Selasa, 05 November 2024

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual 

Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi yang akan disampaikan dengan lingkungan peserta didik dan membawa peserta didik mengaitkan materi pelajaran yang diketahui peserta didik dengan lingkungan sekitarnya (Tusdia and Rosyana, 2021). Sejalan dengan pendapat (Parhan and Sukaenah, 2020) pendekatan kontektual adalah menghubungkan antara materi yang akan diajarkan dengan pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik sesuai dengan keadaan dan lingkungan peserta didik. Selanjutnya (Nuryana, 2021) juga menyatakan Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan yang memudahkan guru dalam menghubungkan materi pelajaran dengan tempat tinggal peserta didik dan meminta peserta didik untuk mengaitkan apa yang peserta didik pelajari dengan lingkungan nyata.

b. Karakteristik Pendekatan Kontektual 

Adapun karakteristik pendekatan kontektual menurut (Nuryana, 2021) yaitu: 1) Terciptanya kolaborasi sesama peserta didik, 2) berkolaborasi dalam mencapai tujuan pembelajaran 3) Kegiatan belajar mengajar akan sangat menyenangkan 4) Kegiatan pembelajaran lebih terukur dan terpadu 5) Mamakai banyak rujukan teori dalam membuat materi ajar 6) Peserta didik aktif dan berpatisispasi dalam pembelajaran 7) Peserta didik mampu bertukar pikiran dengan temannya 8) Rasa ingin tahu peserta didik meningkat sehingga guru dituntut untuk seslalu kreatif. 9) Ruang kelas seperti dinding dipenuhi dengan hasil kerja peserta didik seperti madding, peta, gambar hasil karja peserta didik dan lain-lain. 10) Setiap karya peserta didik, laporan hasil pratikum, nilai, dan lain-lain dilaporkan kepada wali murid.

Selanjutnya karakteristik pendekatan kontekstual juga dijelaskan (Jusran, 2018): 1) Pembelajaran dalam kontekstual adalah pendekatan merangsang pengetahuan sebelumnya dapat juga diartikan materi yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang dipelajari sebelumnya, jadi pengetahuan yang akan didapatkan peserta didik adalah adanya pengetahuan. 2) Pembelajaran keterkaitan pada antar pendekatan kontekstual yaitu pembelajaran yang selalu memberikan pengetahuan baru kapada peserta didik. Pengetahuan baru tersebut didapatkan dengan cara menyeluruh atau deduktif. 3) Ilmu pengetahuan yang didapat tidak untuk dihafal tapi untuk diyakini dan dipahami, contohnya meminta respon dari peserta didik mengenai pengetahuan yang didpatkannya dan berdasarkan respon tersebut setelah itu dikembangkan 4) Mempraktekkan pengalaman dan pengetahuan tersebut. Pengalaman dan pengetahuan didapat bisa diterapkan di kehidupan peserta didik, sehingga terlihat perubahan perilaku peserta didik. 5) Malaksanakan refleksi penggunaan strategi pengembangan pengetahuan. Manfaatnya adalah penyempurnaan perbaikan.

c. Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual

Pendekatan kontekstual ada tujuh langkah pembelajaran menurut (Jusran, 2018) yaitu: 1) Merangsang pola pikir peserta didik agar proses pembelajaran lebih berarti baik dengan cara kerja mandiri, mencari sendiri, dan menemukan sendiri ilmu pengetahuan dan memiliki keterampilan baru. 2) Semua topik yang diajarkan sebisa mungkin diusahakan kegiatan inquiry. 3) Menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik sehingga peserta didik tertarik untuk bertanya 4) Memunculkan kelompok belajar, sehingga peserta didik mampu berdiskusi, Tanya jawab, dan lain-lain. 5) Memunculkan model sebagai contoh pembelajaran, melalui gambaran, bisa juga dengan media kongkret. 6) Setiap pembelajaran yang telah dilakukan selalu adakan refleksi. 7) Melakukan penilaian yang sebenarnya sesuai kemampuan peserta didik.

d. Unsur-unsur Pendekatan Kontekstual

Ada enam unsur pendekatan kontektual menurut (Anggraini, 2010) yaitu: 1) Pembelajaran bermakna Relevansi, pemahaman, dan penghargaan individu peserta didik bahwa peserta didik terlibat langsung terhadap materi yang dipelajarinya. Pembelajaran harus sesuai dengan kehidupan peserta didik. 2) Penerapan pengetahuan Keterampilan dalam menentukan apa yang akan dipelajari dilakukan sesuai dengan masa kini dan yang akan datang 3) Berkpikir tingkat lebih tinggi Peserta didik dididik untuk berfikir kreatif dan kritis dalam mendapatkan informasi, mengerti situasi terkini sehingga mampu memcahkan suatu maslah 4) Kurikulum yang berdasarkan standar dikembangkan Materi ajar berkaitan dengan bermacan standar asosiasi, local, industri dan Negara bagian 5) Responsif terhadap budaya Pendidik dapat menghargai dan memahami keyakinan, nilai-nilai dan kebiasaan peserta didik, teman-teman pendidik dan mayarakat lingkungan mendidik. Krelasi antar kebiasaan, dapat berpengaruh terhadap cara mengajar pendidik. Ada empat pandangan yang harus dipertimbangkan yaitu kelompok peserta didik (seperti tim atau keseluruhan kelas), : individu peserta didik, dan tatanan masyarakat yang lebih besar, tatanan sekolah. 6) Penilaian autentik Penerapan bermacam strategi penilaian yang sesuai memperlihatkan hasil belajar yang otentik yang diingi kan dari peserta didik. Strategi ini meliputi penilaian atas penggunaan portofolio, proyek dan kegiatan peserta didik, rubric, panduan pengamatan, dan ceklis. Selain mengajak peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran dan menilai sendiri hasil kerja mereka dan berfungsi untuk melatih mereka untuk menulis.

Selanjutnya (Jusran, 2018) menyatakan bahwa ada empat unsur pendekatan kontekstual yaitu: 1) Menetapkan fokus serta tujuan akhir dan target yang harus dicapai, dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat. 2) Memilih pendekatan yang paling tepat untuk mencapai target. 3) Mengidentifikasi langkah-langkah yang akan dilalui dari awal sampai dengan target yang ingin dicapai. 4) Mengidentifikasi kriteria dan tolak ukur untuk menilai tingkat keberhasilan usaha.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Schoolar        Research gate        DOI

Rabu, 24 April 2024

Pendekatan Komunikatif

a. Pengertian pendekatan komunikatif

Pendekatan komunikatif yaitu pendekatan saat pengimplementasiannya membutuhkan tahap-tahap supaya cara penyampaiannya bisa berlangsung seadanya (Nurhaliza and Anwar, 2019). Pendekatan komunikatif ialah kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa yang berlandaskan kepada pemikiran(Djuanda, 2008). Pendekatan merupakan komunikatif Pendekatan yang mengutamakan interaksi peserta didik dengan peserta didik dan memposisikan diri sebagai pokok pembicaraan, juga setiap peserta didik diwajibkan untuk berpartisipasi (Wahyuningsi, 2019). 

 b. Komponen-Komponen Pendekatan Komunikatif 

Ada empat komponen Pendekatan Komunikatif (Wahyuningsi, 2019): 1) Kemampuan gramatikal merupakan bagian kemampuan komunikatif meliputi pengetahuan tentang aspek leksikal dan aturan fonologi, semantik kalimat tata bahasa, sintaksis, dan morfologi. 2) Kemampuan wacana merupakan penyempurnaan dari kemampuan gramatikal. Kompetensi wacana yaitu kompetensi menghubungkan suatu kalimat dalam wacana dan kompetensi memahami suatu wacana. Jika kemampuan gramatikal meliputi tata bahasa pada suatu kalimat, maka kemampuan wacana meliputi hubungan antar kalimat 3) Kemampuan sosiolinguistik merupakan ilmu mengenai aturan sosial budaya wacana dan bahasa. Kemampuan ini memfokuskan mengenai konteks bermasyarakat meliputi informasi yang dibicarakan, fungsi interaksi, peran para partisipan. 4) Kemampuan strategis, suatu ilmu yang paling kompleks. Kemampuan strategis sebagai strategi komunikasi lisan dan tertulis yang bisa digunakan untuk menyepadankan komunikasi karena kemampuan tidak sesuai. 

c. Langkah-langkah pendekatan komunikatif 

Langkah-langkah pendekatan komunikatif menurut (Nurhaliza and Anwar, 2019) yaitu: (1)Menetapkan tujuan yang efektif; (2) pembuatan materi sesuai dengan peraturan yang dipakai (3) latihan berbahasa atau practice (4) alih pengetahuan atau transfer. d. Ciri-ciri pendekatan komunikatif Ciri-ciri pendekatan komunikatif menurut (Wahyuningsi, 2019) adalah sebagai berikut: 1) Realitas akan mendorong peserta didik untuk peserta didik atau aktivitas yang menunjukkan komunikasi sebenarnya 2) melaksanakan tugas-tugas yang bermakna akan membuat peserta didik untuk belajar merupakan tujuan aktivitas berbahasa 3) Mempersiapkan materi silabus komunikasi sesuai dengan analisis kebutuhan. 4) Kegiatan di kelas berpusat kepada peserta didik. 5) Guru berperan secara holistik, menganalisis kebutuhan peserta didik, dan mengatur kelompok. 6) Kegunaan alat mengajar adalah untuk membangkitkan komunikasi peserta didik yang intens.

