Selama ini pembelajaran
bahasa Indonesia di sekolah sudah mengenalkan dengan empat
keterampilan berbahasa yakni menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis. Kemudian pada kurikulum Merdeka Belajar ada dua tambahan
yakni mempresentasikan dan memirsa.
1. Permasalahan Keterampilan Menyimak
Keterampilan menyimak merupakan keterampilan berbahasa
pertama yang dikuasai anak. Dalam pembelajarannya, keterampilan
menyimak memiliki permasalahan tersendiri. Iskandarwassid
dan (Iskandarwassid & Sunendar, 2011) menyampaikan bahwa
dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, penggunaan strategi pembelajaran menyimak masih berkutat dengan pola lama, yaitu
siswa mendengar dan berupaya menjawab pertanyaan seputar bahan
simakan.
a. Permasalahan tes kompetensi menyimak
Pelaksanaan pembelajaran dan tes menyimak tampaknya kurang
mendapat perhatian layaknya keterampilan berbahasa yang lain.
Belum tentu semua guru mengajarkan dan menguji keterampilan
menyimak secara khusus. Walaupun sebenarnya keterampilan
menyimak sangat dibutuhkan untuk mengikuti pembelajaran
berbagai muatan pembelajaran. Hal itu kemungkinan disebabkan
oleh anggapan guru bahwa siswa telah memiliki kemampuan
yang baik dalam memahami bahasa lisan. Bisa juga disebabkan
karena pengembangan tes kompetensi menyimak tidak semudah
tes keterampilan berbahasa yang lain (Nurgiyantoro, 2010).
b. Siswa merasa kesulitan mengidentifikasi isi bahan simakan
Pembelajaran menyimak di sekolah dasar difokuskan pada
kemampuan mengidentifikasi isi atau simpulan bahan simakan.
Kemudian untuk materi dongeng, siswa diharapkan mampu
mengidentifikasi isi, amanat, tokoh, dan simpulan dari dogeng
yang disimak. Permasalahan yang ada selama ini, siswa masih
mengalami kesulitan dalam mengidentifikasinya. Hal tersebut
ditunjukkan ketika guru memberikan evaluasi keterampilan
menyimak, hanya sebagian kecil siswa yang mampu mencapai
capaian pembelajaran yang telah ditetapkan (Hakim, 2018);
(Rahmawati, 2019).
c. Siswa kurang memiliki sikap serius dalam mengikuti pembelajaran
menyimak
Sikap siswa ketika menyimak juga turut mengambilsumbangsih
dalam problematika pembelajaran menyimak di sekolah dasar.
Ketidakseriusan siswa disebabkan oleh berbagai faktor seperti
kurangnya variasi dalam pembelajaran, siswa merasa bosan,
kurang konsentrasi, dan kurang motivasi dalam menyimak.
d. Strategi dan media yang digunakan dalam pembelajaran
menyimak masih kurang bervariasi dan bervariasisehingga siswa
kurang fokus Di bagian awal telah dibahas pentingnya penggunaan strategi
dan media pembelajaran. Jika di dalam kelas, kurang adanya
penerapan strategi dan media yang tepat akan membuat siswa
lebih tertarik terhadap pembelajaran termasuk pembelajaran
menyimak. Di sekolah, guru masih kurang mengeksplorasi
penggunaan strategi dan media pembelajaran menyimak. Hal
ini berdampak pada keberhasilan pembelajaran menyimak,
jika penggunaan strategi dan media kurang maksimal akan
menyebabkan capaian pembelajaran yang tidak maksimal
(Aprilian, 2017).
2. Permasalahan Keterampilan Berbicara
a. Siswa kurang terampil menyampaikan ide dan gagasannya melalui
komunikasi lisan dalam situasi formal. Artinya masih banyak
siswa yang belum mencapai ketuntasan dalam keterampilan
berbicara. Hal ini dikarenakan siswa merasa kurang percaya
diri dalam berbicara sehingga dalam proses pembelajaran siswa
menjadi pasif.
b. Pengaruh bahasa ibu memberikan permasalahan tersendiri bagi
keterampilan berbicara. Penggunaan bahasa ibu dalam kegiatan
belajar mengajar di sekolah dasar memang diperbolehkan
terutama di kelas rendah(Ibda, 2017). Hal ini disebabkan karena
sebagian besarsiswa di Indonesia menggunakan bahasa ibu yang
berupa bahasa daerah di lingkungan keluarga. Akhirnya membuat
mereka membawanya ke dalam kegiatan belajar mengajar di kelas
(Jazadi et al., 2021). Dalam rangka memperlancar komunikasi
dalam pembelajaran, penggunaan bahasa ibu ini tidaklah menjadi
masalah serius. Namun akan menjadi permasalahan serius dan
berkepanjangan ketika bahasa ibu masih digunakan dalam
pembelajaran di kelas atas. Akibatnya siswa menjadi kesulitan
dalam menguasai bahasa Indonesia termasuk penguasaan
kosakata yang akan berimbas pada rendahnya keterampilan
berbicara.
c. Siswa merasa kurang percaya diri dan gugup saat berbicara di
depan forum.
Salah satu pembeda kurikulum Merdeka Belajar dengan
kurikulum yang lain yakni dimasukkannya keterampilan mempresentasikan ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Keterampilan mempresentasikan muncul karena dilatarbelakangi
rendahnya keterampilan berbicara siswa di depan umum.
Harapannya ketika keterampilan mempresentasikan diajarkan
sejak dini, maka kepercayaan dirisiswa ketika berbicara di depan
umum akan baik dan terus meningkat sampai ke jenjang yang
lebih tinggi
3. Permasalahan Keterampilan Membaca
Keterampilan membaca merupakan keterampilan yang dikuasai
anak. Jika dua keterampilan lain yakni menyimak dan berbicara,
dipelajarisejak anak belum memasuki bangku sekolah dasar. Berbeda
dengan keterampilan membaca, biasanya anak akan mempelajari
keterampilan membaca ketika sudah memasuki bangku sekolah
dasar. Dalam kurikulum Merdeka Belajar juga telah diatur mengenai
pembelajaran membaca permulaan tersebut yakni ketika kelas 1
sekolah dasar. Lalu pada kelas 2 sampai kelas 6, siswa akan belajar
membaca lanjut.
Keterampilan membaca di sekolah dasar juga memiliki beragam
problematika, antara lain:
a. Kesulitan memahami makna, merefleksi, dan mengevaluasi isi
bacaan.
Pada kelas awal atau fase A (kelas 1 dan 2), siswa diharapkan
mampu memahami makna bacaan tersurat kemudian dilanjutkan
memahami makna bacaan tersirat ketika mereka memasuki fase
B (kelas 3 dan 4). Namun kenyataan di sekolah, masih banyak
siswa yang belum mampu memahami makna tersirat. Lebih lanjut
pada siswa kelas 5 dan 6 ditemui permasalahan bahwa masih
banyak siswa yang belum mampu merefleksi dan mengevaluasi
bacaan. Hal ini dirasakan siswa ketika mereka latihan dan
mengerjakan soal AKM 2021. Soal-soal yang disajikan dalam
AKM literasi merupakan soal yang diadaptasi dari instrumen
yang digunakan oleh PISA. Sebagian besar soal-soal tersebut
mengukur kemampuan mengintepretasi informasi dari bacaan.
b. Rendahnya minat dan motivasi membaca siswa
Rendahnya hasil survei yang dilakukan oleh PIRLS dan PISA
mampu menunjukkan kondisi keterampilan membaca siswa Indonesia. Suatu hal yang menjadi penyebabnya adalah minat
baca dan budaya literasi yang rendah. Salah satu budaya literasi
yang sedikit dimiliki oleh siswa adalah budaya membaca (D.M.
Andikayana et al., 2021).
Apalagi di era digital saat ini, gempuran teknologi bisa
memberikan efek negatif seperti halnya gawai. Jika tidak
digunakan secara bijak, gawai ternyata memberikan pengaruh
negatif pada siswa. Siswa akan kecanduan bermain gawai, baik itu
mengakses game, media sosial, atau hal-hal yang lain. Akhirnya
mereka menjadi kurang memiliki minat dalam membaca buku.
Namun jika gawai digunakan secara bijak, misalnya untuk
membaca buku cerita digital yang saat ini banyak tersedia maka
tidak mustahil penggunaan gawai akan meningkatkan budaya
baca siswa Indonesia.
c. Kurangnya dukungan keluarga dan masyarakat
Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan
guru, namun pendidikan anak juga menjadi tanggung jawab
orang tua dan masyarakat. Selama ini dukungan dari keluarga
dan masyarakat mengenai budaya membaca masih kurang.
Walaupun di sekolah siswa sudah dibiasakan membaca melalui
Gerakan Literasi Sekolah dan pembelajaran di kelas, namun
ketika mereka kembali ke rumah dan tidak menerima dukungan
positif dari lingkungan sekitar. Maka mustahil budaya membaca
itu akan dimiliki anak. Apalagi jika di lingkungan keluarga lebih
menikmati fitur dalam gawai dan tayangan televisi maka anak
juga akan lebih tertarik pada suguhan tersebut. Berbeda jika di
keluarga juga dibiasakan penumbuhan budaya membaca melalui
buku-buku koleksi pribadi maka anak juga akan terbawa pada
kebiasaan yang ada.
4. Permasalahan Keterampilan Menulis
Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang paling sulit dan
paling akhir dikuasai oleh seorang pembelajar bahasa. Tak heran jika
banyak persoalan muncul dari keterampilan menulis ini. Beberapa
permasalahan dalam keterampilan menulis yang dihadapi siswa
sekolah dasar antara lain:
a. Pada keterampilan menulis permulaan tulisan siswa masih
kurang rapi
Pada awal belajar menulissiswa akan diajari bagaimana menulis
huruf lepas dengan benar dan rapi. Kemudian di kelas 2 mereka
akan diajari bagaimana menulis huruf tegak bersambung.
Walaupun terkesan mudah namun keterampilan menulis
permulaan memiliki berberapa problematika seperi tulisan yang
tidak terbaca, tulisan kurang rapi, dan hilangnya beberapa huruf.
Kondisi seperti ini membutuhkan penanganan yang ekstra dari
guru kelas. Guru harus senantiasa memberikan pendampingan
kepada siswa dalam melakukan kegiatan menulis permulaan
terutama siswa yang mengalami kendala. Pemberian umpan balik
sangatlah diperlukan dalam rangka mengatasi masalah tersebut.
b. Sulitnya menuangkan dan mengembangkan ide
Setelah siswa lancar menulis permulaan maka pembelajaran
selanjutnya adalah menulis lanjut. Jika merujuk pada
kurikulum Merdeka Belajar yang berbasis teks, siswa sekolah
dasar dikenalkan dengan berbagai teks seperti narasi, deskripsi,
eksplanasi, dan lain-lain. Beragamnya jenis teks ini memaksa
siswa untuk terampil menulis teks-teks tersebut. Permasalahan
yang ada adalah siswa cenderung mengalami kesulitan dalam
menuangkan ide dan gagasan yang ada di kepala mereka. Jika
sudah mampu dituangkan biasanya akan mengalami kendala
dalam melakukan pengembangan ide. Misalnya kalimat tidak
efektif, paragraf yang kurang koheren, dan tulisan yang memiliki
banyak ide pokok.
5. Permasalahan Keterampilan Memirsa
Pada Abad ke-21 ini keterampilan berbahasa tidak lagi hanya terdiri
atas empat komponen yakni menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis saja tetapi bertambah menjadi enam keterampilan. Slaah
satunya adalah keterampilan memirsa (Donaghy, 2019; Gador, 2016;
Chan, 2020) dalam (Huri et al., 2021). Sejalan dengan itu, pada
kurikulum Merdeka Belajar memasukkan keterampilan memirsa
untuk melengkapi empat keterampilan berbahasa yang sudah ada
sebelumnya. Permasalahan yang sering dihadapi siswa dalam pembelajaran
keterampilan memirsa, antara lain:
1. Masih kesulitan dalam mengintegrasikan berbagai strategi
dalam memahami, menafsirkan, dan mengenali isi dan tujuan
teks multimodal. Karakteristik keterampilan memirsa adalah
melibatkan teks multimodal. Multimodal merupakan (Chen,
2010) proses memahamisimbol verbal dan visual yang digunakan
secara bersamaan untuk menimbulkan keterlibatan dialogis
dalam sebuah teks. Siswa biasanya masih mengalami kendala
dalam memahami maksud teks multimoda yang disajikan dalam
kegiatan memirsa tersebut.
2. Kesulitan dalam mengeksplorasi informasi
Kendala lainnya adalah siswa masih mengalami kesulitan
dalam mengintegrasikan berbagaistrategi untuk memahami dan
menafsirkan berbagai teks. Biasanya siswa melakukan kegiatan
memirsa tanpa menggunakan strategi yang sebenarnya akan
memudahkan mereka. Kendala lain adalah eksplorasi yang
dilakukan siswa masih sangat sederhana sehingga mereka sulit
untuk sampai pada tahap memirsa kritis.
6. Permasalahan Keterampilan Mempresentasikan
Jika pada bagian sebelumnya dibahas mengenai keterampilan
memirsa dan permasalahannya. Kali ini akan dibahas keterampilan
mempresentasikan yang juga merupakan pengembangan dari
keterampilan berbicara. Mempresentasikan adalah kemampuan
menyampaikan gagasan atau tanggapan dengan fasih, akurat,
bertanggung jawab. Dalam keterampilan memirsa juga menuntut
keterampilan mengajukan serta menanggapi pertanyaan dari
penyimak. Namun dalam hal ini masih terdapat beberapa
permasalahan yakni siswa masih enggan mengajukan pertanyaan
yang tergolong kritis. Dalam menanggapi pun kadang kala jawaban
yang diberikan kurang sesuai dengan pertanyaan penyimak. Selengkapnya....