Tampilkan postingan dengan label ekspresi diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekspresi diri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Desember 2023

Apresiasi Karya Sastra Anak

Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Sehingga apresiasi karya sastra anak dapat diartikan sebagai sikap menghargai karya sastra yang telah dihasilkan anak. Apresiasi sastra terbagi menjadi dua jenis, yaitu apresiasi sastra reseptif dan apresiasi sastra ekspresif. Apresiasi sastra anak secara reseptif yaitu penghargaan, penilaian, dan penghayatan terhadap karya sastra anak-anak, baik yang berbentuk puisi, prosa, maupun drama yang dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengarkan, dan menyaksikan pementasan drama. 

Pada tahap apresiasi ini, kemampuan pembaca karya sastra berada pada tahap membaca karya sastra, menyerap, dan menggali makna yang disampaikan pada karya sastra. Umunya, siswa pada tahap apresiasi sastra secara reseptif belum dapat menghasilkan produk dalam kegiatan apresiasi kecuali ungkapan rasa menghargai dan takjub melalui kata-kata. Apresiasi sastra ekspresif/produktif merupakan kegiatan mengapresiasi karya sastra yang menekankan pada proses kreatif dan penciptaan. Apresiasi sastra secara ekspresif/produktif tidak mungkin terwujud tanpa diberikan pengajaran menulis, khususnya menulis kreatif di sekolah dasar (Isova dan Hartati, 2016). 

Dalam kegiatan bersastra secara ekspresif/produktif, metode yang sesuai untuk digunakan dalam mengapresiasi sastra adalah metode produktif. Metode ini diarahkan pada aktivitas berbicara dan menulis. Siswa harus banyak berbicara atau menulis untuk menuangkan gagasan-gagasannya. Kegiatan apresiasi sastra yang diterapkan guru akan membentuk kompetensi apresiasi karya sastra pada diri anak. Kompetensi yang dimaksud yaitu: kemampuan anak menikmati dan menghargai karya sastra yang dihasilkannya sendiri maupun dihasilkan oleh orang lain. Dalam hal ini, siswa diajak untuk melakukan literasi berupa membaca, memahami, menganalisis, dan menikmati karya sastra secara langsung. Siswa tidak harus menghafal sastra dari judul, sinopsis dan ataupun menghafal kalimat demi kalimat dari sastra, akan tetapi siswa diminta untuk langsung berhadapan dengan karya sastranya. (Siswanto, 2008) 

Kegiatan apresiasi karya sastra akan membentuk pengalaman pada diri anak terkait karya sastra, dan aka menimbulkan perubahan serta penguatan tingkah laku akan pentingnya saling menghargai dan indahnya karya sastra. 23 Hal tersebut disebabkan oleh ketika anak mengapresiasi karya sastra maka ia akan melakukan berbagai kegiatan seperti: memaknai, memperhatikan, meminati, bersikap, membiasakan diri, dan menerampilkan diri berkenaan dengan sastra sehingga bukan hanya kognitif anak yang terkonstruksi tetapi juga keterampilan dan sikap mereka. 

Susanti (2015) mengklasifikasikan kegiatan apresiasi sastra berdasarkan tujuan apresiasi ke dalam tiga bagian berikut: (1) ketepatan apresiasi, yaitu menimbulkan kepekaan psikis, mendengarkan, membaca sendiri, membaca bersama, intpretasi auditif-musikal dan visual, memantaskan, mengundang pelaku seni, memahami serta melatih ketrampilan mempergunakan pengertian teknis; (2) kedalaman apresiasi, yaitu dalam hal ini guru berupaya agar siswa mengalami proses kegiatan intelektual, emosional, dan imajinatif yang seimbang dengan proses yang pernah dialami oleh pengarang (sastrawan) dalam menciptakan karyanya; dan (3) keluasan apresiasi; guru mendorong dan mengarahkan perhatian pada hubungan antara sastra dengan kehidupan dengan segala masalahnya. Para siswa juga harus menggunkan pengetahuan lain. Dari kegiatan ini diharapkan siswa akan peka terhadap nilai ekstrinsik dan menyadari kedudukan sastra di dalam lembaga masyarakat. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Senin, 25 Desember 2023

Pemilihan Sastra untuk Anak

Pada subab sebelumnya telah dibahas manfaat sastra pada diri anak. Manfaat tersebut dapat dicapai dengan maksimal jika guru merencanakan dan melakukan proses pembelajaran dengan optimal. Hal dasar yang perlu dilakukan guru ketika akan membelajaran sastra pada anak yaitu dengan memilih kriteria sastra yang sesuai dengan tahapan usia anak. Memaparkan bahwa terdapat lima kriteria pemilihan sastra anak, yakni:

1. Kata-kata (diksi) 

Di dalam karya sastra terdapat amanat atau pesan yang ingin disampaikan pada pembaca (anak). Anak usia sekolah dasar mempunyai kemampuan bahasa yang masih sederhana. Oleh karena iu, pemilihan kata-kata (diksi) harus dilakukan oleh guru agar amanat di dalam sastra akan mudah dipahami anak. Disarankan kepada guru untuk memilih kata yang sederhana, tidak memberikan makna ganda atau ambigu, serta memberikan cerita yang relate atau berkaitan dengan kehidupan anak. 