e. Kelebihan Pendekatan Komunikatif 

Pendekatan komunikatif memiliki kelebihan yaitu: (Nurhaliza and Anwar, 2019) 1) Peserta didik lebih semangat belajar karena hari pertama belajar, langsung menggunakan bahasa asing/ disesuaikan dengan bahasa asing yang dipakai disekolah tersebut. 2) Peserta didik pasih berinteraksi, maksudnya memahami kemampuan gramatikal, strategis, sosiologi dan wacana. 3) Kondisi kelas menyenangkan dengan kegiatan interaksi antar peserta didik dengan bermacam model komunikasi dan gaya bahasa yang lumayan tinggi, menjadi sangat menyenangkan.

f. Prinsip-prinsip Pendekatan Komunikatif Menurut (Yunita and Rafael, 2022) ada tiga prinsip pendekatan komunikatif antara lain:  1) Materi ajar berpedoman pada bahasa sebagai alat berinteraksi atau berkomunikasi. 2) Konstruksi materi ajar terfokuskan pada proses pembelajaran bukan topik yang diajarkan 3) Matari pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk berinteraksi serta berkomunikasi secara natural.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google scholar        Research gate         Doi

Selasa, 23 April 2024

Pendekatan Whole language

Pendekatan whole language adalah teknik yang bertujuan dalam menyamakan persepsi mengenai pembelajaran bahasa, kemudian juga mengenai manusia yang ikut serta lingkungan tersebut (Hidayah, 2014). Pendekatan whole language merupakan pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, hal tersebut tentu didukung dengan pembelajaran yang holistik dan padat dalam mengajarkan keempat aspek pada kemampuan bahasa, yang terdiri dari menyimak, membaca, berbicara, dan menulis secara bersamaan (Sari, Kristanti and Nurjannah, 2020). Whole Language merupakan pendekatan yang cocok untuk pembelajaran bahasa yang mengajarkan secara komplet dan menyeluruh yang berhubungan dengan keterampilan bahasa (Yunita, 2017). 

Adapun komponen-komponen pendekatan Whole Language yang dijelaskan (Hidayah, 2014) yaitu: 

a. Reading aloud adalah guru dan peserta didik melakukan aktivitas membaca. Guru dituntut untuk membaca dengan lantang dan jelas dengan artikulasi dan indonasi yang baik sehingga peserta didik dapat mendengar dan memahami bacaan guru. Manfaat Reading aloud yaitu membimbing peserta didik dalam keterampilan menyimak, memperbanyak kosakata, membangkitkan minat dan pemahaman peserta didik. Tujuan reading aloud yaitu untuk membawa peserta didik belajar dalam waktu sekitar sepuluh menit. 

b. Jurnal writing atau menulis jurnal adalah teknik yang cocok untuk menulis sesuai dengan apa yang ada dalam hati dan pikiran menceritakan apa saja yang sudah dilalui, lingkungan sekitar, dan hal-hal lainnya dalam penerapan bahasa dalam bentuk tulisan. Kegunaan menulis jurnal yaitu dapat meningkatkan (1) keterampilan menulis; (2) keterampilan membaca; (3) keberanian mengambil atau menghadapi resiko; (4) keinginan peserta didik untuk refleksi; (5) merasakan perasaan dan pengalaman pribadi; (6) tempat yang nyaman untuk menulis difasilitasi; (7) keterampilan berpikir; (8) kesadaraan akan peraturan menulis; (9) mempermudadah dan pengevaluasian (10) tercatat sebagai dokumen tertulis 

 c. Sustained Silent Reading, adalah peserta didik melakukan aktivitas membaca dalam hati. Buku bacaan atau materi dapat dipilih sendiri oleh peserta didik. Pesan ya g didapat dari kegiatan ini yaitu (1) membaca bisa menjadi aktivitas yang disenangi (2) siapapun bisa melakukan aktivitas membaca (3) terjadinya kumunikasi dengan penulis buku atau teks yang dibaca dengan cara membaca (4) peserta didik dapat berkonsentrasi dalam membaca cukup lama pada bacaan. (5) guru percaya akan pemahaman peserta didik dalam membaca teks. 6) Setelah Sustained Silent Reading berakhir peserta didik dapat berbagi pengetahuan. d. Shared Reading, merupakan guru dan peserta didik mempunyai buku yang dibaca, kemudian melakukan aktivitas membaca bersama. Kegiatan ini dapat dilakukan di sekolah dasar sampai saat belajar diperkuliahan. Tujuan aktivitas ini yaitu (1) peserta didik memperhatikan guru membaca sebagai model sambil melihat tulisan peserta didik; (2) peserta didik diberikan kesempat dalam menyampaikan apa yang sudah dibacanya (3) Guru berperan sebagai model dapat memberikan contoh cara membaca yang benar kepada peserta didiknya. 

