Menyimak sebagai keterampilan berbahasa yang memiliki kontribusi
penting dalam kehidupan siswa sehari-hari maupun disekolah. Siswa tidak
dapat membaca, menulis dan berbicara tanpa menguasai keterampilan
menyimak. Menyimak adalah keterampilan berbahasa pertama yang
diterima seseorang sejak kecil di lingkungan keluarga dan sekitarnya.
Menyimak diartikan sebagai proses mendengarkan melaluisimbol-simbol
lisan dengan saksama untuk mendapatkan informasi, dalam menerima
dan memahami dari komunikasi yang sudah disampaikan pembicara
melalui ucapan (Daeng et al., 2010). Sudiati (2019) menjelaskan bahwa
menyimak yakni proses mendengarkan bunyi bahasa secara intens untuk
memahami ucapan yang dimaksud pembicara. Menyimak dimaknai
sebagai aktivitas mendengarkan secara kreatif dan aktif dengan tujuan mendapatkan informasi dan memahami isi terhadap ucapan yang
disampaikan pembicara (Sukma & Saifudin, 2021). Beberapa penjelasan
tersebut, dapat disintesiskan bahwa menyimak adalah kegiatan
mendengarkan simbol-simbol lisan secara intens, kreatif, dan aktif untuk
dapat menerima, memahami, dan mengimplementasikan informasi yang
disampaikan pembicara.
Peranan menyimak bagi siswa sekolah dasar sebagai tahap awal
dalam menguasai capaian pembelajaran yang akan dicapai. Keterampilan
menyimak yang baik juga akan berpengaruh terhadap hasil belajarsiswa.
Hal ini berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menerima materi
pembelajaran saat guru menjelaskan. Menyimak bagi siswa sekolah
dasar memiliki kontribusi penting dikarenakan melalui menyimak siswa
menerima, memahami dan mengimplementasikan materi pembelajaran
dalam kehidupannya Selain itu, menyimak penting sekali dalam kegiatan
sehari-hari dikarenakan melalui menyimak seseorang mendapatkan
informasi dan dapat meningkatkan pengetahuan.
Proses kegiatan menyimak melibatkan faktor fisik dan mental. Aspek
mental berkaitan dengan proses menyimak yang berkaitan dengan proses
kognitif meliputi perhatian, pemahaman dan ingatan. Pemahaman
informasi yang diterima dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya
sehingga akan memunculkan interpretasi baru. Proses menyimak yang
tidak hanya mengandalkan fisik saja karena hal ini berkaitan dengan
pemahaman yang tepat dan masuk ke tahap penyimpanan memori jangka
lama.
Kegiatan menyimak dapat dilakukan melalui beberapa tahap yakni:
1) mendengar yaitu siswa mendengarsegala sesuatu yang dibicarakan oleh
pembicara; 2) memahami yaknisiswa mengerti isi pesan yang disampaikan
pembicara; 3) menginterpretasi yaitu siswa mengartikan setiap aspek yang
disampaikan pembicara; 4) mengevaluasi yaitu menyampaikan pendapat
siswa terkait dengan isi pesan yang disampaikan pembicara baik itu
kekurangan dan kelebihan; dan 5) menanggapi yakni siswa memberikan
tanggapan terhadap isi pesan yang disampaikan pembicara (Sukma &
Saifudin, 2021).
Keberhasilan kegiatan menyimak dipengaruhi oleh berbagai faktor
yang ada dalam kegiatan berkomunikasi. Beberapa faktor yang perlu
diperhatikan dalam kegiatan menyimak yakni adanya pembicara,
penyimak, pesan yang disampaikan, media yang digunakan dan keadaan
lingkungan sekitar (Sudiati, 2019). Penyimak memiliki tanggung jawab
besar dalam keberhasilan kegiatan menyimak tersebut. Selain itu, juga perlu memperhatikan berbagai faktor eksternal yang dapat mengganggu
dalam proses menyimak.
Capaian pembelajaran keterampilan menyimak pada kurikulum
merdeka dibagi menjadi 3 fase yakni fase A (kelas 1–2), fase B (kelas
3– 4) dan fase C (kelas 5–6). Keterampilan menyimak pada fase A
mendorong siswa dapat yakni: 1) menjadi penyimak yang penuh
perhatian; 2) memiliki ketertarikan dalam kegiatan menyimak; dan 3)
mampu memahami pesan dan informasi yang disampaikan melalui
audio, teks aural yang berhubungan dengan komunikasi dan instruksi
lisan. Sedangkan keterampilan menyimak fase B yang harus dikuasai
siswa meliputi: 1) dapat memahami gagasan utama suatu pesan lisan dan
informasi melalui audio, teks aural dan instruksi lisan yang berhubungan
dengan komunikasi; dan 2) dapat memahami teks narasi yang dibacakan
dari audio. Pada Fase C tingkat keterampilan menyimak siswa lebih
tinggi dari capaian pembelajaran sebelumnya yang meliputi: 1) dapat
menganalisisinformasi dalam bentuk fakta, prosedur yang mencakup ciri
objek dan urutan kejadian; dan 2) menganalisis nilai-nilai dari beberapa
jenis teks informatif dan fiksi yang diberikan dalam bentuk lisan, teks
aural, dan audio.
