Tampilkan postingan dengan label Implementasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Implementasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Sastra Anak

Pembelajaran sastra termasuk dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam implementasinya pembelajaran ini terintegrasi dengan empat keterampilan berbahasa. Sastra anak diartikan sebagai suatu karya seni imajinatif yang disampaikan melalui bahasa yang dapat dipahami oleh anak 6–13 tahun (Yarni & Kaban, 2015). Sastra anak didefinisikan sebagai karya sastra yang berisi terkait dunia yang akrab dengan anak-anak (Rambe & Widiyarti, 2018). Karya sastra ini berisikan nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai pedoman tingkah laku siswa. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka pembelajaran sastra anak dimaknai sebagai kegiatan pembelajaran berupa karya seni imajinatif tentang dunia akrab anak yang disampaikan melalui bahasa pada anak usia 6-13 tahun.

Sastra sangat penting sekali diajarkan pada siswa di sekolah. Hal ini dikarenakan pada sastra mengandung nilai pendidikan yang dapat mendukung pembentukan karakter siswa, mengajarkan berbagai keterampilan berbahasa, mengembangkan pengetahuan budaya; dan meningkatkan cipta dan rasa (Susanti, 2015). Banyak sekali manfaat yang didapat dari pembelajaran sastra sehingga guru perlu mengajarkannya agar siswa tertarik dengan sastra. Rambe &Widiyarti (2018) menambahkan sastra juga meningkatkan kreativitas dan imajinasi serta menghibursiswa. 

Sastra dapat membuat siswa merasa bahagia, tertarik membaca, senang menyimak cerita dan memperoleh kepuasan batin yang dapat mendorong kecerdasan emosinya. Pembelajaran sastra dapat diajarkan melalui beberapa bentuk sastra seperti puisi, prosa, dan drama. Guru dapat mengajarkan berbagai bentuk sastra sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan karakteristik siswa. Keberhasilan pembelajaran sastra dipengaruhi oleh pemilihan bahan materi yang akan dijarkan guru meliputi tingkat keterbacaan dan kesesuaian (Yarni & Kaban, 2015). 

Guru hendaknya memilih materi sastra yang mudah dibaca, dipahami, dan dinikmati siswa. Tingkat kesesuaian berkaitan dengan kesesuaian dengan usia siswa dan lingkungan sekitar siswa hidup. Selain itu, guru harus mempertimbangkan nilai pendidikan yang diajarkan pada sastra tersebut sehingga setelah membaca sastra diharapkan siswa dapat mengimplementasikan nilai pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Teknik yang dapat digunakan dalam mengimplementasikan pembelajaran prosa yakni mendengarkan cerita, membaca cerita, membuat ringkasan cerita, bertukar pengalaman, dan menganalisis cerita. Selengkapnya.....

Selasa, 11 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Menulis

Menulis adalah keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Menulis diartikan sebagai keterampilan dalam mewujudkan gagasan, ide dan perasaan dalam wujud bahasa tulis sehingga pembaca dapat memahami tulisan dengan baik (Rambe & Widiyarti, 2018). Dalam menulis, seseorang dituntut untuk menghasilkan sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh orang yang pembaca. Menulis yakni komunikasi secara tidak langsung berwujud pemindahan gagasan melalui grafologi, struktur bahasa dan kosakata dengan simbol-simbol sehingga dapat dibaca (Syarif et al., 2009). Menulis dimaknai juga sebagai kegiatan mengemukakan pikiran dan perasaan melalui lambang berupa tulisan (Siddik, 2016). 

Tulisan yang ditulis mengandung pesan atau informasi yang ingin disampaikan. Beberapa pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa menulis adalah keterampilan dalam mengemukakan gagasan, pikiran dan perasaan melalui sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh pembaca. Dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas dibutuhkan keterampilan menulis. Menulis dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kerja sama dan percaya diri siswa (Yarmi, 2017). Melalui menulis siswa dapat menuliskan apa yang ada di pikirannya yang mungkin dapat bermanfaat untuk pembaca.

Siswa juga dapat meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas. Tanpa menulis proses pembelajaran tidak dapat berjalan dengan baik, karena semua mata pelajaran membutuhkan keterampilan menulis. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk membimbing siswanya agar dapat menulis dengan baik. Proses keterampilan menulis di sekolah dasar dibagi menjadi dua tahap yaitu menulis permulaan dan menulis lanjut. Menulis permulaan mencakup kegiatan persiapan menulis dengan mengajarkan siswa cara memegang pensil, menulis huruf dan menggabungkan menjadisuku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat (Rambe & Widiyarti, 2018). 