Pendekatan Whole Language memiliki beberapa ciri-ciri menurut (Hidayah, 2014) yaitu: a. Kelas yang mengimplementasikan whole language dipenuhi dengan hasil karya berupa barang. Hasil karya tersebut dapat dipajang di dinding kelas, pintu kelas dan lain-lain. b. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik belajar melalui guru. Pendidik sebagai model yang ideal dalam berbahasa, contoh saat aktivitas berbicara, menulis, serta membaca. c. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik baraktivitas dan mempelajari materi sesuai dengan daya tangkap peserta didik. d. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik dapat membagi tugas dalam pembelajaran. e. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik ikut berperan sehingga pembelajaran menjadi bermakna. f. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik mampu terjun langsung berperan dan bebas mencoba hal-hal baru. g. Kelas yang menerapkan whole language peserta didik memperoleh umpan balik yang positif dari pendidik serta dari peserta didik lainnya.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut;

Beli Buku        Google Scholar           Research gate        DOI

Kamis, 18 April 2024

Teori Belajar Bahasa

Bahasa merupakan keterampilan masing-masing personal untuk mengutarakan sesuatu guna dalam menyampaikan informasi. Harras & Bachari (2009) mengemukakan bahwa bahasa merupakan suatu cara dalam berkomunikasi dengan menggunakan teknik yang arbiter dan lazim. Pembelajaran bahasa juga terdapat teori-teori beajar bahasa diantaranya (Hastuti and Neviyarni, 2021): 

1. Pendekatan Pengkondisian 

Pendekatan pengkondisian dalam pembelajaran bahasa membuat pedoman bahwasanya prinsip-prinsip dasar pengondisian merupakan cara untuk mempelajari bahasa. Artinya pengimplementasian pemahaman pembelajaran bahasa diperoleh dari pilar pengkondisian yang diturunkan sejak studi organisme tingkat rendah. B. F. Skinner merupakan satu diantara psikolog awal yang mengusulkan menggali secara mendalam tentang perilaku bahasa dari perspektif pengkondisian. Penguatan respons verbal yang sesuai dapat menghasilkan perilaku oral dan perilaku lainnya. Skinner menyatakan bahwasanya ada dua macam penguatan diantaranya penguatan positive, penguatan negative dan hukuman (Santrock 2001). Dengan demikian dapat disimpulkan pendapat skinner bahwa perilaku oral sama dengan lainnya sesuai dengan yang dibahas penguatan respon yang benar. 

2. Pendekatan Psikolinguistik 

 a. Pengertian Pendekatan 

Psikolinguistik Manusia memiliki ciri-ciri yang unik sehingga mampu menangkap sebuah bahasa melalui pengembangan dengan ketentuan yang abstrak. Bahasa merupakan pembelajaran yang tidak terlepas dari apa yang diutarakan para linguistik. Anggapan orang tentang bahasa yaitu berhubungan dengan kebiasaan seperti interaksi dilingkungan sosial dapat memakai teknik pembelajaran yang original dengan strategi komunikatif dan sosiolinguistik (Saepudin 2018). Sedangkan (Saputra Tanjung and Lubis, 2019) menyatakan psikolinguistik merupakan suguhan bahasa yang dipelajari sejak dini dapat memenuhi kebutuhan tingkatan cara berekpresi dan berkomunikasi dengan benda-benda yang ada di sekitar. Selanjutnya (Kadir, 2017) menjelaskan psikolinguistik yaitu Pembelajaran tentang cara berfikir dengan bahasa yang digunakan. 

b. Ciri-Ciri Pendekatan Psikolinguistik (Kadir, 2017) menyatakan: 1. bersifat aksiomatik 2. Tercipta dari beberapa ide/gagasan 3. pendekatan dapat melahirkan metode.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        DOI

Rabu, 17 April 2024

Keterkaitan Antar Aspek Keterampilan Berbahasa

 1. Hubungan Berbicara dengan Menyimak 

Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan yang berbeda namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbia. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, bertelepon, tanya-jawab, interviu, dan sebagainya. Contohnya, anak kecil akan meniru atau berbicara menggunakan bahasa yang didengarnya. Untuk itu orang tua ataupun guru diharuskan menjadi model berbahasa yang baik, supaya anak-anak tidak menirukan pembicaraan yang salah atau tidak baik didengar. Berbicara dan menyimak merupakan keterampilan yang saling melengkapi, keduanya saling bergantung. Keduanya fungsional bagi komunikasi dan tidak dapat dipisahkan. Ibarat mata uang, sisi depan ditempati kegiatan berbicara dan sisi belakang ditempati kegiatan menyimak. Mata uang tidak akan laku bila salah satu sisinya tidak terisi. Maka komunikasi lisan pun tidak dapat berjalan bila kedua kegiatan tidak berlansung saling melengkapi. 

