Tampilkan postingan dengan label Konsep dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konsep dasar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Desember 2023

Konsep Belajar Bahasa Indonesia

Konsep merupakan abstraksi pemikiran yang merinci atau langkah-lakanh yang akan diambil saat melakukan aktivitas. Konsep adalah sesuatu yang dikandung dalam pikiran: prinsip, ide, pemikiran umum atau abstrak atau gagasan (Safdar et al., 2012). Belajar merupakan suatu keharusan yang mesti dilakukan insan agar tercipta perubahan yang lebih baik, bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar. Konsep belajar yang baik adalah belajar yang dilakukan dengan kesadaran, karena kebutuhan akan ilmu untuk memecahkan semua permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Belajar selayaknya terus dilakukan selagi masih bernafas dan jiwa masih bersama raga. Menjalani kehidupan tanpa ilmu akan mengalami banyak tantangan. Jika ingin memperoleh kebahagian dunia dan akhirat hendaklah berilmu, sejatinya ilmu didapatkan dengan proses belajar.

Belajar bukan lagi aktivitas internal individualistik untuk mencari solusi permanen (Behlol, 2010). Belajar dapat dilakukan dimana saja dan belajar juga bisa dilakukan bersama siapa saja. Belajar tidak selalu berada diruang kelas, menggunakan buku, pena dan komputer. Alam semesta baik benda mati dan makhluk hidup merupakan sumber belajar bagi semua orang. Kita tidak boleh menganggap belajar sebagai gagasan sederhana tentang intraksi sehari-hari antara guru dan siswa di sekolah (Outcomes & Terms, 2007). Belajar menjadikan perubahan sikap yang membawa pada perkembangan keterampilan yang belum pernah dimiliki sebelumnya. Belajar berprogres dalam kebaikan dan perubahan. Belajar adalah tentang perubahan; perubahan yang dibawah dengan mengembangkan keterampilan baru, memahami hukum ilmiah dan mengubah sikap (Sequeira, 2018). Buku lengkapnya dapat diakses dibeberapa link berikut:

Beli Buku Digital dan Cetak

Google Schoolar

DOI

Research Gate


Sabtu, 08 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Menyimak

Menyimak sebagai keterampilan berbahasa yang memiliki kontribusi penting dalam kehidupan siswa sehari-hari maupun disekolah. Siswa tidak dapat membaca, menulis dan berbicara tanpa menguasai keterampilan menyimak. Menyimak adalah keterampilan berbahasa pertama yang diterima seseorang sejak kecil di lingkungan keluarga dan sekitarnya. Menyimak diartikan sebagai proses mendengarkan melaluisimbol-simbol lisan dengan saksama untuk mendapatkan informasi, dalam menerima dan memahami dari komunikasi yang sudah disampaikan pembicara melalui ucapan (Daeng et al., 2010). Sudiati (2019) menjelaskan bahwa menyimak yakni proses mendengarkan bunyi bahasa secara intens untuk memahami ucapan yang dimaksud pembicara. Menyimak dimaknai sebagai aktivitas mendengarkan secara kreatif dan aktif dengan tujuan mendapatkan informasi dan memahami isi terhadap ucapan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Beberapa penjelasan tersebut, dapat disintesiskan bahwa menyimak adalah kegiatan mendengarkan simbol-simbol lisan secara intens, kreatif, dan aktif untuk dapat menerima, memahami, dan mengimplementasikan informasi yang disampaikan pembicara.

Peranan menyimak bagi siswa sekolah dasar sebagai tahap awal dalam menguasai capaian pembelajaran yang akan dicapai. Keterampilan menyimak yang baik juga akan berpengaruh terhadap hasil belajarsiswa. Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran saat guru menjelaskan. Menyimak bagi siswa sekolah dasar memiliki kontribusi penting dikarenakan melalui menyimak siswa menerima, memahami dan mengimplementasikan materi pembelajaran dalam kehidupannya Selain itu, menyimak penting sekali dalam kegiatan sehari-hari dikarenakan melalui menyimak seseorang mendapatkan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan. Proses kegiatan menyimak melibatkan faktor fisik dan mental. Aspek mental berkaitan dengan proses menyimak yang berkaitan dengan proses kognitif meliputi perhatian, pemahaman dan ingatan. Pemahaman informasi yang diterima dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya sehingga akan memunculkan interpretasi baru. Proses menyimak yang tidak hanya mengandalkan fisik saja karena hal ini berkaitan dengan pemahaman yang tepat dan masuk ke tahap penyimpanan memori jangka lama.

Kegiatan menyimak dapat dilakukan melalui beberapa tahap yakni: 1) mendengar yaitu siswa mendengarsegala sesuatu yang dibicarakan oleh pembicara; 2) memahami yaknisiswa mengerti isi pesan yang disampaikan pembicara; 3) menginterpretasi yaitu siswa mengartikan setiap aspek yang disampaikan pembicara; 4) mengevaluasi yaitu menyampaikan pendapat siswa terkait dengan isi pesan yang disampaikan pembicara baik itu kekurangan dan kelebihan; dan 5) menanggapi yakni siswa memberikan tanggapan terhadap isi pesan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Keberhasilan kegiatan menyimak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang ada dalam kegiatan berkomunikasi. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam kegiatan menyimak yakni adanya pembicara, penyimak, pesan yang disampaikan, media yang digunakan dan keadaan lingkungan sekitar (Sudiati, 2019). Penyimak memiliki tanggung jawab besar dalam keberhasilan kegiatan menyimak tersebut. Selain itu, juga perlu memperhatikan berbagai faktor eksternal yang dapat mengganggu dalam proses menyimak.

Capaian pembelajaran keterampilan menyimak pada kurikulum merdeka dibagi menjadi 3 fase yakni fase A (kelas 1–2), fase B (kelas 3– 4) dan fase C (kelas 5–6). Keterampilan menyimak pada fase A mendorong siswa dapat yakni: 1) menjadi penyimak yang penuh perhatian; 2) memiliki ketertarikan dalam kegiatan menyimak; dan 3) mampu memahami pesan dan informasi yang disampaikan melalui audio, teks aural yang berhubungan dengan komunikasi dan instruksi lisan. Sedangkan keterampilan menyimak fase B yang harus dikuasai siswa meliputi: 1) dapat memahami gagasan utama suatu pesan lisan dan informasi melalui audio, teks aural dan instruksi lisan yang berhubungan dengan komunikasi; dan 2) dapat memahami teks narasi yang dibacakan dari audio. Pada Fase C tingkat keterampilan menyimak siswa lebih tinggi dari capaian pembelajaran sebelumnya yang meliputi: 1) dapat menganalisisinformasi dalam bentuk fakta, prosedur yang mencakup ciri objek dan urutan kejadian; dan 2) menganalisis nilai-nilai dari beberapa jenis teks informatif dan fiksi yang diberikan dalam bentuk lisan, teks aural, dan audio.

Beberapa capaian pembelajaran keterampilan menyimak yang ada di kurikulum merdeka tersebut, dapat diimplementasikan melalui berbagai strategi agar siswa dapat menguasai dengan baik. Rambe & Widiyarti (2018) memaparkan metode yang dapat digunakan pada pembelajaran menyimak yakni sebagai berikut.

1. Metode Simak-Ulang Ucap 

Metode ini dapat diterapkan dengan mengenalkan bunyi bahasa dan cara mengucapkannya. Metode ini menyatukan keterampilan berbicara dan menyimak. Metode ini cocok digunakan di kelas rendah. Tahapan yang dapat dilakukan guru dalam membelajarkan siswa menggunakan simak-ulang ucap meliputi: 1) guru membacakan atau memutar audio seperti fonem, puisi pendek dsb; dan 2) Siswa menirukan ucapan guru yang dapat dilaksanakan secara mandiri dan kelompok. 

 2. Metode Simak Kerjakan 

Metode ini melibatkan keterampilan menulis dalam implementasinya. Setelah siswa menyimak, maka ia menulisjawaban soal yang diberikan guru sesuai dengan pesan yang disampaikan. Biasanya guru memberikan bahan simakan cerita, lalu siswa menjawab soal terkait unsur instrinsik dalam cerita tersebut. Oleh karena itu, metode ini membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi. 

3. Metode Simak Terka 

Metode ini sudah tidak asing lagi bagi siswa. Siswa disuruh menyimak apa yang diucapkan guru, lalu ia menebak maksud pesan yang disampaikan. Seperti contoh, guru mendeskripsikan ciri-ciri suatu benda tanpa menyebut namanya, kemudian siswa menebak nama benda tersebut. Dalam hal ini,siswa tidak hanya membutuhkan konsentrasi tetapi juga harus bisa berpikir dengan cepat. 

4. Metode Simak Tulis 

Metode simak tulis adalah metode yang banyak diterapkan oleh guru Indonesia. Implementasinya sangat mudah yakni guru mempersiapkan materi pembelajaran yang akan didiktekan pada siswa. Kemudian siswa menulis apa yang diucapkan guru. Metode ini juga membutuhan keterampilan menulis. Siswa harus menyimak dengan saksama agar hasil tulisannya sesuai dengan pesan yang diucapkan guru. 

5. Metode Memperluas Kalimat 

Metode ini mengintegrasikan keterampilan berbicara. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru mengucapkan kalimat sederhana yang terdiri atas beberapa kata, lalu siswa menirukan apa yang diucapkan guru. Kegiatan tersebut dilakukan sebanyak dua kali. Siswa menghubungkan dua kalimat sederhana menjadi kalimat panjang. Siswa harus berkonsentrasi penuh,sehingga dapat merangkai kalimat dengan benar. 

 6. Metode Bisik Berantai 

Metode ini dapat diterapkan di kelas rendah dan kelas tinggi. Kegiatan pembelajaran menyimak menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru membisikkan kalimat pada salah satu siswa. Lalu siswa tersebut membisikkan kalimat tersebut kepada siswa lainnya, hal itu berulang secara terus menerus sampai siswa terakhir. Lalu siswa terakhir mengucapkan kalimat tersebut pada guru. Selain mengasyikkan, metode ini juga melatih kefokusan setiap siswa. 

7. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini selalu digunakan oleh setiap guru. Metode ini dapat diterapkan guru dengan memberikan pertanyaan, lalu siswa menjawab. Pertanyaan yang diberikan disesuaikan dengan tema pembelajaran. Kefokusan siswa dalam menyimak dapat dilihat dari jawaban yang diberikan apakah sesuai atau tidak dengan pertanyaan yang diberikan guru. 

8. Metode Identifikasi Tema, Ide Pokok, dan Kata Kunci

Langkah ini dapat dilakukan dengan guru bercerita sedikit dan siswa menyimak secara intens. Di tengah bercerita guru berhenti, lalu dilanjutkan bercerita oleh siswa. Hal ini berulang terus hingga cerita dirasa cukup. Metode ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan dapat mendorong kreativitas siswa dalam membuat kalimat. Selain itu juga mengajar siswa untuk percaya diri dan saling menghargai terhadap berbagai karya yang dihasilkan sejelek apapun. 

 9. Metode Parafrase 

Metode ini merupakan mengungkap kembali sesuatu menggunakan bahasa sendiri. Dalam tahapan implementasinya, guru dapat membacakan sebuah puisi di depan siswa. Siswa menceritakan isi puisi tersebut menggunakan bahasa sendiri. Metode ini membutuhkan konsentrasi untuk dapat memahami isi dengan baik sehingga dapat memparafrasekan sebuah pesan dengan baik. 

10. Metode Merangkum 

Metode ini cocok diimplementasikan pada kelas tinggi. Hal ini dikarenakan metode ini membutuhkan pemahaman dan konsentrasi yang tinggi. Setelah siswa menyimak apa yang disampaikan guru, siswa merangkum informasi atau pesan secara runtut. Merangkum dapat dilakukan dengan merangkai kata menggunakan bahasa sendiri.

Pembelajaran menyimak juga dapat diajarkan melalui berbagai media yang bervariasi. Media memiliki beberapa fungsi yaitu memberikan kemudahan guru dalam menyampaikan materi dan menarik minat belajar siswa (Yarni & Kaban, 2015). Siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, sehingga keberadaan media dalam proses pembelajaran sangat diperlukan. Jenis media yang digunakan guru berpengaruh terhadap hasil keterampilan menyimak siswa. Media yang dapat digunakan dalam menyimak yakni: 1) media visual meliputi gambar, foto, kartun, poster, grafik, dsb; 2) media audio meliputi MP3, radio, kaset audio dsb; 3) media audio visual meliputi: video, sound slide, film bersuara, dan televisi; 4) multimedia yang berisi animasi, foto, video, musik, gambard dan teks; dan 5) media realita yakni media yang ada di sekitar lingkungan siswa (Sukma & Saifudin, 2021). 

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kurikulum merdeka memberikan kebebasan pada guru untuk memilih metode dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Berbagai metode dan media yang sudah dijelaskan tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi guru dalam mengajarkan keterampilan menyimak siswa pada kurikulum merdeka. Pemilihan metode dan media harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Guru tidak boleh memilih hanya berdasarkan kemudahan yang diperoleh guru saja. Capaian pembelajaran menyimak fase A, fase B dan fase C memiliki tingkatan kognitif yang berbeda. Sehingga tingkat kognitif siswa juga menjadi pertimbangan penting bagi guru dalam pemilihan metode dan media. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam menyukseskan pembelajaran menyimak yaitu pertama, memilih metode pembelajaran yang berkaitan dengan materi dan bervariasi (Sukma & Saifudin, 2021). 

Guru harus memahami kondisi siswanya, sehingga bisa menentukan metode dan media yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Kedua, materi yang digunakan dalam pembelajaran menyimak harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Materi pembelajaran yang diberikan pada siswa tidak terlalu sulit dan tidak terlalu gampang. Tingkat kesukaran materi harus disesuaikan juga dengan kognitif siswa sekolah dasar. Ketiga, mengimplementasikan media pembelajaran yang beragam. Pembelajaran menyimak akan lebih menarik siswa jika guru dapat mengintegrasikan teknologi dengan materi pembelajaranmenyimak. Dalam hal ini, guru dituntut untuk melek teknologi. Keempat, mengatur lingkungan belajarsiswa. Pengelolaan lingkungan belajar yang baik akan berdampak pada kenyamanan siswa dalam belajar. Ruang belajar yang nyaman dapat meningkatkan motivasi belajar menyimak. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang baik dengan menyesuaikan dengan karakteristik siswanya. Kelima, melaksanakan evaluasi dengan baik. Guru memberikan penilaian kepada siswa sebagai bentuk penghargaan yang sudah siswa berikan dalam usaha belajar. Selengkapnya.....

