Tampilkan postingan dengan label Keterampilan Memirsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keterampilan Memirsa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Desember 2023

Pengertian dan Manfaat Keterampilan Berbahasa

 1. Pengertian Keterampilan Berbahasa 

Keterampilan berbahasa ialah suatu kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi baik itu menyimak, berbicara, membaca maupun menulis. Penerima pesan aktif memilih pesan lalu memformulasikannya dalam bentuk lambang yang berupa bunyi atau tulisan dengan kata lain di sebut encoding. Kemudian lambang tersebut disampaikan kepada yang menerima pesan dan penerima pesan mengartikan lambang tersebut menjadi suatu makna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara utuh atau disebut dengan decoding. 

 2. Manfaat Keterampilan Berbahasa 

Adapun manfaat keterampilan berbahasa yaitu;

  • a. Dapat mengungkapkan isi pikiran 
  • b. Dapat mengekspresikan isi perasaan 
  • c. Dapat menyatakan suatu kehendak 
  • d. Dapat melakukan suatu interaksi dalam berkomuniksi
Keterampilan berbahasa terdiri atas 4 aspek, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, keterampilan menulis. Keterampilan berbahasa juga bersifat reseptif dan bersifat produktif. Bagian yang termasuk dari reseptif adalah keterampilan mendengarkan dan keterampilan membaca, sedangkan bagian yang termasuk produktif adalah keterampilan berbicara dan keterampilan menulis. Tarigan (2008:2) mengungkapkan bahwa keterampilan berbahasa dalam kurikulum sekolah biasanya mencakup empat aspek, diantaranya yaitu: a. Keterampilan Menyimak b. Keterampilan Berbicara c. Keterampilan Membaca d. Keterampilan Menulis 

Pada dasarnya keempat keterampilan tersebut erat sekali hubungannya dan tidak dapat di pisahkan satu dengan yang lainnya. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa biasanya dilalui dengan belajar menyimak, kemudian dilanjutkan dengan berbicara setelah itu belajar membaca dan menulis. Keterampilan menyimak dan berbicara sudah mulai kita pelajari sebelum duduk dibangku sekolah. Keempat keterampilan berbahasa pada dasarnya merupakan suatu keterampilan yang sangat erat hubungannya dengan proses berfikir yang mendasari bahasa. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Rabu, 27 Desember 2023

Aspek-Aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia SD

Depdiknas No. 22 Tahun 2006 menyebutkan ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup komponen berbahasa dan kemampuan bersastra, yang meliputi aspek-aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Ke empat kompetensi tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan satu sama lainnya, dan digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kemampuan berbahasa dapat dilakukan dengan mendengar cerita, membaca petunjuk atau perintah, berdialog atau melakukan percakapan, yang disertai dengan adanya respon secara tepat. Sedangkan kemampuan bersastra seperti mengapresiasikan dongeng, membaca puisi, menonton drama, dan kegiatan lainnya yang memerlukan penghayatan dalam melakukannya.

1. Mendengarkan atau menyimak 

Mendengarkan merupakan keterampilan untuk memahami bahasa lisan yang bersifat reseptif, karena merupakan keterampilan untuk menangkap makna dari bahasa yang disampaikan. Keterampilan mendengarkan berbeda dengan kegiatan mendengar, meskipun ke duanya menggunakan alat indra pendengaran. Pada kegiatan mendengar tidak ada unsur kesengajaan, konsentrasi, dan tidak membutuhkan pemahaman terhadap apa yang di dengar. Sementara pada keterampilan mendengarkan membutuhkan kesengajaan untuk fokus dan konsentrasi agar memperoleh pemahaman dari bahasa yang didengarkan. Mendengarkan sering disebut juga menyimak. 

Menyimak adalah suatu proses kegiatan yang dimulai dari mendengarkan sampai dengan memahami informasi atau pesan yang terkandung dalam bahasa lisan. Menyimak bukan hanya kegiatan mendengar, tetapi juga mencakup kegiatan memahami isi pembicaraan yang disampaikan. Menyimak juga memerlukan proses selektif sesuatu yang paling cocok dngan maksud dan tujuan kita terhadap sekian banyak rangsangan di sekitar kita. Proses selektif ini termasuk juga menerima sebagian atau seperangkat rangsangan tertentu yang diberikan ke pusat persepsi penyimak. Penyimak biasanya memusatkan perhatian pada beberapa rangsangan karena sifatnya yang menarik perhatian, atau memiliki perbedaan cara penyampaian.

Mendengarkan/menyimak memegang peranan penting dalam pemerolehan bahasa siswa, karena melalui proses mendengarkanlah siswa dapat mengenal konsep segala informasi baik berupa ilmu pengetahuan maupun hal-hal lain yang belum dikenalnya sebelumnya.

2. Berbicara 

Berbicara merupakan keterampilan menyampaikan ide, gagasan, dan perasaan secara lisan sebagai proses komunikasi dengan cara yang menarik kepada orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang akan mengalami proses berpikir untuk mengungkapkan ide, gagasan, dan perasaannya secara luas. Proses berbicara ini sangat berkaitan dengan faktor pengembangan berpikir berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari membaca, menyimak, atau pengamatan lingkungan sekitar. Berbicara juga merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi atau mengekspresikan kata-kata untuk menyampikan gagasan, pikiran, maupun perasaan berbentuk pesan yang disampaikan secara lisan kepada orang lain. Adapun materi berbicara yang diajarkan di jenjang SD adalah berbentuk kegiatan berbicara, bukan tentang teori-teori berbicara. Menurut Saddhono dan Slamet (2012) materi untuk pembelajaran berbicara yang tertera dalam kurikulum berupa kegiatan (1) berceramah, (2) berdebat, (3) bercakap-cakap, (4) berkhotbah, (5) bertelepon, (6) bercerita, (7) berpidato, (8) bertukar pikiran, (9) bertanya, (10) bermain peran, (11) berwawancara, (12) berdiskusi, (13) berkampanye, (14) menyampaikan sambutan, selamat, pesan, (15) melaporkan, (16) menanggapi, (17) menyanggah pendapat, (18) menolak permintaan, tawaran, ajakan, (19) menjawab pertanyaan, (20) menyatakan sikap, (21) menginformasikan, (22) membahasa, (23) melisankan isi drama, (24) menguraikan cara membuat sesuatu, (25) menawarkan sesuatu, (26) meminta maaf, (27) member petunjuk, (28) memperkenalkan diri, (29) menyapa, (30) mengajak, (31) mengundang, (32) memperingatkan, (33) mengoreksi, dan (34) tanya-jawab. Materi untuk kegiatan tersebut dapat diajarkan di kelas rendah dengan menggunakan beberapa metode, yaitu metode ulang ucap, metode lihat ucap, metode memerincikan, metode menjawab pertanyaan, metode bertanya, metode pertanyaan menggali, dan metode melanjutkan. Sedangkan untuk kelas tinggi menggunakan metode menceritakan kembali, metode percakapan atau bermain peran, metode parafrase, merode reka cerita gambar, metode memberi petunjuk, metode pelaporan, metode wawancara, metode diskusi, metode bertelepon, dan metode dramatisasi.

3. Membaca 

Membaca merupakan usaha yang dilakukan untuk menemukan informasi dari suatu teks, yang kemudian dikombinasikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki menjadi satu bentuk pengetahuan baru. Sementara keterampilan membaca merupakan keterampilan dalam memahami bacaan yang ada pada setiap kata, kalimat, dan paragraf yang ada pada bacaan. Menurut Farida (2007) ada tiga istilah dari komponen dasar dari proses membaca, yaitu recording, decoding, dan meaning. Recording merujuk pada kata-kata dan kalimat, yang kemudian diasosiasikan denga bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. Decoding merujuk pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam kata-kata. Meaning merujuk pada proses memahami makna yang berlangsung dari tingkat pemahaman. Recording, dan decoding berlangsung pada kelas rendah, yang ditekankan pada proses perseptual (pengenalan korespondensi rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi bahasa), sementara meaning berlangsung di kelas tinggi.

Membaca di kelas rendah dapat menggunakan beberapa metode. Menurut Mulyati (2014) ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam mengajarkan membaca di kelas rendah atau membaca permulaan, yaitu:

a. Metode Eja/Abjad 

Metode eja/abjad merupakan metode yang menekankan pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan dan menyebutkan bunyi huruf, yang di mulai dari mengeja huruf demi huruf. Metode ini mengenalkan siswa lambang-lambang huruf terlebih dahulu, yang dimulai dari huruf A sampai dengan huruf Z. selanjutknya mengenalkan bunyi huruf atau fonem, dengan melafalkan bunyi huruf vocal dan bunyi huruf konsonan. Kemudian dikenalkan bunyi hurufhuruf yang dirangkai menjadi suku kata, dan menjadi kata. Selanjutnya siswa dilatih untuk membaca berbagai kombinasi suku kata dan kata tersebut menjadi kalimat-kalimat yang telah disusun dari kata-kata sebelumnya. Contoh : /b/, /a/, /t/, /a/, dieja /be-a/ /ba/, /te-a//ta/, dibaca /ba-ta/.

b. Metode bunyi

Metode bunyi merupakan pengenalan huruf dengan menyuarakan huruf konsonan dengan bantuan bunyi vocal tengah atau vocal depan sedang yang dilambangkan dengan huruf e. pengenalan huruf dengan metode bunyi ini di mulai dengan mengenalkan bunyi huruf A sampai dengan bunyi huruf Z. selanjutnya mengenalkan suku kata, yang dirangkai menjadi kata, dan selanjutkan kata-kata tersebut dirangkai menjadi kalimat. Contoh : /b/, /a/, /k/, /u/ dieja be.a dibaca ba, ka.u dibaca ku, jadi /b/ /a/ /k/ /u/ dibaca baku. 

c. Metode suku kata atau kata lembaga 

Metode suku kata merupakan cara mengenalkan kata, dengan menguraikan kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf, kemudian huruf digabungkan menjadi suku kata, dan suku kata menjadi kata. Contoh : makan, menjadi ma-kan, menjadi m-a-k-a-n, dan selanjutnya menjadi ma-kan, dan terakhir menjadi m a k a n. 

d. Metode kata atau kupas rangkai suku kata 

Metode kata merupakan metode yang tidak menekankan pada bunyi yang dihasilkan. Siswa telebih dahulu dikenalkan suku kata, kemudian merangkai menjadi kata, yang dilanjutkan dirangkai menjadi kalimat sederhana. Dari kalimat sederhana siswa merangkai dan mengupas kembali kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata. Contoh : ba-ca, menjadi baca, kemudian b-a-c-a, selanjutnya ba-ca, dan menjadi baca. 

e. Metode global atau kalimat 

Metode global merupakan metode yang diawali dengna penyajian beberapa kalimat secara global, biasanya dibantu dengan gambar. Menggunakan metode ini, siswa terlebih dahulu dikenalkan beberapa kalimat untuk dibaca, kemudian setelah siswa dapat membaca kalimat tersebut, kalimat dipisahkan menjadi kata, suku kata, dan huruf-huruf. Dan terakhir setelah siswa dapat membaca huruf yang telah dipisahkan, kemudian huruf tersebut dirangkaikan kembali menjadi kalimat. 

f. Metode SAS 

Metode SAS merupakan metode yang diawali dengan penyajian kalimat utuh yang kemudian diurai menjadi kata, kata menjadi suku kata, dan suku kata menjadi huruf, kemudia digabungkan kembali huruf menjaadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat. Struktur kalimat yang digunakan merupakan hasil dari  pengalaman berbahasa siswa, contohnya menggunakan gambar, benda nyata, atau pengalaman siswa itu sendiri. SAS merupakan kepanjangan dari Struktural, Analitik, dan Sintetik. Struktural merupakan struktur bahasa yang terdiri dari kalimat, dan kalimat mempunyai bagian yang di sebut unsur bahasa, yaitu kata, suku kata, dan bunyi atau huruf. Analitik berarti memisahkan, menguraikan struktur kalimat dianalisis untuk dipisahkan dari strukturnya sehingga mudah dipelajari. Dan sintetik berarti menyatukan, menggabungkan. Pada tahap sistetik ini, siswa diarahkan untuk mengenal kembali bentuk struktur pada bagia structural dan analitik sebelumnya.

4. Menulis 

Menulis merupakan keterampilan yang bersifat aktif produktif, karena aktivitas menulis bukan hanya menyalin kata-kata dan kalimat, tetapi juga menuangkan dan mengembangkan pikiran, gagasan, atau ide dalam suatu struktur tulisan yang teratur, logis, sistematis, sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Menulis sebagai suatu bentuk komunikasi berbahasa yang menggunakan simbol-simbol tulis sebagai medianyaa. Menulis di kelas rendah identik dengan melukis gambar. Pada taha ini, penulis tidak menuangkan idea tau gagasan, melainkan hanya sekedar menyalin gambar atau lambing bunyi bahasa ke dalam wujud lambang tertulis. Sedangkan menulis di kelas tinggi merupakan kegiatan mencurahkan ide, gagasan yang dinyatakan secara tertulis melalui bahasa tulis. Kemampuan menulis tidak dapat diperoleh secara alamiah, tetapi harus melalui proses belajar. Siswa harus berlatih mulai dari cara memegang alat tulis, menggerakkan tangan dengan memperhatikan apa yang harus ditulis, siswa harus mengamati lambang bunyi dengan memahami setiap huruf sebagai lambang bunyi tertentu sampai dapat menuliskan secar benar. Menulis di kelas rendah lebih didominasi oleh hal-hal yang bersifat mekanis, seperti sikap duduk yang baik dalam menulis, cara memegang alat tulis, cara meletakkan dan memegang buku, cara menggerakkan tangan, dan cara melemaskan jari-jari melaui kegiatan menggambar. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Senin, 18 Desember 2023

Konsep Sastra

Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yaitu shaastra, yang mempunyai arti teks mengandung instruksi atau pedoman. Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak melalui pandangan anak-anak. Saxby (1991:4) berpendapat bahwa sastra adalah citra kehidupan dan gambaran kehidupan (image of life). Sehingga pada sastra anak perlu digambarkan konteks anak-anak sesuai tahap perkembangannya. Pemahaman tentang tahap perkembangan anak sangat penting untuk memilih karya sastra yang sesuai.

Pilihan bacaan anak untuk usia sekolah dasar sangatlah melimpah. Sastra terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu: puisi, drama dan prosa. Sedangkan karya sastra anak terbagi menjadi tujuh jenis, yaitu: buku bergambar, fiksi realistik, fiksi sejarah, fiksi ilmu, cerita fantasi, biografi, dan puisi. Sastra termasuk ke dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Fokus tujuan dari mata pelajaran tersebut yaitu: kompetensi siswa dalam berbahasa (lisan maupun tertulis), dan sikap mengapresiasi sastra. Dengan demikian, pembelajaran sastra dan pembelajaran bahasa Indonesia dilakukan secara terintegrasi dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar.

Namun tujuan pengajaran sastra pada tingkat sekolah dasar yaitu: meningkatkan kemampuan siswa dalam menikmati, menghayati, memahami, dan menghargai karya sastra. Sehingga sastra yang dibahas hanya konsep umum atau sekadar pengetahuan pendukung kegiatan apresiasi sastra. Sastra memberikan banyak manfaat dalam kehidupan anak. Tarigan (2011) mengemukakan enam manfaat sastra, yaitu: 1. Memberikan kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan kepada anak-anak. 2. Mengembangkan imajinasi anak-anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan memikirkan alam, insan, pengalaman, atau gagasan dengan berbagai cara. 3. Memberikan pengalaman-pengalaman aneh yang seolah-olah dialami sendiri oleh para anak. 4. Mengembangkan wawasan para anak menjadi perilaku insani. 5. Menyajikan serta memperkenalkan kesemestaan pengalaman kepada para anak. 6. Merupakan sumber utama bagi penerusan warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dengan demikian, pembelajaran sastra tidak hanya membahas materi dan kompetensi di dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, tetapi memberikan pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan kehidupan anak. Dari enam manfaat membelajarkan sastra pada diri anak sekolah dasar akan membudayakan anak untuk membaca, mendukung literasi, meningkatkan perkembangan intelektual, memperhatikan psikologis anak sesuai usia tumbuh kembang anak, meningkatkan daya imajinasi anak, dapat mengenalkan budaya, dan bahkan dapat membina karakter pada diri anak. Selengkapnya dapat diakses dengan link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate     DOI

Senin, 11 Desember 2023

Keterampilan Berbahasa Indonesia

Kemampuan berbahasa yang dimiliki seseorang akan menentukan kualitas komunikasi orang itu sendiri. Kemampuan berbahasa melibatkan telinga, lidah, pemikiran dan mempraktikan dalam karya tulisan. Didunia ini mempunyai beragam bahasa, namun secara umum keterampilan berbahasa hanya empat saja. Keterampilan berbahasa terdiri dari menyimak, berbicara, membaca dan menulis (Husain, 2015). Namun, jika terkait keterampilan Bahasa Indonesia berdasarkan kurkikulum merdeka terdiri dari menyimak, membaca dan memirsa, berbicara dan mempresentasikan, serta menulis. Keterampilan berbahasa saling terikat dan tidak bisa berdiri sendiri. 

Keterampilan berbahasa ada yang bersifat pasif dan ada yang sifat aktif. Menyimak dan membaca terkategori keterampilan berbahasa pasif, sedangakan menulis dan berbicara berkategori keterampilan berbahasa aktif. Berbicara dan menulis adalah keterampilan produktif karena saat menggunakan keterampilan ini pelajar tidak hanya aktif tetapi juga menghasilkan suara dalam berbicara dan simbol dalam menulis, sedangkan mendengarkan dan membaca adalah keterampilan reseptif karena pelajar umumnya pasif baik melalui mendengarkan maupun membaca (Husain, 2015). 

Jika keterampilan berbahasa dihubungkan dengan kegiatan belajar dan mengajar maka akan menuntut kemampuan siswa dan guru dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam belajar. Keterampilan bertanya yang dilakukan siswa merupakan wujud nyata keterampilan berbahasa. Semakin beragam keterampilan bahasa yang dikuasai siswa, maka semakin lengkap keterampilan berbahasa yang dimiliki siswa (Santosa et al., 2019). Untuk mencapai keberhasilan dalam mengasah keterampilan berbahasa perlu menggunakan materi atau mata pelajaran lain sebagai pendukung keterampilan belajar berbahasa. Perkambangan dalam pengajaran empat keterampilan berbahasa hanya dapat dicapai di dalam kelas melalui pemusatan perhatian pada aspek pembelajaran lain (Paran, 2012). Selengkapnya dapat diakses dalam beberapa link berikut ini:

Beli Buku Cetak or PDF   Google Scholar   Research Gate   DOI

Selasa, 12 September 2023

Hakikat Bahasa dan Pembelajaran Bahasa: Pengertian Bahasa

Dunia mempunyai banyak ragam bahasa. Setiap bahasa dengan khas tersendiri yang membedakan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya. Bahasa adalah alat komunikasi utama dan selalu terjadi dalam konteks sosial (Kuiper & Allan, 2017). Bahasa secara ekslusif hanya dimiliki manusia terdapat perbedaan yang jelas dari sesi lingustik dan non-lingustik serta memiliki makna (Burridge & Stebbins, 2019). Richards and Webber, menyebutkan bahasa adalah sistem komunikasi manusia yang dinyatakan melalui suara atau ungkapan tulis yang terstruktur untuk membentuk satuan yang lebih besar seperti morfem, kata dan kalimat. 

