Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 April 2024

Pendekatan Komunikatif

a. Pengertian pendekatan komunikatif

Pendekatan komunikatif yaitu pendekatan saat pengimplementasiannya membutuhkan tahap-tahap supaya cara penyampaiannya bisa berlangsung seadanya (Nurhaliza and Anwar, 2019). Pendekatan komunikatif ialah kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa yang berlandaskan kepada pemikiran(Djuanda, 2008). Pendekatan merupakan komunikatif Pendekatan yang mengutamakan interaksi peserta didik dengan peserta didik dan memposisikan diri sebagai pokok pembicaraan, juga setiap peserta didik diwajibkan untuk berpartisipasi (Wahyuningsi, 2019). 

 b. Komponen-Komponen Pendekatan Komunikatif 

Ada empat komponen Pendekatan Komunikatif (Wahyuningsi, 2019): 1) Kemampuan gramatikal merupakan bagian kemampuan komunikatif meliputi pengetahuan tentang aspek leksikal dan aturan fonologi, semantik kalimat tata bahasa, sintaksis, dan morfologi. 2) Kemampuan wacana merupakan penyempurnaan dari kemampuan gramatikal. Kompetensi wacana yaitu kompetensi menghubungkan suatu kalimat dalam wacana dan kompetensi memahami suatu wacana. Jika kemampuan gramatikal meliputi tata bahasa pada suatu kalimat, maka kemampuan wacana meliputi hubungan antar kalimat 3) Kemampuan sosiolinguistik merupakan ilmu mengenai aturan sosial budaya wacana dan bahasa. Kemampuan ini memfokuskan mengenai konteks bermasyarakat meliputi informasi yang dibicarakan, fungsi interaksi, peran para partisipan. 4) Kemampuan strategis, suatu ilmu yang paling kompleks. Kemampuan strategis sebagai strategi komunikasi lisan dan tertulis yang bisa digunakan untuk menyepadankan komunikasi karena kemampuan tidak sesuai. 

c. Langkah-langkah pendekatan komunikatif 

Langkah-langkah pendekatan komunikatif menurut (Nurhaliza and Anwar, 2019) yaitu: (1)Menetapkan tujuan yang efektif; (2) pembuatan materi sesuai dengan peraturan yang dipakai (3) latihan berbahasa atau practice (4) alih pengetahuan atau transfer. d. Ciri-ciri pendekatan komunikatif Ciri-ciri pendekatan komunikatif menurut (Wahyuningsi, 2019) adalah sebagai berikut: 1) Realitas akan mendorong peserta didik untuk peserta didik atau aktivitas yang menunjukkan komunikasi sebenarnya 2) melaksanakan tugas-tugas yang bermakna akan membuat peserta didik untuk belajar merupakan tujuan aktivitas berbahasa 3) Mempersiapkan materi silabus komunikasi sesuai dengan analisis kebutuhan. 4) Kegiatan di kelas berpusat kepada peserta didik. 5) Guru berperan secara holistik, menganalisis kebutuhan peserta didik, dan mengatur kelompok. 6) Kegunaan alat mengajar adalah untuk membangkitkan komunikasi peserta didik yang intens.

e. Kelebihan Pendekatan Komunikatif 

Pendekatan komunikatif memiliki kelebihan yaitu: (Nurhaliza and Anwar, 2019) 1) Peserta didik lebih semangat belajar karena hari pertama belajar, langsung menggunakan bahasa asing/ disesuaikan dengan bahasa asing yang dipakai disekolah tersebut. 2) Peserta didik pasih berinteraksi, maksudnya memahami kemampuan gramatikal, strategis, sosiologi dan wacana. 3) Kondisi kelas menyenangkan dengan kegiatan interaksi antar peserta didik dengan bermacam model komunikasi dan gaya bahasa yang lumayan tinggi, menjadi sangat menyenangkan.

f. Prinsip-prinsip Pendekatan Komunikatif Menurut (Yunita and Rafael, 2022) ada tiga prinsip pendekatan komunikatif antara lain:  1) Materi ajar berpedoman pada bahasa sebagai alat berinteraksi atau berkomunikasi. 2) Konstruksi materi ajar terfokuskan pada proses pembelajaran bukan topik yang diajarkan 3) Matari pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk berinteraksi serta berkomunikasi secara natural.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google scholar        Research gate         Doi

Kamis, 14 September 2023

Perkembangan Bahasa Indonesia

Awal mula terbentuknya Bahasa Indonesia merupakan Bahasa Melayu. Ketersebaran Bahasa Melayu dikawasan Asia Tenggara menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa perantara (lingua franca) atau bahasa pergaulan (Sujinah et al., 2018). Bahasa Melayu terbagi menjadi dua jenis yaitu Bahasa Melayu Tinggi dan Bahasa Melayu Pasar. Bahasa Melayu Tinggi bersifat sulit, halus, penuh sindiran dan kurang ekspresif, sedangkan Bahasa Melayu Pasar bersifat sangat lentur, mudah dimengerti, dan ekspresif. Bahasa Melayu Pasar inilah yang akan menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang (Waraulia, A.M., 2018). 

Ada banyak bukti sejarah yang mengungkapkan bagaimana ketersebaran Bahasa Melayu, salah satunya dari peninggalan kerajaan Sriwijaya abad ke-7 masehi bahwa Bahasa Melayu Kuno digunakan sebagai bahasa kenegaraan. Bukti penggunaan Bahasa Melayu Kuno terdapat dalam empat prasasti yang ditemukan di Pulau Sumatera yaitu; 1) prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), 2) prasasti Talang Tuo berangka tahun 684 M (Palembang), 3) prasasti Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), 4) prasasti Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi), (Putrayasa, 2018). Semua prasasti bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna dengan campuran Bahasa Sanskerta. Sedangkan di Pulau Jawa ditemukannya prasasti di Jawa Tengah berangka abad ke-9 M dan prasasti Bogor berangka abad ke-10 M. Bukti lainnya penemuan keping tembaga Laguna di dekat Manila (Pulau Luzon) tahun 900 M yang merupakan milik kerajaan Sriwijaya.

Ejaan resmi Bahasa Melayu pertama kali disusun Ch. A. Van Ophuijsen dengan bantuan Moehammad Taib Soetan Ibrahim dan Nawawi Soetan Ma’moer dalam kitab Logat Melayu tahun 1801 (Putrayasa, 2018). Sebelum tahun 1928 telah melakukan pergerakan-pergerakan kebangsaan yang dikenal dengan sebutan Indonesia. Seiring berjalannya waktu maka tanggal 28 Oktober 1928 terjadi peristiwa yang melibat putra dan putri Indonesia atau lebih dikenal dengan sebutan “sumpah pemuda”, secara resmi dan diakui bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan Indonesia.

Beberapa alasan yang menguatkan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia yaitu; 1) Bahasa Melayu merupakan lingua franca, 2) penyebaran Bahasa Melayu lebih luas dibandingkan Bahasa Jawa, Sunda, Madura dan lainnya, 3) Bahasa Melayu berkrabat dengan bahasa-bahasa di nusantara, 4) Bahasa melayu memiliki sistem sederhana sehingga mudah dipelajari, 5) Adanya kerelaan dan keinsafan secara sadar dari selain Bahasa Melayu dan menerima Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, dan 6) Bahasa Melayu dapat dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti luas (Sujinah et al., 2018). Selengkapnya.....

Sabtu, 15 Juli 2023

Model Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia berbasis TIK dalam Kurikulum Merdeka

Model pembelajaran yang diuraikan selama ini berbasis pada keterampilan berbahasa yang mempunyai beberapa komponen dan dapat dikaitkan dengan media pembelajaran berbasis TIK tingkat SD. Ada empat model pembelajaran dalam model pembelajaran menyimak yang dapat dihubungkan dengan TIK diantaranya mengidentifikasi kata kunci, melakukan model retelling story, menyelesaikan cerita dan memperluas kalimat. Model pembelajaran menceritakan kembali (retelling story) adalah model yang digunakan oleh guru untuk menerapkan pembelajaran. 

Retelling story memiliki banyak manfaat untuk peserta didik salah satunya dapat mengembangan daya ingat, menambah kosakata Bahasa secara lisan dan pengembangan sifat ekspresif. Berikut adalah langkah-langkah untuk menerapkan kisah ritel berbasisICT: pertama, adalah Guru menggunakan podcast untuk merekam cerita dan memutarnya menggunakan CD atau melalui youtube misalnya. Kedua, pemutaran audio tersebut. Ketiga, siswa mendengarkan dengan saksama. Keempat, siswa diminta untuk berbicara kembali dengan bahasanya sendiri. Langkah keempat adalah menentukan hubungan antara keterampilan berpiir kritis dengan keterampilan membaca. Selanjutnya dapat pula menggunakan model diskriminatif kata kunci apabila ingin menceritakan ulang. Dalam prosesnya, siswa dianjurkan untuk fokus pada suara yang terdengar dari setiap kalimat yang diucapkan dalam suara maupun podcast, selanjutnya mereka dianjurkan untuk menentukan kata kunci dari tiap kalimat. Secara umum pembelajaran identifikasi kata kunci dapat digunakan di kelas tinggi sekolah dasar. 

Model pembelajaran yang dapat memperluas kalimat adalah model pembelajaran yang saling berhubungan satu sama lain. Berikut cara menerapkan pembelajaran memanjangkan kalimat: 1) Guru memutarkan dengan media internet atau CD kemudian menyebutkan kalimat-kalimatnya. 2) siswa melakukan perulangan kalimat yang diucapkan. 3) Saat siswa mengulangi kalimat, media internet dimatikan. 4) pemutaran kembali media oleh guru dan melakukan perulangan kalimat kembali. 5) guru mengucapkan kalimat/kata lain secara lisan. 6) Siswa selanjutnya langsung melengkapi kalimat sesuai dengan apa yang disebutkan oleh guru dan hasilnya diperluas dengan kalimat. 

Model pembelajaran melengkapi cerita merupakan model lanjutan dari kalimat yang diperluas sebelumnya, model ini juga dapat menggunakan media yang sama. Teks yang telah disampaikan oleh guru melalui audiovisual dapat dirangkum dalam sebuah cerita. Kelemahan dari model pembelajaran ini adalah memakan waktu, tetapi dapat diterapkan untuk kelas bawah. Di kelas bawah, kosakata masih terus diproduksi. Menulis kalimat adalah tugas yang membosankan menerapkan model pembelajaran di atas untuk membuat kalimat menyenangkan dan untuk meningkatkan pemikiran dan imajinasi siswa untuk membuat cerita. Sama halnya dengan model pembelajaran yang telah dijelaskan selama ini, keterampilan berbicara dan menyimak merupakan kegiatan reseptif, sehingga model pembelajaran ini juga berkaitan dengan keterampilan berbicara. 

Pembelajaran selanjutnya menunjukkan hanya satu model pembelajaran berbicara yang dapat diintegrasikan dengan media TIK, karena penggunaan media secara langsung dapat sepenuhnya menyampaikan tujuan pembelajaran berbicara. Tapi siapa yang saya modelkan? Jika TIK dapat digunakan sebagai media, maka jenis media yang dapat digunakan adalah media komputer dengan subtipe visual. Langkah-langkah untuk menerapkan model pembelajaran ini adalah sebagai berikut: pertama,Guru menggunakan materi tentang tokoh, peristiwa, atau profesi untuk membuat dua media flash/PowerPoint jenis kuis ya/tidak. Konsep kuisnya adalah memilih angka dari 1 hingga 9. Artinya, ada pilihan setelah nomor materi. Kedua, Guru dibagi menjadi dua atau tiga kelompok besar. Ketiga, Siswa akan diminta untuk memilih nomor Flash Media/PowerPoint dalam kelompoknya. Keempat,Guru akan memfokuskan dan memperlihatkannya sehingga siswa dapat melihatnya. Kelima,siswa yang telah memenangkan bagian akan memainkan peran sesuai nomor yang dipilih. Keenam, kelompok penonton harus menjawab karakter yang diperankan oleh kelompok lain. Ketujuh, group hanya bisa menjawab “ya” atau “tidak”. Kedelapan, jika penampil menemukan identitas, permainan berakhir dan berputar ke grup berikutnya. Model pembelajaran ini membuat siswa SD menjadi senang dengan menggunakan modelseperti permainan atau ice breaking. Kelebihan model pembelajaran dengan menggunakan TIK sebagai media pembelajaran terasa lebih hidup karena siswa tidak hanya fokus pada aktor, tetapi juga pada tampilan jawaban dari aktor. Selain menyenangkan, siswa dapat melatih keterampilan berbicara mereka. Dalam keadaan ini, guru dapat mengklasifikasikan jenis-jenis berbicara yang dipelajari oleh siswa. 

Model pembelajaran ini dapat diterapkan di tingkat SD dan SMA. Ada 2 model yang dapat digunakan dalam TIK, yaitu model K-W-L dan pelatihan yang dibaca dari model ECOLA. Model K-W-L merupakan model pembelajaran yang pada hakikatnya menuntut siswa untuk memahami apa yang dibacanya. K-W-L dapat dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama. K (Apa yang saya tahu?) Pada tahap ini, guru perlu menggunakan media PowerPoint atau flash untuk membuat materi. Saat ini aplikasi untuk membuat buku bergambar masih terus dibuat, hasilnya ditampilkan oleh guru, dipelajari, buku untuk dibaca bersama, dan gambaran umum dari buku tersebut. Tahap 2; W (Apa yang ingin dipelajari?) Pada tahap ini, guru mengomunikasikan tujuan pembelajaran dan memberikan pemahaman pembelajaran yang menarik. Pada tahap ini, fokus siswa adalah membaca dengan menggunakan media komputer subtipe visual. Siswa mencatat beberapa informasi penting dari hasil membaca. Pada tahap ini juga dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa terhadap informasi yang ditampilkan dalam cerita, yang ditampilkan dalam bentuk slide. Tahap ketiga; L (apa yang saya pelajari). Siswa belajar dari slide yang ditampilkan melalui fokus, siswa perlu mengetahui informasi penting terkait hasil membaca. Beberapa siswa tidak memahami kata atau kalimat. Kegiatan terakhir adalah siswa diminta untuk merangkum hasil bacaannya. 

Model pembelajaran selanjutnya yakni Extending Consept Trought Language Activities atau lebih dikenal dengan ECOLA. Model pembelajaran digunakan guru dalam mengintegrasikan keterampilan berbahasa yang memiliki tujuan untuk mengembangkan keterampilan pembaca, menerjemahkan dan kemudian menegaskan pemahamannya. (Susanto, 2014). Media yang tersedia dalam model pembelajaran ini adalah internet. 

Indikator ketercapaian model pembelajaran ini adalah siswa diharapkan suka membaca dan menemukan ide, konsep, dan gagasan. Untuk menerapkan model ECOLA dapat dilakukan dengan cara : 1) Pilihlah bacaan yang berbeda tidak dari buku tradisional atau dongeng, namun carilah ebook dan mendownload melalui Internet. 2) Guru meluangkan waktunya bagisiswa untuk membaca bacaan yang dipilih siswa itu sendiri. 3) Siswa membaca sekaligus belajar untuk mengkritisi. 4) Hasil bacaan siswa kemudian dirangkum dan di berikan pada guru. Model pembelajaran ini memiliki keterkaitan dengan model pembelajaran menulis. 

Model pembelajaran berbasis keterampilan menulis memiliki dua model yang dapat digunakan dan diintegrasikan dengan TIK pertama adalah Brown dan kedua adalah sugesti. Dasar model Brown ini mengatakan media pembelajaran adalah bagian yang memiliki keterkaitan dalam memfasilitasi pembelajaran, karena terdapat berbagai macam media dan media tersebut memiliki sifat yang interaktif. Media pembelajaran Brown contohnya seperti audio, proyek, gerak, visual, dll. (Krissandi, dkk., 2018: 36). 

Langkah-langkah pembelajaran model setelah tujuan pembelajaran tercapai adalah: a. penyiapan puzzle secara virtual yang dibuat oleh guru; b. pembuatan grup skala kecil; c. pembagian puzzle pada setiap group kecil; d. setiap group melakukan diskusi dan kerjasama dalam mengurutkan seri puzzle; e. apabila telah selesai, perwakilan anggota kelompok memaparkan hasilnya. f. setelahnya, guru masuk pada poin penjelasan materi dari hasil paparan siswa; g. siswa dalam kelompok ditugaskan untuk menulis kalimat berdasarkan susunan gambar dalam kelompok serta mengembangkan imajinasi mereka; h. memperbaiki tulisan yang kurang tepat dilakukan oleh tiap kelompok; i. proses refleksi pembelajaran; j. mengumpulkan hasil kerja kelompok dan dilakukan evaluasi pembelajaran yang dilakukan. 

Model sugesti dilakukan dengan proses yang tidak sebentar dan membutuhkan inspirasi untuk menghasilkan ide-ide menarik yang akan dituangkan pada tulisan. Stimulus yang digunakan dalam kegiatan ini sangat bervariasi. Umumnya pada tingkat SD dilakukan dengan film yang dibuat dengan menggunakan lagu, puisi, teater, atau teknologi. Media yang digunakan bisa dalam format multimedia dan internet. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut: a. Pemilahan lagu atau puisi yang berhubungan dengan pembelajaran yang ingin diajarkan oleh guru. b. Siswa bersiap untuk menyimak serta siswa menyiapkan alat tulisnya untuk merangkum hasil yang mereka simak. c. Siswa menuliskan hasil yang mereka amati dan simak disesuaikan imajinasi mereka. d. Melakukan proses koreksi dengan cara saling bertukarjawaban antara siswa. e. Siswa mendapat hasil koreksi dan melakukan perbaikan kembali pada tulisannya. f. Penilaian akhir oleh guru. Selengkapnya.....

Rabu, 12 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Sastra Anak

Pembelajaran sastra termasuk dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dalam implementasinya pembelajaran ini terintegrasi dengan empat keterampilan berbahasa. Sastra anak diartikan sebagai suatu karya seni imajinatif yang disampaikan melalui bahasa yang dapat dipahami oleh anak 6–13 tahun (Yarni & Kaban, 2015). Sastra anak didefinisikan sebagai karya sastra yang berisi terkait dunia yang akrab dengan anak-anak (Rambe & Widiyarti, 2018). Karya sastra ini berisikan nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai pedoman tingkah laku siswa. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka pembelajaran sastra anak dimaknai sebagai kegiatan pembelajaran berupa karya seni imajinatif tentang dunia akrab anak yang disampaikan melalui bahasa pada anak usia 6-13 tahun.

Sastra sangat penting sekali diajarkan pada siswa di sekolah. Hal ini dikarenakan pada sastra mengandung nilai pendidikan yang dapat mendukung pembentukan karakter siswa, mengajarkan berbagai keterampilan berbahasa, mengembangkan pengetahuan budaya; dan meningkatkan cipta dan rasa (Susanti, 2015). Banyak sekali manfaat yang didapat dari pembelajaran sastra sehingga guru perlu mengajarkannya agar siswa tertarik dengan sastra. Rambe &Widiyarti (2018) menambahkan sastra juga meningkatkan kreativitas dan imajinasi serta menghibursiswa. 

Sastra dapat membuat siswa merasa bahagia, tertarik membaca, senang menyimak cerita dan memperoleh kepuasan batin yang dapat mendorong kecerdasan emosinya. Pembelajaran sastra dapat diajarkan melalui beberapa bentuk sastra seperti puisi, prosa, dan drama. Guru dapat mengajarkan berbagai bentuk sastra sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan karakteristik siswa. Keberhasilan pembelajaran sastra dipengaruhi oleh pemilihan bahan materi yang akan dijarkan guru meliputi tingkat keterbacaan dan kesesuaian (Yarni & Kaban, 2015). 

Guru hendaknya memilih materi sastra yang mudah dibaca, dipahami, dan dinikmati siswa. Tingkat kesesuaian berkaitan dengan kesesuaian dengan usia siswa dan lingkungan sekitar siswa hidup. Selain itu, guru harus mempertimbangkan nilai pendidikan yang diajarkan pada sastra tersebut sehingga setelah membaca sastra diharapkan siswa dapat mengimplementasikan nilai pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Teknik yang dapat digunakan dalam mengimplementasikan pembelajaran prosa yakni mendengarkan cerita, membaca cerita, membuat ringkasan cerita, bertukar pengalaman, dan menganalisis cerita. Selengkapnya.....

Senin, 10 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Berbicara dan Mempresentasikan

Keterampilan berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa yang diajarkan pada siswa sekolah dasar. Berbicara diartikan sebagai keterampilan dalam mengucapkan bunyi artikulasi untuk mengutarakan gagasan, pikiran dan perasaan (Rambe & Widiyarti, 2018). Berbicara tidak hanya merujuk pada pengucapan kata-kata saja akan tetapi juga menyampaikan tujuan gagasan yang ditata dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan penyimak. Hanum & Fakhrur juga menjelaskan bahwa berbicara sebagai kemampuan dalam melisankan bunyi artikulasi untuk menggambarkan, menyatakan dan menjelaskan informasi atau pesan. Pembicara memiliki maksud tertentu dalam menyampaikan pesan tersebut. Berbicara merupakan kemampuan dalam melafalkan kata untuk mendeskripsikan, menyatakan dan menjelaskan isi pikiran, gagasan dan perasaan (Yarni & Kaban, 2015). Beberapa definisi tersebut dapat disintesiskan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang dalam melisankan bunyi artikulasi berupa kata-kata untuk menggambarkan, menyatakan dan menjelaskan pikiran, gagasan dan perasaan. 

