Komponen pembelajaran yang tak kalah penting dan masih menjadi
salah satu problematika adalah bahan ajar. Bahan ajar merupakan atau
materi ajar (instructional materials) terdiri atas aspek kognitif, psikomotor,
dan afektif yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar
capaian pembelajaran yang telah ditentukan. Jenis-jenis materi pembelajaran bahasa Indonesia terdiri atas pengetahuan (fakta, konsep,
prinsip, prosedur), keterampilan, serta nilai dan sikap (Aisyah, 2020).
Problematika pengembangan bahan ajar di sekolah yakni:
Selama ini pemerintah telah menyiapkan beragam bahan ajar untuk
siswa dan guru (sebagai pegangan). Bahan ajar yang disiapkan pun
beragam, baik itu cetak maupun digital. Namun apa yang disediakan
pemerintah tersebut merupakan bahan ajar yang paling sederhana.
Harapannya guru mampu mengembangkan sendiri bahan ajar yang
disesuaikan dengan lingkungan dan karakteristik siswa. Permasalahannya
beberapa sekolah dan guru masih menggunakan satu bahan ajar yakni
buku guru dan buku siswa dari pemerintah. Tentu saja hal ini akan
berdampak pada penguasaan materi. Materi yang dikuasaisiswa menjadi
terlalu sederhana karena tidak ada pengembangan ilmu yang mereka
dapatkan melalui bahan ajar. Adanya kurikulum Merdeka Belajar yang
mulai diterapkan di beberapa sekolah, memberikan keleluasaan bagi guru
untuk mengembangkan bahan ajarnya.
a. Kesulitan menuangkan ide untuk mengembangkan bahan ajar bahasa
Indonesia.
Di lapangan masih beberapa guru masih mengalami kendala dalam
menuangkan ide yang akan mereka tuliskan di bahan ajar. Bahan
ajar seperti apa yang akan dikembangkan masih menjadi kendala
termasuk isi yang akan dituangkan di bahan ajar tersebut. Bahan
ajar yang dikembangkan masih terlalu sederhana atau terlalu luas.
Sebenarnya pengembangan bahan ajar bisa merujuk pada capaian
pembelajaran sehingga materi yang dituangkan tidak terlalu sempit
ataupun luas.
b. Kurang memperhatikan karakteristik, potensi, dan perkembangan
siswa, serta relevansinya dengan kebutuhan siswa. Bahan ajar yang
baik juga perlu memeperhatikan kebutuhan dan karakter siswa.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, pengembangan bahan ajar
yang memperhatikan perkembangan siswa salah satunya diwujudkan
dalam variasi teks bacaan. Teks bacaan yang diberikan pada siswa
kelas awal berbeda dengan teks bacaan untuk kelas lanjut.
c. Keterbatasan sumber bahan ajar. Di era Abad 21 ini, Permasalahan
tersebutseharusnya bukanlah menjadi kendala dalam pengembangan
bahan ajar. Saat ini perkembangan informasi dan pengetahuan sangat
berkembang dengan pesat dan terbuka. Pengetahuan dan informasi tidak hanya didapatkan dari sumber cetak, justru sumber elektronik
dan digital lebih mendominasi dalam perkembangan saat ini. Namun
hal sumber bahan ajar masih saja menjadi salah satu kendala saat
ini. Hal ini dibuktikan dengan masih dijadikannya buku ajar dari
pemerintah sebagai satu-satunya bahan ajar di kelas. Kondisi ini
sangatlah disayangkan, karena jika ilmu yang dipelajari siswa hanya
buku tersebut maka pengalaman mereka tidak akan berkembang
maksimal.
d. Pendekatan tematik integratif yang digunakan pada kurikulum
terdahulu juga memberikan permasalahan tersendiri pada
pengembangan bahan ajar. Adanya integratif ini membuat bahan
ajar per muatan menjadi kurang seimbang. Sebut saja ketika muatan
bahasa Indonesia bergandengan dengan muatan IPA. Biasanya bahan
ajar yang cenderung disajikan adalah bahan ajar IPA kemudian agak
mengesampingkan muatan bahasa Indonesia. Misalnya pada muatan
IPA mengajarkan mengenai hewan ruminansia kemudian bahasa
Indonesia mengusung materi iklan. Di sini kadang kala dijumpai
penekanan bahan ajar hanya berfokus pada materi IPA yang dianggap
lebih kompleks. Selengkapnya.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar