Jumat, 23 Juni 2023

Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra dalam Praktik Kelas, Desain Kurikulum, dan Pendidikan Guru

Pembelajaran bahasa dan sastra anak telah banyak muncul di lakukan penyelidikan dua dekade terakhir. Seperti yang dijelaskan oleh Harris dan Grenfell, strategi pembelajaran adalah keterampilan, taktik, dan pendekatan yang diambil dari pembelajaran bahasa (Harris, V., & Grenfell, 2014). Pengajaran bahasa dan sastra di jenjang sekolah dasar diwajibkan ini terjadi disebagian besar negara uni Eropa (European Commission, 2008); (European Commission, 2008). Bahasa dasar wajib dengan kurikulum nasional pada sekolah dasar (QCDA, n.d.), tetapi langkah ini baru-baru diterapkan oleh pemerintah. Hasil dari penelitian pembelajaran bahasa dasar menyebutkan bahwa dapat meningkatkan harga diri dari anakanak tersebut, meningkatkan motivasi dan antusias para pelajar untuk mengikuti pembelajaran bahasa dan berkontribusi pada perkembangan sikap yang positif terhadap kebudayaan lain (Blondin, C., M. Candelier, P. Edelenbos, R. Johnstone, A. Kubanek-German & Taeschner, 1998); (Kubanek-German, 1998); (Naysmith, 1999); (Pufahl, I., N. Rhodes, 2000). Para peneliti yang mendalami tentang bilingualisme sudah menyebutkan bahwa peningkatan kesadaran metalinguistik dan metakognitif sebagai keuntungan tambahan (Baker, 2006); (Cummins, 1976); (Hamers, J.F., 1989). Kesadaran atas metakognitif mendorong pengembangan strategi pembelajaran bahasa dan sastra, pada akhirnya potensi untuk meningkatkan kemampuan, pengaturan diri dan pembelajaran secara mandiri. Meskipun strategi pembelajaran memainkan peran yang sangat penting dalam pembelajaran, instruksi dari strategi sendiri bukan merupakan fitur yang umum dari pengajaran di kelas (Beckman, 2002). Lebih lanjut kurikulum mengusulkan strategi sebagai salah satu bagiannya. Banyak instruksi strategi untuk pelajar muda dan dewasa. Banyak peneliti yang menjelaskan bahwasanya strategi pada anak-anak yang lebih muda dimulai dari aktivitas yang bersifat spesifik seperti tugas yang nantinya berkembang menjadi keterampilan yang lebih kompleks dan fleksibel dan dapat digeneralisasikan (Brown, A.L., J.D. Bransford, R.A. Ferrara, 1983).


