Sabtu, 30 Desember 2023

Keterampilan Menyimak (Permulaan dan Lanjutan)

 1. Keterampilan Menyimak Permulaan 

Keterampilan Menyimak Permulaan adalah proses mendengarkan dengan penuh pemahaman, apresiasi dan evaluasi. Dalam proses menyimak, diawali dengan kegiatan mendengarkan bahan simakan oleh penyimak, selanjutnya bahan simakan dipahami berdasarkan tingkat pemahaman peserta didik yang dimaksud, kemudian dalam proses pemahaman tersebut terjadi proses evaluasi menghubungkan antara topik yang disimak dengan pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki peserta didik.

2. Metode Keterampilan Menyimak permulaan

a. Metode Simak terka b. Metode simak cerita c. Metode Bisik berantai 

3. Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Keterampilan Menyimak Lanjutan adalah suatu bentuk keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif dan melibatkan pemahaman pesan atau lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (Meta:2020) 

4. Jenis-Jenis Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Keterampilan menyimak lanjutan dapat di golongkan ke dalam 3 jenis menyimak yaitu sebagai berikut: 

a. Menyimak kritis 

Menyimak kritis adalah kegitan menyimak yang dilakukan dengan sunguh-sunguh untuk memberikan penilaian secara objektif, menentukan keaslian, kebeneran, dan kelebihan, serta kekurangan-kekurangan bahan simakan 

b. Menyimak kreatif 

Menyimak kreatif yaitu kegiatan menyimak yang bertujuan mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas peserta didik. Kreativitas menyimak dapat dilakukan dengan cara meniru bunyi bahasa asing atau bahasa daerah. 

c. Menyimak eksploratif 

Menyimak eksploratif adalah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan informasi baru. Seorang penyimak eksploratif akan menemukan gagasan baru, informasi baru dan informasi tambahan dari bidang tertentu, serta menentkan unsur-unsur berbahasa yang bersifat baru.

5. Metode Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Berikut ini metode-metode yang tepat digunakan dalam keterampilan menyimak: a. Metode Simak Tulis b. Metode Identifikasi kata kunci c. Metode Identifikasi kalimat topic d. Metode Merangkum e. Metode parafrase f. Metode menjawab pertayaan 

6. Fungsi Keterampilan Menyimak Lanjutan 

Fungsi menyimak lanjutan yaitu: a. Menentukan tujuan penutur sebagai informasi untuk bisa mengingatnya b. Menyaring suatu sebagai pendeteksi c. Mendengarkan penutur atau pembaca sebagai suatu kesenangan 

7. Tujuan Menyimak permulaan 

Tujuan utama menyimak adalah untuk menangkap dan memahami pesan, ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahasa simakan. Dengan demikian tujuan menyimak dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Menyimak memperoleh fakta atau mendapatkan fakta b. Untuk menganalisis fakta c. Untuk mengevaluasi fakta d. Untuk mendapatkan inspirasi e. Untuk mendapatkan hiburan atau menghibur diri.

Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Jumat, 29 Desember 2023

Pengertian dan Manfaat Keterampilan Berbahasa

 1. Pengertian Keterampilan Berbahasa 

Keterampilan berbahasa ialah suatu kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi baik itu menyimak, berbicara, membaca maupun menulis. Penerima pesan aktif memilih pesan lalu memformulasikannya dalam bentuk lambang yang berupa bunyi atau tulisan dengan kata lain di sebut encoding. Kemudian lambang tersebut disampaikan kepada yang menerima pesan dan penerima pesan mengartikan lambang tersebut menjadi suatu makna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara utuh atau disebut dengan decoding. 

 2. Manfaat Keterampilan Berbahasa 

Adapun manfaat keterampilan berbahasa yaitu;

  • a. Dapat mengungkapkan isi pikiran 
  • b. Dapat mengekspresikan isi perasaan 
  • c. Dapat menyatakan suatu kehendak 
  • d. Dapat melakukan suatu interaksi dalam berkomuniksi
Keterampilan berbahasa terdiri atas 4 aspek, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, keterampilan menulis. Keterampilan berbahasa juga bersifat reseptif dan bersifat produktif. Bagian yang termasuk dari reseptif adalah keterampilan mendengarkan dan keterampilan membaca, sedangkan bagian yang termasuk produktif adalah keterampilan berbicara dan keterampilan menulis. Tarigan (2008:2) mengungkapkan bahwa keterampilan berbahasa dalam kurikulum sekolah biasanya mencakup empat aspek, diantaranya yaitu: a. Keterampilan Menyimak b. Keterampilan Berbicara c. Keterampilan Membaca d. Keterampilan Menulis 

Pada dasarnya keempat keterampilan tersebut erat sekali hubungannya dan tidak dapat di pisahkan satu dengan yang lainnya. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa biasanya dilalui dengan belajar menyimak, kemudian dilanjutkan dengan berbicara setelah itu belajar membaca dan menulis. Keterampilan menyimak dan berbicara sudah mulai kita pelajari sebelum duduk dibangku sekolah. Keempat keterampilan berbahasa pada dasarnya merupakan suatu keterampilan yang sangat erat hubungannya dengan proses berfikir yang mendasari bahasa. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Rabu, 27 Desember 2023

Pembelajaran Bahasa Indonesia Terpadu di SD

Pengalaman siswa sebelum memasuki bangku sekolah jenjang SD, memandang dan mempelajari segala peristiwa yang di alami dan terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai suatu kesatuan yang utuh (holistik). Alasan inilah yang menjadi salah satu dari penyebab pembelajaran di jenjang SD harus dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan karakteristik siswa sebagai pembelajar yang akan menghayati pengalaman belajar sebagai satu kesatuan yang utuh. 

Pengemasan pembelajaran terpadu harus di susun secara tepat, karena akan berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman belajar siswa, yang menunjukkann kaitan unsur-unsur konseptual dalam mata pelajaran dan antar mata pelajaran bagi terjadinya pembelajaran lebih bermakna. Pembelajaran yang dilaksanakan secara terpadu merupakan suatu pendekatan dalam belajar dan cara berpikir, yang memandang beragam mata pelajaran sebagai suatu kesatuan. 

Khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia dipandang sebagai bagian integral dalam belajar mata pelajaran lainnya. Mata pelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD tidak dipelajari sebagai mata pelajaran yang terpisah, melainkan dipelajari secara terpadu dalam mempelajari mata pelajaran lainnya. Aspek-aspek keterampilan berbahasa dikembangkan secara langsung atau dipadukan melalui kegiatan belajar semua mata pelajaran lainnya. Agar terjadi keterpaduan antara mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lainnya, maka digunakanlah pendekatan pembelajaran terpadu, untuk memberikan makna belajar bagi siswa. 

Pembelajaran terpadu merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, berorientasi pada praktik pembelajaran sesuai dengan kebutuhan anak untuk membangun konsep yang saling berkaitan. Sehingga pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami berbagai permasalahan di lingkungannya secara utuh, dengan kemampuannya dalam mengidentifikasi, mengumpulkan, menilai, dan menggunakan informasi di sekitarnya secara bermakna. 

Pengetahuan diperoleh siswa tidak hanya melalui pemberian pengetahuan baru oleh guru, tetapi pengetahuan bisa juga diperoleh siswa melalui kesempatan memantapkan dan menerapkan pengetahuan lama dalam berbagai situasi baru yang beragam. Ada dua keterpaduan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu: 1. Keterpaduan intra mata pelajaran, yaitu keterpaduan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia sendiri. Keterpaduan ini dilaksanakan dengan mengembangkan aspek keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak dalam satu tema. 2. Keterpaduan antar mata pelajaran, yaitu keterpaduan mata pelajaran bahasa Indonesia dengan mata pelajaran lain. 

Siswa menggunakan aspek keterampilan bahasa untuk memberikan informasi, memberi tanggapan, memecahkan masalah, dan untuk mencapai kemampuan lainnya. Pembelajaran bahasa Indonesia di jenjang SD harus dilaksanakan secara terpadu antara ke empat aspek keterampilan berbahasa (aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), dan aspek kebahasaan/sastra. 

Contohnya pembelajaran struktur kalimat dipadukan dengan wacana, yang dilakukan dengan mengarahkan siswa untuk memahami struktur kalimat bahasa Indonesia dengan menemukan sendiri dalam wacana yang ditentukan oleh guru. Dalam melatih keterampilan berbahasa, guru dapat memilih untuk memfokuskan salah satu dari empat aspek keterampilan bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa Indonesia juga dapat dipadukan dengan mata pelajaran lainnya yang berkaitan dengan kehidupan dan kebutuhan nyata siswa, sehingga pembelajaran menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Aspek-Aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia SD

Depdiknas No. 22 Tahun 2006 menyebutkan ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup komponen berbahasa dan kemampuan bersastra, yang meliputi aspek-aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Ke empat kompetensi tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan satu sama lainnya, dan digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kemampuan berbahasa dapat dilakukan dengan mendengar cerita, membaca petunjuk atau perintah, berdialog atau melakukan percakapan, yang disertai dengan adanya respon secara tepat. Sedangkan kemampuan bersastra seperti mengapresiasikan dongeng, membaca puisi, menonton drama, dan kegiatan lainnya yang memerlukan penghayatan dalam melakukannya.

1. Mendengarkan atau menyimak 

Mendengarkan merupakan keterampilan untuk memahami bahasa lisan yang bersifat reseptif, karena merupakan keterampilan untuk menangkap makna dari bahasa yang disampaikan. Keterampilan mendengarkan berbeda dengan kegiatan mendengar, meskipun ke duanya menggunakan alat indra pendengaran. Pada kegiatan mendengar tidak ada unsur kesengajaan, konsentrasi, dan tidak membutuhkan pemahaman terhadap apa yang di dengar. Sementara pada keterampilan mendengarkan membutuhkan kesengajaan untuk fokus dan konsentrasi agar memperoleh pemahaman dari bahasa yang didengarkan. Mendengarkan sering disebut juga menyimak. 

Menyimak adalah suatu proses kegiatan yang dimulai dari mendengarkan sampai dengan memahami informasi atau pesan yang terkandung dalam bahasa lisan. Menyimak bukan hanya kegiatan mendengar, tetapi juga mencakup kegiatan memahami isi pembicaraan yang disampaikan. Menyimak juga memerlukan proses selektif sesuatu yang paling cocok dngan maksud dan tujuan kita terhadap sekian banyak rangsangan di sekitar kita. Proses selektif ini termasuk juga menerima sebagian atau seperangkat rangsangan tertentu yang diberikan ke pusat persepsi penyimak. Penyimak biasanya memusatkan perhatian pada beberapa rangsangan karena sifatnya yang menarik perhatian, atau memiliki perbedaan cara penyampaian.

Mendengarkan/menyimak memegang peranan penting dalam pemerolehan bahasa siswa, karena melalui proses mendengarkanlah siswa dapat mengenal konsep segala informasi baik berupa ilmu pengetahuan maupun hal-hal lain yang belum dikenalnya sebelumnya.

2. Berbicara 

Berbicara merupakan keterampilan menyampaikan ide, gagasan, dan perasaan secara lisan sebagai proses komunikasi dengan cara yang menarik kepada orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang akan mengalami proses berpikir untuk mengungkapkan ide, gagasan, dan perasaannya secara luas. Proses berbicara ini sangat berkaitan dengan faktor pengembangan berpikir berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari membaca, menyimak, atau pengamatan lingkungan sekitar. Berbicara juga merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi atau mengekspresikan kata-kata untuk menyampikan gagasan, pikiran, maupun perasaan berbentuk pesan yang disampaikan secara lisan kepada orang lain. Adapun materi berbicara yang diajarkan di jenjang SD adalah berbentuk kegiatan berbicara, bukan tentang teori-teori berbicara. Menurut Saddhono dan Slamet (2012) materi untuk pembelajaran berbicara yang tertera dalam kurikulum berupa kegiatan (1) berceramah, (2) berdebat, (3) bercakap-cakap, (4) berkhotbah, (5) bertelepon, (6) bercerita, (7) berpidato, (8) bertukar pikiran, (9) bertanya, (10) bermain peran, (11) berwawancara, (12) berdiskusi, (13) berkampanye, (14) menyampaikan sambutan, selamat, pesan, (15) melaporkan, (16) menanggapi, (17) menyanggah pendapat, (18) menolak permintaan, tawaran, ajakan, (19) menjawab pertanyaan, (20) menyatakan sikap, (21) menginformasikan, (22) membahasa, (23) melisankan isi drama, (24) menguraikan cara membuat sesuatu, (25) menawarkan sesuatu, (26) meminta maaf, (27) member petunjuk, (28) memperkenalkan diri, (29) menyapa, (30) mengajak, (31) mengundang, (32) memperingatkan, (33) mengoreksi, dan (34) tanya-jawab. Materi untuk kegiatan tersebut dapat diajarkan di kelas rendah dengan menggunakan beberapa metode, yaitu metode ulang ucap, metode lihat ucap, metode memerincikan, metode menjawab pertanyaan, metode bertanya, metode pertanyaan menggali, dan metode melanjutkan. Sedangkan untuk kelas tinggi menggunakan metode menceritakan kembali, metode percakapan atau bermain peran, metode parafrase, merode reka cerita gambar, metode memberi petunjuk, metode pelaporan, metode wawancara, metode diskusi, metode bertelepon, dan metode dramatisasi.

3. Membaca 

Membaca merupakan usaha yang dilakukan untuk menemukan informasi dari suatu teks, yang kemudian dikombinasikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki menjadi satu bentuk pengetahuan baru. Sementara keterampilan membaca merupakan keterampilan dalam memahami bacaan yang ada pada setiap kata, kalimat, dan paragraf yang ada pada bacaan. Menurut Farida (2007) ada tiga istilah dari komponen dasar dari proses membaca, yaitu recording, decoding, dan meaning. Recording merujuk pada kata-kata dan kalimat, yang kemudian diasosiasikan denga bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. Decoding merujuk pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam kata-kata. Meaning merujuk pada proses memahami makna yang berlangsung dari tingkat pemahaman. Recording, dan decoding berlangsung pada kelas rendah, yang ditekankan pada proses perseptual (pengenalan korespondensi rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi bahasa), sementara meaning berlangsung di kelas tinggi.

Membaca di kelas rendah dapat menggunakan beberapa metode. Menurut Mulyati (2014) ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam mengajarkan membaca di kelas rendah atau membaca permulaan, yaitu:

a. Metode Eja/Abjad 

Metode eja/abjad merupakan metode yang menekankan pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan dan menyebutkan bunyi huruf, yang di mulai dari mengeja huruf demi huruf. Metode ini mengenalkan siswa lambang-lambang huruf terlebih dahulu, yang dimulai dari huruf A sampai dengan huruf Z. selanjutknya mengenalkan bunyi huruf atau fonem, dengan melafalkan bunyi huruf vocal dan bunyi huruf konsonan. Kemudian dikenalkan bunyi hurufhuruf yang dirangkai menjadi suku kata, dan menjadi kata. Selanjutnya siswa dilatih untuk membaca berbagai kombinasi suku kata dan kata tersebut menjadi kalimat-kalimat yang telah disusun dari kata-kata sebelumnya. Contoh : /b/, /a/, /t/, /a/, dieja /be-a/ /ba/, /te-a//ta/, dibaca /ba-ta/.

