Jumat, 30 Juni 2023

Prinsip Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD

a. Prinsip Fungsional

Prinsip fungsional dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD pada hakikatnya sejalan dengan konsep pembelajaran yang interaktif Dalam implementasinya prinsip fungsional bertujuan untuk melatih peserta didik menggunakan bahasa yang efektif baik lisan maupun tulisan.

b. Prinsip Konstekstual

Prinsif kontekstual dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD pada hakikatnya kemampuan peserta didik menghubungkan materi yang diajarkan dengan dunia nyata. Prinsip ini terdiri atas enam komponen yaitu: konstruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian sebenarnya. 

c. Prinsip Apresiatif

Prinsip apresiatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SD pada hakikatnya lebih fokus dalam pembelajaran sastra. Hal ini mengandung arti bahwa prinsip pembelajaran yang digunakan adalah menyenangkan.

d. Prinsip Humanisme, Rekontruksionalisme, dan Progresif. 

1) Manusia secara alami memiliki modal yang sama dalam upaya memahami sesuatu. Implikasi wawasan tersebut terhadap kegiatan pengajaran bahasa Indonesia adalah 1) Pendidik bukan merupakan satu-satunya pusat informasi, 2) Siswa harus dimaknai sebagai subjek belajar yang secara kreatif mampu menemukan pemahaman sendiri, 3) dalam proses belajar mengajar pendidik harus fokus sebagai sebagai model, teman, pendamping, pemotivasi, fasilitator, dan aktor yang bertindak sebagai pembelajar. 

2) Perilaku manusia didasari motif dan minat tertentu. Implikasi dari wawasan tersebut dalam kegiatan pengajaran bahasa Indonesia adalah 1) Isi pembelajaran harus mengandung manfaat bagi peserta didik secara aktual, 2) Dalam prosesnya peserta didik harus memahami manfaat penguasaan isi pembelajaran bagi kehidupannya, 3) Isi pembelajaran harus sesuai dengan tingkat perkembangan, pengalaman, dan pengetahuan pembelajaran.

3) Manusia selain memiliki kesamaan juga memilliki keunikan. Implikasi wawasan dalam kegiatan pengajaran bahasa Indonesia, 1) Layanan pembelajaran selain bersifat klasikal dan kelompok juga bersifat individual, 2) Pembelajaran selain ada yang dapat menguasai materi pembelajaran secara cepat juga ada yang lambat, dan 3) Pembelajaran perlu disikapi sebagai subjek yang unik, baik menyangkut proses merasa, berpikir dan karakteristik individual sebagai hasil bentukan lingkungan, keluarga, teman bermain, maupun lingkungan kehidupan sosial masyarakat. Selengkapnya.....

Rabu, 28 Juni 2023

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SD

Dalam kurikulum 2013 pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah berbasis teks atau lebih difokuskan pada teks. Melalui teks-teks tersebut selain diajarkan ilmu kebahasaan juga diintegrasikan pendidikan karakter. Dalam kurikulum merdeka pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah difokuskan pada keterampilan menyimak, membaca dan memirsa, berbicara dan mempresentasikan serta menulis untuk berbagai tujuan berbasis genre yang terkait dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan.

Pembinaan dan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia akan membentuk pribadi Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berpikir kritis, mandiri, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global (Kurikulum Merdeka, 2022) Melalui membaca teks peserta didik mampu memperbaiki sikap untuk lebih berkarakter. Terlebih melalui pendekatan saintifik atau ilmiah pembentukan karakter akan mudah terealisasikan.

Dalam pendekatan saintifik, siswa diminta unntuk mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan dengan integrasi pembentukan sikap, misalnya mengamati dengan tanggung jawab, menanya dengan santun, mencoba dengan jujur, dan mengasosiasi dan mengomunikasikan dengan proaktif. Sikap baik tersebut akan terus ditanamkan dalam setiap pembelajaran sehingga ketika peserta didik sudah terbiasa dengan sikap baik, maka kebiasaan itu akan tetap sikap baik.

Ketika peserta didik yang menjadi generasi penerus sudah menjadi pribadi yang baik tentu saja akan mengembalikan identitas bangsa menjadi bangsa yang bermartabat. Pembelajaran berbasis teks merupakan pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan siswa untuk menyusun teks. Metode pembelajaran ini mendasarkan pada pemodelan teks dan analisis terhadap fitur-fitur secara eksplisit serta fokus pada hubungan antara teks dan konteks penggunaannya. Dalam proses pembelajaran ini mengarah pada peserta didik agar mampu memahami dan memproduksi teks baik secara lisan maupun secara tulisan dalam berbagai konteks. Selengkapnya.....

Selasa, 27 Juni 2023

Fungsi Bahasa Indonesia berdasarkan Penggunaannya

Bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi yang digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk saling berinteraksi satu sama lain dalam segala hal. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan bahasa resmi di Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia tidak mengikat pemakainya untuk sesuai dengan kaidah dasar. Bahasa Indonesia digunakan secara nonresmi, santai, dan bebas. Bahasa (Indonesia), mengandung fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan pemakainya, yakni (1) sebagai sarana ekspresi diri, (2) sebagai sarana untuk berkomunikasi, (3) sebagai sarana untuk integrasi dan beradaptasi sosial, dan (4) sebagai kontrol sosial (Cahyani, 2013).

a. Alat ekspresi diri 

Secara umum manusia menggunakan bahasa sebagai sarana dalam mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya kepada orang lain. Dalam mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya kepada orang lain seseorang menggunakan bahasa lisan dan bahasa tertulis. 

b. Alat komunikasi

Bahasa merupakan satu-satunya sebagai sarana yang kita gunakan dalam menyampaikan maksud dan tujuan kita kepada orang lain. Dalam menyampaikan maksud dan tujuan kita menggunakan bahasa sebagai sarananya. Dalam menyampaikan gagasan, pikiran, pendapat, harapan, perasaan, kita juga menggunakan bahasa sebagai sarananya. Kita menggunakan bahasa sebagai sarananya, ketika kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. 

c. Alat integrasi dan adaptasi sosial

Sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa persatuan (nasional). Dari beragam seni, tradisi, religi, budaya, bahasa, dan adat-istiadat yang tersebar di seluruh wilayah nusantara terikat oleh bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sebagai alat integrasi bangsa, ada beberapa sifat potensial yang dimiliki bahasa Indonesia: (1) bahasa Indonesia telah terbukti dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang multikultural, (2) bahasa Indonesia bersifat demokratis, (3) bahasa Indonesia bersifat terbuka/transparan, dan (4) bahasa Indonesia sudah mulai mengglobal. Dalam hal adaptasi sosial, bahasa menjadi modal bagi seorang manusia untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang ada pada lingkungannya.

d. Alat kontrol sosial Sebagai alat kontrol sosial, bahasa Indonesia sangat efektif.

Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat pemakainya. Berbagai penerangan, informasi, atau pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran di sekolah sampai universitas, buku-buku instruksi, perundangundangan serta peraturan pemerintah lainnya adalah salah satu contoh penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Ceramah agama, dakwah, dan wujud pembinaan rohani lainnya merupakan contoh bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Selengkapnya.....


Senin, 26 Juni 2023

Tujuan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan untuk membantu peserta didik mengembangkan: 

1. akhlak mulia dengan menggunakan bahasa Indonesia secara santun; 

2. sikap pengutamaan dan penghargaan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara Republik Indonesia; 

3. kemampuan berbahasa dengan berbagai teks multimodal (lisan, tulis, visual, audio, audiovisual) untuk berbagai tujuan (genre) dan konteks; 

4. kemampuan literasi (berbahasa, bersastra, dan bernalar kritis kreatif) dalam belajar dan bekerja; 

5. kepercayaan diri untuk berekspresi sebagai individu yang cakap, mandiri, bergotong royong, dan bertanggung jawab; 

6. kepedulian terhadap budaya lokal dan lingkungan sekitarnya; dan 

7. kepedulian untuk berkontribusi sebagai warga Indonesia dan dunia yang demokratis dan berkeadilan.

Selengkapnya.....

Minggu, 25 Juni 2023

KONSEP BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SD PADA KURIKULUM MERDEKA

Salah satu hal baru dalam pendidikan di Indonesia adalah kurikulum merdeka. Pada kurikulum tersebut dilakukan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal supaya peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Pembelajaran merupakan suatu proses belajar yang di dalamnya terdapat interaksi antara pendidik dan peserta didik. Menurut (Fatimah, 2018), pembelajaran adalah sebuah peningkatan pengetahuan, proses mengingat, dan proses mendapatkan fakta-fakta atau keterampilan yang dapat dikuasaiserta digunakan sesuai kebutuhan. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di jenjang SD sampai jenjang perguruan tinggi menekankan penggunaan bahasa Indonesia secara benar. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah memiliki tujuan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa pada peserta didik, baik secara lisan maupun tulisan. Peserta didik diharapkan mempunyai keterampilan berbahasa karena bahasa memegang peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi, sehingga bahasa dan sastra Indonesia merupakan salah satu aspek yang penting untuk diajarkan pada peserta didik. Oleh karena itu, mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia sudah diberikan kepada peserta didik sejak jenjang SD. Harapannya, peserta didik mampu menguasai, memahami, dan mengimplementasikan keterampilan berbahasa dan sastra Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Menurut (Ali, 2020), keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat aspek, yaitu (1) listening skills, (2) speaking skills, (3) reading skills, dan (4) writing skills. Keterampilan membaca, menyimak, menulis, dan berbicara memiliki peranan yang sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Keterampilan tersebut mampu menunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang keilmuan. Selain keterampilanketerampilan tersebut, pemahaman peserta didik terkait tata linguistik (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) dalam bahasa dan sastra Indonesia di SD juga memiliki peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep bahasa dan sastra Indonesia di SD diharapkan dapat membantu peserta didik dalam mengenal dirisendiri dan budayanya,serta mengenal orang lain dan budayanya. Dengan mempelajari bahasa dan sastra Indonesia diharapkan pembelajar dapat mengemukakan gagasan dan perasaannya, berpartisipasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, menemukan dan menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang terdapat pada diri sendiri. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal tersebut dilakukan secara lisan dan tulisan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra masyarakat dalam dan luar Indonesia. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia merupakan pembelajaran yang mendasar dan sudah diajarkan sejak usia dini. Bahasa dan sastra Indonesia mempunyai peranan yang penting dalam pembelajaran sehingga kurikulum bahasa dan sastra Indonesia di SD memiliki beberapa karakteristik pokok, yaitu menggunakan pendekatan komunikatif, keterampilan proses, tematik yang terintegratif, dan lintas kurikulum.

Selain itu, bahasa dan sastra Indonesia mengutamakan variasi, kealamian, kebermaknaan, dan fleksibilitas. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia menggunakan metode pembelajaran yang inovatif dan memberikan peluang kepada pendidik dan peserta didik untuk menggunakan berbagai referensi atau sumber belajar. Pada Kurikulum Merdeka sesuai dengan Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, danAsesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 008/H/Kr/2022, dengan memberikan penjelasan mengenai kemampuan berbahasa, bersastra, dan berpikir merupakan fondasi dari kemampuan literasi. Semua bidang kajian, bidang kehidupan, dan tujuan-tujuan sosial menggunakan kemampuan literasi. Literasi menjadi kemampuan sangat penting yang digunakan untuk bekerja dan belajarsepanjang hayat. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia merupakan pembelajaran literasi untuk berbagai tujuan berkomunikasi dalam konteks sosial budaya Indonesia.