Menulis permulaan ditujukan pada kelas rendah. Sehingga tahap ini lebih difokuskan pada keterampilan dasar menulis. Siswa yang sudah mahir dalam menulis permulaan dapat melanjutkannya pada menulis lanjut. Menulislanjut mencakup: 1) kegiatan mengembangkan paragraf; 2) menulislaporan dan surat; 3) mengembangkan karangan; dan 4) menulis naskah drama dan puisi. Tahap lanjut ini siswa didorong untuk dapat menuangkan ide pikirannya dalam tulisan. Faktor yang mempengaruhi kegiatan menulis yakni faktor internal dan eksternal (Syarif et al., 2009). 

Faktor internal meliputi faktor psikologis dan teknis. Faktor psikologis berkaitan dengan kebiasaan dan pengalaman yang dimilikisiswa. Intensitas kegiatan menulissiswa akan berpengaruh terhadap kualitastulisannya. Faktor teknis berkaitan dengan penguasaan siswa dalam menggunakan teknik menulis. Siswa dapat memahami cara menulis yang baik dan bahan tulisan yang akan ditulis. Faktor eksternal yakni fasilitas pendukung yang ada disekitarsiswa. Sarana dan prasarana sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam menulis. Guru harus mampu memberikan lingkungan yang nyaman dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Capaian pembelajaran menulis dibagi menjadi fase A, fase B, dan fase C. 

Fase A (kelas 1–2) meliputi: 1) siswa dapat menguasai keterampilan menulis permulaan; 2) siswa dapat mengembangkan tulisan tangan dengan baik; dan 3)siswa dapat menuliskan teks deskripsi menggunakan beberapa kalimat sederhana, menulis pengalaman diri, menulis teks fiksi yang dibaca atau didengar, menulisteks prosedur dan teks eksposisi. Fase B (kelas 3–4) mencakup: 1)siswa dapat menulisteks narasi, deskripsi, rekon, prosedur dan eksposisi; dan 2) siswa dapat menulis tegak bersambung. Fase C (kelas 5–6) yakni: 1) siswa dapat menulis teks eksplanasi, laporan dan eksposisi, hasil pengamatan; 2) siswa dapat menggunakan kaidah kebahasaan dan kesastraan dalam menulis teks, menggunakan kosakata baru yang mempunyai makan kiasan, denotatif,dan konotatif; dan 3) siswa dapat mengutarakan perasaan berdasarkan fakta dan imajinasi dalam wujud prosa dan puisi. 

Capaian pembelajaran fase A lebih fokus pada menulis permulaan, sedangkan fase B dan C lebih ditujukan pada menulis lanjut. Metode menulis dapat digunakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Selain metode, media juga penting digunakan dalam pembelajaran menulis. Media akan memudahkan siswa dalam menerima materi pembelajaran. Media yang digunakan sebaiknya bersifat kontekstual dan sesuai dengan karakteristik siswa. Selengkapnya.....

Senin, 10 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Berbicara dan Mempresentasikan

Keterampilan berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa yang diajarkan pada siswa sekolah dasar. Berbicara diartikan sebagai keterampilan dalam mengucapkan bunyi artikulasi untuk mengutarakan gagasan, pikiran dan perasaan (Rambe & Widiyarti, 2018). Berbicara tidak hanya merujuk pada pengucapan kata-kata saja akan tetapi juga menyampaikan tujuan gagasan yang ditata dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan penyimak. Hanum & Fakhrur juga menjelaskan bahwa berbicara sebagai kemampuan dalam melisankan bunyi artikulasi untuk menggambarkan, menyatakan dan menjelaskan informasi atau pesan. Pembicara memiliki maksud tertentu dalam menyampaikan pesan tersebut. Berbicara merupakan kemampuan dalam melafalkan kata untuk mendeskripsikan, menyatakan dan menjelaskan isi pikiran, gagasan dan perasaan (Yarni & Kaban, 2015). Beberapa definisi tersebut dapat disintesiskan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang dalam melisankan bunyi artikulasi berupa kata-kata untuk menggambarkan, menyatakan dan menjelaskan pikiran, gagasan dan perasaan. 