2. Hubungan Menyimak dengan Membaca 

Menyimak dan membaca sama-sama merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Menyimak berkaitan dengan penggunaan bahasa ragam lisan, sedangkan membaca merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Pada saat menyimak fokus perhatian berupa suara (bunyi-bunyi), sedangkan pada saat membaca fokus perhatian adalah lambang tulisan. Kemudian, baik penyimak maupun pembaca melakukan aktivitas pengidentifikasian terhadap unsur-unsur bahasa yang berupa suara (dalam menyimak) maupun berupa tulisan (dalam membaca), yang selanjutnya diikuti dengan proses decoding (proses menafsirkan suatu pesan dalam bahasa/proses pengubahan suatu kode menjadi makna) guna memperoleh pesan yang berupa konsep, ide atau informasi sebagaimana yang dimaksudkan oleh si penyampainya. Aktivitas membaca dapat membantu seseorang memperoleh kosakata yang berguna bagi pengembangan kemampuan menyimak pada tahap berikutnya. 

3. Hubungan Berbicara dengan Membaca 

Berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana, dan fungsi. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi. Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.

 4. Hubungan Berbicara dengan Menulis 

Berbicara dan menulis bersifat produktif-ekspresif. Keduanya berfungsi sebagai penyampai informasi. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis. Informasi yang digunakan dalam berbicara dan menulis diperoleh melalui kegiatan menyimak ataupun membaca. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan dalam kegiatan berbicara menunjang keterampilan menulis. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan menunjang keterampilan berbicara Kemampuan berbicara tidak hanya mempunyai hubungan timbal balik dengan kemampuan mendengarkan, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan menulis dan membaca. Seorang pembicara yang baik, umumnya mempunyai persiapan tertulis. Sebaliknya pendengar yang baik juga merasa perlu membuat catatan-catatan tertentu, terutama kalau dia ingin mengemukakan tanggapan terhadap pokok pembicaraan tersebut.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut ini:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        DOI

Selasa, 16 April 2024

Keterampilan Menulis (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan menulis permulaan 

Keterampilan menulis permulaan adalah suatu kegiatan melukis atau menyalin gambar atau lambang-lambang bunyi bahasa ke dalam wujud lambang-lambang tertulis yang dapat dikenali secara konkrit sesuai dengan tata cara menulis yang baik dalam proses belajar menulis bagi peserta didik sekolah di kelas awal. 

2. Tujuan Menulis Permulaan 

Setiap penulis pasti ada tujuan untuk menuangkan ide, pikiran dan gagasan serta perasaan melalui bahasa tulis, bai bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Adapun tujuan menulis permulaan adalah: a. Dapat memproduksikan tulisan eja seperti e,d,f,k,j b. Dapat berupa suku kata seperti su-ka kedalam suatu bentuk kalimat. c. Agar dapat memahami cara menulis permulaan dengan ejaan yang benar dan mengkomunikasikan ide/pesan secara tertulis.

3. Tahap-Tahap Menulis Permulaan 

Menulis permulaan dimulai dengan pengenalan terhadap cara memegang pensil yang benar. Tingkat permulaan, kegiatan menulis lebih didominasi oleh hal-hal yang bersifat mekanis. Kegiatan mekanis yang dimaksud dapat berupa: a. Sikap duduk yang baik dalam menulis. b. Cara memegang pensil/alat tulis. c. Cara memegang buku. d. Melemaskan tangan dengan cara menulis di udara. Pengenalan huruf dengan menulis di kelas rendah dapat dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan perkembangan siswa, yaitu: a. Menulis permulaan dengan huruf kecil b. Menulis tegak bersambung c. Menulis permulaan dengan huruf capital pada huruf awal kata permulaan kalimat. 