Praktik dan Strategi 

Untuk mengukur output siswa, guru menggunakan suatu pendekatan dalam pengajaran bahasa dan sastra. Selain hal itu, mulai keterkaitan program, guru akan menyampaikan pengajaran secara pragmatis kepada siswa yang mengarah pada output yang lebih produktif. Program pengajaran yang dapat digunakan untuk menggabungkan penggunaan pengajaran bahasa dan sastra yaitu program pengajaran bilingual dan multibahasa yang digunakan di ruang kelas (Adrian Abarquez, 2021). Penggunaan bilingual dan multilingualisme dalam pengajaran bahasa dan sastra, yang mana bilingual fokus pada bahasa pertama dan kedua yang telah peserta didik pelajari di ruang kelas. Sedangkan multilingualisme, satu bahasa tambahan disebutkan, termasuk bahasa ibu. Pendekatan semacam ini dapat digunakan untuk menghilangkan stres para siswa atas pemerolehan bahasa target. OBE (Outcomes-Based Education) merupakan program dari Departemen Pendidikan, dimana program ini memungkinkan para siswa untuk menggali hasil yang lebih realistis berdasarkan pengetahuan tentang topik yang diajarkan oleh guru. Keefektifan pelaksanaan OBE sangat bergantung pada pendidik. Dikarenakan kesadaran kompetitif dan pengetahuan OBE sangat penting. Menurut Kilen, OBE dapat memberikan kontribusi pada prestasi belajarsiswa dikarenakan memotivasi instruktur untuk dapat mempersiapkan dirisecara maksimal (Killen, 2000). Menurut Ramoroko, karakteristik dari guru yang menggunakan OBE dengan cara yang memungkinkan mereka untuk menunjukkan kontrol atas proses dan pendekatan tersebut (Ramoroka, 2017). Pendekatan tersebut berusaha untuk menciptakan aktivitasinteraktif antara seorang guru dan siswa melalui alat atau media yang dipilih oleh instruktur. Seorang guru dapat melakukan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai kegiatan dan materi yang telah dihasilkannya. Selanjutnya salah satu metode pelaksanaan pembelajaran komunikatif adalah melalui penggunaan media. Menurut Lynch, media dapat memaksimalkan jumlah partisipasi dalam pendidikan. Artinya, penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar dapat sangat membantu seorang guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang komunikatif dan efektif (Lynch, 2008). Menurut Furnhan dkk,siswa merasa lebih terlibat dan berhasil secara akademis menggunakan media. Penggunaan media di dalam kelas diperkirakan akan memudahkan seorang guru dalam menyampaikan perintah dan informasi pembelajaran kepada siswanya (Furnham, A., & Chamorro-Premuzic, 2005). Verner menyebutkan dalam mengajar sastra, selalu saja dimulai dari mana siswa berasal. Memicu minat siswa yang melibatkan mereka. Guru memberikan bahan bacaan kepada murid-muridnya untuk dapat mempersiapkan kegiatan di kelas berikutnya, yang artinya guru mengajar pembelajaran misalkan dongeng, lagu, buku komik, dan materi yang menarik lainnya untuk dibaca siswa (Verner, 2008). Guru juga dapat menggunakan majalah, surat, buku harian, dan jurnal yang terbaru di kelas membaca. Setelah peserta didik merasa nyaman dengan materi yang diberikan oleh guru, mereka dapat melanjutkan ke tugas menulis proses ini tidak perlu terlalu cepat. Disarankan kepada siswa untuk dapat megerjakan tugas secara perlahan sampai mereka mengembangkan semangat dan kepercayaan diri untuk berpartisipasi secara aktif. Verner juga percaya bahwa guru juga harus menjelaskan tujuan dari pembelajaran dengan pemilihan dan materi yang disertakan (Verner, 2008). Tidak semua siswa akan menghargai atau memahami mengapa pembelajaran sastra diajarkan di kelas. Namun, orang yang berbeda memiliki alasan subjektif mereka sendiri untuk mempelajari atau membaca sastra. Beberapa pembaca menggunakannya sebagai alat untuk komunikasi. Beberapa mungkin membaca untuk mendapatkan informasi, sementara yang lain membaca untuk hiburan. Ini karena penulis percaya bahwa orang beragam dalam banyak aspek Widdowson menjelaskan bahwa teks sastra bersifat unik karena dalam karya sastra apa dan bagaimana suatu tekstidak dapat dipisahkan. Orang-orang mengomunikasikan pikiran, perasaan, dan aspirasi mereka melalui apa yang mereka tulis dan baca (Widdowson, 1975). Pembaca dapat berkomunikasi (dengan cara) dengan pemikiran penulis melalui proses membaca. Dia lebih jauh menggarisbawahi bahwa memahami bagaimana sastra berkomunikasi melibatkan pemahaman tentang apa dan bagaimana. Hal ini menunjukkan bahwa teks sastra tidak dapat dengan mudah diparafrasekan dan tidak ada interpretasi tunggal terhadap isinya. Widdowson berpendapat bahwa dalam mengajar sastra, sangat penting bagi siswa untuk memahami bagaimana pilihan mengomunikasikan pikiran atau pesan dan harus mencoba untuk berhubungan dengan konten (Widdowson, 1975). Apresiasi sastra dapat terjadi ketika peserta didik memahami teks yang dibacanya. Rosenblatt sebagaimana dikutip dalam Celce-Murcia, 2014) mendefinisikan teks sastra melalui pembaca yang berinteraksi dan menafsirkannya. Dia berpendapat bahwa cara umum untuk membedakan karya sastra adalah melalui pemeriksaan teks(Celce-Murcia, M., Brinton, D. M., & Snow, 2014). Kramsch di sisi lain, menunjukkan bahwa bentuk gramatikal memainkan peran penting dalam bagaimana pembaca memahami dan berinteraksi dengan teks sastra (Kramsch, 2014). Ia menambahkan, seorang pembaca memiliki beragam pilihan untuk menyampaikan sebuah pesan. Pilihan bentuk gramatikal memungkinkan penulis dan audiens untuk mendefinisikan informasi lama dan baru berdasarkan konteks dan situasi yang mereka rasakan. Demikian pula, Carter percaya bahwa pendekatan berbasis bahasa untuk mengajar sastra berpusat pada peserta didik, berbasis aktivitas, dan berorientasi pada proses (Carter, 1996). Dia menyatakan bahwa tugas-tugas kelas sangat berharga dan membantu mereka dapat merangsang pelajar untuk menafsirkan teks dengan melibatkan mereka dalam proses pembuatan makna. CelceMurcia menghubungkan dan menggarisbawahi pentingnya penokohan dalam pengajaran teks sastra dengan mendefinisikannya sebagai proses menilai karakter berdasarkan apa yang mereka katakan dan lakukan (Celce-Murcia, M., Brinton, D. M., & Snow, 2014). Hal ini juga melibatkan bagaimana penulis teks menggambarkan karakter. Mempertimbangkan hal ini, untuk memicu partisipasi siswa, guru dapat memulai dengan meminta mereka untuk menggambarkan karakter menggunakan kata sifat. Mereka juga dapat mengumpulkan gambar yang menggambarkan tindakan dan gambar karakter.


Desain Kurikulum dan Pendidikan Guru 

Pengembangan kurikulum berkaitan erat dengan pendidikan guru dan penggunaan sumber daya. Beberapa penelitian telah menyoroti kekurangan kurikulum sekolah dasar, karena fakta bahwa mereka terlalu menekankan pentingnya menghapal dan meniru (Murphy, V. A. &Evangelou, 2016). Tren tantangan lain yang khas Asia, adalah kenyataan bahwa beberapa kurikulum dipandu oleh pasar, sementara yang lain tidak terkait erat dengan kebijakan pendidikan (Shing, 2016). Kurikulum hendaknya menyediakan waktu yang cukup untuk kegiatan dan tugas yang berbeda, tidak menyerahkan alokasi waktu hanya kepada guru (Evangelou, M., Sylva, K., Kyrlacou, M., Wild, M. & Glenny, 2009). Selain itu, kurikulum PAUD-SD harus membantu anak-anak membuat hubungan antara pembelajaran bahasa dan dunia anak-anak prasekolah sampai di bangku sekolah dasaritu sendiri untuk meningkatkan efektivitas program. Selengkapnya.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...