09 Desember 2023

Belajar Bahasa Indonesia

Berbahasa tidak datang tiba-tiba, selalu ada proses didalamnya apapun bahasanya. Ada proses mendengarkan, menirukan, melafalkan, pengulangan dan lain sebagainya. Berbahasa terbagi menjadi dua aspek besar yakni kompetensi berbahasa dan praktis berbahasa. Belajar berbahasa dalam rangka melakukan kegiatan berbahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa tertentu. Komunikasi terkategori dalam tataran praktis berbahasa.

Berkomunikasi yang baik dengan orang lain atau lingkungan masyarakat sudah pasti butuh belajar agar tidak ada miskomunikasi atau kesalahan memahami stimulus yang diberikan. Dalam belajar bahasa menggunakan pendekatan komunikatif menekankan pada tujuan pembelajaran yang mengutamakan penggunaan bahasa secara baik dan benar oleh peserta didik di lingkungan pendidikan ataupun lingkungan sosial (Mulyaningsih, 2017).

Belajar bahasa dapat dikaji dengan mendalam menggunakan teori Noam Chomsky. “Chomsky’s UG is a significant theory in the field of linguistics” (Md. Enamul, 2020). Berbahasa untuk berkomunikasi yang bermakna. Perkembangan bahasa seseorang melalui proses yang dipengaruhi berbagai hal, misalnya perkembangan usia, lingkungan sekitar dan lain sebagainya. Perkembangan bahasa terus berlangsung sepanjang hayat dan dipengaruhi berbagai faktor seperti biologis, kognitif dan sosial-emosional (Arnianti, 2019).

Belajar bahasa bukan hanya sekedar struktur berbahasa. Namun, belajar berbahasa terkait dengan moral, norma, nilai dan budaya. Bahasa sebagai sarana penghubung dengan lingkungan yang lebih luas, maka muncul istilah bahasa nasional dan bahasa internasional. Semakin banyak bahasa yang dikuasai sesorang akan memudahkan untuk berkomunikasi dan sarana pergaulan yang luas. Manusia tidak dapat dipisahkan dengan bahasa, maka belajar bahasa sepanjang usia menjadi suatu kebutuhan. Buku lengkapnya dapat diakses dibeberapa link berikut:

Beli Cetak/ Non-cetak      Google Scholar      Research Gate            DOI

Sabtu, 02 Desember 2023

Konsep Belajar Bahasa Indonesia

Konsep merupakan abstraksi pemikiran yang merinci atau langkah-lakanh yang akan diambil saat melakukan aktivitas. Konsep adalah sesuatu yang dikandung dalam pikiran: prinsip, ide, pemikiran umum atau abstrak atau gagasan (Safdar et al., 2012). Belajar merupakan suatu keharusan yang mesti dilakukan insan agar tercipta perubahan yang lebih baik, bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar. Konsep belajar yang baik adalah belajar yang dilakukan dengan kesadaran, karena kebutuhan akan ilmu untuk memecahkan semua permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Belajar selayaknya terus dilakukan selagi masih bernafas dan jiwa masih bersama raga. Menjalani kehidupan tanpa ilmu akan mengalami banyak tantangan. Jika ingin memperoleh kebahagian dunia dan akhirat hendaklah berilmu, sejatinya ilmu didapatkan dengan proses belajar.

Belajar bukan lagi aktivitas internal individualistik untuk mencari solusi permanen (Behlol, 2010). Belajar dapat dilakukan dimana saja dan belajar juga bisa dilakukan bersama siapa saja. Belajar tidak selalu berada diruang kelas, menggunakan buku, pena dan komputer. Alam semesta baik benda mati dan makhluk hidup merupakan sumber belajar bagi semua orang. Kita tidak boleh menganggap belajar sebagai gagasan sederhana tentang intraksi sehari-hari antara guru dan siswa di sekolah (Outcomes & Terms, 2007). Belajar menjadikan perubahan sikap yang membawa pada perkembangan keterampilan yang belum pernah dimiliki sebelumnya. Belajar berprogres dalam kebaikan dan perubahan. Belajar adalah tentang perubahan; perubahan yang dibawah dengan mengembangkan keterampilan baru, memahami hukum ilmiah dan mengubah sikap (Sequeira, 2018). Buku lengkapnya dapat diakses dibeberapa link berikut:

Beli Buku Digital dan Cetak

Google Schoolar

DOI

Research Gate


Minggu, 25 Juni 2023

KONSEP BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SD PADA KURIKULUM MERDEKA

