Tampilkan postingan dengan label kalimat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kalimat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Desember 2023

Aspek-Aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia SD

Depdiknas No. 22 Tahun 2006 menyebutkan ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup komponen berbahasa dan kemampuan bersastra, yang meliputi aspek-aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Ke empat kompetensi tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan satu sama lainnya, dan digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kemampuan berbahasa dapat dilakukan dengan mendengar cerita, membaca petunjuk atau perintah, berdialog atau melakukan percakapan, yang disertai dengan adanya respon secara tepat. Sedangkan kemampuan bersastra seperti mengapresiasikan dongeng, membaca puisi, menonton drama, dan kegiatan lainnya yang memerlukan penghayatan dalam melakukannya.

1. Mendengarkan atau menyimak 

Mendengarkan merupakan keterampilan untuk memahami bahasa lisan yang bersifat reseptif, karena merupakan keterampilan untuk menangkap makna dari bahasa yang disampaikan. Keterampilan mendengarkan berbeda dengan kegiatan mendengar, meskipun ke duanya menggunakan alat indra pendengaran. Pada kegiatan mendengar tidak ada unsur kesengajaan, konsentrasi, dan tidak membutuhkan pemahaman terhadap apa yang di dengar. Sementara pada keterampilan mendengarkan membutuhkan kesengajaan untuk fokus dan konsentrasi agar memperoleh pemahaman dari bahasa yang didengarkan. Mendengarkan sering disebut juga menyimak. 

Menyimak adalah suatu proses kegiatan yang dimulai dari mendengarkan sampai dengan memahami informasi atau pesan yang terkandung dalam bahasa lisan. Menyimak bukan hanya kegiatan mendengar, tetapi juga mencakup kegiatan memahami isi pembicaraan yang disampaikan. Menyimak juga memerlukan proses selektif sesuatu yang paling cocok dngan maksud dan tujuan kita terhadap sekian banyak rangsangan di sekitar kita. Proses selektif ini termasuk juga menerima sebagian atau seperangkat rangsangan tertentu yang diberikan ke pusat persepsi penyimak. Penyimak biasanya memusatkan perhatian pada beberapa rangsangan karena sifatnya yang menarik perhatian, atau memiliki perbedaan cara penyampaian.

Mendengarkan/menyimak memegang peranan penting dalam pemerolehan bahasa siswa, karena melalui proses mendengarkanlah siswa dapat mengenal konsep segala informasi baik berupa ilmu pengetahuan maupun hal-hal lain yang belum dikenalnya sebelumnya.

2. Berbicara 

Berbicara merupakan keterampilan menyampaikan ide, gagasan, dan perasaan secara lisan sebagai proses komunikasi dengan cara yang menarik kepada orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang akan mengalami proses berpikir untuk mengungkapkan ide, gagasan, dan perasaannya secara luas. Proses berbicara ini sangat berkaitan dengan faktor pengembangan berpikir berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari membaca, menyimak, atau pengamatan lingkungan sekitar. Berbicara juga merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi atau mengekspresikan kata-kata untuk menyampikan gagasan, pikiran, maupun perasaan berbentuk pesan yang disampaikan secara lisan kepada orang lain. Adapun materi berbicara yang diajarkan di jenjang SD adalah berbentuk kegiatan berbicara, bukan tentang teori-teori berbicara. Menurut Saddhono dan Slamet (2012) materi untuk pembelajaran berbicara yang tertera dalam kurikulum berupa kegiatan (1) berceramah, (2) berdebat, (3) bercakap-cakap, (4) berkhotbah, (5) bertelepon, (6) bercerita, (7) berpidato, (8) bertukar pikiran, (9) bertanya, (10) bermain peran, (11) berwawancara, (12) berdiskusi, (13) berkampanye, (14) menyampaikan sambutan, selamat, pesan, (15) melaporkan, (16) menanggapi, (17) menyanggah pendapat, (18) menolak permintaan, tawaran, ajakan, (19) menjawab pertanyaan, (20) menyatakan sikap, (21) menginformasikan, (22) membahasa, (23) melisankan isi drama, (24) menguraikan cara membuat sesuatu, (25) menawarkan sesuatu, (26) meminta maaf, (27) member petunjuk, (28) memperkenalkan diri, (29) menyapa, (30) mengajak, (31) mengundang, (32) memperingatkan, (33) mengoreksi, dan (34) tanya-jawab. Materi untuk kegiatan tersebut dapat diajarkan di kelas rendah dengan menggunakan beberapa metode, yaitu metode ulang ucap, metode lihat ucap, metode memerincikan, metode menjawab pertanyaan, metode bertanya, metode pertanyaan menggali, dan metode melanjutkan. Sedangkan untuk kelas tinggi menggunakan metode menceritakan kembali, metode percakapan atau bermain peran, metode parafrase, merode reka cerita gambar, metode memberi petunjuk, metode pelaporan, metode wawancara, metode diskusi, metode bertelepon, dan metode dramatisasi.

