Depdiknas No. 22 Tahun 2006 menyebutkan ruang
lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup
komponen berbahasa dan kemampuan bersastra, yang
meliputi aspek-aspek mendengarkan, berbicara,
membaca, dan menulis. Ke empat kompetensi tersebut
merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan satu
sama lainnya, dan digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kemampuan berbahasa dapat dilakukan dengan
mendengar cerita, membaca petunjuk atau perintah,
berdialog atau melakukan percakapan, yang disertai
dengan adanya respon secara tepat. Sedangkan
kemampuan bersastra seperti mengapresiasikan
dongeng, membaca puisi, menonton drama, dan kegiatan
lainnya yang memerlukan penghayatan dalam
melakukannya.
1. Mendengarkan atau menyimak
Mendengarkan merupakan keterampilan untuk
memahami bahasa lisan yang bersifat reseptif, karena
merupakan keterampilan untuk menangkap makna
dari bahasa yang disampaikan. Keterampilan
mendengarkan berbeda dengan kegiatan mendengar,
meskipun ke duanya menggunakan alat indra
pendengaran. Pada kegiatan mendengar tidak ada
unsur kesengajaan, konsentrasi, dan tidak
membutuhkan pemahaman terhadap apa yang di
dengar. Sementara pada keterampilan mendengarkan
membutuhkan kesengajaan untuk fokus dan
konsentrasi agar memperoleh pemahaman dari
bahasa yang didengarkan. Mendengarkan sering
disebut juga menyimak.
Menyimak adalah suatu proses kegiatan yang dimulai dari
mendengarkan sampai dengan memahami informasi atau
pesan yang terkandung dalam bahasa lisan. Menyimak
bukan hanya kegiatan mendengar, tetapi juga mencakup
kegiatan memahami isi pembicaraan yang disampaikan.
Menyimak juga memerlukan proses selektif sesuatu yang
paling cocok dngan maksud dan tujuan kita terhadap
sekian banyak rangsangan di sekitar kita. Proses selektif
ini termasuk juga menerima sebagian atau seperangkat
rangsangan tertentu yang diberikan ke pusat persepsi
penyimak. Penyimak biasanya memusatkan perhatian
pada beberapa rangsangan karena sifatnya yang menarik
perhatian, atau memiliki perbedaan cara penyampaian.
Mendengarkan/menyimak memegang peranan
penting dalam pemerolehan bahasa siswa, karena
melalui proses mendengarkanlah siswa dapat
mengenal konsep segala informasi baik berupa ilmu
pengetahuan maupun hal-hal lain yang belum
dikenalnya sebelumnya.
2. Berbicara
Berbicara merupakan keterampilan menyampaikan
ide, gagasan, dan perasaan secara lisan sebagai
proses komunikasi dengan cara yang menarik kepada
orang lain, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dan biasa dilakukan dalam kehidupan
sehari-hari. Seseorang akan mengalami proses
berpikir untuk mengungkapkan ide, gagasan, dan
perasaannya secara luas. Proses berbicara ini sangat
berkaitan dengan faktor pengembangan berpikir
berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari
membaca, menyimak, atau pengamatan lingkungan
sekitar. Berbicara juga merupakan kemampuan
mengucapkan bunyi-bunyi atau mengekspresikan
kata-kata untuk menyampikan gagasan, pikiran,
maupun perasaan berbentuk pesan yang
disampaikan secara lisan kepada orang lain.
Adapun materi berbicara yang diajarkan di jenjang SD
adalah berbentuk kegiatan berbicara, bukan tentang
teori-teori berbicara. Menurut Saddhono dan Slamet
(2012) materi untuk pembelajaran berbicara yang
tertera dalam kurikulum berupa kegiatan (1)
berceramah, (2) berdebat, (3) bercakap-cakap, (4)
berkhotbah, (5) bertelepon, (6) bercerita, (7) berpidato,
(8) bertukar pikiran, (9) bertanya, (10) bermain peran,
(11) berwawancara, (12) berdiskusi, (13)
berkampanye, (14) menyampaikan sambutan,
selamat, pesan, (15) melaporkan, (16) menanggapi,
(17) menyanggah pendapat, (18) menolak permintaan,
tawaran, ajakan, (19) menjawab pertanyaan, (20)
menyatakan sikap, (21) menginformasikan, (22)
membahasa, (23) melisankan isi drama, (24)
menguraikan cara membuat sesuatu, (25)
menawarkan sesuatu, (26) meminta maaf, (27) member petunjuk, (28) memperkenalkan diri, (29)
menyapa, (30) mengajak, (31) mengundang, (32)
memperingatkan, (33) mengoreksi, dan (34) tanya-jawab.