Beberapa capaian pembelajaran keterampilan menyimak yang ada di
kurikulum merdeka tersebut, dapat diimplementasikan melalui berbagai
strategi agar siswa dapat menguasai dengan baik. Rambe & Widiyarti
(2018) memaparkan metode yang dapat digunakan pada pembelajaran
menyimak yakni sebagai berikut.
1. Metode Simak-Ulang Ucap
Metode ini dapat diterapkan dengan mengenalkan bunyi bahasa
dan cara mengucapkannya. Metode ini menyatukan keterampilan
berbicara dan menyimak. Metode ini cocok digunakan di kelas
rendah. Tahapan yang dapat dilakukan guru dalam membelajarkan
siswa menggunakan simak-ulang ucap meliputi: 1) guru membacakan
atau memutar audio seperti fonem, puisi pendek dsb; dan 2) Siswa
menirukan ucapan guru yang dapat dilaksanakan secara mandiri
dan kelompok.
2. Metode Simak Kerjakan
Metode ini melibatkan keterampilan menulis dalam
implementasinya. Setelah siswa menyimak, maka ia menulisjawaban
soal yang diberikan guru sesuai dengan pesan yang disampaikan.
Biasanya guru memberikan bahan simakan cerita, lalu siswa
menjawab soal terkait unsur instrinsik dalam cerita tersebut. Oleh
karena itu, metode ini membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi.
3. Metode Simak Terka
Metode ini sudah tidak asing lagi bagi siswa. Siswa disuruh
menyimak apa yang diucapkan guru, lalu ia menebak maksud pesan
yang disampaikan. Seperti contoh, guru mendeskripsikan ciri-ciri
suatu benda tanpa menyebut namanya, kemudian siswa menebak
nama benda tersebut. Dalam hal ini,siswa tidak hanya membutuhkan
konsentrasi tetapi juga harus bisa berpikir dengan cepat.
4. Metode Simak Tulis
Metode simak tulis adalah metode yang banyak diterapkan
oleh guru Indonesia. Implementasinya sangat mudah yakni guru
mempersiapkan materi pembelajaran yang akan didiktekan pada
siswa. Kemudian siswa menulis apa yang diucapkan guru. Metode
ini juga membutuhan keterampilan menulis. Siswa harus menyimak
dengan saksama agar hasil tulisannya sesuai dengan pesan yang
diucapkan guru.
5. Metode Memperluas Kalimat
Metode ini mengintegrasikan keterampilan berbicara. Langkah
yang dapat dilakukan yakni guru mengucapkan kalimat sederhana
yang terdiri atas beberapa kata, lalu siswa menirukan apa yang
diucapkan guru. Kegiatan tersebut dilakukan sebanyak dua kali. Siswa
menghubungkan dua kalimat sederhana menjadi kalimat panjang.
Siswa harus berkonsentrasi penuh,sehingga dapat merangkai kalimat
dengan benar.
6. Metode Bisik Berantai
Metode ini dapat diterapkan di kelas rendah dan kelas tinggi.
Kegiatan pembelajaran menyimak menjadi lebih menarik dan
menyenangkan. Langkah yang dapat dilakukan yakni guru
membisikkan kalimat pada salah satu siswa. Lalu siswa tersebut
membisikkan kalimat tersebut kepada siswa lainnya, hal itu berulang
secara terus menerus sampai siswa terakhir. Lalu siswa terakhir
mengucapkan kalimat tersebut pada guru. Selain mengasyikkan,
metode ini juga melatih kefokusan setiap siswa.
7. Metode Menjawab Pertanyaan
Metode ini selalu digunakan oleh setiap guru. Metode ini dapat
diterapkan guru dengan memberikan pertanyaan, lalu siswa menjawab.
Pertanyaan yang diberikan disesuaikan dengan tema pembelajaran.
Kefokusan siswa dalam menyimak dapat dilihat dari jawaban yang
diberikan apakah sesuai atau tidak dengan pertanyaan yang diberikan
guru.