b. Metode bunyi

Metode bunyi merupakan pengenalan huruf dengan menyuarakan huruf konsonan dengan bantuan bunyi vocal tengah atau vocal depan sedang yang dilambangkan dengan huruf e. pengenalan huruf dengan metode bunyi ini di mulai dengan mengenalkan bunyi huruf A sampai dengan bunyi huruf Z. selanjutnya mengenalkan suku kata, yang dirangkai menjadi kata, dan selanjutkan kata-kata tersebut dirangkai menjadi kalimat. Contoh : /b/, /a/, /k/, /u/ dieja be.a dibaca ba, ka.u dibaca ku, jadi /b/ /a/ /k/ /u/ dibaca baku. 

c. Metode suku kata atau kata lembaga 

Metode suku kata merupakan cara mengenalkan kata, dengan menguraikan kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf, kemudian huruf digabungkan menjadi suku kata, dan suku kata menjadi kata. Contoh : makan, menjadi ma-kan, menjadi m-a-k-a-n, dan selanjutnya menjadi ma-kan, dan terakhir menjadi m a k a n. 

d. Metode kata atau kupas rangkai suku kata 

Metode kata merupakan metode yang tidak menekankan pada bunyi yang dihasilkan. Siswa telebih dahulu dikenalkan suku kata, kemudian merangkai menjadi kata, yang dilanjutkan dirangkai menjadi kalimat sederhana. Dari kalimat sederhana siswa merangkai dan mengupas kembali kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata. Contoh : ba-ca, menjadi baca, kemudian b-a-c-a, selanjutnya ba-ca, dan menjadi baca. 

e. Metode global atau kalimat 

Metode global merupakan metode yang diawali dengna penyajian beberapa kalimat secara global, biasanya dibantu dengan gambar. Menggunakan metode ini, siswa terlebih dahulu dikenalkan beberapa kalimat untuk dibaca, kemudian setelah siswa dapat membaca kalimat tersebut, kalimat dipisahkan menjadi kata, suku kata, dan huruf-huruf. Dan terakhir setelah siswa dapat membaca huruf yang telah dipisahkan, kemudian huruf tersebut dirangkaikan kembali menjadi kalimat. 

f. Metode SAS 

Metode SAS merupakan metode yang diawali dengan penyajian kalimat utuh yang kemudian diurai menjadi kata, kata menjadi suku kata, dan suku kata menjadi huruf, kemudia digabungkan kembali huruf menjaadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat. Struktur kalimat yang digunakan merupakan hasil dari  pengalaman berbahasa siswa, contohnya menggunakan gambar, benda nyata, atau pengalaman siswa itu sendiri. SAS merupakan kepanjangan dari Struktural, Analitik, dan Sintetik. Struktural merupakan struktur bahasa yang terdiri dari kalimat, dan kalimat mempunyai bagian yang di sebut unsur bahasa, yaitu kata, suku kata, dan bunyi atau huruf. Analitik berarti memisahkan, menguraikan struktur kalimat dianalisis untuk dipisahkan dari strukturnya sehingga mudah dipelajari. Dan sintetik berarti menyatukan, menggabungkan. Pada tahap sistetik ini, siswa diarahkan untuk mengenal kembali bentuk struktur pada bagia structural dan analitik sebelumnya.

4. Menulis 

Menulis merupakan keterampilan yang bersifat aktif produktif, karena aktivitas menulis bukan hanya menyalin kata-kata dan kalimat, tetapi juga menuangkan dan mengembangkan pikiran, gagasan, atau ide dalam suatu struktur tulisan yang teratur, logis, sistematis, sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Menulis sebagai suatu bentuk komunikasi berbahasa yang menggunakan simbol-simbol tulis sebagai medianyaa. Menulis di kelas rendah identik dengan melukis gambar. Pada taha ini, penulis tidak menuangkan idea tau gagasan, melainkan hanya sekedar menyalin gambar atau lambing bunyi bahasa ke dalam wujud lambang tertulis. Sedangkan menulis di kelas tinggi merupakan kegiatan mencurahkan ide, gagasan yang dinyatakan secara tertulis melalui bahasa tulis. Kemampuan menulis tidak dapat diperoleh secara alamiah, tetapi harus melalui proses belajar. Siswa harus berlatih mulai dari cara memegang alat tulis, menggerakkan tangan dengan memperhatikan apa yang harus ditulis, siswa harus mengamati lambang bunyi dengan memahami setiap huruf sebagai lambang bunyi tertentu sampai dapat menuliskan secar benar. Menulis di kelas rendah lebih didominasi oleh hal-hal yang bersifat mekanis, seperti sikap duduk yang baik dalam menulis, cara memegang alat tulis, cara meletakkan dan memegang buku, cara menggerakkan tangan, dan cara melemaskan jari-jari melaui kegiatan menggambar. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Selasa, 26 Desember 2023

Apresiasi Karya Sastra Anak

Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Sehingga apresiasi karya sastra anak dapat diartikan sebagai sikap menghargai karya sastra yang telah dihasilkan anak. Apresiasi sastra terbagi menjadi dua jenis, yaitu apresiasi sastra reseptif dan apresiasi sastra ekspresif. Apresiasi sastra anak secara reseptif yaitu penghargaan, penilaian, dan penghayatan terhadap karya sastra anak-anak, baik yang berbentuk puisi, prosa, maupun drama yang dapat dilakukan dengan cara membaca, mendengarkan, dan menyaksikan pementasan drama. 

Pada tahap apresiasi ini, kemampuan pembaca karya sastra berada pada tahap membaca karya sastra, menyerap, dan menggali makna yang disampaikan pada karya sastra. Umunya, siswa pada tahap apresiasi sastra secara reseptif belum dapat menghasilkan produk dalam kegiatan apresiasi kecuali ungkapan rasa menghargai dan takjub melalui kata-kata. Apresiasi sastra ekspresif/produktif merupakan kegiatan mengapresiasi karya sastra yang menekankan pada proses kreatif dan penciptaan. Apresiasi sastra secara ekspresif/produktif tidak mungkin terwujud tanpa diberikan pengajaran menulis, khususnya menulis kreatif di sekolah dasar (Isova dan Hartati, 2016). 

Dalam kegiatan bersastra secara ekspresif/produktif, metode yang sesuai untuk digunakan dalam mengapresiasi sastra adalah metode produktif. Metode ini diarahkan pada aktivitas berbicara dan menulis. Siswa harus banyak berbicara atau menulis untuk menuangkan gagasan-gagasannya. Kegiatan apresiasi sastra yang diterapkan guru akan membentuk kompetensi apresiasi karya sastra pada diri anak. Kompetensi yang dimaksud yaitu: kemampuan anak menikmati dan menghargai karya sastra yang dihasilkannya sendiri maupun dihasilkan oleh orang lain. Dalam hal ini, siswa diajak untuk melakukan literasi berupa membaca, memahami, menganalisis, dan menikmati karya sastra secara langsung. Siswa tidak harus menghafal sastra dari judul, sinopsis dan ataupun menghafal kalimat demi kalimat dari sastra, akan tetapi siswa diminta untuk langsung berhadapan dengan karya sastranya. (Siswanto, 2008) 

Kegiatan apresiasi karya sastra akan membentuk pengalaman pada diri anak terkait karya sastra, dan aka menimbulkan perubahan serta penguatan tingkah laku akan pentingnya saling menghargai dan indahnya karya sastra. 23 Hal tersebut disebabkan oleh ketika anak mengapresiasi karya sastra maka ia akan melakukan berbagai kegiatan seperti: memaknai, memperhatikan, meminati, bersikap, membiasakan diri, dan menerampilkan diri berkenaan dengan sastra sehingga bukan hanya kognitif anak yang terkonstruksi tetapi juga keterampilan dan sikap mereka. 

Susanti (2015) mengklasifikasikan kegiatan apresiasi sastra berdasarkan tujuan apresiasi ke dalam tiga bagian berikut: (1) ketepatan apresiasi, yaitu menimbulkan kepekaan psikis, mendengarkan, membaca sendiri, membaca bersama, intpretasi auditif-musikal dan visual, memantaskan, mengundang pelaku seni, memahami serta melatih ketrampilan mempergunakan pengertian teknis; (2) kedalaman apresiasi, yaitu dalam hal ini guru berupaya agar siswa mengalami proses kegiatan intelektual, emosional, dan imajinatif yang seimbang dengan proses yang pernah dialami oleh pengarang (sastrawan) dalam menciptakan karyanya; dan (3) keluasan apresiasi; guru mendorong dan mengarahkan perhatian pada hubungan antara sastra dengan kehidupan dengan segala masalahnya. Para siswa juga harus menggunkan pengetahuan lain. Dari kegiatan ini diharapkan siswa akan peka terhadap nilai ekstrinsik dan menyadari kedudukan sastra di dalam lembaga masyarakat. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research gate        Doi

Senin, 25 Desember 2023

Pemilihan Sastra untuk Anak

Pada subab sebelumnya telah dibahas manfaat sastra pada diri anak. Manfaat tersebut dapat dicapai dengan maksimal jika guru merencanakan dan melakukan proses pembelajaran dengan optimal. Hal dasar yang perlu dilakukan guru ketika akan membelajaran sastra pada anak yaitu dengan memilih kriteria sastra yang sesuai dengan tahapan usia anak. Memaparkan bahwa terdapat lima kriteria pemilihan sastra anak, yakni:

1. Kata-kata (diksi) 

Di dalam karya sastra terdapat amanat atau pesan yang ingin disampaikan pada pembaca (anak). Anak usia sekolah dasar mempunyai kemampuan bahasa yang masih sederhana. Oleh karena iu, pemilihan kata-kata (diksi) harus dilakukan oleh guru agar amanat di dalam sastra akan mudah dipahami anak. Disarankan kepada guru untuk memilih kata yang sederhana, tidak memberikan makna ganda atau ambigu, serta memberikan cerita yang relate atau berkaitan dengan kehidupan anak. 

2. Susunan kalimat dan narasi 

Kalimat terdiri dari deretan beberapa kata yang terstrukur dan mempunyai makna. Paragraf terdiri dari beberapa kalimat yang saling berhubungan dan menciptakan sebuah makna. Kalimat sebaiknya disusun dengan baik agar dapat memberikan makna. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menyusun kalimat yang cenderung pendek, menggunakan kata yang mudah dipahami, dan antar kalimat saling berkesinambungan. Pada susunan kalimat diharapkan agar sastra tidak menggunakan kalimat yang panjang sehingga siswa akan kebingungan mengambil makna ataupun pesan penting di dalam sastra tersebut. Penyusunan kalimat berkaitan dengan penyusunan narasi di dalam karya sastra. Narasi adalah gaya penceritaan. Sama halnya dengan penyusunan kalimat, pada narasi juga sebaiknya menggunakan alur yang pendek sehingga mudah bagi siswa untuk memahami narasi yang disampaikan. 

3. Plot Plot adalah alur cerita.

Pada sastra anak sebaiknya diterapkan cerita beralur progresif, karena pola pikir anak usia sekolah dasar masih bersifat linear. Berpikir linear adalah berpikir dengan pusat pada satu fokus. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menentukan plot cerita satu arah dari kegiatan lampau menuju kegiatan terkini, dan tidak dianjurkan untuk menggunakan cerita beralur flashback. 

4. Penokohan

Penokohan merupakan sarana yang paling mudah untuk memasukan sebuah ideologi ke dalam cerita karena melalui tokoh akan disampaikan nilai penting yang harus dipahami anak. Dengan memanfaatkan karakter tokoh yang menarik dan sederhana akan berdampak positif terhadap minat dan daya tarik anak terhadap sastra. Penokohan juga harus memanfaatkan plot cerita yang menggunakan rangkaian peristiwa sederhana, sehingga akan terbentuk kesatuan narasi cerita. 

5. Penutupan cerita dan solusi yang disampaikan 

Solusi cerita hampir sama dengan pengakhiran cerita. Pengakhiran cerita menekankan pada kesimpulan cerita, sedangkan solusi cerita berkompeten pada nasihat-nasihat untuk menanggapi kesimpulan cerita. Nasihat cerita adalah nilai kehidupan yang disampaikan penulis secara tersirat di dalam cerita atau karya sastranya. Guru diharapkan dapat memilih karya sastra yang mempunyai penutupan cerita dan solusi yang baik, sehingga anak akan mudah untuk mengambil amanat atau pesan yang mau disampaikan. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Karya Sastra

Menghasilkan karya sastra merupakan salah satu kegiatan yang mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS diwujudkan melalui kegiatan wajib membaca 15 menit setiap hari. Kemudian siswa diminta untuk menceritakan isi dan makna dari bahan yang ia baca, baik secara lisan maupun tulisan. Sehingga siswa tidak hanya membaca tetapi melek huruf dan memaknai semua teks yang ia baca. Siswa sekolah dasar pada umumnya lebih menyukai buku bergambar (picture book).

Rothkei dan Mainbach (dalam Krissandi dkk, 2018) membedakan buku bergambar ke dalam lima jenis, yaitu: buku abjad, buku mainan, buku konsep, buku bergambar tanpa kata, dan buku cerita bergambar. Dari lima jenis buku bergambar, siswa lebih menyukai buku cerita bergambar karena di dalamnya memuat teks tertulis yang berbentuk cerita, terdapat ilustrasi yang menggambarkan makna teks tertulis. Sehingga pembaca dari buku cerita bergambar akan berimajinasi terkait cerita yang disampaikan, dan bahkan terdapat anak yang akan menebak alur dan bagian akhir dari cerita sebelum mereka membaca hingga selesai.

Penggunaan buku cerita bergambar mendukung kegiatan apresiasi sastra pada diri anak, dan mengembangkan berbagai kompetensi bahasa seperti komunikasi lisan, proses berpikir kognitif, ungkapan perasaan melalui kata-kata dan ilustrasi cerita, serta meningkatkan kepekaan seni dan sastra pada diri anak. Setiap karya sastra mempunyai unsur atau struktur pembangun setiap jenis sastra. Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2005) mengemukakan bahwa struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, seluruh bahan dan bagian yang menjadi komponen pembentuk sebuah keutuhan yang indah. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate        Doi

Senin, 18 Desember 2023

Konsep Sastra

Sastra merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta yaitu shaastra, yang mempunyai arti teks mengandung instruksi atau pedoman. Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak melalui pandangan anak-anak. Saxby (1991:4) berpendapat bahwa sastra adalah citra kehidupan dan gambaran kehidupan (image of life). Sehingga pada sastra anak perlu digambarkan konteks anak-anak sesuai tahap perkembangannya. Pemahaman tentang tahap perkembangan anak sangat penting untuk memilih karya sastra yang sesuai.

Pilihan bacaan anak untuk usia sekolah dasar sangatlah melimpah. Sastra terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu: puisi, drama dan prosa. Sedangkan karya sastra anak terbagi menjadi tujuh jenis, yaitu: buku bergambar, fiksi realistik, fiksi sejarah, fiksi ilmu, cerita fantasi, biografi, dan puisi. Sastra termasuk ke dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Fokus tujuan dari mata pelajaran tersebut yaitu: kompetensi siswa dalam berbahasa (lisan maupun tertulis), dan sikap mengapresiasi sastra. Dengan demikian, pembelajaran sastra dan pembelajaran bahasa Indonesia dilakukan secara terintegrasi dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar.