Mempresentasikan adalah keterampilan tambahan yang ada pada kurikulum merdeka. Mempresentasikan merupakan kemampuan menjelaskan pokok pikiran dan tanggapan secara jelas, teliti dan bertanggung jawab dengan komunikatif melalui berbagai jenis media. Jadi siswa dilatih untuk mampu berbicara di depan banyak orang terkait dengan materi yang sedang diajarkan oleh guru. Salah satu siswa presentasi dan siswa lainnya mendengarkan dan menanggapi. Berbicara sebagai keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap siswa sekolah dasar. Melalui berbicara, maka siswa dapat berkomunikasi dengan guru, teman dan orang lainnya. 

Berbicara juga membantu siswa dalam mengutarakan isi pikiran (Sukma & Saifudin, 2021). Dalam proses pembelajaran diperlukan komunikasi yang lancar antara siswa dan guru sehingga dapat mendorong keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berbicara dapat menjadikan siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran. Tanpa adanya keterampilan berbicara maka proses pembelajaran akan terhambat dan materi pembelajaran tidak dapat tersampaikan dengan baik. Hal ini dikarenakan melalui keterampilan berbicara siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir, menyimak, membaca dan menulis (Aufa et al., 2020). Sedangkan keterampilan mempresentasikan juga penting dikuasai untuk melatih kemampuan siswa berbicara di hadapan orang banyak dan meningkatkan kepercayaan diri siswa. Keterampilan ini harus dibiasakan agar keterampilannya berkembang yang akan berguna bagi dirinya dan orang sekitar. Proses berbicara memerlukan paling sedikit dua orang, satu sebagai pembicara dan satunya lagi sebagai penyimak. 

Pembicara juga harus memperhatikan beberapa hal meliputi: 1) memilih kata yang tepat; 2) isi pesan dapat dinalar dan tersusun sistematis; 3) struktur kalimat yang digunakan jelas dan sesuai SPOK; dan 4) suara yang diucapkan mudah didengar dan dipahami (Yarni & Kaban, 2015). Beberapa aspek tersebut dapat dilakukan agar kegiatan berbicara dapat terlaksana dengan efektif, pembicara dapat menyampaikan isi pesan dan pendengar dapat menerima dan memahami apa yang disampaikan. Proses keterampilan memirsa juga tidak jauh dari keterampilan berbicara. Dua keterampilan itu berkaitan dengan kegiatan komunikasi. Kehidupan sehari-hari siswa tidak terlepas dari keterampilan berbicara. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan berbicara yakni faktor keluarga dan sekolah (Magdalena et al., 2021). Faktor keluarga berkaitan dengan intensitas orang tua dalam melatih siswa berbicara. Hal ini berkaitan dengan proses komunikasi orang tua pada siswa di kehidupan sehari-hari. Faktor sekolah berhubungan dengan pembiasaan yang diberikan guru untuk bicara dengan orang lain. Guru memiliki tanggung jawab untuk melatih siswa dalam berbicara. Keberhasilan keterampilan berbicara yang dicapaisiswa harus mendapatkan dukungan dari kedua faktor tersebut. Capaian pembelajaran berbicara dan mempresentasikan dibagi menjadi beberapa fase. 

Capaian pembelajaran pada fase A (kelas 1-2) meliputi: 1) siswa dapat berbicara dengan santun, volume dan intonasi yang tepat; 2)siswa dapat bertanya, menjawab dan memberikan komentar dengan baik; 3)siswa mampu menyampaikan pokok pikirantanpa bantuan gambar; dan 4) siswa dapat menceritakan kembali suatu informasi dan teks cerita. Fase B (kelas 3-4) yakni: 1) siswa dapat berbicara dengan santun, intonasi dan volume tepat; 2)siswa dapat menyampaikan gagasan melalui percakapan dan diskusi; dan 3) siswa dapat menceritakan kembali informasi yang didapat dari bacaan dan hasil simakan. Fase C (kelas 4-6) yakni: 1) siswa dapat menjelaskan informasisecara lian untuk menghibur dan meyakinkan pendengar; 2) siswa dapat mengutarakan perasaan berdasarkan imajinasi dan fakta dalam bentuk puisi dan prosa; dan 3) siswa dapat mempresentasikan ide pokok, hasil pengamatan dan pengalaman dengan logis, runtut, efektif, kreatif dan kritis.

Capaian pembelajaran tersebut dapat diimplementasikan melalui berbagai metode berbicara. Guru harus memilih metode pembelajaran yang akan digunakan sehingga pembelajaran berbicara dapat dilaksnakan secara maksimal. Dalam pemilihan metode yang baik, guru harus menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan kebutuhan siswa. Metode yang dipilih harus mampu mendorong siswa untuk aktif berbicara dan meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu, lingkungan belajar juga harus dikondisikan untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Siswa perlu diberikan motivasi yang tinggi dengan pemberian pujian, hadiah, nilai dan sebagainya agar siswa tertarik untuk mau berbicara dan mempresentasikan. Selengkapnya.....

Minggu, 09 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Membaca dan Memirsa

Membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Membaca dimaknai sebagai proses yang dilaksanakan oleh seorang pembaca dengan tujuan mendapatkan informasi dari bacaan dan mampu memahami pola bahasa yang ditulis (Rambe & Widiyarti, 2018). Membaca sebagai kegiatan mengucapkan bunyi bahasa darisuatu tulisan yang memiliki makna tertentu. Fatmasari & Fitriyah (2018) menjelaskan bahwa membaca yakni memahami makna isi bahan bacaan yang tersirat maupun tersurat. Dalam hal ini, kegiatan membaca membutuhkan pemahaman agar apa yang disampaikan penulis dapat dipahami oleh pembaca.

Membaca juga didefinisikan sebagai kemampuan melek huruf dalam mengenali pola bunyi bahasa dan dapat mengucapkannya dengan benar (Yarni & Kaban, 2015). Siswa tidak hanya mampu membaca tulisan saja, namun dapat mengucapkannya dengan benar. Beberapa pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa membaca adalah kemampuan seseorang dalam mengenali dan mengucapkan pola bunyi tulisan bahan bacaan serta memahami makna tulisan tersebut. Memirsa adalah keterampilan yang baru muncul pada capaian pembelajaran di kurikulum merdeka. Keterampilan memirsa dapat terjadi dikarenakan perubahan teknologi yang pesat sehingga siswa harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Huri et al. (2021) menjelaskan bahwa memirsa adalah proses kegiatan menonton dan memaknai media visualseperti film, televisi, video dsb. Keterampilan ini tidak hanya sekedar melihat atau menonton akan tetapi juga mampu memaknai isi media yang ditayangkan tersebut.

Keterampilan memirsa diartikan sebagai keterampilan yang menggabungkan literasi visual dan memirsa kritis (Mulyadi & Wikanengsih, 2022). Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memaknai isi tayangan. Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disintesiskan bahwa memirsa adalah kompetensi literasi visual siswa yang mencakup kegiatan memperhatikan dan memahami media visual yang diberikan oleh guru pada siswa. Keterampilan membaca wajib dikuasai setiap siswa dalam proses pembelajaran. Melalui membaca pengetahuan siswa akan bertambah dan dapat meningkatkan kualitas siswa. Hal ini dikarenakan melalui membaca siswa mendapatkan informasi dari materi pembelajaran yang diajarkan guru dan dapat meningkatkan hasil belajar. Jika siswa bisa membaca dengan baik akan mendorong motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Selain itu, setiap faktor kehidupan siswa juga mengintegrasikan kegiatan membaca. Sehingga membaca akan mempermudah siswa dalam menjalani kegiatan sehari-hari dan memberikan banyak manfaat kepadanya. Sedangkan pentingnya keterampilan memirsa bagi siswa adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memahami isi media visual (Huri et al., 2021).

Pada saat ini komunikasi tidak hanya mendengarkan saja akan tetapi disertai aspek visual, melalui keterampilan memirsa ini maka siswa dapat memperoleh berbagai informasi baru dan belajar menganalisis teks visual dan multimedia. Membaca tidak hanya mengenali bentuk dan pola huruf, akan tetapi juga memahami maknanya. Proses membaca siswa sekolah dasar mencakup dua tahap yakni membaca permulaan dan membaca pemahaman. Membaca permulaan dipahami sebagai tahap awal dalam kegiatan membaca di sekolah dasar (Muammar, 2020). Tahap membaca ini diperuntukkan untuk siswa kelas rendah dengan merujuk pada kemampuan siswa dalam mengubah dan mengucapkan tulisan mejadi bunyi yang memiliki makna. Membaca permulaan difokuskan pada pengenalan huruf, merangkai huruf menjadi sebuah kata, ketepatan mengucapkan huruf, kejelasan dan kelancaran suara dalam membaca tulisan. Membaca pemahaman diartikan sebagai serangkaian kegiatan dengan tujuan memahami konteks bacaan (Khazanah & Cahyani, 2016). Proses membaca tahap ini melibatkan aspek mental dan kognitif siswa dalam memaknai dan menganalisis bahan bacaan. Kedua tahapan membaca ini penting dikuasai siswa karena siswa sekolah dasar tidak langsung bisa membaca secara lancar akan tetapi ada proses tahapannya dari yang mudah hingga sulit. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka ia dapat meningkatkan kemampuan membaca pada level pemahaman.

Faktor psikologis berkaitan dengan jenis kelamin dan kesehatan fisik siswa. Aspek fisik seperti pendengaran, penglihatan dan kemampuan berbicara. Siswa yang memiliki kekurangan atau kelainan dalam aspek fisik tersebut maka akan berpengaruh terhadap keterampilan membaca. Faktor intelektual berhubungan dengan tingkat intelegensi yang dimiliki siswa. Kemampuan berpikir siswa lebih berpengaruh terhadap membaca pemahaman. Karena membaca pemahaman membutuhkan kemampuan berpikir. Faktor lingkungan yakni lingkungan sekolah dan rumah. Lingkungan yang mendukung akan mendorong keterampilan membaca siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama guru dan orang tua agar keterampilan membaca dapat dicapai dengan baik. Faktor psikologis berhubungan dengan motivasi dan minat siswa dalam membaca. Siswa yang memiliki motivasi tinggi akan menunjukkan minat baca yang tinggi. Tanpa perintah dan paksaan dari orang tua dan guru siswa akan aktif membaca secara mandiri. 

Capaian pembelajaran keterampilan membaca dan memirsa pada kurikulum merdeka dibagi menjadi fase A, fase B, dan fase C. Capaian pembelajaran membaca fase A (kelas 1-2) yakni 1) siswa memiliki minat membaca atau memirsa; 2) siswa dapat membaca kata dengan fasih; 3) siswa dapat memahami informasi bacaan dan tayangan; dan 4) siswa dapat memahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan. Fase B (kelas 3-4) mencakup capaian pembelajaran meliputi: 1) siswa dapat memahami makna pesan dan informasi pada media cetak atau elektronik; 2) siswa dapat membaca kata-kata baru dengan fasih; 3) siswa mampu memahami ide pokok dan pendukung pada teks informatif; 4) siswa mampu memaparkan tokoh cerita pada teks narasi; dan 5) siswa dapat dapat mamahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan sesuai dengan topik. Fase C (kelas 5-6) memiliki capaian pembelajaran membaca yakni: 1)siswa dapat membaca kata-kata yang memiliki berbagai pola kombinasi huruf secara fasih; 2) siswa dapat memahami kosakata baru dari makna denotatif, konotatif, literal, dan kiasan; dan 3)siswa dapat menemukan ide pokok suatu teks deskripsi, eksposisi dan narasiserta nilai yang terkandung dalam suatu prosa, pantun dan puisi. Masing-masing fase memiliki tingkat kognitif yang berbeda. Berdasarkan capaian pembelajaran tersebut, maka dapat dianalisis bahwa pada fase A lebih fokus pada kefasihan siswa dalam membaca dan pemahaman siswa mengenai kosakata baru pada bacaan dan tayangan. Hal ini berkaitan dengan membaca permulaan yang fokus pada kelancaran siswa dalam membaca. Fase B dan fase C siswa sudah difokuskan dalam membaca kosakata baru dengan fasih dan memahami isi bacaan secara keseluruhan. Pada keterampilan memirsa siswa lebih difokuskan pada kemampuan memahami kosakata baru dari tayangan yang ditonton. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka tahapan selanjutnya adalah membaca pemahaman. Rambe & Widiyarti (2018) menjelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman yakni tahap prabaca, membaca dan pasca baca. Pertama, tahap prabaca untuk memotivasisiswa dalam membaca. Tahap ini penting dilakukan agar siswa terarah dan dapat menggali kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan dengan baik. Kegiatan ini meliputi: 1) memberikan gambaran awal bacaan; 2) memberikan petunjuk; 3) memberikan peta konsep terkait kosakata dalam bacaan; 4) sebelum membaca, siswa menulis pengalaman yang berkaitan dengan topik bacaan; dan 5) siswa diberikan gambaran situasi dalam cerita. Kedua, tahap membaca dapat dilakukan dengan berbagai metode membaca meliputi: 1) menentukan ide pokok; 2) identifikasi kata kunci; 3) mencuplik bacaan; 4) menjaring data; 5) mengisi bacaan yang rumpang; 6) memberi tanggapan pada bacaan; 7) menggambar peta konsep bacaan; 8) diskusi terkait topik bacaan; 9) mencari kata-kata sulit dan sebagainya. Ketiga, tahap pasca baca yakni untuk mengetahui ukuran kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan. Siswa dapat diberi tugas mengembangkan materi bacaan, memberikan beberapa pertanyaan atau menceritakan kembali isi bacaan.