Kemampuan literasi dikembangkan ke dalam pembelajaran menyimak, membaca dan memirsa, menulis, berbicara, dan mempresentasikan untuk berbagai tujuan berbasis genre yang terkait dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan. Setiap genre memiliki tipe teks yang didasarkan pada alur pikir—struktur—khas teks tertentu. Tipe teks merupakan alur pikir yang dapat mengoptimalkan penggunaan bahasa untuk bekerja dan belajar sepanjang hayat. Model utama yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah pedagogi genre. Model ini memiliki empat tahapan, yaitu: penjelasan untuk membangun konteks (explaining, building the context), pemodelan (modelling), pembimbingan (joint construction), dan pemandirian (independent construction). Di samping pedagogi genre, pembelajaran bahasa Indonesia dapat dikembangkan dengan modelmodel lain sesuai dengan pencapaian pembelajaran tertentu. Pembinaan dan pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia akan membentuk pribadi Pancasila yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berpikir kritis, mandiri, kreatif, bergotong royong, dan berkebhinekaan global. Selengkapnya.....

Sabtu, 24 Juni 2023

Eksplor Bahasa dan Teks Sastra untuk Mengembangkan Kemampuan Siswa

Teks sastra dianggap sebagai “input terkontrol” yang mampu menawarkan tingkat kesesuaian untuk pelajar (Jouini, 2008). Sama hal nya dengan surat kabar dan majalah, teks sastra adalah dokumen yang bersifat otentif, karena meskipun tidak dirancang untuk tujuan pengajaran bahasa, teks sastra memungkinkan suatu proses komunikasi interaktif antara penulis, siswa, dan guru sebagai mediator. Namun, karya sastra fiksi cenderung melampaui surat kabar dan majalah dalam hal menggabungkan bahasa lisan dan tulisan. Kombinasi wacana ini menjadikan sastra sebagai sumber yang ideal di mana siswa dapat membayangkan dan menciptakan situasi di mana mereka dapat bertindak secara otentik. Artinya, di satu sisi, ketika menciptakan situasi, siswa akan bermanuver dalam lingkungan komunikatif di mana mereka akan dapat berbagi ide, emosi, dan informasi. Di sisi lain, dengan bertindak secara otentik, proses komunikasi verbal mereka untuk pemecahan masalah, negosiasi makna dan pertukaran reaksi akan merespon tujuan tertentu dan akan mengikuti mekanisme komunikasi normal (Fernández, 2001). Selain itu, panjang relatif novel memberisiswa waktu yang diperlukan untuk menjadi akrab dengan cerita, karakter, dan pengembangan plot teks, yang akan diperlukan untuk pengembangan keterampilan kreatif siswa.


Penggunaan Sastra dalam Pembelajaran Bahasa: Mengembangkan Cerita

Untuk mengeksploitasisastra dengan tujuan kreatif, mengeksploitasi dengan cara yang terbaik dengan tujuan membantu siswa mengembangkan konteksfiksi dan menciptakan kembalisituasi. Realitasfiksi dalam sastra sangat bergantung pada imajinasi pembaca. Ritlyova mengatakan bahwa membaca teks tanpa tugas tambahan dapat dikatakan kreatif karena dengan demikian pembaca mengembangkan fantasinya (Ritlyová, 2014). Namun, tidak semua siswa memiliki tingkat imajinasi yang sama, tetapi mendorong empatisiswa terhadap karakter adalah cara yang efektif untuk membuka dan memupuk imajinasi mereka. Siswa masuk ke sepatu karakter dan hidup melalui petualangan mereka; dengan melakukan ini, mereka menjadi kreatif dan membangun konteks yang bermakna dan dapat dibayangkan (Martín de León, C., & García Hermoso, 2020). Konteks yang dibuat oleh siswa ini akan membantu mereka memprediksi kemungkinan reaksi karakter fiksi terhadap narasi yang diberikan, mendorong siswa tidak hanya untuk membangun dan meningkatkan keterampilan membaca (Jouini, 2008) tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan menulis kreatif. Selengkapnya.....

Jumat, 23 Juni 2023

Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra dalam Praktik Kelas, Desain Kurikulum, dan Pendidikan Guru

Pembelajaran bahasa dan sastra anak telah banyak muncul di lakukan penyelidikan dua dekade terakhir. Seperti yang dijelaskan oleh Harris dan Grenfell, strategi pembelajaran adalah keterampilan, taktik, dan pendekatan yang diambil dari pembelajaran bahasa (Harris, V., & Grenfell, 2014). Pengajaran bahasa dan sastra di jenjang sekolah dasar diwajibkan ini terjadi disebagian besar negara uni Eropa (European Commission, 2008); (European Commission, 2008). Bahasa dasar wajib dengan kurikulum nasional pada sekolah dasar (QCDA, n.d.), tetapi langkah ini baru-baru diterapkan oleh pemerintah. Hasil dari penelitian pembelajaran bahasa dasar menyebutkan bahwa dapat meningkatkan harga diri dari anakanak tersebut, meningkatkan motivasi dan antusias para pelajar untuk mengikuti pembelajaran bahasa dan berkontribusi pada perkembangan sikap yang positif terhadap kebudayaan lain (Blondin, C., M. Candelier, P. Edelenbos, R. Johnstone, A. Kubanek-German & Taeschner, 1998); (Kubanek-German, 1998); (Naysmith, 1999); (Pufahl, I., N. Rhodes, 2000). Para peneliti yang mendalami tentang bilingualisme sudah menyebutkan bahwa peningkatan kesadaran metalinguistik dan metakognitif sebagai keuntungan tambahan (Baker, 2006); (Cummins, 1976); (Hamers, J.F., 1989). Kesadaran atas metakognitif mendorong pengembangan strategi pembelajaran bahasa dan sastra, pada akhirnya potensi untuk meningkatkan kemampuan, pengaturan diri dan pembelajaran secara mandiri. Meskipun strategi pembelajaran memainkan peran yang sangat penting dalam pembelajaran, instruksi dari strategi sendiri bukan merupakan fitur yang umum dari pengajaran di kelas (Beckman, 2002). Lebih lanjut kurikulum mengusulkan strategi sebagai salah satu bagiannya. Banyak instruksi strategi untuk pelajar muda dan dewasa. Banyak peneliti yang menjelaskan bahwasanya strategi pada anak-anak yang lebih muda dimulai dari aktivitas yang bersifat spesifik seperti tugas yang nantinya berkembang menjadi keterampilan yang lebih kompleks dan fleksibel dan dapat digeneralisasikan (Brown, A.L., J.D. Bransford, R.A. Ferrara, 1983).


Praktik dan Strategi 

Untuk mengukur output siswa, guru menggunakan suatu pendekatan dalam pengajaran bahasa dan sastra. Selain hal itu, mulai keterkaitan program, guru akan menyampaikan pengajaran secara pragmatis kepada siswa yang mengarah pada output yang lebih produktif. Program pengajaran yang dapat digunakan untuk menggabungkan penggunaan pengajaran bahasa dan sastra yaitu program pengajaran bilingual dan multibahasa yang digunakan di ruang kelas (Adrian Abarquez, 2021). Penggunaan bilingual dan multilingualisme dalam pengajaran bahasa dan sastra, yang mana bilingual fokus pada bahasa pertama dan kedua yang telah peserta didik pelajari di ruang kelas. Sedangkan multilingualisme, satu bahasa tambahan disebutkan, termasuk bahasa ibu. Pendekatan semacam ini dapat digunakan untuk menghilangkan stres para siswa atas pemerolehan bahasa target. OBE (Outcomes-Based Education) merupakan program dari Departemen Pendidikan, dimana program ini memungkinkan para siswa untuk menggali hasil yang lebih realistis berdasarkan pengetahuan tentang topik yang diajarkan oleh guru. Keefektifan pelaksanaan OBE sangat bergantung pada pendidik. Dikarenakan kesadaran kompetitif dan pengetahuan OBE sangat penting. Menurut Kilen, OBE dapat memberikan kontribusi pada prestasi belajarsiswa dikarenakan memotivasi instruktur untuk dapat mempersiapkan dirisecara maksimal (Killen, 2000). Menurut Ramoroko, karakteristik dari guru yang menggunakan OBE dengan cara yang memungkinkan mereka untuk menunjukkan kontrol atas proses dan pendekatan tersebut (Ramoroka, 2017). Pendekatan tersebut berusaha untuk menciptakan aktivitasinteraktif antara seorang guru dan siswa melalui alat atau media yang dipilih oleh instruktur. Seorang guru dapat melakukan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai kegiatan dan materi yang telah dihasilkannya. Selanjutnya salah satu metode pelaksanaan pembelajaran komunikatif adalah melalui penggunaan media. Menurut Lynch, media dapat memaksimalkan jumlah partisipasi dalam pendidikan. Artinya, penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar dapat sangat membantu seorang guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang komunikatif dan efektif (Lynch, 2008). Menurut Furnhan dkk,siswa merasa lebih terlibat dan berhasil secara akademis menggunakan media. Penggunaan media di dalam kelas diperkirakan akan memudahkan seorang guru dalam menyampaikan perintah dan informasi pembelajaran kepada siswanya (Furnham, A., & Chamorro-Premuzic, 2005). Verner menyebutkan dalam mengajar sastra, selalu saja dimulai dari mana siswa berasal. Memicu minat siswa yang melibatkan mereka. Guru memberikan bahan bacaan kepada murid-muridnya untuk dapat mempersiapkan kegiatan di kelas berikutnya, yang artinya guru mengajar pembelajaran misalkan dongeng, lagu, buku komik, dan materi yang menarik lainnya untuk dibaca siswa (Verner, 2008). Guru juga dapat menggunakan majalah, surat, buku harian, dan jurnal yang terbaru di kelas membaca. Setelah peserta didik merasa nyaman dengan materi yang diberikan oleh guru, mereka dapat melanjutkan ke tugas menulis proses ini tidak perlu terlalu cepat. Disarankan kepada siswa untuk dapat megerjakan tugas secara perlahan sampai mereka mengembangkan semangat dan kepercayaan diri untuk berpartisipasi secara aktif. Verner juga percaya bahwa guru juga harus menjelaskan tujuan dari pembelajaran dengan pemilihan dan materi yang disertakan (Verner, 2008). Tidak semua siswa akan menghargai atau memahami mengapa pembelajaran sastra diajarkan di kelas. Namun, orang yang berbeda memiliki alasan subjektif mereka sendiri untuk mempelajari atau membaca sastra. Beberapa pembaca menggunakannya sebagai alat untuk komunikasi. Beberapa mungkin membaca untuk mendapatkan informasi, sementara yang lain membaca untuk hiburan. Ini karena penulis percaya bahwa orang beragam dalam banyak aspek Widdowson menjelaskan bahwa teks sastra bersifat unik karena dalam karya sastra apa dan bagaimana suatu tekstidak dapat dipisahkan. Orang-orang mengomunikasikan pikiran, perasaan, dan aspirasi mereka melalui apa yang mereka tulis dan baca (Widdowson, 1975). Pembaca dapat berkomunikasi (dengan cara) dengan pemikiran penulis melalui proses membaca. Dia lebih jauh menggarisbawahi bahwa memahami bagaimana sastra berkomunikasi melibatkan pemahaman tentang apa dan bagaimana. Hal ini menunjukkan bahwa teks sastra tidak dapat dengan mudah diparafrasekan dan tidak ada interpretasi tunggal terhadap isinya. Widdowson berpendapat bahwa dalam mengajar sastra, sangat penting bagi siswa untuk memahami bagaimana pilihan mengomunikasikan pikiran atau pesan dan harus mencoba untuk berhubungan dengan konten (Widdowson, 1975). Apresiasi sastra dapat terjadi ketika peserta didik memahami teks yang dibacanya. Rosenblatt sebagaimana dikutip dalam Celce-Murcia, 2014) mendefinisikan teks sastra melalui pembaca yang berinteraksi dan menafsirkannya. Dia berpendapat bahwa cara umum untuk membedakan karya sastra adalah melalui pemeriksaan teks(Celce-Murcia, M., Brinton, D. M., & Snow, 2014). Kramsch di sisi lain, menunjukkan bahwa bentuk gramatikal memainkan peran penting dalam bagaimana pembaca memahami dan berinteraksi dengan teks sastra (Kramsch, 2014). Ia menambahkan, seorang pembaca memiliki beragam pilihan untuk menyampaikan sebuah pesan. Pilihan bentuk gramatikal memungkinkan penulis dan audiens untuk mendefinisikan informasi lama dan baru berdasarkan konteks dan situasi yang mereka rasakan. Demikian pula, Carter percaya bahwa pendekatan berbasis bahasa untuk mengajar sastra berpusat pada peserta didik, berbasis aktivitas, dan berorientasi pada proses (Carter, 1996). Dia menyatakan bahwa tugas-tugas kelas sangat berharga dan membantu mereka dapat merangsang pelajar untuk menafsirkan teks dengan melibatkan mereka dalam proses pembuatan makna. CelceMurcia menghubungkan dan menggarisbawahi pentingnya penokohan dalam pengajaran teks sastra dengan mendefinisikannya sebagai proses menilai karakter berdasarkan apa yang mereka katakan dan lakukan (Celce-Murcia, M., Brinton, D. M., & Snow, 2014). Hal ini juga melibatkan bagaimana penulis teks menggambarkan karakter. Mempertimbangkan hal ini, untuk memicu partisipasi siswa, guru dapat memulai dengan meminta mereka untuk menggambarkan karakter menggunakan kata sifat. Mereka juga dapat mengumpulkan gambar yang menggambarkan tindakan dan gambar karakter.