Minggu, 04 Juni 2023

FILOSOFI, KONSEP, DAN TEORI - BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SD BERORIENTASI KURIKULUM MERDEKA




Filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu falsafaah,bahasa ini diadopsi dari bahasa Yunani yaitu philosophiha. Kaelan pada tahun 1998 menyatakan bahwa filsuf dunia memiliki perhatian besar terhadap bahasa, sebab banyak persoalan filsafat, konsep filosofi akan menjadi jelas saat dianalisis dengan bahasa (Sumanto, 2017; Warami, 2016). Tokoh-tokoh filsafat analitik bahasa hadir dengan analitik bahasanya untuk mengatasi kelemahan, kekaburan, dan kekacauan yang selama ini muncul dalam konsep filosofi. Salah satu tokoh filsuf di Perancis yaitu F. de Saussure juga melakukan perubahan radikal dengan meletakkan dasar-dasar filosofis terhadap linguistik. Filsafat bahasa dapat dikelompokkan atas dua pengertian. Pertama, bahasa sebagai alat untuk menganalisis, memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep filosof. Kedua bahasa sebagai objek materi dengan membahas, mencari hakikat bahasa, hingga paradigma bagi perkembangan teori-teori linguistik. Pada zaman Yunani kuno, bahasa menjadi salah satu bahan kajian para filsuf karena mereka mengembangkan dan mengemukakan gagasan tentang bahasa. Zainuddin (2009) mengatakan bahwa filsafat memiliki tiga cabang, yaitu: 1. Metafisika. secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘di luar fisik’ yang berarti bahwa sesuatu yang berada diluar apa yang bisa dilihat dan dirasakan secara empiris. 2. Epistemologi. menurut sumber yang sama, merupakan teori tentang ilmu pengetahuan, yaitu teori yang menaungi alat yang dipergunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, batasjarak ilmu pengetahuan kita, dan kriteria yang kita pergunakan untuk menilai salah atau benarnya ilmu pengetahuan kita. 3. Logika. Cabang filosofi yang merefleksikan hakikat cara berpikir sehingga mampu memberikan penalaran yang tepat, membedakan argumen yang baik dan yang buruk, dan metode-metode untuk mendeteksi kesalahan dalam penalaran. Kaelan (1998) mengatakan bahwa epistemologi juga pada sisi lain berkaitan dengan teori kebenaran, dimana di dalam epistemologi ini terdapat tiga jenis kebenaran. 1. Teori kebenaran koherensi, yaitu sebuah pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebenarnya. Sebagai contoh, pernyataan “hewan menyusui disebut mamalia” pernyataannya bahwa sapi adalah menyusui. 2. Teori kebenaran korespondensi, yaitu bahwa sebuah penyatann dianggap benar bilamana materi pengetahuan yang dikandung dalam pernyataan ini berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh pernyataan tersebut, contoh ‘kota Medan terdapat di Sumatra Utara’ adalah benar karena terdapat hubungan antara ide dengan fakta dimana hubungan itu terjadi melalui bahasa. 3. Teori kebenaran pragmatis, yaitu sebuah pernyataan yang dianggap benar apabila pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Ini berarti suatu pernyataan akan dianggap apabila memberikan manfaat praktis kepada manusia. Dengan demikian, pernyataan itudianggap benar berdasarkan konteks penggunaannya. Sauri (2006) mengemukakan bahwa bahasa memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut: a. Semantik yaitu bahasa mempunyai aturan atau pola antara lain sistem bunyi dan sistem makna. b. Arbiter(manasuka) artinya bahasa itu dipilih secara acak tanpa alasan atau manasuka, tidak ada hubungan logis dengan kata-kata sebagai simbol. c. Ucapan atau vokal, artinya bahasa itu ujaran, berarti media bahasa yang terpenting adalah dengan bunyi-bunyi. d. Simbol, bahwa bahasa itu simbol dari perasaan, keinginanan, dan harapan. e. Bahasa itu mengacu pada dirinya, artinya bahasa itu mampu digunakan untuk menganalisis bahasa itu sendiri. f. Manusiawi, artinya bahasa itu adalah kekayaan yang hanya dimiliki oleh manusia g. Komunikasi, artinya bahasa itu alat komunikasi dan interaksi antar manusia dan menjadi pelekat dalam menyatupadakan keluarga, masyarakat, dan berbagai kegiatan sosialisasi. Intinya bahwa bahasa adalah merupakan media wacana segala ilmu dan sekaligus metabudaya. Wicoyo (1997) mengatakan bahwa Devit menyebutkan adanya empat lingkaran makna dalam bahasa, yaitu: 1. Makna yang dibicarakan dibicarakan oleh isi muatan pikiran. 2. Isi itu dijelaskan oleh makna kalimat pikiran. 3. Makna itu dijelaskan oleh makna konvensional. 4. Makna konvensional dijelaskan oleh makna pembicara. Untuk menemukan makna, filsafat memberikan analisis sehingga makna tersebut dapat diterima secara logis, objektif, dan sistematis. Sedangkan peran filsafat sebagai bahasa adalah bahwa analisis filsafat merupakan salah satu metode yang digunakan dalam memecahkan problematika kebahasaan. Aliran-aliran dalam filsafat dapat mewarnai pandangan para ahli bahasa dalam mengembangkan teori-teorinya. Selengkapnya...

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...