Namun tujuan pengajaran sastra pada tingkat sekolah dasar yaitu: meningkatkan kemampuan siswa dalam menikmati, menghayati, memahami, dan menghargai karya sastra. Sehingga sastra yang dibahas hanya konsep umum atau sekadar pengetahuan pendukung kegiatan apresiasi sastra. Sastra memberikan banyak manfaat dalam kehidupan anak. Tarigan (2011) mengemukakan enam manfaat sastra, yaitu: 1. Memberikan kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan kepada anak-anak. 2. Mengembangkan imajinasi anak-anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan memikirkan alam, insan, pengalaman, atau gagasan dengan berbagai cara. 3. Memberikan pengalaman-pengalaman aneh yang seolah-olah dialami sendiri oleh para anak. 4. Mengembangkan wawasan para anak menjadi perilaku insani. 5. Menyajikan serta memperkenalkan kesemestaan pengalaman kepada para anak. 6. Merupakan sumber utama bagi penerusan warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dengan demikian, pembelajaran sastra tidak hanya membahas materi dan kompetensi di dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, tetapi memberikan pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan kehidupan anak. Dari enam manfaat membelajarkan sastra pada diri anak sekolah dasar akan membudayakan anak untuk membaca, mendukung literasi, meningkatkan perkembangan intelektual, memperhatikan psikologis anak sesuai usia tumbuh kembang anak, meningkatkan daya imajinasi anak, dapat mengenalkan budaya, dan bahkan dapat membina karakter pada diri anak. Selengkapnya dapat diakses dengan link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate     DOI

Sabtu, 16 Desember 2023

Model Pembelajaran Bahasa

Model pembelajaran tentu sudah tidak asing dalam kegiatan belajar dan mengajar. Model pelajaran sebagai cara yang dipilih guru untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Model pelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi, misalnya; kategori mata pelajaran, cakupan materi, usia, level sekolah lingkungan sekitar dan lain-lain. Namun, jika salah memilih model pembelajaran akan menjadi tidak oftimal atau tidak berfungsi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan dan budaya (Kemendikbud, 2014).

Model pembelajaran berperan untuk membentuk pola pembelajaran berpusat pada siswa. Model pembelajaran merupakan prosedur sistematis dalam mengelola kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap pembelajaran akan menggunaka model pembelajaran yang sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan siswa. Bahasa Indonesia sebagai bidang ilmu yang dipelajari di semua level pendidikan Indonesia mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Empat keterampilan berbahasa yakni membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Model pembelajaran membaca dapat dilakukan dengan pendekatan proses menggunakan strategi anticipation guide, strategi DRTA (directed, reading, thinking activity), strategi KWLA (know, want, learned, affect), strategi directed inquiry activity, strategi OH RATS (overview, headings, read, answer, test-study), strategi SQ3R (survey, question, read, recite, and review), strategi ECOLA (extending, concept, throught, language, activity).

Sementara model menulis dengan pendekatan proses dapat dilakukan dengan strategi sentence collection, sedangkan pembelajaran sastra menggunakan model strata, induktif, analisis, sinektik, bermain peran, sosiodrama dan simulasi (Syamsi, 2010). Pada kurikulum 2013 dan kurikulum merdeka ada tiga model pembelajaran yang ditekankan untuk digunakan dalam proses pembelajaran yakni; 1) Problem based learning/PBL, 2) Project based learning/PjBL, dan 3) Discovery learning/DL. Model-model pembelajaran selalu berkembang menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Para ahli dan akademisi selalu berusaha untuk mengembangkan model pembelajaran. 

Pengembangan model pembelajaran untuk menciptakan kondisi belajar yang bermakna dan siswa dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan nyata. Adapun model-model pembelajaran yang popular dalam kondisi wabah diantaranya; 1) model ASIIK, 2) model SOLE, 3) model Flipped Classroom, 4) model Blended Learning, 5) Model Descovery-Inquiry, 6) Model Game. Selengkapnya dapat diakses dengan link berikut:

Beli Buku        Google Scholar        Research Gate     DOI

Senin, 11 Desember 2023

Keterampilan Berbahasa Indonesia

Kemampuan berbahasa yang dimiliki seseorang akan menentukan kualitas komunikasi orang itu sendiri. Kemampuan berbahasa melibatkan telinga, lidah, pemikiran dan mempraktikan dalam karya tulisan. Didunia ini mempunyai beragam bahasa, namun secara umum keterampilan berbahasa hanya empat saja. Keterampilan berbahasa terdiri dari menyimak, berbicara, membaca dan menulis (Husain, 2015). Namun, jika terkait keterampilan Bahasa Indonesia berdasarkan kurkikulum merdeka terdiri dari menyimak, membaca dan memirsa, berbicara dan mempresentasikan, serta menulis. Keterampilan berbahasa saling terikat dan tidak bisa berdiri sendiri. 

Keterampilan berbahasa ada yang bersifat pasif dan ada yang sifat aktif. Menyimak dan membaca terkategori keterampilan berbahasa pasif, sedangakan menulis dan berbicara berkategori keterampilan berbahasa aktif. Berbicara dan menulis adalah keterampilan produktif karena saat menggunakan keterampilan ini pelajar tidak hanya aktif tetapi juga menghasilkan suara dalam berbicara dan simbol dalam menulis, sedangkan mendengarkan dan membaca adalah keterampilan reseptif karena pelajar umumnya pasif baik melalui mendengarkan maupun membaca (Husain, 2015). 

Jika keterampilan berbahasa dihubungkan dengan kegiatan belajar dan mengajar maka akan menuntut kemampuan siswa dan guru dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam belajar. Keterampilan bertanya yang dilakukan siswa merupakan wujud nyata keterampilan berbahasa. Semakin beragam keterampilan bahasa yang dikuasai siswa, maka semakin lengkap keterampilan berbahasa yang dimiliki siswa (Santosa et al., 2019). Untuk mencapai keberhasilan dalam mengasah keterampilan berbahasa perlu menggunakan materi atau mata pelajaran lain sebagai pendukung keterampilan belajar berbahasa. Perkambangan dalam pengajaran empat keterampilan berbahasa hanya dapat dicapai di dalam kelas melalui pemusatan perhatian pada aspek pembelajaran lain (Paran, 2012). Selengkapnya dapat diakses dalam beberapa link berikut ini:

Beli Buku Cetak or PDF   Google Scholar   Research Gate   DOI

Sabtu, 09 Desember 2023

Belajar Bahasa Indonesia

Berbahasa tidak datang tiba-tiba, selalu ada proses didalamnya apapun bahasanya. Ada proses mendengarkan, menirukan, melafalkan, pengulangan dan lain sebagainya. Berbahasa terbagi menjadi dua aspek besar yakni kompetensi berbahasa dan praktis berbahasa. Belajar berbahasa dalam rangka melakukan kegiatan berbahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa tertentu. Komunikasi terkategori dalam tataran praktis berbahasa.

Berkomunikasi yang baik dengan orang lain atau lingkungan masyarakat sudah pasti butuh belajar agar tidak ada miskomunikasi atau kesalahan memahami stimulus yang diberikan. Dalam belajar bahasa menggunakan pendekatan komunikatif menekankan pada tujuan pembelajaran yang mengutamakan penggunaan bahasa secara baik dan benar oleh peserta didik di lingkungan pendidikan ataupun lingkungan sosial (Mulyaningsih, 2017).

Belajar bahasa dapat dikaji dengan mendalam menggunakan teori Noam Chomsky. “Chomsky’s UG is a significant theory in the field of linguistics” (Md. Enamul, 2020). Berbahasa untuk berkomunikasi yang bermakna. Perkembangan bahasa seseorang melalui proses yang dipengaruhi berbagai hal, misalnya perkembangan usia, lingkungan sekitar dan lain sebagainya. Perkembangan bahasa terus berlangsung sepanjang hayat dan dipengaruhi berbagai faktor seperti biologis, kognitif dan sosial-emosional (Arnianti, 2019).

Belajar bahasa bukan hanya sekedar struktur berbahasa. Namun, belajar berbahasa terkait dengan moral, norma, nilai dan budaya. Bahasa sebagai sarana penghubung dengan lingkungan yang lebih luas, maka muncul istilah bahasa nasional dan bahasa internasional. Semakin banyak bahasa yang dikuasai sesorang akan memudahkan untuk berkomunikasi dan sarana pergaulan yang luas. Manusia tidak dapat dipisahkan dengan bahasa, maka belajar bahasa sepanjang usia menjadi suatu kebutuhan. Buku lengkapnya dapat diakses dibeberapa link berikut:

Beli Cetak/ Non-cetak      Google Scholar      Research Gate            DOI

Sabtu, 02 Desember 2023

Konsep Belajar Bahasa Indonesia

Konsep merupakan abstraksi pemikiran yang merinci atau langkah-lakanh yang akan diambil saat melakukan aktivitas. Konsep adalah sesuatu yang dikandung dalam pikiran: prinsip, ide, pemikiran umum atau abstrak atau gagasan (Safdar et al., 2012). Belajar merupakan suatu keharusan yang mesti dilakukan insan agar tercipta perubahan yang lebih baik, bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar. Konsep belajar yang baik adalah belajar yang dilakukan dengan kesadaran, karena kebutuhan akan ilmu untuk memecahkan semua permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Belajar selayaknya terus dilakukan selagi masih bernafas dan jiwa masih bersama raga. Menjalani kehidupan tanpa ilmu akan mengalami banyak tantangan. Jika ingin memperoleh kebahagian dunia dan akhirat hendaklah berilmu, sejatinya ilmu didapatkan dengan proses belajar.

Belajar bukan lagi aktivitas internal individualistik untuk mencari solusi permanen (Behlol, 2010). Belajar dapat dilakukan dimana saja dan belajar juga bisa dilakukan bersama siapa saja. Belajar tidak selalu berada diruang kelas, menggunakan buku, pena dan komputer. Alam semesta baik benda mati dan makhluk hidup merupakan sumber belajar bagi semua orang. Kita tidak boleh menganggap belajar sebagai gagasan sederhana tentang intraksi sehari-hari antara guru dan siswa di sekolah (Outcomes & Terms, 2007). Belajar menjadikan perubahan sikap yang membawa pada perkembangan keterampilan yang belum pernah dimiliki sebelumnya. Belajar berprogres dalam kebaikan dan perubahan. Belajar adalah tentang perubahan; perubahan yang dibawah dengan mengembangkan keterampilan baru, memahami hukum ilmiah dan mengubah sikap (Sequeira, 2018). Buku lengkapnya dapat diakses dibeberapa link berikut:

Beli Buku Digital dan Cetak

Google Schoolar

DOI

Research Gate


Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...