2. Susunan kalimat dan narasi 

Kalimat terdiri dari deretan beberapa kata yang terstrukur dan mempunyai makna. Paragraf terdiri dari beberapa kalimat yang saling berhubungan dan menciptakan sebuah makna. Kalimat sebaiknya disusun dengan baik agar dapat memberikan makna. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menyusun kalimat yang cenderung pendek, menggunakan kata yang mudah dipahami, dan antar kalimat saling berkesinambungan. Pada susunan kalimat diharapkan agar sastra tidak menggunakan kalimat yang panjang sehingga siswa akan kebingungan mengambil makna ataupun pesan penting di dalam sastra tersebut. Penyusunan kalimat berkaitan dengan penyusunan narasi di dalam karya sastra. Narasi adalah gaya penceritaan. Sama halnya dengan penyusunan kalimat, pada narasi juga sebaiknya menggunakan alur yang pendek sehingga mudah bagi siswa untuk memahami narasi yang disampaikan. 

3. Plot Plot adalah alur cerita.

Pada sastra anak sebaiknya diterapkan cerita beralur progresif, karena pola pikir anak usia sekolah dasar masih bersifat linear. Berpikir linear adalah berpikir dengan pusat pada satu fokus. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menentukan plot cerita satu arah dari kegiatan lampau menuju kegiatan terkini, dan tidak dianjurkan untuk menggunakan cerita beralur flashback. 

4. Penokohan

Penokohan merupakan sarana yang paling mudah untuk memasukan sebuah ideologi ke dalam cerita karena melalui tokoh akan disampaikan nilai penting yang harus dipahami anak. Dengan memanfaatkan karakter tokoh yang menarik dan sederhana akan berdampak positif terhadap minat dan daya tarik anak terhadap sastra. Penokohan juga harus memanfaatkan plot cerita yang menggunakan rangkaian peristiwa sederhana, sehingga akan terbentuk kesatuan narasi cerita. 

5. Penutupan cerita dan solusi yang disampaikan 

Solusi cerita hampir sama dengan pengakhiran cerita. Pengakhiran cerita menekankan pada kesimpulan cerita, sedangkan solusi cerita berkompeten pada nasihat-nasihat untuk menanggapi kesimpulan cerita. Nasihat cerita adalah nilai kehidupan yang disampaikan penulis secara tersirat di dalam cerita atau karya sastranya. Guru diharapkan dapat memilih karya sastra yang mempunyai penutupan cerita dan solusi yang baik, sehingga anak akan mudah untuk mengambil amanat atau pesan yang mau disampaikan. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Selasa, 27 Juni 2023

Fungsi Bahasa Indonesia berdasarkan Penggunaannya

Bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi yang digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk saling berinteraksi satu sama lain dalam segala hal. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan bahasa resmi di Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia tidak mengikat pemakainya untuk sesuai dengan kaidah dasar. Bahasa Indonesia digunakan secara nonresmi, santai, dan bebas. Bahasa (Indonesia), mengandung fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan pemakainya, yakni (1) sebagai sarana ekspresi diri, (2) sebagai sarana untuk berkomunikasi, (3) sebagai sarana untuk integrasi dan beradaptasi sosial, dan (4) sebagai kontrol sosial (Cahyani, 2013).

a. Alat ekspresi diri 

Secara umum manusia menggunakan bahasa sebagai sarana dalam mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya kepada orang lain. Dalam mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya kepada orang lain seseorang menggunakan bahasa lisan dan bahasa tertulis. 

b. Alat komunikasi

Bahasa merupakan satu-satunya sebagai sarana yang kita gunakan dalam menyampaikan maksud dan tujuan kita kepada orang lain. Dalam menyampaikan maksud dan tujuan kita menggunakan bahasa sebagai sarananya. Dalam menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, harapan, perasaan, kita juga menggunakan bahasa sebagai sarananya. Kita menggunakan bahasa sebagai sarananya, ketika kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. 

c. Alat integrasi dan adaptasi sosial

Sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa persatuan (nasional). Dari beragam seni, tradisi, religi, budaya, bahasa, dan adat-istiadat yang tersebar di seluruh wilayah nusantara terikat oleh bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sebagai alat integrasi bangsa, ada beberapa sifat potensial yang dimiliki bahasa Indonesia: (1) bahasa Indonesia telah terbukti dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang multikultural, (2) bahasa Indonesia bersifat demokratis, (3) bahasa Indonesia bersifat terbuka/transparan, dan (4) bahasa Indonesia sudah mulai mengglobal. Dalam hal adaptasi sosial, bahasa menjadi modal bagi seorang manusia untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang ada pada lingkungannya.

d. Alat kontrol sosial Sebagai alat kontrol sosial, bahasa Indonesia sangat efektif.

Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat pemakainya. Berbagai penerangan, informasi, atau pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran di sekolah sampai universitas, buku-buku instruksi, perundangundangan serta peraturan pemerintah lainnya adalah salah satu contoh penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Ceramah agama, dakwah, dan wujud pembinaan rohani lainnya merupakan contoh bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Selengkapnya.....


Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...