Salah satu hal baru dalam pendidikan di Indonesia adalah kurikulum merdeka. Pada kurikulum tersebut dilakukan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal supaya peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Pembelajaran merupakan suatu proses belajar yang di dalamnya terdapat interaksi antara pendidik dan peserta didik. Menurut (Fatimah, 2018), pembelajaran adalah sebuah peningkatan pengetahuan, proses mengingat, dan proses mendapatkan fakta-fakta atau keterampilan yang dapat dikuasaiserta digunakan sesuai kebutuhan. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di jenjang SD sampai jenjang perguruan tinggi menekankan penggunaan bahasa Indonesia secara benar. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah memiliki tujuan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa pada peserta didik, baik secara lisan maupun tulisan. Peserta didik diharapkan mempunyai keterampilan berbahasa karena bahasa memegang peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi, sehingga bahasa dan sastra Indonesia merupakan salah satu aspek yang penting untuk diajarkan pada peserta didik. Oleh karena itu, mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia sudah diberikan kepada peserta didik sejak jenjang SD. Harapannya, peserta didik mampu menguasai, memahami, dan mengimplementasikan keterampilan berbahasa dan sastra Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Menurut (Ali, 2020), keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat aspek, yaitu (1) listening skills, (2) speaking skills, (3) reading skills, dan (4) writing skills. Keterampilan membaca, menyimak, menulis, dan berbicara memiliki peranan yang sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Keterampilan tersebut mampu menunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang keilmuan. Selain keterampilanketerampilan tersebut, pemahaman peserta didik terkait tata linguistik (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) dalam bahasa dan sastra Indonesia di SD juga memiliki peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep bahasa dan sastra Indonesia di SD diharapkan dapat membantu peserta didik dalam mengenal dirisendiri dan budayanya,serta mengenal orang lain dan budayanya. Dengan mempelajari bahasa dan sastra Indonesia diharapkan pembelajar dapat mengemukakan gagasan dan perasaannya, berpartisipasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, menemukan dan menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang terdapat pada diri sendiri. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal tersebut dilakukan secara lisan dan tulisan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra masyarakat dalam dan luar Indonesia. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia merupakan pembelajaran yang mendasar dan sudah diajarkan sejak usia dini. Bahasa dan sastra Indonesia mempunyai peranan yang penting dalam pembelajaran sehingga kurikulum bahasa dan sastra Indonesia di SD memiliki beberapa karakteristik pokok, yaitu menggunakan pendekatan komunikatif, keterampilan proses, tematik yang terintegratif, dan lintas kurikulum.

Selain itu, bahasa dan sastra Indonesia mengutamakan variasi, kealamian, kebermaknaan, dan fleksibilitas. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia menggunakan metode pembelajaran yang inovatif dan memberikan peluang kepada pendidik dan peserta didik untuk menggunakan berbagai referensi atau sumber belajar. Pada Kurikulum Merdeka sesuai dengan Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, danAsesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 008/H/Kr/2022, dengan memberikan penjelasan mengenai kemampuan berbahasa, bersastra, dan berpikir merupakan fondasi dari kemampuan literasi. Semua bidang kajian, bidang kehidupan, dan tujuan-tujuan sosial menggunakan kemampuan literasi. Literasi menjadi kemampuan sangat penting yang digunakan untuk bekerja dan belajarsepanjang hayat. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia merupakan pembelajaran literasi untuk berbagai tujuan berkomunikasi dalam konteks sosial budaya Indonesia.

Kemampuan literasi dikembangkan ke dalam pembelajaran menyimak, membaca dan memirsa, menulis, berbicara, dan mempresentasikan untuk berbagai tujuan berbasis genre yang terkait dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan. Setiap genre memiliki tipe teks yang didasarkan pada alur pikir—struktur—khas teks tertentu. Tipe teks merupakan alur pikir yang dapat mengoptimalkan penggunaan bahasa untuk bekerja dan belajar sepanjang hayat. Model utama yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah pedagogi genre. Model ini memiliki empat tahapan, yaitu: penjelasan untuk membangun konteks (explaining, building the context), pemodelan (modelling), pembimbingan (joint construction), dan pemandirian (independent construction). Di samping pedagogi genre, pembelajaran bahasa Indonesia dapat dikembangkan dengan modelmodel lain sesuai dengan pencapaian pembelajaran tertentu. Pembinaan dan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia akan membentuk pribadi Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berpikir kritis, mandiri, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global. Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...