Keterampilan memirsa adalah keterampilan berbahasa tambahan yang berkaitan dengan teknologi. Guru dituntut untuk melek teknologi dalam rangka memenuhi capaian pembelajaran memirsa. Pemilihan tayangan media visual yang diberikan kepada siswa menentukan tingkat keberhasilannya. Oleh karena itu, dalam memilih media visual guru harus memahami kebutuhan dan karakteristik siswa. Tayangan yang diberikan disesuaikan dengan tingkat usia dan kognitifnya. Guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran harus memahami posisinya. Berbagai hambatan dalam kegiatan membaca sering terjadi yang mengakibatkan rendahnya keterampilan membaca siswa. Antisipasi yang dapat dilakukan guru yakni meliputi: 1) mendalami fungsinya dalam kegiatan pembelajaran membaca; 2) mengerti prinsip membaca; 3) mengetahui tahapan membaca; 4) mengetahui strategi membaca; 5) dapat mengimplementasikan tahapan dan strategi membaca dengan baik; 6) mengetahui konsep penilaian membaca; dan 7) mengukur kemampuan membaca siswa secara periodik (Rambe & Widiyarti, 2018). Sebelum mengajarkan pembelajaran membaca, guru harus memahami dahulu seluruh konsep membaca permulaan dan pemahaman. Selengkapnya.....

Sabtu, 08 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Menyimak

Menyimak sebagai keterampilan berbahasa yang memiliki kontribusi penting dalam kehidupan siswa sehari-hari maupun disekolah. Siswa tidak dapat membaca, menulis dan berbicara tanpa menguasai keterampilan menyimak. Menyimak adalah keterampilan berbahasa pertama yang diterima seseorang sejak kecil di lingkungan keluarga dan sekitarnya. Menyimak diartikan sebagai proses mendengarkan melaluisimbol-simbol lisan dengan saksama untuk mendapatkan informasi, dalam menerima dan memahami dari komunikasi yang sudah disampaikan pembicara melalui ucapan (Daeng et al., 2010). Sudiati (2019) menjelaskan bahwa menyimak yakni proses mendengarkan bunyi bahasa secara intens untuk memahami ucapan yang dimaksud pembicara. Menyimak dimaknai sebagai aktivitas mendengarkan secara kreatif dan aktif dengan tujuan mendapatkan informasi dan memahami isi terhadap ucapan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Beberapa penjelasan tersebut, dapat disintesiskan bahwa menyimak adalah kegiatan mendengarkan simbol-simbol lisan secara intens, kreatif, dan aktif untuk dapat menerima, memahami, dan mengimplementasikan informasi yang disampaikan pembicara.

Peranan menyimak bagi siswa sekolah dasar sebagai tahap awal dalam menguasai capaian pembelajaran yang akan dicapai. Keterampilan menyimak yang baik juga akan berpengaruh terhadap hasil belajarsiswa. Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran saat guru menjelaskan. Menyimak bagi siswa sekolah dasar memiliki kontribusi penting dikarenakan melalui menyimak siswa menerima, memahami dan mengimplementasikan materi pembelajaran dalam kehidupannya Selain itu, menyimak penting sekali dalam kegiatan sehari-hari dikarenakan melalui menyimak seseorang mendapatkan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan. Proses kegiatan menyimak melibatkan faktor fisik dan mental. Aspek mental berkaitan dengan proses menyimak yang berkaitan dengan proses kognitif meliputi perhatian, pemahaman dan ingatan. Pemahaman informasi yang diterima dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya sehingga akan memunculkan interpretasi baru. Proses menyimak yang tidak hanya mengandalkan fisik saja karena hal ini berkaitan dengan pemahaman yang tepat dan masuk ke tahap penyimpanan memori jangka lama.

Kegiatan menyimak dapat dilakukan melalui beberapa tahap yakni: 1) mendengar yaitu siswa mendengarsegala sesuatu yang dibicarakan oleh pembicara; 2) memahami yaknisiswa mengerti isi pesan yang disampaikan pembicara; 3) menginterpretasi yaitu siswa mengartikan setiap aspek yang disampaikan pembicara; 4) mengevaluasi yaitu menyampaikan pendapat siswa terkait dengan isi pesan yang disampaikan pembicara baik itu kekurangan dan kelebihan; dan 5) menanggapi yakni siswa memberikan tanggapan terhadap isi pesan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Keberhasilan kegiatan menyimak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang ada dalam kegiatan berkomunikasi. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam kegiatan menyimak yakni adanya pembicara, penyimak, pesan yang disampaikan, media yang digunakan dan keadaan lingkungan sekitar (Sudiati, 2019). Penyimak memiliki tanggung jawab besar dalam keberhasilan kegiatan menyimak tersebut. Selain itu, juga perlu memperhatikan berbagai faktor eksternal yang dapat mengganggu dalam proses menyimak.

Capaian pembelajaran keterampilan menyimak pada kurikulum merdeka dibagi menjadi 3 fase yakni fase A (kelas 1–2), fase B (kelas 3– 4) dan fase C (kelas 5–6). Keterampilan menyimak pada fase A mendorong siswa dapat yakni: 1) menjadi penyimak yang penuh perhatian; 2) memiliki ketertarikan dalam kegiatan menyimak; dan 3) mampu memahami pesan dan informasi yang disampaikan melalui audio, teks aural yang berhubungan dengan komunikasi dan instruksi lisan. Sedangkan keterampilan menyimak fase B yang harus dikuasai siswa meliputi: 1) dapat memahami gagasan utama suatu pesan lisan dan informasi melalui audio, teks aural dan instruksi lisan yang berhubungan dengan komunikasi; dan 2) dapat memahami teks narasi yang dibacakan dari audio. Pada Fase C tingkat keterampilan menyimak siswa lebih tinggi dari capaian pembelajaran sebelumnya yang meliputi: 1) dapat menganalisisinformasi dalam bentuk fakta, prosedur yang mencakup ciri objek dan urutan kejadian; dan 2) menganalisis nilai-nilai dari beberapa jenis teks informatif dan fiksi yang diberikan dalam bentuk lisan, teks aural, dan audio.

Beberapa capaian pembelajaran keterampilan menyimak yang ada di kurikulum merdeka tersebut, dapat diimplementasikan melalui berbagai strategi agar siswa dapat menguasai dengan baik. Rambe & Widiyarti (2018) memaparkan metode yang dapat digunakan pada pembelajaran menyimak yakni sebagai berikut.

1. Metode Simak-Ulang Ucap 

Metode ini dapat diterapkan dengan mengenalkan bunyi bahasa dan cara mengucapkannya. Metode ini menyatukan keterampilan berbicara dan menyimak. Metode ini cocok digunakan di kelas rendah. Tahapan yang dapat dilakukan guru dalam membelajarkan siswa menggunakan simak-ulang ucap meliputi: 1) guru membacakan atau memutar audio seperti fonem, puisi pendek dsb; dan 2) Siswa menirukan ucapan guru yang dapat dilaksanakan secara mandiri dan kelompok. 

 2. Metode Simak Kerjakan 

Metode ini melibatkan keterampilan menulis dalam implementasinya. Setelah siswa menyimak, maka ia menulisjawaban soal yang diberikan guru sesuai dengan pesan yang disampaikan. Biasanya guru memberikan bahan simakan cerita, lalu siswa menjawab soal terkait unsur instrinsik dalam cerita tersebut. Oleh karena itu, metode ini membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi. 

3. Metode Simak Terka 

Metode ini sudah tidak asing lagi bagi siswa. Siswa disuruh menyimak apa yang diucapkan guru, lalu ia menebak maksud pesan yang disampaikan. Seperti contoh, guru mendeskripsikan ciri-ciri suatu benda tanpa menyebut namanya, kemudian siswa menebak nama benda tersebut. Dalam hal ini,siswa tidak hanya membutuhkan konsentrasi tetapi juga harus bisa berpikir dengan cepat. 

4. Metode Simak Tulis 

Metode simak tulis adalah metode yang banyak diterapkan oleh guru Indonesia. Implementasinya sangat mudah yakni guru mempersiapkan materi pembelajaran yang akan didiktekan pada siswa. Kemudian siswa menulis apa yang diucapkan guru. Metode ini juga membutuhan keterampilan menulis. Siswa harus menyimak dengan saksama agar hasil tulisannya sesuai dengan pesan yang diucapkan guru. 

5. Metode Memperluas Kalimat 

Metode ini mengintegrasikan keterampilan berbicara. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru mengucapkan kalimat sederhana yang terdiri atas beberapa kata, lalu siswa menirukan apa yang diucapkan guru. Kegiatan tersebut dilakukan sebanyak dua kali. Siswa menghubungkan dua kalimat sederhana menjadi kalimat panjang. Siswa harus berkonsentrasi penuh,sehingga dapat merangkai kalimat dengan benar. 

 6. Metode Bisik Berantai 

Metode ini dapat diterapkan di kelas rendah dan kelas tinggi. Kegiatan pembelajaran menyimak menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru membisikkan kalimat pada salah satu siswa. Lalu siswa tersebut membisikkan kalimat tersebut kepada siswa lainnya, hal itu berulang secara terus menerus sampai siswa terakhir. Lalu siswa terakhir mengucapkan kalimat tersebut pada guru. Selain mengasyikkan, metode ini juga melatih kefokusan setiap siswa. 

7. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini selalu digunakan oleh setiap guru. Metode ini dapat diterapkan guru dengan memberikan pertanyaan, lalu siswa menjawab. Pertanyaan yang diberikan disesuaikan dengan tema pembelajaran. Kefokusan siswa dalam menyimak dapat dilihat dari jawaban yang diberikan apakah sesuai atau tidak dengan pertanyaan yang diberikan guru. 

8. Metode Identifikasi Tema, Ide Pokok, dan Kata Kunci

Langkah ini dapat dilakukan dengan guru bercerita sedikit dan siswa menyimak secara intens. Di tengah bercerita guru berhenti, lalu dilanjutkan bercerita oleh siswa. Hal ini berulang terus hingga cerita dirasa cukup. Metode ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan dapat mendorong kreativitas siswa dalam membuat kalimat. Selain itu juga mengajar siswa untuk percaya diri dan saling menghargai terhadap berbagai karya yang dihasilkan sejelek apapun. 

 9. Metode Parafrase 

Metode ini merupakan mengungkap kembali sesuatu menggunakan bahasa sendiri. Dalam tahapan implementasinya, guru dapat membacakan sebuah puisi di depan siswa. Siswa menceritakan isi puisi tersebut menggunakan bahasa sendiri. Metode ini membutuhkan konsentrasi untuk dapat memahami isi dengan baik sehingga dapat memparafrasekan sebuah pesan dengan baik. 

10. Metode Merangkum 

Metode ini cocok diimplementasikan pada kelas tinggi. Hal ini dikarenakan metode ini membutuhkan pemahaman dan konsentrasi yang tinggi. Setelah siswa menyimak apa yang disampaikan guru, siswa merangkum informasi atau pesan secara runtut. Merangkum dapat dilakukan dengan merangkai kata menggunakan bahasa sendiri.

Pembelajaran menyimak juga dapat diajarkan melalui berbagai media yang bervariasi. Media memiliki beberapa fungsi yaitu memberikan kemudahan guru dalam menyampaikan materi dan menarik minat belajar siswa (Yarni & Kaban, 2015). Siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, sehingga keberadaan media dalam proses pembelajaran sangat diperlukan. Jenis media yang digunakan guru berpengaruh terhadap hasil keterampilan menyimak siswa. Media yang dapat digunakan dalam menyimak yakni: 1) media visual meliputi gambar, foto, kartun, poster, grafik, dsb; 2) media audio meliputi MP3, radio, kaset audio dsb; 3) media audio visual meliputi: video, sound slide, film bersuara, dan televisi; 4) multimedia yang berisi animasi, foto, video, musik, gambard dan teks; dan 5) media realita yakni media yang ada di sekitar lingkungan siswa (Sukma & Saifudin, 2021). 

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kurikulum merdeka memberikan kebebasan pada guru untuk memilih metode dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Berbagai metode dan media yang sudah dijelaskan tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi guru dalam mengajarkan keterampilan menyimak siswa pada kurikulum merdeka. Pemilihan metode dan media harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Guru tidak boleh memilih hanya berdasarkan kemudahan yang diperoleh guru saja. Capaian pembelajaran menyimak fase A, fase B dan fase C memiliki tingkatan kognitif yang berbeda. Sehingga tingkat kognitif siswa juga menjadi pertimbangan penting bagi guru dalam pemilihan metode dan media. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam menyukseskan pembelajaran menyimak yaitu pertama, memilih metode pembelajaran yang berkaitan dengan materi dan bervariasi (Sukma & Saifudin, 2021). 

Guru harus memahami kondisi siswanya, sehingga bisa menentukan metode dan media yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Kedua, materi yang digunakan dalam pembelajaran menyimak harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Materi pembelajaran yang diberikan pada siswa tidak terlalu sulit dan tidak terlalu gampang. Tingkat kesukaran materi harus disesuaikan juga dengan kognitif siswa sekolah dasar. Ketiga, mengimplementasikan media pembelajaran yang beragam. Pembelajaran menyimak akan lebih menarik siswa jika guru dapat mengintegrasikan teknologi dengan materi pembelajaranmenyimak. Dalam hal ini, guru dituntut untuk melek teknologi. Keempat, mengatur lingkungan belajarsiswa. Pengelolaan lingkungan belajar yang baik akan berdampak pada kenyamanan siswa dalam belajar. Ruang belajar yang nyaman dapat meningkatkan motivasi belajar menyimak. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang baik dengan menyesuaikan dengan karakteristik siswanya. Kelima, melaksanakan evaluasi dengan baik. Guru memberikan penilaian kepada siswa sebagai bentuk penghargaan yang sudah siswa berikan dalam usaha belajar. Selengkapnya.....

Minggu, 04 Juni 2023

FILOSOFI, KONSEP, DAN TEORI - BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SD BERORIENTASI KURIKULUM MERDEKA




Filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu falsafaah,bahasa ini diadopsi dari bahasa Yunani yaitu philosophiha. Kaelan pada tahun 1998 menyatakan bahwa filsuf dunia memiliki perhatian besar terhadap bahasa, sebab banyak persoalan filsafat, konsep filosofi akan menjadi jelas saat dianalisis dengan bahasa (Sumanto, 2017; Warami, 2016). Tokoh-tokoh filsafat analitik bahasa hadir dengan analitik bahasanya untuk mengatasi kelemahan, kekaburan, dan kekacauan yang selama ini muncul dalam konsep filosofi. Salah satu tokoh filsuf di Perancis yaitu F. de Saussure juga melakukan perubahan radikal dengan meletakkan dasar-dasar filosofis terhadap linguistik. Filsafat bahasa dapat dikelompokkan atas dua pengertian. Pertama, bahasa sebagai alat untuk menganalisis, memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep filosof. Kedua bahasa sebagai objek materi dengan membahas, mencari hakikat bahasa, hingga paradigma bagi perkembangan teori-teori linguistik. Pada zaman Yunani kuno, bahasa menjadi salah satu bahan kajian para filsuf karena mereka mengembangkan dan mengemukakan gagasan tentang bahasa. Zainuddin (2009) mengatakan bahwa filsafat memiliki tiga cabang, yaitu: 1. Metafisika. secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘di luar fisik’ yang berarti bahwa sesuatu yang berada diluar apa yang bisa dilihat dan dirasakan secara empiris. 2. Epistemologi. menurut sumber yang sama, merupakan teori tentang ilmu pengetahuan, yaitu teori yang menaungi alat yang dipergunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, batasjarak ilmu pengetahuan kita, dan kriteria yang kita pergunakan untuk menilai salah atau benarnya ilmu pengetahuan kita. 3. Logika. Cabang filosofi yang merefleksikan hakikat cara berpikir sehingga mampu memberikan penalaran yang tepat, membedakan argumen yang baik dan yang buruk, dan metode-metode untuk mendeteksi kesalahan dalam penalaran. Kaelan (1998) mengatakan bahwa epistemologi juga pada sisi lain berkaitan dengan teori kebenaran, dimana di dalam epistemologi ini terdapat tiga jenis kebenaran. 1. Teori kebenaran koherensi, yaitu sebuah pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebenarnya. Sebagai contoh, pernyataan “hewan menyusui disebut mamalia” pernyataannya bahwa sapi adalah menyusui. 2. Teori kebenaran korespondensi, yaitu bahwa sebuah penyatann dianggap benar bilamana materi pengetahuan yang dikandung dalam pernyataan ini berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh pernyataan tersebut, contoh ‘kota Medan terdapat di Sumatra Utara’ adalah benar karena terdapat hubungan antara ide dengan fakta dimana hubungan itu terjadi melalui bahasa. 3. Teori kebenaran pragmatis, yaitu sebuah pernyataan yang dianggap benar apabila pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Ini berarti suatu pernyataan akan dianggap apabila memberikan manfaat praktis kepada manusia. Dengan demikian, pernyataan itudianggap benar berdasarkan konteks penggunaannya. Sauri (2006) mengemukakan bahwa bahasa memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut: a. Semantik yaitu bahasa mempunyai aturan atau pola antara lain sistem bunyi dan sistem makna. b. Arbiter(manasuka) artinya bahasa itu dipilih secara acak tanpa alasan atau manasuka, tidak ada hubungan logis dengan kata-kata sebagai simbol. c. Ucapan atau vokal, artinya bahasa itu ujaran, berarti media bahasa yang terpenting adalah dengan bunyi-bunyi. d. Simbol, bahwa bahasa itu simbol dari perasaan, keinginanan, dan harapan. e. Bahasa itu mengacu pada dirinya, artinya bahasa itu mampu digunakan untuk menganalisis bahasa itu sendiri. f. Manusiawi, artinya bahasa itu adalah kekayaan yang hanya dimiliki oleh manusia g. Komunikasi, artinya bahasa itu alat komunikasi dan interaksi antar manusia dan menjadi pelekat dalam menyatupadakan keluarga, masyarakat, dan berbagai kegiatan sosialisasi. Intinya bahwa bahasa adalah merupakan media wacana segala ilmu dan sekaligus metabudaya. Wicoyo (1997) mengatakan bahwa Devit menyebutkan adanya empat lingkaran makna dalam bahasa, yaitu: 1. Makna yang dibicarakan dibicarakan oleh isi muatan pikiran. 2. Isi itu dijelaskan oleh makna kalimat pikiran. 3. Makna itu dijelaskan oleh makna konvensional. 4. Makna konvensional dijelaskan oleh makna pembicara. Untuk menemukan makna, filsafat memberikan analisis sehingga makna tersebut dapat diterima secara logis, objektif, dan sistematis. Sedangkan peran filsafat sebagai bahasa adalah bahwa analisis filsafat merupakan salah satu metode yang digunakan dalam memecahkan problematika kebahasaan. Aliran-aliran dalam filsafat dapat mewarnai pandangan para ahli bahasa dalam mengembangkan teori-teorinya. Selengkapnya...

Jumat, 02 Juni 2023

Bahasa dan Sastra Indonesia SD Berorientasi Kurikulum Merdeka

 


Perkembangan zaman semakin cepat di era 5.0, maka pemerintah melakukan berbagai terobosan baru untuk memenuhi kebutuhan belajar dan mengajar. Bahasa Indonesia adalah Bahasa persatuan, jangan heran pelajaran Bahasa Indonesia dipelajari dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Setiap kegiatan belajar mengajar membutuhkan kurikulum. Kurikulum juga terus dilakukan pengembangan. Perubahan kurikulum hal biasa termasuk perubahan kurikulum 2013 menjadi kurikulum merdeka. Buku Bahasa dan sastra Indonesia SD berorientasi kurikulum merdeka, hadir untuk mendukung dan melengkapi kegiatan belajar mengajar. 

Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia Di SD - Hakikat Bahasa dan Pembelajaran Bahasa

 

Dunia mempunyai banyak ragam bahasa. Setiap bahasa dengan khas tersendiri yang membedakan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya. Bahasa adalah alat komunikasi utama dan selalu terjadi dalam konteks sosial (Kuiper & Allan, 2017). Bahasa secara ekslusif hanya dimiliki manusia terdapat perbedaan yang jelas dari sesi lingustik dan non-lingustik serta memiliki makna (Burridge & Stebbins, 2019). Richards and Webber, menyebutkan bahasa adalah sistem komunikasi manusia yang dinyatakan melalui suara atau ungkapan tulis yang terstruktur untuk membentuk satuan yang lebih besar seperti morfem, kata dan kalimat. Sedangkan menurut Sapir, bahasa sebagai suatu naluriah yang dimiliki manusia untuk mengkomunikasikan ide-ide, emosi dan keinginan yang menggunakan simbol yang dibuat untuk tujuan tertentu (Wiratno & Santosa, 2014). Bahasa adalah alat komunikasi, bersifat arbitrer, konvensional dan merupakan lambang bunyi (Suhandra, 2019). Bahasa adalah alat komunikasi yang bermakna (Noermanzah, 2019). Bahasa dalam pengertian kamus besar Bahasa Indonesia adalah sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran (Sugono, D., 2008).

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...