4. Metode keterampilan menulis permulaan 

a. Metode eja 

Metode eja pada dasarnya menggunakan pendekatan harfiah, artinya belajar membaca dan menulis dimulai dari huruf-huruf yang dirangkai menjadi suku kata. 

b. Metode kata lembaga 

Metode kata lembaga di mulai dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Memperkenalkan kata 2) Menggabungkan kata antar suku kata 3) Menguraikan suku kata atas huruf-hurufnya 4) Menggabungkan huruf menjadi kata 

 c. Metode global 

Metode global mengembangkan kalimat dengan kata-kata dan mengembangkan kata-kata menjadi suku kata. 

d. Metode sas 

Metode SAS merupakan metode yang dimulai dengan pendeekatan bercerita yang disertai dengan gambar yang di dalamnya menggandung dialog.

5. Keterampilan Menulis Lanjutan 

Keterampilan menulis lanjutan adalah menulis merupakan pemindahan pikiran atau perasaan dengan menggunakan tulisan, struktur bahasa, dan kosakata dengan menggunakan simbol-simbol sehingga dapat dibaca. Untuk mencapai tujuan dalam keterampilan menulis di sekolah dasar harus dimulai dari tahap yang paling sederhana, lalu dilanjutkan pada hal yang sederhana menuju hal yang biasa, hingga pada hal yang paling sukar. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang menulis. 

6. Metode Keterampilan Menulis Lanjutan 

 a. Metode Langsung 

Metode langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar peserta didik tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan  deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang penting: fase persiapan dan motivasi, fase demonstrasi, fase pembimbingan, fase pengecekan, dan fase pelatihan lanjutan. Sebagai contoh: guru menunjukkan gambar banjir yang melanda suatu sebuah desa atau melihat langsung peristiwa banjir di sebuah desa. Dari gambar tersebut, peserta didik dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.

b. Metode Komunikatif 

Desain yang bermuatan metode komunkatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikasikan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir. Sebagai contoh: metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Peserta didik menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah akivitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan ataupun kelompok. 

c. Metode Integratif 

Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses. Integrtif terbagi menjadi dua bagian: interbidang studi dan antar bidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Sebagai contoh: menulis diintegrasikan dengan berbicara dan membaca. Adapun antarbidang studi artinya pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi. Sebagai contoh: antara bahasa Indonesia dengan matematika atau dengan bidang studi lain. 

d. Metode Tematik 

Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan peserta didik. 

e. Metode Konstruktivistik 

Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstruktivistik dimulai dari masalah yang sering muncul dari peserta didik sendiri dan selanjutnya membantu peserta didik menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut. 

f. Metode Kontekstual 

Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis, yakni konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dengan kehidupan pembelajaran yang memotivasi peserta didik agar menghubungkan pengetahuan dan penerapannya dengan kehidupan sehari-hari.


Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

DOI        Research gate        Google scholar        Beli Buku

Selasa, 05 Maret 2024

Keterampilan Membaca (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan Membaca Permulaan 

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi murid sekolah dasar kelas awla (kelas I dan kelas II). Ada beberapa pendapat yang mendefinisikan membaca permulaan, di antaranya menurut Jamaris (2015) Membaca permulaan secara umum dimulai pada kelas awal sekolah dasar, akan tetapi ada anak yang sudah melakukannya di taman kanak- kanak dan paling lambat pada waktu anak duduk di kelas II sekolah dasar. Pada masa ini, anak mulai mempelajari kosa kata dan dalam waktu yang bersamaan ia belajar membaca dan menuliskan kosa kata tersebut. Menurut Rahmawati (2017) bahwa tujuan pembelajaran membaca di Sekolah Dasar adalah “agar siswa dapat mengenal dan menguasai sistem tulisan sehingga mereka dapat membaca dengan menggunakan sistem tersebut”. Jadi tujuan membaca permulaan peserta didik dapat merubah dan melafalkan huruf-huruf menjadi bunyi yang bermakna, dan menangkap isi bacaan dengan baik dan benar. Dalam membaca juga ikut terjadi kegiatan kognitif bagi peserta didik. 

 2. Tujuan Membaca Permulaan 

Menurut Meta tujuan membaca permulaan:

a. Untuk memperkenalkan huruf dengan bunyi. 

b. Untuk mengajarkan membaca kata-kata dan kalimat sederhana. 

c. Untuk menemukan ide pokok dan kata kunci 

d. Untuk menceritakan kembali isi bacaan pendek 

3. Metode membaca permulaan 

a) Metode abjad 

b) Metode eja 

c) Metode suku kata 

d) Metode kata 

e) Metode kalimat/global 

f) Metode SAS 

4. Keterampilan Membaca Lanjutan 

Keterampilan membaca lanjutan merupakan pembelajaran membaca yang lebih menekankan kepada pemahaman membaca siswa. Beda dengan membaca permulaan, siswa hanya dituntut untuk menyuarakan isi bacaannya. Membaca lanjutan merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan, membaca lanjutan sudah menekankan pemahaman peserta didik dalam membaca walaupun terbatas. Tingkatan membaca lanjutan ini disebut dengan membaca untuk belajar (reading to learn). Membaca lanjutan merupakan tahapan membaca setelah membaca permulaan, jadi seorang anak yang sudah mencapai pada tahapan membaca lanjutan tidak hanya sekedar membaca saja, tetapi dituntut untuk memahami isi bacaan yang terkandung dalam buku. 