Sedangkan menurut Sapir, bahasa sebagai suatu naluriah yang dimiliki manusia untuk mengkomunikasikan ide-ide, emosi dan keinginan yang menggunakan simbol yang dibuat untuk tujuan tertentu (Wiratno & Santosa, 2014). Bahasa adalah alat komunikasi, bersifat arbitrer, konvensional dan merupakan lambang bunyi (Suhandra, 2019). Bahasa adalah alat komunikasi yang bermakna (Noermanzah, 2019). Bahasa dalam pengertian kamus besar Bahasa Indonesia adalah sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran (Sugono, D., 2008). 

Berdasarkan pendapat yang telah dikemukan diatas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan pengertian bahasa yaitu sikap alamiah manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya dengan menggunakan simbol, bunyi dan melibatkan panca indra dalam memberikan stimulus dan respon terhadap lawan berkomunikasi, sehingga maksud dan tujuan simbol, bunyi dan lambang dapat dipahami dan dimengerti. Selengkapnya.....

Jumat, 01 September 2023

Keterampilan dalam Pembelajaran Literasi Anak

Keterampilan dalam pembelajaran literasi anak SD dalam konteks Kurikulum Merdeka memiliki karakteristik dengan keterampilan berbahasa yang diterapkan selama ini di dalam pembelajaran. Sebelumnya, dalam pembelajaran literasi penekanannya fokus pada caturtunggal keterampilan berbahasa, yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis (Ibda, 2019:v). Aspek reseptif pada keterampilan membaca dan menyimak, dan aspek ekspresif pada keterampilan berbicara dan menulis (Hariyanti, 2019:106).

Keterampilan literasi anak SD terbagi atau dua cakupan atau aspek. Pertama, keterampilan berbahasa reseptif (menyimak, membaca dan memirsa). Kedua, keterampilan berbahasa produktif (berbicara dan mempresentasikan, serta menulis). Kedua keterampilan ini dapat diimplementasikan di dalam pembelajaran dengan model literasi integrasi berbasis pada tiga cakupan literasi, yaitu literasi fungsional, literasi informasional, dan literasi etikal. Ketiga cakupan literasi tersebut mengarah kepada pembiasaan pola pikir siswa yang komprehensif dan menyiapkan siswa memiliki kemampuan menghadapi masalah di era digital saat ini.

Selain Capaian Pembelajaran di dalam Kurikulum Merdeka, keterampilan literasi dikembangkan dari Profil Pelajar Pancasila yang secara konseptual diwajibkan diterapkan di dalam pembelajaran termasuk pembelajaran literasi. Ada enam karakter utama di dalam Profil Pelajar Pancasila. Keenam karakter itu meliputi 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) berkebhinekaan global, 3) bergotong-royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif. Keenam karakter tersebut bermuara bahwa Profil Pelajar Pancasila tidak sekadar pada ranah kognitif belajar, akan tetapi fokus juga pada perilaku dan sikap berdasarkan jati diri bangsa Indonesia dan warga dunia (Anggraena, 2020:5).

Literasi fungsional memiliki tujuan untuk peningkatan kualitas masyarakat dan kemampuan diri pada individu. Dalam konteksini, literasi fungsional terdiri atas keterampilan membaca, menulis, mendengarkan atau menyimak dan menonton (Nurgiyantoro et. al., 2020:194). Sementara itu, literasi informasi juga dikuatkan di dalam pembelajaran literasi anak SD. Literasi informasional terdiri atas keterampilan mengomunikasikan, mengekspresikan (menciptakan), menafsirkan, menggunakan, memahami, memproses, memperhitungkan, mempertanyakan, dan mengakses, mengeksplorasi, mengidentifikasi (Siti, 2014; Wiyatasari, 2018:41; Kemdikbud, 2020).

Pembelajaran literasi anak SD dengan merujuk Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka, Profil Pelajar Pancasila, keterampilan berpikir era digital (HOTS), komponen literasi abad-21, literasi fungsional dan literasi informasional menjadisatu kesatuan yang holistik untuk diterapkan dalam pembelajaran literasi anak SD. Dengan demikian, pembelajaran literasi anak SD tidak parsial di dalam pembelajaran berbasis mata pelajaran atau di luar mata pelajaran. Selengkapnya..... 

Minggu, 09 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Membaca dan Memirsa

Membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Membaca dimaknai sebagai proses yang dilaksanakan oleh seorang pembaca dengan tujuan mendapatkan informasi dari bacaan dan mampu memahami pola bahasa yang ditulis (Rambe & Widiyarti, 2018). Membaca sebagai kegiatan mengucapkan bunyi bahasa darisuatu tulisan yang memiliki makna tertentu. Fatmasari & Fitriyah (2018) menjelaskan bahwa membaca yakni memahami makna isi bahan bacaan yang tersirat maupun tersurat. Dalam hal ini, kegiatan membaca membutuhkan pemahaman agar apa yang disampaikan penulis dapat dipahami oleh pembaca.

Membaca juga didefinisikan sebagai kemampuan melek huruf dalam mengenali pola bunyi bahasa dan dapat mengucapkannya dengan benar (Yarni & Kaban, 2015). Siswa tidak hanya mampu membaca tulisan saja, namun dapat mengucapkannya dengan benar. Beberapa pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa membaca adalah kemampuan seseorang dalam mengenali dan mengucapkan pola bunyi tulisan bahan bacaan serta memahami makna tulisan tersebut. Memirsa adalah keterampilan yang baru muncul pada capaian pembelajaran di kurikulum merdeka. Keterampilan memirsa dapat terjadi dikarenakan perubahan teknologi yang pesat sehingga siswa harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Huri et al. (2021) menjelaskan bahwa memirsa adalah proses kegiatan menonton dan memaknai media visualseperti film, televisi, video dsb. Keterampilan ini tidak hanya sekedar melihat atau menonton akan tetapi juga mampu memaknai isi media yang ditayangkan tersebut.

Keterampilan memirsa diartikan sebagai keterampilan yang menggabungkan literasi visual dan memirsa kritis (Mulyadi & Wikanengsih, 2022). Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memaknai isi tayangan. Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disintesiskan bahwa memirsa adalah kompetensi literasi visual siswa yang mencakup kegiatan memperhatikan dan memahami media visual yang diberikan oleh guru pada siswa. Keterampilan membaca wajib dikuasai setiap siswa dalam proses pembelajaran. Melalui membaca pengetahuan siswa akan bertambah dan dapat meningkatkan kualitas siswa. Hal ini dikarenakan melalui membaca siswa mendapatkan informasi dari materi pembelajaran yang diajarkan guru dan dapat meningkatkan hasil belajar. Jika siswa bisa membaca dengan baik akan mendorong motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Selain itu, setiap faktor kehidupan siswa juga mengintegrasikan kegiatan membaca. Sehingga membaca akan mempermudah siswa dalam menjalani kegiatan sehari-hari dan memberikan banyak manfaat kepadanya. Sedangkan pentingnya keterampilan memirsa bagi siswa adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memahami isi media visual (Huri et al., 2021).