Desain Kurikulum dan Pendidikan Guru 

Pengembangan kurikulum berkaitan erat dengan pendidikan guru dan penggunaan sumber daya. Beberapa penelitian telah menyoroti kekurangan kurikulum sekolah dasar, karena fakta bahwa mereka terlalu menekankan pentingnya menghapal dan meniru (Murphy, V. A. &Evangelou, 2016). Tren tantangan lain yang khas Asia, adalah kenyataan bahwa beberapa kurikulum dipandu oleh pasar, sementara yang lain tidak terkait erat dengan kebijakan pendidikan (Shing, 2016). Kurikulum hendaknya menyediakan waktu yang cukup untuk kegiatan dan tugas yang berbeda, tidak menyerahkan alokasi waktu hanya kepada guru (Evangelou, M., Sylva, K., Kyrlacou, M., Wild, M. & Glenny, 2009). Selain itu, kurikulum PAUD-SD harus membantu anak-anak membuat hubungan antara pembelajaran bahasa dan dunia anak-anak prasekolah sampai di bangku sekolah dasaritu sendiri untuk meningkatkan efektivitas program. Selengkapnya.....

Rabu, 21 Juni 2023

Mediasi Bahasa Indonesia

Membaca sastra menghubungkan dengan teks, dan melalui teks semacam komunikasi antarbudaya, dan mediasi yang sekarang secara luas ditetapkan sebagai pendidikan bahasa. Cook, Gracia dan Wei berpendapat bahwa untuk dapat meningkatkan penggunaan terjemahan di semua tahapan pembelajaran bahasa, untuk pendidikan tinggi pembelajaran bahasa harus bersifat aditif daripada subtraktif, komprehensif daripada eksklusif (Cook, 2010); (Garcia, O., & Wei, 2014). Banyak tekssastra yang bersifat multibahasa dan multikultural, ini semua mengacu pada tujuan utama dari pembelajaran bahasa sebagai persiapan untuk peran mediasi. 

Kita harus mencatat potensi untuk pelajar bahasa dari ide-ide yang terbaru dari sebuah teks kreatif dan kreativitas sebagai versi, melalui internet, multimodally, adaptasi, intervensi, partisipasi, situs web penggemar (misalnya Harry Potter), parodi, dan lainnya. Pelajar menghadapi dunia yang terus berubah-ubah serta interpretasi dengan respon yang diperebutkan yang membutuhkan mediasi, hal ini juga di tawarkan oleh sastra paradikmatik. Pembelajar hari ini harus lebih dari sebelumnya yang mana harus berani tampil dalam perbedaan, keragaman, dan variasi yang sebelumnya tidak berpengaruh dan untuk mengklarifikasi sikap sebagai tanggapan. Sastra tidak boleh dianggap sebagai teks klasik, tetapi sebagai tulisan yang kreatif melibatkan imajinasi dan bahkan hasrat, dan dapat diakses di berbagai tingkatan, hingga analisis yang lebih intelektual. Selengkapnya.....

Senin, 19 Juni 2023

Pengenalan dan Pembelajaran Bahasa Abad ke-21

Kesulitan yang signifikan untuk pembelajaran bahasa dan sastra, misalnya saja permasalahan yang banyak dijumpai oleh para pendidik di belahan dunia yaitu tentang strategi pembelajaran bahasa dan sastra anak. Banyak pendidik baik pendidik yang tradisional maupun modern kurang mampu memahami bagaimana pembelajaran bahasa dan sastra untuk anak yang ujungnya pada hasil yang sukses yang dicapai oleh peserta didik. Integrasi dan perkembangan teknologi serta tumbuhnya kesadaran akan keberagama kebudayaan dan globalisasi telah mengubah konsep pembelajaran yang dulunya konservatif menjadi pembelajaran abad 21 (Borsheim, C., Merritt, K., & Reed, 2008).

Ide yang dicetuskan tersebut berfokus pada peserta didik untuk dapat memperoleh atau mengambil informasi, mengatur dan mengelola informasi, menilai relevansi, kualitas, dan kegunaan informasi,serta menciptakan informasisecara benar dengan menggunakan sumber daya yang ada (Educational Testing Service, 2007). Kemampuan seperti inilah yang harus dimiliki pembelajar modern untuk dapat bertahan di pasar yang semakin mengglobal (Pacific Policy Research Center (PPRC), 2010). salah satu fokus dari program abad 21 adalah bahasa, yaitu komunukasi yang efektif. Kemampuan yang dibutuhkan dalam budaya saat ini adalah “komunukasi yang efektif”,seperti kerjasama, keterampilan interpersonal, akuntabilitas pribadi, tugassosial dan sipil, dan komunikasi yang interaktif. Untuk mengenali konteks multibahasa dan multikultural yang baru untuk pembelajaran bahasa, dipahami potensi sastra untuk komunikasi dan mediasi antarbudaya (Kramsch, 2014); (Council of Europe, 2018).

Dokumen kurikulum terbaru secara global meminta para pendidik bahasa untuk dapat mempromosikan secara luas dan komplek, yang mana ini semua bertujuan terhadap penguasaan bahasa sederhana, kekritisan, komunikasi dan empati antarbudaya, kreasi dan inovasi, kemandirian, kerja tim, etika dan kecerdasan emosional, dan keterampilan abad ke-21 lainnya yang dapat kita terapkan (Naji, H., Subramaniam, G., & White, 2019). Kramsc meminta kita semua untuk berpikir kembali tentang pembelajaran bahasa sebagai mata pelajaran multibahasa (Kramsch, 2009); (Kramsch, 2014). Ada batasan-batasan antara bahasa, budaya, dan negara yang mana ini semua teriritasi dengan adanya migrasi dan mobilitas yang semakin menjadi sebuah norma bagi kebanyakan orang, bersama dengan interkoneksi yang meluas oleh internet.

Bahasa dan sastra sering tercampur dan mendorong perhatian pengguna pada sifat fiktif dari bahasa nasional yang dianggap paling benar. Pengakuan tentang pemahaman keragaman bahasa modern serta dasar untuk tekssastra, perlu dipelajari dan dinegosiasikan oleh pengguna bahasa. Sastra secara prototipikal berurusan dengan yang di namakan dengan “batas” tempat,situasisosial ekonomi, kelas, agama, jenis kelamin, bahasa, dan gaya. Membaca sastra kita perlu sebuah pemahaman apa dan siapa yang terpinggirkan dan mengapa, serta kita juga perlu masuk ke dunia imajinatif (Maginess, 2019). Sedangkan belajar bahasa, menurut Kramch memiliki hal yang istimewa dan ada tantangan tersendiri untuk menempati hubungan marginal dengan bahasa yang mereka pelajari (Kramsch, 2009).

Penelitian tentang pemerolehan bahasa kedua menunjukkan pentingnya fokus pada bentuk linguistik yang di pandang tepat untuk pembelajaran bahasa (Schmidt, 2010). Begitu pula dengan teks sastra, yang mana memiliki perhatian yang sama(Peplow, 2016). Baru-baru ini, keterlibatan emosional dan perasaan sangat disoroti sebagai bagian dari terpenting dan yang mengharukan dalam pembelajaran bahasa (Bigelow, 2019). Memiliki arti dan yang mengharukan ini semua diolah lebih dalam lagi melalui teks sastra yang disesuaikan dengan pembelajaran anak. Kritik terhadap materi komersional baik internasional dan nasional yang digunakan untuk mendukung pembelajaran bahasa menunjukkan peran yang sangat penting bagi sastra. Sastra berurusan tentang isu-isu “besar”, kematian, cinta, kehidupan, dan hubungan. Hal ini memiliki relevansi pribadi (Maley, A., & Kiss, 2018). Selengkapnya.....

Minggu, 18 Juni 2023

Perkembangan Sastra Anak

Sastra sering menjadi landasan budaya yang dapat menyatukan masyarakat dan mengikat mereka bersama dalam berbangsa. Yang terbaik, ia dapat menawarkan jembatan antara populasi asing dan bekerja untuk mendorong pemahaman antara kelompok yang berbeda dan kelas sosial. Aspek-aspek ini terutama benar dalam kaitannya dengan sastra anak-anak internasional, mengingat kesederhanaan bahasa dan pesannya serta potensi pengaruhnya terhadap pembaca yang mudah dipengaruhi. Pada dasarnya, sastra anak digunakan sebagai sumber pendidikan, dimaksudkan untuk menginisiasi anak ke dalam aklimatisasi sosial normatif.

Namun, pada saat yang sama, dapat digunakan sebagai alat untuk mengindoktrinasi anak-anak ke dalam hegemoni budaya, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa filosofi yang disponsori negara yang telah menggunakan strategi ini di masa lalu. Dalam tinjauannya tentang sastra anak-anak, sarjana Sheila Ray telah menyarankan bahwa pengembangan sastra anak-anak dalam suatu masyarakatsering mengikuti pola standar kemajuan. Ketika suatu budaya mencapai kedewasaan tertentu, penciptaan teks tertulis muncul sebagai aspek alami dari evolusi masyarakat. Anak-anak dalam budaya ini secara mandiri tertarik pada karya-karya terpilih yang memiliki daya tarik inti untuk kebutuhan mereka yang berbeda dan kemudian menyesuaikan cerita-cerita ini untuk diri mereka sendiri. Biasanya, buku-buku berorientasi dewasa yang paling mungkin menarik minat mereka adalah bentuk-bentuk dongeng dan sajak yang lebih sederhana.

Sementara hari ini kita mengasosiasikan dongeng hampir secara eksklusif dengan pembaca anak-anak, pada awalnya, mereka diciptakan lebih sebagai refleksi dari mitologi daerah yang diteruskan melalui tradisi lisan. Namun, karena materi pelajaran mereka sering beralih ke magis dan fantastis, mereka cenderung menjadi pasangan yang cocok untuk pikiran muda. Akibatnya, buku dongeng seperti Kinderund Hausmärchen (1812; Cerita Populer Jerman) oleh Brothers Grimm termasuk di antara rilis populer pertama untuk anak-anak di pasar penerbitan mana pun. Ketika suatu budaya mencapai kedewasaan tertentu, penciptaan teks tertulis muncul sebagai aspek alami dari evolusi masyarakat. Dalam tinjauannya tentang sastra anak-anak, sarjana Sheila Ray telah menyarankan bahwa pengembangan sastra anak-anak dalam suatu masyarakatsering mengikuti pola standar kemajuan.