5. Tujuan Membaca Lanjutan 

a. Mampu membaca dengan lancer dan dapat menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri. 

b. Mampu membaca dengan lancer dan memahami isinya. 

c. Mampu mencari kata-kata yang sukar dengan menggunakan kamus atau sumber lainnya. 

d. Mampu memahami dan menyerap cerita, puisi dan drama yang berkesan serta memberi tanggapan. 

e. Mampu membaca teks bacaan dan menyimpulkan isinya dengan kata-kata sendiri. 

f. Mampu membaca teks bacaan secara cepat dan dapat mencatat gagasan-gagasan utama. 

g. Mampu membaca teks bacaan serta dapat mengutarakan pendapat dan tanggapan mengenai isinya 

h. Mampu membaca sekaligus suatu teks bacaan dan menemukan garis besar isinya 

6. Jenis-Jenis Membaca Lanjutan 

a. Membaca pemahaman 

b. Membaca memindai 

c. Membaca sekilas 

d. Membaca intensif 

e. Membaca nyaring 

f. Membaca dalam hati

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Schoolar        Research Gate      Doi

Kamis, 18 Januari 2024

Keterampilan Berbicara (Permulaan dan Lanjutan)

1. Keterampilan Berbicara Permulaan 

Keterampilan berbicara permulaan adalah salah satu keterampilan berbahasa sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik lisan berhadapan ataupun dengan jarak jauh (Abbas:2006). 

2. Jenis-jenis Keterampilan Berbicara Permulaan

 a. Berdialog b. Menyampaikan pengumuman c. Menyampaikan argumentasi d. Bercerita 

3. Metode Keterampilan Berbicara Permulaan 

a. Metode ulang ucap 

Kegiatan ini dapat dimulai dari kegiatan sederhana terutama untuk kelas awal SD yaitu dengan menugaskan peserta didik mengulang kata yang diucapkan oleh guru. 

b. Metode Lihat Ucap 

Peserta didik ditugaskan untuk mengucapkan sesuatu kata atau kalimat yang berhubungan dengan benda yang diperlihatkan oleh guru.

c. Metode Memberikan Deskripsi

Peserta didik diberikan tugas untuk mendeskripsikan suatu benda yang diperlihatkan oleh guru. Keterampilan yang dilatih selain kemampuan pokok yaitu mengungkapkan pendapat adalah megamati benda, memilih dan mencocokkan sehingga sangat cocok diterapkan pada siswa kelas awal sampai menengah di Sekolah Dasar. 

d. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini sudah sangat umum sehingga dapat diterapkan pada kondisi dan jenis sembarang bahan ajar. Pertanyaan dapat dikondisikan sedemkian rupa oleh guru untuk merangsang kreatifitas berfikir dan menyampaikan tanggapan terhadap suatu masalah yang diajukan. 

e. Metode Bertanya 

Metode bertanya juga sangat layak digunakan pada sembarang bahan ajar. Dengan menyajikan bahan ajar telebih dahulu kemudian peserta didik ditugaskan untuk membuat pertanyaan tentang sesuatu yang tidak dipahami oleh peserta dididk atau bahkan dalam tataran menguji materi ajar itu sendiri. Dengan bertanya mereka akan mendapat jawaban dan tanggapan tersebut. 

f. Metode Pertanyaan Menggali 

Metode ini sangat baik digunakan jika kondisi siswa yang stagnan dan dengan rata-rata tingkat pemahaman bahkan IQ biasa-biasa saja. Karna untuk mengantarkan mereka kepada suatu pemahaman yang menjadi tujuan pembelajaran diperlukan langkah langkah yang menggiring siswa sehingga sampai pada suatu keadaan paham kepada tema atau permasalahan yang ingin kita sampaikan. Terkadang usaha ini agak sulit dan membuat kita jengkel karna harus berputar-putar mencari pengandaian dan logika lain, akan tetapi disinilah letak seni kita sebagai guru. Akhirnya siswa akan dapat berbicara untuk menyampaikan gagasan, ide dan pendapat mereka. 

g. Metode Melanjutkan 

Pada kegiatan ini siswa secara bergilir ditugaskan untuk membuat ide cerita dan siswa yang lainnya melanjutkan cerita tersebut. Dalam keadaan tertentu dapat dikondisikan suatu bentuk permainan dalam kegiatan ini.