Pada saat ini komunikasi tidak hanya mendengarkan saja akan tetapi disertai aspek visual, melalui keterampilan memirsa ini maka siswa dapat memperoleh berbagai informasi baru dan belajar menganalisis teks visual dan multimedia. Membaca tidak hanya mengenali bentuk dan pola huruf, akan tetapi juga memahami maknanya. Proses membaca siswa sekolah dasar mencakup dua tahap yakni membaca permulaan dan membaca pemahaman. Membaca permulaan dipahami sebagai tahap awal dalam kegiatan membaca di sekolah dasar (Muammar, 2020). Tahap membaca ini diperuntukkan untuk siswa kelas rendah dengan merujuk pada kemampuan siswa dalam mengubah dan mengucapkan tulisan mejadi bunyi yang memiliki makna. Membaca permulaan difokuskan pada pengenalan huruf, merangkai huruf menjadi sebuah kata, ketepatan mengucapkan huruf, kejelasan dan kelancaran suara dalam membaca tulisan. Membaca pemahaman diartikan sebagai serangkaian kegiatan dengan tujuan memahami konteks bacaan (Khazanah & Cahyani, 2016). Proses membaca tahap ini melibatkan aspek mental dan kognitif siswa dalam memaknai dan menganalisis bahan bacaan. Kedua tahapan membaca ini penting dikuasai siswa karena siswa sekolah dasar tidak langsung bisa membaca secara lancar akan tetapi ada proses tahapannya dari yang mudah hingga sulit. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka ia dapat meningkatkan kemampuan membaca pada level pemahaman.

Faktor psikologis berkaitan dengan jenis kelamin dan kesehatan fisik siswa. Aspek fisik seperti pendengaran, penglihatan dan kemampuan berbicara. Siswa yang memiliki kekurangan atau kelainan dalam aspek fisik tersebut maka akan berpengaruh terhadap keterampilan membaca. Faktor intelektual berhubungan dengan tingkat intelegensi yang dimiliki siswa. Kemampuan berpikir siswa lebih berpengaruh terhadap membaca pemahaman. Karena membaca pemahaman membutuhkan kemampuan berpikir. Faktor lingkungan yakni lingkungan sekolah dan rumah. Lingkungan yang mendukung akan mendorong keterampilan membaca siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama guru dan orang tua agar keterampilan membaca dapat dicapai dengan baik. Faktor psikologis berhubungan dengan motivasi dan minat siswa dalam membaca. Siswa yang memiliki motivasi tinggi akan menunjukkan minat baca yang tinggi. Tanpa perintah dan paksaan dari orang tua dan guru siswa akan aktif membaca secara mandiri. 

Capaian pembelajaran keterampilan membaca dan memirsa pada kurikulum merdeka dibagi menjadi fase A, fase B, dan fase C. Capaian pembelajaran membaca fase A (kelas 1-2) yakni 1) siswa memiliki minat membaca atau memirsa; 2) siswa dapat membaca kata dengan fasih; 3) siswa dapat memahami informasi bacaan dan tayangan; dan 4) siswa dapat memahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan. Fase B (kelas 3-4) mencakup capaian pembelajaran meliputi: 1) siswa dapat memahami makna pesan dan informasi pada media cetak atau elektronik; 2) siswa dapat membaca kata-kata baru dengan fasih; 3) siswa mampu memahami ide pokok dan pendukung pada teks informatif; 4) siswa mampu memaparkan tokoh cerita pada teks narasi; dan 5) siswa dapat dapat mamahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan sesuai dengan topik. Fase C (kelas 5-6) memiliki capaian pembelajaran membaca yakni: 1)siswa dapat membaca kata-kata yang memiliki berbagai pola kombinasi huruf secara fasih; 2) siswa dapat memahami kosakata baru dari makna denotatif, konotatif, literal, dan kiasan; dan 3)siswa dapat menemukan ide pokok suatu teks deskripsi, eksposisi dan narasiserta nilai yang terkandung dalam suatu prosa, pantun dan puisi. Masing-masing fase memiliki tingkat kognitif yang berbeda. Berdasarkan capaian pembelajaran tersebut, maka dapat dianalisis bahwa pada fase A lebih fokus pada kefasihan siswa dalam membaca dan pemahaman siswa mengenai kosakata baru pada bacaan dan tayangan. Hal ini berkaitan dengan membaca permulaan yang fokus pada kelancaran siswa dalam membaca. Fase B dan fase C siswa sudah difokuskan dalam membaca kosakata baru dengan fasih dan memahami isi bacaan secara keseluruhan. Pada keterampilan memirsa siswa lebih difokuskan pada kemampuan memahami kosakata baru dari tayangan yang ditonton. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka tahapan selanjutnya adalah membaca pemahaman. Rambe & Widiyarti (2018) menjelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman yakni tahap prabaca, membaca dan pasca baca. Pertama, tahap prabaca untuk memotivasisiswa dalam membaca. Tahap ini penting dilakukan agar siswa terarah dan dapat menggali kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan dengan baik. Kegiatan ini meliputi: 1) memberikan gambaran awal bacaan; 2) memberikan petunjuk; 3) memberikan peta konsep terkait kosakata dalam bacaan; 4) sebelum membaca, siswa menulis pengalaman yang berkaitan dengan topik bacaan; dan 5) siswa diberikan gambaran situasi dalam cerita. Kedua, tahap membaca dapat dilakukan dengan berbagai metode membaca meliputi: 1) menentukan ide pokok; 2) identifikasi kata kunci; 3) mencuplik bacaan; 4) menjaring data; 5) mengisi bacaan yang rumpang; 6) memberi tanggapan pada bacaan; 7) menggambar peta konsep bacaan; 8) diskusi terkait topik bacaan; 9) mencari kata-kata sulit dan sebagainya. Ketiga, tahap pasca baca yakni untuk mengetahui ukuran kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan. Siswa dapat diberi tugas mengembangkan materi bacaan, memberikan beberapa pertanyaan atau menceritakan kembali isi bacaan.

Keterampilan memirsa adalah keterampilan berbahasa tambahan yang berkaitan dengan teknologi. Guru dituntut untuk melek teknologi dalam rangka memenuhi capaian pembelajaran memirsa. Pemilihan tayangan media visual yang diberikan kepada siswa menentukan tingkat keberhasilannya. Oleh karena itu, dalam memilih media visual guru harus memahami kebutuhan dan karakteristik siswa. Tayangan yang diberikan disesuaikan dengan tingkat usia dan kognitifnya. Guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran harus memahami posisinya. Berbagai hambatan dalam kegiatan membaca sering terjadi yang mengakibatkan rendahnya keterampilan membaca siswa. Antisipasi yang dapat dilakukan guru yakni meliputi: 1) mendalami fungsinya dalam kegiatan pembelajaran membaca; 2) mengerti prinsip membaca; 3) mengetahui tahapan membaca; 4) mengetahui strategi membaca; 5) dapat mengimplementasikan tahapan dan strategi membaca dengan baik; 6) mengetahui konsep penilaian membaca; dan 7) mengukur kemampuan membaca siswa secara periodik (Rambe & Widiyarti, 2018). Sebelum mengajarkan pembelajaran membaca, guru harus memahami dahulu seluruh konsep membaca permulaan dan pemahaman. Selengkapnya.....

Rabu, 05 Juli 2023

Keterampilan Membaca, Memirsa, dan Menulis

Membaca merupakan keterampilan peserta didik untuk memahami, memaknai, menginterpretasikan, dan merefleksi sebuah teks sesuai tujuan dan kepentingannya untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan potensinya. Menurut Hasanah & Lena (2021), membaca adalah salah satu keterampilan yang esensial dan perlu dikuasai oleh peserta didik, karena membaca memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, sehingga proses pembelajaran untuk melatihkan kemampuan membaca yang diperoleh pada pendidikan pertama harus mendapatkan perhatian khusus.

Keterampilan membaca adalah kesanggupan, kecakapan, dan kesiapan seorang individu untuk memahamisuatu gagasan dan lambang atau bunyi bahasa yang ada dalam sebuah teks bacaan yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan si pembaca, yaitu untuk memperoleh amanat atau informasi yang diinginkan. Proses membaca memerlukan pemahaman yang baik, karena pada proses tersebut diperlukan kemampuan untuk memahami sebuah teks bacaan serta memaknainya dengan benar. Kegiatan membaca merupakan sebuah komunikasi yang dilakukan secara tidak langsung, yaitu antara pembaca dan penulis melalui sebuah tulisan. Berdasarkan pengertian ini, dapat dinyatakan bahwa kemampuan membaca adalah kecakapan atau potensi seseorang untuk menguasai sebuah keahlian komunikasi tidak langsung melalui bahasa tulis.

Melalui kegiatan membaca, seorang pembaca dapat memperoleh sebuah pesan yang disampaikan oleh seorang penulis berdasarkan kata-kata dan kalimat yang ditulis. Memirsa merupakan keterampilan peserta didik untuk memahami, memaknai, menginterpretasi, dan merefleksisajian cetak, visual dan atau audiovisual sesuai tujuan dan kepentingannya untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan potensinya. Menurut Mulyadi & Wikanengsih (2022), keterampilan memirsa menuntut peserta didik untuk memaknai sebuah sajian visual dan atau audiovisual, menafsirkan beragam jenis teks multimodal, serta menganalisis secara kritis sesuai dengan konteksnya. 

Keterampilan memirsa dapat mengembangkan pengetahuan dalam menyerap informasi dan mengolah informasi tersebut berdasarkan latar belakang pengetahuan yang dimiliki, serta menyampaikan kembali informasi yang diperoleh secara kritis dan logis. Keterampilan memirsa di dalam kurikulum IB (International Bacalaurate) disebut dengan viewing skill, yaitu memperhatikan dan memahami media visual, seperti televisi, gambar iklan, film, diagram, simbol, foto, video, drama, gambar, patung, lukisan, dll. Saat ini, keterampilan memirsa menjadisebuah keterampilan yang penting untuk dilatihkan kepada peserta didik karena dalam keseharian peserta didik berurusan dengan teks multimodal,sehingga peserta didik harus mampu memahaminya secara efektif, aktif, dan kritissupaya dapat berpartisipasi penuh dalam masyarakat. Dalam hal ini, pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia memegang peranan yang sangat penting dan strategis. Keterampilan memirsa membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menganalisis dan mengevaluasi sebuah teks visual dan teks multimodal yang menggunakan visual. Keterampilan memirsa juga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh informasi dan menghargai ide dan pengalaman yang dikomunikasikan secara visual oleh orang lain. komponen-komponen yang dapat dikembangkan dalam membaca dan memirsa diantaranya adalah kepekaan terhadap fonem, huruf,sistem isyarat, kosakata,struktur bahasa (tata bahasa), makna, dan metakognisi.

Menulis adalah keterampilan menyampaikan gagasan, tanggapan, dan perasaan dalam bentuk tulisan secara fasih, akurat, bertanggung jawab, dan atau menyampaikan perasaan sesuai konteks. Dalam kegiatan menulis, seorang penulis harus terampil untuk memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata (Rojaki, 2012). Kemampuan untuk menulis tidak dapat dimiliki oleh seorang individu secara otomatis, tetap melalui sebuah latihan dan praktik yang banyak dan konsisten. Akan tetapi, hal tersebut masih harus ditingkatkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya peserta didik SD. Terdapat beberapa persyaratan yang seharusnya dimiliki oleh sesorang untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik dan benar, yaitu kemampuan untuk menemukan masalah yang akan ditulis, kepekaan terhadap kondisi pembaca, kemampuan menyusun rencana penulisan, kemampuan menggunakan bahasa, kemampuan memulai tulisan, dan kemampuan memeriksa tulisan. 

Menulis dapat diartikan menyampaikan pikiran, perasaan, atau pertimbangan melalui sebuah tulisan. Dalam hal ini, alat yang digunakan dalam menulis adalah bahasa, yaitu kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Pikiran yang disampaikan kepada orang lain melaluisebuah tulisan harus dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat yang dapat mendukung tersampaikannya sebuah makna secara tepat dan sesuai dengan apa yang ingin disampaikan. Kata-kata yang digunakan dalam menulis harus tersusun secara teratur menjadi sebuah klausa dan kalimat supaya pembaca tulisan dapat memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Semakin teratur bahasa yang digunakan oleh penulis, semakin mudah seorang pembaca untuk memahami pikiran penulis yang disalurkan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, keterampilan menulis sangat penting untuk dimiliki oleh peserta didik dan harus dilatihkan kepada peserta didik sedini mungkin. Komponenkomponen yang dapat dikembangkan dalam menulis antara lain adalah penggunaan ejaan, kosakata, kalimat, paragraf, struktur bahasa, makna, dan metakognisi dalam beragam jenis teks. Selengkapnya.....

Kamis, 15 Juni 2023

Problematika Keterampilan Berbahasa

Selama ini pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah sudah mengenalkan dengan empat keterampilan berbahasa yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemudian pada kurikulum Merdeka Belajar ada dua tambahan yakni mempresentasikan dan memirsa.

1. Permasalahan Keterampilan Menyimak 

Keterampilan menyimak merupakan keterampilan berbahasa pertama yang dikuasai anak. Dalam pembelajarannya, keterampilan menyimak memiliki permasalahan tersendiri. Iskandarwassid dan (Iskandarwassid & Sunendar, 2011) menyampaikan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, penggunaan strategi pembelajaran menyimak masih berkutat dengan pola lama, yaitu siswa mendengar dan berupaya menjawab pertanyaan seputar bahan simakan.

a. Permasalahan tes kompetensi menyimak 

Pelaksanaan pembelajaran dan tes menyimak tampaknya kurang mendapat perhatian layaknya keterampilan berbahasa yang lain. Belum tentu semua guru mengajarkan dan menguji keterampilan menyimak secara khusus. Walaupun sebenarnya keterampilan menyimak sangat dibutuhkan untuk mengikuti pembelajaran berbagai muatan pembelajaran. Hal itu kemungkinan disebabkan oleh anggapan guru bahwa siswa telah memiliki kemampuan yang baik dalam memahami bahasa lisan. Bisa juga disebabkan karena pengembangan tes kompetensi menyimak tidak semudah tes keterampilan berbahasa yang lain (Nurgiyantoro, 2010). 

b. Siswa merasa kesulitan mengidentifikasi isi bahan simakan 

Pembelajaran menyimak di sekolah dasar difokuskan pada kemampuan mengidentifikasi isi atau simpulan bahan simakan. Kemudian untuk materi dongeng, siswa diharapkan mampu mengidentifikasi isi, amanat, tokoh, dan simpulan dari dogeng yang disimak. Permasalahan yang ada selama ini, siswa masih mengalami kesulitan dalam mengidentifikasinya. Hal tersebut ditunjukkan ketika guru memberikan evaluasi keterampilan menyimak, hanya sebagian kecil siswa yang mampu mencapai capaian pembelajaran yang telah ditetapkan (Hakim, 2018); (Rahmawati, 2019). 

c. Siswa kurang memiliki sikap serius dalam mengikuti pembelajaran menyimak

Sikap siswa ketika menyimak juga turut mengambilsumbangsih dalam problematika pembelajaran menyimak di sekolah dasar. Ketidakseriusan siswa disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya variasi dalam pembelajaran, siswa merasa bosan, kurang konsentrasi, dan kurang motivasi dalam menyimak. d. Strategi dan media yang digunakan dalam pembelajaran menyimak masih kurang bervariasi dan bervariasisehingga siswa kurang fokus Di bagian awal telah dibahas pentingnya penggunaan strategi dan media pembelajaran. Jika di dalam kelas, kurang adanya penerapan strategi dan media yang tepat akan membuat siswa lebih tertarik terhadap pembelajaran termasuk pembelajaran menyimak. Di sekolah, guru masih kurang mengeksplorasi penggunaan strategi dan media pembelajaran menyimak. Hal ini berdampak pada keberhasilan pembelajaran menyimak, jika penggunaan strategi dan media kurang maksimal akan menyebabkan capaian pembelajaran yang tidak maksimal (Aprilian, 2017).

2. Permasalahan Keterampilan Berbicara

a. Siswa kurang terampil menyampaikan ide dan gagasannya melalui komunikasi lisan dalam situasi formal. Artinya masih banyak siswa yang belum mencapai ketuntasan dalam keterampilan berbicara. Hal ini dikarenakan siswa merasa kurang percaya diri dalam berbicara sehingga dalam proses pembelajaran siswa menjadi pasif. 

 b. Pengaruh bahasa ibu memberikan permasalahan tersendiri bagi keterampilan berbicara. Penggunaan bahasa ibu dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar memang diperbolehkan terutama di kelas rendah(Ibda, 2017). Hal ini disebabkan karena sebagian besarsiswa di Indonesia menggunakan bahasa ibu yang berupa bahasa daerah di lingkungan keluarga. Akhirnya membuat mereka membawanya ke dalam kegiatan belajar mengajar di kelas (Jazadi et al., 2021). Dalam rangka memperlancar komunikasi dalam pembelajaran, penggunaan bahasa ibu ini tidaklah menjadi masalah serius. Namun akan menjadi permasalahan serius dan berkepanjangan ketika bahasa ibu masih digunakan dalam pembelajaran di kelas atas. Akibatnya siswa menjadi kesulitan dalam menguasai bahasa Indonesia termasuk penguasaan kosakata yang akan berimbas pada rendahnya keterampilan berbicara. 

c. Siswa merasa kurang percaya diri dan gugup saat berbicara di depan forum. Salah satu pembeda kurikulum Merdeka Belajar dengan kurikulum yang lain yakni dimasukkannya keterampilan mempresentasikan ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Keterampilan mempresentasikan muncul karena dilatarbelakangi rendahnya keterampilan berbicara siswa di depan umum. Harapannya ketika keterampilan mempresentasikan diajarkan sejak dini, maka kepercayaan dirisiswa ketika berbicara di depan umum akan baik dan terus meningkat sampai ke jenjang yang lebih tinggi

3. Permasalahan Keterampilan Membaca 

Keterampilan membaca merupakan keterampilan yang dikuasai anak. Jika dua keterampilan lain yakni menyimak dan berbicara, dipelajarisejak anak belum memasuki bangku sekolah dasar. Berbeda dengan keterampilan membaca, biasanya anak akan mempelajari keterampilan membaca ketika sudah memasuki bangku sekolah dasar. Dalam kurikulum Merdeka Belajar juga telah diatur mengenai pembelajaran membaca permulaan tersebut yakni ketika kelas 1 sekolah dasar. Lalu pada kelas 2 sampai kelas 6, siswa akan belajar membaca lanjut. Keterampilan membaca di sekolah dasar juga memiliki beragam problematika, antara lain: 

a. Kesulitan memahami makna, merefleksi, dan mengevaluasi isi bacaan. Pada kelas awal atau fase A (kelas 1 dan 2), siswa diharapkan mampu memahami makna bacaan tersurat kemudian dilanjutkan memahami makna bacaan tersirat ketika mereka memasuki fase B (kelas 3 dan 4). Namun kenyataan di sekolah, masih banyak siswa yang belum mampu memahami makna tersirat. Lebih lanjut pada siswa kelas 5 dan 6 ditemui permasalahan bahwa masih banyak siswa yang belum mampu merefleksi dan mengevaluasi bacaan. Hal ini dirasakan siswa ketika mereka latihan dan mengerjakan soal AKM 2021. Soal-soal yang disajikan dalam AKM literasi merupakan soal yang diadaptasi dari instrumen yang digunakan oleh PISA. Sebagian besar soal-soal tersebut mengukur kemampuan mengintepretasi informasi dari bacaan. 

