Tampilkan postingan dengan label Abad 21. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abad 21. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Januari 2024

Keterampilan Berbicara (Permulaan dan Lanjutan)

1. Keterampilan Berbicara Permulaan 

Keterampilan berbicara permulaan adalah salah satu keterampilan berbahasa sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik lisan berhadapan ataupun dengan jarak jauh (Abbas:2006). 

2. Jenis-jenis Keterampilan Berbicara Permulaan

 a. Berdialog b. Menyampaikan pengumuman c. Menyampaikan argumentasi d. Bercerita 

3. Metode Keterampilan Berbicara Permulaan 

a. Metode ulang ucap 

Kegiatan ini dapat dimulai dari kegiatan sederhana terutama untuk kelas awal SD yaitu dengan menugaskan peserta didik mengulang kata yang diucapkan oleh guru. 

b. Metode Lihat Ucap 

Peserta didik ditugaskan untuk mengucapkan sesuatu kata atau kalimat yang berhubungan dengan benda yang diperlihatkan oleh guru.

c. Metode Memberikan Deskripsi

Peserta didik diberikan tugas untuk mendeskripsikan suatu benda yang diperlihatkan oleh guru. Keterampilan yang dilatih selain kemampuan pokok yaitu mengungkapkan pendapat adalah megamati benda, memilih dan mencocokkan sehingga sangat cocok diterapkan pada siswa kelas awal sampai menengah di Sekolah Dasar. 

d. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini sudah sangat umum sehingga dapat diterapkan pada kondisi dan jenis sembarang bahan ajar. Pertanyaan dapat dikondisikan sedemkian rupa oleh guru untuk merangsang kreatifitas berfikir dan menyampaikan tanggapan terhadap suatu masalah yang diajukan. 

e. Metode Bertanya 

Metode bertanya juga sangat layak digunakan pada sembarang bahan ajar. Dengan menyajikan bahan ajar telebih dahulu kemudian peserta didik ditugaskan untuk membuat pertanyaan tentang sesuatu yang tidak dipahami oleh peserta dididk atau bahkan dalam tataran menguji materi ajar itu sendiri. Dengan bertanya mereka akan mendapat jawaban dan tanggapan tersebut. 

f. Metode Pertanyaan Menggali 

Metode ini sangat baik digunakan jika kondisi siswa yang stagnan dan dengan rata-rata tingkat pemahaman bahkan IQ biasa-biasa saja. Karna untuk mengantarkan mereka kepada suatu pemahaman yang menjadi tujuan pembelajaran diperlukan langkah langkah yang menggiring siswa sehingga sampai pada suatu keadaan paham kepada tema atau permasalahan yang ingin kita sampaikan. Terkadang usaha ini agak sulit dan membuat kita jengkel karna harus berputar-putar mencari pengandaian dan logika lain, akan tetapi disinilah letak seni kita sebagai guru. Akhirnya siswa akan dapat berbicara untuk menyampaikan gagasan, ide dan pendapat mereka. 

g. Metode Melanjutkan 

Pada kegiatan ini siswa secara bergilir ditugaskan untuk membuat ide cerita dan siswa yang lainnya melanjutkan cerita tersebut. Dalam keadaan tertentu dapat dikondisikan suatu bentuk permainan dalam kegiatan ini.

4. Keterampilan Berbicara Lanjutan Keterampilan berbicara lanjutan adalah kemampuan seseorang dalam menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan. (Unsa: 2022).

5. Jenis-jenis Keterampilan Berbicara lanjutan

a. Musyawarah b. Diskusi c. Pidato d. Ceramah

6. Metode keterampilan berbicara di kelas lanjutan 

a. Menceritakan kembali 

Kegiatan ini sudah sangat umum dilaksanakan terutama dalam pembelajaran yang menggunakan bahan ajar cerita baik fiksi maupun non fiksi. Di mana siswa ditugaskan untuk membaca atau mendengar cerita untuk kemudian menceritakan kembali isi cerita tersebut secara lisan di depan teman-teman mereka yang berperan sebagai audien. Dengan kegiatan ini maka siswa akan tertantang untuk berlomba memahami cerita yang sudah pernah mereka dengar atau basa. 