4. Keterampilan Berbicara Lanjutan Keterampilan berbicara lanjutan adalah kemampuan seseorang dalam menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan. (Unsa: 2022).

5. Jenis-jenis Keterampilan Berbicara lanjutan

a. Musyawarah b. Diskusi c. Pidato d. Ceramah

6. Metode keterampilan berbicara di kelas lanjutan 

a. Menceritakan kembali 

Kegiatan ini sudah sangat umum dilaksanakan terutama dalam pembelajaran yang menggunakan bahan ajar cerita baik fiksi maupun non fiksi. Di mana siswa ditugaskan untuk membaca atau mendengar cerita untuk kemudian menceritakan kembali isi cerita tersebut secara lisan di depan teman-teman mereka yang berperan sebagai audien. Dengan kegiatan ini maka siswa akan tertantang untuk berlomba memahami cerita yang sudah pernah mereka dengar atau basa. 

b. Metode Percakapan atau Bermain Peran

Kegiatan ini sangat baik dilaksanakan untuk pemahaman tingkat lanjut tentang suatu cerita di mana dengan memerankan siswa akan lebih  memahami bukan hanya kepada alur cerita akan tetapi akan lebih kepada penjiwaan karakter masing-masing tokoh. Dalam keadaan ini pemahaman siswa terhadap cerita akan utuh karna dengan berbicara mengucapkan naskah cerita atau drama, mereka akan sangat menghayati setiap adegan dan untaian kata percakapan yang diucapkan. 

c. Metode Parafrase

Metode ini dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar menggunakan bahan ajar puisi yang selanjutnya diubah menjadi prossa yang kemudian siswa ditugaskan menceritakan secara lisan hasil paraprase tersebut. 

d. Metode Reka Cerita Gambar

Metode ini sangat kreatif dan layak untuk dicoba karna dengan menyajikan gambar acak siswa akan mereka kembali dengan susunan yang benar urutan gambar tersebut. Dalam kegiatan tersebut dengan sudah sangat pasti mereka akan berbicara setelah guru bertanya, 

e. Metode Memberi Petunjuk 

Metode ini layak juga untuk dicoba terutama untuk mempelajari bahan ajar tentang denah, petunjuk penggunaan obat dan alat tertentu. Dengan penugasan untuk menyampaikan hal tersebut siswa akan tertantang untuk berbicara dan menyampaikan penjelasan berdasarkan ide dan pendapat masing-masing melalui bahasa sederhana dan sesederhanapun penyampaian layak mendapat penghargaan. 

f. Metode Pelaporan

Melalui pengamatan terhadap obyek pada kegiatan tertentu siswa kemudian melaporkan hasil pengamatan dengan penyampaian lisan yang didahului oleh konsep tulisan. Dalam hal ini terjadi proses mirip dengan proses pada metode identifikasi akan tetapi memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Sehingga sesederhana apapun penyampaian siswa layak dihargai karna sebagai awal mula yang baik untuk proses penelitian dan pelaporan 

g. Metode Wawancara

Kegiatan ini adalah kegiatan tingkat tinggi dari bertanya hingga menganalisa jawaban audiens kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya yang diikuti oleh proses pelaporan layaknya seorang wartawan. Proses berbicara dari kegiatan ini adalah awal dari membentuk pribadi yang kritis dan santun 

h. Metode Diskusi 

Kegiatan ini adalah proses interaksi tingkat tertinggi yang merangsang daya fikir, logika, kritis dan santun. Dalam kegiatan ini sejelek apapun pendapat, sanggahan dan klarifikasi siswa adalah hal yang maha baik dalam memulai suatu sikap peka terhadap lingkungan dan isu-isu tertentu dalam mencari jalan keluar. Dimana sudah barang tentu merupakan kreatifitas yang sangat layak mendapat penghargaan. 

i. Metode Bertelpon 

Seiring dengan teknologi informasi yang kian maju maka keterampilan bertelpon sangat penting dalam membentuk sikap cepat, efektif dan sopan dalam berkomunikasi. Karna berbicara melalaui telpon tanpa hadirnya lawan bicara secara langsung memerlukan tingkat kepekaan yang tinggi dalam tata cara pergaulan sehari-hari dalam kegiatan bertelpon 

j. Metode Dramatisasi 

Metode ini adalah kelanjutan dari kegiatan bermain peran yang dilengkapi dengan tema, seting, perwatakan, seting dan naskah drama yang ditampilkan secara utuh. Kegiatan ini penuh dengan kegiatan berbicara sesuai dengan tuntunan naskah yang runtut.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...