Mempresentasikan adalah keterampilan tambahan yang ada pada kurikulum merdeka. Mempresentasikan merupakan kemampuan menjelaskan pokok pikiran dan tanggapan secara jelas, teliti dan bertanggung jawab dengan komunikatif melalui berbagai jenis media. Jadi siswa dilatih untuk mampu berbicara di depan banyak orang terkait dengan materi yang sedang diajarkan oleh guru. Salah satu siswa presentasi dan siswa lainnya mendengarkan dan menanggapi. Berbicara sebagai keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap siswa sekolah dasar. Melalui berbicara, maka siswa dapat berkomunikasi dengan guru, teman dan orang lainnya. 

Berbicara juga membantu siswa dalam mengutarakan isi pikiran (Sukma & Saifudin, 2021). Dalam proses pembelajaran diperlukan komunikasi yang lancar antara siswa dan guru sehingga dapat mendorong keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berbicara dapat menjadikan siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran. Tanpa adanya keterampilan berbicara maka proses pembelajaran akan terhambat dan materi pembelajaran tidak dapat tersampaikan dengan baik. Hal ini dikarenakan melalui keterampilan berbicara siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir, menyimak, membaca dan menulis (Aufa et al., 2020). Sedangkan keterampilan mempresentasikan juga penting dikuasai untuk melatih kemampuan siswa berbicara di hadapan orang banyak dan meningkatkan kepercayaan diri siswa. Keterampilan ini harus dibiasakan agar keterampilannya berkembang yang akan berguna bagi dirinya dan orang sekitar. Proses berbicara memerlukan paling sedikit dua orang, satu sebagai pembicara dan satunya lagi sebagai penyimak. 

Pembicara juga harus memperhatikan beberapa hal meliputi: 1) memilih kata yang tepat; 2) isi pesan dapat dinalar dan tersusun sistematis; 3) struktur kalimat yang digunakan jelas dan sesuai SPOK; dan 4) suara yang diucapkan mudah didengar dan dipahami (Yarni & Kaban, 2015). Beberapa aspek tersebut dapat dilakukan agar kegiatan berbicara dapat terlaksana dengan efektif, pembicara dapat menyampaikan isi pesan dan pendengar dapat menerima dan memahami apa yang disampaikan. Proses keterampilan memirsa juga tidak jauh dari keterampilan berbicara. Dua keterampilan itu berkaitan dengan kegiatan komunikasi. Kehidupan sehari-hari siswa tidak terlepas dari keterampilan berbicara. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan berbicara yakni faktor keluarga dan sekolah (Magdalena et al., 2021). Faktor keluarga berkaitan dengan intensitas orang tua dalam melatih siswa berbicara. Hal ini berkaitan dengan proses komunikasi orang tua pada siswa di kehidupan sehari-hari. Faktor sekolah berhubungan dengan pembiasaan yang diberikan guru untuk bicara dengan orang lain. Guru memiliki tanggung jawab untuk melatih siswa dalam berbicara. Keberhasilan keterampilan berbicara yang dicapaisiswa harus mendapatkan dukungan dari kedua faktor tersebut. Capaian pembelajaran berbicara dan mempresentasikan dibagi menjadi beberapa fase. 

Capaian pembelajaran pada fase A (kelas 1-2) meliputi: 1) siswa dapat berbicara dengan santun, volume dan intonasi yang tepat; 2)siswa dapat bertanya, menjawab dan memberikan komentar dengan baik; 3)siswa mampu menyampaikan pokok pikirantanpa bantuan gambar; dan 4) siswa dapat menceritakan kembali suatu informasi dan teks cerita. Fase B (kelas 3-4) yakni: 1) siswa dapat berbicara dengan santun, intonasi dan volume tepat; 2)siswa dapat menyampaikan gagasan melalui percakapan dan diskusi; dan 3) siswa dapat menceritakan kembali informasi yang didapat dari bacaan dan hasil simakan. Fase C (kelas 4-6) yakni: 1) siswa dapat menjelaskan informasisecara lian untuk menghibur dan meyakinkan pendengar; 2) siswa dapat mengutarakan perasaan berdasarkan imajinasi dan fakta dalam bentuk puisi dan prosa; dan 3) siswa dapat mempresentasikan ide pokok, hasil pengamatan dan pengalaman dengan logis, runtut, efektif, kreatif dan kritis.

Capaian pembelajaran tersebut dapat diimplementasikan melalui berbagai metode berbicara. Guru harus memilih metode pembelajaran yang akan digunakan sehingga pembelajaran berbicara dapat dilaksnakan secara maksimal. Dalam pemilihan metode yang baik, guru harus menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan kebutuhan siswa. Metode yang dipilih harus mampu mendorong siswa untuk aktif berbicara dan meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu, lingkungan belajar juga harus dikondisikan untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Siswa perlu diberikan motivasi yang tinggi dengan pemberian pujian, hadiah, nilai dan sebagainya agar siswa tertarik untuk mau berbicara dan mempresentasikan. Selengkapnya.....