3. Membaca 

Membaca merupakan usaha yang dilakukan untuk menemukan informasi dari suatu teks, yang kemudian dikombinasikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki menjadi satu bentuk pengetahuan baru. Sementara keterampilan membaca merupakan keterampilan dalam memahami bacaan yang ada pada setiap kata, kalimat, dan paragraf yang ada pada bacaan. Menurut Farida (2007) ada tiga istilah dari komponen dasar dari proses membaca, yaitu recording, decoding, dan meaning. Recording merujuk pada kata-kata dan kalimat, yang kemudian diasosiasikan denga bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. Decoding merujuk pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam kata-kata. Meaning merujuk pada proses memahami makna yang berlangsung dari tingkat pemahaman. Recording, dan decoding berlangsung pada kelas rendah, yang ditekankan pada proses perseptual (pengenalan korespondensi rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi bahasa), sementara meaning berlangsung di kelas tinggi.

Membaca di kelas rendah dapat menggunakan beberapa metode. Menurut Mulyati (2014) ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam mengajarkan membaca di kelas rendah atau membaca permulaan, yaitu:

a. Metode Eja/Abjad 

Metode eja/abjad merupakan metode yang menekankan pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan dan menyebutkan bunyi huruf, yang di mulai dari mengeja huruf demi huruf. Metode ini mengenalkan siswa lambang-lambang huruf terlebih dahulu, yang dimulai dari huruf A sampai dengan huruf Z. selanjutknya mengenalkan bunyi huruf atau fonem, dengan melafalkan bunyi huruf vocal dan bunyi huruf konsonan. Kemudian dikenalkan bunyi hurufhuruf yang dirangkai menjadi suku kata, dan menjadi kata. Selanjutnya siswa dilatih untuk membaca berbagai kombinasi suku kata dan kata tersebut menjadi kalimat-kalimat yang telah disusun dari kata-kata sebelumnya. Contoh : /b/, /a/, /t/, /a/, dieja /be-a/ /ba/, /te-a//ta/, dibaca /ba-ta/.

b. Metode bunyi

Metode bunyi merupakan pengenalan huruf dengan menyuarakan huruf konsonan dengan bantuan bunyi vocal tengah atau vocal depan sedang yang dilambangkan dengan huruf e. pengenalan huruf dengan metode bunyi ini di mulai dengan mengenalkan bunyi huruf A sampai dengan bunyi huruf Z. selanjutnya mengenalkan suku kata, yang dirangkai menjadi kata, dan selanjutkan kata-kata tersebut dirangkai menjadi kalimat. Contoh : /b/, /a/, /k/, /u/ dieja be.a dibaca ba, ka.u dibaca ku, jadi /b/ /a/ /k/ /u/ dibaca baku. 

c. Metode suku kata atau kata lembaga 

Metode suku kata merupakan cara mengenalkan kata, dengan menguraikan kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf, kemudian huruf digabungkan menjadi suku kata, dan suku kata menjadi kata. Contoh : makan, menjadi ma-kan, menjadi m-a-k-a-n, dan selanjutnya menjadi ma-kan, dan terakhir menjadi m a k a n. 

d. Metode kata atau kupas rangkai suku kata 

Metode kata merupakan metode yang tidak menekankan pada bunyi yang dihasilkan. Siswa telebih dahulu dikenalkan suku kata, kemudian merangkai menjadi kata, yang dilanjutkan dirangkai menjadi kalimat sederhana. Dari kalimat sederhana siswa merangkai dan mengupas kembali kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata. Contoh : ba-ca, menjadi baca, kemudian b-a-c-a, selanjutnya ba-ca, dan menjadi baca. 

e. Metode global atau kalimat 

Metode global merupakan metode yang diawali dengna penyajian beberapa kalimat secara global, biasanya dibantu dengan gambar. Menggunakan metode ini, siswa terlebih dahulu dikenalkan beberapa kalimat untuk dibaca, kemudian setelah siswa dapat membaca kalimat tersebut, kalimat dipisahkan menjadi kata, suku kata, dan huruf-huruf. Dan terakhir setelah siswa dapat membaca huruf yang telah dipisahkan, kemudian huruf tersebut dirangkaikan kembali menjadi kalimat. 

f. Metode SAS 

Metode SAS merupakan metode yang diawali dengan penyajian kalimat utuh yang kemudian diurai menjadi kata, kata menjadi suku kata, dan suku kata menjadi huruf, kemudia digabungkan kembali huruf menjaadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat. Struktur kalimat yang digunakan merupakan hasil dari  pengalaman berbahasa siswa, contohnya menggunakan gambar, benda nyata, atau pengalaman siswa itu sendiri. SAS merupakan kepanjangan dari Struktural, Analitik, dan Sintetik. Struktural merupakan struktur bahasa yang terdiri dari kalimat, dan kalimat mempunyai bagian yang di sebut unsur bahasa, yaitu kata, suku kata, dan bunyi atau huruf. Analitik berarti memisahkan, menguraikan struktur kalimat dianalisis untuk dipisahkan dari strukturnya sehingga mudah dipelajari. Dan sintetik berarti menyatukan, menggabungkan. Pada tahap sistetik ini, siswa diarahkan untuk mengenal kembali bentuk struktur pada bagia structural dan analitik sebelumnya.

4. Menulis 

Menulis merupakan keterampilan yang bersifat aktif produktif, karena aktivitas menulis bukan hanya menyalin kata-kata dan kalimat, tetapi juga menuangkan dan mengembangkan pikiran, gagasan, atau ide dalam suatu struktur tulisan yang teratur, logis, sistematis, sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Menulis sebagai suatu bentuk komunikasi berbahasa yang menggunakan simbol-simbol tulis sebagai medianyaa. Menulis di kelas rendah identik dengan melukis gambar. Pada taha ini, penulis tidak menuangkan idea tau gagasan, melainkan hanya sekedar menyalin gambar atau lambing bunyi bahasa ke dalam wujud lambang tertulis. Sedangkan menulis di kelas tinggi merupakan kegiatan mencurahkan ide, gagasan yang dinyatakan secara tertulis melalui bahasa tulis. Kemampuan menulis tidak dapat diperoleh secara alamiah, tetapi harus melalui proses belajar. Siswa harus berlatih mulai dari cara memegang alat tulis, menggerakkan tangan dengan memperhatikan apa yang harus ditulis, siswa harus mengamati lambang bunyi dengan memahami setiap huruf sebagai lambang bunyi tertentu sampai dapat menuliskan secar benar. Menulis di kelas rendah lebih didominasi oleh hal-hal yang bersifat mekanis, seperti sikap duduk yang baik dalam menulis, cara memegang alat tulis, cara meletakkan dan memegang buku, cara menggerakkan tangan, dan cara melemaskan jari-jari melaui kegiatan menggambar. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Minggu, 02 Juli 2023

Sintaksis dalam Bahasa dan Sastra Indonesia

  • Pengertian Sintaksis

Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti “dengan” dan kata tattein yang berarti “menempatkan”. Jadi, secara etimologi berarti: menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Manaf (2009:3) menjelaskan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang membahas struktur internal kalimat. Struktur internal kalimat yang dibahas adalah frasa, klausa, dan kalimat. Chalik (2011) mendefinisikan bahwa sintaksis adalah bagian dari tatabahasa yang mengkajistruktur frasa dan kalimat. Dari beberapa pernyataan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa sintaksis merupakan bagian dari ilmu bahasa yang di dalamnya mengkaji tentang kata dan kelompok kata yang membentuk frasa, klausa, dan kalimat.

