Filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu falsafaah,bahasa ini diadopsi
dari bahasa Yunani yaitu philosophiha. Kaelan pada tahun 1998
menyatakan bahwa filsuf dunia memiliki perhatian besar terhadap bahasa,
sebab banyak persoalan filsafat, konsep filosofi akan menjadi jelas saat
dianalisis dengan bahasa (Sumanto, 2017; Warami, 2016). Tokoh-tokoh
filsafat analitik bahasa hadir dengan analitik bahasanya untuk mengatasi
kelemahan, kekaburan, dan kekacauan yang selama ini muncul dalam
konsep filosofi. Salah satu tokoh filsuf di Perancis yaitu F. de Saussure juga
melakukan perubahan radikal dengan meletakkan dasar-dasar filosofis
terhadap linguistik.
Filsafat bahasa dapat dikelompokkan atas dua pengertian. Pertama,
bahasa sebagai alat untuk menganalisis, memecahkan dan menjelaskan
problema-problema dan konsep-konsep filosof. Kedua bahasa sebagai objek materi dengan membahas, mencari hakikat bahasa, hingga
paradigma bagi perkembangan teori-teori linguistik. Pada zaman Yunani
kuno, bahasa menjadi salah satu bahan kajian para filsuf karena mereka
mengembangkan dan mengemukakan gagasan tentang bahasa.
Zainuddin (2009) mengatakan bahwa filsafat memiliki tiga cabang,
yaitu:
1. Metafisika. secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘di luar fisik’
yang berarti bahwa sesuatu yang berada diluar apa yang bisa dilihat
dan dirasakan secara empiris.
2. Epistemologi. menurut sumber yang sama, merupakan teori tentang
ilmu pengetahuan, yaitu teori yang menaungi alat yang dipergunakan
untuk memperoleh ilmu pengetahuan, batasjarak ilmu pengetahuan
kita, dan kriteria yang kita pergunakan untuk menilai salah atau
benarnya ilmu pengetahuan kita.
3. Logika. Cabang filosofi yang merefleksikan hakikat cara berpikir
sehingga mampu memberikan penalaran yang tepat, membedakan
argumen yang baik dan yang buruk, dan metode-metode untuk
mendeteksi kesalahan dalam penalaran.
Kaelan (1998) mengatakan bahwa epistemologi juga pada sisi lain
berkaitan dengan teori kebenaran, dimana di dalam epistemologi ini
terdapat tiga jenis kebenaran.
1. Teori kebenaran koherensi, yaitu sebuah pernyataan dianggap benar
apabila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan
pernyataan-pernyataan sebenarnya. Sebagai contoh, pernyataan
“hewan menyusui disebut mamalia” pernyataannya bahwa sapi
adalah menyusui.
2. Teori kebenaran korespondensi, yaitu bahwa sebuah penyatann
dianggap benar bilamana materi pengetahuan yang dikandung dalam
pernyataan ini berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh
pernyataan tersebut, contoh ‘kota Medan terdapat di Sumatra Utara’
adalah benar karena terdapat hubungan antara ide dengan fakta
dimana hubungan itu terjadi melalui bahasa.
3. Teori kebenaran pragmatis, yaitu sebuah pernyataan yang dianggap
benar apabila pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi
kehidupan manusia. Ini berarti suatu pernyataan akan dianggap
apabila memberikan manfaat praktis kepada manusia. Dengan demikian, pernyataan itudianggap benar berdasarkan konteks
penggunaannya.
Sauri (2006) mengemukakan bahwa bahasa memiliki ciri-ciri umum
sebagai berikut:
a. Semantik yaitu bahasa mempunyai aturan atau pola antara lain sistem
bunyi dan sistem makna.
b. Arbiter(manasuka) artinya bahasa itu dipilih secara acak tanpa alasan
atau manasuka, tidak ada hubungan logis dengan kata-kata sebagai
simbol.
c. Ucapan atau vokal, artinya bahasa itu ujaran, berarti media bahasa
yang terpenting adalah dengan bunyi-bunyi.
d. Simbol, bahwa bahasa itu simbol dari perasaan, keinginanan, dan
harapan.
e. Bahasa itu mengacu pada dirinya, artinya bahasa itu mampu
digunakan untuk menganalisis bahasa itu sendiri.
f. Manusiawi, artinya bahasa itu adalah kekayaan yang hanya dimiliki
oleh manusia
g. Komunikasi, artinya bahasa itu alat komunikasi dan interaksi antar
manusia dan menjadi pelekat dalam menyatupadakan keluarga,
masyarakat, dan berbagai kegiatan sosialisasi. Intinya bahwa
bahasa adalah merupakan media wacana segala ilmu dan sekaligus
metabudaya.
Wicoyo (1997) mengatakan bahwa Devit menyebutkan adanya empat
lingkaran makna dalam bahasa, yaitu:
1. Makna yang dibicarakan dibicarakan oleh isi muatan pikiran.
2. Isi itu dijelaskan oleh makna kalimat pikiran.
3. Makna itu dijelaskan oleh makna konvensional.
4. Makna konvensional dijelaskan oleh makna pembicara.
Untuk menemukan makna, filsafat memberikan analisis sehingga
makna tersebut dapat diterima secara logis, objektif, dan sistematis.
Sedangkan peran filsafat sebagai bahasa adalah bahwa analisis filsafat
merupakan salah satu metode yang digunakan dalam memecahkan
problematika kebahasaan. Aliran-aliran dalam filsafat dapat mewarnai
pandangan para ahli bahasa dalam mengembangkan teori-teorinya. Selengkapnya...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pendekatan Kontekstual
a. Pengertian Pendekatan Kontekstual Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...
-
1. Hubungan Berbicara dengan Menyimak Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan yang berbeda namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. ...
-
Guru sebagai seseorang yang memegang kunci dalam keberhasilan dalam pembelajaran. Peran guru yang sangat penting ini tidak terlepas dari ber...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar