Tampilkan postingan dengan label Merdeka Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merdeka Belajar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Agustus 2023

Pembelajaran Literasi Anak Sekolah Dasar

Pembelajaran literasi anak Sekolah Dasar (SD) menjadi bagian penting dalam rangka memajukan mutu dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pembelajaran literasi SD kelas dasar (1, 2, 3) dan kelas tinggi (4, 5, 6) memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Oleh karena itu, pembelajaran literasi SD harus dikuatkan karena menentukan keberlanjutan kemampuan literasi anak di jenjang SMP, dan SMA bahkan perguruan tinggi.

Dari riset-riset yang ada membuktikan kemampuan literasi di Indonesia masih rendah. Di era Revolusi Industri 4.0 literasi menjadi keterampilan pokok dalam menghadapi segala bentuk tantangan kehidupan. Ketika keterampilan literasi anak rendah maka berdampak pada rendahnya skills, keterampilan kerja, berpikir tingkat tinggi, produktivitas, dan rendahnya daya saing. Hal inilah yang mengharuskan pendidikan mengambil peran untuk menguatkan literasi di dalam pembelajaran. Sejumlah riset menemukan rendahnya kemampuan literasi anak dipengaruhi oleh berbagai aspek, terutama karena tidak menjadi fokus utama dalam pendidikan meskipun belakangan muncul berbagai kebijakan dari pemerintah. 

Riset pada 2017 oleh Central Connecticut State University, United States menyebut Indonesia berada pada nomor 60 dari 61 negara yang disurvei dalam bidang keterampilan literasi (Ratri, 2015:24; Khalifatussalam, 2021:4; Saraswati, 2020:125). Studi pada 15 artikel kurun 2018-2020 menemukan bahwa kemampuan literasi dan budaya baca pada siswa di Indonesia rendah. Hal ini dipengaruhi oleh kurang maksimalnya pembelajaran literasi, perpustakaan, dan pemanfaatan teknologi dengan benar (Pitoyo, 2020, p. 83). Jika kita melihat data yang dirillis Programme for International Student Assessment (PISA)sebagai indikator global dalam bidang literasi dari kurun 2000-2018 menempatkan Indonesia pada urutan yang kurang memuaskan.

Dalam konteks Kurikulum Merdeka sangat berbeda dengan Kurikulum 2013. Kurikulum Merdeka memiliki tiga karakteristik yang menonjol dibandingkan dengan Kurikulum 2013 termasuk di dalam pembelajaran literasi. Pertama, Kurikulum Merdeka mengarah kepada projek siswa di dalam pembelajaran dengn tujuan penguatan keterampilan lunak dan penguatan karakter mengacu Profil Pelajar Pancasila. Kedua, penguatan literasi yang dijadikan sebagai materi esensial. Ketiga, keluwesan pendidik dalam menyesuaikan materi sesuai konteks dan kearifan lokal (Kemdikbud, 2021b). Berangkat dari karakteristik di atas dan data kemampuan literasi yang masih rendah tiap tahunnya, maka ketika kemampuan literasi anak yang buruk dibiarkan akan berdampak tidak baik bagi kehidupannya mendatang. 

Literasi yang rendah berdampak pada hasil belajar anak, profesinya, bahkan kesejahteraan ekonomi ketika mereka dewasa (Dugdale, G., Clark, 2008). Hal ini diperkuat kondisi kemampuan literasi anak di Indonesia dari aspek membaca khususnya masih jauh dari harapan ideal. Dalam konteks Indonesia, literasi menjadi aspek pokok dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) sebagai pengganti Ujian Nasional. Pembelajaran literasi anak SD harus dikuatkan karena menjadi kemampuan bernalar dalam aspek bahasa dan sastra yang berorientasi pada karakter mengacu Profil Pelajar Pancasila yang selaras dengan aspek AKM. Selengkapnya.....

Selasa, 11 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Menulis

Menulis adalah keterampilan berbahasa yang bersifat produktif. Menulis diartikan sebagai keterampilan dalam mewujudkan gagasan, ide dan perasaan dalam wujud bahasa tulis sehingga pembaca dapat memahami tulisan dengan baik (Rambe & Widiyarti, 2018). Dalam menulis, seseorang dituntut untuk menghasilkan sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh orang yang pembaca. Menulis yakni komunikasi secara tidak langsung berwujud pemindahan gagasan melalui grafologi, struktur bahasa dan kosakata dengan simbol-simbol sehingga dapat dibaca (Syarif et al., 2009). Menulis dimaknai juga sebagai kegiatan mengemukakan pikiran dan perasaan melalui lambang berupa tulisan (Siddik, 2016). 

Tulisan yang ditulis mengandung pesan atau informasi yang ingin disampaikan. Beberapa pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa menulis adalah keterampilan dalam mengemukakan gagasan, pikiran dan perasaan melalui sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh pembaca. Dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas dibutuhkan keterampilan menulis. Menulis dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kerja sama dan percaya diri siswa (Yarmi, 2017). Melalui menulis siswa dapat menuliskan apa yang ada di pikirannya yang mungkin dapat bermanfaat untuk pembaca.

Siswa juga dapat meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas. Tanpa menulis proses pembelajaran tidak dapat berjalan dengan baik, karena semua mata pelajaran membutuhkan keterampilan menulis. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk membimbing siswanya agar dapat menulis dengan baik. Proses keterampilan menulis di sekolah dasar dibagi menjadi dua tahap yaitu menulis permulaan dan menulis lanjut. Menulis permulaan mencakup kegiatan persiapan menulis dengan mengajarkan siswa cara memegang pensil, menulis huruf dan menggabungkan menjadisuku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat (Rambe & Widiyarti, 2018). 

Menulis permulaan ditujukan pada kelas rendah. Sehingga tahap ini lebih difokuskan pada keterampilan dasar menulis. Siswa yang sudah mahir dalam menulis permulaan dapat melanjutkannya pada menulis lanjut. Menulislanjut mencakup: 1) kegiatan mengembangkan paragraf; 2) menulislaporan dan surat; 3) mengembangkan karangan; dan 4) menulis naskah drama dan puisi. Tahap lanjut ini siswa didorong untuk dapat menuangkan ide pikirannya dalam tulisan. Faktor yang mempengaruhi kegiatan menulis yakni faktor internal dan eksternal (Syarif et al., 2009). 

Faktor internal meliputi faktor psikologis dan teknis. Faktor psikologis berkaitan dengan kebiasaan dan pengalaman yang dimilikisiswa. Intensitas kegiatan menulissiswa akan berpengaruh terhadap kualitastulisannya. Faktor teknis berkaitan dengan penguasaan siswa dalam menggunakan teknik menulis. Siswa dapat memahami cara menulis yang baik dan bahan tulisan yang akan ditulis. Faktor eksternal yakni fasilitas pendukung yang ada disekitarsiswa. Sarana dan prasarana sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam menulis. Guru harus mampu memberikan lingkungan yang nyaman dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Capaian pembelajaran menulis dibagi menjadi fase A, fase B, dan fase C. 

Fase A (kelas 1–2) meliputi: 1) siswa dapat menguasai keterampilan menulis permulaan; 2) siswa dapat mengembangkan tulisan tangan dengan baik; dan 3)siswa dapat menuliskan teks deskripsi menggunakan beberapa kalimat sederhana, menulis pengalaman diri, menulis teks fiksi yang dibaca atau didengar, menulisteks prosedur dan teks eksposisi. Fase B (kelas 3–4) mencakup: 1)siswa dapat menulisteks narasi, deskripsi, rekon, prosedur dan eksposisi; dan 2) siswa dapat menulis tegak bersambung. Fase C (kelas 5–6) yakni: 1) siswa dapat menulis teks eksplanasi, laporan dan eksposisi, hasil pengamatan; 2) siswa dapat menggunakan kaidah kebahasaan dan kesastraan dalam menulis teks, menggunakan kosakata baru yang mempunyai makan kiasan, denotatif,dan konotatif; dan 3) siswa dapat mengutarakan perasaan berdasarkan fakta dan imajinasi dalam wujud prosa dan puisi. 

Capaian pembelajaran fase A lebih fokus pada menulis permulaan, sedangkan fase B dan C lebih ditujukan pada menulis lanjut. Metode menulis dapat digunakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Selain metode, media juga penting digunakan dalam pembelajaran menulis. Media akan memudahkan siswa dalam menerima materi pembelajaran. Media yang digunakan sebaiknya bersifat kontekstual dan sesuai dengan karakteristik siswa. Selengkapnya.....

Senin, 10 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Berbicara dan Mempresentasikan

Keterampilan berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa yang diajarkan pada siswa sekolah dasar. Berbicara diartikan sebagai keterampilan dalam mengucapkan bunyi artikulasi untuk mengutarakan gagasan, pikiran dan perasaan (Rambe & Widiyarti, 2018). Berbicara tidak hanya merujuk pada pengucapan kata-kata saja akan tetapi juga menyampaikan tujuan gagasan yang ditata dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan penyimak. Hanum & Fakhrur juga menjelaskan bahwa berbicara sebagai kemampuan dalam melisankan bunyi artikulasi untuk menggambarkan, menyatakan dan menjelaskan informasi atau pesan. Pembicara memiliki maksud tertentu dalam menyampaikan pesan tersebut. Berbicara merupakan kemampuan dalam melafalkan kata untuk mendeskripsikan, menyatakan dan menjelaskan isi pikiran, gagasan dan perasaan (Yarni & Kaban, 2015). Beberapa definisi tersebut dapat disintesiskan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang dalam melisankan bunyi artikulasi berupa kata-kata untuk menggambarkan, menyatakan dan menjelaskan pikiran, gagasan dan perasaan. 

Mempresentasikan adalah keterampilan tambahan yang ada pada kurikulum merdeka. Mempresentasikan merupakan kemampuan menjelaskan pokok pikiran dan tanggapan secara jelas, teliti dan bertanggung jawab dengan komunikatif melalui berbagai jenis media. Jadi siswa dilatih untuk mampu berbicara di depan banyak orang terkait dengan materi yang sedang diajarkan oleh guru. Salah satu siswa presentasi dan siswa lainnya mendengarkan dan menanggapi. Berbicara sebagai keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap siswa sekolah dasar. Melalui berbicara, maka siswa dapat berkomunikasi dengan guru, teman dan orang lainnya. 

Berbicara juga membantu siswa dalam mengutarakan isi pikiran (Sukma & Saifudin, 2021). Dalam proses pembelajaran diperlukan komunikasi yang lancar antara siswa dan guru sehingga dapat mendorong keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berbicara dapat menjadikan siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran. Tanpa adanya keterampilan berbicara maka proses pembelajaran akan terhambat dan materi pembelajaran tidak dapat tersampaikan dengan baik. Hal ini dikarenakan melalui keterampilan berbicara siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir, menyimak, membaca dan menulis (Aufa et al., 2020). Sedangkan keterampilan mempresentasikan juga penting dikuasai untuk melatih kemampuan siswa berbicara di hadapan orang banyak dan meningkatkan kepercayaan diri siswa. Keterampilan ini harus dibiasakan agar keterampilannya berkembang yang akan berguna bagi dirinya dan orang sekitar. Proses berbicara memerlukan paling sedikit dua orang, satu sebagai pembicara dan satunya lagi sebagai penyimak. 

Pembicara juga harus memperhatikan beberapa hal meliputi: 1) memilih kata yang tepat; 2) isi pesan dapat dinalar dan tersusun sistematis; 3) struktur kalimat yang digunakan jelas dan sesuai SPOK; dan 4) suara yang diucapkan mudah didengar dan dipahami (Yarni & Kaban, 2015). Beberapa aspek tersebut dapat dilakukan agar kegiatan berbicara dapat terlaksana dengan efektif, pembicara dapat menyampaikan isi pesan dan pendengar dapat menerima dan memahami apa yang disampaikan. Proses keterampilan memirsa juga tidak jauh dari keterampilan berbicara. Dua keterampilan itu berkaitan dengan kegiatan komunikasi. Kehidupan sehari-hari siswa tidak terlepas dari keterampilan berbicara. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan berbicara yakni faktor keluarga dan sekolah (Magdalena et al., 2021). Faktor keluarga berkaitan dengan intensitas orang tua dalam melatih siswa berbicara. Hal ini berkaitan dengan proses komunikasi orang tua pada siswa di kehidupan sehari-hari. Faktor sekolah berhubungan dengan pembiasaan yang diberikan guru untuk bicara dengan orang lain. Guru memiliki tanggung jawab untuk melatih siswa dalam berbicara. Keberhasilan keterampilan berbicara yang dicapaisiswa harus mendapatkan dukungan dari kedua faktor tersebut. Capaian pembelajaran berbicara dan mempresentasikan dibagi menjadi beberapa fase. 

Capaian pembelajaran pada fase A (kelas 1-2) meliputi: 1) siswa dapat berbicara dengan santun, volume dan intonasi yang tepat; 2)siswa dapat bertanya, menjawab dan memberikan komentar dengan baik; 3)siswa mampu menyampaikan pokok pikirantanpa bantuan gambar; dan 4) siswa dapat menceritakan kembali suatu informasi dan teks cerita. Fase B (kelas 3-4) yakni: 1) siswa dapat berbicara dengan santun, intonasi dan volume tepat; 2)siswa dapat menyampaikan gagasan melalui percakapan dan diskusi; dan 3) siswa dapat menceritakan kembali informasi yang didapat dari bacaan dan hasil simakan. Fase C (kelas 4-6) yakni: 1) siswa dapat menjelaskan informasisecara lian untuk menghibur dan meyakinkan pendengar; 2) siswa dapat mengutarakan perasaan berdasarkan imajinasi dan fakta dalam bentuk puisi dan prosa; dan 3) siswa dapat mempresentasikan ide pokok, hasil pengamatan dan pengalaman dengan logis, runtut, efektif, kreatif dan kritis.

Capaian pembelajaran tersebut dapat diimplementasikan melalui berbagai metode berbicara. Guru harus memilih metode pembelajaran yang akan digunakan sehingga pembelajaran berbicara dapat dilaksnakan secara maksimal. Dalam pemilihan metode yang baik, guru harus menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan kebutuhan siswa. Metode yang dipilih harus mampu mendorong siswa untuk aktif berbicara dan meningkatkan rasa percaya diri. Selain itu, lingkungan belajar juga harus dikondisikan untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Siswa perlu diberikan motivasi yang tinggi dengan pemberian pujian, hadiah, nilai dan sebagainya agar siswa tertarik untuk mau berbicara dan mempresentasikan. Selengkapnya.....

Minggu, 09 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Membaca dan Memirsa

Membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Membaca dimaknai sebagai proses yang dilaksanakan oleh seorang pembaca dengan tujuan mendapatkan informasi dari bacaan dan mampu memahami pola bahasa yang ditulis (Rambe & Widiyarti, 2018). Membaca sebagai kegiatan mengucapkan bunyi bahasa darisuatu tulisan yang memiliki makna tertentu. Fatmasari & Fitriyah (2018) menjelaskan bahwa membaca yakni memahami makna isi bahan bacaan yang tersirat maupun tersurat. Dalam hal ini, kegiatan membaca membutuhkan pemahaman agar apa yang disampaikan penulis dapat dipahami oleh pembaca.

Membaca juga didefinisikan sebagai kemampuan melek huruf dalam mengenali pola bunyi bahasa dan dapat mengucapkannya dengan benar (Yarni & Kaban, 2015). Siswa tidak hanya mampu membaca tulisan saja, namun dapat mengucapkannya dengan benar. Beberapa pengertian tersebut dapat disintesiskan bahwa membaca adalah kemampuan seseorang dalam mengenali dan mengucapkan pola bunyi tulisan bahan bacaan serta memahami makna tulisan tersebut. Memirsa adalah keterampilan yang baru muncul pada capaian pembelajaran di kurikulum merdeka. Keterampilan memirsa dapat terjadi dikarenakan perubahan teknologi yang pesat sehingga siswa harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Huri et al. (2021) menjelaskan bahwa memirsa adalah proses kegiatan menonton dan memaknai media visualseperti film, televisi, video dsb. Keterampilan ini tidak hanya sekedar melihat atau menonton akan tetapi juga mampu memaknai isi media yang ditayangkan tersebut.

Keterampilan memirsa diartikan sebagai keterampilan yang menggabungkan literasi visual dan memirsa kritis (Mulyadi & Wikanengsih, 2022). Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memaknai isi tayangan. Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disintesiskan bahwa memirsa adalah kompetensi literasi visual siswa yang mencakup kegiatan memperhatikan dan memahami media visual yang diberikan oleh guru pada siswa. Keterampilan membaca wajib dikuasai setiap siswa dalam proses pembelajaran. Melalui membaca pengetahuan siswa akan bertambah dan dapat meningkatkan kualitas siswa. Hal ini dikarenakan melalui membaca siswa mendapatkan informasi dari materi pembelajaran yang diajarkan guru dan dapat meningkatkan hasil belajar. Jika siswa bisa membaca dengan baik akan mendorong motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Selain itu, setiap faktor kehidupan siswa juga mengintegrasikan kegiatan membaca. Sehingga membaca akan mempermudah siswa dalam menjalani kegiatan sehari-hari dan memberikan banyak manfaat kepadanya. Sedangkan pentingnya keterampilan memirsa bagi siswa adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memahami isi media visual (Huri et al., 2021).

Pada saat ini komunikasi tidak hanya mendengarkan saja akan tetapi disertai aspek visual, melalui keterampilan memirsa ini maka siswa dapat memperoleh berbagai informasi baru dan belajar menganalisis teks visual dan multimedia. Membaca tidak hanya mengenali bentuk dan pola huruf, akan tetapi juga memahami maknanya. Proses membaca siswa sekolah dasar mencakup dua tahap yakni membaca permulaan dan membaca pemahaman. Membaca permulaan dipahami sebagai tahap awal dalam kegiatan membaca di sekolah dasar (Muammar, 2020). Tahap membaca ini diperuntukkan untuk siswa kelas rendah dengan merujuk pada kemampuan siswa dalam mengubah dan mengucapkan tulisan mejadi bunyi yang memiliki makna. Membaca permulaan difokuskan pada pengenalan huruf, merangkai huruf menjadi sebuah kata, ketepatan mengucapkan huruf, kejelasan dan kelancaran suara dalam membaca tulisan. Membaca pemahaman diartikan sebagai serangkaian kegiatan dengan tujuan memahami konteks bacaan (Khazanah & Cahyani, 2016). Proses membaca tahap ini melibatkan aspek mental dan kognitif siswa dalam memaknai dan menganalisis bahan bacaan. Kedua tahapan membaca ini penting dikuasai siswa karena siswa sekolah dasar tidak langsung bisa membaca secara lancar akan tetapi ada proses tahapannya dari yang mudah hingga sulit. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka ia dapat meningkatkan kemampuan membaca pada level pemahaman.

Faktor psikologis berkaitan dengan jenis kelamin dan kesehatan fisik siswa. Aspek fisik seperti pendengaran, penglihatan dan kemampuan berbicara. Siswa yang memiliki kekurangan atau kelainan dalam aspek fisik tersebut maka akan berpengaruh terhadap keterampilan membaca. Faktor intelektual berhubungan dengan tingkat intelegensi yang dimiliki siswa. Kemampuan berpikir siswa lebih berpengaruh terhadap membaca pemahaman. Karena membaca pemahaman membutuhkan kemampuan berpikir. Faktor lingkungan yakni lingkungan sekolah dan rumah. Lingkungan yang mendukung akan mendorong keterampilan membaca siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama guru dan orang tua agar keterampilan membaca dapat dicapai dengan baik. Faktor psikologis berhubungan dengan motivasi dan minat siswa dalam membaca. Siswa yang memiliki motivasi tinggi akan menunjukkan minat baca yang tinggi. Tanpa perintah dan paksaan dari orang tua dan guru siswa akan aktif membaca secara mandiri. 

Capaian pembelajaran keterampilan membaca dan memirsa pada kurikulum merdeka dibagi menjadi fase A, fase B, dan fase C. Capaian pembelajaran membaca fase A (kelas 1-2) yakni 1) siswa memiliki minat membaca atau memirsa; 2) siswa dapat membaca kata dengan fasih; 3) siswa dapat memahami informasi bacaan dan tayangan; dan 4) siswa dapat memahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan. Fase B (kelas 3-4) mencakup capaian pembelajaran meliputi: 1) siswa dapat memahami makna pesan dan informasi pada media cetak atau elektronik; 2) siswa dapat membaca kata-kata baru dengan fasih; 3) siswa mampu memahami ide pokok dan pendukung pada teks informatif; 4) siswa mampu memaparkan tokoh cerita pada teks narasi; dan 5) siswa dapat dapat mamahami kosakata baru dari bacaan dan tayangan sesuai dengan topik. Fase C (kelas 5-6) memiliki capaian pembelajaran membaca yakni: 1)siswa dapat membaca kata-kata yang memiliki berbagai pola kombinasi huruf secara fasih; 2) siswa dapat memahami kosakata baru dari makna denotatif, konotatif, literal, dan kiasan; dan 3)siswa dapat menemukan ide pokok suatu teks deskripsi, eksposisi dan narasiserta nilai yang terkandung dalam suatu prosa, pantun dan puisi. Masing-masing fase memiliki tingkat kognitif yang berbeda. Berdasarkan capaian pembelajaran tersebut, maka dapat dianalisis bahwa pada fase A lebih fokus pada kefasihan siswa dalam membaca dan pemahaman siswa mengenai kosakata baru pada bacaan dan tayangan. Hal ini berkaitan dengan membaca permulaan yang fokus pada kelancaran siswa dalam membaca. Fase B dan fase C siswa sudah difokuskan dalam membaca kosakata baru dengan fasih dan memahami isi bacaan secara keseluruhan. Pada keterampilan memirsa siswa lebih difokuskan pada kemampuan memahami kosakata baru dari tayangan yang ditonton. Jika siswa sudah mahir dalam membaca permulaan, maka tahapan selanjutnya adalah membaca pemahaman. Rambe & Widiyarti (2018) menjelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman yakni tahap prabaca, membaca dan pasca baca. Pertama, tahap prabaca untuk memotivasisiswa dalam membaca. Tahap ini penting dilakukan agar siswa terarah dan dapat menggali kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan dengan baik. Kegiatan ini meliputi: 1) memberikan gambaran awal bacaan; 2) memberikan petunjuk; 3) memberikan peta konsep terkait kosakata dalam bacaan; 4) sebelum membaca, siswa menulis pengalaman yang berkaitan dengan topik bacaan; dan 5) siswa diberikan gambaran situasi dalam cerita. Kedua, tahap membaca dapat dilakukan dengan berbagai metode membaca meliputi: 1) menentukan ide pokok; 2) identifikasi kata kunci; 3) mencuplik bacaan; 4) menjaring data; 5) mengisi bacaan yang rumpang; 6) memberi tanggapan pada bacaan; 7) menggambar peta konsep bacaan; 8) diskusi terkait topik bacaan; 9) mencari kata-kata sulit dan sebagainya. Ketiga, tahap pasca baca yakni untuk mengetahui ukuran kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan. Siswa dapat diberi tugas mengembangkan materi bacaan, memberikan beberapa pertanyaan atau menceritakan kembali isi bacaan.

Keterampilan memirsa adalah keterampilan berbahasa tambahan yang berkaitan dengan teknologi. Guru dituntut untuk melek teknologi dalam rangka memenuhi capaian pembelajaran memirsa. Pemilihan tayangan media visual yang diberikan kepada siswa menentukan tingkat keberhasilannya. Oleh karena itu, dalam memilih media visual guru harus memahami kebutuhan dan karakteristik siswa. Tayangan yang diberikan disesuaikan dengan tingkat usia dan kognitifnya. Guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran harus memahami posisinya. Berbagai hambatan dalam kegiatan membaca sering terjadi yang mengakibatkan rendahnya keterampilan membaca siswa. Antisipasi yang dapat dilakukan guru yakni meliputi: 1) mendalami fungsinya dalam kegiatan pembelajaran membaca; 2) mengerti prinsip membaca; 3) mengetahui tahapan membaca; 4) mengetahui strategi membaca; 5) dapat mengimplementasikan tahapan dan strategi membaca dengan baik; 6) mengetahui konsep penilaian membaca; dan 7) mengukur kemampuan membaca siswa secara periodik (Rambe & Widiyarti, 2018). Sebelum mengajarkan pembelajaran membaca, guru harus memahami dahulu seluruh konsep membaca permulaan dan pemahaman. Selengkapnya.....

Sabtu, 08 Juli 2023

Implementasi Capaian Pembelajaran Keterampilan Menyimak

Menyimak sebagai keterampilan berbahasa yang memiliki kontribusi penting dalam kehidupan siswa sehari-hari maupun disekolah. Siswa tidak dapat membaca, menulis dan berbicara tanpa menguasai keterampilan menyimak. Menyimak adalah keterampilan berbahasa pertama yang diterima seseorang sejak kecil di lingkungan keluarga dan sekitarnya. Menyimak diartikan sebagai proses mendengarkan melaluisimbol-simbol lisan dengan saksama untuk mendapatkan informasi, dalam menerima dan memahami dari komunikasi yang sudah disampaikan pembicara melalui ucapan (Daeng et al., 2010). Sudiati (2019) menjelaskan bahwa menyimak yakni proses mendengarkan bunyi bahasa secara intens untuk memahami ucapan yang dimaksud pembicara. Menyimak dimaknai sebagai aktivitas mendengarkan secara kreatif dan aktif dengan tujuan mendapatkan informasi dan memahami isi terhadap ucapan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Beberapa penjelasan tersebut, dapat disintesiskan bahwa menyimak adalah kegiatan mendengarkan simbol-simbol lisan secara intens, kreatif, dan aktif untuk dapat menerima, memahami, dan mengimplementasikan informasi yang disampaikan pembicara.

Peranan menyimak bagi siswa sekolah dasar sebagai tahap awal dalam menguasai capaian pembelajaran yang akan dicapai. Keterampilan menyimak yang baik juga akan berpengaruh terhadap hasil belajarsiswa. Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran saat guru menjelaskan. Menyimak bagi siswa sekolah dasar memiliki kontribusi penting dikarenakan melalui menyimak siswa menerima, memahami dan mengimplementasikan materi pembelajaran dalam kehidupannya Selain itu, menyimak penting sekali dalam kegiatan sehari-hari dikarenakan melalui menyimak seseorang mendapatkan informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan. Proses kegiatan menyimak melibatkan faktor fisik dan mental. Aspek mental berkaitan dengan proses menyimak yang berkaitan dengan proses kognitif meliputi perhatian, pemahaman dan ingatan. Pemahaman informasi yang diterima dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya sehingga akan memunculkan interpretasi baru. Proses menyimak yang tidak hanya mengandalkan fisik saja karena hal ini berkaitan dengan pemahaman yang tepat dan masuk ke tahap penyimpanan memori jangka lama.

Kegiatan menyimak dapat dilakukan melalui beberapa tahap yakni: 1) mendengar yaitu siswa mendengarsegala sesuatu yang dibicarakan oleh pembicara; 2) memahami yaknisiswa mengerti isi pesan yang disampaikan pembicara; 3) menginterpretasi yaitu siswa mengartikan setiap aspek yang disampaikan pembicara; 4) mengevaluasi yaitu menyampaikan pendapat siswa terkait dengan isi pesan yang disampaikan pembicara baik itu kekurangan dan kelebihan; dan 5) menanggapi yakni siswa memberikan tanggapan terhadap isi pesan yang disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Keberhasilan kegiatan menyimak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang ada dalam kegiatan berkomunikasi. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam kegiatan menyimak yakni adanya pembicara, penyimak, pesan yang disampaikan, media yang digunakan dan keadaan lingkungan sekitar (Sudiati, 2019). Penyimak memiliki tanggung jawab besar dalam keberhasilan kegiatan menyimak tersebut. Selain itu, juga perlu memperhatikan berbagai faktor eksternal yang dapat mengganggu dalam proses menyimak.

Capaian pembelajaran keterampilan menyimak pada kurikulum merdeka dibagi menjadi 3 fase yakni fase A (kelas 1–2), fase B (kelas 3– 4) dan fase C (kelas 5–6). Keterampilan menyimak pada fase A mendorong siswa dapat yakni: 1) menjadi penyimak yang penuh perhatian; 2) memiliki ketertarikan dalam kegiatan menyimak; dan 3) mampu memahami pesan dan informasi yang disampaikan melalui audio, teks aural yang berhubungan dengan komunikasi dan instruksi lisan. Sedangkan keterampilan menyimak fase B yang harus dikuasai siswa meliputi: 1) dapat memahami gagasan utama suatu pesan lisan dan informasi melalui audio, teks aural dan instruksi lisan yang berhubungan dengan komunikasi; dan 2) dapat memahami teks narasi yang dibacakan dari audio. Pada Fase C tingkat keterampilan menyimak siswa lebih tinggi dari capaian pembelajaran sebelumnya yang meliputi: 1) dapat menganalisisinformasi dalam bentuk fakta, prosedur yang mencakup ciri objek dan urutan kejadian; dan 2) menganalisis nilai-nilai dari beberapa jenis teks informatif dan fiksi yang diberikan dalam bentuk lisan, teks aural, dan audio.

Beberapa capaian pembelajaran keterampilan menyimak yang ada di kurikulum merdeka tersebut, dapat diimplementasikan melalui berbagai strategi agar siswa dapat menguasai dengan baik. Rambe & Widiyarti (2018) memaparkan metode yang dapat digunakan pada pembelajaran menyimak yakni sebagai berikut.

1. Metode Simak-Ulang Ucap 

Metode ini dapat diterapkan dengan mengenalkan bunyi bahasa dan cara mengucapkannya. Metode ini menyatukan keterampilan berbicara dan menyimak. Metode ini cocok digunakan di kelas rendah. Tahapan yang dapat dilakukan guru dalam membelajarkan siswa menggunakan simak-ulang ucap meliputi: 1) guru membacakan atau memutar audio seperti fonem, puisi pendek dsb; dan 2) Siswa menirukan ucapan guru yang dapat dilaksanakan secara mandiri dan kelompok. 

 2. Metode Simak Kerjakan 

Metode ini melibatkan keterampilan menulis dalam implementasinya. Setelah siswa menyimak, maka ia menulisjawaban soal yang diberikan guru sesuai dengan pesan yang disampaikan. Biasanya guru memberikan bahan simakan cerita, lalu siswa menjawab soal terkait unsur instrinsik dalam cerita tersebut. Oleh karena itu, metode ini membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi. 

3. Metode Simak Terka 

Metode ini sudah tidak asing lagi bagi siswa. Siswa disuruh menyimak apa yang diucapkan guru, lalu ia menebak maksud pesan yang disampaikan. Seperti contoh, guru mendeskripsikan ciri-ciri suatu benda tanpa menyebut namanya, kemudian siswa menebak nama benda tersebut. Dalam hal ini,siswa tidak hanya membutuhkan konsentrasi tetapi juga harus bisa berpikir dengan cepat. 

4. Metode Simak Tulis 

Metode simak tulis adalah metode yang banyak diterapkan oleh guru Indonesia. Implementasinya sangat mudah yakni guru mempersiapkan materi pembelajaran yang akan didiktekan pada siswa. Kemudian siswa menulis apa yang diucapkan guru. Metode ini juga membutuhan keterampilan menulis. Siswa harus menyimak dengan saksama agar hasil tulisannya sesuai dengan pesan yang diucapkan guru. 

5. Metode Memperluas Kalimat 

Metode ini mengintegrasikan keterampilan berbicara. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru mengucapkan kalimat sederhana yang terdiri atas beberapa kata, lalu siswa menirukan apa yang diucapkan guru. Kegiatan tersebut dilakukan sebanyak dua kali. Siswa menghubungkan dua kalimat sederhana menjadi kalimat panjang. Siswa harus berkonsentrasi penuh,sehingga dapat merangkai kalimat dengan benar. 

 6. Metode Bisik Berantai 

Metode ini dapat diterapkan di kelas rendah dan kelas tinggi. Kegiatan pembelajaran menyimak menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru membisikkan kalimat pada salah satu siswa. Lalu siswa tersebut membisikkan kalimat tersebut kepada siswa lainnya, hal itu berulang secara terus menerus sampai siswa terakhir. Lalu siswa terakhir mengucapkan kalimat tersebut pada guru. Selain mengasyikkan, metode ini juga melatih kefokusan setiap siswa. 

7. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini selalu digunakan oleh setiap guru. Metode ini dapat diterapkan guru dengan memberikan pertanyaan, lalu siswa menjawab. Pertanyaan yang diberikan disesuaikan dengan tema pembelajaran. Kefokusan siswa dalam menyimak dapat dilihat dari jawaban yang diberikan apakah sesuai atau tidak dengan pertanyaan yang diberikan guru. 

8. Metode Identifikasi Tema, Ide Pokok, dan Kata Kunci

Langkah ini dapat dilakukan dengan guru bercerita sedikit dan siswa menyimak secara intens. Di tengah bercerita guru berhenti, lalu dilanjutkan bercerita oleh siswa. Hal ini berulang terus hingga cerita dirasa cukup. Metode ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan dapat mendorong kreativitas siswa dalam membuat kalimat. Selain itu juga mengajar siswa untuk percaya diri dan saling menghargai terhadap berbagai karya yang dihasilkan sejelek apapun. 

 9. Metode Parafrase 

Metode ini merupakan mengungkap kembali sesuatu menggunakan bahasa sendiri. Dalam tahapan implementasinya, guru dapat membacakan sebuah puisi di depan siswa. Siswa menceritakan isi puisi tersebut menggunakan bahasa sendiri. Metode ini membutuhkan konsentrasi untuk dapat memahami isi dengan baik sehingga dapat memparafrasekan sebuah pesan dengan baik. 

10. Metode Merangkum 

Metode ini cocok diimplementasikan pada kelas tinggi. Hal ini dikarenakan metode ini membutuhkan pemahaman dan konsentrasi yang tinggi. Setelah siswa menyimak apa yang disampaikan guru, siswa merangkum informasi atau pesan secara runtut. Merangkum dapat dilakukan dengan merangkai kata menggunakan bahasa sendiri.

Pembelajaran menyimak juga dapat diajarkan melalui berbagai media yang bervariasi. Media memiliki beberapa fungsi yaitu memberikan kemudahan guru dalam menyampaikan materi dan menarik minat belajar siswa (Yarni & Kaban, 2015). Siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, sehingga keberadaan media dalam proses pembelajaran sangat diperlukan. Jenis media yang digunakan guru berpengaruh terhadap hasil keterampilan menyimak siswa. Media yang dapat digunakan dalam menyimak yakni: 1) media visual meliputi gambar, foto, kartun, poster, grafik, dsb; 2) media audio meliputi MP3, radio, kaset audio dsb; 3) media audio visual meliputi: video, sound slide, film bersuara, dan televisi; 4) multimedia yang berisi animasi, foto, video, musik, gambard dan teks; dan 5) media realita yakni media yang ada di sekitar lingkungan siswa (Sukma & Saifudin, 2021). 

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kurikulum merdeka memberikan kebebasan pada guru untuk memilih metode dan media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Berbagai metode dan media yang sudah dijelaskan tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi guru dalam mengajarkan keterampilan menyimak siswa pada kurikulum merdeka. Pemilihan metode dan media harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Guru tidak boleh memilih hanya berdasarkan kemudahan yang diperoleh guru saja. Capaian pembelajaran menyimak fase A, fase B dan fase C memiliki tingkatan kognitif yang berbeda. Sehingga tingkat kognitif siswa juga menjadi pertimbangan penting bagi guru dalam pemilihan metode dan media. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam menyukseskan pembelajaran menyimak yaitu pertama, memilih metode pembelajaran yang berkaitan dengan materi dan bervariasi (Sukma & Saifudin, 2021). 

Guru harus memahami kondisi siswanya, sehingga bisa menentukan metode dan media yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Kedua, materi yang digunakan dalam pembelajaran menyimak harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Materi pembelajaran yang diberikan pada siswa tidak terlalu sulit dan tidak terlalu gampang. Tingkat kesukaran materi harus disesuaikan juga dengan kognitif siswa sekolah dasar. Ketiga, mengimplementasikan media pembelajaran yang beragam. Pembelajaran menyimak akan lebih menarik siswa jika guru dapat mengintegrasikan teknologi dengan materi pembelajaranmenyimak. Dalam hal ini, guru dituntut untuk melek teknologi. Keempat, mengatur lingkungan belajarsiswa. Pengelolaan lingkungan belajar yang baik akan berdampak pada kenyamanan siswa dalam belajar. Ruang belajar yang nyaman dapat meningkatkan motivasi belajar menyimak. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang baik dengan menyesuaikan dengan karakteristik siswanya. Kelima, melaksanakan evaluasi dengan baik. Guru memberikan penilaian kepada siswa sebagai bentuk penghargaan yang sudah siswa berikan dalam usaha belajar. Selengkapnya.....

Jumat, 07 Juli 2023

Cara mengembangkan KD dan Indikator

Dari capaian pembelajaran yang ditetapkan dari pemerintah ini diharapkan masing-masing guru dapat menurunkan ke dalam KD dan indikator. Satu CP dapat diturunkan menjadi beberapa KD dan Indikator. Bagaimana caranya menurunkan CP menjadi KD dan indikator? Yang pertama guru harus membaca dengan jeli capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. Kedua, guru harus memahami Kata Kerja Operasional (KKO) Taksonomi Bloom, mulai C1 – C6 disemua ranah (afektif, kognitif dan psikomotorik). Ketiga, guru harus dapat memformulasi kedalaman dan keluasan materi dari KKO yang ditetapkan tersebut menjadi KD dan indikato di 3 ranah (afektif, kognitif, psikomotik). Keempat, guru harus dapat menghadirkan materi yang relevan dengan KD dan indikator yang dia turunkan dari CP. Munsenmaier dan Rubin (2013) dalam (Ching & Da Silva, 2017) menyarankan pertanyaan model untuk diperkenalkan di bawah setiap tingkat taksonomi Bloom, dengan mempertimbangkan bahwa itu adalah sebagai alat untuk belajar. (Ching & Da Silva, 2017) kemudian mengadaptasi pertanyaan untuk setiap tingkatan taksonomi.

  1. Mengingat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mendefinisikan istilah, mengidentifikasi fakta dan menemukan informasi atau konten tentang subjek, dan juga kriteria yang membantu siswa: Mendefinisikan informasi? Sebutkan fakta? Baca informasi? Buat daftar fakta atau detail? Menemukan fakta atau ide? Ambil informasi? Jelaskan informasi? Mengenali fakta atau ide dalam konteks?
  2. Memahami tujuan untuk membantu siswa menghubungkan pembelajaran baru dengan pembelajaran sebelumnya pengetahuan; kriteria untuk membantu siswa: Ringkasan fakta dan ide? Nyatakan kembali metode atau prosedur? Menafsirkan hubungan? Parafrase informasi? Memprediksi konsekuensi? Berikan contoh? Menceritakan kembali peristiwa? Menceritakan kembali informasi dengan kata-kata sendiri? Nyatakan masalah dengan kata-kata sendiri? Jelaskan ide atau konsep? Tentukan pentingnya?
  3. Menerapkan bertujuan untuk memberikan kesempatan untuk menerapkan prosedur yang dipelajari dan metode; kriteria untuk membantu siswa: Mendemonstrasikan metode dan Prosedur? Melaksanakan prosedur? Gunakan ide atau pengetahuan? Temukan tujuan baru untuk kompetensi atau pengetahuan? Gunakan pengetahuan dalam situasi baru? Bereksperimen dengan konsep dalam pengaturan yang berbeda? Menyesuaikan pengetahuan untuk digunakan dalam konteks yang berbeda? Terapkan prosedur untuk unik situasi?
  4. Analisis bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa membedakan antara apa yang relevan dan/atau tidak relevan, menentukan hubungan, dan mengenali organisasi konten dengan analisis elemen, hubungan dan prinsip-prinsip organisasi; kriteria untuk membantu siswa: Membedakan fakta dari hipotesis? Kenali niat? Bedakan relevan dari yang tidak relevan? Perhatikan strukturnya? Pilih yang penting elemen? Dekonstruksi konten? Mengatur konten? Garis besar konten? Memahami hubungan?
  5. Evaluasi bertujuan untuk membantu siswa membuat penilaian menggunakan bukti internal dan solusi eksternal; kriteria untuk membantu siswa: Periksa keakuratannya? Deteksi inkonsistensi? Memantau efektivitas? Evaluasi prosedur? Mengkritik solusi? Teknik hakim? Performa kontras? Memeriksa kemungkinan hasil?
  6. Mencipta bertujuan untuk memberikan peluang untuk menghasilkan ide, merancang rencana dan menghasilkan produk; kriteria untuk membantu siswa: Membangun desain? Menghasilkan kemungkinan? Tulis ide? Usulkan hipotesis? Menghasilkan solusi? Produk desain? Merakit rencana? Mengatur ulang operasi? Bayangkan kemungkinan? Selengkapnya.....

Kamis, 06 Juli 2023

Rasionalitas Mata Pelajaran Bahasa & Sastra Indonesia

 

Ada empat tahap kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Bahasa dengan pedagogi genre. Yang pertama yaitu membangun konteks(building knowledge). Dalam tahap ini guru mengajak siswa untuk sekilas mereviu apa yang sudah dipelajari di minggu sebelumnya, dan memberi arah apa yang akan mereka pelajari saat itu. Guru mulai mberi sedikit informasi yang berkaitan dengan materi. Memberi beberapa umpan pertanyaan yang mengarah pada materi yang akan dibahas. 

Tahap kedua adalah pemodelan (modelling teks). Pada tahap ini biasanya guru memberikan model teks ber-genre (narasi, deskripsi, eksposisi, prosedural, review, dan lain-lain) dengan dilengkapi tujuan atau fungsiteks tersebut, karakter linguistiknya, dan struktur teksnya. Pada tahap awal ini guru memberikan model teks yang bisa diamati siswa atau teks yang dapat disimak. Biasanya ini dalam bentuk kemampuan reseptif dengan bantuan teks, audio, atau audiovisual (Ramadania, 2016). 

Yang ketiga adalah pembimbingan (joint construction) adalah mengonstruksi teks bersama. Pada tahap ini siswa diajak untuk mengonstruksi pemikiran mereka berdasarkan teks yang diberikan. Secara berkelompok, siswa diajak untuk menganalisis dari segi struktur bahasa, ciri linguistiknya, nilai sosialnya, dan tujuan sosialnya. Siswa kemudian diajak untuk membuat teks yang bertipe sama dengan teks yang dicontohkan. Dalam tahap ini guru melakukan supervisi ke masing-masing kelompok. Selain diminta untuk membuat teks, kegiatan lain seperti melengkapi dialog, meringkas, membuat bagan, dan beragam kegiatan konstruksi teks-teks. Karena pengerjaan secara berkelompok pada tugas ini, siswa akan merasa lebih mudah melakukannya.

Tahap selanjutnya adalah mengonstruksi teks secara mandiri. Tahap ini adalah tahap puncak dari pendekatan pedagogi genre. Secara mandiri siswa dapat menciptakan sebuah teks seperti yang ada pada pemodelan. Dan siswa dapat memproduksi teks tersebut dalam bentuk tertulis ataupun lisan. Jadi produk yang diciptakan oleh siswa ini adalah kemampuan menulis dan kemampuan berbicara dan mempresentasikan mereka. Siswa dapat menggunakan sumber-sumber dari manapun. Bukan hanya dari buku saja akan tetapi bisa dari media, internet dan sumber-sumber lain yang bisa diakses oleh siswa baik dalam bentuk online maupun offline.

Berdasarkan pendekatan berbasis produk dan berbasis proses, pendekatan berbasis genre dikembangkan sebagai pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman, penguasaan dan produksi genre teks yang dipilih. Pendekatan berbasis genre memandang menulissebagai praktik sosial dan budaya. Genre terdiri atas berbagai jenis wacana lisan atau tertulis yang diklasifikasikan menurut isi, bahasa, tujuan, dan bentuk. Namun, dalam konteks linguistik, istilah tersebut mengacu pada kategori wacana yang khas dari jenis apapun, lisan atau tulisan. Genre adalah kelas peristiwa komunikasi dengan tujuan tertentu, dan kontekssosial membentuk prosesnya. Dalam konteks penulisan, genre digunakan untuk mengelompokkan teks-teks yang memiliki gaya kebahasaan yang khas yang membahas peristiwa yang berulang, memiliki gaya konvensional, pembaca tertentu, dan tujuan tertentu (Ganapathy et al., 2022). Selengkapnya.....

Rabu, 05 Juli 2023

Keterampilan Membaca, Memirsa, dan Menulis

Membaca merupakan keterampilan peserta didik untuk memahami, memaknai, menginterpretasikan, dan merefleksi sebuah teks sesuai tujuan dan kepentingannya untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan potensinya. Menurut Hasanah & Lena (2021), membaca adalah salah satu keterampilan yang esensial dan perlu dikuasai oleh peserta didik, karena membaca memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, sehingga proses pembelajaran untuk melatihkan kemampuan membaca yang diperoleh pada pendidikan pertama harus mendapatkan perhatian khusus.

Keterampilan membaca adalah kesanggupan, kecakapan, dan kesiapan seorang individu untuk memahamisuatu gagasan dan lambang atau bunyi bahasa yang ada dalam sebuah teks bacaan yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan si pembaca, yaitu untuk memperoleh amanat atau informasi yang diinginkan. Proses membaca memerlukan pemahaman yang baik, karena pada proses tersebut diperlukan kemampuan untuk memahami sebuah teks bacaan serta memaknainya dengan benar. Kegiatan membaca merupakan sebuah komunikasi yang dilakukan secara tidak langsung, yaitu antara pembaca dan penulis melalui sebuah tulisan. Berdasarkan pengertian ini, dapat dinyatakan bahwa kemampuan membaca adalah kecakapan atau potensi seseorang untuk menguasai sebuah keahlian komunikasi tidak langsung melalui bahasa tulis.

Melalui kegiatan membaca, seorang pembaca dapat memperoleh sebuah pesan yang disampaikan oleh seorang penulis berdasarkan kata-kata dan kalimat yang ditulis. Memirsa merupakan keterampilan peserta didik untuk memahami, memaknai, menginterpretasi, dan merefleksisajian cetak, visual dan atau audiovisual sesuai tujuan dan kepentingannya untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan potensinya. Menurut Mulyadi & Wikanengsih (2022), keterampilan memirsa menuntut peserta didik untuk memaknai sebuah sajian visual dan atau audiovisual, menafsirkan beragam jenis teks multimodal, serta menganalisis secara kritis sesuai dengan konteksnya. 

Keterampilan memirsa dapat mengembangkan pengetahuan dalam menyerap informasi dan mengolah informasi tersebut berdasarkan latar belakang pengetahuan yang dimiliki, serta menyampaikan kembali informasi yang diperoleh secara kritis dan logis. Keterampilan memirsa di dalam kurikulum IB (International Bacalaurate) disebut dengan viewing skill, yaitu memperhatikan dan memahami media visual, seperti televisi, gambar iklan, film, diagram, simbol, foto, video, drama, gambar, patung, lukisan, dll. Saat ini, keterampilan memirsa menjadisebuah keterampilan yang penting untuk dilatihkan kepada peserta didik karena dalam keseharian peserta didik berurusan dengan teks multimodal,sehingga peserta didik harus mampu memahaminya secara efektif, aktif, dan kritissupaya dapat berpartisipasi penuh dalam masyarakat. Dalam hal ini, pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia memegang peranan yang sangat penting dan strategis. Keterampilan memirsa membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menganalisis dan mengevaluasi sebuah teks visual dan teks multimodal yang menggunakan visual. Keterampilan memirsa juga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh informasi dan menghargai ide dan pengalaman yang dikomunikasikan secara visual oleh orang lain. komponen-komponen yang dapat dikembangkan dalam membaca dan memirsa diantaranya adalah kepekaan terhadap fonem, huruf,sistem isyarat, kosakata,struktur bahasa (tata bahasa), makna, dan metakognisi.

Menulis adalah keterampilan menyampaikan gagasan, tanggapan, dan perasaan dalam bentuk tulisan secara fasih, akurat, bertanggung jawab, dan atau menyampaikan perasaan sesuai konteks. Dalam kegiatan menulis, seorang penulis harus terampil untuk memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata (Rojaki, 2012). Kemampuan untuk menulis tidak dapat dimiliki oleh seorang individu secara otomatis, tetap melalui sebuah latihan dan praktik yang banyak dan konsisten. Akan tetapi, hal tersebut masih harus ditingkatkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya peserta didik SD. Terdapat beberapa persyaratan yang seharusnya dimiliki oleh sesorang untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik dan benar, yaitu kemampuan untuk menemukan masalah yang akan ditulis, kepekaan terhadap kondisi pembaca, kemampuan menyusun rencana penulisan, kemampuan menggunakan bahasa, kemampuan memulai tulisan, dan kemampuan memeriksa tulisan. 

Menulis dapat diartikan menyampaikan pikiran, perasaan, atau pertimbangan melalui sebuah tulisan. Dalam hal ini, alat yang digunakan dalam menulis adalah bahasa, yaitu kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Pikiran yang disampaikan kepada orang lain melaluisebuah tulisan harus dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat yang dapat mendukung tersampaikannya sebuah makna secara tepat dan sesuai dengan apa yang ingin disampaikan. Kata-kata yang digunakan dalam menulis harus tersusun secara teratur menjadi sebuah klausa dan kalimat supaya pembaca tulisan dapat memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Semakin teratur bahasa yang digunakan oleh penulis, semakin mudah seorang pembaca untuk memahami pikiran penulis yang disalurkan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, keterampilan menulis sangat penting untuk dimiliki oleh peserta didik dan harus dilatihkan kepada peserta didik sedini mungkin. Komponenkomponen yang dapat dikembangkan dalam menulis antara lain adalah penggunaan ejaan, kosakata, kalimat, paragraf, struktur bahasa, makna, dan metakognisi dalam beragam jenis teks. Selengkapnya.....

Selasa, 04 Juli 2023

Keterampilan Menyimak, Berbicara, dan Mempresentasikan

Menyimak merupakan keterampilan peserta didik untuk menerima, memahami, dan menggunakan informasi yang mereka dengan dengan sikap yang baik agar dapat menghadapi lawan bicara (mitra tutur). Menurut Pebriana, dkk. (2017), kegiatan menyimak merupakan tahap awal yang harus dimiliki dan kuasai pada keterampilan berbahasa, karena kegiatan menyimak adalah cara yang dilakukan untuk mendapatkan informasi yang disampaikan oleh orang lain,sehingga hasil yang diperoleh dari kegiatan menyimak dapat diimplementasikan pada kegiatan lainnya, yaitu berbicara, membaca, dan menulis. 

Proses yang terjadi pada kegiatan menyimak mencakup beberapa kegiatan, yaitu mendengarkan, konsentrasi, mengidentifikasi, memahami pendapat, menginterpretasikan tuturan bahasa, dan memaknai informasi berdasarkan konteks yang menjadi latar belakang tuturan yang disampaikan. Komponen-komponen yang dapat dikembangkan dalam kegiatan menyimak diantaranya dalah kepekaan terhadap bunyi bahasa, sistem isyarat, kosakata, struktur bahasa atau tata bahasa, makna, dan metakognisi. Kegiatan menyimak memiliki peran yang sangat penting di dalam kehidupan sehari-hari, karena kegiatan ini dapat terjadi pada berbagai situasi, kondisi, dan setiap waktu. 

Manusia dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut keterampilan menyimak dan memahami peran dari menyimak, sehingga kualitas dari keterampilan menyimak menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang berpengaruh penting dalam kehidupan manusia. Selain memahami peranan dari kegiatan menyimak, manusia juga dituntut untuk dapat memahami tujuan dari kegiatan menyimak. Kegiatan menyimak adalah sebuah kegiatan yang disengaja dan direncanakan untuk mencapai suatu tujuan. Seseorang tidak akan melakukan kegiatan menyimak jika dia tidak mempunyai maksud dari kegiatan tersebut. Sebaliknya,seorang pembicara pun melakukan kegiatan bicara karena memiliki tujuan yang diharapkan dari penyimaknya. Kesadaran untuk mencapai tujuan dari kegiatan menyimak menimbulkan aktivitas berpikir dalam melakukan kegiatan menyimak. Kegiatan menyimak yang tidak tepat dapat menimbulkan tujuan dari kegiatan menyimak tidak tercapai. 

Berbicara merupakan keterampilan peserta didik untuk menyampaikan gagasan, tanggapan, dan perasaannya dalam bentuk lisan yang santun. Berbicara tidak sekedar suatu kegiatan untuk menyampaikan sebuah gagasan secara lisan, tetapi yang lebih penting dalam keterampilan berbicara adalah bagaimana gagasan yang ingin disampaikan oleh pembicara dapat dipahami oleh pendengar (Darmuki & Hariyadi, 2019). Keterampilan berbicara merupakan sebuah kemampuan berbahasa dalam mengucapkan suatu bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan ide, pikiran, pendapat, gagasan, perasaan kepada orang lain sebagai pendengar. Seorang pembicara harus memiliki kepercayaan diri, jujur, benar, dan bertanggung jawab ketika berbicara, sehingga masalah psikologi seperti malu, rendah diri, tegang, dll harus dimininalkan. Berbicara merupakan suatu proses untuk menyampaikan sebuah informasi, ide, atau gagasan dari pembicara kepada pendengar. Dalam penyampaian tersebut, yang dilakukan secara lisan, pembicara harus mampu menyampaikannya dengan baik dan benar,supaya informasi yang dingin disampaikan dapat diterima dengan benar oleh pendengar. Menjadi seorang pembicara yang baik harus mampu menangkap informasi secara kritis dan efektif, hal ini berkaitan dengan kemampuan menyimak. Apabila seorang pembicara merupakan seorang yang memiliki kemampuan menyimak dengan baik, maka dia mampu menangkap informasi yang disampaikan oleh pendengarnya.

Mempresentasikan merupakan kemampuan memaparkan sebuah gagasan atau tanggapan secara fasih, akurat, bertanggung jawab, mengajukan dan atau menanggapi pertanyaan atau pernyataan, dan atau menyampaikan perasaan secara lisan sesuai dengan konteks dan dengan cara yang komunikatif dan santun melalui beragam media, yaitu visual, digital, audio, dan audiovisual. Menurut Utami & Naryatmojo (2016), ciri-ciri presentasi yang dilakukan dengan baik dan benar adalah penyampaiannya dilakukan dengan penuh semangat dan siap mental, kejelasan berbicara di depan audiens, disajikan secara sistematis, memberi argumen yang dapat diterima, slide yang digunakan untuk presentasi terbaca dan menarik, kontak mata dengan audiens, melakukan gerak berbicara, menggunakan pakaian yang serasi, menyediakan sesi tanya jawab, dan penyampaian dilakukan secara tepat waktu. Berikut beberapa komponen yang dapat dikembangkan dalam berbicara dan mempresentasikan, yaitu bunyi bahasa, sistem isyarat, kosakata, struktur bahasa (tata bahasa), makna, dan metakognisi. Selengkapnya.....

Senin, 03 Juli 2023

Semantik dalam Bahasa dan Sastra Indonesia

Semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan dan dengan struktur makna suatu wicara. Definisi lain semantik adalah ilmu yang berkaitan dengan makna atau arti kata (Suhardi, 2013:68). Makna adalah maksud pembicaraan, pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi, serta perilaku manusia atau kelompok. Pendapat lain dikemukakan oleh Chaer (2003:60). yang menyatakan bahwa dalam semantik yang dibicarakan adalah hubungan antara kata dengan konsep atau makna dari kata tersebut, serta benda atau hal-hal yang dirujuk oleh makna itu yang berada di luar bahasa. Makna darisebuah kata, ungkapan atau wacana ditentukan oleh konteks yang ada. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa semantik adalah ilmu yang menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, serta hubungan antara kata dengan konsep atau makna dari kata tersebut.

a. Pengertian Makna

Makna kata merupakan bidang kajian yang dibahas dalam ilmu semantik. Semantik berkedudukan sebagai salah satu cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang makna suatu kata dalam bahasa. 

b. Jenis-jenis Makna 

Jenis makna dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut pandang. Berdasarkan jenissemantiknya dapat dibedakan antara makna leksikal, makna gramatikal dan kontekstual. Berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata dapat dibedakan adanya makna referensial dan nonreferensial. Berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata dapat dibedakan adanya makna konotatif dan denotatif. Berdasarkan ketepatan maknanya dapat dibedakan adanya makna istilah dan makna makna kata. Dalam pembahasan ini akan dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal, makna referensial dan nonreferensial, makna denotatif dan makna konotatif, makna kata dan makna istilah, makna konseptual dan makna asosiatif, makna idiomatikal dan peribahasa.

  1. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal Menurut Chaer (2003:60). ‘leksikal’ adalah bentuk adjektif yang diturunkan dari bentuk nomina ‘leksikon’ (vokabuler, kosakata, perbendaharaan kata). Satuan dari leksikon adalah ‘leksem’, yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna. Kalau leksikon kita samakan dengan kosakata atau perbendaharaan kata, maka leksem dapat kita samakan dengan kata. Dengan demikian, makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indra, atau makna yang sungguh-sungguh ada dalam kehidupan kita. Makna leksikal biasanya dipertentangkan atau dioposisikan dengan makna gramatikal. Jika makna leksikal berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan referennya, maka makna gramatikal adalah makna yang hadirsebagai akibat dari adanya proses gramatika (seperti proses afiksasi, proses reduplikasi dan proses komposisi). Oleh karena makna sebuah kata, baik kata dasar maupun kata jadian, sering tergantung pada konteks kalimat atau konteks situasi. Maka makna gramatikal itu sering juga disebut ‘makna kontekstual’ atau ‘makna situasional’. Selain itu bisa juga disebut ‘makna struktural’ karena proses dan satuan-satuan gramatikal itu selalu berkenaan dengan struktur kebahasaan.
  2. Makna Referensial dan Nonreferensial Perbedaan antara makna referensial dan makna nonreferensial diketahui dari ada atau tidaknya referen dari kata-kata itu. Bila katakata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu, maka kata tersebut disebut sebagai kata bermakna referensial. Namun, jika kata-kata tersebut tidak mempunyai referen, maka kata itu disebut kata bermakna nonreferensial. Sebagai contoh, kita dapat menyebut ‘pensil’ dan ‘penggaris’ memiliki makna referensial karena keduanya memiliki referen, yaitu sejenis peralatan tulis. Sebaliknya kata ‘karena’ dan ‘dan’ tidak mempunyai referen, oleh sebab itu dapat digolongkan dalam kata yang bermakna nonreferensial. Karena kata-kata yang termasuk preposisi dan konjungsi, juga kata tugas lainnya tidak mempunyai referen, maka banyak orang mengambil kesimpulan bahwa kata-kata tersebut tidak memiliki makna. Kata-kata tersebut hanya memiliki fungsi atau tugas. Lalu, karena hanya memiliki fungsi atau tugas lalu dinamailah kata-kata tersebut dengan nama ‘kata fungsi’ atau ‘kata tugas’. Namun sebenarnya kata-kata ini juga mempunyai makna, hanya saja memang tidak memiliki referen. Hal ini jelas dari nama yang diberikan semantik, yaitu kata yang bermakna nonreferensial. Artinya, memiliki makna namun tidak memiliki referen.
  3. Makna Denotatif dan Makna Konotatif Hal yang paling mencolok untuk dapat membedakan makna denotatif dan makna konotatif adalah mengenai ada atau tidaknya ‘nilai rasa’. Setiap kata itu (terutama yang disebut kata penuh) mempunyai makna denotatif, tetapi tidak setiap kata itu memiliki makna konotatif . Sebuah kata disebut memiliki makna konotatif apabila kata itu mempunyai ‘nilai rasa’, baik positif maupun negatif. Namun, jika suatu kata tidak memiliki nilai rasa, maka dikatakan tidak memiliki konotasi. Makna denotasi pada dasarnya sama dengan makna referensial karena makna denotatif ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut pengelihatan, penciuman, pendengaran, perasaan atau pengalaman lainnya. Jadi, makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi faktual objektif. Lalu karena itu maka denotasi sering disebut sebagai ‘makna sebenarnya’. Sedangkan makna konotatif memiliki keunikannya sendiri. Makna konotasisebuah bahasa dapat berbeda darisatu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lain, sesuai dengan pandangan hidup, dan norma-norma penilaian kelompok masyarakat tesebut. Misalkan saja kata ‘babi’. Kata tersebut memiliki konotasi negatif bagi komunitas-komunitas agama yang menajiskannya, namun bisa saja di dalam lingkungan masyarakat yang lain kata ini tidak memiiki konotasi negatif. Oleh sebab itu, makna konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu.
  4. Makna Kata dan Makna Istilah Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘kata’ adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbicara. Sedangkan ‘istilah’ adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Melihat hal ini, tentunya harus sangat dibedakan mengenai makna kata dan makna istilah. Perbedaan adanya makna kata dan makna istilah didasarkan pada ketepatan makna itu dalam penggunaannya secara umum dan secara khusus. Dalam penggunaan bahasa secara umum acapkali kata-kata itu digunakan secara tidak cermatsehingga maknanya bersifat umum. Tetapi dalam penggunaan secara khusus, dalam bidang kegiatan tertentu, katakata itu digunakan secara cermat sehingga maknanya pun menjadi tepat. Makna sebuah kata walaupun secara sinkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan, dapat menjadi berifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat maka kata itu menjadi umum dan kabur. Berbeda dengan kata yang maknanya masih bersifat umum, maka istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna istilah itu karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Jadi, tanpa konteks kalimatnya pun makna istilah itu sudah pasti. Makna kata sebagai istilah memang dibuat setepat mungkin untuk menghindari kesalahpahaman dalam bidang ilmu atau kegiatan tertentu. Di luar bidang tertentu, istilah sebenarnya dikenal juga adanya pembedaan kata dengan makna umum dan kata dengan makna khusus atau makna yang lebih terbatas.
  5. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif Pembedaan makna konseptual dan makna asosiatif didasarkan pada ada atau tidak adanya hubungan (asosiasi, refleksi) makna sebuah kata dengan makna yang lain. Secara garis besar tokoh semantik, Leech membedakan makna menjadi makna asosiatif dan makna konseptual. Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang sesuai dengan referennya dan makna yang bebas dari asosiasi atau hubungan apapun. Oleh sebab itu, sebenarnya makna konseptual ini sama dengan makna referensial, makna leksikal, dan makna denotatif. Sedangkan makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan keadaan di luar bahasa. Sebagai contoh, kata ‘melati’ berasosiasi dengan makna ‘suci’, kata ‘merah’ berasosiasi dengan kata ‘berani’. Makna asosiatif ini sesungguhnya sama dengan perlambang-perlambang yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan suatu konsep lain. Karena makna asosiatif ini berhubungan dengan nilainilai moral dan pandangan hidup yang berlaku dalam suatu masyarakat bahasa yang berarti juga berurusan dengan nilai rasa bahasa, maka ke dalam makna asosiatif ini termasuk juga makna konotatif.
  6. Makna Idiomatikal dan Peribahasa Ada dua macam bentuk idiom dalam bahasa Indonesia, yaitu: idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna. Contohnya pada idiom ‘membanting tulang’, ‘menjual gigi’, dan ‘meja hijau’. Sedangkan pada idiom sebagian masih ada unsur yang masih memiliki makna leksikalnya sendiri, misalnya ‘daftar hitam’ dan ‘koran kuning’. Dari uraian ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa makna idiomatikal adalah makna sebuah satuan bahasa (entah kata, frasa, atau kalimat) yang ‘menyimpang’ dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Berbeda dengan idiom – terutama idiom penuh- yang maknanya tidak dapat diramalkan, baik secara leksikal maupun gramatikal, makna peribahasa masih dapat diramalkan karena adanya asosiasi atau tautan antara makna leksikal dan gramatikal unsur-unsur pembentuk peribahasa itu dengan makna lain yang menjadi tautannya. Karena peribahasa itu bersifat membandingkan, atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama ‘perumpamaan’. Selengkapnya.....

Minggu, 02 Juli 2023

Sintaksis dalam Bahasa dan Sastra Indonesia

  • Pengertian Sintaksis

Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti “dengan” dan kata tattein yang berarti “menempatkan”. Jadi, secara etimologi berarti: menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Manaf (2009:3) menjelaskan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang membahas struktur internal kalimat. Struktur internal kalimat yang dibahas adalah frasa, klausa, dan kalimat. Chalik (2011) mendefinisikan bahwa sintaksis adalah bagian dari tatabahasa yang mengkajistruktur frasa dan kalimat. Dari beberapa pernyataan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa sintaksis merupakan bagian dari ilmu bahasa yang di dalamnya mengkaji tentang kata dan kelompok kata yang membentuk frasa, klausa, dan kalimat.

  • Ruang Lingkup Kajian Sintaksis 

  1. Frasa adalah suatu kelompok kata yang terdiri atas dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan yang tidak melampaui batas subjek dan batas predikat. Frase terdiri atas dua kata atau lebih yang membentuk suatu kesatuan dan dalam pembentukan ini tidak terdapat ciri-ciri klausa dan juga tidak melampui batas subjek dan batas predikat. Frase adalah suatu komponen yang berstruktur, yang dapat membentuk klausa dan kalimat. (Gani, 2018:11) Frase adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 2003:222). Perhatikan contoh-contoh berikut, Satuan bahasa bayi sehat, pisang goreng, baru datang, dan sedang membaca adalah frasa karena satuan bahasa itu tidak membentuk hubungan subjek dan predikat (Widjono, 2007:140) Dari beberapa pernyataan yang telah dikemukakan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa frasa merupakan gabungan atau rangkaian kata yang tidak mempunyai batassubjek dan predikat, yang biasanya rangkaian kata tersebut mempunyai satu makna yang tidak bisa dipisahkan.
  2. Klausa menurut Manaf (2009:13) Klausa adalah sebuah konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung unsur predikatif. Klausa berpotensi menjadi kalimat. Manaf menjelaskan bahwa yang membedakan klausa dan kalimat adalah intonasi final di akhirsatuan bahasa itu. Kalimat diakhiri dengan intonasi final, sedangkan klausa tidak diakhiri intonasi final. Intonasi final itu dapat berupa intonasi berita, tanya, perintah, dan kagum. Klausa adalah satuan gramatikal yang setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Klausa berpotensi menjadi kalimat. Klausa dapat dibedakan berdasarkan distribusi satuannya dan berdasarkan fungsinya. Pada umumnya klausa, baik tunggal maupun jamak, berpotensi menjadi kalimat. Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat, dan yang lain berfungsi sebagai subjek, objek, dan sebagai keterangan. Fungsi yang bersifat wajib pada konstruksi ini adalah subjek dan predikat sedangkan yang lain tidak wajib (Gani, 2018:12). 
  3. Kalimat menurut Hasan (dalam Gani, 2018:12) Kalimat adalah tuturan yang mempunyai arti penuh dan turunnya suara menjadi ciri sebagai batas keseluruhannya. Jadi, kalimat adalah tuturan yang diakhiri dengan intonasi final. Menurut Gani (2018:12) Kalimat adalah suatu bentuk linguistik yang terdiri atas komponen kata-kata, frase, atau klausa. Jika dilihat dari fungsinya, unsur-unsur kalimat berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Menurut bentuknya, kalimat dibedakan menjadi kalimat tunggal serta kalimat majemuk. Menurut Manaf (2009:11) dengan membedakan kalimat menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Dalam bahasa lisan, kalimat adalah satuan bahasa yang mempunyai ciri sebagai berikut: (1) satuan bahasa yang terbentuk atas gabungan kata dengan kata, gabungan kata dengan frasa, atau gabungan frasa dengan frasa, yang minimal berupa sebuah klausa bebas yang mengandung satu subjek dan predikat, (2) satuan bahasa itu didahului oleh suatu kesenyapan awal, diselingi atau tidak diselingi oleh kesenyapan antara dan diakhiri dengan kesenyapan akhir yang berupa intonasi final, yaitu intonasi berita, tanya, intonasi perintah, dan intonasi kagum.
  • Fungsi Sintaksis 
Yang dimaksud fungsi sintaksis tersebut adalah subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (K). realisasinya dalam sebuah kalimat, kelima fungsi tersebut tidak selalu hadir bersama-sama. Terkadang sebuah kalimat hanya terdiri atas fungsi S dan P, S-P-O, S-P-Pel, S-P-K, S-P-OK, atau S-P-Pel-K. akan tetapi bila dilihat darisifat kehadiranya dalam sebuah kalimat, kelima fungsi dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu fungsi yang wajib hadir dan fungsi yag tidak wajib hadir. Yang termasuk fungsi wajib hadir adalah subjek, predikat, objek, dan pelengkap, sedangkan yang termasuk ke dalam fungsi yang tidak wajib hadir adalah keterangan (Gani, 2018:13). Selengkapnya.....

Sabtu, 01 Juli 2023

Fonologi dan Morfologi dalam Bahasa dan Sastra Indonesia

 1. Fonologi 

a. Pengertian Fonologi

Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem) bahasa dan distribusinya. Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat ucap manusia. Bidang kajian fonologi adalah bunyi bahasa sebagai satuan terkecil dari ujaran dengan gabungan bunyi yang membentuk suku kata Asal kata fonologi, secara harfiah sederhana, terdiri atas gabungan kata fon (yang berarti bunyi) dan logi (yang berarti ilmu). Dalam bahasa Indonesia, istilah fonologi merupakan turunan kata dari bahasa Belanda, yaitu fonologie.

b. Kajian Fonetik 

1) Klasifikasi Bunyi 

  • a) Berdasarkan ada tidaknya rintangan terhadap arus udara dalam saluran suara. 

  1.  Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan. Pada pembentukan vokal tidak ada artikulasi. 
  2.  Konsonan adalah bunyi bahasa yang dibentuk dengan menghambat arus udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi.
  3. Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan, tetapi karena pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni.

  • b) Berdasarkan jalan keluarnya arus udara. 

  1. Bunyi nasal, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan menutup arus udara ke luar melalui rongga mulut dan membuka jalan agar arus udara dapat keluar melalui rongga hidung.
  2. Bunyi oral, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan jalan mengangkat ujung anak tekak mendekati langit-langit lunak untuk menutupi rongga hidung, sehingga arus udara keluar melalui mulut.
  • c) Berdasarkan ada tidaknya ketegangan arus udara saat bunyi diartikulasikan. 
 a. Bunyi keras (fortis), yaitu bunyi bahasa yang pada waktu diartikulasikan disertai ketegangan kuat arus. Bunyi lunak (lenis), yaitu bunyi yang pada waktu diartikulasikan tidak disertai ketegangan kuat arus. 
  • d) Berdasarkan lamanya bunyi pada waktu diucapkan atau diartikulasikan a. Bunyi panjang b. Bunyi pendek
  • e) Berdasarkan derajat kenyaringannya 
Bunyi dibedakan menjadi bunyi nyaring dan bunyi tak nyaring. Derajat kenyaringan ditentukan oleh luas atau besarnya ruang resonansi pada waktu bunyi diucapkan. Makin luasruang resonansisaluran bicara waktu membentuk bunti, makin tinggi derajat kenyaringannya. Begitu pula sebaliknya.

  •  f) Berdasarkan perwujudannya dalam suku kata
 a. Bunyi tunggal, yaitu bunyi yang berdiri sendiri dalam satu suku kata (semua bunyi vokal atau monoftong dan konsonan). b. Bunyi rangkap, yaitu dua bunyi atau lebih yang terdapat dalam satu suku kata. Bunyi rangkap terdiri atas c. Diftong (vocal rangkap) : [ai], [au] dan [oi]. d. Klaster (gugus konsonan) : [pr], [kr], [tr] dan [bl]. 

  •  g) Berdasarkan arus udara
  1. Bunyi egresif, yaitu bunyi yang di bentuk dengan cara mengeluarkan arus udara dari dalam paru-paru. Bunyi egresif dibedakan menjadi • Bunyi egresif pulmonik: dibentuk dengan mengecilkan ruang paru-paru, otot perut dan rongga dada. • Bunyi egresif glotalik : terbentuk dengan cara merapatkan pita suara sehingga glottis dalam keadaan tertutup. 
  2.  Bunyi ingresif, yaitu bunyi yang dibentuk dengan cara menghisap udara ke dalam paru-paru. • Ingresif glotalik: pembentukannya sama dengan egresif glotalik tetapi berbeda pada arus udara. • Ingresif velarik: dibentuk dengan menaikkan pangkal lidah ditempatkan pada langit-langit lunak. Kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan bunyi egresif.
c. Kajian Fonemik 

Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem juga dapat dibatasi sebagai unit bunyi yang bersifat distingtif atau unit bunyi yang signifikan. Dalam hal ini perlu adanya fonemisasi yang ditujukan untuk menemukan bunyi-bunyi yang berfungsi dalam rangka pembedaan makna tersebut. Dengan demikian fonemisasi itu bertujuan untuk 1. Menentukan struktur fonemis sebuah bahasa, dan 2. Membuat ortografi yang praktis atau ejaan sebuah bahasa. Untuk mengenal dan menentukan bunyi-bunyi bahasa yang bersifat fungsional atau fonem, biasanya dilakukan melalui “kontras pasangan minimal”. Dalam hal ini pasangan minimal ialah pasangan bentuk-bentuk bahasa yang terkecil dan bermakna dalam sebuah bahasa (biasanya berupa kata tunggal) yang secara ideal sama, kecuali satu bunyi berbeda. Sekurang-kurangnya ada empat premis untuk mengenali sebuah fonem, yakni (1) Bunyi bahasa dipengaruhi lingkungannya; (2) Bunyi bahasa itu simetris; (3) bunyi bahasa yang secara fonetis mirip, harus digolongkan ke dalam kelas fonem yang berbeda; (4) bunyi bahasa yang bersifat komplementer harus dimasukkan ke dalam kelas fonem yang sama.

2. Morfologi 

Pengertian Morfologi secara etimologis terdiri atas dua kata yaitu morf yang berarti bentuk dan logos yang berarti ilmu. Berdasarkan unsur pembentukannya maka morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari bentuk-bentuk kata,seluk-beluk pembentukannya dan serta proses perubahan-perubahan bentuk kata tersebut. Morfologi juga sering diartikan sebagai cabang linguistik yang mempelajari, atau membicarakan proses pembentukan kata. 
  • Pengertian Morfem Morfem adalah bentuk bahasa terkecil yang tidak dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Secara umum morfem terbagi atas dua bagian yaitu, morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri serta memiliki arti atau morfem berupa bentuk dasar yang tidak dapat dibagi menjadi bagian yang lebih kecil. Misalnya buku, meja dan kursi merupakan bentuk dasar yang tidak dapat bagi lagi menjadi bu dan ku, me dan ja, kur dan si. Apabila bentuk tersebut dibagi, maka bagian-bagian tersebut tidak disebut lagi morfem karena tidak memiliki makna. 
  • Ciri-ciri morfem yaitu 1) Mempunyai makna. 2) Tidak dapat dibagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil karena makna yang terkandung di dalamnya akan hilang. 
  • Klasifikasi Morfem Morfem dapat diklasifikasikan berdasarkan kebebasan, keutuhan, dan maknanya.
  1. ) Morfem Bebas dan Morfem Terikat Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri tanpa kehadiran morfem lainnya dalam pertuturan. Sedangkan morfem terikat adalah morfem yang harus melekat dengan morfem lain atau morfem yang tidak dapat berdiri sendiri. Dalam sebuah pertuturan minum adalah sebuah morfem dan -kan. Morfem minum merupakan morfem bebas karena dapat dipakaisecara langsung dalam pertuuturan tanpa bantuan morfem lain. Berbeda dengan morfem -kan, morfem ini tidak dapat dipakai secara langsung dalam pertuturan, morfem ini harus melekat dengan morfem lain. Contoh: (1) Ayu minum teh. (2) Ayu –kan teh Morfem minum dalam kalimat (1) dapat dipertuturkan secara langsung tanpa bantuan morfem lain sedangkan morfem -kan dalam kalimat (2) tidak dapat dipertuturkan secara langsung, harus melekat dengan morfem lain. Akan tetapi perlu dipahamibahwa tidak semua morfem yang dapat dipertuturkan dikatakan morfem bebas. Pertama, bentuk seperti juang, henti, gaul, dan baurtermasuk ke dalam morfem terikat, sebab meskipun bukan afiks, morfem tersebut tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi bentuk lazimnya disebut prakategorial. Contoh: Saya harus juang untuk mencapai cita-cita saya. Kalimat tersebut tidak jelas maknanya karena morfem juang ditambah dengan morfem -ber. Kedua, bentuk seperti baca, tulis, dan tendang termasuk ke dalam pangkal kata, morfem tersebut dapat dipertuturkan langsung dalam kalimat sehingga membutuhkan morfem lain.  Ketiga, klitika adalah bentuk singkat, biasanya satu silabel, kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat dengan bentuk lain seperti ku pada morfem kuambil, kemudian mu pada kata bukumu. 
  2. ) Mofem Utuh dan Morfem Terbagi Morfem utuh adalah mofem dasar, merupakan kesatuan utuh. Morfem terbagi adalah sebuah morfem terdiri atas dua bagian terpisah Pertama, semua imbuhan konfiks termasuk morfem terbagi. Kedua, ada imbuhan infiks yang disisipkan di tengah morfem dasar. 
  3. ) Morfem Segmental dan Morfem Suprasegmental Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem segmental. Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, dan tempo. 
  4. ) Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang secara inheren memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dengan morfem lain. Misalnya seperti morfem sapi, datang, hijau, dan lari adalah morfem bermakna leksikal. Sedangkan morfem tidak bermakna leksikal adalah morfem yang tidak mempunyai apa-apa, morfem ini baru memiliki makna apabila bergabung dengan morfem lain, misalnya morfem-morfem afiks seperti ber-, me-, dan ter-. Selengkapnya.....

Jumat, 30 Juni 2023

Prinsip Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD

a. Prinsip Fungsional

Prinsip fungsional dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD pada hakikatnya sejalan dengan konsep pembelajaran yang interaktif Dalam implementasinya prinsip fungsional bertujuan untuk melatih peserta didik menggunakan bahasa yang efektif baik lisan maupun tulisan.

b. Prinsip Konstekstual

Prinsif kontekstual dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD pada hakikatnya kemampuan peserta didik menghubungkan materi yang diajarkan dengan dunia nyata. Prinsip ini terdiri atas enam komponen yaitu: konstruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian sebenarnya. 

c. Prinsip Apresiatif

Prinsip apresiatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD pada hakikatnya lebih fokus dalam pembelajaran sastra. Hal ini mengandung arti bahwa prinsip pembelajaran yang digunakan adalah menyenangkan.

d. Prinsip Humanisme, Rekontruksionalisme, dan Progresif. 

1) Manusia secara alami memiliki modal yang sama dalam upaya memahami sesuatu. Implikasi wawasan tersebut terhadap kegiatan pengajaran bahasa Indonesia adalah 1) Pendidik bukan merupakan satu-satunya pusat informasi, 2) Siswa harus dimaknai sebagai subjek belajar yang secara kreatif mampu menemukan pemahaman sendiri, 3) dalam proses belajar mengajar pendidik harus fokus sebagai sebagai model, teman, pendamping, pemotivasi, fasilitator, dan aktor yang bertindak sebagai pembelajar. 

2) Perilaku manusia didasari motif dan minat tertentu. Implikasi dari wawasan tersebut dalam kegiatan pengajaran bahasa Indonesia adalah 1) Isi pembelajaran harus mengandung manfaat bagi peserta didik secara aktual, 2) Dalam prosesnya peserta didik harus memahami manfaat penguasaan isi pembelajaran bagi kehidupannya, 3) Isi pembelajaran harus sesuai dengan tingkat perkembangan, pengalaman, dan pengetahuan pembelajaran.

3) Manusia selain memiliki kesamaan juga memilliki keunikan. Implikasi wawasan dalam kegiatan pengajaran bahasa Indonesia, 1) Layanan pembelajaran selain bersifat klasikal dan kelompok juga bersifat individual, 2) Pembelajaran selain ada yang dapat menguasai materi pembelajaran secara cepat juga ada yang lambat, dan 3) Pembelajaran perlu disikapi sebagai subjek yang unik, baik menyangkut proses merasa, berpikir dan karakteristik individual sebagai hasil bentukan lingkungan, keluarga, teman bermain, maupun lingkungan kehidupan sosial masyarakat. Selengkapnya.....

Rabu, 28 Juni 2023

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SD

Dalam kurikulum 2013 pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah berbasis teks atau lebih difokuskan pada teks. Melalui teks-teks tersebut selain diajarkan ilmu kebahasaan juga diintegrasikan pendidikan karakter. Dalam kurikulum merdeka pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah difokuskan pada keterampilan menyimak, membaca dan memirsa, berbicara dan mempresentasikan serta menulis untuk berbagai tujuan berbasis genre yang terkait dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan.

Pembinaan dan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia akan membentuk pribadi Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berpikir kritis, mandiri, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global (Kurikulum Merdeka, 2022) Melalui membaca teks peserta didik mampu memperbaiki sikap untuk lebih berkarakter. Terlebih melalui pendekatan saintifik atau ilmiah pembentukan karakter akan mudah terealisasikan.

Dalam pendekatan saintifik, siswa diminta unntuk mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan dengan integrasi pembentukan sikap, misalnya mengamati dengan tanggung jawab, menanya dengan santun, mencoba dengan jujur, dan mengasosiasi dan mengomunikasikan dengan proaktif. Sikap baik tersebut akan terus ditanamkan dalam setiap pembelajaran sehingga ketika peserta didik sudah terbiasa dengan sikap baik, maka kebiasaan itu akan tetap sikap baik.

Ketika peserta didik yang menjadi generasi penerus sudah menjadi pribadi yang baik tentu saja akan mengembalikan identitas bangsa menjadi bangsa yang bermartabat. Pembelajaran berbasis teks merupakan pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan siswa untuk menyusun teks. Metode pembelajaran ini mendasarkan pada pemodelan teks dan analisis terhadap fitur-fitur secara eksplisit serta fokus pada hubungan antara teks dan konteks penggunaannya. Dalam proses pembelajaran ini mengarah pada peserta didik agar mampu memahami dan memproduksi teks baik secara lisan maupun secara tulisan dalam berbagai konteks. Selengkapnya.....

Selasa, 27 Juni 2023

Fungsi Bahasa Indonesia berdasarkan Penggunaannya

Bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi yang digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk saling berinteraksi satu sama lain dalam segala hal. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan bahasa resmi di Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia tidak mengikat pemakainya untuk sesuai dengan kaidah dasar. Bahasa Indonesia digunakan secara nonresmi, santai, dan bebas. Bahasa (Indonesia), mengandung fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan pemakainya, yakni (1) sebagai sarana ekspresi diri, (2) sebagai sarana untuk berkomunikasi, (3) sebagai sarana untuk integrasi dan beradaptasi sosial, dan (4) sebagai kontrol sosial (Cahyani, 2013).

a. Alat ekspresi diri 

Secara umum manusia menggunakan bahasa sebagai sarana dalam mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya kepada orang lain. Dalam mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya kepada orang lain seseorang menggunakan bahasa lisan dan bahasa tertulis. 

b. Alat komunikasi

Bahasa merupakan satu-satunya sebagai sarana yang kita gunakan dalam menyampaikan maksud dan tujuan kita kepada orang lain. Dalam menyampaikan maksud dan tujuan kita menggunakan bahasa sebagai sarananya. Dalam menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, harapan, perasaan, kita juga menggunakan bahasa sebagai sarananya. Kita menggunakan bahasa sebagai sarananya, ketika kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. 

c. Alat integrasi dan adaptasi sosial

Sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa persatuan (nasional). Dari beragam seni, tradisi, religi, budaya, bahasa, dan adat-istiadat yang tersebar di seluruh wilayah nusantara terikat oleh bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sebagai alat integrasi bangsa, ada beberapa sifat potensial yang dimiliki bahasa Indonesia: (1) bahasa Indonesia telah terbukti dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang multikultural, (2) bahasa Indonesia bersifat demokratis, (3) bahasa Indonesia bersifat terbuka/transparan, dan (4) bahasa Indonesia sudah mulai mengglobal. Dalam hal adaptasi sosial, bahasa menjadi modal bagi seorang manusia untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang ada pada lingkungannya.

d. Alat kontrol sosial Sebagai alat kontrol sosial, bahasa Indonesia sangat efektif.

Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat pemakainya. Berbagai penerangan, informasi, atau pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran di sekolah sampai universitas, buku-buku instruksi, perundangundangan serta peraturan pemerintah lainnya adalah salah satu contoh penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Ceramah agama, dakwah, dan wujud pembinaan rohani lainnya merupakan contoh bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Selengkapnya.....


Senin, 26 Juni 2023

Tujuan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan untuk membantu peserta didik mengembangkan: 

1. akhlak mulia dengan menggunakan bahasa Indonesia secara santun; 

2. sikap pengutamaan dan penghargaan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara Republik Indonesia; 

3. kemampuan berbahasa dengan berbagai teks multimodal (lisan, tulis, visual, audio, audiovisual) untuk berbagai tujuan (genre) dan konteks; 

4. kemampuan literasi (berbahasa, bersastra, dan bernalar kritis kreatif) dalam belajar dan bekerja; 

5. kepercayaan diri untuk berekspresi sebagai individu yang cakap, mandiri, bergotong royong, dan bertanggung jawab; 

6. kepedulian terhadap budaya lokal dan lingkungan sekitarnya; dan 

7. kepedulian untuk berkontribusi sebagai warga Indonesia dan dunia yang demokratis dan berkeadilan.

Selengkapnya.....

Minggu, 25 Juni 2023

KONSEP BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SD PADA KURIKULUM MERDEKA

Salah satu hal baru dalam pendidikan di Indonesia adalah kurikulum merdeka. Pada kurikulum tersebut dilakukan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal supaya peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Pembelajaran merupakan suatu proses belajar yang di dalamnya terdapat interaksi antara pendidik dan peserta didik. Menurut (Fatimah, 2018), pembelajaran adalah sebuah peningkatan pengetahuan, proses mengingat, dan proses mendapatkan fakta-fakta atau keterampilan yang dapat dikuasaiserta digunakan sesuai kebutuhan. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di jenjang SD sampai jenjang perguruan tinggi menekankan penggunaan bahasa Indonesia secara benar. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah memiliki tujuan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa pada peserta didik, baik secara lisan maupun tulisan. Peserta didik diharapkan mempunyai keterampilan berbahasa karena bahasa memegang peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi, sehingga bahasa dan sastra Indonesia merupakan salah satu aspek yang penting untuk diajarkan pada peserta didik. Oleh karena itu, mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia sudah diberikan kepada peserta didik sejak jenjang SD. Harapannya, peserta didik mampu menguasai, memahami, dan mengimplementasikan keterampilan berbahasa dan sastra Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Menurut (Ali, 2020), keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat aspek, yaitu (1) listening skills, (2) speaking skills, (3) reading skills, dan (4) writing skills. Keterampilan membaca, menyimak, menulis, dan berbicara memiliki peranan yang sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Keterampilan tersebut mampu menunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang keilmuan. Selain keterampilanketerampilan tersebut, pemahaman peserta didik terkait tata linguistik (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) dalam bahasa dan sastra Indonesia di SD juga memiliki peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep bahasa dan sastra Indonesia di SD diharapkan dapat membantu peserta didik dalam mengenal dirisendiri dan budayanya,serta mengenal orang lain dan budayanya. Dengan mempelajari bahasa dan sastra Indonesia diharapkan pembelajar dapat mengemukakan gagasan dan perasaannya, berpartisipasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, menemukan dan menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang terdapat pada diri sendiri. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal tersebut dilakukan secara lisan dan tulisan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra masyarakat dalam dan luar Indonesia. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia merupakan pembelajaran yang mendasar dan sudah diajarkan sejak usia dini. Bahasa dan sastra Indonesia mempunyai peranan yang penting dalam pembelajaran sehingga kurikulum bahasa dan sastra Indonesia di SD memiliki beberapa karakteristik pokok, yaitu menggunakan pendekatan komunikatif, keterampilan proses, tematik yang terintegratif, dan lintas kurikulum.

Selain itu, bahasa dan sastra Indonesia mengutamakan variasi, kealamian, kebermaknaan, dan fleksibilitas. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia menggunakan metode pembelajaran yang inovatif dan memberikan peluang kepada pendidik dan peserta didik untuk menggunakan berbagai referensi atau sumber belajar. Pada Kurikulum Merdeka sesuai dengan Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, danAsesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 008/H/Kr/2022, dengan memberikan penjelasan mengenai kemampuan berbahasa, bersastra, dan berpikir merupakan fondasi dari kemampuan literasi. Semua bidang kajian, bidang kehidupan, dan tujuan-tujuan sosial menggunakan kemampuan literasi. Literasi menjadi kemampuan sangat penting yang digunakan untuk bekerja dan belajarsepanjang hayat. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia merupakan pembelajaran literasi untuk berbagai tujuan berkomunikasi dalam konteks sosial budaya Indonesia.

Kemampuan literasi dikembangkan ke dalam pembelajaran menyimak, membaca dan memirsa, menulis, berbicara, dan mempresentasikan untuk berbagai tujuan berbasis genre yang terkait dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan. Setiap genre memiliki tipe teks yang didasarkan pada alur pikir—struktur—khas teks tertentu. Tipe teks merupakan alur pikir yang dapat mengoptimalkan penggunaan bahasa untuk bekerja dan belajar sepanjang hayat. Model utama yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah pedagogi genre. Model ini memiliki empat tahapan, yaitu: penjelasan untuk membangun konteks (explaining, building the context), pemodelan (modelling), pembimbingan (joint construction), dan pemandirian (independent construction). Di samping pedagogi genre, pembelajaran bahasa Indonesia dapat dikembangkan dengan modelmodel lain sesuai dengan pencapaian pembelajaran tertentu. Pembinaan dan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia akan membentuk pribadi Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berpikir kritis, mandiri, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global. Selengkapnya.....

Sabtu, 24 Juni 2023

Eksplor Bahasa dan Teks Sastra untuk Mengembangkan Kemampuan Siswa

Teks sastra dianggap sebagai “input terkontrol” yang mampu menawarkan tingkat kesesuaian untuk pelajar (Jouini, 2008). Sama hal nya dengan surat kabar dan majalah, teks sastra adalah dokumen yang bersifat otentif, karena meskipun tidak dirancang untuk tujuan pengajaran bahasa, teks sastra memungkinkan suatu proses komunikasi interaktif antara penulis, siswa, dan guru sebagai mediator. Namun, karya sastra fiksi cenderung melampaui surat kabar dan majalah dalam hal menggabungkan bahasa lisan dan tulisan. Kombinasi wacana ini menjadikan sastra sebagai sumber yang ideal di mana siswa dapat membayangkan dan menciptakan situasi di mana mereka dapat bertindak secara otentik. Artinya, di satu sisi, ketika menciptakan situasi, siswa akan bermanuver dalam lingkungan komunikatif di mana mereka akan dapat berbagi ide, emosi, dan informasi. Di sisi lain, dengan bertindak secara otentik, proses komunikasi verbal mereka untuk pemecahan masalah, negosiasi makna dan pertukaran reaksi akan merespon tujuan tertentu dan akan mengikuti mekanisme komunikasi normal (Fernández, 2001). Selain itu, panjang relatif novel memberisiswa waktu yang diperlukan untuk menjadi akrab dengan cerita, karakter, dan pengembangan plot teks, yang akan diperlukan untuk pengembangan keterampilan kreatif siswa.


Penggunaan Sastra dalam Pembelajaran Bahasa: Mengembangkan Cerita

Untuk mengeksploitasisastra dengan tujuan kreatif, mengeksploitasi dengan cara yang terbaik dengan tujuan membantu siswa mengembangkan konteksfiksi dan menciptakan kembalisituasi. Realitasfiksi dalam sastra sangat bergantung pada imajinasi pembaca. Ritlyova mengatakan bahwa membaca teks tanpa tugas tambahan dapat dikatakan kreatif karena dengan demikian pembaca mengembangkan fantasinya (Ritlyová, 2014). Namun, tidak semua siswa memiliki tingkat imajinasi yang sama, tetapi mendorong empatisiswa terhadap karakter adalah cara yang efektif untuk membuka dan memupuk imajinasi mereka. Siswa masuk ke sepatu karakter dan hidup melalui petualangan mereka; dengan melakukan ini, mereka menjadi kreatif dan membangun konteks yang bermakna dan dapat dibayangkan (Martín de León, C., & García Hermoso, 2020). Konteks yang dibuat oleh siswa ini akan membantu mereka memprediksi kemungkinan reaksi karakter fiksi terhadap narasi yang diberikan, mendorong siswa tidak hanya untuk membangun dan meningkatkan keterampilan membaca (Jouini, 2008) tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan menulis kreatif. Selengkapnya.....

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...