Materi untuk kegiatan tersebut dapat diajarkan di
kelas rendah dengan menggunakan beberapa metode,
yaitu metode ulang ucap, metode lihat ucap, metode
memerincikan, metode menjawab pertanyaan, metode
bertanya, metode pertanyaan menggali, dan metode
melanjutkan. Sedangkan untuk kelas tinggi
menggunakan metode menceritakan kembali, metode
percakapan atau bermain peran, metode parafrase,
merode reka cerita gambar, metode memberi
petunjuk, metode pelaporan, metode wawancara,
metode diskusi, metode bertelepon, dan metode
dramatisasi.
3. Membaca
Membaca merupakan usaha yang dilakukan untuk
menemukan informasi dari suatu teks, yang
kemudian dikombinasikan dengan pengetahuan yang
telah dimiliki menjadi satu bentuk pengetahuan baru.
Sementara keterampilan membaca merupakan
keterampilan dalam memahami bacaan yang ada
pada setiap kata, kalimat, dan paragraf yang ada pada
bacaan. Menurut Farida (2007) ada tiga istilah dari
komponen dasar dari proses membaca, yaitu
recording, decoding, dan meaning. Recording merujuk
pada kata-kata dan kalimat, yang kemudian
diasosiasikan denga bunyi-bunyinya sesuai dengan
sistem tulisan yang digunakan. Decoding merujuk
pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam
kata-kata. Meaning merujuk pada proses memahami
makna yang berlangsung dari tingkat pemahaman.
Recording, dan decoding berlangsung pada kelas
rendah, yang ditekankan pada proses perseptual
(pengenalan korespondensi rangkaian huruf dengan
bunyi-bunyi bahasa), sementara meaning
berlangsung di kelas tinggi.
Membaca di kelas rendah dapat menggunakan
beberapa metode. Menurut Mulyati (2014) ada
beberapa metode yang dapat digunakan dalam
mengajarkan membaca di kelas rendah atau
membaca permulaan, yaitu:
a. Metode Eja/Abjad
Metode eja/abjad merupakan metode yang
menekankan pada pengenalan kata melalui
proses mendengarkan dan menyebutkan bunyi
huruf, yang di mulai dari mengeja huruf demi
huruf. Metode ini mengenalkan siswa lambang-lambang huruf terlebih dahulu, yang dimulai dari
huruf A sampai dengan huruf Z. selanjutknya
mengenalkan bunyi huruf atau fonem, dengan
melafalkan bunyi huruf vocal dan bunyi huruf
konsonan. Kemudian dikenalkan bunyi hurufhuruf yang dirangkai menjadi suku kata, dan
menjadi kata. Selanjutnya siswa dilatih untuk
membaca berbagai kombinasi suku kata dan kata
tersebut menjadi kalimat-kalimat yang telah
disusun dari kata-kata sebelumnya. Contoh : /b/,
/a/, /t/, /a/, dieja /be-a/ /ba/, /te-a//ta/,
dibaca /ba-ta/.
b. Metode bunyi
Metode bunyi merupakan pengenalan huruf
dengan menyuarakan huruf konsonan dengan
bantuan bunyi vocal tengah atau vocal depan
sedang yang dilambangkan dengan huruf e.
pengenalan huruf dengan metode bunyi ini di
mulai dengan mengenalkan bunyi huruf A sampai
dengan bunyi huruf Z. selanjutnya mengenalkan
suku kata, yang dirangkai menjadi kata, dan
selanjutkan kata-kata tersebut dirangkai menjadi
kalimat. Contoh : /b/, /a/, /k/, /u/ dieja be.a
dibaca ba, ka.u dibaca ku, jadi /b/ /a/ /k/ /u/
dibaca baku.
c. Metode suku kata atau kata lembaga
Metode suku kata merupakan cara mengenalkan
kata, dengan menguraikan kata menjadi suku
kata, suku kata menjadi huruf, kemudian huruf
digabungkan menjadi suku kata, dan suku kata
menjadi kata. Contoh : makan, menjadi ma-kan,
menjadi m-a-k-a-n, dan selanjutnya menjadi ma-kan, dan terakhir menjadi m a k a n.