b. Metode Percakapan atau Bermain Peran

Kegiatan ini sangat baik dilaksanakan untuk pemahaman tingkat lanjut tentang suatu cerita di mana dengan memerankan siswa akan lebih  memahami bukan hanya kepada alur cerita akan tetapi akan lebih kepada penjiwaan karakter masing-masing tokoh. Dalam keadaan ini pemahaman siswa terhadap cerita akan utuh karna dengan berbicara mengucapkan naskah cerita atau drama, mereka akan sangat menghayati setiap adegan dan untaian kata percakapan yang diucapkan. 

c. Metode Parafrase

Metode ini dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar menggunakan bahan ajar puisi yang selanjutnya diubah menjadi prossa yang kemudian siswa ditugaskan menceritakan secara lisan hasil paraprase tersebut. 

d. Metode Reka Cerita Gambar

Metode ini sangat kreatif dan layak untuk dicoba karna dengan menyajikan gambar acak siswa akan mereka kembali dengan susunan yang benar urutan gambar tersebut. Dalam kegiatan tersebut dengan sudah sangat pasti mereka akan berbicara setelah guru bertanya, 

e. Metode Memberi Petunjuk 

Metode ini layak juga untuk dicoba terutama untuk mempelajari bahan ajar tentang denah, petunjuk penggunaan obat dan alat tertentu. Dengan penugasan untuk menyampaikan hal tersebut siswa akan tertantang untuk berbicara dan menyampaikan penjelasan berdasarkan ide dan pendapat masing-masing melalui bahasa sederhana dan sesederhanapun penyampaian layak mendapat penghargaan. 

f. Metode Pelaporan

Melalui pengamatan terhadap obyek pada kegiatan tertentu siswa kemudian melaporkan hasil pengamatan dengan penyampaian lisan yang didahului oleh konsep tulisan. Dalam hal ini terjadi proses mirip dengan proses pada metode identifikasi akan tetapi memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Sehingga sesederhana apapun penyampaian siswa layak dihargai karna sebagai awal mula yang baik untuk proses penelitian dan pelaporan 

g. Metode Wawancara

Kegiatan ini adalah kegiatan tingkat tinggi dari bertanya hingga menganalisa jawaban audiens kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya yang diikuti oleh proses pelaporan layaknya seorang wartawan. Proses berbicara dari kegiatan ini adalah awal dari membentuk pribadi yang kritis dan santun 

h. Metode Diskusi 

Kegiatan ini adalah proses interaksi tingkat tertinggi yang merangsang daya fikir, logika, kritis dan santun. Dalam kegiatan ini sejelek apapun pendapat, sanggahan dan klarifikasi siswa adalah hal yang maha baik dalam memulai suatu sikap peka terhadap lingkungan dan isu-isu tertentu dalam mencari jalan keluar. Dimana sudah barang tentu merupakan kreatifitas yang sangat layak mendapat penghargaan. 

i. Metode Bertelpon 

Seiring dengan teknologi informasi yang kian maju maka keterampilan bertelpon sangat penting dalam membentuk sikap cepat, efektif dan sopan dalam berkomunikasi. Karna berbicara melalaui telpon tanpa hadirnya lawan bicara secara langsung memerlukan tingkat kepekaan yang tinggi dalam tata cara pergaulan sehari-hari dalam kegiatan bertelpon 

j. Metode Dramatisasi 

Metode ini adalah kelanjutan dari kegiatan bermain peran yang dilengkapi dengan tema, seting, perwatakan, seting dan naskah drama yang ditampilkan secara utuh. Kegiatan ini penuh dengan kegiatan berbicara sesuai dengan tuntunan naskah yang runtut.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Senin, 19 Juni 2023

Pengenalan dan Pembelajaran Bahasa Abad ke-21

Kesulitan yang signifikan untuk pembelajaran bahasa dan sastra, misalnya saja permasalahan yang banyak dijumpai oleh para pendidik di belahan dunia yaitu tentang strategi pembelajaran bahasa dan sastra anak. Banyak pendidik baik pendidik yang tradisional maupun modern kurang mampu memahami bagaimana pembelajaran bahasa dan sastra untuk anak yang ujungnya pada hasil yang sukses yang dicapai oleh peserta didik. Integrasi dan perkembangan teknologi serta tumbuhnya kesadaran akan keberagama kebudayaan dan globalisasi telah mengubah konsep pembelajaran yang dulunya konservatif menjadi pembelajaran abad 21 (Borsheim, C., Merritt, K., & Reed, 2008).