Saat ini, sastra anak sedang mengalami evolusi baru yang ditandai menuju globalisasi, di mana karya sastra dapat melewati perbatasan dengan lebih mudah, saling mempengaruhi, dan menciptakan warisan budaya penyerbukan silang yang, untuk pertama kalinya, secara sah dapat dianggap sebagai sastra anak-anak yang benar-benar internasional. Selain itu, sifat sastra anak-anak yang lebih sederhana dalam hal bahasa yang lebih mendasar dan plot konseptual yang lebih mudah telah, dalam banyak kasus, membuatnya lebih dapat diterjemahkan daripada rekan-rekan dewasa mereka, seperti yang ditunjukkan oleh karya-karya awal yang populersecara internasional dan sering diterjemahkan seperti karya remaja Daniel Defoe. kisah petualangan Robinson Crusoe (1719) atau Jonathan Swift’s Perjalanan Gulliver (1726). Namun, sementara narasi tertentu telah dianggap lebih universal secara internasional berkat tema dan karakternya yang luas, karya sastra anak-anak lainnya jauh lebih spesifik secara ideologis, karena atmosfer geopolitik negara asalnya.

Pada abad kedua puluh, tujuan ideologis telah mendorong evolusi banyak literatur periode dan budaya karya anak-anak yang mendukung apartheid, komunisme, dan totalitarianisme telah menjadi beberapa contoh gelap dari manipulasi halus semacam ini. Di Afrika Selatan, misalnya, perkembangan sastra anak berada di garis bidik campuran paksa dari beberapa budaya seperti Afrikaners, India, Zulus, Khoisan, dan kelompok etnis lainnya. Buku anak-anak Afrika Selatan awal sering mendokumentasikan mitologi penduduk asli, namun, beberapa kritikus menuduh kompilasi ini tidak menarik baik dalam metodologi maupun tujuannya. 

Demikian pula, berbagai administrasi politik Cina komunis dan bekas Jerman Timur telah berusaha menggunakan sastra anak-anak sebagai sarana untuk memfasilitasi dan mengarahkan arahan propagandis. Pada tahun 1979 pemimpin partai China Deng Xiaoping mengeluarkan proklamasi bahwa semua sastra, termasuk sastra anak-anak, “harus menghidupkan kembali dan meneruskan tradisi revolusioner Partai dan rakyat kita, menumbuhkan moral dan kebiasaan yang baik, dan berkontribusi pada pembangunan peradaban sosialis dengan tingkat budaya dan ideologi yang tinggi. Era pembatasan ini ditandai dengan serangkaian buku yang menunjukkan anak-anak meninggalkan praktik “sesat” dari prakomunis Cina untuk merangkul ideologi yang lebih diterima yang dimaksudkan untuk memajukan nasionalisme dan singularitas pendapat. Dalam tiga puluh tahun terakhir, sastra anak-anak China telah mulai melihat beberapa pengaruh ideologisnya yang keras melunak karena kebijakan nasional yang dilonggarkan telah memungkinkan penerimaan yang lebih besar dari cerita masa lalu China. Dalam iklim yang lebih baru ini, buku-buku seperti 365 Ye Gushi (1986; Stories for 365 Nights) yang populer, yang diedit oleh Lu Bing, telah menjadi sangat populer, sebagaimana dibuktikan oleh perkiraan angka penjualannya sebesar 4,3 juta eksemplar. Sementara masih mempertahankan keyakinan bahwa standar kehidupan moral yang benar sangat penting untuk sastra anak-anak, intrik politik Cina yang nyata sebagian besar telah dihilangkan demi analog yang lebih abstrak. Secara khusus, Lu Bing, seorang ahli teori Marxis untuk pemerintah, menyatakan bahwa buku anak-anak “harus mendidik generasi baru untuk berkembang secara moral, intelektual dan fisik dan melatih kekuatan baru yang vital untuk empat modernisasi.

Pada periode baru ini, sastra anak-anak harus fokus pada Pendidikan ideologi dan moral komunis, pendidikan sains dan pendidikan demokrasi.” Namun, meskipun masih dikelola dengan hati-hati, sastra anak-anak pada periode pasca-Mao Tsedong sebenarnya menandai semacam kemajuan dari ideolog komunis sebelumnya yang sangat bergantung pada sensor terang-terangan serta kurangnya toleransi terhadap tujuan individualis dalam pengaruh mereka terhadap pikiran muda. Sastra normatif dalam era pembatasan ini ditandai dengan serangkaian buku yang menunjukkan anak-anak meninggalkan praktik “sesat” dari pra komunis Cina untuk merangkul ideologi yang lebih diterima yang dimaksudkan untuk memajukan nasionalisme dan singularitas pendapat. Dalam tiga puluh tahun terakhir,sastra anak-anak China telah mulai melihat beberapa pengaruh ideologisnya yang keras melunak karena kebijakan nasional yang dilonggarkan telah memungkinkan penerimaan yang lebih besar dari cerita masa lalu China. Dalam iklim yang lebih baru ini, buku-buku seperti 365 Ye Gushi (1986; Stories for 365 Nights) yang populer, yang diedit oleh Lu Bing, telah menjadi sangat populer, sebagaimana dibuktikan oleh perkiraan angka penjualannya sebesar 4,3 juta eksemplar. Sementara masih mempertahankan keyakinan bahwa standar kehidupan moral yang benarsangat penting untuk sastra anak-anak, intrik politik Cina yang nyata sebagian besar telah dihilangkan demi analog yang lebih abstrak. Secara khusus, Lu Bing, seorang ahli teori Marxis untuk pemerintah, menyatakan bahwa buku anak-anak “harus mendidik generasi baru untuk berkembang secara moral, intelektual dan fisik dan melatih kekuatan baru yang vital untuk empat modernisasi. Pada periode baru ini, sastra anak-anak harus fokus pada Pendidikan ideologi dan moral komunis, pendidikan sains dan pendidikan demokrasi.” Namun, meskipun masih dikelola dengan hati-hati, sastra anak-anak pada periode pasca-Mao Tsedong sebenarnya menandai semacam kemajuan dari ideolog komunis sebelumnya yang sangat bergantung pada sensor terang-terangan serta kurangnya toleransi terhadap tujuan individualis dalam pengaruh mereka terhadap pikiran muda.

Sastra normatif dalam Perkembangan sastra anak-anak di wilayah geografislain telah menawarkan beberapa manfaatsosial tambahan yang mengejutkan. Misalnya, beberapa bahasa yang terancam punah di Inggris telah dilestarikan melalui rilis teks remaja unik yang diterbitkan hanya dalam bahasa yang memudar ini,seperti buku bergambar berbahasa Manx karya Brian Stowell, Gaelg Trooid Jallooghyn: Manx through Pictures (1968). Irlandia juga telah mendorong penerbitan lebih banyak buku anak-anak berbahasa Gaelik secara bersama-sama upaya untuk memperkenalkan kembali bahasa asli kepada generasi pembaca baru. Robert Dunbar telah menyarankan bahwa kebangkitan sastra anak-anak berbahasa Irlandia ini telah menyebabkan “perkembangan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, di mana ia telah dikaitkan dengan diskusi politik, pendidikan, dan ideologis yang lebih luas tentang tempat bahasa Irlandia di Irlandia saat ini.” Lebih jauh, setidaknya dalam satu kasus, sastra anak-anak bahkan telah membantu dalam penciptaan bahasa baru. Orang-orang Hmong nomaden hampir unik dalam masyarakat kontemporer karena kurangnya bahasa tertulis. Tergusur dari tanah air mereka di Asia Tenggara, mereka baru-baru ini mendapat manfaat dari program yang memanfaatkan buku anak-anak yang ditulis dalam sistem penulisan yang baru didirikan untuk mengajari anggotanya cara membaca bahasa ibu mereka.

Untuk pertama kalinya, sastra anak akan menjadi fondasi sastra budaya, bukan produk sampingan. Kritikus seperti Rosie Webb Joels juga berpendapat bahwa sastra anak-anak memiliki potensi untuk mendorong internasionalisme dan pemahaman global melalui terjemahan karya-karya lintas budaya, sehingga memaparkan pembaca muda pada peristiwa dan kebiasaan di seluruh dunia, bahkan mungkin mempromosikan toleransi. Secara khusus, dia mengutip The Boys of St. Petri (1991) oleh penulis Denmark Bjarne Reuter dan ikon Het Achterhuis (1947; Diary of a Young Girl) oleh korban Holocaust Belanda Anne Frank sebagai contoh buku yang secara dramatis dapat mengubah persepsi anak di dunia. Tapi mungkin, yang paling penting, buku anak-anak internasional bertindak sebagai pintu gerbang, menawarkan pembaca kesempatan untuk membenamkan diri dalam kata-kata tertulis dari bahasa mereka sendiri. Dalam kata-kata Sheila Ray, “pada akhir abad kedua puluh, ada kepercayaan bahwa literasi sangat penting. Bahkan di masyarakat di mana teknologi informasi maju, keterampilan membaca yang baik sangat penting untuk memanfaatkannya, dan umumnya dianggap bahwa cara terbaik untuk memperoleh kefasihan adalah melalui latihan membaca; buku anak-anak dengan demikian merupakan kebutuhan.” Selengkapnya.....

Sabtu, 17 Juni 2023

Perkembangan Bahasa Anak

Penguasaan tentang bagaimana seorang anak akan belajar berbicara sangat unik dan membingungkan untuk dipahami oleh orang dewasa. Kemampuan mental juga tampak sangat berbeda dalam banyak hal, namun dia menguasai struktur bahasa ibunya sampai usia lima tahun. Jenis kata-kata yang digunakan anak tersebut dalam tahun pertama adalah mengenai objek, orang, dan tindakan (Merkel-Piccini, 2001). 

Anak-anak mungkin sering mengakatan “Ibu”, “Ayah”, “Minum”, “Makan” (ini kata-kata yang umum diucapkan). Anak-anak tidak hanya menirukan apa yang mereka dengar dan lihat yang ada disekitarnya. Ini semua menjadisebuah proses dari pembelajaran yang terlibat jauh dan banyak secara kompleks. 

Dimulai dari mereka pertama kali berbicara, anak-anak menyadari bahwa bahasa adalah sebuah aturan yang mendasari bahasa yang mereka gunakan. Alih-alih setiap tahapan memiliki tata bahasa dengan aturan pemikirannya sendiri-sendiri. Seseorang tidak dapat mempelajari keaktifan anak melalui tata bahasa sampai dia memasukkan dua kata bersama-sama untuk membuat kalimat aktif. Ini terjadi sekitar anak berusia delapan bulan. Beberapa peneliti Amerika bersepakat dengan tingkatan ini. Selengkapnya.....

Jumat, 16 Juni 2023

CURRENT ISSUES PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA ANAK

Dewasa ini, komunikasi adalah elemen sangat penting untuk mendukung kehidupan manusia. Komunikasi merupakan sebuah proses transisi informasi dari satu orang ke orang lain (Roel, B.D., Ross, 2011). Jika orang tidak dapat menguasai bahasa, penyebab yang akan di timbulkan adalah kegagalan untuk berkomunikasi dan konsekuensi serius bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebagai contoh dalam bidang pendidikan, yang mana guru gagal dalam berkomunikasi dengan muridnya, memiliki kemungkinan besar bahwasanya siswa tersebut tidak akan merasa percaya diri untuk tampil di acara sekolah. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penguasaan bahasa menjadi bagian yang sangat penting dalam hal berkomunikasi.

Akhir-akhir ini, telah terjadi pergeseran dalam bidang pembelajaran dan pengajaran bahasa dengan penekanan yang lebih besar pada belajar dan mengajar pada guru. Yang mana pergeseran fokus dari guru ke peserta didik telah menyebabkan para peneliti untuk melakukan studi yang berbeda tentang karakteristik peserta didik dan situasi belajar (Esim Gürsoy and Elif EkEn, 2018); (Bialystok, 1981). Dengan demikian, peserta didik dan perannya dalam hal proses pembelajaran telah menjadi perhatian utama di sebagian besar dari penelitian.