Jumat, 07 Juli 2023

Cara mengembangkan KD dan Indikator

Dari capaian pembelajaran yang ditetapkan dari pemerintah ini diharapkan masing-masing guru dapat menurunkan ke dalam KD dan indikator. Satu CP dapat diturunkan menjadi beberapa KD dan Indikator. Bagaimana caranya menurunkan CP menjadi KD dan indikator? Yang pertama guru harus membaca dengan jeli capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. Kedua, guru harus memahami Kata Kerja Operasional (KKO) Taksonomi Bloom, mulai C1 – C6 disemua ranah (afektif, kognitif dan psikomotorik). Ketiga, guru harus dapat memformulasi kedalaman dan keluasan materi dari KKO yang ditetapkan tersebut menjadi KD dan indikato di 3 ranah (afektif, kognitif, psikomotik). Keempat, guru harus dapat menghadirkan materi yang relevan dengan KD dan indikator yang dia turunkan dari CP. Munsenmaier dan Rubin (2013) dalam (Ching & Da Silva, 2017) menyarankan pertanyaan model untuk diperkenalkan di bawah setiap tingkat taksonomi Bloom, dengan mempertimbangkan bahwa itu adalah sebagai alat untuk belajar. (Ching & Da Silva, 2017) kemudian mengadaptasi pertanyaan untuk setiap tingkatan taksonomi.

  1. Mengingat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mendefinisikan istilah, mengidentifikasi fakta dan menemukan informasi atau konten tentang subjek, dan juga kriteria yang membantu siswa: Mendefinisikan informasi? Sebutkan fakta? Baca informasi? Buat daftar fakta atau detail? Menemukan fakta atau ide? Ambil informasi? Jelaskan informasi? Mengenali fakta atau ide dalam konteks?
  2. Memahami tujuan untuk membantu siswa menghubungkan pembelajaran baru dengan pembelajaran sebelumnya pengetahuan; kriteria untuk membantu siswa: Ringkasan fakta dan ide? Nyatakan kembali metode atau prosedur? Menafsirkan hubungan? Parafrase informasi? Memprediksi konsekuensi? Berikan contoh? Menceritakan kembali peristiwa? Menceritakan kembali informasi dengan kata-kata sendiri? Nyatakan masalah dengan kata-kata sendiri? Jelaskan ide atau konsep? Tentukan pentingnya?
  3. Menerapkan bertujuan untuk memberikan kesempatan untuk menerapkan prosedur yang dipelajari dan metode; kriteria untuk membantu siswa: Mendemonstrasikan metode dan Prosedur? Melaksanakan prosedur? Gunakan ide atau pengetahuan? Temukan tujuan baru untuk kompetensi atau pengetahuan? Gunakan pengetahuan dalam situasi baru? Bereksperimen dengan konsep dalam pengaturan yang berbeda? Menyesuaikan pengetahuan untuk digunakan dalam konteks yang berbeda? Terapkan prosedur untuk unik situasi?
  4. Analisis bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa membedakan antara apa yang relevan dan/atau tidak relevan, menentukan hubungan, dan mengenali organisasi konten dengan analisis elemen, hubungan dan prinsip-prinsip organisasi; kriteria untuk membantu siswa: Membedakan fakta dari hipotesis? Kenali niat? Bedakan relevan dari yang tidak relevan? Perhatikan strukturnya? Pilih yang penting elemen? Dekonstruksi konten? Mengatur konten? Garis besar konten? Memahami hubungan?
  5. Evaluasi bertujuan untuk membantu siswa membuat penilaian menggunakan bukti internal dan solusi eksternal; kriteria untuk membantu siswa: Periksa keakuratannya? Deteksi inkonsistensi? Memantau efektivitas? Evaluasi prosedur? Mengkritik solusi? Teknik hakim? Performa kontras? Memeriksa kemungkinan hasil?
  6. Mencipta bertujuan untuk memberikan peluang untuk menghasilkan ide, merancang rencana dan menghasilkan produk; kriteria untuk membantu siswa: Membangun desain? Menghasilkan kemungkinan? Tulis ide? Usulkan hipotesis? Menghasilkan solusi? Produk desain? Merakit rencana? Mengatur ulang operasi? Bayangkan kemungkinan? Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...