Ide yang dicetuskan tersebut berfokus pada peserta didik untuk dapat memperoleh atau mengambil informasi, mengatur dan mengelola informasi, menilai relevansi, kualitas, dan kegunaan informasi,serta menciptakan informasisecara benar dengan menggunakan sumber daya yang ada (Educational Testing Service, 2007). Kemampuan seperti inilah yang harus dimiliki pembelajar modern untuk dapat bertahan di pasar yang semakin mengglobal (Pacific Policy Research Center (PPRC), 2010). salah satu fokus dari program abad 21 adalah bahasa, yaitu komunukasi yang efektif. Kemampuan yang dibutuhkan dalam budaya saat ini adalah “komunukasi yang efektif”,seperti kerjasama, keterampilan interpersonal, akuntabilitas pribadi, tugassosial dan sipil, dan komunikasi yang interaktif. Untuk mengenali konteks multibahasa dan multikultural yang baru untuk pembelajaran bahasa, dipahami potensi sastra untuk komunikasi dan mediasi antarbudaya (Kramsch, 2014); (Council of Europe, 2018).

Dokumen kurikulum terbaru secara global meminta para pendidik bahasa untuk dapat mempromosikan secara luas dan komplek, yang mana ini semua bertujuan terhadap penguasaan bahasa sederhana, kekritisan, komunikasi dan empati antarbudaya, kreasi dan inovasi, kemandirian, kerja tim, etika dan kecerdasan emosional, dan keterampilan abad ke-21 lainnya yang dapat kita terapkan (Naji, H., Subramaniam, G., & White, 2019). Kramsc meminta kita semua untuk berpikir kembali tentang pembelajaran bahasa sebagai mata pelajaran multibahasa (Kramsch, 2009); (Kramsch, 2014). Ada batasan-batasan antara bahasa, budaya, dan negara yang mana ini semua teriritasi dengan adanya migrasi dan mobilitas yang semakin menjadi sebuah norma bagi kebanyakan orang, bersama dengan interkoneksi yang meluas oleh internet.

Bahasa dan sastra sering tercampur dan mendorong perhatian pengguna pada sifat fiktif dari bahasa nasional yang dianggap paling benar. Pengakuan tentang pemahaman keragaman bahasa modern serta dasar untuk tekssastra, perlu dipelajari dan dinegosiasikan oleh pengguna bahasa. Sastra secara prototipikal berurusan dengan yang di namakan dengan “batas” tempat,situasisosial ekonomi, kelas, agama, jenis kelamin, bahasa, dan gaya. Membaca sastra kita perlu sebuah pemahaman apa dan siapa yang terpinggirkan dan mengapa, serta kita juga perlu masuk ke dunia imajinatif (Maginess, 2019). Sedangkan belajar bahasa, menurut Kramch memiliki hal yang istimewa dan ada tantangan tersendiri untuk menempati hubungan marginal dengan bahasa yang mereka pelajari (Kramsch, 2009).

Penelitian tentang pemerolehan bahasa kedua menunjukkan pentingnya fokus pada bentuk linguistik yang di pandang tepat untuk pembelajaran bahasa (Schmidt, 2010). Begitu pula dengan teks sastra, yang mana memiliki perhatian yang sama(Peplow, 2016). Baru-baru ini, keterlibatan emosional dan perasaan sangat disoroti sebagai bagian dari terpenting dan yang mengharukan dalam pembelajaran bahasa (Bigelow, 2019). Memiliki arti dan yang mengharukan ini semua diolah lebih dalam lagi melalui teks sastra yang disesuaikan dengan pembelajaran anak. Kritik terhadap materi komersional baik internasional dan nasional yang digunakan untuk mendukung pembelajaran bahasa menunjukkan peran yang sangat penting bagi sastra. Sastra berurusan tentang isu-isu “besar”, kematian, cinta, kehidupan, dan hubungan. Hal ini memiliki relevansi pribadi (Maley, A., & Kiss, 2018). Selengkapnya.....