8. Metode Identifikasi Tema, Ide Pokok, dan Kata Kunci
Langkah ini dapat dilakukan dengan guru bercerita sedikit dan
siswa menyimak secara intens. Di tengah bercerita guru berhenti, lalu
dilanjutkan bercerita oleh siswa. Hal ini berulang terus hingga cerita
dirasa cukup. Metode ini membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan
dapat mendorong kreativitas siswa dalam membuat kalimat. Selain
itu juga mengajar siswa untuk percaya diri dan saling menghargai
terhadap berbagai karya yang dihasilkan sejelek apapun.
9. Metode Parafrase
Metode ini merupakan mengungkap kembali sesuatu
menggunakan bahasa sendiri. Dalam tahapan implementasinya,
guru dapat membacakan sebuah puisi di depan siswa. Siswa
menceritakan isi puisi tersebut menggunakan bahasa sendiri. Metode
ini membutuhkan konsentrasi untuk dapat memahami isi dengan
baik sehingga dapat memparafrasekan sebuah pesan dengan baik.
10. Metode Merangkum
Metode ini cocok diimplementasikan pada kelas tinggi. Hal ini
dikarenakan metode ini membutuhkan pemahaman dan konsentrasi
yang tinggi. Setelah siswa menyimak apa yang disampaikan guru,
siswa merangkum informasi atau pesan secara runtut. Merangkum
dapat dilakukan dengan merangkai kata menggunakan bahasa
sendiri.
Pembelajaran menyimak juga dapat diajarkan melalui berbagai media
yang bervariasi. Media memiliki beberapa fungsi yaitu memberikan
kemudahan guru dalam menyampaikan materi dan menarik minat
belajar siswa (Yarni & Kaban, 2015). Siswa sekolah dasar berada pada
tahap operasional konkret, sehingga keberadaan media dalam proses
pembelajaran sangat diperlukan. Jenis media yang digunakan guru
berpengaruh terhadap hasil keterampilan menyimak siswa. Media yang
dapat digunakan dalam menyimak yakni: 1) media visual meliputi
gambar, foto, kartun, poster, grafik, dsb; 2) media audio meliputi MP3,
radio, kaset audio dsb; 3) media audio visual meliputi: video, sound slide,
film bersuara, dan televisi; 4) multimedia yang berisi animasi, foto, video,
musik, gambard dan teks; dan 5) media realita yakni media yang ada di
sekitar lingkungan siswa (Sukma & Saifudin, 2021).
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kurikulum merdeka
memberikan kebebasan pada guru untuk memilih metode dan media yang
digunakan dalam proses pembelajaran. Berbagai metode dan media yang
sudah dijelaskan tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi guru dalam
mengajarkan keterampilan menyimak siswa pada kurikulum merdeka.
Pemilihan metode dan media harus disesuaikan dengan kebutuhan
dan karakteristik siswa. Guru tidak boleh memilih hanya berdasarkan
kemudahan yang diperoleh guru saja. Capaian pembelajaran menyimak
fase A, fase B dan fase C memiliki tingkatan kognitif yang berbeda.
Sehingga tingkat kognitif siswa juga menjadi pertimbangan penting bagi
guru dalam pemilihan metode dan media.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam menyukseskan
pembelajaran menyimak yaitu pertama, memilih metode pembelajaran
yang berkaitan dengan materi dan bervariasi (Sukma & Saifudin, 2021).
Guru harus memahami kondisi siswanya, sehingga bisa menentukan
metode dan media yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Kedua, materi
yang digunakan dalam pembelajaran menyimak harus sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Materi pembelajaran yang
diberikan pada siswa tidak terlalu sulit dan tidak terlalu gampang.
Tingkat kesukaran materi harus disesuaikan juga dengan kognitif siswa
sekolah dasar. Ketiga, mengimplementasikan media pembelajaran yang
beragam. Pembelajaran menyimak akan lebih menarik siswa jika guru
dapat mengintegrasikan teknologi dengan materi pembelajaranmenyimak.
Dalam hal ini, guru dituntut untuk melek teknologi. Keempat, mengatur
lingkungan belajarsiswa. Pengelolaan lingkungan belajar yang baik akan
berdampak pada kenyamanan siswa dalam belajar. Ruang belajar yang
nyaman dapat meningkatkan motivasi belajar menyimak. Guru dapat
menciptakan lingkungan belajar yang baik dengan menyesuaikan dengan
karakteristik siswanya. Kelima, melaksanakan evaluasi dengan baik. Guru
memberikan penilaian kepada siswa sebagai bentuk penghargaan yang
sudah siswa berikan dalam usaha belajar. Selengkapnya.....