Sejalan dengan pergeseran minat baru ini, pertanyaan muncul tentang bagaimana pelajar memproses informasi yang baru yang mana telah menjadi penting dan ini semua akan mendorong peneliti untuk menyelediki strategi pembelajaran bahasa dari pelajar (Cohen, 1998); (O’Malley, J. M. and Chamot, 1990); (Oxford, 1990); (Wenden, A. and Rubin, 1987). Hal inisesuai pernyataan dari Nyikos dan Oxford bahwasanya belajar itu dimulai dari pelajar itu sendiri (Nyikos, M. and Oxford, 1993). Oleh sebab itu, belajar seharusnya dianggap sebagai kompetensi utama yang diharuskan untuk dilengkapi oleh peserta didik (Strakova, 2013).

Program sastra kontemporer anak-anak yang dilaksanakan oleh pusat pengembangan kurikulum bertujuan untuk mempromosikan membaca. Dalam sebuah penelitian oleh Kow, mengatakan bahwa negasi dalam sastra anak-anak memiliki ketegangan antara apa yang orang dewasa pahami sebagai sastra anak-anak dan apa yang dibayangkan oleh anak tersebut sebagai sastra (Kow, 2006). Maka pertanyaan akan muncul di benak kita bahwasanya apakah anak-anak seharusnya mendapatkan kesenangan dari apa yang mereka baca yaitu buku atau mereka belajar darinya?

Sebuah minat baru dalam sastra secara bertahap muncul di dalam kurikulum bahasa asing seperti yang ditunjukkan dalam studi terbaru (misalnya (Hall, 2015); (Matos, 2012); (Paran, 2010); (Sell, 2015) membuktikan relevansi yang berkembang dari pendekatan pedagogis untuk pengajaran dan pembelajaran bahasa asing. Hal ini juga memberikan praktik dimana siswa untuk mengembangkan keterampilan bahasa, karena literatur-literatur menghadapkan kepada siswa pada tema yang lebih kompleks dan penggunaan bahasa yang terkini (Lazar, 1993). Selain itu juga, siswa yang berasal dari luar daerah tempat mereka tinggal menuntut pendekatan yang berbeda dari dimensi budaya (Matos, 2012). Studisastra memberikan kontribusi di kelas bahasa yang memberikan para siswa ini keterampilan antarbudaya yang semakin diperlukan di dunia global kontemporer. Sebagai seorang pendidik, kita dapat menggunakan studi sastra untuk mempersiapkan siswa yang menghadapi kompleksitas dunia global. Selengkapnya.....

Kamis, 15 Juni 2023

Problematika Keterampilan Berbahasa

Selama ini pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah sudah mengenalkan dengan empat keterampilan berbahasa yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemudian pada kurikulum Merdeka Belajar ada dua tambahan yakni mempresentasikan dan memirsa.

1. Permasalahan Keterampilan Menyimak 

Keterampilan menyimak merupakan keterampilan berbahasa pertama yang dikuasai anak. Dalam pembelajarannya, keterampilan menyimak memiliki permasalahan tersendiri. Iskandarwassid dan (Iskandarwassid & Sunendar, 2011) menyampaikan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, penggunaan strategi pembelajaran menyimak masih berkutat dengan pola lama, yaitu siswa mendengar dan berupaya menjawab pertanyaan seputar bahan simakan.

a. Permasalahan tes kompetensi menyimak 

Pelaksanaan pembelajaran dan tes menyimak tampaknya kurang mendapat perhatian layaknya keterampilan berbahasa yang lain. Belum tentu semua guru mengajarkan dan menguji keterampilan menyimak secara khusus. Walaupun sebenarnya keterampilan menyimak sangat dibutuhkan untuk mengikuti pembelajaran berbagai muatan pembelajaran. Hal itu kemungkinan disebabkan oleh anggapan guru bahwa siswa telah memiliki kemampuan yang baik dalam memahami bahasa lisan. Bisa juga disebabkan karena pengembangan tes kompetensi menyimak tidak semudah tes keterampilan berbahasa yang lain (Nurgiyantoro, 2010). 

b. Siswa merasa kesulitan mengidentifikasi isi bahan simakan 

Pembelajaran menyimak di sekolah dasar difokuskan pada kemampuan mengidentifikasi isi atau simpulan bahan simakan. Kemudian untuk materi dongeng, siswa diharapkan mampu mengidentifikasi isi, amanat, tokoh, dan simpulan dari dogeng yang disimak. Permasalahan yang ada selama ini, siswa masih mengalami kesulitan dalam mengidentifikasinya. Hal tersebut ditunjukkan ketika guru memberikan evaluasi keterampilan menyimak, hanya sebagian kecil siswa yang mampu mencapai capaian pembelajaran yang telah ditetapkan (Hakim, 2018); (Rahmawati, 2019). 

c. Siswa kurang memiliki sikap serius dalam mengikuti pembelajaran menyimak

Sikap siswa ketika menyimak juga turut mengambilsumbangsih dalam problematika pembelajaran menyimak di sekolah dasar. Ketidakseriusan siswa disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya variasi dalam pembelajaran, siswa merasa bosan, kurang konsentrasi, dan kurang motivasi dalam menyimak. d. Strategi dan media yang digunakan dalam pembelajaran menyimak masih kurang bervariasi dan bervariasisehingga siswa kurang fokus Di bagian awal telah dibahas pentingnya penggunaan strategi dan media pembelajaran. Jika di dalam kelas, kurang adanya penerapan strategi dan media yang tepat akan membuat siswa lebih tertarik terhadap pembelajaran termasuk pembelajaran menyimak. Di sekolah, guru masih kurang mengeksplorasi penggunaan strategi dan media pembelajaran menyimak. Hal ini berdampak pada keberhasilan pembelajaran menyimak, jika penggunaan strategi dan media kurang maksimal akan menyebabkan capaian pembelajaran yang tidak maksimal (Aprilian, 2017).

2. Permasalahan Keterampilan Berbicara

a. Siswa kurang terampil menyampaikan ide dan gagasannya melalui komunikasi lisan dalam situasi formal. Artinya masih banyak siswa yang belum mencapai ketuntasan dalam keterampilan berbicara. Hal ini dikarenakan siswa merasa kurang percaya diri dalam berbicara sehingga dalam proses pembelajaran siswa menjadi pasif. 

 b. Pengaruh bahasa ibu memberikan permasalahan tersendiri bagi keterampilan berbicara. Penggunaan bahasa ibu dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar memang diperbolehkan terutama di kelas rendah(Ibda, 2017). Hal ini disebabkan karena sebagian besarsiswa di Indonesia menggunakan bahasa ibu yang berupa bahasa daerah di lingkungan keluarga. Akhirnya membuat mereka membawanya ke dalam kegiatan belajar mengajar di kelas (Jazadi et al., 2021). Dalam rangka memperlancar komunikasi dalam pembelajaran, penggunaan bahasa ibu ini tidaklah menjadi masalah serius. Namun akan menjadi permasalahan serius dan berkepanjangan ketika bahasa ibu masih digunakan dalam pembelajaran di kelas atas. Akibatnya siswa menjadi kesulitan dalam menguasai bahasa Indonesia termasuk penguasaan kosakata yang akan berimbas pada rendahnya keterampilan berbicara. 

c. Siswa merasa kurang percaya diri dan gugup saat berbicara di depan forum. Salah satu pembeda kurikulum Merdeka Belajar dengan kurikulum yang lain yakni dimasukkannya keterampilan mempresentasikan ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Keterampilan mempresentasikan muncul karena dilatarbelakangi rendahnya keterampilan berbicara siswa di depan umum. Harapannya ketika keterampilan mempresentasikan diajarkan sejak dini, maka kepercayaan dirisiswa ketika berbicara di depan umum akan baik dan terus meningkat sampai ke jenjang yang lebih tinggi

3. Permasalahan Keterampilan Membaca 

Keterampilan membaca merupakan keterampilan yang dikuasai anak. Jika dua keterampilan lain yakni menyimak dan berbicara, dipelajarisejak anak belum memasuki bangku sekolah dasar. Berbeda dengan keterampilan membaca, biasanya anak akan mempelajari keterampilan membaca ketika sudah memasuki bangku sekolah dasar. Dalam kurikulum Merdeka Belajar juga telah diatur mengenai pembelajaran membaca permulaan tersebut yakni ketika kelas 1 sekolah dasar. Lalu pada kelas 2 sampai kelas 6, siswa akan belajar membaca lanjut. Keterampilan membaca di sekolah dasar juga memiliki beragam problematika, antara lain: 

a. Kesulitan memahami makna, merefleksi, dan mengevaluasi isi bacaan. Pada kelas awal atau fase A (kelas 1 dan 2), siswa diharapkan mampu memahami makna bacaan tersurat kemudian dilanjutkan memahami makna bacaan tersirat ketika mereka memasuki fase B (kelas 3 dan 4). Namun kenyataan di sekolah, masih banyak siswa yang belum mampu memahami makna tersirat. Lebih lanjut pada siswa kelas 5 dan 6 ditemui permasalahan bahwa masih banyak siswa yang belum mampu merefleksi dan mengevaluasi bacaan. Hal ini dirasakan siswa ketika mereka latihan dan mengerjakan soal AKM 2021. Soal-soal yang disajikan dalam AKM literasi merupakan soal yang diadaptasi dari instrumen yang digunakan oleh PISA. Sebagian besar soal-soal tersebut mengukur kemampuan mengintepretasi informasi dari bacaan. 

 b. Rendahnya minat dan motivasi membaca siswa Rendahnya hasil survei yang dilakukan oleh PIRLS dan PISA mampu menunjukkan kondisi keterampilan membaca siswa Indonesia. Suatu hal yang menjadi penyebabnya adalah minat baca dan budaya literasi yang rendah. Salah satu budaya literasi yang sedikit dimiliki oleh siswa adalah budaya membaca (D.M. Andikayana et al., 2021). Apalagi di era digital saat ini, gempuran teknologi bisa memberikan efek negatif seperti halnya gawai. Jika tidak digunakan secara bijak, gawai ternyata memberikan pengaruh negatif pada siswa. Siswa akan kecanduan bermain gawai, baik itu mengakses game, media sosial, atau hal-hal yang lain. Akhirnya mereka menjadi kurang memiliki minat dalam membaca buku. Namun jika gawai digunakan secara bijak, misalnya untuk membaca buku cerita digital yang saat ini banyak tersedia maka tidak mustahil penggunaan gawai akan meningkatkan budaya baca siswa Indonesia. 

c. Kurangnya dukungan keluarga dan masyarakat Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan guru, namun pendidikan anak juga menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat. Selama ini dukungan dari keluarga dan masyarakat mengenai budaya membaca masih kurang. Walaupun di sekolah siswa sudah dibiasakan membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah dan pembelajaran di kelas, namun ketika mereka kembali ke rumah dan tidak menerima dukungan positif dari lingkungan sekitar. Maka mustahil budaya membaca itu akan dimiliki anak. Apalagi jika di lingkungan keluarga lebih menikmati fitur dalam gawai dan tayangan televisi maka anak juga akan lebih tertarik pada suguhan tersebut. Berbeda jika di keluarga juga dibiasakan penumbuhan budaya membaca melalui buku-buku koleksi pribadi maka anak juga akan terbawa pada kebiasaan yang ada.

4. Permasalahan Keterampilan Menulis 

Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang paling sulit dan paling akhir dikuasai oleh seorang pembelajar bahasa. Tak heran jika banyak persoalan muncul dari keterampilan menulis ini. Beberapa permasalahan dalam keterampilan menulis yang dihadapi siswa sekolah dasar antara lain:

 a. Pada keterampilan menulis permulaan tulisan siswa masih kurang rapi Pada awal belajar menulissiswa akan diajari bagaimana menulis huruf lepas dengan benar dan rapi. Kemudian di kelas 2 mereka akan diajari bagaimana menulis huruf tegak bersambung. Walaupun terkesan mudah namun keterampilan menulis permulaan memiliki berberapa problematika seperi tulisan yang tidak terbaca, tulisan kurang rapi, dan hilangnya beberapa huruf. Kondisi seperti ini membutuhkan penanganan yang ekstra dari guru kelas. Guru harus senantiasa memberikan pendampingan kepada siswa dalam melakukan kegiatan menulis permulaan terutama siswa yang mengalami kendala. Pemberian umpan balik sangatlah diperlukan dalam rangka mengatasi masalah tersebut.

 b. Sulitnya menuangkan dan mengembangkan ide Setelah siswa lancar menulis permulaan maka pembelajaran selanjutnya adalah menulis lanjut. Jika merujuk pada kurikulum Merdeka Belajar yang berbasis teks, siswa sekolah dasar dikenalkan dengan berbagai teks seperti narasi, deskripsi, eksplanasi, dan lain-lain. Beragamnya jenis teks ini memaksa siswa untuk terampil menulis teks-teks tersebut. Permasalahan yang ada adalah siswa cenderung mengalami kesulitan dalam menuangkan ide dan gagasan yang ada di kepala mereka. Jika sudah mampu dituangkan biasanya akan mengalami kendala dalam melakukan pengembangan ide. Misalnya kalimat tidak efektif, paragraf yang kurang koheren, dan tulisan yang memiliki banyak ide pokok. 

5. Permasalahan Keterampilan Memirsa 

Pada Abad ke-21 ini keterampilan berbahasa tidak lagi hanya terdiri atas empat komponen yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis saja tetapi bertambah menjadi enam keterampilan. Slaah satunya adalah keterampilan memirsa (Donaghy, 2019; Gador, 2016; Chan, 2020) dalam (Huri et al., 2021). Sejalan dengan itu, pada kurikulum Merdeka Belajar memasukkan keterampilan memirsa untuk melengkapi empat keterampilan berbahasa yang sudah ada sebelumnya. Permasalahan yang sering dihadapi siswa dalam pembelajaran keterampilan memirsa, antara lain: 

1. Masih kesulitan dalam mengintegrasikan berbagai strategi dalam memahami, menafsirkan, dan mengenali isi dan tujuan teks multimodal. Karakteristik keterampilan memirsa adalah melibatkan teks multimodal. Multimodal merupakan (Chen, 2010) proses memahamisimbol verbal dan visual yang digunakan secara bersamaan untuk menimbulkan keterlibatan dialogis dalam sebuah teks. Siswa biasanya masih mengalami kendala dalam memahami maksud teks multimoda yang disajikan dalam kegiatan memirsa tersebut. 

 2. Kesulitan dalam mengeksplorasi informasi Kendala lainnya adalah siswa masih mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan berbagaistrategi untuk memahami dan menafsirkan berbagai teks. Biasanya siswa melakukan kegiatan memirsa tanpa menggunakan strategi yang sebenarnya akan memudahkan mereka. Kendala lain adalah eksplorasi yang dilakukan siswa masih sangat sederhana sehingga mereka sulit untuk sampai pada tahap memirsa kritis. 

 6. Permasalahan Keterampilan Mempresentasikan 

Jika pada bagian sebelumnya dibahas mengenai keterampilan memirsa dan permasalahannya. Kali ini akan dibahas keterampilan mempresentasikan yang juga merupakan pengembangan dari keterampilan berbicara. Mempresentasikan adalah kemampuan menyampaikan gagasan atau tanggapan dengan fasih, akurat, bertanggung jawab. Dalam keterampilan memirsa juga menuntut keterampilan mengajukan serta menanggapi pertanyaan dari penyimak. Namun dalam hal ini masih terdapat beberapa permasalahan yakni siswa masih enggan mengajukan pertanyaan yang tergolong kritis. Dalam menanggapi pun kadang kala jawaban yang diberikan kurang sesuai dengan pertanyaan penyimak. Selengkapnya....

Rabu, 14 Juni 2023

Problematika Bahan Ajar


Komponen pembelajaran yang tak kalah penting dan masih menjadi salah satu problematika adalah bahan ajar. Bahan ajar merupakan atau materi ajar (instructional materials) terdiri atas aspek kognitif, psikomotor, dan afektif yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar capaian pembelajaran yang telah ditentukan. Jenis-jenis materi pembelajaran bahasa Indonesia terdiri atas pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, serta nilai dan sikap (Aisyah, 2020). Problematika pengembangan bahan ajar di sekolah yakni:

Selama ini pemerintah telah menyiapkan beragam bahan ajar untuk siswa dan guru (sebagai pegangan). Bahan ajar yang disiapkan pun beragam, baik itu cetak maupun digital. Namun apa yang disediakan pemerintah tersebut merupakan bahan ajar yang paling sederhana. Harapannya guru mampu mengembangkan sendiri bahan ajar yang disesuaikan dengan lingkungan dan karakteristik siswa. Permasalahannya beberapa sekolah dan guru masih menggunakan satu bahan ajar yakni buku guru dan buku siswa dari pemerintah. Tentu saja hal ini akan berdampak pada penguasaan materi. Materi yang dikuasaisiswa menjadi terlalu sederhana karena tidak ada pengembangan ilmu yang mereka dapatkan melalui bahan ajar. Adanya kurikulum Merdeka Belajar yang mulai diterapkan di beberapa sekolah, memberikan keleluasaan bagi guru untuk mengembangkan bahan ajarnya.

    a. Kesulitan menuangkan ide untuk mengembangkan bahan ajar bahasa Indonesia. Di lapangan masih beberapa guru masih mengalami kendala dalam menuangkan ide yang akan mereka tuliskan di bahan ajar. Bahan ajar seperti apa yang akan dikembangkan masih menjadi kendala termasuk isi yang akan dituangkan di bahan ajar tersebut. Bahan ajar yang dikembangkan masih terlalu sederhana atau terlalu luas. Sebenarnya pengembangan bahan ajar bisa merujuk pada capaian pembelajaran sehingga materi yang dituangkan tidak terlalu sempit ataupun luas.
    b. Kurang memperhatikan karakteristik, potensi, dan perkembangan siswa, serta relevansinya dengan kebutuhan siswa. Bahan ajar yang baik juga perlu memeperhatikan kebutuhan dan karakter siswa. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, pengembangan bahan ajar yang memperhatikan perkembangan siswa salah satunya diwujudkan dalam variasi teks bacaan. Teks bacaan yang diberikan pada siswa kelas awal berbeda dengan teks bacaan untuk kelas lanjut. 
    c. Keterbatasan sumber bahan ajar. Di era Abad 21 ini, Permasalahan tersebutseharusnya bukanlah menjadi kendala dalam pengembangan bahan ajar. Saat ini perkembangan informasi dan pengetahuan sangat berkembang dengan pesat dan terbuka. Pengetahuan dan informasi tidak hanya didapatkan dari sumber cetak, justru sumber elektronik dan digital lebih mendominasi dalam perkembangan saat ini. Namun hal sumber bahan ajar masih saja menjadi salah satu kendala saat ini. Hal ini dibuktikan dengan masih dijadikannya buku ajar dari pemerintah sebagai satu-satunya bahan ajar di kelas. Kondisi ini sangatlah disayangkan, karena jika ilmu yang dipelajari siswa hanya buku tersebut maka pengalaman mereka tidak akan berkembang maksimal.
  d. Pendekatan tematik integratif yang digunakan pada kurikulum terdahulu juga memberikan permasalahan tersendiri pada pengembangan bahan ajar. Adanya integratif ini membuat bahan ajar per muatan menjadi kurang seimbang. Sebut saja ketika muatan bahasa Indonesia bergandengan dengan muatan IPA. Biasanya bahan ajar yang cenderung disajikan adalah bahan ajar IPA kemudian agak mengesampingkan muatan bahasa Indonesia. Misalnya pada muatan IPA mengajarkan mengenai hewan ruminansia kemudian bahasa Indonesia mengusung materi iklan. Di sini kadang kala dijumpai penekanan bahan ajar hanya berfokus pada materi IPA yang dianggap lebih kompleks. Selengkapnya.....

 

Senin, 12 Juni 2023

Problematika Media Pembelajaran



Media pembelajaran juga tidak kalah penting dalam memberikan sumbangsih untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Apalagi untuk siswa sekolah dasar yang masih pada tahap operasional konkrit, media sangat bermanfaat bagi mereka untuk menerjemahkan hal abstrak menjadi hal lebih konkrit. Media pembelajaran memiliki berfungsi sebagai alat bantu mengajar yang ikut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru (Azhar, 2010). Adanya media pembelajaran diharapkan mampu membangkitkan rangsangan pada semua indera. Rangsangan yang diterima oleh alat indra akan memberikan pengaruh untuk ingatan seseorang. Semakin banyak alat indera yang terlibat atau berinteraksi dengan media pembelajaran makan kemampuan otak untuk mengingat dan mengolah informasi akan lebih maksimal. Penggunaan media pada pembelajaran diharapkan akan mempermudah siswa dalam menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah sasar. Akan tetapi selama ini penyediaan media pembelajaran masih menjadi problematika. Media pembelajaran merupakan sarana yang dipergunakan atau dimanfaatkan agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, memperlancar dan mempermudah penyampaian informasi ke arah tujuan yang telah direncanakan. Sebelum guru memanfaatkan media pembelajaran di kelas,sebaiknya guru harus membekali diri dulu dengan dengan pengetahun tentang media pembelajaran. Pengetahuan ini dibutuhkan karena banyak guru yang tidak memahami ikhwal media pembelajaran baik teori, pemanfaatan, pemilihan, maupun pengembangannya. Manfaat dari setiap media pembelajaran bergantung pada kemampuan guru dan siswa untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan pesan-pesan yang terkandung dalam media pembelajaran yang didayagunakan. Sudah banyak studi yang mengungkapkan bahwa pemanfaatan media pembelajaran berdampak pada terwujudnya iklim positif dalam pembelajaran (Marisa, 2010). 

Penggunaan media pembelajaran mampu memberikan gambaran kongkrit pada siswa. Bagi siswa, seringkali materi yang bersifat terlalu abstrak membuat mereka bingung. Disinilah peran media pembelajaran mampu digunakan untuk mengubah konsep abstrak menjadi kongrit. Jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia SD pada materi ide pokok dan kalimat utama, guru bisa menghadirkan media berupa peta pikiran atau multimedia interaktif. Kehadiran media di tengah-tengah pembelajaran akan memotivasi siswa dan ikut terlibat dalam pembelajaran. Akibatnya mereka akan lebih mudah dalam menguasai materi. Ironisnya, penggunaan media ke dalam pembelajaran kurang mendapatkan perhatian dari guru. Guru merasa admistrasi pembelajaran sangat membebani mereka. Begitu juga ketika harus mengembangkan media pembelajaran yang harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Apalagi jika mereka harus membuat media pembelajaran yang sesuai dan mendukung pembelajaran. Kondisi tersebut memberikan beberapa indikasi adanya kurang kreatifnya guru-guru di sekolah dalam mempersiapkan media pembelajaran. 