d. Metode kata atau kupas rangkai suku kata
Metode kata merupakan metode yang tidak
menekankan pada bunyi yang dihasilkan. Siswa
telebih dahulu dikenalkan suku kata, kemudian
merangkai menjadi kata, yang dilanjutkan
dirangkai menjadi kalimat sederhana. Dari
kalimat sederhana siswa merangkai dan
mengupas kembali kalimat menjadi kata, kata
menjadi suku kata. Contoh : ba-ca, menjadi baca,
kemudian b-a-c-a, selanjutnya ba-ca, dan menjadi
baca.
e. Metode global atau kalimat
Metode global merupakan metode yang diawali
dengna penyajian beberapa kalimat secara global,
biasanya dibantu dengan gambar. Menggunakan
metode ini, siswa terlebih dahulu dikenalkan
beberapa kalimat untuk dibaca, kemudian setelah
siswa dapat membaca kalimat tersebut, kalimat
dipisahkan menjadi kata, suku kata, dan huruf-huruf. Dan terakhir setelah siswa dapat membaca
huruf yang telah dipisahkan, kemudian huruf
tersebut dirangkaikan kembali menjadi kalimat.
f. Metode SAS
Metode SAS merupakan metode yang diawali
dengan penyajian kalimat utuh yang kemudian
diurai menjadi kata, kata menjadi suku kata, dan
suku kata menjadi huruf, kemudia digabungkan
kembali huruf menjaadi suku kata, suku kata
menjadi kata, dan kata menjadi kalimat. Struktur
kalimat yang digunakan merupakan hasil dari pengalaman berbahasa siswa, contohnya
menggunakan gambar, benda nyata, atau
pengalaman siswa itu sendiri. SAS merupakan
kepanjangan dari Struktural, Analitik, dan
Sintetik. Struktural merupakan struktur bahasa
yang terdiri dari kalimat, dan kalimat mempunyai
bagian yang di sebut unsur bahasa, yaitu kata,
suku kata, dan bunyi atau huruf. Analitik berarti
memisahkan, menguraikan struktur kalimat
dianalisis untuk dipisahkan dari strukturnya
sehingga mudah dipelajari. Dan sintetik berarti
menyatukan, menggabungkan. Pada tahap
sistetik ini, siswa diarahkan untuk mengenal
kembali bentuk struktur pada bagia structural
dan analitik sebelumnya.
4. Menulis
Menulis merupakan keterampilan yang bersifat aktif
produktif, karena aktivitas menulis bukan hanya
menyalin kata-kata dan kalimat, tetapi juga
menuangkan dan mengembangkan pikiran, gagasan,
atau ide dalam suatu struktur tulisan yang teratur,
logis, sistematis, sehingga mudah dipahami oleh
pembaca. Menulis sebagai suatu bentuk komunikasi
berbahasa yang menggunakan simbol-simbol tulis
sebagai medianyaa.
Menulis di kelas rendah identik dengan melukis
gambar. Pada taha ini, penulis tidak menuangkan
idea tau gagasan, melainkan hanya sekedar menyalin
gambar atau lambing bunyi bahasa ke dalam wujud
lambang tertulis. Sedangkan menulis di kelas tinggi
merupakan kegiatan mencurahkan ide, gagasan yang
dinyatakan secara tertulis melalui bahasa tulis.
Kemampuan menulis tidak dapat diperoleh secara
alamiah, tetapi harus melalui proses belajar. Siswa
harus berlatih mulai dari cara memegang alat tulis,
menggerakkan tangan dengan memperhatikan apa
yang harus ditulis, siswa harus mengamati lambang
bunyi dengan memahami setiap huruf sebagai
lambang bunyi tertentu sampai dapat menuliskan
secar benar.
Menulis di kelas rendah lebih didominasi oleh hal-hal
yang bersifat mekanis, seperti sikap duduk yang baik
dalam menulis, cara memegang alat tulis, cara
meletakkan dan memegang buku, cara menggerakkan
tangan, dan cara melemaskan jari-jari melaui
kegiatan menggambar. Selengkapnya dapat diakses dalam link berikut:
Beli Buku Google Scholar Research gate Doi