Minggu, 18 Juni 2023

Perkembangan Sastra Anak

Sastra sering menjadi landasan budaya yang dapat menyatukan masyarakat dan mengikat mereka bersama dalam berbangsa. Yang terbaik, ia dapat menawarkan jembatan antara populasi asing dan bekerja untuk mendorong pemahaman antara kelompok yang berbeda dan kelas sosial. Aspek-aspek ini terutama benar dalam kaitannya dengan sastra anak-anak internasional, mengingat kesederhanaan bahasa dan pesannya serta potensi pengaruhnya terhadap pembaca yang mudah dipengaruhi. Pada dasarnya, sastra anak digunakan sebagai sumber pendidikan, dimaksudkan untuk menginisiasi anak ke dalam aklimatisasi sosial normatif.

Namun, pada saat yang sama, dapat digunakan sebagai alat untuk mengindoktrinasi anak-anak ke dalam hegemoni budaya, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa filosofi yang disponsori negara yang telah menggunakan strategi ini di masa lalu. Dalam tinjauannya tentang sastra anak-anak, sarjana Sheila Ray telah menyarankan bahwa pengembangan sastra anak-anak dalam suatu masyarakatsering mengikuti pola standar kemajuan. Ketika suatu budaya mencapai kedewasaan tertentu, penciptaan teks tertulis muncul sebagai aspek alami dari evolusi masyarakat. Anak-anak dalam budaya ini secara mandiri tertarik pada karya-karya terpilih yang memiliki daya tarik inti untuk kebutuhan mereka yang berbeda dan kemudian menyesuaikan cerita-cerita ini untuk diri mereka sendiri. Biasanya, buku-buku berorientasi dewasa yang paling mungkin menarik minat mereka adalah bentuk-bentuk dongeng dan sajak yang lebih sederhana.

Sementara hari ini kita mengasosiasikan dongeng hampir secara eksklusif dengan pembaca anak-anak, pada awalnya, mereka diciptakan lebih sebagai refleksi dari mitologi daerah yang diteruskan melalui tradisi lisan. Namun, karena materi pelajaran mereka sering beralih ke magis dan fantastis, mereka cenderung menjadi pasangan yang cocok untuk pikiran muda. Akibatnya, buku dongeng seperti Kinderund Hausmärchen (1812; Cerita Populer Jerman) oleh Brothers Grimm termasuk di antara rilis populer pertama untuk anak-anak di pasar penerbitan mana pun. Ketika suatu budaya mencapai kedewasaan tertentu, penciptaan teks tertulis muncul sebagai aspek alami dari evolusi masyarakat. Dalam tinjauannya tentang sastra anak-anak, sarjana Sheila Ray telah menyarankan bahwa pengembangan sastra anak-anak dalam suatu masyarakatsering mengikuti pola standar kemajuan.

Saat ini, sastra anak sedang mengalami evolusi baru yang ditandai menuju globalisasi, di mana karya sastra dapat melewati perbatasan dengan lebih mudah, saling mempengaruhi, dan menciptakan warisan budaya penyerbukan silang yang, untuk pertama kalinya, secara sah dapat dianggap sebagai sastra anak-anak yang benar-benar internasional. Selain itu, sifat sastra anak-anak yang lebih sederhana dalam hal bahasa yang lebih mendasar dan plot konseptual yang lebih mudah telah, dalam banyak kasus, membuatnya lebih dapat diterjemahkan daripada rekan-rekan dewasa mereka, seperti yang ditunjukkan oleh karya-karya awal yang populersecara internasional dan sering diterjemahkan seperti karya remaja Daniel Defoe. kisah petualangan Robinson Crusoe (1719) atau Jonathan Swift’s Perjalanan Gulliver (1726). Namun, sementara narasi tertentu telah dianggap lebih universal secara internasional berkat tema dan karakternya yang luas, karya sastra anak-anak lainnya jauh lebih spesifik secara ideologis, karena atmosfer geopolitik negara asalnya.

Pada abad kedua puluh, tujuan ideologis telah mendorong evolusi banyak literatur periode dan budaya karya anak-anak yang mendukung apartheid, komunisme, dan totalitarianisme telah menjadi beberapa contoh gelap dari manipulasi halus semacam ini. Di Afrika Selatan, misalnya, perkembangan sastra anak berada di garis bidik campuran paksa dari beberapa budaya seperti Afrikaners, India, Zulus, Khoisan, dan kelompok etnis lainnya. Buku anak-anak Afrika Selatan awal sering mendokumentasikan mitologi penduduk asli, namun, beberapa kritikus menuduh kompilasi ini tidak menarik baik dalam metodologi maupun tujuannya. 