  • Ruang Lingkup Kajian Sintaksis 

  1. Frasa adalah suatu kelompok kata yang terdiri atas dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan yang tidak melampaui batas subjek dan batas predikat. Frase terdiri atas dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan dan dalam pembentukan ini tidak terdapat ciri-ciri klausa dan juga tidak melampui batas subjek dan batas predikat. Frase adalah suatu komponen yang berstruktur, yang dapat membentuk klausa dan kalimat. (Gani, 2018:11) Frase adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 2003:222). Perhatikan contoh-contoh berikut, Satuan bahasa bayi sehat, pisang goreng, baru datang, dan sedang membaca adalah frasa karena satuan bahasa itu tidak membentuk hubungan subjek dan predikat (Widjono, 2007:140) Dari beberapa pernyataan yang telah dikemukakan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa frasa merupakan gabungan atau rangkaian kata yang tidak mempunyai batassubjek dan predikat, yang biasanya rangkaian kata tersebut mempunyai satu makna yang tidak bisa dipisahkan.
  2. Klausa menurut Manaf (2009:13) Klausa adalah sebuah konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung unsur predikatif. Klausa berpotensi menjadi kalimat. Manaf menjelaskan bahwa yang membedakan klausa dan kalimat adalah intonasi final di akhirsatuan bahasa itu. Kalimat diakhiri dengan intonasi final, sedangkan klausa tidak diakhiri intonasi final. Intonasi final itu dapat berupa intonasi berita, tanya, perintah, dan kagum. Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa berpotensi menjadi kalimat. Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya. Pada umumnya klausa, baik tunggal maupun jamak, berpotensi menjadi kalimat. Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat, dan yang lain berfungsi sebagai subjek, objek, dan sebagai keterangan. Fungsi yang bersifat wajib pada konstruksi ini adalah subjek dan predikat sedangkan yang lain tidak wajib (Gani, 2018:12). 
  3. Kalimat menurut Hasan (dalam Gani, 2018:12) Kalimat adalah tuturan yang mempunyai arti penuh dan turunnya suara menjadi ciri sebagai batas keseluruhannya. Jadi, kalimat adalah tuturan yang diakhiri dengan intonasi final. Menurut Gani (2018:12) Kalimat adalah suatu bentuk linguistik yang terdiri atas komponen kata-kata, frase, atau klausa. Jika dilihat dari fungsinya, unsur-unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal serta kalimat majemuk. Menurut Manaf (2009:11) dengan membedakan kalimat menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Dalam bahasa lisan, kalimat adalah satuan bahasa yang mempunyai ciri sebagai berikut: (1) satuan bahasa yang terbentuk atas gabungan kata dengan kata, gabungan kata dengan frasa, atau gabungan frasa dengan frasa, yang minimal berupa sebuah klausa bebas yang mengandung satu subjek dan predikat, (2) satuan bahasa itu didahului oleh suatu kesenyapan awal, diselingi atau tidak diselingi oleh kesenyapan antara dan diakhiri dengan kesenyapan akhir yang berupa intonasi final, yaitu intonasi berita, tanya, intonasi perintah, dan intonasi kagum.
  • Fungsi Sintaksis 
Yang dimaksud fungsi sintaksis tersebut adalah subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (K). realisasinya dalam sebuah kalimat, kelima fungsi tersebut tidak selalu hadir bersama-sama. Terkadang sebuah kalimat hanya terdiri atas fungsi S dan P, S-P-O, S-P-Pel, S-P-K, S-P-OK, atau S-P-Pel-K. akan tetapi bila dilihat darisifat kehadiranya dalam sebuah kalimat, kelima fungsi dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu fungsi yang wajib hadir dan fungsi yag tidak wajib hadir. Yang termasuk fungsi wajib hadir adalah subjek, predikat, objek, dan pelengkap, sedangkan yang termasuk ke dalam fungsi yang tidak wajib hadir adalah keterangan (Gani, 2018:13). Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...