Media pembelajaran bahasa Indonesia yang digunakan selama ini masih terbilang sederhana yakni gambar, foto, video yang diambil dari YouTube. Kondisi ini memperlihatkan kurang kreatifnya guru sekolah dasar. Sebenarnya jika guru memiliki jiwa inovatif dan kreatif bisa mengembangkan media pembelajaran sendiri. Pada era Abad 21 ini, sumberinformasi mengenai pengembangan media tidak hanya didapatkan dari satu sumber. Guru sebenarnya bisa melakukan pengembangan diri melalui pelatihan-pelatihan yang diinisiasi pemerintah, perguruan tinggi atau bahkan mereka bisa belajar dari YouTube yang menyediakan berbagai video cara mengembangkan media dari mulai media sederhana maupun media yang berbasis digital. Permasalahan yang lain, kadang kala guru sudah membuat media pembelajaran bermuatan bahasa Indonesia akan tetapi kurang sesuai dengan materi pembelajaran. Padahal pemanfaatan media pembelajaran seharusnya memperhatikan materi yang akan diajarkan serta karakteristik siswa. Selain itu, guru juga perlu memiliki keterampilan memilih dan menggunakan media tersebut dengan baik tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang media saja (Hamalik, 2011).

Keterampilan memilih media pembelajaran penting dilakukan karena kelas yang dimiliki guru adalah kelas yang beragam. Beragam karakteristik, gaya belajar, minat, kemampuan kognitif, dll. Tentu sebagai guru yang bijaksana dan profesional harus mampu memfasilitasi mereka dengan baik. Salah satu pertimbangan guru dalam memilih media pembelajaran yang akan digunakan adalah keberagaman yag dimiliki siswa. Tujuannya agar semua karakteristik guru bisa terfasilitasi dengan baik. Begitu juga jika guru ingin menciptakan pembelajaran aktif, kreatif agar efektif serta menyenangkan, guru tidak dapat melepaskan diri dari media pembelajaran. Baik dalam pembelajaran yang sederhana maupun pembelajaran yang menggunakan digital. Jika dalam pembelajaran terjadi kesalahan dalam pemilihan media pembelajaran akan menyebabkan terganggunya pencapaian tujuan pembelajaran. Saat ini media yang dapat digunakan pun tidak terbatas pada media-media sederhana. Pada Abad 21, perkembangan teknologi juga merambah pada dunia pembelajaran. Namun problematika yang selama ini terjadi adalah beberapa guru kurang mampu menggunakan teknologi. Akibatnya pemanfaatan media berbasis digital ke dalam kelas kurang maksimal. Kejadian ini sangat dirasakan saat pembelajaran daring karena adanya pandemi Covid-19 beberapa waktu yang lalu. Kekurangterampilan guru dalam pemanfaatan teknologi memberikan dampak pada kurang maksimalnya pembelajaran daring (Ariesca et al., 2021). Selengkapnya.....
 

Minggu, 11 Juni 2023

Problematika Strategi Pembelajaran



Fenomena pembelajaran Bahasa Indonesia yang terjadi saat ini masih sama dengan apa yang terjadi pada Abad ke-20 seperti yang disampaikan (Freire, 1968) dengan pendidikan ala bank. Di mana peran guru sangat mendominasi. Di era Abad 21 ini pun masih menunjukkan hal yang sama bahwa sebagian besar guru masih cenderung bergaya dogmatis, otoriter, dan hanya memperlakukan siswa sebagai penerima informasi tanpa adanya dialog dan interaksi. Hal ini akan membuat pembelajaran menjadi teacher centre. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang menggunakan pendekatan teacher centre akan cenderung mematikan daya kreatif siswa. Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia untuk membekali siswa keterampilan berkomunikasi menjadi sulit tercapai. Selengkapnya

 

Sabtu, 10 Juni 2023

Problematika Siswa



Beberapa permasalahan mengenai siswa saat sedang mempelajari bahasa Indonesia dibagi menjadi dua faktor yakni internal dan eksternal. Faktor tersebut adalah faktor internal yang berupa afektif, kognitif, dan psikomotor, bahasa pertama, dan kesehatan. Adapun faktor eksternal berupa lingkungan keluarga, sosial ekonomi, dan lingkungan fisik. Selengkapnya 

 

Jumat, 09 Juni 2023

Problematika Guru



Guru sebagai seseorang yang memegang kunci dalam keberhasilan dalam pembelajaran. Peran guru yang sangat penting ini tidak terlepas dari berbagai problematika. Guru masih kurang memiliki sikap profesional dalam melakukan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.

Selanjutnya, problematika mengenai pengembangan diri juga menjadi salah satu permasalahan kualitas guru. Banyak guru di lapangan yang enggan mengembangkan diri mereka dan terlalu nyaman dengan sistem pembelajaran yang selama bertahun-tahun ini dilakukan. Walaupun siswa yang mereka hadapi berganti, tahunnya juga berganti namun guru masih nyaman dengan pembelajaran yang dilakukan selama berpuluh-puluh tahun. Pengetahuan terhadap materi bahasa Indonesia yang diajarkan masih jauh dari yang diharapkan. Hal ini mengakibatkan kurang tercapainya tujuan pembelajaran bahasa Indonesia yang difungsikan untuk membekali siswa agar terampil berkomunikasi.

Kegiatan berburu informasi melalui jurnal, pelatihan, forum ilmiah jarang dilakukan oleh guru. Akibatnya, mereka mengalami ‘kemandegan’ dalam berinovasi. Tentu saja ini akan memberikan dampak bagi terciptanya pembelajaran Bahasa Indonesia yang menarik dan bermakna. Guru juga masih segan dalam kegiatan menulis. Entah menulis ilmiah atau artikel populer. Padahal pada pembelajaran Bahasa Indonesia ada keterampilan tentang menulis. Sebenarnya sebelum mengajarkan bagaimana menulis yang baik dan benar, guru bisa mempraktikkannya terlebih dahulu. Ketika guru bisa memberikan contoh pada siswanya, maka guru akan lebih mudah mengetahui kesulitan siswa. Karena guru mengalamisendiri bagaimana proses menulis, membaca, menyimak, atau berbicara sebagai sebuah keterampilan berbahasa.

Berkaitan dengan teknologi, di era Abad 21 ini, beberapa guru juga masih belum mengaplikasikan teknologi ke dalam pembelajaran. Alasannya adalah karena mereka merasa gagap dengan teknologi. Apalagi guru-guru senior yang lahir pada tahun 1970 ke atas, merasa sangat ketakutan dengan teknologi. Sebenarnya kehadiran teknologi akan memudahkan guru dalam memfasilitasi pembelajaran Bahasa Indonesia. Misalnya penggunaan multimedia, video dari youtube, gamifikasi tentu akan menambah motivasi dan antusias siswa dalam belajar. 

Problematika selanjutnya adalah permasalahan mengenai waktu. Kurangnya waktu dalam meningkatkan kapasitas ilmu juga menjadi sebuah kendala tersendiri (Puspidalia, 2012). Dalam keseharian, guru senantiasa melaksanakan rutinitasnya. Datang ke sekolah, menyampaikan materi, dan pulang. Guru-guru di lapangan mengaku bahwa selama mereka mengajar, banyak waktu yang digunakan untuk melakukan pembelajaran di kelas. Hal ini membuat mereka kehabisan waktu dalam meng-upgrade pengetahuan terkini. Selain itu, kurangnya waktu juga memberikan dampak pada penyusunan administrasi pembelajaran seperti RPP. Sebenarnya pemerintah sudah mengupayakan dalam meringankan beban administrasi guru, namun ternyata masih ada juga guru yang tidak pernah membuat RPP ketika akan mengajar. Selengkapnya...

 

Kamis, 08 Juni 2023

Mutu pembelajaran bahasa Indonesia



standar mutu pembelajaran bahasa Indonesia yang baik maka perlu memperhatikan komponen berikut:

1. Guru 
Guru merupakan kunci utama dalam sebuah pembelajaran. Rancangan pembelajaran ditentukan oleh guru. Dari sini, guru lah yang akan menentukan desain pembelajaran hingga mencapai tujuan yang diharapkan. Apalagi di era globalisasi seperti saat ini, sangat diperlukan guru yang kreatif dan inovatif. Mau tidak mau guru harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Termasuk bagaimana guru mampu memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran sehingga sesuai dengan pembelajaran abad 21. Pemerintah sendiri telah menetapkan empat kompetensi yang harus dimiliki guru yakni: kompetensi profesional, pedagogis, sosial, dan kepribadian. Masing-masing guru berbeda mengalami pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan yang berbeda. Termasuk pengusaan empat kompetensi guru tersebut. Dalam rangka mencapai pembelajaran yang merdeka dan inovatif pemerintah memiliki program guru penggerak. Guru penggerak diharapkan mampu membawa perubahan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik (Satriawan et al., 2021). Harapannya para guru penggerak ini mampu memberikan pengaruh positif untuk rekan-rekannya di lapangan terutama dalam memberikan pembelajaran yang bermakna pada siswa (Sibagariang et al., 2021). Adanya program guru penggerak merupakan salah satu terobosan pemerintah dalam mewujudkan merdeka belajar. Selain kurikulum yang berubah, pemerintah berupaya mengubah kunci pembelajaran yakni guru melalui program tersebut. 

 2. Siswa 
Siswa adalah subjek yang akan menerima pembelajaran. Siswa yang ada di kelas dan akan dihadapi guru adalah siswa yang memiliki latar belakang dan kemampuan berbeda-beda. Dalam kurikulum merdeka belajar, kodrati manusia ini difasilitasi dengan pembelajaran berdiferensiasi. Sebelum pembelajaran, siswa akan melakukan tes diagnostik. Harapannya dengan adanya tes diagnostik, guru bisa memetakan kemampuan dan pengetahuan siswa. Keberagaman siswa juga perlu menjadi pertimbangan guru dalam menentukan media, bahan ajar, dan strategi pembelajaran. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, guru juga perlu memperhatikan perkembangan siswa. Baik itu dalam hal keberagaman yang dimiliki masing-masing individu yang memang tidak ada yang sama serta tingkat perkembangan siswa. Begitu juga dalam perkembangan bahasa dan perkembangan kognitif. Bagaimana siswa mengusai keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis juga tidak boleh luput dari pengamatan guru. Hal ini akan membantu guru dalam menentukan langkah pembelajaran selanjutnya. Pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki tujuan untuk memberikan bekal keterampilan komunikasi pada siswa sehingga guru perlu memperhatikan penguasaan dan perkembangan keterampilan berbahasa tersebut.

3. Bahan Ajar/Materi Ajar
Bahan ajar adalah materi yang akan disampaikan kepada siswa. Pemilihan bahan ajar sangat menentukan pada keberhasilan pembelajaran. Saat ini bahan ajar tidak hanya berasal dari buku teks. Guru dapat mengembangkan bahan ajar sendiri disesuaikan dengan konteks, karakteristik, dan lingkungan siswa berasa. Pemberian bahan ajar yang kontekstual akan membantu siswa dalam menguasai materi yang mereka pelajari (Suryaman, 2015) acompetency to be developed is related to how to guide them so that theyare motivated to learn through the lesson book. A basic principle to be paidattention to is thatstudents are able to build up experiences in language and literaryactivities on the basis of their initial experience.The study indicates the following results. First, a lesson book is ahandbook for students at a level of formal education and used as an instructionalmedium related to a certain subject matter (such as Bahasa Indonesia. Misalnya saja bahan ajar mengenai cerita rakyat, pilihlah cerita rakyat yang memang berasal dari lingkungan siswa. Jika bahan ajar yang diberikan kurang sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa, biasanya akan memberikan dampak pada pencapaian tujuan pembelajaran

4. Strategi Pembelajaran
Di dalam teori pembelajaran, ada banyak pilihan mengenai strategi pembelajaran. Penggunaan strategi pembelajaran sangat diperlukan Ada berbagai strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Namun guru perlu jeli dalam memilih strategi pembelajaran yang akan digunakan. Kekurangtepatan dalam memilih strategi pembelajaran akan membuat tujuan pembelajan sulit tercapai. 

5. Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan salah satu alat bantu dalam menyampaikan informasi atau pesan kepada siswa. Peran media ini sangatlah penting karena dalam pembelajaran bahasa Indonesia, ada banyak materi yang tidak cukup disajikan secara langsung. Hadirnya media pembelajaran dalam sebuah kelas akan memberikan motivasi dan menambah antusiasme siswa dalam belajar. Selengkapnya...