Demikian pula, berbagai administrasi politik Cina komunis dan bekas Jerman Timur telah berusaha menggunakan sastra anak-anak sebagai sarana untuk memfasilitasi dan mengarahkan arahan propagandis. Pada tahun 1979 pemimpin partai China Deng Xiaoping mengeluarkan proklamasi bahwa semua sastra, termasuk sastra anak-anak, “harus menghidupkan kembali dan meneruskan tradisi revolusioner Partai dan rakyat kita, menumbuhkan moral dan kebiasaan yang baik, dan berkontribusi pada pembangunan peradaban sosialis dengan tingkat budaya dan ideologi yang tinggi. Era pembatasan ini ditandai dengan serangkaian buku yang menunjukkan anak-anak meninggalkan praktik “sesat” dari prakomunis Cina untuk merangkul ideologi yang lebih diterima yang dimaksudkan untuk memajukan nasionalisme dan singularitas pendapat. Dalam tiga puluh tahun terakhir, sastra anak-anak China telah mulai melihat beberapa pengaruh ideologisnya yang keras melunak karena kebijakan nasional yang dilonggarkan telah memungkinkan penerimaan yang lebih besar dari cerita masa lalu China. Dalam iklim yang lebih baru ini, buku-buku seperti 365 Ye Gushi (1986; Stories for 365 Nights) yang populer, yang diedit oleh Lu Bing, telah menjadi sangat populer, sebagaimana dibuktikan oleh perkiraan angka penjualannya sebesar 4,3 juta eksemplar. Sementara masih mempertahankan keyakinan bahwa standar kehidupan moral yang benar sangat penting untuk sastra anak-anak, intrik politik Cina yang nyata sebagian besar telah dihilangkan demi analog yang lebih abstrak. Secara khusus, Lu Bing, seorang ahli teori Marxis untuk pemerintah, menyatakan bahwa buku anak-anak “harus mendidik generasi baru untuk berkembang secara moral, intelektual dan fisik dan melatih kekuatan baru yang vital untuk empat modernisasi.

Pada periode baru ini, sastra anak-anak harus fokus pada Pendidikan ideologi dan moral komunis, pendidikan sains dan pendidikan demokrasi.” Namun, meskipun masih dikelola dengan hati-hati, sastra anak-anak pada periode pasca-Mao Tsedong sebenarnya menandai semacam kemajuan dari ideolog komunis sebelumnya yang sangat bergantung pada sensor terang-terangan serta kurangnya toleransi terhadap tujuan individualis dalam pengaruh mereka terhadap pikiran muda. Sastra normatif dalam era pembatasan ini ditandai dengan serangkaian buku yang menunjukkan anak-anak meninggalkan praktik “sesat” dari pra komunis Cina untuk merangkul ideologi yang lebih diterima yang dimaksudkan untuk memajukan nasionalisme dan singularitas pendapat. Dalam tiga puluh tahun terakhir,sastra anak-anak China telah mulai melihat beberapa pengaruh ideologisnya yang keras melunak karena kebijakan nasional yang dilonggarkan telah memungkinkan penerimaan yang lebih besar dari cerita masa lalu China. Dalam iklim yang lebih baru ini, buku-buku seperti 365 Ye Gushi (1986; Stories for 365 Nights) yang populer, yang diedit oleh Lu Bing, telah menjadi sangat populer, sebagaimana dibuktikan oleh perkiraan angka penjualannya sebesar 4,3 juta eksemplar. Sementara masih mempertahankan keyakinan bahwa standar kehidupan moral yang benarsangat penting untuk sastra anak-anak, intrik politik Cina yang nyata sebagian besar telah dihilangkan demi analog yang lebih abstrak. Secara khusus, Lu Bing, seorang ahli teori Marxis untuk pemerintah, menyatakan bahwa buku anak-anak “harus mendidik generasi baru untuk berkembang secara moral, intelektual dan fisik dan melatih kekuatan baru yang vital untuk empat modernisasi. Pada periode baru ini, sastra anak-anak harus fokus pada Pendidikan ideologi dan moral komunis, pendidikan sains dan pendidikan demokrasi.” Namun, meskipun masih dikelola dengan hati-hati, sastra anak-anak pada periode pasca-Mao Tsedong sebenarnya menandai semacam kemajuan dari ideolog komunis sebelumnya yang sangat bergantung pada sensor terang-terangan serta kurangnya toleransi terhadap tujuan individualis dalam pengaruh mereka terhadap pikiran muda.

Sastra normatif dalam Perkembangan sastra anak-anak di wilayah geografislain telah menawarkan beberapa manfaatsosial tambahan yang mengejutkan. Misalnya, beberapa bahasa yang terancam punah di Inggris telah dilestarikan melalui rilis teks remaja unik yang diterbitkan hanya dalam bahasa yang memudar ini,seperti buku bergambar berbahasa Manx karya Brian Stowell, Gaelg Trooid Jallooghyn: Manx through Pictures (1968). Irlandia juga telah mendorong penerbitan lebih banyak buku anak-anak berbahasa Gaelik secara bersama-sama upaya untuk memperkenalkan kembali bahasa asli kepada generasi pembaca baru. Robert Dunbar telah menyarankan bahwa kebangkitan sastra anak-anak berbahasa Irlandia ini telah menyebabkan “perkembangan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, di mana ia telah dikaitkan dengan diskusi politik, pendidikan, dan ideologis yang lebih luas tentang tempat bahasa Irlandia di Irlandia saat ini.” Lebih jauh, setidaknya dalam satu kasus, sastra anak-anak bahkan telah membantu dalam penciptaan bahasa baru. Orang-orang Hmong nomaden hampir unik dalam masyarakat kontemporer karena kurangnya bahasa tertulis. Tergusur dari tanah air mereka di Asia Tenggara, mereka baru-baru ini mendapat manfaat dari program yang memanfaatkan buku anak-anak yang ditulis dalam sistem penulisan yang baru didirikan untuk mengajari anggotanya cara membaca bahasa ibu mereka.

Untuk pertama kalinya, sastra anak akan menjadi fondasi sastra budaya, bukan produk sampingan. Kritikus seperti Rosie Webb Joels juga berpendapat bahwa sastra anak-anak memiliki potensi untuk mendorong internasionalisme dan pemahaman global melalui terjemahan karya-karya lintas budaya, sehingga memaparkan pembaca muda pada peristiwa dan kebiasaan di seluruh dunia, bahkan mungkin mempromosikan toleransi. Secara khusus, dia mengutip The Boys of St. Petri (1991) oleh penulis Denmark Bjarne Reuter dan ikon Het Achterhuis (1947; Diary of a Young Girl) oleh korban Holocaust Belanda Anne Frank sebagai contoh buku yang secara dramatis dapat mengubah persepsi anak di dunia. Tapi mungkin, yang paling penting, buku anak-anak internasional bertindak sebagai pintu gerbang, menawarkan pembaca kesempatan untuk membenamkan diri dalam kata-kata tertulis dari bahasa mereka sendiri. Dalam kata-kata Sheila Ray, “pada akhir abad kedua puluh, ada kepercayaan bahwa literasi sangat penting. Bahkan di masyarakat di mana teknologi informasi maju, keterampilan membaca yang baik sangat penting untuk memanfaatkannya, dan umumnya dianggap bahwa cara terbaik untuk memperoleh kefasihan adalah melalui latihan membaca; buku anak-anak dengan demikian merupakan kebutuhan.” Selengkapnya.....

Rabu, 14 Juni 2023

Problematika Bahan Ajar


Komponen pembelajaran yang tak kalah penting dan masih menjadi salah satu problematika adalah bahan ajar. Bahan ajar merupakan atau materi ajar (instructional materials) terdiri atas aspek kognitif, psikomotor, dan afektif yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar capaian pembelajaran yang telah ditentukan. Jenis-jenis materi pembelajaran bahasa Indonesia terdiri atas pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, serta nilai dan sikap (Aisyah, 2020). Problematika pengembangan bahan ajar di sekolah yakni:

Selama ini pemerintah telah menyiapkan beragam bahan ajar untuk siswa dan guru (sebagai pegangan). Bahan ajar yang disiapkan pun beragam, baik itu cetak maupun digital. Namun apa yang disediakan pemerintah tersebut merupakan bahan ajar yang paling sederhana. Harapannya guru mampu mengembangkan sendiri bahan ajar yang disesuaikan dengan lingkungan dan karakteristik siswa. Permasalahannya beberapa sekolah dan guru masih menggunakan satu bahan ajar yakni buku guru dan buku siswa dari pemerintah. Tentu saja hal ini akan berdampak pada penguasaan materi. Materi yang dikuasaisiswa menjadi terlalu sederhana karena tidak ada pengembangan ilmu yang mereka dapatkan melalui bahan ajar. Adanya kurikulum Merdeka Belajar yang mulai diterapkan di beberapa sekolah, memberikan keleluasaan bagi guru untuk mengembangkan bahan ajarnya.

    a. Kesulitan menuangkan ide untuk mengembangkan bahan ajar bahasa Indonesia. Di lapangan masih beberapa guru masih mengalami kendala dalam menuangkan ide yang akan mereka tuliskan di bahan ajar. Bahan ajar seperti apa yang akan dikembangkan masih menjadi kendala termasuk isi yang akan dituangkan di bahan ajar tersebut. Bahan ajar yang dikembangkan masih terlalu sederhana atau terlalu luas. Sebenarnya pengembangan bahan ajar bisa merujuk pada capaian pembelajaran sehingga materi yang dituangkan tidak terlalu sempit ataupun luas.
    b. Kurang memperhatikan karakteristik, potensi, dan perkembangan siswa, serta relevansinya dengan kebutuhan siswa. Bahan ajar yang baik juga perlu memeperhatikan kebutuhan dan karakter siswa. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, pengembangan bahan ajar yang memperhatikan perkembangan siswa salah satunya diwujudkan dalam variasi teks bacaan. Teks bacaan yang diberikan pada siswa kelas awal berbeda dengan teks bacaan untuk kelas lanjut. 
    c. Keterbatasan sumber bahan ajar. Di era Abad 21 ini, Permasalahan tersebutseharusnya bukanlah menjadi kendala dalam pengembangan bahan ajar. Saat ini perkembangan informasi dan pengetahuan sangat berkembang dengan pesat dan terbuka. Pengetahuan dan informasi tidak hanya didapatkan dari sumber cetak, justru sumber elektronik dan digital lebih mendominasi dalam perkembangan saat ini. Namun hal sumber bahan ajar masih saja menjadi salah satu kendala saat ini. Hal ini dibuktikan dengan masih dijadikannya buku ajar dari pemerintah sebagai satu-satunya bahan ajar di kelas. Kondisi ini sangatlah disayangkan, karena jika ilmu yang dipelajari siswa hanya buku tersebut maka pengalaman mereka tidak akan berkembang maksimal.
  d. Pendekatan tematik integratif yang digunakan pada kurikulum terdahulu juga memberikan permasalahan tersendiri pada pengembangan bahan ajar. Adanya integratif ini membuat bahan ajar per muatan menjadi kurang seimbang. Sebut saja ketika muatan bahasa Indonesia bergandengan dengan muatan IPA. Biasanya bahan ajar yang cenderung disajikan adalah bahan ajar IPA kemudian agak mengesampingkan muatan bahasa Indonesia. Misalnya pada muatan IPA mengajarkan mengenai hewan ruminansia kemudian bahasa Indonesia mengusung materi iklan. Di sini kadang kala dijumpai penekanan bahan ajar hanya berfokus pada materi IPA yang dianggap lebih kompleks. Selengkapnya.....

 

Minggu, 11 Juni 2023

Problematika Strategi Pembelajaran



Fenomena pembelajaran Bahasa Indonesia yang terjadi saat ini masih sama dengan apa yang terjadi pada Abad ke-20 seperti yang disampaikan (Freire, 1968) dengan pendidikan ala bank. Di mana peran guru sangat mendominasi. Di era Abad 21 ini pun masih menunjukkan hal yang sama bahwa sebagian besar guru masih cenderung bergaya dogmatis, otoriter, dan hanya memperlakukan siswa sebagai penerima informasi tanpa adanya dialog dan interaksi. Hal ini akan membuat pembelajaran menjadi teacher centre. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang menggunakan pendekatan teacher centre akan cenderung mematikan daya kreatif siswa. Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia untuk membekali siswa keterampilan berkomunikasi menjadi sulit tercapai. Selengkapnya

 

Sabtu, 10 Juni 2023

Problematika Siswa



Beberapa permasalahan mengenai siswa saat sedang mempelajari bahasa Indonesia dibagi menjadi dua faktor yakni internal dan eksternal. Faktor tersebut adalah faktor internal yang berupa afektif, kognitif, dan psikomotor, bahasa pertama, dan kesehatan. Adapun faktor eksternal berupa lingkungan keluarga, sosial ekonomi, dan lingkungan fisik. Selengkapnya 

 

Jumat, 09 Juni 2023

Problematika Guru



Guru sebagai seseorang yang memegang kunci dalam keberhasilan dalam pembelajaran. Peran guru yang sangat penting ini tidak terlepas dari berbagai problematika. Guru masih kurang memiliki sikap profesional dalam melakukan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.

Selanjutnya, problematika mengenai pengembangan diri juga menjadi salah satu permasalahan kualitas guru. Banyak guru di lapangan yang enggan mengembangkan diri mereka dan terlalu nyaman dengan sistem pembelajaran yang selama bertahun-tahun ini dilakukan. Walaupun siswa yang mereka hadapi berganti, tahunnya juga berganti namun guru masih nyaman dengan pembelajaran yang dilakukan selama berpuluh-puluh tahun. Pengetahuan terhadap materi bahasa Indonesia yang diajarkan masih jauh dari yang diharapkan. Hal ini mengakibatkan kurang tercapainya tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang difungsikan untuk membekali siswa agar terampil berkomunikasi.

Kegiatan berburu informasi melalui jurnal, pelatihan, forum ilmiah jarang dilakukan oleh guru. Akibatnya, mereka mengalami ‘kemandegan’ dalam berinovasi. Tentu saja ini akan memberikan dampak bagi terciptanya pembelajaran Bahasa Indonesia yang menarik dan bermakna. Guru juga masih segan dalam kegiatan menulis. Entah menulis ilmiah atau artikel populer. Padahal pada pembelajaran Bahasa Indonesia ada keterampilan tentang menulis. Sebenarnya sebelum mengajarkan bagaimana menulis yang baik dan benar, guru bisa mempraktikkannya terlebih dahulu. Ketika guru bisa memberikan contoh pada siswanya, maka guru akan lebih mudah mengetahui kesulitan siswa. Karena guru mengalamisendiri bagaimana proses menulis, membaca, menyimak, atau berbicara sebagai sebuah keterampilan berbahasa.

Berkaitan dengan teknologi, di era Abad 21 ini, beberapa guru juga masih belum mengaplikasikan teknologi ke dalam pembelajaran. Alasannya adalah karena mereka merasa gagap dengan teknologi. Apalagi guru-guru senior yang lahir pada tahun 1970 ke atas, merasa sangat ketakutan dengan teknologi. Sebenarnya kehadiran teknologi akan memudahkan guru dalam memfasilitasi pembelajaran Bahasa Indonesia. Misalnya penggunaan multimedia, video dari youtube, gamifikasi tentu akan menambah motivasi dan antusias siswa dalam belajar. 

Problematika selanjutnya adalah permasalahan mengenai waktu. Kurangnya waktu dalam meningkatkan kapasitas ilmu juga menjadi sebuah kendala tersendiri (Puspidalia, 2012). Dalam keseharian, guru senantiasa melaksanakan rutinitasnya. Datang ke sekolah, menyampaikan materi, dan pulang. Guru-guru di lapangan mengaku bahwa selama mereka mengajar, banyak waktu yang digunakan untuk melakukan pembelajaran di kelas. Hal ini membuat mereka kehabisan waktu dalam meng-upgrade pengetahuan terkini. Selain itu, kurangnya waktu juga memberikan dampak pada penyusunan administrasi pembelajaran seperti RPP. Sebenarnya pemerintah sudah mengupayakan dalam meringankan beban administrasi guru, namun ternyata masih ada juga guru yang tidak pernah membuat RPP ketika akan mengajar. Selengkapnya...

 

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...