 b. Rendahnya minat dan motivasi membaca siswa Rendahnya hasil survei yang dilakukan oleh PIRLS dan PISA mampu menunjukkan kondisi keterampilan membaca siswa Indonesia. Suatu hal yang menjadi penyebabnya adalah minat baca dan budaya literasi yang rendah. Salah satu budaya literasi yang sedikit dimiliki oleh siswa adalah budaya membaca (D.M. Andikayana et al., 2021). Apalagi di era digital saat ini, gempuran teknologi bisa memberikan efek negatif seperti halnya gawai. Jika tidak digunakan secara bijak, gawai ternyata memberikan pengaruh negatif pada siswa. Siswa akan kecanduan bermain gawai, baik itu mengakses game, media sosial, atau hal-hal yang lain. Akhirnya mereka menjadi kurang memiliki minat dalam membaca buku. Namun jika gawai digunakan secara bijak, misalnya untuk membaca buku cerita digital yang saat ini banyak tersedia maka tidak mustahil penggunaan gawai akan meningkatkan budaya baca siswa Indonesia. 

c. Kurangnya dukungan keluarga dan masyarakat Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan guru, namun pendidikan anak juga menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat. Selama ini dukungan dari keluarga dan masyarakat mengenai budaya membaca masih kurang. Walaupun di sekolah siswa sudah dibiasakan membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah dan pembelajaran di kelas, namun ketika mereka kembali ke rumah dan tidak menerima dukungan positif dari lingkungan sekitar. Maka mustahil budaya membaca itu akan dimiliki anak. Apalagi jika di lingkungan keluarga lebih menikmati fitur dalam gawai dan tayangan televisi maka anak juga akan lebih tertarik pada suguhan tersebut. Berbeda jika di keluarga juga dibiasakan penumbuhan budaya membaca melalui buku-buku koleksi pribadi maka anak juga akan terbawa pada kebiasaan yang ada.

4. Permasalahan Keterampilan Menulis 

Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang paling sulit dan paling akhir dikuasai oleh seorang pembelajar bahasa. Tak heran jika banyak persoalan muncul dari keterampilan menulis ini. Beberapa permasalahan dalam keterampilan menulis yang dihadapi siswa sekolah dasar antara lain:

 a. Pada keterampilan menulis permulaan tulisan siswa masih kurang rapi Pada awal belajar menulissiswa akan diajari bagaimana menulis huruf lepas dengan benar dan rapi. Kemudian di kelas 2 mereka akan diajari bagaimana menulis huruf tegak bersambung. Walaupun terkesan mudah namun keterampilan menulis permulaan memiliki berberapa problematika seperi tulisan yang tidak terbaca, tulisan kurang rapi, dan hilangnya beberapa huruf. Kondisi seperti ini membutuhkan penanganan yang ekstra dari guru kelas. Guru harus senantiasa memberikan pendampingan kepada siswa dalam melakukan kegiatan menulis permulaan terutama siswa yang mengalami kendala. Pemberian umpan balik sangatlah diperlukan dalam rangka mengatasi masalah tersebut.

 b. Sulitnya menuangkan dan mengembangkan ide Setelah siswa lancar menulis permulaan maka pembelajaran selanjutnya adalah menulis lanjut. Jika merujuk pada kurikulum Merdeka Belajar yang berbasis teks, siswa sekolah dasar dikenalkan dengan berbagai teks seperti narasi, deskripsi, eksplanasi, dan lain-lain. Beragamnya jenis teks ini memaksa siswa untuk terampil menulis teks-teks tersebut. Permasalahan yang ada adalah siswa cenderung mengalami kesulitan dalam menuangkan ide dan gagasan yang ada di kepala mereka. Jika sudah mampu dituangkan biasanya akan mengalami kendala dalam melakukan pengembangan ide. Misalnya kalimat tidak efektif, paragraf yang kurang koheren, dan tulisan yang memiliki banyak ide pokok. 

5. Permasalahan Keterampilan Memirsa 

Pada Abad ke-21 ini keterampilan berbahasa tidak lagi hanya terdiri atas empat komponen yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis saja tetapi bertambah menjadi enam keterampilan. Slaah satunya adalah keterampilan memirsa (Donaghy, 2019; Gador, 2016; Chan, 2020) dalam (Huri et al., 2021). Sejalan dengan itu, pada kurikulum Merdeka Belajar memasukkan keterampilan memirsa untuk melengkapi empat keterampilan berbahasa yang sudah ada sebelumnya. Permasalahan yang sering dihadapi siswa dalam pembelajaran keterampilan memirsa, antara lain: 

1. Masih kesulitan dalam mengintegrasikan berbagai strategi dalam memahami, menafsirkan, dan mengenali isi dan tujuan teks multimodal. Karakteristik keterampilan memirsa adalah melibatkan teks multimodal. Multimodal merupakan (Chen, 2010) proses memahamisimbol verbal dan visual yang digunakan secara bersamaan untuk menimbulkan keterlibatan dialogis dalam sebuah teks. Siswa biasanya masih mengalami kendala dalam memahami maksud teks multimoda yang disajikan dalam kegiatan memirsa tersebut. 

 2. Kesulitan dalam mengeksplorasi informasi Kendala lainnya adalah siswa masih mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan berbagaistrategi untuk memahami dan menafsirkan berbagai teks. Biasanya siswa melakukan kegiatan memirsa tanpa menggunakan strategi yang sebenarnya akan memudahkan mereka. Kendala lain adalah eksplorasi yang dilakukan siswa masih sangat sederhana sehingga mereka sulit untuk sampai pada tahap memirsa kritis. 

 6. Permasalahan Keterampilan Mempresentasikan 

Jika pada bagian sebelumnya dibahas mengenai keterampilan memirsa dan permasalahannya. Kali ini akan dibahas keterampilan mempresentasikan yang juga merupakan pengembangan dari keterampilan berbicara. Mempresentasikan adalah kemampuan menyampaikan gagasan atau tanggapan dengan fasih, akurat, bertanggung jawab. Dalam keterampilan memirsa juga menuntut keterampilan mengajukan serta menanggapi pertanyaan dari penyimak. Namun dalam hal ini masih terdapat beberapa permasalahan yakni siswa masih enggan mengajukan pertanyaan yang tergolong kritis. Dalam menanggapi pun kadang kala jawaban yang diberikan kurang sesuai dengan pertanyaan penyimak. Selengkapnya....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...