 

Rabu, 07 Juni 2023

Teori Belajar Bahasa Indonesia



Teori Konstruktivisme
Teori ini dicetuskan oleh dua ahli yaitu Lev Vygotsky dan Jean Piaget pada tahun 1978 (Schunk, 2012). Beberapa pembelajaran yang menggunakan teori ini memiliki karakteristik: a. menekankan pada proses belajar bukan mengajar; b. siswa didorong mandiri dan inisiatif; c. siswa didorong melakukan penyelidikan; d. peran pengalaman kritis saat belajar; e. rasa ingin tahu didorong secara alami;

Teori Behaviorisme
Teori ini dicetuskan oleh B. F. Skinner, Ivan Pavlop,J. B. Watson, dan E. L. Thorndike pada tahun 1920-an. Teori ini menyatakan bahwa perubahan perilaku manusia dipengaruhi oleh stimulus. Ada beberapa prinsip dalam teori ini (Takemura, 2014): a. Proses belajar harus mengikuti karakteristik siswa; b. Hasil belajar harus disampaikan kepada siswa, jika salah segera diperbaiki, jika benar segera dikuatkan; c. Tidak boleh memberikan hukuman; d. Guru lebih banyak memberikan instruksi daripada ceramah, disertai contoh; e. Pembelajaran berorientasi pada tindakan dan hasil yang dapat diukur; f. Pengulangan dan latihan diperlukan untuk menjadikan pembiasaan; g. Perilaku diharapkan mendapat penguatan positif, perilaku tidak diharapkan mendapat penguatan negatif.

Teori Humanistik
Teori ini dicetuskan oleh A. Maslow, Carl Rogers, dan Howard Gardner pada tahun 1960-an. Teori ini menyatakan bahwa tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia serta memandang manusia dari aspek filosofis dan psikologisnya (Schunk, 2012). Ada beberapa prinsip yang digunakan teori ini. a. Siswa dikatakan belajar optimal apabila materi memiliki relevansi dengan kebutuhan dan dunianya; b. Belajar harus sesuai dengan persepsi tentang diri pelajar; c. Belajar akan lebih efektif dan bermakna jika siswa terlibat langsung dan mempraktikkannya; d. Belajar menjadi menyenangkan jika siswa mengetahui manfaatnya; e. Kebermaknaan belajar diperoleh jika didasarkan pada kesadaran bukan paksaan; f. Siswa akan mudah memahami materi jika lingkungan kondusif, tenang, dan mendukung; g. Guru berperan sebagai fasilitator.

Teori Kognitif
Teori ini berkembang pada abad 20-an. Menurut teori ini belajar adalah pengaturan stimulus struktur kognitif yang telah terorganisir dalam pikiran siswa berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya (Schunk, 2012). Beberapa prinsip yang dipegang oleh teori ini yaitu: a. Belajar merupakan kegiatan yang berangsur-angsur; b. Belajar harus diawali dari yang mudah menuju ke sulit atau dari yang konkret menuju ke abstrak; c. Latar belakang pengetahuan siswa harus diketahui untuk menentukan langkah berikutnya; d. Pembelajaran berpusat pada siswa dengan mengedepankan proses berpikir; e. Materi dan model menjadi kunci suksesnya pembelajaran; f. Stimulus dari guru diperlukan untuk membangkitkan rasional siswa

Teori Sibernetik 
Teori ini mirip dengan teori Kognitif yaitu mengandalkan pengolahan informasi untuk proses berpikir. Proses belajarsibernetik ditentukan oleh sistem informasi dan proses pengolahannya (Maltz, 2015). Cara belajar sibernetik dapat terjadi apabila siswa mengolah informasi yang diterima, memantau proses pengolahannya, dan menyusun strategi yang tepat sesuai informasi tersebut. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat menerapkan teori ini, Selengkapnya...


 

Selasa, 06 Juni 2023

Konsep Bahasa



Istilah kompetensi bahasa (language competence) mengacu pada pengetahuan bawah sadar tentang tata bahasa yang memungkinkan seseorang menggunakannya untuk memahami masalah kebahasaan. Kompetensi bahasa berbeda dengan performansi bahasa yang justru lebih mengarah kepada aplikasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat beberapa komponen tata bahasa yang mesti dikuasai oleh pendidik dan calon pendidik agar dikatakan memiliki kompetensi dalam berbahasa. Komponen tersebut meliputi: (1) konsep dasar bahasa, (2) teori belajar dan pembelajaran bahasa, (3) pemerolehan dan perkembangan bahasa, (4) kompetensi gramatikal, (5) kompetensi wacana, (6) kompetensi sosiolinguistik, dan (7) kompetensi strategi yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa di kelas (Mustadi et al., 2021). Istilah penggunaan bahasa (language use) merupakan bentuk interaksisosial yang terjadi dalam situasi yang konkrit. Misalnya seseorang yang berada dalam masyarakat, maka ia tidak lagi dipandang sebagai individu yang terpisah dari yang lain. Pemakai bahasa merupakan anggota kelompok sosialnya. Oleh karena itu, bahasa dan penggunaan bahasa tidak diamati sebagai individu tetapi merupakan fenomena sosial. Komponen language use meliputi: (1) komunikasi, (2) interaksi, dan (3) literasi. Selengkapnya...

 

Senin, 05 Juni 2023

Peranan Filsafat Bahasa dalam Mengembangkan Ilmu Bahasa

 



Suryono (2002) mengatakan bahwa uraian terdahulu telah membicarakan tentang pengertian filsafat bahasa dan sudah di uraikan hubungan filsafat dengan bahasa yang sangat erat dan sangat penting. Begitu pula dengan peranan (kegunaan) filsafat bahasa itu sangat penting pada pengembangan bahasa karena filsafat bahasa itu adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akan mengenai hakikat bahasa, sebab asal hukumnya. Jadi pengetahuan dan penyelidikan terfokus kepada hakikat bahasa, juga sudah termasuk perkembangannya. Sebab dan asal mula bahasa pada dasarnya perkembangan aliran filsafat analitika bahasa meliputi tiga pokok aliran, yakni aliran atomisme logis, positivisme logis, dan filsafat bahasa biasa. Aliran inilah yang menjadi pengaruh yang sangat kuat dibandingkan aliran yang lain (Balai Bahasa Yogyakarta, 2003) selengkapnya...

Minggu, 04 Juni 2023

FILOSOFI, KONSEP, DAN TEORI - BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SD BERORIENTASI KURIKULUM MERDEKA




Filsafat berasal dari bahasa Arab yaitu falsafaah,bahasa ini diadopsi dari bahasa Yunani yaitu philosophiha. Kaelan pada tahun 1998 menyatakan bahwa filsuf dunia memiliki perhatian besar terhadap bahasa, sebab banyak persoalan filsafat, konsep filosofi akan menjadi jelas saat dianalisis dengan bahasa (Sumanto, 2017; Warami, 2016). Tokoh-tokoh filsafat analitik bahasa hadir dengan analitik bahasanya untuk mengatasi kelemahan, kekaburan, dan kekacauan yang selama ini muncul dalam konsep filosofi. Salah satu tokoh filsuf di Perancis yaitu F. de Saussure juga melakukan perubahan radikal dengan meletakkan dasar-dasar filosofis terhadap linguistik. Filsafat bahasa dapat dikelompokkan atas dua pengertian. Pertama, bahasa sebagai alat untuk menganalisis, memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep filosof. Kedua bahasa sebagai objek materi dengan membahas, mencari hakikat bahasa, hingga paradigma bagi perkembangan teori-teori linguistik. Pada zaman Yunani kuno, bahasa menjadi salah satu bahan kajian para filsuf karena mereka mengembangkan dan mengemukakan gagasan tentang bahasa. Zainuddin (2009) mengatakan bahwa filsafat memiliki tiga cabang, yaitu: 1. Metafisika. secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘di luar fisik’ yang berarti bahwa sesuatu yang berada diluar apa yang bisa dilihat dan dirasakan secara empiris. 2. Epistemologi. menurut sumber yang sama, merupakan teori tentang ilmu pengetahuan, yaitu teori yang menaungi alat yang dipergunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, batasjarak ilmu pengetahuan kita, dan kriteria yang kita pergunakan untuk menilai salah atau benarnya ilmu pengetahuan kita. 3. Logika. Cabang filosofi yang merefleksikan hakikat cara berpikir sehingga mampu memberikan penalaran yang tepat, membedakan argumen yang baik dan yang buruk, dan metode-metode untuk mendeteksi kesalahan dalam penalaran. Kaelan (1998) mengatakan bahwa epistemologi juga pada sisi lain berkaitan dengan teori kebenaran, dimana di dalam epistemologi ini terdapat tiga jenis kebenaran. 1. Teori kebenaran koherensi, yaitu sebuah pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebenarnya. Sebagai contoh, pernyataan “hewan menyusui disebut mamalia” pernyataannya bahwa sapi adalah menyusui. 2. Teori kebenaran korespondensi, yaitu bahwa sebuah penyatann dianggap benar bilamana materi pengetahuan yang dikandung dalam pernyataan ini berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh pernyataan tersebut, contoh ‘kota Medan terdapat di Sumatra Utara’ adalah benar karena terdapat hubungan antara ide dengan fakta dimana hubungan itu terjadi melalui bahasa. 3. Teori kebenaran pragmatis, yaitu sebuah pernyataan yang dianggap benar apabila pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Ini berarti suatu pernyataan akan dianggap apabila memberikan manfaat praktis kepada manusia. Dengan demikian, pernyataan itudianggap benar berdasarkan konteks penggunaannya. Sauri (2006) mengemukakan bahwa bahasa memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut: a. Semantik yaitu bahasa mempunyai aturan atau pola antara lain sistem bunyi dan sistem makna. b. Arbiter(manasuka) artinya bahasa itu dipilih secara acak tanpa alasan atau manasuka, tidak ada hubungan logis dengan kata-kata sebagai simbol. c. Ucapan atau vokal, artinya bahasa itu ujaran, berarti media bahasa yang terpenting adalah dengan bunyi-bunyi. d. Simbol, bahwa bahasa itu simbol dari perasaan, keinginanan, dan harapan. e. Bahasa itu mengacu pada dirinya, artinya bahasa itu mampu digunakan untuk menganalisis bahasa itu sendiri. f. Manusiawi, artinya bahasa itu adalah kekayaan yang hanya dimiliki oleh manusia g. Komunikasi, artinya bahasa itu alat komunikasi dan interaksi antar manusia dan menjadi pelekat dalam menyatupadakan keluarga, masyarakat, dan berbagai kegiatan sosialisasi. Intinya bahwa bahasa adalah merupakan media wacana segala ilmu dan sekaligus metabudaya. Wicoyo (1997) mengatakan bahwa Devit menyebutkan adanya empat lingkaran makna dalam bahasa, yaitu: 1. Makna yang dibicarakan dibicarakan oleh isi muatan pikiran. 2. Isi itu dijelaskan oleh makna kalimat pikiran. 3. Makna itu dijelaskan oleh makna konvensional. 4. Makna konvensional dijelaskan oleh makna pembicara. Untuk menemukan makna, filsafat memberikan analisis sehingga makna tersebut dapat diterima secara logis, objektif, dan sistematis. Sedangkan peran filsafat sebagai bahasa adalah bahwa analisis filsafat merupakan salah satu metode yang digunakan dalam memecahkan problematika kebahasaan. Aliran-aliran dalam filsafat dapat mewarnai pandangan para ahli bahasa dalam mengembangkan teori-teorinya. Selengkapnya...

Pendekatan Kontekstual

 a. Pengertian Pendekatan Kontekstual  Pendekatan kontekstual yaitu teori belajar mengajar yang memudahkan guru menautkan antara materi...